
''Coba tanyakan suamimu, apakah ia juga akan menolak jika di beri kesempatan?, hahaha..hahaha"
Tambahnya lagi, sembari melangkah meninggalkan nyonya Yin, yang sedang menggulung kening, serta menatap kearah sang suami dengan tajam.
"Coba saja jika berani." Dengus nyonya Yin.
"Tidak berani...tidak berani." Jawab tuan Yin sepontan.
"Jangan marah Su, anggap kau tak mendengarkan ucapan gilannya." Lanjuy tuan Yin, ketika melihat tatapan mata sang istri, masih tertuju kepadanya.
"Ibu...jangan pedulikan perkataan bujang tua itu, ia hanya asal bicara." Sambung putra nyonya Yin.
"Benar ibu, ayah bukan orang seperti itu." Tambah putri keduanya.
''Huuuh..ayo kita keladang, sebelum semakin panas.'' Dengus nyonya Yin.
Dalam hati ia masih kesal, ketika mengingat perkataan Meng.
''Ia...Ayo cepat, hari ini kita akan menyelesaikan semuanya.'' Sahut tuan Ying, sembari menarik pergelangan tangan sang istri.
.............
Sementara itu.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Ziaruo sampai di sebuah pondok kecil, dengan pagar bambu reot, yang tak terawat di depannya.
''Kriiiet....''
Suara pintu terbuka dari dalam.
Sebuah kepala kecil, menyembul dari dalam rumah tersebut.
''Kakaaaak...'' Panggil sang bocah pemilik kepala, yang tak lain adalah cangge.
Wajah kusut dan sedikit lusuh itu, berbinar melihat kedatangannya.
Melihat sang bocah yang berlari kearahnya, Ziaruo merentangkan kedua tangan, dan sedikit membungkukan tubuh.
''Kakak...aku telah bersikap baik, apakah kau akan mengajakku bersamamu?.'' Ucap Cangge, di tengah langkah kecilnya.
Ziaruo menyambut tubuh Cangge kedalam pelukan, sembari berkata. ''Aku datang...''
Pelukan hangat Ziaruo, membawa tubuh itu lebih tinggi.
Dengan dekapan penuh kasih sayang, ia membawa Cangge masuk kedalam rumah.
''Kakak.. aku akan mengepak barang-barang dulu, bisakah kau turunkan sebentar?.''
Ia Ziaruo memang selalu memeluk bocah Cangge, kedalam dekapannya.
Meskipun ia telah berusia 7 tahun, namun dengan asupan makan yang kurang, tubuh Cangge masih terlihat seperti bocah 5 tahun.
Bahkan, dapat dikatakan ia jauh lebih kurus dari putranya Weiyun, yang berusia 5 tahun.
Ziaruo menatap sejenak wajah cangge, ia merasa bocah tersebut sedikit lebih tinggi dari terakhir kali.
''Oh...Ge'er sudah lebih besar sekarang.'' Ucap Ziaruo, dengan senyum menggoda kearah bocah tujuh tahun itu.
Ia melonggarkan tangan, dan menurunkannya dari gendhongan, ala koala besar di depan tubuhnya.
Dengan cepat, Cangge mengambil sebuah kain lebar seukuran penutup meja, dan membukanya lebar-lebar diatas tempat tidur.
__ADS_1
Melihat hal itu Ziaruo berjalan mendekat, dan duduk di dekat kain yang di buka oleh sang bocah.
Ia memperhatikan tindakan cangge, yang meletakkan setiap barang berharga miliknya keatas kain.
Ziaruo sesekali menampilkan senyum lembut, ketika ia melihat tindakan tersebut.
Ia enggan menghentikan sang bocah, untuk memasukan semua barang, yang dianggapnya tak layak pakai.
''Ge'er...apakah bibi Rong baik padamu?.'' Zoaruo.
Mendengar pertanyaan Ziaruo, Cangge menghentikan sejenak tindakannya.
Sekilas ada sorot sendu, dalam tatapan mata itu.
Namun, dengan cepat ia segera tersenyum serta, melanjutkan mengemas barang.
''Dia baik kakak. Seperti pesanmu, setiap hari aku datang padanya untuk mengambil makanan.'' Jawabnya, di tengah kesibukan bolak-balik yang ia lakukan.
''Kau yang datang padanya?, bukan dia yang mengatar kepadamu?.'' Tanya Ziaruo lagi.
Kali ini langkah kaki cangge, sedikit tersendat ketika mendengar pertanyaan tersebut.
Namun, dengan cepat ia menjadi biasa kembali, dan menjawab. ''Tidak, mereka yang mengantarkan kepadaku kak. Tapi karena musim tanam diladang, mereka agak sibuk. Jadi akhir-akhir ini, aku yang ingin datang kesana.''
Ziaruo memahami makna dari setiap gerakan sang bocah. Hatinya merasa sedih, dengan kebohongan yang di sampaikan.
''Kemarilah.'' Pintanya lembut, sembari meraih tubuh itu, dan kembali membawanya kedalam pelukan.
''Kau anak yang baik.'' Ucapnya lirih, dan mengecup pucuk kepala Cangge.
Ada kehangatan hati dari wanita tersebut, yang di rasakan oleh Cangge.
''Eeehmmm...Ge'er ingin bersama kakak.'' Sahutnya lirih, dengan mata yang berkaca-kaca.
