
Waktu berjalan dengan cepat, merambat seolah tak mengindahkan apapun, bahkan sinarnya enggan menaungi seorang pria, yang tengah berjalan dengan wajah memelas serta tampak lusuh. Kakinya yang tampak kelelahan, kini ia tapakan di depan pintu gerbang sebuah kediaman.
Sementara di tangan kanannya, membawa sebuah kotak kayu berbentuk kubus, dengan panjang sisi sisinya kurang lebih 30 senti meteran.
Wajahnya yang kusut, semakin membuat pria tersebut tampak kacau, layaknya orang orang dari kalangan bawah( rakyat jelata), yang telah berhari hari tak memiliki makanan yang cukup.
''Prajurit bantu aku masuk kedalam kediaman, aku ingin bertemu dengan selir Changbin.'' Ucapnya dengan suara yang terbata, seolah ia tak lagi mampu menahan, serta mengendalikan kelelahannya saat ini.
Mendengar perintah tersebut, kedua penjaga pintu gerbang kediaman saling pandang, ia hampir tak mengenali sang adik dari junjungan mereka.
''Anda... anda tuan muda Chang yeon?, maaf tuan...mari saya bantu...mengapa anda sampai seperti ini?, dan dimana kereta kuda anda tuan?.'' Tanya sang prajurit penuh keheranan, sembari membantu sang tuan muda masuk kedalam.
Tuan muda Chang yeon adalah adik seayah dari selir Chang bin, wanita tercantik dari pangeran Murongyu yang kini menjadi Kaisar.
Secara tidak langsung Chang yeon adalah adik ipar Kaisar.
Dengan status yang demikian, Chang yeon berpikir ia dapat melakukan apapun sesuakanya. Hingga saat hari ini, ia terkena imbasnya disebuah kedai di tengah kota.
Prajurit penjaga membantunya masuk melalui pintu utama kediaman selir, dengan tubuh yang tampak menyedihkan ia mulai memanggil nama sang selir.'' Kak...kakak...lihatlah aku sekarang kak...kau harus menegakkan keadilan untukku.''
Panggilan dengan nada memelas dari sang adik, terdengar jelas ditelinga selir Changbin.
Wanita yang telah memasuki istana 6 bulan yang lalu tersebut, bergegas berdiri dan berjalan keluar, dengan suara yang tenang ia menjawab panggilan Chang Yeon. ''Mengapa kau teriak teriak?, apa kau tidak bisa berbicara dengan sopan disini?.''
''Kak...lihat kondisiku, aku hampir mati kelelahan, kau tahu... aku berjalan dari tengah kota hingga ke istana kak.'' Ucap Yeon dengan suara yang dibuat sememelas mungkin.
Sesungguhnya tanpa beractingpun, penampilannya saat ini sudah memprihatinkan.
'' Hei...Chang yeon pakaian apa yang kau kenakan itu?, mengapa kau seperti seorang budak?.'' Tanya sang selir kembali, ketika ia melihat pakaian yang di kenakan oleh pemuda depannya tersebut.
''Kak...ini ulah mereka, bahkan dikota ini, kita tidak memiliki keagungan atas kehormatan yang kau peroleh dari Kaisar kak, apakah mereka tak menganggap kita?.'' Jawab Yeon dengan penuh provokasi.
''Bagus...aku harus membuat mereka membayar untuk perbuatannya.''Gumam dalam pikiran Pemuda tersebut.
Mendengar serta melihat kondisi sang adik, selir Changbin merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya." Siapa yang kau maksud?, siapa yang tak menganggap keluarga kita?.'' Tanya Changbin kepada adiknya.
Dengan sebuah perkataan yang membenarkan dirinya, Chang Yeon menyusun setiap barisan kata kata yang ia sampaikan kepada sang kakak, ia tak ingin terlihat sebagai orang yang menyebabkan masalah di awal awalnya. Dan ternyata semua kreatifitas serta olahan kata yang ia imajinasikan, untuk selir Changbin berhasil sempurna.
Wanita tersebut mulai terpancing kemarahannya, ketika mendengar penuturan dari sang adik, ia merasa sangat tersinggung karena dibanding para pelayan(pekerja kedai dan penginapan), tentu saja adik ipar kekaisaran(Chang yeon), jauh lebih terhormat dan berharga.
__ADS_1
Dengan suara yang mulai meninggi selir Chang kembali berkata.'' Kau jangan khawatir, ayo kita temui Kaisar, kita akan membuat mereka membayar segalanya.''
