Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 29 Pergolakan 1


__ADS_3

 Sementara, disuatu kerajaan yang jauh dibalik hutan barat.


Sebuah kabar buruk sampai di tempat tersebut, dan membuat suasana di istana dirundung rasa duka.


Kabar bahwa pangeran Jingyun meninggal, dihutan barat bersama ketiga temannya telah sampai kepada janda permaisuri.


Kepergian mereka, melakukan misi dari pasukan bayangan.


Ternyata membawa keburukan, serta duka yang mendalam.


Bahkan tubuh sang pangeran, dan ketiga temanya tidak ditemukan.


"Apakah kau yakin jendral Yifeng?.'' Tanya janda permaisuri, dengan penuh kepiluan, serta tangis yang begitu menyayat hati.


Ia tahu bahwa pengeran Jiang jingyun, ikut masuk menjadi pasukan khusus elit kerajaan, dengan alasan ingin mengasah kemampuan, serta keterampilannya.


Oleh karena itu, janda permaisuri mengizinkan keinginan sang putra.


Namun, dengan catatan bahwa ia tidak diperbolehkan mengikuti misi-misi yang berbahaya.


Bahkan janda permaisuri sendiri yang meminta bantuan kepada sang kaisar ( putra pertamanya ), untuk memberikan tugas yang mudah, dan tidak beresiko besar.


Akan tetapi, apa yang dipikirkan oleh sang kaisar, dan apa alasan sebenarnya dari permintaan Jiang jiyun, janda permaisuri tidak mengetahuinya.


Takdir memang selalu berjalan sesuai alurnya.


Meski mereka ( janda permaisuri, kaisar Jingwei dan juga pangeran Jiangjingyun ) memiliki rencana, pemikiran, serta alasan masing-masing, tetap saja takdirlah pemenang diakhir cerita.


Tangisan pilu, dari seorang ibu yang sulit menerima kematian sang putra, terlihat sangat menyakitkan bagi siapa saja, yang juga memiliki putra, ataupun orang terkasih.


Rasa akan sakitnya kehilangan orang yang disayang, memang sangat menyedihkan.


Namun, apakah sakit hatinya jauh lebih berharga, dibanding sakit hati seorang putra, yang hanya dijadikan bidak-bidak permainan catur kekuasaan.


Jendral Feng, hanya mampu melihat wanita tercintanya tersebut, dengan hati yang sesak, tanpa mampu mengulurkan tangan menyeka air mata itu.


Ataupun memberikan pelukan hangat, sekedar sedikit meredakan pilu, atas kehilanganya saat ini.


Jendral Feng tahu, wanita Lexue memang agak kejam menurutnya(hanya agak kejam versi jendral feng ).


Wanita yang memilih tahta, di banding dirinya, kekasih yang mencintai, serta ayah putra pertamanya.


Bahkan, ia juga masih memilihkan wanita lain, untuk menikah dengan pria tersebut.


Namun, meskipun demikian hingga sekarang pria itu masih menjadi salah satu orang, yang selalu menuruti kemauannya. Hal tersebut dianggap sebagai pengorbanan atas nama cinta.


*Karena cinta menjadikan dia b*doh, ataukah dengan keb*d*hannya, ia menjadikan cinta sebagai alasan*


................................


Dengan langkah cepat, ia berjalan mendekati sebuah ruangan, yang tampak kokoh dari luar, sebuah ruangan dengan daun pintu berhiaskan dua lambang naga, dengan cakar masih terselip diantara bulan dan bintang.


Dari luar nampak dua penjaga tengah berdiri gagah, serta tangan memegang tombak besinya.


Melihat permaisuri berjalan kearah mereka, sontak saja keduanya membungkuk untuk meberi hormat.


 


''Semoga yang mulai permaisuri panjang umur.'' ucap mereka serempak.


"Kalian boleh bangun.'' ucapnya datar.


''Oh ya, apakah yang mulia putra mahkota sudah tiba,'' tambahnya lagi, menanyakan keberadaan pangeran pertama Muronghui.

__ADS_1


"Benar yang mulia permaisuri, yang mulia putra mahkota, baru saja masuk kedalam.'' jawab salah satu prajurit penjaga.


Mendengar penjelasan tersebut, tanpa menunggu lama, permaisuri Sujin, segera masuk kedalam ruangan tersebut.


Namun baru beberapa langkah ia masuk, sontak ia menghentikan langkah kakinya.


"Kalian berdua tunggu disini.'' ucapnya lagi, kepada kedua dayang yang sudah lama mengikutinya.


Entah mengapa ia memiliki kecurigaan, kepada siapapun akujanji ini.


