
Sebuah perjalanan akan berakhir, ketika kita telah mencapai tujuan.
Tak ubahnya, seperti sebuah kehidupan yang akan berakhir ketika maut menyapa.
Akan tetapi, seolah cerita baru saja dimulai, manakala rombongan Murongyu semakin mendekat kearah rombongan dari kekaisaran Zing.
Murongyu dengan wajah tegas, memerintahkan untuk berhenti kepada pengikutnya. Ia melihat dari seberang jalan, bahwa rombongan dari kekaisaran Zing, kini juga tengah berhenti tepat di depannya.
Kaisar Muda dari Xili tersebut memerintahkan sang penjaga, untuk mendekat kearah rombongan dari kekaisaran Zing, dengan sebuah gulungan di tangannya.
Sementara itu, rombongan dari kekaisaran Zing juga berhenti, ketika melihat rombongan dari Kaisar Murongyu.
Mungkin bagi sebagian orang kejadian ini adalah sebuah kebetulan, hanya secara kebetulan.
Akan tetapi, tidak bagi kaisar Jiang jing wei ia tahu benar, bahwa mereka telah merencanakam segalanya.
Tepat di pertigaan jalan kota kekaisaran Xili, kedua rombongan bertemu, dengan tujuan atau arah jalan di depan mereka, sebuah jalan utama menuju ke negri Tang.
Rombongan Kaisar Murongyu dari arah kanan jalan, sedangkan rombongan Kaisar Jing dari kiri jalan.
''Hormat hamba yang Mulia Kaisar, pelayan ini ingin menyampaikan sebuah pesan untuk baginda.'' Ucap seorang penjaga, dengan tubuh menunduk sembari memberi hormat.
Dan benar saja, disamping sang penjaga, telah berdiri seorang penjaga lain, dengan sebuah lambang pada bajunya dari kekaisaran Xili.
Seorang pria dengan tubuh tegap, ikut menunduk sejenak, sebelum berjalan lebih dekat kearah kereta sang Kaisar.
Dengan tubuh masih setengah menunduk, pria penjaga itu mulai membuka mulutnya, dan berkata. ''Hormat hamba Yang Mulia, pelayan ini di utus untuk menyampaikan sebuah pesan dari Kekaisaran Xili.''
Mendengar ucapan tersebut, Kaisar Jing memutar bola matanya malas.
Ada ketidak sukaan dalam hatinya, bahkan sudah dapat di kategorikan sebagai sebuah kebencian.
Bagaimanapun dipungkiri, ia tahu dengan jelas bahwa Murongyu, Kaisar dari Xili tersebut, masih mengharapkan sang istri.
Tangannya mengusap lembut kepala Ziaruo, yang masih tidur lelap diatas pangkuannya.
''Aku sudah menduga hal ini akan terjadi, Murongyu si*l*n kau merusak suasana hatiku." Gumam dalam hatinya.
Dengan tetap menahan ketenangannya, Jiang jing wei menjawab. ''Wuhan...''
Pria tersebut memanggil sang penjaga setianya. Dan bagi Wuhan suara itu, layak Nya sebuah perintah.
Wuhan memahami apa yang di kehendaki oleh sang tuan, meskipun hanya dengan menyebut namanya saja.
Dengan sigap pria penjaga sekaligus sahabat dari Jing tersebut, mengambil sebuah gulungan dari tangan sang utusan.
Wuhan membawa gulungan tersebut, dan hendak di berikan kepada Kaisar Jing.
__ADS_1
Akan tetapi, sebuah suara menghentian langkahnya.''Bacalah untukku Wuhan, tanganku sedang sibuk memanjakan Permaisuri.''
Sebuah ucapan yang membuat Wuhan terhenyak sesaat, serta membuat beberapa orang lain di sana ikut terkesimak.
Akan tetapi, dengan cepat pria itu mengerti dengan sikap Kaisar junjungannya tersebut.
Kaisar Jing, sengaja memamerkan kemesraannya bersama sang Permaisuri kepada mereka. Khususnya kepada Murongyu, sang Kaisar dari negri Xili, yang ia anggap sebagai ancaman untuk kebahagiaannya.
Jiang jing wei ingin menegaskan kepada pria itu, bahwa Ziaruo telah menjadi miliknya, wanita itu memilih dirinya sebagai suami.
Sementara itu, bagi Murongyu hal itu seperti sebuah pukulan, bahkan ia tak melihat atau mendengar Ziaruo, menyangkal ucapan pria yang sangat ia benci tersebut.
Sejak awal Murongyu merencanakan segalanya dengan detil, bahkan surat dalam gulungan tersebut, telah ia rancang sedemikian rupa, untuk menyakiti Jiang jing wei.
Murongyu sengaja meminta persetujuan dengan menggunakan sebuah gulungan, meskipun ia dapat turun dari kereta dan berbicara secara langsung kepada Jiang jing wei.
Dengan kata lain, ia tak menganggap pria tersebut sebagai seseorang yang harus ia hormati, jadi mengiriminya sebuah gulungan saja lebih dari cukup.
Bagi Murongyu, ia malas berurusan dengan pria tersebut, akan tetapi untuk bisa bersama dengan Ziaruo dalam perjalanan dua hari kedepan, mau tidak mau ia harus menyapa Jiang jing wei terlebih dahulu.
Mendengar jawaban dari dalam kereta, hati Murongyu bergemuruh seolah sebuah letupan gunung berapi, yang hendak menyemburkan larva panasnya.
Namun, belum sempat amarahnya mereda, ia kembali mendengar suara yang sama dari dalam kereta, ketika Wuhan membacakan isi surat gulungan.
''Wuhan...apa kau ingin membangunkan Permaisuri tercintaku, dengan cara membacamu yang kasar itu.''
