
Masih di Aula, tempat berlansungnya pesta tahunan, di kekaisaran Tang.
Mendengar hal tersebut, Ziaruo membulatkan mata sejenak.
Wanita itu berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekat kearah pria tua, yang menyebut dirinya pria dengan marga Gu.
Dengan kedua tangan, Ziaruo membantu pria tersebut berdiri, dan berkata. ''Jangan lakukan ini, anda tidak pantas menundukan tubuh kepada saya.''
Di tengah acara pesta yang meriah, kehadiran jendral besar Gu, yang mendekat dan memberikan penghormatan, kepada Permaisuri negri Zing, menarik minat semua mata disana.
Seolah, itu adalah tontonan yang jauh lebih menarik, dibanding dengan gerak gemulai, para penari cantik di tengah ruangan.
Sementara, mereka yang menjadi pusat perhatian (Ziaruo dan jendral tua Gu), berusaha seakan tak menyadari hal itu.
Dengan mimik wajah di buat sewajar mungkin, sang Jendral dengan cepat mengambil sesuatu, dari balik bajunya.
Meskipun, pria tersebut sudah tergolong berumur, gerakan tangannya masihlah sangat cepat.
Bahkan, hampir tak ada seorangpun yang menyadari, disaat ia menyelipkan sebuah gulungan kecil, di balik tangannya.
Dan, dengan tanpa pemaksaan, ia meraih tangan wanita cantik itu, yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya.
''Maafkan kelancangan pria tua ini Yang Mulia, karena telah bersikap kurang ajar.'' Ucap pria tua Gu, setelah berhasil meraih tangan, serta menyelipkan sebuah kertas kecil, kedalam telapak tangan Ziaruo yang ia sentuh.
Permaisuri negri Zing itu, menyadari apa tujuan sang jendral, dan mengapa pria tersebut menyentuh tangannya.
Ia hanya mengernyitkan kening sekilas, setelah merasakan sebuah benda kecil, pada telapak tangannya.
Namun, dengan cepat Ziaruo kembali tersenyum, dan berkata. ''Bukan, Justru wanita inilah, yang seharusnya meminta maaf kepada anda.''
Ziaruo sedikit membungkukan tubuh, meraih tangan sang pria tua, serta membawa diatas pucuk kepalanya.
''Seorang ayah tak pernah menyatukan tangan, untuk meminta maaf. Namun, memberikan kehangatan, serta belaian kasih sayang kepada putrinya.'' Lanjut Ziaruo kembali.
Mendapat respon yang demikian, banyak hal yang bergejolak didalam hati pria tua tersebut.
Ada banyak pula ucapan yang ingin ia sampaikan, kepada wanita yang baru ia jumpai sekarang.
Sungguh ironis, menantu yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya, mampu menghadirkan perasaan, layaknya seperti seorang putri kandung, yang telah lama berpisah.
Dan pada kenyataannya, wanita itu bahkan tak lagi bersama sang putra.
Dan telah membangun kembali keluarga baru, bersama pria lain yang jauh lebih hebat, dari putranya di mata dunia.
Jendral besar Gu menatap sendu kearah Ziaruo lekat, dengan perlahan ia mulai membuka mulut, serta memberanikan diri berkata kembali.
''Jika berkenan, bisakah singgah barang sejenak ke kediaman Gu kami, disana ada seorang wanita, yang sangat ingin mengenal anda.''
__ADS_1
Pria dengan sebidang talenta itu, nampak berkaca-kaca.
Entah apa yang tengah difikirkan, dan menjadi harapannya, kepada Permaisuri negri tetangga tersebut.
Namun yang jelas, Ziaruo memahami apa yang tengah dipikirkan oleh pria tua, dengan kejayaan yang menggiurkan bagi semua orang.
Akan tetapi, Ziaruo mengetahui bahwa, pria itu menyedihkan didalam keadaan yang sesungguhnya.
Seorang pria, dengan kesuksesan yang gemilang hingga di usia yang mulai menapaki senja tersebut, masih bergelimang kemegahan.
Namun, apa yang dimilikinya hanyalah tampilan semu saja.
Pada kenyataannya, dirinya dan sang istri, tak lagi mampu tersenyum.
Bahkan, di usia mereka yang seharusnya berbahagia bersama sang cucu, kini hanya diliputi kecemasan yang tidak berujung.
Setelah kematian putranya, kini ia dan sang istri, harus terus mencemaskan keselamatan sang putri, yang menjadi salah satu selir kesayangan kaisar.
Pria tua Gu tampak gagah, dan berwibawa di luar, namun Ziaruo mengerti kekosongan, serta pergulatan kecemasan dihati pria tersebut.
''Jika memang ada kesempatan, dengan senang hati, wanita ini akan bersedia datang.'' Jawab Ziaruo, dengan penuh kelembutan.
Mendengar hal itu, baik Jing, Jendral Gu, selir Gu dan bahkan, kaisar Canzuo terkejut.
