Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 155. Benteng diri


__ADS_3

Oleh karena itu, ia menjadikan pria Bai sebagai salah satu, dari sekian orang yang ingin ia lenyapkan.


''Aaaakkkhhh....'' Pekik keras Bai Tangyi, sembari memegang lengan kanannya, yang hampir putus.


Jendral Gu, memegang sebilah pedang panjang, yang berhasil ia dapatkan dari salah satu penjaga bayangan,


''Kau tidak pantas hidup, orang picik dan kotor sepertimu, tidak pantas untuk menghirup udara lebih lama lagi. ''Ucap sarkas jendral Gu, ketika ia menatap wajah kesakitan milik pangeran Bai.


Jendral tua itu, mengayunkan pedang di tangan kearah pangeran Bai, mengarahkannya tepat ke leher putih pria tersebut.


Aura membunuh yang kental, tercetak jelas pada wajah sang jendral tua.


Akan tetapi, dengan cepat seorang penjaga bayangan, datang menangkis sabetan pedang miliknya, menciptakan sebuah dentingan diantara benda tajam di tangan mereka.


Kaisar Canzuo yang berada di sana, dengan jarak beberapa langkah dari pergulatan, merasa sedikit gugup.


Ia tidak mengira bahwa Jendral Gu, akan melakukan kenekatan seperti sekarang.


Disela peliknya pertarungan antara sang jendral dan para penjaga bayangan, sebuah ragu mulai menyusup kedalam relung hati Kaisar Canzuo.


Apakah semuanya salah, mengapa rencana dan pemikirannya, jauh berbeda dengan kejadian saat ini.


Diawal-awal Ia berpikir, dengan menunjukkan kesalahan selir Gu putrinya, pria tua itu akan menyerahkan lencana kepemimpinan pasukan tempur miliknya, sebagai ganti permohonan pengampunan untuk wanita tersebut.


Namun, satu hal yang ia tidak pahami, bahwa sejak kejadian dengan sang putra Gutingye, jendral tua telah menaruh kekecewaan yang besar untuk dirinya.


Akan tetapi, mengingat statusnya sebagai abdi kekaisaran, pria dengan julukan jendral kejam, serta dingin tersebut, berusaha sebaik mungkin menyisihkan polemik hati pribadinya.


Ia tetap menjalankan perintah serta aturan yang berlaku dikekaisaran.


Baginya, bahkan pengorbanan sang putra ia anggap sebagai bukti kesetiaan untuk kekaisaran Tang yang agung.


Namun, sebesar apapun kebijakan serta kesetiaan yang ia miliki. Jika selalu di curigai dan di pojokkan, pada akhirnya ia akan bertahan dan memberikan reaksi.


Terlebih lagi, sekarang ini menyangkut keselamatan sang putri, yang di persalahkan atas sebuah tindakan asusila, dan penghianatan terhadap sang Kaisar.


Loyalitas, serta kehormatan yang di junjung tinggi selama ini di pertanyakan, kebanggaan yang ia miliki di injak dan di nilai dengan lumpur kotor, oleh orang yang sangat ia anggap sebagai junjungan.


Bahkan seekor semutpun, akan menggigit ketika ia terjepit.


Apalagi dirinya, seorang jendral besar kekaisaran Tang, yang merupakan salah satu keturunan generasi ke dua, dari 4 bangsawan yang ikut berjuang dalam mendirikan kekaisaran Tang yang Agung.


Bahkan, jika sang Kaisar tak memiliki keturunan, maka salah satu putra, dari keempat bangsawan tersebut dapat menduduki kekaisaran, sebagai penerus tahta.

__ADS_1


Kegelisahan, serta kecemasan mulai menyeruak masuk kedalah hati Kaisar Canzuo. Akan tetapi, segalanya sudah kepalang tanggung.


Layaknya baju yang telah basah, maka mengguyurnya akan lebih mudah, dari pada mengeringkan.


Canzuo menggumamkan sebuah nama pada bibir tipisnya.


Ia berharap seseorang yang sangat ia akui kemampuannya, untuk datang sekarang juga.


Akan tetapi, hingga semua penjaga bayangan yang ia miliki telah terjatuh, sosok yang ia harapkan tidak juga datang.


''Si*l...s*al...kemana jelmaan bodoh itu pergi..Si*lan.'' Pekik Canzuo penuh kemarahan.


Dengan segala kecemasan yang ia rasakan, tepat didepannya pertempuran antara sang jendral tua, dan penjaga bayangan terus berlangsung.