Cangge ingin segera pergi dari sana. Kampung halaman yang mengasingkan dirinya, dan acuh-tak acuh atas kesendirian serta ketidak berdayaan yang ia alami.
Cangge ingin pergi bersama dengan wanita itu, yang telah ia anggap sebagai kakak.
Karena hanya wanita itu saja, yang peduli atas hidup dan mati tubuh kecil miliknya.
Dalam hati dan pikiran Cangge, tak ada yang baik di desa batu, setelah kepergian kedua orang tuanya.
Bahkan sang bibi (nyonya Rong), yang memperoleh uang dari Ziaruo sebagai biaya kehidupan sehari-hari untuknya, juga tega membuat bocah tersebut, kelaparan beberapa hari.
Nyonya Rong, menggunakan uang biaya yang di berikan oleh Ziaruo, untuk kebutuhan keluarganya sendiri.
Padahal, wanita Rong juga telah di berikan upah, untuk melakukan semuanya.
Cangge merasa kecewa, dengan satu-satunya keluarga yang tersisa, dari pihak sang ibu tersebut.
Jika bukan, mengingat janji dari Ziaruo yang hendak membawanya serta, mungkin ia akan menyerah, ketika kelaparan beberapa hari yang lalu.
''Kakak...Apakah nanti adik kecil akan memyukaiaku?.'' Cangge.
''Mengapa ia tidak suka?, kau adalah anak yang baik.'' Ziaruo.
''Tapi...'' Cangge ragu-ragu, dan agak cemas.
Ziaruo menangkup wajah kecil lusuhnya, dengan lembut.
''Tapi apa?, jangan terlalu cemas.
__ADS_1
Kalian harus saling menjaga kedepannya.
Mungkin, ia sedikit nakal, jadi sebagai kakak kau harus mengajari untuk bertindak benar, bersabar, dan memaafkannya.'' Ziaruo.
''Apakah kau bersedia?.'' Sambung Ziaruo lagi.
Sejak awal, ketika Ziaruo memahami kondisi Cangge, ia telah memutuskan untuk membawa Cangge bersamanya.
Namun, bukan untuk bersama dengan Weiyun. Melainkan, untuk di serakan ke pondok harapan miliknya.
Akan tetapi, ketika ia mengingat sang putra yang kesepian, dan tanpa teman sebaya untuk bermain. Ia mengubah keputusannya.
''Tenang saja kak..aku akan selalu bersabar, dan menjaganya dengan baik.''
Ziaruo tampak senang melihat semangat Ge'er. Ia telah membayangkan kebersamaan mereka, di masa mendatang.
''Bagus...aku tahu, Ge'er anak yang hebat.'' Ziaruo.
Wanita itu berdiri dari duduk, dan meraih tangan kecil, yang hendak mengambil bungkusan barang diatas ranjang.
''Bisakah itu kita tinggalkan?, biarkan saja disana.'' Ziaruo.
Mendengar perkataan tersebut, Ge'er sedikit bingung, ia menatap kearah bungkusan dengan berat hati, dan berbalik menatap Ziaruo.
Dan tentu saja wanita itu, memahami pikiran sang bocah.
''Kita akan berbelanja di kota nanti, kau tahukan kakak sangat menyayangimu, dan tak ingin Ge'er kerepotan membawanya.'' Ziaruo.
''Kau bawa yang paling berharga milikmu saja, bagaimana?.'' Sambungnya lagi, ketika melihat wajah enggan Cangge.
Namun, sejenak kemudian Ziaruo menyesali perkataan itu.
Ia mungkin terlalu memaksa sang bocah, untuk membuang semua benda miliknya.
Tangannya bergerak perlahan mengusap rambut Cangge, dan hendak berkata.
Akan tetapi, belum sempat bibir itu terbuka, Cangge mengangguk dan berucap. ''Emmmh...tidak ada yang berharga disana kak, ayo kita pergi.''
''Baiklah...ayo kita berangkat.'' Ziaruo.
Hari itu, Ziaruo membawa pergi Cangge keluar dari desa, setelah meminta izin pemimpin desa, dan menitipkan lahan pertanian, serta rumah keluarga Cangge.
Ziaruo juga memberikan saran kepada pemimpin desa untuk menyewakan ladang dan sawah milik keluarga Cangge, serta meminta bantuan dari sang pemimpin, untuk menyimpankan uang hasil sewa tersebut.
Karena hanya dengan cara ini saja, lahan serta rumah sederhana keluarga Cangge, tetap aman dari keserakahan keluarga sang bibi.
Dan ketika Cangge dewasa nanti, serta memutuskan panjangnya memutuskan untuk kembali, ia masih memiliki tempat tujuan milik keluarganya di desa batu.
''Cangge...naik kepunggung kakak, biar lebih cepat kita sampai.'' Ziaruo.
Ziaruo bukahlah dirinya yang dulu, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dengan cepat.
Akan tetapi, dirinya juga bukan wanita seperti pada umumnya.
Kempuannya beladiri, dan tenaga dalam yang ia miliki masih disana.
Meski, akan sedikit repot seperti sekarang, ia harus menggendong bocah kecil tersebut, untuk mempercepat perjalanan.
Namun, di dunia kaum mortal ini, ia bukanlah seseorang yang dapat dianggap sebagai lawan yang ringan.
''Kau boleh tidur Ge'er. Nanti jika sudah sampai, akan kubangunkan.
__ADS_1