Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 190.


__ADS_3

Jing kecil dengan kedua tangannya, memegang erat senjata yang telah di simpan rapat oleh kaisar Jing rong di istana.


Bahkan, senjata tersebut diletakkan di ruang rahasia dengan segel keamanan bangunan, serta penjagaan kuat.


Akan tetapi, tetap saja senjata berupa pedang dengan ukiran menyerupai naga tersebut, nyatanya telah datang kepada Jing ketika ia dalam bahaya.


Dan tentu saja kejadiannya seperti magis.


Tanpa di ketahui oleh siapapun


Kapan senjata itu keluar, ataupun kembali kedalam kotak pennyimpanan.


Bahkan, dari semua kejadian tersebut tak ada jejak, maupun pertanda apa-apa.


Meski, para penjaga yang di tempatkan di depan bangunan penyegel Dragon sword, juga tidak mengetahui bahwa senjata itu, telah meninggalkan kotak penyimpanan.


Namun yang membuat Jingrong cemas sekaligus bergidik, bukan hanya itu saja.


Disana tepat di depannya, sang putra tengah memegang erat senjata, dengan mata yang menampilkan sorot mengerikan.


Seolah sang bocah di depannya bukan lagi putra kekaisaran, yang sangat ia sayangi.


Jing kecil bahkan, menatap tajam penuh hawa membunuh terhadap kaisar Jingrong.


Dan kaisar Jing rong tahu, itu bukanlah aura sang putra.


Oleh karenanya, kaisar kaisar Jing rong di waktu tersebut, memerintahkan keempat orang pesilat tangguh penjaganya, untuk mengulur waktu, serta memancing perhatian Jiang- jing wei.


Dengan cara meladeni dalam pertempuran, demi untuk mengalihkan perhatian Jing kecil, yang tidak dapat mengendalikan diri, serta menyabetkan pedang, kepada siapapun yang mendekat kearahnya.


Ke-4 penjaga tak berani menggunakan tenaga sepenuhnya, karena takut melukai putra langit yang menjadi kesayangan kaisar tersebut.


Oleh karena hal itu, pergulatan berlangsung sedikit lebih lama.


Pertempuran yang tak seimbang, serta penuh kecemasan terus berlangsung hingga hampir satu batang dupa.


Namun, seolah telah menemukan sumber kekuatan tersendiri, tubuh kecil itu tak memiliki batas lelah.


Waktu yang cukup lama, serta pengendalian yang di perlukan, nyatanya menjadikan titik kelemahan bagi sang penjaga milik Jingrong.


Bahkan, dari kejadian yang terlihat ke-4 penjaga pribadi sang kaisar kewalahan.


Dan itu sungguh jauh berbanding balik, dengan kondisi dari Jing kecil, yang masih tampak seperti semula.


Namun, seperti halnya hasil yang tak akan mengkhianati usaha yang di lakukan.


Setelah menunggu cukup lama, dengan waktu yang menegangkan, dan pengamatan cermat kaisar.


Akhirnya Jing kecil sedikit lengah, dan tengah fokus melakukan penyarangan kepada para penjaga. Kaisar Jing rong secepat kilat, melumpuhkannya dengan totokan.


Menyaksikan hal tersebut, ke-4 penjaga merasa lega, meskipun mereka mengalami luka-luka yang lumayan serius.

__ADS_1


Dan sejak saat itu, kaisar Jing rong menambah keamanan untuk pedang tersebut, baik segel, dan tata letak menaruh pedang benar-benar di perhitungkannya.


Kaisar Jing rong juga mengundang para ahli mekanis, serta beberapa kultivator tingkat tinggi, untuk menambahkan pengamanan, serta formasi tehnik rahasia, pada kotak penyimpanan pedang tersebut.


Dan yang paling mencolok dari semuanya, Jingrong semakin memanjakan Jing.


Ia juga menutup mata, atas setiap tindakan buruk sang putra, bukan hanya demi mencegah kemarahan, ataupun ketidak nyamanan hatinya.


Kaisar Jing rong benar-benar menyayangi dan memberika Jing tempat istimewa dihatinya.


Hal itu terbukti, dengan mendatangkan guru-guru hebat dari berbagai negri, untuk mengajari putra tercinta.


Dan itu tidak berlaku untuk putra-putra lain di istana dalam.


Jingrong juga memberikan segel istimewa di tubuh Jiang jing wei.


Sebuah segel yang dapat menjauhkan Jing dari Dragon sword, dan segel akan terbuka dengan sendirinya, ketika sang putra telah mampu menguasai kekuatan pedang tersebut.


Kaisar percaya, bahwa putranya adalah sosok istimewa yang di turunkan dewa, untuk kejayaan Zing di masa mendatang.


Kasih sayang kaisar Jing rong, tak berkurang sama sekali, meskipun permaisuri Lexue telah mengandung putra kedua mereka.


Bahkan, ia semakin menyayangi serta memanjakan Jing, ketika sang adik lahir.


Kaisar Jing rong tak ingin menumbuhkan kecemburuan dihati Jing, atas saudara barunya.


Ia takut hal ini dapat memicu kemarahan putranya tersebut, dan berakhir dengan pemanggilan Dragon sword dari kotak penyegel.