Dengan suara yang agak keras, Canzuo memanggil sebuah nama. ''Biyi...''


Flash back off.


Sementara itu, di sebuah gazebo di tengah pavilliun milik Kaisar Canzuo, seorang pria dengan dua kasim di sampingnya, tengah menikmati secangkir teh.


Di depannya, tersaji sebuah hidangan kue-kue kecil sebagai pelengkap.


Di atas meja itu, juga terdapat sebuah kotak dari kayu hutan, dengan ukiran bunga teratai.


Kotak itu memang terlihat telah agak usang. Akan tetapi, terlihat jelas bahwa sang pemilik memperlakukan barang tersebut dengan baik.


Tampak jelas, rona bahagia tengah menyelimuti perasaannya saat ini.


Hal itu terbukti, dengan beberapa kali terlihat senyuman tercetak pada bibir tipis miliknya.


Hingga sebuah suara, sayup-sayup terdengar. ''Biyi...biyi..''


Pria yang di ketahui sebagai Canzuo tersebut, meletakkan cangkir teh diatas meja, dan bergegas berdiri.


Namun sebelum ia melangkah pergi, sebuah suara dari luar pavilliun Kaisar menghentikan langkahnya. ''Yang mulia, permaisuri dari kekaisaran Zing menerima undangan paduka.''-


Mendengar pemberitahuan tersebut, Canzuo diam. Dengan perlahan, ia memejamkan mata sejenak, dan membayangkan sesuatu.


''Yang Mulia..'' Panggil salah satu kasim disana.


''Baiklah...'' Jawab Canzuo pelan.


Sebuah jawaban singkat, dengan makna memberi izin kepada Permaisuri Yun masuk, menemui dirinya.

__ADS_1


''Hormat hamba Yang Mulia...'' Sapa Ziaruo, dengan sedikit membungkukan tubuhnya.


Melihat hal tersebut, Kaisar Canzuo merasa tidak nyaman.


Dengan langkah cepat, ia berjalan mendekati wanita cantik di depannya.


Ia ingin membantu wanita itu berdiri.


Akan tetapi, ketika jarak diantara keduanya tinggal beberapa langkah, pria itu menghentikan langkah kaki, dan berkata. ''Bangunlah..jangan terlalu formal.''


Canzuo berbalik, ia kembali berjalan menuju gazebo di tengah kediamannya.


Dan tentu saja, Ziaruo mengikuti langkah sang pria, dengan jarak beberapa jengkal di belakang.


Wanita itu tetap terlihat tenang. Bahkan, dengan pemikiran yang kini ia miliki, wajah cantik tersebut, masih menunjukan keanggunnan, serta kelembutan senyum yang ia sematkan.


''Mohon paduka Kaisar tidak menjadikan salah paham, wanita ini hanya ingin menunjukan penghormatan kepada tuan rumah.'' Ucap Ziaruo, setelah ia melihat Kaisar muda itu, berhenti dan berbalik kearahnya.


Ia menyadari, bahwa segalanya tidak sesederhana yang ia lihat sekarang.


Dari tubuh sang pria, ia merasakan aura immortal yang kuat.


Bahkan, sejak dirinya mulai memasuki paviliun tersebut, ada perasaan yang tidak asing bagi tubuh manusia, yang kini ia tempati.


''Aku tahu...duduklah.'' Jawab Kaisar Canzuo dengan lembut.


Seperti sebuah perintah baginya, wanita itu perlahan membawa tubuhnya duduk pada kursi, di tengah Gazebo.


Raut wajah Ziaruo masih menunjukan ketenangan, bahkan ketika ia melihat sebuah kotak kayu yang sangat ia kenal.


Ziaruo tersenyum dan bergumam dalam diamnya. ''Ooh...jadi itu Anda.''


Melihat sebuah senyum tercetak pada wajah cantik miliknya, Kaisar Canzuo menatap lekat kearah Ziaruo.


''Apa kau menyukai kotak usang milikku permaisuri?.'' Tanya Canzuo pelan.


Pria tersebut, melirik sekilas kearah kotak kayu hutan di atas meja, dan kembali melihat Ziaruo.


Ada sebuah harapan pada sorot mata pria tersebut. Akan tetapi, Ziaruo tetap tidak mampu melihat apa yang kini, tengah di pikirkan pria di depannya.


''Anda membentengi diri?.'' Tanya wanita itu.


''Hahaha..''

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Ziaruo, Canzuo tertawa.


''Apakah anda ingin menyelidiki pria ini permaisuri?.'' Tanya balik Canzuo.


__ADS_2