Bahkan, permaisuri juga merasa curiga kepada kedua pelayan yang ia bawa dari kediaman mentri pertahanan ( keluarganya ).


"Hamba yang mulia.'' jawab keduanya hampir bersamaan.


"Hormat hamba ibunda.'' Sapa pangeran Muronghui dengan sopan, ketika melihat sang ibu masuki ruang pribadinya.


Dan jujur Muronghui terkejut.


Karena tak biasanya, sang ibu akan datang dijam-jam seperti ini, terlebih lebih tanpa pemberitahuan.


"Sudah-sudah... duduklah, ada yang ingin kubicarakan kepadamu.'' Jawab permaisuri, sambil mendudukan tubuhnya diatas kursi dengan anggun.


Mendengar hal tersebut, pangeran mahkota merasa penasaran, sekaligus bingung. Namun, ia tetap menuruti permintaan sang ibu, dengan sikap tenang.


Pangeran Muronghui, mendudukan tubuhnya pada sebuah kursi, yang sejajar dengan kursi permaisuri, namun masih terpisah jarak sebuah meja diantara mereka.


"Apa yang ingin ibunda tanyakan?, bukankah ibunda bisa menyuruh pelayan memanggil ananda?.'' Tanya pangeran Muronghui memulai percakapan, sembari menuangkan teh untuk permaisuri dan untuk dirinya sendiri.


"Aku mendengar bahwa kau mengajukan surat kunjungan kekediaman gadis hutan itu?.''


Tanyanya permaisuri tajam, tanpa ada rasa risih menambahkan lebel pada nama orang lain.


Mendengar perkataan sang ibu, pangeran Muronghui menghela nafas dalam, seolah menahan sesuatu didalam hatinya.


Mendengar jawaban dari sang putra, ia merasa sangat kecewa, dalam hati Sujin sangat membenci gadis tersebut.


"Mengapa kau harus mengunjunginya, meskipun semua ciri-ciri cocok dengan dirinya( mengacu pada spekulasi ramalan panatua suci), siapa tahu itu hanya kebetulan saja, ia ..benar itu pasti kebetulan.'' Lanjutnya lagi.


Dan tentu saja, dengan sedikit gumaman untuk mencari pembenaran atas ucapan sendiri.


Lagi-lagi pangeran pertama kerajaan Xili itu, menghela nafas panjang.


"Ibunda apakah ada sesuatu, yang membuat Anda merasa tidak tenang?.''


Tanyanya kepada sang ibu, dengan nada kekhawatiran.


"Mengapa kau menanyakan hal sama dengan ayahandamu?, apa kalian berniat untuk menyingkirkanku, dan menggantikannya dengan gadis itu?.'' Jawab permaisuri dengan nada agak keras, serta penuh prasangka.


Melihat hal tersebut, pangeran Muronghui berdiri dari duduknya, dan berjongkok didepan sang ibu, dipegangnya kedua tangan Sujin lembut.


"Mengapa ibunda memiliki pemikiran seperti itu, dan dari mana datangnya pendapat ini ibunda?.'' Ucapnya lembut, sambil berusaha menenangkan.


"Jika tidak, mengapa kau ingin mengunjunginya, kau lihatkan bahkan ayahandamu, melihatnya seolah melihat kekasihnya yang hilang.''


''Kau .....kau bahkan kemarin juga mengambilkan cadar untuknya, dan wanita s*al*n itu, menolakmu di depan semua orang.'' Ucapan itu meluncur tanpa enggan, serta dapat dirasakan disana telah bercampur dengan kemarahan.


"Ibunda ...apakah anda tidak mengerti juga, ananda lakukan semuanya untuk kita, untuk kekaisara Xili, apakah ibunda melihat kemarahan dan kebencian adhik ke-2 kemarin?.''


''Dia tidak pernah peduli dengan rumor-rumor yang memojokan dirinya, dan ia juga selalu mentolerir tindakan ibu kepada ibunda selir keagungan.''


''Bahkan adik ke dua tidak memperdulikan tindakan buruk ibunda selama ini, tapi kemarin aku melihat kemarahan yang sangat menakutkan dimatanya.''


Muronghui kembali menghela nafas, matanya terpejam sejanak.

__ADS_1


Pria tersebut berusaha menghilangkan kekhawatiran, ketika mengingat raut wajah pangeran Murongyu pada acara perjamuan.


''Ibunda...semuanya karena ibunda menghina nona Ziaruo.'' Lanjut Muringhui lagi, dengan nada tenang.


Ia ingin sang ibu mengerti, dan memahami semua kesalahannya, sehingga di masa mendatang tak akan ada kejadian yang sama.


