Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 145 Gu Xianque


__ADS_3

Meninggalkan chemistry yang terjalin, dan beralih kepada pemilik sepasang mata di atas singgasana, yang menatap lekat keduanya dengan tajam.


Ibarat seekor elang perkasa, yang tengah mengincar kaisar Jing, sebagai buruan.


"Nikmatilah, selagi kau masih bersamanya." Gumam Canzuo dalam hati, penuh kegeraman.


Dihari bersejarah bagi kekaisaran Tang saat sekarang, pria itu berharap, akan menjadi hari bersejarah untuk hidupnya juga.


Tentu saja, bersama wanita yang ia kagumi, serta inginkan selama ini.


Sudah hampir dua batang dupa lamanya, sederetan acara, serta rangkaian unjuk kebolehan, di gelar di sana, sebagai kelembutan kompetisi kemarin.


Selama itu pula, mata pria no1 di atas singgasana megah tersebut, entah sudah berapa kali mencuri-curi lihat kearah Ziaruo dan kaisar Jing, yang berada tak jauh dari tempat duduk, selir keagungan Gu Xianque, istrinya.


Ada kebahagian, keinginan, serta keegoisan besar, pada setiap tatapan mata yang tertuju untuk keduanya.


Namun tidak menutupi juga, sebuah kebencian yang beberapa kali terlintas jelas, disaat sepasang manik itu, sedikit bergeser di samping sang wanita.


Selir keagungan Gu Xianque merasa kebingungan, dengan apa yang ia lihat, hingga ketika ia memperhatikan dengan seksama, serta mengikuti arah tatapan mata sang kaisar suaminya. Wanita Gu itu, mulai menyadari segalanya.


Dengan wajah kecewa, serta merasa di curangi, Ia menunduk dengan penuh kegeraman.


Keceriaan dan kebahagiaan, yang sejak tadi terpancar pada wajah cantiknya, kini mulai diliputi awan mendung yang mulai berarak-arak.


''Sungguh aku terlalu meninggikan diriku. Yang Mulia.... ternyata tatapan, dan kebahagiaan itu, bukan untukku.'' Gumamnya lirih.


Ada kepedihan di dalam hati selir Gu, ia merasa segala yang ia angankan sejak tadi, ternyata hanya pemikirannya saja.


Sebagai wanita sorang kaisar, Gu Xianque menyadari, tak pernah ada sang suami untuk dirinya sendiri.


Namun, entah mengapa kali ini, perasaan itu begitu menyakitkan dihatinya.


Bukankah dirinya telah berbagi sang kaisar dengan wanita lain, bahkan bukan hanya beberapa wanita saja. Akan tetapi, hingga ribuan wanita di istana dalam.


Lalu mengapa hari ini, begitu berbeda didalam hatinya?.


Mengapa ia begitu terusik, dengan tatapan sang suami kepada wanita lain, yang bahkan telah memiliki seorang suami.


Bukankah itu, hanya tatapan yang tak akan membuahkan kebersamaan pada akhirnya?.


Pikiran Gu Xianque bergelayut mengembara, entah untuk waktu berapa lama. Ia hanya berdiam diri, berkutat dengan pikiran, serta kekecewaan di dalam hati.


''Mungkin, segalanya akan berubah, ketika nanti ia melahirkan seorang putra, penerus kekaisaran Tang yang agung.'' Pikir sang selir.


Mememikirkan hal tersebut, ada sedikit ketenangan dalam hati kecil wanita tersebut.


Deengan gerakan yang masih tetap elegan, dan anggun, wanita itu sesekali meneguk seduhan teh yang tersaji di atas meja.


Akan tetapi, saat ia melihat Kaisar Canzuo, yang masih mencuri-curi lihat kearah meja disampingnya, hatinya kembali bergejolak.

__ADS_1


''Apakah anda benar-benar menginginkan permaisuri negri Zing Yang Mulia?, bukankah itu adalah sebuah petaka untuk kekaisaran kita?.'' Ucap dalam diam selir Gu kembali.


Wanita itu kembali menundukan tatapan, serta bergulat dengan hati, serta pikiran.


Hingga sebuah suara, mengejutkan wanita tersebut. ''Selir...selir keagungan...''


Sebuah suara bariton yang sangat ia kenal, tengah memanggil namanya.


Gu Xianque terkejut, dan berdiri dengan cepat.


Sehingga tanpa sengaja, ia menjatuhkan cangkir teh yang tengah ia pegang.


''Praaak...''


Cangkir dari bahan keramik terbaik di kekaisaran Tang itu, pecah menjadi beberapa bagian.


''Yang Mulia...'' Seru dua orang pelayan di samping selir Gu, hampir bersamaan.


Kedua pelayan tersebut, mencemaskan kondisi sang selir, dengan penuh keterkejutan.


Disana, hampir semua orang menatap kearah sang selir dengan penuh tanda tanya.


Apa yang mengejutkan wanita itu, hingga demikian?.


Apa yang tengah terjadi disana?


Mengapa sang selir begitu terkejut?.


Menyadari dirinya telah menjadi pusat perhatian, selir keagungan berusaha bersikap tenang.


Ia menghela nafas dalam perlahan, menjernihkan pikiran serta menenangkan jantungnya yang sempat berdegup kencang, karena merasakan kegugupan yang besar.


