
"Biarkan takdir yang menentukan."
Tubuh pria bongkok tersebut menghilang tak berbekas, setelah selesai berucap.
Meninggalkan kehancuran disana, serta kesunyian yang mencekam dengan sisa aura kemarahan sang penguasa Yincang.
Yaksa yang di penuhi dengan pikiran takut menjadi orang yang di tinggalkan, semakin mempercepat gerakan tubuhnya menuju pondok di tengah kota Yincang.
Akan tetapi, dalam sekali bias cahaya yang terpancar dari tubuhnya, pondok besar yang lebih mirip kediaman elegan seorang penguasa di dunia fana, kini berubah dan beralih menjadi sebuah pondok sederhana di bawah naungan kaki bukit.
Rumah-rumah indah yang berjajar di sekeliling kediaman Ziaruo di tengah kota, telah menghilang tak berbekas.
Meninggalkan, sebuah pondok sederhana berdiri sendirian, tanpa tetangga ataupun penghuni lain yang selama ini hidup berdampingan.
"Krrieeet...."
Pintu kayu berderit, di buka dari dalam.
Sesosok tubuh kecil, melangkah keluar dari dalam pondok.
__ADS_1
Bulatan di tangan yaksa yang memerah, sedikit lebih redup warnanya ketika melihat tampilan dengan senyum mungil pada wajah itu.
Haruskah ia menelannya?, atau membawanya pergi ketempat yang tidak dapat di temukan orang lain, khususnya wanita yang kini telah membuatnya kecewa.
Di tengah pemikiran yaksa yang bercampur aduk, sosok kecil yang tak lain adalah Weiyun tersebut melangkah maju menuju ke arahnya tanpa kewaspadaan sama sekali.
Padahal, bukanlah hal yang sulit bagi pria kecil itu mengetahui apa yang tengah di pikirkan, oleh sosok yang di sebut orang banyak sebagai siluman di depannya saat ini.
Sementara tak jauh dari pandangan wajahnya yang mungil, Yaksa masih bergulat dengan pemikiran yang kacau balau dan bercampur aduk.
Ada kecewa dan rasa sakit hati atas keputusan yang di buat oleh Ziaruo, namun memikirkan tentang kehilangan si kecil di depannya, hatinya merasa seolah di iris dan di pisahkan dari tubuh sendiri.
Yaksa berdiam di halaman pondok, ia hanya memandangi sosok yang kian mendekat kearahnya, dengan sebuah kerumitan hati.
Weiyun tertegun mendengar perkataan barusan, dalam ingatan bocah kecil tersebut tak pernah ada perkataan kasar, ataupun buruk di masa lalu dari sosok wanita bertubuh setengah ular di depannya selama ini.
Menghela nafas sejenak, dan menembus pikiran Yaksa adalah hal pertama yang di lakukan olehnya.
Melihat apa yang berkecamuk dalam hati wanita kedua, yang menempati ruang hati kecilnya, Weiyun terkesiap sejenak.
__ADS_1
Ada semburat terkejut pada wajah berlemak miliknya.
Namun, dengan pengertian kedewasaan yang tidak pada usia, serta tubuh bocah yang di miliki, Ia bisa memahami apa kegelisahan Yaksa saat sekarang.
"Jangan gelisah bibi, Weiyun tetap menyayangimu."
Suara renyah yang sangat di kenali itu, membuat kemarahan hatinya sedikit mereda.
Bola mata di genggaman tangan yang telah memerah perlahan juga menunjukkan kelembutan kembali.
"Apa aku bisa menelannya, menyimpan serta menyatukannya dalam tubuhku?." Pikiran Yaksa di penuhi dengan baik dan buruk jika sosok mungil chuby di depannya menyelinap kedalam perutnya.
Namun, ketika Weiyun mengetahui apa yang di pikirkan oleh Yaksa barusan, tanpa sadar kaki kecilnya melangkah mundur.
Bagaimanapun ia berusaha bertindak sebagai pria dewasa, kenyataan yang ada adalah tubuh, pikiran, dan semua yang di dalamnya masihlah seorang bocah kecil.
"Bibi akan memakan ku?, lalu bagaimana dengan ibunda?, pasti nanti akan mencari ku dan bersedih."
Wajah Weiyun menunjukkan sedikit perubahan, ada takut, cemas dan sedikit pemikiran untuk melakukan perlawanan tergambar di wajah polosnya.
__ADS_1
Dan dengan kejelian bola mata ajaib di tangan Yaksa, bagaimana mungkin hal tersebut bisa lolos.
"Weiyun....kamu sayang bibi kan?, datanglah kemari, hari ini bibi ingin melihatmu lebih dekat."