''Dengan hal ini, aku juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Yang Mulia, selain itu juga bisa membuat selir selir yang lain berpikir, bahwa hanya akulah yang leluasa keluar masuk kedalam ruang kerja Baginda. Anggap saja, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.'' Pikir Selir Chang dalam hati, disela langkah kakinya, yang di ikuti oleh sang adik dan 2 pelayan wanita.
Selang beberapa saat kemudian, sampailah mereka didepan sebuah ruangan besar dengan ukiran indah pada daun pintu.
Melihat kedatangan sang selir, penjaga disana membungkuk sesaat memberi hormat, sebelum akhirnya salah satu dari penjaga tersebut, masuk kedalam ruang kerja kaisar, untuk mengabarkan kedatangan sang selir.
''Hormat hamba Yang Mulia, semoga anda selalu diberikan umur yang panjang.'' Ucap sang prajurit sembari membungkukan tubuhnya.
Melihat prajurit masuk, Kaisar menghentikan membaca gulungan laporan. Pria tersebut berkata dengan datar.'' Bangunlah, Katakan ada apa!.''
Mendengar pertanyaan sang Tuan, prajurit penjaga itu, bangun dari posisi membungkuknya, namun masih dengan wajah yang menunduk ia kembali berkata. ''Ampuni hamba....Yang Mulia selir Changbin dan tuan muda Chang Yeon ingin menghadap Yang Mulia.''
Kaisar menghela nafas pelan.'' Heeeehhh...'' Sembari meletakkan gulungan laporan serta kuas pada penyanggahnya, ia meraih cangkir teh dan berkata.'' Suruh keduanya masuk!."
''Baik yang mulia.'' Jawab sang penjaga singkat, dan kembali membungkukan tubuhnya sesaat sebelum keluar dari ruangan.
Kaisar Murongyu merasa heran, hal apakah yang membuat wanita itu, datang kepadanya disaat seperti sekarang. karena telah di jelaskan dengan tegas, bahwa tidak di izinkan mereka( para selir) untuk menggangu dirinya, disaat sedang menangani masalah pemerintahan.
''Hormat hamba Yang Mulia Kaisar, semoga anda selalu sejahtera.'' Ucap ke dua orang yang baru masuk keruangan tersebut.
''Maafkan selir ini Yang...'' Ucapan selir Changbin tak dapat ia selesaikan, karena Kaisar Murongyu menyelanya dengan pertanyaan tanpa basa basi.'' Hentikan, katakan saja langsung, aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan.''
Mendengar ucapan tersebut, selir Changbin menjadi menciut nyalinya, setiap ucapan yang ia susun tiba tiba saja menghilang dari deretan dinding otak. Ia merasa malu di depan sang adik.
Sikap sang Kaisar yang demikian, seolah mengatakan dengan jelas, bahwa ia telah menggagu kerja Pria tersebut.
Dengan suara yang ia atur setenang mungkin, Selir Changbin mulai berkata.'' Yang Mulia, mohon tegakan keadilan untuk adik hamba, dia telah memeperoleh perlakuan buruk dari pemilik serta pelayan kedai di tengah kota, dan....'' Selir tersebut, mulai menceritakan kejadian yang menimpa sang adik, tentu saja sesuai dengan apa yang ia dengar tadi( sesuai Versi Chang yeon).
Kaisar mengerutkan keningnya, dan kembali berkata.'Kau tadi bilang dimana adikmu di permalukan?, dan apa yang ada di tangannya tersebut.''
Mendengar hal itu, Chang Yeon menunduk sejenak dan menjawab.'' Di penginapan Nanchang Yang Mulia, dan ini adalah benda yang menurut mereka, harganya bernilai setara dengan sebuah kediaman.''
Chang Yeon maju mendekat, ia menyerahkan kotak yang ia bawa kepada kasim disamping meja Kaisar.
Dengan izin dari Murongyu, Kasim itu meletakkan kotak tersebut diatas meja kerja nya.
Perlahan kasim itu, membuka benda besar dari kayu hutan, sebelum ia memperlihatkan isi didalamnya kepada sang Kaisar.
__ADS_1
Murongyu tersenyum sesaat, ketika melihat isi dari kotak tersebut, dalam hatinya bergumam.''Ini adalah barang buatanmu Ruoer, aku tahu pria bodoh ini telah menyebabkan masalah dikedaimu, tapi bagus juga.... dengan begitu aku bisa....''