''Kau cukup membacanya sendiri, dan katakan kepadaku inti dari suratnya saja.'' Lanjut sang Kaisar dari dalam kereta.
''Sejak kapan anda pandai bermain sandiwara Yang Mulia?.'' Gumam dalam hati Wuhan.
Wuhan mulai membaca tulisan pada gulungan, dalam diamnya.
Sesaat kemudian, ia melangkah lebih mendekat kearah kereta Kaisar Jing, dan berkata. ''Ampun Yang Mulia, sepertinya Kaisar Murongyu, ingin bergabung dengan rombongan kita.''
Mendengar hal itu, Jing menimbulkan sebuah senyuman tipis pada wajahnya, dan hal itu tak di ketahui siapapun, tidak juga Wuhan.
Jiang jing wei memandang wajah damai di atas pangkuannya sejenak, membetulkan posisi tubuh sang istri, lebih mendekat kearah tubuhnya.
Didalam hati, ia semakin membenci dan mengutuk pria penguasa Xili tersebut, akan tetapi dengan suara yang di tekan setenang mungkin, ia kembali berkata. ''Ooohh...jadi dia tidak mempercayai kemampuan penjaganya.''
''Baiklah, anggap saja kita membantu orang yang kesusahan, lagi pula dia memang pandai mencari perlindungan.'' Lanjut Jing kembali.
Setiap ucapan dari pria tersebut, jelas di pendengaran Murongyu dan para penjaganya.
Sebuah perkataan yang bermakna, bahwa kekaisaran Murongyu memohon perlindungan untuk perjalanan kenegri Tang, dari kekaisaran Xili.
Sebuah penghinaan secara tak langsung, yang mengatakan bahwa penjaga dari kekaisaran Xili sangatlah lemah.
__ADS_1
Kaisar Murongyu, benar benar seolah kebakaran jenggotnya, akan tetapi ketika ia hendak turun dari kereta, Hanwen menghadang.
Sahabatnya tersebut berdiri tepat, di depan pintu keluar kereta, Hanwen menatap kearah Murongyu sejenak, dan menggelengkan kepalanya pelan.
''Dia sengaja memancing kemarahanmu, dan jika itu berhasil maka bukan hanya kau tidak bisa melakukan perjalanan dengannya, tapi kita akan menjadi alasan baginya memulai peperangan.'' Ucap Hanwen dengan nada lirih.
Mendengar perkataan tersebut, Murongyu memukul dinding kereta sebelum kembali duduk.
Wajah pria tersebut tampak mengelap, setelah kesuksesannya memperoleh tahta, mengapa ia masih harus bersabar, bahkan kepada seseorang yang pernah hampir membunuhnya.
''Jangan khawatir ini tidak akan lama, ketika waktunya tiba, kau boleh mengoyak tubuh dan jantungnya.'' Lanjut Hanwen berusaha meredakan kemarahan Murongyu.
Hanwen kembali berjalan kesamping kereta, setelah ia yakin bahwa Murongyu tidak lagi menuruti emosinya saat ini.
''Wuhan...ayo, negri Tang masih jauh, katakan kepada mereka(rombongan dari kaisar Murongyu) untuk mengambil jarak, aku tidak ingin suara kegaduhan membangunkan Permaisuri.'' Ucap Jiang jing wei kembali.
Kaisar Jing, benar benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mencemooh, serta merendahkan Murongyu.
Terlebih lagi, ketika setiap provokasinya tidak berhasil,
Jiang jing wei menjadi kesal, dan mengumpat dalam hati.
''Si*lan ternyata ia bermuka tebal, dan tidak terpancing. Padahal aku ingin dia kesal dan memberikan alasan untuk menolaknya.''
''Hentikan, sudah cukup.''
Sebuah suara lembut, mengagetkan Jiang jing wei.
Pria itu, menatap kearah pangkuannya. Disana sepasang mata kini tengah menatapnya lekat.
Mendapati hal itu Jing kebingungan. Dengan suara terbata ia kembali berkata. ''Ka..kau sudah bangun Yun?.''
Suara ragu dan terbata sang suami, membuat Ziaruo semakin menatapnya dalam.
Wanita itu tersenyum sejenak, sebelum kembali berkata. ''Dengan suara keras anda, apakah Wanita ini tidak akan terbangun Yang Mulia?.''
''Yuun...'' Sahut Jing reflek, ia menyesal karena telah menuruti hatinya, yang ingin memancing kemarahan dari Murongyu, hingga ia lupa bahwa sang kekasih hati, tengah menikmati tidurnya.
''Jangan membuatnya kesal lagi, itu bukan diri anda.'' Ucap Ziaruo lagi.
Permaisuri Yun, menatap tepat ke manik mata sang suami, ia mengerti ada sebuah pertanyaan di dalam pikiran pria tersebut.
Ziaruo mengerakkan tangannya perlahan, menyentuh lembut pipi Jing, dan kembali berkata. ''Jangan berpikiran yang aneh, saya melarang anda, bukan untuknya. Dan mengapa, aku harus membelanya?, dia bukanlah siapa siapa untuk wanita ini.''
Mendengar hal itu, sebuah senyuman tercetak di wajah Jing, dengan cepat diraihnya tubuh sang istri kedalam dekapan, tampak jelas rona kebahagiaan pada wajahnya.
''Aku tahu, kau tidak akan merendahkan, serta mengecewakanku Yun, maaf aku terlalu terbawa perasaan.'' Ucap Jing lirih.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, kedua rombongan dari kekaisaran Xili dan kekaisaran Zing, berjalan beriringan.
Saling menjaga dan saling melindungi, meskipun dengan pikiran serta niatan masing-masing.