Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 63 Maafkan saya.


__ADS_3

Masih di area pemakaman....


Sementara itu, kedua penunggang kuda tersebut tetap berjaga disana.


Namun kali ini, keduanya tidak melakukan apapun, selama Mengshuo dan sang pelayan, masih di dalam lingkup area pemakaman.


Banyak pertanyaan didalam pikiran kedua orang tersebut.


Namun, cukuplah mereka simpan didalam diam, karena etika dan aturan tak mengizinkan untuk ikut campur, dalam hal-hal yang tidak di perlukan.


Tak jauh berbeda, juga dialami oleh Mengshuo dan pelayannya.


Akan tetapi, Mengshuo memahami akan terasa aneh jika ia tiba-tiba, menanyakan setiap hal yang ada difikirannya.


Seolah tak memiliki kepentingan apapun disana, dan hanya ingin mencegah, orang lain mengotori makam sang suami saja.


Nyonya Yun berjalan kembali masuk kearah area pemakaman, tanpa mengindahkan kehadiran, kedua penunggang kuda, Mengshuo guru akademi putranya yang sekaligus, pria pembenci yang jarang ia temui, dan juga sang pelayan.


Melihat hal tersebut, Mengshuo mengikuti wanita itu dari belakang, dan sekedar ingin mengucapkan terimakasih, karena telah menyelamatkan hidupnya.


''Nyonya Yun....nyonya, mohon tunggu sebentar.'' Panggil mengshuo, dengan langkah kaki cepat, mengikuti Ziaruo masuk lebih dalam kearah perkampungan merah.


Sebuah tempat penuh kenangan bagin Nyonya Yun, yang kini berubah menjadi tempat peristirahatan terakhir, bagi penduduk merah, serta prajurit yang telah meninggal saat itu.


Dan hal yang samapun, di lakukan oleh pelayan Mengshuo.


Pria paruh baya tersebut, dengan menuntun kereta, mengikuti langkah kaki sang majikan.


Tanpa mengindahkan kedua penunggang kuda yang tetap menatap lekat, dari jarak beberapa langkah dibelakangnya.


Guru besar Meng, mengikuti langkah kaki nyonya Yun, masuk lebih dalam kearea pemakaman, dan hanya diam tanpa mengucapkan apapun.


''Mengapa disini ada area pemakaman?, padahal hutan ini jauh dari perkampungan penduduk. Lalu siapakah yang dikuburkan disini?.'' dan masih banyak lagi, pertanyaan-pertanyan lain, dalam pikiran sang Pria.


Ziaruo tetap melangkah dengan tenang, tanpa memperdulikan beberapa pria di belakangnya.


Semakin lama, langkah kaki wanita itu semakin pelan. Hingga pada akhirnya, ia berhenti di depan dua gundukan tanah besar, yang hampir tertutupi rerumputan, serta daun kering pohon hutan.


Sebuah makam yang berada paling pojok, diantara makam makam diarea tersebut.


Meski makam itu jauh dari kata rapi, namun terlihat jelas, bahwa hanya kedua makam tersebut saja, yang masih sering dikunjungi.


Hal ini bisa dilihat dari tinggi rumput disana yang menampakan perbedaan mencolok.


Hanya kedua makam tersebut, dapat dibilang lebih terawat dibanding makam lainnya, yang hampir tertutup semak belukar, serta tumbuhan perdu hutan.

__ADS_1


''Apakah itu makam suaminya?, tapi bukankah kaisar Murong, yang telah turun tahta masih hidup?, bahkan kemarin juga masih hadir pada perjamuan?, lalu siapa suaminya?, jika dia bukan selir dari kaisar Murongxu, lalu alasan apa yang membuatku membencinya?.'' Gumam dalam pikiran Mengshuo, mengingat kembali cerita sang adhik sepupu, serta pendapat dan pemikiran buruknya tentang wanita itu.


Pria tersebut memperhatikan, dengan seksama apapun, yang dilakukan oleh nyonya Yun.


Bahkan ia ikut membantu mencabuti rumput-rumput kecil, yang tumbuh diatas gundukan makam.


''Apakah kalian masih mengingatku?.'' Ucap nyonya Yun lirih, sembari membersihkan makam tersebut, dari rumput liar, serta dedaunan kering pohon hutan.


Dan tentu saja, ia tetap mengabaikan pria-pria disana, seolah mereka tak berwujud atau transparan.


''Tingye...sekarang wanita ini mengerti, ternyata menjadi biasa saja adalah sebuah keberkahan, serta kemewahan yang indah.'' Ucapnya, masih dengan nada lirih dan tetap menganggap ia hanya sendiri saja.


''Kalian pasti sudah bersatu kembali, lihatlah aku masih disini....masih banyak hal yang belum kuselesaikan.'' Sambung nyonya Yun lagi.


Namun kali ini, wanita itu berdiri dan menggerakan tangannya perlahan.


Tampak bunga-bunga dari pohon hutan berjatuhan, melayang turun tepat diatas kedua gundukan disana. Menutupi rapi makam tersebut, dengan warna-warni bunga.


Menyaksikan hal itu, mata Mengshuo dan ketiga pria lainnya membulat, mereka tertegun beberapa saat.


''Siapa anda sebenarnya, bahkan bunga-bunga itu bergerak tanpa banyak usaha, sehebat apakah anda nyonya?.'' Gumam Mengshuo kembali.


