Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 227. Kesempatan dari Dewa.


__ADS_3

Ziaruo bukahlah dirinya yang dulu, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dengan cepat.


Akan tetapi, ia juga bukan wanita seperti pada umumnya.


Kemampuan beladiri, dan tenaga dalam yang ia miliki masih disana.


Meski, akan sedikit repot seperti sekarang, ia harus menggendong bocah kecil tersebut, untuk mempercepat perjalanan.


Namun di dunia kaum mortal, ia bukanlah seseorang yang dapat dianggap sebagai lawan yang ringan.


''Kau boleh tidur Ge'er. Nanti jika sudah sampai, akan kubangunkan.


Bocah kecil itu, jelas menunjukan keragu-raguan di wajahnya. Karena bagaimanapun ia adalah seorang pria.


Meski Ziaruo telah ia anggap sebagai kakak. Namun, tak ada pertalian darah diantara tubuh keduanya.


Cangge dapat juga di kategorikan sebagai orang asing untuk Ziaruo.


Lalu, bagaimana mungkin ia akan melanggar jalur norma diantara mereka.


Akan tetapi, dengan tubuh rapuh dan kurusnya saat ini, ia akan memperlabat perjalanan keduanya.


Hati kecil dan pikiran logisnya, kembali mengingat kasih sayang serta kemampuan Ziaruo.


Dan dengan cepat ia memutuskan bahwa, menuruti perkataan sang kakak adalah yang terbaik.


''Maafkan Ge'er kak, sudah merepotkan.'' Ucapnya lirih, sebelum naik kepunggung Ziaruo.


''Tunggu aku menjadi kuat, dan akan melindungimu.'' Lanjutnya dalam hati.


Tubuh kurus Cangge, dengan cepat melesat di jalanan setapak menuruni gunung, mengikuti gerak tubuh dari wanita itu.


Sebuah perjalanan panjang, yang biasa di tempuh tak kurang dari 4 jam untuk mencapai kota, nyatanya mampu di tempuh Ziaruo hanya dengan 30 menit saja.


Cangge yang merasakan keterkejutan di punggung Ziaruo, tak dapat menutupi rasa kagum yang kian besar, terhadap wanita yang dipanggilnya sebagai kakak itu.


Dalam hati ia menegaskan, bahwa dirinya harus menjadi sangat kuat, untuk bisa menjadi pelindungnya.


''Apa kau tertidur Ge'er?.'' Tanya Ziaruo, ketika telah memasuki gerbang kota.


''Tidak kak...aku sudah terbangun.''


Mendengar perkataan dari balik punggungnya, Ziaruo tersenyum.


Ia mengerti maksud ucapan itu dengan baik.


''Baiklah, kita makan di kedai ini dulu, sebelum mencari pakain untukmu.'' Ziaruo.


''Aku tahu kau pasti lapar.'' Tambah wanita itu lagi.


Cangge masih meringkuk di balik punggung Ziaruo.


Bocah kecil itu, bahkan lupa dimana kini ia berada.


Bagi Cangge menikmati kehangatan perhatian, serta kasih sayang dari Ziaruo, adalah sebuah momen yang berharga.


Hingga ia lupa, dimana tubuh kurusnya kini bertengger.


''Ayo kau turun dan duduklah, aku akan memesan makanan untuk kita.'' Ziaruo.


Ziaruo sedikit membungkukan tubuh, untuk memudahkan bocah kecil Cangge turun dari punggungnya.


Menuntun tangan itu, dan membantunya untuk duduk pada sebuah kursi kosong, dengan meja persegi kecil, yang cukup untuk 4 orang.

__ADS_1


''Oh...selamat datang, anda ingin memesan sesuatu?.'' Tanya ramah seorang pelayan kedai, sembari membuka 2 cangkir diatas meja, serta menuangkan air kedalamnya.


''Silahkan.'' Lanjut sang pelayan.


''Terimakasih.'' Ziaruo.


''Saya ingin memesan dua mangkuk nasi, sayur tumisan, serta sesidikit lauk. Apakah tuan bisa memilihkan untuk kami?.'' Sambung Ziaruo lagi.


Wanita itu mendudukan tubuh, pada bangku kecil di samping Cangge.


Meraih cangkir dan menyeruput air didalamnya.


''Tentu saja, mohon tunggu sebentar.'' Jawab sang pelayan.


Cangge yang melihat Ziaruo meminum air, juga menggerakan tangan meraih cangkir di hadapannya, serta mengikuti apa yang di lakukan oleh Ziaruo.


Apapaun itu yang di lakukan oleh Ziaruo, bagi Cangge adalah sebuah kebaikan.


Bahkan, saking fokusnya terhadap sang kakak, Ia tidak memperhatikan sang pelayan, yang dengan cermat meletakkan makanan di atas meja.


''Kakak, apakah rumah kakak masih jauh?.'' Cangge.


Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo tersenyum.


Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa kepadanya.


Dimana rumahnya?, di hutan barat misteri?, di kekaisaran Zing?, di dimensi Yincang?, ataukah di kekaisaran langit negri atas Awan?.


Semuanya adalah rumahnya. Dan bahkan, ia juga memiliki banyak kediaman lain.


