
Masih didalam pavilliun Phonix.
''Apakah jika aku sekedar tidur disini, kau akan keberatan Yun?, jangan khawatir aku hanya akan diam seperti patung, tak bergerak dan tenang.'' Tanya Kaisar Jing dengan lembut.
Mendengar ucapan itu, Ziaruo membulatkan matanya sesaat, wajahnya memerah, wanita itu kembali menunduk dan tersipu.
''Kau tak menjawab...
Berarti kau mengizinkanku tidur disini Yun....hahaha....baiklah, ayo kita beristirahat sekarang.'' Ucap Kaisar Jing, sembari membopong tubuh Permaisuri Yun, dan membawanya menuju ranjang.
Ziaruo hanya diam dan menurut, saat Kaisar membawa tubuhnya ke atas ranjang.
Ia tak dapat mengartikan perasaan apa yang dimilikinya saat ini, namun juga tak menolak perlakuan yang diberikan oleh Jing suaminya.
Hingga tubuhnya telah terbaring sempurna, ia masih diam dengan wajah yang tersipu serta canggung.
Kaisar Jing kembali berdiri, dan berkata lembut." Berbaringlah saja, aku akan berganti pakaian terlebih dulu."
"Blushh..." Mendengar itu Ziaruo merasa sangat malu, ia ingat membantu suami berganti baju, adalah salah satu tugas istri (dirinya), bagairama mungkin ia bisa lupa akan hal mendasar seperti itu?, ia buru buru meraih selimut serta mengenakannya.
"Bisakah ia menutup seluruh tubuhnya dengan itu?" Pikirnya dengan rasa malu.
Bahkan, Jika bisa ia ingin menggali lubang dan bersembunyi didalamnya sekarang. Namun selang beberapa saat, sebelum rasa kecamuk dihatinya menghilang, dari balik pembatas yang terbuat dari rotan, Jing keluar dengan pakaian simpel ( santai) berjalan ke arah ranjang, dimana dirinya tengah berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga separuh dada.
Ziaruo ingin bergeser dan memberikan tempat lebih banyak untuk Jing, akan tetapi seolah tubuhnya membatu, ia hanya diam saja.
"Haaaiisssss...mengapa aku seperti orang bodoh saja." Runtuk dalam hati wanita itu.
Di tengah rasa canggung serta perasaan tegangnya, Ziaruo hanya dapat memejamkan mata dan diam tak bergerak.
Melihat sikap dan prilakunya, Kaisar Jing tersenyum, Pria itu merasa tingkah Ziaruo lucu serta imut, itu membuat Jing menjadi gemas.
Oleh karena itu, Kaisar Jing menghela nafas dalam dalam, menenangkan hati dan pikirannya, sebelum ikut membaringkan tubuh disamping sang istri. Pria itu menekankan ingatannya, bahwa sekarang ''hanya tidur...haanyaaa..tidur saja, tidak boleh melakukan apapun.''
Di dalam hati dan pikirannya, Jing merasakan kebahagiaan, ia bergumam dalam hati. "Sekarang aku disampingimu Yun, dan akan kupastikan kejadian di malam itu(malam pernikahan mereka), tak akan terjadi lagi."
Jing menyadari bahwa malam ini akan menjadi malam panjang untuknya, dengan gejolak dihati, serta keinginan mendasar sebagai seorang Pria yang berbaring di dekat wanita tercinta.
__ADS_1
Bagaimana itu menjadi mudah untuknya memejamkan mata, dan tak melakukan apapun.
''Saudaraku..tidur baik baik malam ini, jangan membuatku malu di depannya.'' Ucap Jing sambil menatap kembaran berharganya, yang mulai unjuk gigi dibawah sana.
Pria itu, kembali bersikap tenang dan menutup matanya, namun ia juga menyadari bahwa Ziaruopun, tengah gelisah serta merasa canggung.
Dengan geraka lembut, Jing memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ziaruo.
Mata tertutupnya seolah mengatakan, ia telah tidur, dan tidak sengaja meletakkan tanganya diatas perut sang istri, dagunya tepat diatas pucuk kepala Ziaruo.
"Lub dug...lub dug..lup dug.." Debaran jantungnya seolah berloncatan hendak keluar dari dada bidangnya. Dan Ziaruo tentu saja mendengar jelas debaran ekspresi hasrat lelaki yang kini mendekapnya erat.
"Cleguk.." Ziaruo menelan ludahnya pelan. Seolah aliran listrik yang terkena percikan air, menghantarkan aliran yang sama ketempat yang lainnya lagi, jantung Ziaruo ikut berdebar dengan tak beraturan.
Dengan sangat perlahan, wanita itu memiringkan tubuh, hendak memunggungi tubuh Kaisar Jing suaminya, ia ingin menghindari tatapan mata sang Kaisar ketika nanti secara tiba tiba terbuka.
Ziaruo tak mau Pria itu melihat rona wajah serta ekspresi abnormalnya sekarang. Namun, belum sempurna ia memiringkan tubuh, sebuah tangan kokoh menahannya dengan kuat.
"Aahkk.." Ucap wanita itu reflek serta terkejut.
Ziaruo seketika menghentikan gerakannya, serta menutup mulut rapat dengan kedua tangan.
Oleh karena itu, dengan ragu ragu ia berkata lirih, saking lirihnya hingga terdengar seolah seperti sebuah bisikan saja." Bisakah...anda melonggarkan tangan anda Yang Mulia, hanya...hanya sedikit longgar saja."