Membuatnya menjadi pusat perhatian, kekaguman, dan juga menjadi pemicu kecemburuan bagi putra-putra Jing rong yang lain.


Bahkan, karena hal inilah Jiang jing wei menjadi tampilan layaknya iblis pembunuh, yang telah merenggut banyak nyawa.


Para pejabat yang tidak menyukai dirinya, keluarga bangsawan yang merasa terancam, bahkan juga beberapa selir sang ayah, serta saudara-saudar imperialnya sendiri.


Dan tentu saja, kaisar Jing rong tetap menutup mata untuknya.


Bagi kaisar, Jing wei kecil jauh lebih berharga dari mereka semua.


Bagaimanapun, dimasa lalu ayah dari Jiang jing wei itu(kaisar Jing rong) juga melakukan hal yang sama.


Dan itu semua dilakukan atas perintah dari mendiang kaisar terdahulu.


Yang membedakan saat ini, Jing rong tak harus memaksa Jing kecil, seperti dirinya di masa lalu yang diharuskan untuk membunuh saudaranya, demi keamanan diri sendiri, serta menjaga tahta kekaisaran dari pergolakan.


Sebagai putra kesayangan, Jing kecil hanya menyingkirkan para pengganggu di jalannya, dan orang-orang dengan pemikiran culas di istana.


Jing telah mengikuti pertempuran sejak usia 8 tahun, bersama sang ayahanda.


Baik itu percikan darah, terluka parah, ataupun hampir meregang nyawa telah ia alami sejak usia dini.


Jing wei kecil tumbuh, menjadi dewa perang yang menakutkan, dan bahkan sosok yang di kenal kejam sejak saat itu.

__ADS_1


Kengeriannya semakin menjadi ketika ia terdesak, dan dengan tanpa sadar menghadirkan pedang misterius ditangannya.


Senjata tersebut tak akan berhenti, hingga semua yang dianggap membahayakan habis terbunuh, ataupun terkapar tak berdaya dengan luka-luka.


Melihat kebengisan di medan pertempuran itu, kaisar Jing rong bergidik, serta menyadari, bahwa putranya tak akan bahagia dan menemukan kehidupan tenang, selama masih memiliki, ataupun menggunakan senjata tersebut.


Namun, ia juga tak dapat berbuat apapun untuk menyingkirkan senjata tersebut.


Seolah, keduanya memanglah di takdirnya untuk saling melengkapi.


Oleh karena itu disaat-saat terakhirnya berpesan, bahwa ia ingin putranya menyimpan jauh senjata tersebut, dan tidak lagi memanggil, ataupun menggunakannya lagi.


Ia adalah seorang ayah, dengan ambisi besar atas kejayaan.


Akan tetapi, ketika hendak meninggal, visi sebagai seorang ayah membuatnya luluh, dan hanya ingin kebahagiaan bagi sang putra.


''Berbahagialah, meski tanpa tahta itu. Dan perjuangkan apapun yang membuatmu bahagia, meski nyawa kehilangan kejayaan sekarang.'' Ucap kaisar Jing rong, sebelum menutup mata.


*Back to story*


Disana, tak jauh dari tempat Jing berdiri, seorang pria dengan pakaian sederhana, tengah memegang cambuk yang siap di lepaskan.


Akan tetapi, mata pria tersebut terpana pada sosok Jing, atau lebih tepatnya pada pedang yang mulai terbentuk nyata di tangan sang Kaisar.


''Mengapa senjata itu ada padanya?, dan sepertinya.....'' Gumam dalam diam, sosok pria yang baru datang tersebut.


''Rayyan, akhirnya anda tertarik dalam pesta ini?.'' Ucap Yongyu sarkas, sembari memegang dadanya yang sempat terkena pukulan.


Mendengar perkataan dari saudara Ziaruo yang ia hormati, Rayyan mendengus dan menjawab. ''Karena disini aku mencium sesuatu, yang telah lama kucari.''


Dan perkataan Rayyan tidaklah sepenuhnya salah, meski aroma tubuh Jelmaan disana telah jauh berbeda dari yang ia ingat.


Akan tetapi, samar-samar masih tercium di hidungnya, sosok mahkluk ganas yang telah menghancurkan kehidupan keluarga penolongnya.


''Zeblaaaarrr.''


Suara serta aura kuat memenuhi area tersebut.


Di tangan Jing kini sebuah senjata, dengan mata pedang sepanjang ukuran lengan pria dewasa, tergenggam erat.


''Mengapa dia memiliki pedang itu?.'' Pekik jelmaan, dengan suara yang terbata.


Di mata Mahkluk tersebut, ia menampilkan ketakutan.


Bahkan, ia telah mulai menyesali tindakan cerobohnya saat ini.


''Mengapa dia(Murongxu, Kaisar Awan) tidak memberitahuku?, atau sengaja menggunakan dirinya untuk mengulur waktu?.''


Kurang lebih, itulah yang kini ia pikirkan.


Melihat kejadian di depannya dalam hati ia terkejut, takut serta mengutuk Jing secara bersamaan.

__ADS_1


''Apakah kau pikir saya akan membiarkan anda bertindak sembarangan.'' Jing.


__ADS_2