Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 205 Bertekad.


__ADS_3

Keinginan Ziaruo hanya satu, ia ingin wanita itu mengerti dan memahami, atas setiap kebaikan serta keburukan dari ramuan yang akan di minumnya.


''Bagaimana apa Anda masih akan melanjutkan rencana ini?.'' Tanya Jing, ketika melihat wanita Gu menatap kearah sang istri.


Semenjak kaisar Jing memasuki ruangan tersebut, ini baru kali pertama ia membuka suara.


Dan itu bukan tanpa alasan.


Selain dari sikap Jing yang hanya manis, serta lembut di hadapan Ziaruo. Ia juga enggan berurusan dengan Gu disana.


Jing masih memiliki ketidak sukaan, untuk setiap orang dengan nama marga Gu.


Hatinya selalu tidak nyaman jika sang istri, masih berhubungan dengan keluarga dari mantan suami terdahulu.


Seandainya Ziaruo masih memiliki kemampuannya, mungkin ia akan muntah darah untuk kecemburuan, serta kebodohan pikiran Jing saat ini.


Dan untungnya itu tidak dapat lagi terbaca olehnya.


Mendengar ucapan Jing yang sedikit datar, wanita Gu kembali menunduk dan berkata. ''Wanita ini akan melakukan apapun, untuk dapat kembali kesana.''


Gu telah menetapkan hati, bahwa ia akan datang kepada Canzuo lagi, meski tidak dengan wajah diri sendiri.


Ia akan datang kesana, dan membuat pria itu merasakan sakitnya sebuah kejatuhan, atas tahta, cinta dan pengkhianatan.


Selir Gu juga ingin membangkitkan kembali kejayaan keluarga Gu miliknya, yang telah di renggut Canzuo melalui tangannya dulu.


Hati selir tersebut, telah menetapkan keputusan.


Dengan bayi di rahimnya kini, dulu Canzuo menghancurkan cinta, hati, dan keluarganya.


Dan dengan bayi itu pula, selir Gu akan mengembalikan kepedihan, serta rasa sakit kepada pria tersebut berkali-kali lipat.


Perasan kelembutan dari selir Gu, telah mati untuk Canzuo.


Dan tanpa di sadari, perasaan keibuan untuk sang putra yang belum terlahir, juga perlahan-lahan terbakar.


Sungguh kekejaman tak pernah memandang, dari segi posisi dan juga hubungan darah yang terpaut.


Sekali mata jahat menempa hati, segalanya akan terbakar dan menghilang menjadi abu tak tersisa.


Mendengar jawaban itu, Ziaruo berdiri dan menyentuh pakaian atas dari sang selir.


Ia menoleh sejenak kearah Jing, dan entah karena pengertian yang dalam, atau pemahaman diantara mereka yang tinggi.


Tatapan mata Ziaruo di pahami dengan baik, oleh pria tersebut.


''Aku akan menunggu di luar, lakukan dengan baik.'' Ucap Jing, sebelum berdiri dan menebah-nebah baju beberapa kali, sebelum melangkah keluar dari sana.

__ADS_1


Sepeninggal Jiang jing wei, Ziaruo mengeluarkan sebilah pisau kecil, dan perlahan membuka baju atas dari selir Gu.


Tak ada pertanyaan dari wanita disana. Gu hanya diam menuruti apa yang akan di lakukan, oleh wanita yang sempat menjadi saudara iparnya tersebut.


Sementara itu, Ziaruo yang tengah memegang pisau kecil, kembali mengambil sesuatu dari balik lengannya.


Ia menempelkan benda tesebut, di atas pundak kanan selir Gu.


Dan ketika benda tersebut menyentuh kulit pundak, selir Gu mengeratkan gigi dan mengernyitkan kening, menahan rasa sakit yang di sebabkan oleh benda tersebut.


Entah itu apa?, dan untuk apa ia tidak ambil pusing.


Selir Gu telah memantapkan hati untuk melakukan semua ini. Dan baginya rasa sakit itu, hanya secuil dari kepedihan yang telah ia alami.


''Aku harus melakukan ini sendiri.'' Ziaruo.


''Dan dengan keadaan yang sekarang, anda akan jauh lebih kesakitan.'' Lanjut Ziaruo.


Ia mengatakan semua, dengan tanpa menutupi apapun.