''Eheeemmm..., benarkah bahwa kau tak berbuat kesalahan disana?, meskipun aku seorang kaisar, dan kau adalah keluarga ipar dari kekaisaran, akan tetapi aku juga pengayom rakyatku, dan tidak akan memihak secara tidak adil.'' Ucap Murongyu sembari menatap Pria didepannya.
Memeperoleh pertanyaan tersebut, Chang Yeon menjadi gugup, dengan suara terbata ia kembali menjawab.'' Be..benar Yang Mulia, bahkan hamba telah menyebutkan nama kakak hamba untuk berdamai, akan tetapi mereka tidak memperdulikannya Yang Mulia.''
''Sudah kepalang basah, aku harus melanjutkannya.'' Gumam dalam hati Chang Yeon disela kegugupannya.
Namun, tanpa sepengetahuan kedua orang tersebut, Kaisar Murongyu sudah dapat menebak, apa yang terjadi dipenginapan milik wanita yang ia puja tersebut. Senyum tipis tercetak pada wajah tegasnya, ia merasa lucu dengan kedua bersaudara depannya tersebut.
''Baik...aku akan memerintahkan orang, memanggil pemilik penginapan untuk datang, dan meminta keterangan dari mereka.'' Ucap Murongyu dengan tenang, namun tanpa sepengetahuan Selir dan sang adik, ada sesuatu yang telah ia rencanakan didalam benaknya.
''Akan tetapi jika nanti, ditemukan kesalahan padamu, maka jangan salahkan aku jika harus menghukumu dengan peraturan yang berlaku.'' Lanjut Murongyu kembali.
Mendengar perkataan tersebut, mereka mulai dilingkupi rasa takut, terutama Chang Yeon yang telah jelas jelas berbohong, bahkan kini ia juga membawa sang kakak dalam masalah besar.
Chang Yeon mulai merasakan penyesalan, akan tetapi ia juga tak dapat berbuat apapun sekarang. Hanya melanjutkan kesalahannya, serta berusaha berfikir cara untuk menyelamatkan Selir Changbin saja pilihannya.
''Jika sudah tidak ada yang lainnya lagi, kalian boleh kembali.'' Ucapan Kaisar Murongyu membuat tubuh keduanya, reflek memberi hormat dan kembali berkata.'' Baik Yang Mulia...Kami mohon undur diri.'' Secara bersamaan.
''Ziaruo kau harus datang, meskipun aku tahu pekerjamu tidak bersalah, kau tetap harus....dan harus datang, biarkan aku melihatmu sejenak.'' Gumamnya lirih.
Sementara itu diluar ruangan.
Selir Changbin tiba tiba saja berhenti, dia berbalik dan menatap sang adik dengan tatapan menelisik serta bertanya." Yeon...kau tak berbohongkan?, ingat semuanya ada di tanganmu...jika kau melakukan kesalahan, maka hidupmu, hidupku, bahkan nama baik keluarga kita yang dipertaruhkan disini."
Selir tersebut berkata dengan penuh penekanan, berusaha meyakinkan hatinya kembali, bahwa sang adik tidak berbohong.
Selir Changbin menghela nafas pelan, dan kembali berkata." Kau jangan takut, selama kau tidak bersalah, segalanya akan baik baik saja, ayo aku akan memerintahkan orang untuk memanggil tabib, untuk memeriksa serta mengobati tubuhmu.''
Mendengar ucapan sang kakak, Chang Yeon merasakan penyesalan yang mendalam, ada ketakutan besar dimatanya.
''Kak....maafkan Aku...apakah Jika aku meminta maaf kepada mereka sekarang, semuanya akan baik baik saja?, namun bagaimana caranya agar, Kaisar mengurungkan surat panggilannya ke kedai itu.'' Gumam ketakutan serta penyesalan Chang Yeon didalam hatinya.''
Langkah kaki pemuda tersebut semakin berat, dan seolah ia hendak terjatuh disana. segalanya telah terjadi dan penyesalannya tak akan berarti apapun sekarang.
Kesombongan, arogan, kelicikan bahkan kebohongan yang ia tanam beberapa saat yang lalu, sebentar lagi ia akan memetik hasilnya.
Terimakasih sudah mampir dan membaca.
__ADS_1
Mohon bantuan like, dan komennya Yaa...😍😁😊 agar Author lebih bersemangat menulisnya..... Semangat!!