Mereka tak mempercayai bahwa, wanita cantik itu menyetujui apa yang di pinta oleh sang Jendral.
''Bahkan kabar kehamilan Xu'er, juga bukan sebuah kabar yang baik.'' Lanjutnya lagi dalam hati.
Dan Permaisuri Yun, mengerti akan pikiran tersebut.
Bagi Ziaruo yang bisa mengerti, dan mengetahui segala pemikiran orang lain, ia dapat memilih siapa yang pantas ia ajak berbicara, atau pantas dipercaya.
Dari sekian banyak pemikiran disana, tak lebih dari hitungkan sebelah jari tangan saja, yang memiliki ketulusan untuknya.
Ziaruo kembali berjalan ketempat duduk semula. Ia tak ingin lebih lama lagi, menarik perhatian mata tak tulus, diantara pendar-pendar pesta yang meriah.
''Yang Mulia...'' Panggil Ziaruo lirih.
''Ia...aku tahu, kau ingin menemui wanita itu kan?.'' Jawab Jing lembut.
Mendengar perkataan itu, Ziaruo sedikit menggeser tubuhnya, dan kembali bertanya. ''Apakah anda mengizinkan.''
''Heeeh...''
Kaisar Jing mendesah pelan, ada sebuah pemikiran di dalam kepalanya sekarang, dan tentu saja Ziaruo mengetahui akan hal tersebut.
Wanita itu, terkekeh lirih seraya menutup bibirnya, dengan secarik kain, yang selalu menempel di tangannya, secara sepontan.
__ADS_1
''Apa yang kau tertawakan?.'' Tanya Jing, dengan kernyitan pada kening.
''Bukan apa-apa Yang Mulia, Wanita ini hanya ingin menemui istri sang Jendral, bukan untuk mengenang pria lain.'' Jawab Ziaruo, sembari mengusap lembut tangan Jing, yang bertumpu diatas paha.
Mendengar Jawaban tersebut, Kaisar Zing membulatkan mata, ia menampilkan wajah penuh keterkejutan.
''Apakah, hal itu jelas tertulis diwajahku?.'' Tanya reflek Jiang jingwei.
Ia merasa seolah tengah tertangkap basah, sedang cemburu. Dan itu adalah hal memalukan baginya.
Seorang Jiang jingwei, tengah mencemburui sebuah kenangan, milik sang istri bersama pria lain, yang pada kenyataannya, sang pria telah lama meninggal dunia.
''Kel kel kel...'' Ziaruo semakin terkekeh.
Bahkan, ia tak dapat menutupi tawa kecilnya saat ini, dari beberapa orang disana.
Wanita itu, juga menganggukan kepala beberapa kali, sebagai jawaban atas pertanyaan Jing, suaminya.
Melihat Ziaruo mengangguk, Jing semakin melebarkan mata, dan mendekatkan diri kearah Ziaruo.
''Jika kau terus tertawa seperti ini, jangan salahkan aku jika tidak mengingat penjelasan apapun dari tabib.'' Ucap Jing lirih, karena terlalu lirihnya hingga terdengar, seperti sebuah bisikan saja bagi Ziaruo.
Sesaat setelah kaisar Jing menyelesaikan ucapan, giliran Ziaruo yang membulatkan mata lebar.
Dengan gerak tubuh, yang berusaha bergeser agak menjauhi pria tersebut, ia kembali berkata. '' Tidak lagi...tidak tertawa lagi.''
''Heeemmmzz.....kita lihat saja nanti.'' Lanjut Jing, menggoda sang istri, yang disertai kerlingan mata yang nakal.
Bagi Jiang Jingwei, apapun itu selama ia melakukannya dengan wanita tersebut, baik hanya sekedar berjalan, ataupun bercanda seperti sekarang, Ia selalu merasakan kebahagiaan yang teramat besar.
Bahkan, semenjak kehadiran Ziaruo, seolah ia kembali memiliki perasaan layaknya pria pada umumnya kembali.
Bukan hanya itu saja, Jing juga mulai bisa mempercayai orang lain.
Meskipun, masih tetap mempersiapkan pencegahan, untuk yang terburuk.
Dengan kata lain, meskipun sekarang Jing mulai bisa mempercayai orang lain, namun kepercayaan itu masih penuh dengan pemikiran takut, serta penuh kewaspadaan, atas suatu kemungkinan terburuk, sebuah pengkhianatan.
Baginya, hanya wanita itu saja(Ziaruo), yang pantas dan dapat ia percayai sepenuhnya, hingga saat ini.
............................
Meninggalkan chemistry yang terjalin disana, dan beralih kepada pemilik sepasang mata diatas singgahsana, yang menatap keduanya tajam.
Ibarat seekor elang perkasa, yang tengah mengincar sang kaisar Jing, sebagai buruan mangsa.
"Nikmatilah, selagi kau masih bersamanya." Gumam Canzuo dalam hati, penuh kegeraman.
__ADS_1