Jika saja kekuatan itu masih disana, tentu wanita Gu tak akan merasa kesakitan seperti sekarang.


Begitu juga, Ziaruo tak akan mengotori tangannya, dengan darah orang lain.


''Jangan khawatir, Anda tidak melakukan kesalahan, semuanya untuk wanita ini.'' Jawab wanita Gu.


''Aaahkkk...'' Pekik wanita Gu kesakitan.


Gu merasakan rasa sakit, dan panas sekaligus pada pundak.


Seolah ribuan semut api, kini tengah merayap dan menggigit pundak miliknya.


keringat dingin mengucur deras dari kening wanita Gu, dan secara reflek menekan kuat tangan Ziaruo, yang berada tak jauh dari pundak.


Keuntungan bagi selir Gu, dengan ketidak hadiran Jing disana sangat besar.


Jika saja pria itu tidak keluar, dan mengetahui tindakannya sekarang.


Maka tangan lembutnya, mungkin telah terpisah dari tubuh wanita Gu.


Sementara melihat kesakitan dari wanita itu, Ziaruo tak dapat berbuat banyak.


''Tahan untuk sementara, semuanya akan segera membaik.'' Ziaruo.


Dan benar adanya, dalam hitungkan beberapa kerlingan mata, rasa sakit dan panas berangsur menghilang.


Berubah menjadi sebuah guratan tatto yang terbentuk indah.

__ADS_1


Ziaruo mendesah pelan, dan kembali berucap. ''Kita akan lanjutkan langkah kedua, apa anda telah siap?.''


Wanita Yun, menatap manik mata Gu dengan wajah tenang.


Akan tetapi, jauh di lubuk hati ia menyesalkan atas nasib buruk dari wanita di depannya sekarang.


Dengan kelembutan, kepolosan, serta pengabdian, dulu ia datang kedalam harem canzuo.


Dan kini ia akan datang kembali kesana, sebagai pengganti Ziaruo, serta membawa hati pembenci dan mata jahat untuk pria yang sama.


Jika saja Ziaruo mampu memilih, ia tak ingin terlibat dalam keburukan yang akan terjadi di masa mendatang, akibat dari wanita ini.


Namun, Canzuo yang tak memandang bumi pijakannya, ia telah menjadi penyebab, serta mengundang keburukan untuk dirinya sendiri.


Karma selalu datang untuk menagih janji, bagi peminta hutang.


Dan Canzuo harus bersiap-siap, untuk apa yang akan di hadapinya di hari-hari mendatang.


''Aku akan membuat beberapa goresan luka, diatas tatto itu dan menaburkan bubuk kembali.'' Ucap Ziaruo.


Mendengar perkataan dari permaisuri Yun, selir Gu menarik nafas panjang, dan memejamkan mata.


''Anda lakukan saja, dan wanita ini akan mengingat rasa sakit itu, untuk mengukuhkan hati jika nanti mulai melemah untuknya(Canzuo).'' Jawab selir Gu.


Dan benar saja, sesaat setelah ia selesai mengatakan hal tersebut, rasa sakit atas beberapa sayatan di atas kulit pundak mulai terasa.


Gu kembali mengeratkan gigi menahan sakit tersebut.


Akan tetapi, belum juga rasa sakit itu memudar, rasa terbakar kembali menambah penderitaan, yang kini tengah ia rasakan.


Wanita Gu mencengkram paha miliknya sendiri kali ini.


Ia ingin mengalihkan rasa sakit, dan membaginya dengan paha yang kini ia cengkeram dengan kuat.


''Hah...hah..aaahhkkk..'' Rintihnya, menahan sakit yang terasa kian besar.


Entah itu karena rasa sakit yang kian hebat, atau karena pikiran yang telah membayangkan rasa sakit tersebut, Gu merasa kali ini jauh lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.


Nafasnya terengah, giginya rapat, dan meski jari jemarinya mencengkam paha dengan kuat, ia tetap tak merasa apa-apa di sana.


Pundaknya tetap merasakan panas dan sakit, yang hebat secara bersamaan.


Keringat dingin mengucur deras dari kening dan tubuh wanita Gu.


Seolah ia tengah terguyur air hujan, dari ketinggian langit saat ini.


Dalam kesakitan yang tengah ia rasakan, sebuah nama meluncur dari bibir miliknya dengan nada penuh kemarahan. ''Canzuuooo...''

__ADS_1


__ADS_2