Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 171


__ADS_3

''Jika itu saya, maka tidak akan bayi yang bahkan belum berwujud tersebut, menjadi penghalang untuk kembali kekhayangan.'' Ucap sinis Yaksa.


Mendengar ucapan tersebut, Yun'er hanya bisa diam.


Mungkin mahkluk Yaksa di depannya, menganggap dirinya bodoh dan itu sah-sah saja.


Namun, bagi seorang wanita yang pernah menjadi kaum abadi, seperti dirinya, yang tak memiliki buah cinta (putra) bersama pasangan. Ziaruo mampu melakukan apapun, untuk bayi di dalam perutnya kini.


Biarlah yang lain beranggapan apa, ia telah memantapkan hati.


''Aku akan tinggal disini. Namun, tetapi bisakah aku bertahan hingga ia terlahir nanti?.'' Tanya wanita Yun'er.


''Hahaha...hahaha...hahaha..''


Yaksa tertawa dengan keras, mendengar pertanyaan dari bibir Ziaruo.


Baginya, ucapan itu adalah sesuatu yang telah ia tebak, sebelum wanita itu menggerakan bibirnya.


''Kalian yang menganggap diri sendiri, sebagai orang-orang putih (kaum suci/orang baik), selalu memutuskan sesuatu dengan hati.'' Ucap Yaksa sinis.


Wanita dengan tubuh ular tersebut, bergerak tak beraturan.


Mendekat kearah Ziaruo sejenak, bergeliat, menyelam kedalam telaga, dan kembali menyembulkan kepala lagi.


Hal itu ia lakukan, dengan ritme waktu hanya berselang beberapa detik saja, pada setiap pergantian gerakan.


Dan mengakibatkan, riak-riak besar pada permukaan telaga.


''Aku senang, hari ini hati wanita ini sangat bahagia.'' Ucapanya, disela gerakan-gerakan frontal yang ia lakukan.


Bahkan, tawa aneh setengah menyeramkan miliknya, juga tak henti ia di keluarkan.


''Aku sendiri, yang akan menyiapkan kediaman untuk anda Dewi.


Dan selama apa, anda ingin tinggal, disini?, apakah hingga ia dewasa?.'' Lanjut sang Yaksa lagi.


''Itu tidak perlu, wanita ini masih mampu, membangun kediamannya sendiri.'' Ziaruo.


''Tapi, sebelum aku menetap disini, aku ingin kembali dulu, dan akan datang purnama mendatang.'' Sambung Ziaruo lagi.


Wanita itu, seolah telah memiliki rencana, dan caranya sendiri.


Dan ia menolak bantuan lain, dari wanita Yaksa.


''Anda bisa melakukan apapun ditempat saya dewi, namun di kemudian hari nanti, wanita ini akan meminta satu hal kepada anda, sebagai imbalan atas segalanya.'' Yaksa.


Mendengar ucapan Yaksa, Ziaruo terdiam sejenak.


Sejak awal ia telah tahu, bahwa tak ada hal mudah, jika berurusan dengan wujud di depannya tersebut.


Namun, bagaimanapun ia akan menyanggupinya, saat ini hidup dari bayi di rahimnyalah yang terpenting.


''Aku tahu...'' Jawab Wanita Yun singkat.

__ADS_1


''Hahaha.....hahaha...''


Lagi-lagi tawa Yaksa terdengar.


Seolah ia telah menemukan sesuatu, yang sangat berharga untuk dirinya.


''Maka ambillah ini Dewi, dan ketika waktu anda tiba, teteskan darah milik anda padanya.'' Ucap Yaksa lagi.


Wanita setengah ular tersebut, menyerahkan sebuah giok berwarna putih, dengan bagian tengah membentuk sebuah lingkaran, menyerupai bulan dengan penggalan tepat di tengahnya.


Ziaruo menerima giok tersebut, dan menyelipkan pada lengan bajunya.


Wanita Yun, menatap Yaksa di tengah telaga sekilas, dan beralih melihat ekor yang tadi menyerahkan giok, kembali menenggelamkan diri kedalam air.


''Terimakasih.'' Ucap singkat Ziaruo, sebelum beranjak pergi dari sana.


Mendengar ucapan tulus dari bibir Ziaruo, Yaksa menghentikan gerakan ekor, serta tubuhnya.


Mata wanita dengan tubuh ular itu berbinar, serta tersembul sebuah senyuman kecil pada bibir tipisnya.


''Apakah bangsa kalian memang memiliki hati?, bahkan bersedia berterimakasih kepadaku.'' Gumam dalam diamnya.


........................................


Sementara itu, di sebuah tempat yang tak jauh dari kekaisaran Zing, sekelompok orang tengah berkumpul.


''Tuan, mereka telah sampai tadi pagi di istana. Menurut mata-mata yang kita miliki, kaisar dan permaisuri Zing tidak bersama mereka.'' Ucap salah seorang dari mereka.


''Bagus, maka kita akan bergerak besok. Dan kuharap semua rombongan dari kekaisaran lain, telah tiba siang nanti.'' Ucap satu yang lainnya.