Hampir di seluruh 5 kekaisaran ia meliki kediaman. Meskipun, hanya sekedar sebagai tempat singgah, ketika melakukan perjalanan saat masih seorang pedangang dulu.


Tanpa sadar, Ziaruo berpikir dalam diam. ''Rumah?.''


''Ia...Rumah kakak masih jauh, jadi kau harus makan banyak sekarang.'' Jawabnya lembut.


Mendengar jawaban tersebut, Cangge menunduk dan kembali berkata dengan pelan. ''Maaf masih harus merepotkan kakak.''


Ziaruo tersentuh oleh perkataan itu. ia semakin yakin, bahwa tidak salah menilai karakteristik dari sang bocah.


''Jangan pikirkan, kakak tidak merasa terbebani.'' Ucapnya, sembari mengusap pucuk kepala Cangge.


''Makan yang banyak, dan cepatlah besar.''


Tangan Ziaruo bergerak, mengambil lauk dengan sumpit dan meletakan di atas mangkuk Cangge.


Bocah itu merasa terharu, dengan apa yang dilakukan oleh Ziaruo.


Perasaan di pedulikan dan di kasihi, membuat ia meneteskan air mata.


''Ibu...ayah..lihatlah, masih ada kakak yang memperhatikanku.'' Gumamnya dalam hati.


Ia tak dapat mengungkapkan kebahagiaannya sekarang, dan hanya mampu berkata.


''Terimakasih.''


Dari nada suara yang terdengar, wanita itu tahu bahwa bocah kecil Cangge sedang menangis.


Secara Garis besar, Ziaruo memahami apa yang di rasakan oleh Cangge.


Perlahan ia kembali mengusap kepala bocah, yang kini tengah menikmati makanan.


Ziaruo hendak membujuk, serta meyakinkan bocah tersebut, bahwa kesedihan dan penderitaannya di masa lalu, tidak akan terjadi lagi.

__ADS_1


Namun, sebelum ia sempat membuka bibir, sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


''Permaisuri..benarkah ini Anda?'' Sebuah panggilan akrab, menyeruak masuk kedalam pendengaran Ziaruo.


Seorang pria dengan cepat melesat turun dari atas kuda, dan setengah berlari kearah keduanya.


Pria tersebut bahkan, tidak memperdulikan beberapa orang di belakang, yang mengikutinya dengan sigap.


Melihat kedatangan pria yang tampak tidak asing itu, Ziaruo meletakan sumpit dan berdiri dari duduk.


''Salam hormat, yang mulia kaisar.'' Ziaruo sedikit membungkukan tubuh sejenak.


''Sungguh kebetulan, bisa bertemu dengan baginda di wilayah terpencil ini.'' Lanjutnya lagi.


Pria yang tak lain adalah Murongyu tersebut, tampak terkejut melihat Ziaruo disana.


''Mengapa...mengapa anda bisa berada di sini?.'' Ucap Murongyu.


Wajahnya benar-benar menampilkan keterkejutan, serta riak bahagia secara bersamaan.


''Dengan siapa Anda di sini permaisuri?.'' Lanjutnya lagi, dengan wajah, serta geliat kepedulian.


Murongyu menelisik sekeliling tempat tersebut.


Ia ingin mencari sosok lain, yang seharusnya berada disana, dimana wanita itu selalu berada tak jauh dari sosok Jing.


''Jangan mencari lagi, baginda tidak menemaniku kali ini.'' Ziaruo.


''Haaaah..'' Murongyu membuka suara, serta mengernyitkan kening.


Pria tersebut, merasa asing dan aneh dengan jawaban Ziaruo.


Mana mungkin, Jiang jing wei akan membiarkan wanita itu sendirian.


Setidaknya itulah yang ia pikirkan.


''Tapi bukan seperti yang anda bayangkan. Baginda sedang menungguku di tempat lain.'' Ziaruo lagi.


Ia menjelaskan sesuatu, yang bahkan tak perlu ia lakukan.


Murongyu bukanlah seseorang, yang harus ia beri penjelasan atas setiap tindakannya.


Akan tetapi, melihat wajah penuh praduga serta kepedulian yang besar disana. Ia terpaksa harus membuka suara.


Bukan untuk menarik simpati, ataupun kepedulian dari pria disana.


Ia hanya tak ingin Murongyu menyalah fahami, tentang ketidak hadiran dari Jing saat ini.


''Apakah anda sedang dalam suatu urusan?.'' Tanya balik Ziaruo.


Wanita itu ingin mengalihkan perhatian pria tersebut, agar tidak terfokus untuk masalahnya.


Karena terus terang, ia enggan menjabarkan tentang kondisi diantara dirinya dan Jiang jing wei.


Sebab, ia sendiri juga tidak dapat menemukan ungkapan yang tepat, tentang kondisinya.


''Oh...aku sedang dalam perjalanan untuk kembali, dari negri Liang.'' Murong.


''Bolehkah bergabung disini?.'' Sambung Murongyu, masih dengan penuh kesopanan.


Bagaimana mungkin, ia akan melewatkan kesempatan ini?.


Sebuah peluang dari dewa, kini tengah memberinya sedikit celah, pada garis getaran hatinya.

__ADS_1


''Silahkan, jika paduka tidak merasa terganggu dengan kami.'' Ziaruo.


__ADS_2