Namun, setelah beberapa saat kemudian, selir Gu menatap iba kepada kedua pelayannya, yang tampak ketakutan.


Bagaimanapun seorang tuan tak pernah melakukan kesalahan, setiap keburukan dan kecerobohan sang majikan, akan menjadi keburukan atas diri sang pelayan.


Melihat kedua pelayan wanita terpercayanya demikian, Gu Xianque tersenyum dan berkata. ''Aku tidak apa-apa, cepat bersihkan.''


''Baik Yang mulia..'' Jawab keduanya dengan cepat.


Gu Xianque berusaha dengan baik, menenangkan semua pikiran dan hatinya. Ia segera kembali menampilkan keanggunan, serta kewibawaannya dengan cepat.


Wanita itu, tak berani melihat kearah samping kanan, tempatnya berdiri sekarang. Ia hanya menggeser tubuhnya tepat kearah singgasana, mendudukan wajah, dan sedikit membungkukkan tubuh sembari berkata. ''Mohon ampuni kecerobohan selir ini Yang Mulia.''


Wanita itu tahu, bahwa Kaisar Canzuo tengah menatapnya tajam, dengan kemarahan.


Oleh karena itu selir Gu kembali menggeser tubuhnya dan menghadap kearah para tamu kekaisaran.


''Mohon berikan ,kemurahan, serta kebaikan hati, atas kecerobohan yang menjadikan kecanggungan untuk anda sekalian. Dan selir ini akan menghukum dirinya, dengan 3 cangkir teh.'' Ucap selir Gu, dengan wajah yang di tampilkan setenang mungkin.

__ADS_1


Ruangan menjadi hening, bahkan hingga ketiga kalinya, teh telah di tuangkan kedalam cangkir sang selir, habis diteguk oleh wanita itu.


Semua orang hanya melihat kearahnya, tak ada seorangpun yang menghentikannya tengah ia lakukan.


Bahkan, tidak juga sang Kaisar, yang tetap menatapnya dengan tajam.


''Dimanakah, pria yang selama ini menyayangi, peduli serta begitu perhatian kepadanya?.'' Pikirnya dengan penuh kekalutan.


Dada selir Gu menjadi sesak, dengan semua pertanyaan-pertanyaan, dan pikiran yang berkecamuk hebat saat ini.


Dengan suara yang masih sama, ia kembali berkata. ''Izinkan hamba undur diri Yang Mulia, hamba ingin merenung dan menjernihkan pikiran ini sejenak.''


Wanita itu tak menunggu jawaban dari kaisar Canzuo, untuk memberikan izin kepadanya.


Setelah menunduk 2 kali, pertama untuk memberi hormat kepada sang Kaisar, dan yang kedua, sebagai ucapan perminta maafan semua yang hadir.


Selir Gu tak lagi menghiraukan, jawaban izin, dari pria di atas singgasana tersebut.


Begitu ucapannya terslesaikan, dengan cepat ia meninggalkan ruangan aula pesta perjamuan.


Wanita itu tak mengindahkan, apa yang dipikirkan oleh semua orang disana, bahkan tidak juga kaisar Canzuo sang suami.


Sepanjang perjalanan menuju pavilliun miliknya, Gu Xianque hanya diam dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


''Yang Mulia...Yang Mulia mohon anda berhati-hati, anda sedang mengandung Yang Mulia...'' Ucap salah satu pelayan, mencemaskan dirinya.


''Benar, jangan membahayakan diri anda Yang Mulia.'' Sambung pelayan lain, yang juga ikut mencemaskannya.


Akan tetapi, seolah ia tak mendengar apapun, selir Gu tetap berjalan seperti semula, bahkan ia tak mengurangi kecepatan sama sekali.


Hingga ketika, ia telah sampai di depan pintu pavilliun miliknya.


''Pergilah siapkan makanan untukku sekarang, aku sangat lapar.'' Ucap selir Gu, lirih.


Mendengar hal tersebut, salah satu pelayan itu menjawab dengan segera. ''Baik Yang Mulia.''


Sementara pelayan satunya lagi, segera mengikuti langkah sang selir masuk kedalam ruangan, ia tetap ingin berada di samping majikannya tersebut.


''Bing...apakah aku begitu buruk?, bahkan ketika aku mengandung keturunan kekaisaran, ia tetap ingin menyingkirkan diriku?.'' Ucapnya pelan.


Mendengar perkataan itu, pelayan yang dipanggil sebagai Bingbing tersebut, tersentak kaget.


Akan tetapi, sebelum ia sempat mengatakan apapun, ia kembali mendengar perkataan sang selir.


''Aku sudah tahu, bahwa selama ini ia sangat membenciku, aku juga mengetahui, semuanya hanya kepura-purannya saja, ia hanya ingin mengontrol kekuatan ayahanda.''


''Yang Mulia.....'' Gumam lirih, pelayan Bing.


''Tapi, bayi ini nyata Bing, ia bukanlah kepalsuan.'' Sambung selir Gu Xianque lagi.

__ADS_1


Mendengar ucapan tersebut, Bingbing mendekat dan memeluk selir Gu erat, ada kepedihan menyeruak masuk kedalam hatinya.


__ADS_2