Namun diluar dugaan, justru kemarahan sang ibu semakin menjadi.


"Justru karena gadis itu dekat dengan Yuer, makanya aku membencinya.'' Jawab sujin tanpa basa-basi.


''Apa kau tahu, bahwa ia(Murongyu) menginginkan tahtamu?.'' Sujin semakin menguatkan pendapatnya dengan yakin.


Daan ia juga berusaha membujuk sang putra, serta meyakinkan bahwa, disini dirinya tidak bersalah.


"Ibunda...aku mohon, hentikan semuanya sebelum terlambat, jangan lagi dengarkan ucapan ucapan dari kakek mentri, mereka bisa membuat kekaisaran Xili ini hancur ibunda.'' Pinta Muronghui, dengan wajah penuh permohonan.


"Mengapa kau justru menyalahkan keluarga ibunda, mereka adalah pendukungmu, tak mungkin mereka akan menjerumuskan kita.'' Sahut Sujin lagi, dengan nada masih kekeh, dan tak mau kalah dalam pendirian.


Mendengar kekekehan sang ibu tentang pendapatnya yang keliru, pangeran Muronhui kembali mendesah pelan, ia mendongakkan kepalanya keatas, dengan mata terpejam sesaat.


"Apakah ibunda fikir, bahwa Ayahanda kaisar tidak mengetahui apapun tentang tindakan ibunda di istana dalam?, apakah ibunda fikir semua trik-trik ibunda beliau tidak menyadarinya?, apakah ibunda tahu, mengapa ayahnda masih membiarkan ibunda, dan masih belum memberikan hukuman apapun?.'' Tanya Muronghui dengan nada berat, yang seolah menyesalkan sesuatu.


''Aku mohon ibunda hentikan semuanya, hentikan sekarang ibunda.'' Lanjutnya lagi.


Namun, kali ini dengan suara yang seolah menempatkan dirinya, pada sesuatu yang akan membuatnya hancur.


Akan tetapi, seolah pikiran, serta hati permaisuri telah tertutup(buta), dan tak dapat membedakan atara kebenaran dan keburukan, Sujin semakin kesal.


"Hentikan putra mahkota, besok kita bicara lagi, aku lelah.'' Ucapnya tegas, sebelum beranjak pergi dari sana.


Namun, sebelum permaisuri keluar dari kamar tersebut, ia menghentikan langkahnya.


"Ingat putra mahkota, seburuk apapun kakek dan ibumu namun, hanya kamilah yang benar-benar mendukungmu, bukan orang lain.''


''Dan jika kau membenci tindakan kami, maka salahkan nasibmu, yang terlahir dari rahimku.''


Ucapan itu hanyalah beberapa baris saja, namun pada kenyataannya telah mampu membuat Muronghui terduduk, dan tak bergerak untuk beberapa saat.


Sujin tak pernah terpikirkan untuknya berbalik, dan menyadari setiap kesalahannya.


"Ibunda....." Sebut pangeran Muronghui lirih, dengan penuh kekecewaan.


''Apakah akhirnya hari itu akan tiba?, kakek mengapa demi kekuasaan anda tega mengorbankan masa depan putri, dan cucumu?.''


''Bahkan kebahagiaan kami tidakah berarti kakek?.''


Pangeran Muronghui meratap pilu, dengan tubuh masih terduduk lemas diatas kursi ruangan tersebut.


"* flash back on *"


*Acara kunjungan rahasia ( penyamaran)pangeran muronghui dan kaisar pada 1tahun yang lalu.*


"Aku percaya bahwa kau akan menentukan keputusan yang tepat, ingatlah keluarga memang sangat penting untuk kita, namun kau juga harus tahu, sebagai seorang pengayom keluarga terbesar kita adalah mereka.'' Ucap kaisar Murongxu kepada pangeran mahkota.


''lihatlah mereka...''ucap kaisar Murong kepada pangeran mahkota.


**Menunjuk kearah keramaian, disana ada sekelompok orang yang sedang memaksa pedagang kecil, membayar sejumlah uang kepadanya, dengan paksa dan kekerasan


''Jika nanti, kau melihat hal tersebut, dan kau belum bisa membersihkan hingga keakarnya, maka ini bisa kau lakukan.'' Sambung kaisar Murongxu, sembari mengambil sebuah busur dan anak panah.


Murongxu menarik kuat anak panah tersebut, dan membidik tepat pada pria yang tengah meminta uang, serta menendang perut si penjual.


''Sreeeett...syyuuuutt..jleeb.''

__ADS_1


__ADS_2