Seorang pria yang dikenal, sebagai penasihat dan pengawas militer kekaisaran Zing.


Dia adalah, salah satu pewaris dari 4 keluarga bangsawan, yang di kenal dengan kekayaan, serta memiliki banyak pengawal pribadi terlatih.


Sejak awal pria dengan nama Tuobajun itu, di anugrahi kedudukan tersebut, telah sengaja memupuk ambisi besarnya.


Ia merasa dengan kekuatan, kekayaan, serta prajurit miliknya, dirinya dapat kesempatan, ataupun perlakuan istimewa dari kekaisaran.


Namun, pada kenyataan kaisar Jing tidak memberikan kesempatan tersebut.


Dan Jika bukan, karena bantuan para pejabat yang menyarankan dirinya, serta politik Uang yang ia lakukan kepada para pejabat kekaisaran.


Taobajun tidak akan pernah, dapat melangkah kedalam kancah, parlemen politik kekaisaran.


Oleh karena itu, ia menanamkan keyakinan, dan memutuskan, bahwa dirinya sampai pada posisi sekarang, tak lain hanya karena kekayaan, serta kompetensi diri sendiri.


Bukan karena anugrah, atas keagungan, serta kemurahan kaisar Jing.


Oleh karena hal tersebut, ia tidak memiliki loyalitas terhadap pria, yang kini memegang tampuk kekaisaran.


Ditambah lagi, ketika Kaisar Jing memutuskan menikah


dengan Ziaruo, dan mengangkat wanita tersebut sebagai permaisuri.

__ADS_1


Taobajun, dengan latar belakang yang hampir sama dengan permaisuri Yun, merasa dirinya pantas mendapat yang lebih baik, dari posisinya sekarang.


Dalam hati, ia selalu beranggapan, bahwa menimbang dengan status, serta keturunan rakyat biasa, janda Yun dapat menjadi seorang permaisuri.


Maka, dirinya yang memiliki harta sama dengan janda Yun, dan kekuatan (prajurit pribadi hebat). Taobajun semakin yakin bahwa dirinya sangatlah pantas, dan harus memperoleh hal yang lebih dari sekarang.


...............................


''Bukankah jumlah kita sudah lebih dari cukup?.'' Lanjut Taobajun.


Mendengar hal itu, pria yang duduk di depan ketiga pria di sana, menatap kepada pria pertama, dan berkata.


''Apa kau pikir, Kaisar Jing bukan lawan yang tangguh?, dan apa menurutmu kekaisaran Zing, akan mudah di taklukan hanya dengan kalian saja?, dasar b*doh."


Mendengar ucapan kasar itu, Taobajun merasa kurang suka, sikap arogan, serta tabiat senang disanjung miliknya, menggeliat tidak terima.


Dengan segera ia berdiri dan kembali berkata. ''Kau sungguh memandang sebelah mata, namun, juga masih membutuhkan kami.''


Pria pejabat militer baru di kekaisaran Zing Taobajun, mengeraskan rahang, dan menatap tajam kearah pria bertutup kepala.


Bahkan, ia juga mengangkat jari telunjuk, menunjuk tepat kearah yang dia perkirakan, tepat pada wajah pria, dengan penutup di depannya.


''Bahkan, dengan dunia pun anda masih bersembunyi, pria ini menjadi sedikit ragu kepada anda.'' Sambung Taobajun lagi.


Ruangan tiba-tiba saja menjadi hening.


Namun, hal itu berlangsung hanya sesaat saja.


Karena pada detik berikutnya, aura berubah menjadi mencekam.


''Baguuus..'' Ucap singkat, pria dengan cadar, melingkupi bagian atas kepalanya tersebut.


Pria itu berdiri dari duduk. Dan dengan gerakan cepat, ia mendekat kearah pria Taobajun.


Ruangan masih terasa mencekam, tak kurang dari 10 orang lain yang disana, hanya diam.


Seakan, mereka telah terkena mantra, dan membuat tubuh semua orang mematung, serta hanya menatap kilasan cepat disana.


Hingga...


''Brugh.''


Tubuh Tuobajun jatuh terduduk, di depan sang pria bertutup kepala.


''Aku sangat membenci, mereka yang terlalu banyak bicara.'' Ucap pria bercadar, sembari mengusap kuku jarinya, yang berlumuran cairan merah.


Menyaksikan hal itu, semua yang hadir membulatkan mata, dan secara reflek berdiri.


''Tobajun.'' Pekik Dua orang pria, yang kebetulan mengenal baik Taobajun, hampir bersamaan.


''Mengapa anda membunuh pengawas militer?, bagaimana kita akan mengatur pasukan miliknya?.'' Tanya salah satu pria disana.


''Kita akan mendapat masalah, bahkan sebelum berperang.'' Sambung pria satunya.

__ADS_1


Namun, seolah tak mendengar, dan tak menganggap perkataan keduanya.


Pria dengan penutup kepala itu menjawab. ''Bahkan jika prajurit miliknya tidak tergabung, kita masih memiliki banyak prajurit dari negri lain, yang akan datang membantu.''


__ADS_2