Ucapan lembut Ziaruo yang ibarat sebuah bisikan tersebut, ternyata berpengaruh hebat untuk Jing, wajah Pria penguasa itu, semakin memerah, ia semakin sulit mengontrol debaran jantungnya, seolah seluruh darahnya menjadi panas dan mengalir keatas kepala.
"Tidak, aku tak ingin melakukan sesuatu yang mengecewakannya." Pikir Jing keras, sembari menekan hasrat dalam hatinya kuat kuat.
Jing melonggarkan pelukannya sesaat, dan membiarkan Ziaruo memiringkan tubuh membelakanginya, dan kini mereka tidur dengan posisi Ziaruo membelakangi tubuh sang suami, sementara Jing memeluknya dari belakang.
Jing segera mengeratkan kembali pelukannya, ketika sang istri sudah berganti posisi, sembari berbisik pelan tepat di telinga Ziaruo." Yun..bisakah kau tidak banyak bergerak, aku takut tak bisa mengontrolnya lagi, bahkan sekarangpun aku hampir meledak mengendalikannya Yun."
"Bluuusshhh...." Raut wajah Ziaruo kembali memerah, tubuhnya mematung dan tak berani melakukan gerakan lagi.
Ia benar benar takut, akan membangunkan sesuatu yang tak seharusnya ia ganggu, jika dirinya belum siap sepenuhnya.
Dan pada akhirnya, mereka berdua tertidur saat hampir menjelang pagi, dengan posisi yang masih sama atas sebuah pelukan ketegangan, juga perasaan canggung. Namun saling memberikan kehangatan bagi tubuh keduanya.
__ADS_1
Sementara itu keesokan harinya, di sayap barat istana kekaisaran Zing, tepatnya di pavilliun Lily, 3 orang wanita tengah bercengkrama sambil menikmati teh, dan cemilan kecil yang disediakan oleh dapur istana dalam.
"Selir Wang bagaimana kabar ibundamu? apakah sudah membaik?." Tanya salah satu wanita disana.
Seorang wanita dengan mahkota indah diatas kepala, wajah cantik diusianya yang tak lagi muda membuat Ia tampak elegan, dan anggun mengenakan lambang status serta kekuasaan tersebut.
Sementara itu, kedua wanita lainnya tampak memberikan penghormatan, serta respon yang tinggi atas setiap ucapan, dari wanita yang tak lain adalah Janda Permaisuri Lexue.
"Terimakasih atas perhatian dan kemurahan hati Yang Mulia. Dengan bantuan tabib kekaisaran, ibunda hamba, sekarang telah membaik, beliau berterimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia ibu suri." Jawab selir Wang( salah satu wanita yang lainnya).
Mendengar jawaban tersebut Janda Permaisuri tersenyum dan kembali berkata."Baguslah, aku ikut senang mendengarnya."
" Dan apa itu yang kau bawa selir Feng?." Tanya Janda Permai suri kembali, namun kali ini, Ia beralih menatap wanita yang lainnya.
Wanita tersebut tak lain adalah selir Feng, yang sengaja datang mengunjungi Janda Permaisuri pagi ini. Selir Feng sengaja membawakan serangkaian alat kosmetik yang paling terkenal dan berharga mahal.
Wanita yang pernah menjadi kesayangan Kaisar Jing itu, sengaja meminta bantuan keluarganya untuk mendapatkan benda berharga yang bahkan ia pun belum memilikinya.
Selir tersebut berfikir, jika pemberiannya kali ini berhasil membuat Janda permaisuri bahagia, maka ia berharap masih memiliki kesempatan ke depannya, untuk mendapatkan kasih sayang Kaisar kembali, dengan bantuan wanita tersebut.
Dengan lembut, serta wajah yang di tampilkan sepolos mungkin, ia menjawab pertanyaan sang Ibu suri."Ma,afkan selir ini Yang Mulia ibu suri, karena jarang berkunjung, dan sebagai bukti ketulusan atas penyesalan hamba, ini ada sedikit oleh oleh dari kediaman Feng."
Selir Feng berdiri dari duduknya, serta menunduk sejenak sebelum menyerahkan sebuah kotak kayu, dengan ukiran indah diatasnya.
"Oh..."
Janda permaisuri merasa agak heran, dengan hadiah yang diberikan oleh selir Feng, seingatnya ini adalah kali keduanya menerima wanita itu berkunjung kepavilliun dengan membawa hadiah.
Dulu selir Feng juga pernah melakukan hal yang sama, ketika ia pertama kali memasuki istana sebagai selir kekaisaran, dan berharap memperoleh dukungan darinya.
Namun, setelah ia memeperoleh perhatian dari Kaisar Jing, jangankan hadiah, bahkan waktu berkunjungnyapun dapat di hitung dengan jari saja.
Dan dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini ia tak pernah melakukan hal seperti itu lagi, hingga saat ini.
Di tengah pemikiran serta pertanyaan dalam hati, Lexue meminta pelayan menerima kotak tersebut, sembari berkata." Terimakasih atas hadiahmu, aku menghargainya namun, kau tak perlu melakukannya lain kali, aku takut itu akan merepotkan keluarga Feng kalian."
Jawaban dari ibu Kaisar tersebut, membuat selir Feng menunduk karena malu.
__ADS_1
Namun, bagi selir Wang yang sering memperoleh ketidak nyamanan dari selir Feng, hal tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.
Karena secara tidak langsung, wanita yang mereka hormati, sekaligus seseorang yang mereka takut tersebut, secara halus menolak hadiah hadiah lainnya dari kediaman Feng, di kemudian hari nanti.