Ziaruo melangkah menjauh dari kedua makam disana, dan kembali menyusuri jalan yang sama, dari awal ia datang tadi.


Dan mengshuo kembali mengikuti langkahnya.


Hal tersebut dikarenakan hanya pria itu saja, yang berjalan paling dekat dengan Ziaruo.


Mengshuo mendengar ucapan itu, namun ia masih belum menyadari, bahwa perkataan nyonya Yun ditujukan untuk dirinya.


''Saya tidak ingin, membuat orang lain salah paham, dan menyebut saya sebagai penghalang ataupun, perebut kebahagiaan orang lain lagi''


''Jadi bisakah anda menjauhi wanita ini tuan?.'' Lanjut Ziaruo kembali.


Namun tetap saja, pria dibelakangnya tersebut, tidak memberikan respon apapun atas ucapan itu.


Mengshuo melangkahkan kakinya lagi, mengikuti nyonya Yun, yang mulai berjalan kembali.


Mendapati hal itu, Ziaruo berhenti kembali dan berbalik kearah Mengshuo.


Kini mereka saling berhadapan, dan mata coklat jernih itu


bersitatap langsung dengan mata pria, yang sedari tadi berjalan dibelakang mengikuti dirinya.


''Saya sungguh tidak ingin, ada selir-selir Nanggong, dan pembenci seperti anda yang lainnya tuan Mengshuo yang terhormat. Jadi....bisakah, anda berhenti mengikuti saya?.'' Ucap nyonya Yun dengan nada tegas, pada setiap kalimatnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan dengan nada sarkas, dari wanita didepannya tersebut, reflek pria tampan itu terdiam.


Hatinya berdegup kencang, penuh dengan perasaan bersalah, dan penyesalan.


Mengshuo menunduk sejenak, menghela nafas pelan, sebelum akhirnya ia kembali menatap mata wanita itu.


''Maaf....''


''Aku tahu sebelumnya adalah kecerobohan dan kebodohan saya nyonya. Saya hanya ingin berterimakasih, karena bantuan anda tadi.'' Jawab pemuda tampan itu, dengan nada yang ia tekan setenang mungkin, untuk menutupi perasaan canggung, serta ketidaknyaman diantara mereka.


''Aku tidak perduli dengan apapun dimasa lalu, dan anda salah dalam satu hal. Saya tidak pernah ingin membantu siapapun, terlebih jika orang itu adalah anda tuan.'' Jawab nyonya Yun datar, dan tampak kesungguhan dalam tatapan mata coklat miliknya.


Lagi-lagi, ucapan wanita yang dulu ia kenal sebagai penghancur kebahagiaan sang adhik sepupu itu, membuat Mengshuo terkejut.


''Mengapa dari orang seperti anda, dapat keluar kata-kata kejam nyonya Yun.'' Tanya pria tersebut, ia berfikir bahwa wanita yang beberapa saat lalu menjadi penolongnya, masih menyimpan amarah, serta kebencian terhadap dirinya.


''Seperti saya?, apakah anda mengambil kesimpulan tentang kepribadian saya lagi tuan Meng?.'' Tanya nyonya Yun, namun kali ini jelas terlihat bahwa ada ketidak sukaan yang besar.


Ziaruo berbalik, dan kembali melangkah pergi dari sana.


Ia tidak membutuhkah, ataupun memperdulikan jawaban dari Mengshuo.


''Maaf... bukan maksud saya untuk menghina, dan menyinggung anda, saya hanya...'' Jawab Mengshuo dengan terbata, ia merasa kebingungan.


Entah mengapa kata-kata yang ia ucapkan, semakin membuatnya disalahfahami oleh wanita tersebut.


Bagi NyonyaYun( Ziaruo), ia tidak peduli dengan tanggapan orang lain, dan ia juga tahu bahwa pria tersebut tidak bermaksud berkata buruk kepadanya.


Namun NyonyaYun merasa lelah, dengan semua praduga dan kesalahfahaman orang lain, ketika ia dekat dengan seseorang.


Oleh karena hal itu, ia mengatakan kata-kata kejam dan menyakitkan, untuk membuat pria tersebut menjaga jarak dari kehidupannya.


Mengshuo merasa bersalah, banyak hal yang ia sesali, sejak pertemuannya dengan nyonya Yun.


Pria itu kini menyadari segala pikiran buruk, praduga, serta kebenciannya selama ini, tidak pada tempatnya.


Atau dengan kata lain, segalanya adalah salah.


Oleh karena hal ini, ia ingin meminta maaf dan menjelaskan segalanya.


Namun, saat ia hendak mengejar langkah kaki wanita tersebut, kepalanya terasa sakit, nafasnya sesak, dan tiba-tiba saja tubuh gagahnua terjatuh diatas tanah.


''Tuaaaannn....'' Pekik seorang pria lain, yang berada agak jauh dari tempat mereka berbicara tadi, dengan penuh kecemasan


Mendengar teriakan tersebut, Ziaruo menghentikan langkah kaki, ia menghela nafas panjang, dan sejenak menengadah kearah langit.

__ADS_1


''Ya dewa...apa rencanamu sebenarnya kepadaku?.'' Ucap nyonya Yun, dengan mata menatap kearah langit, sebelum membalikan tubuhnya kembali.


__ADS_2