Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 41 Awal baru 2


__ADS_3

 


Wanita itu, dengan penuh perhatian mendudukan tubuh lemah dihadapannya, agar lebih mudah menggendong di balik punggung.


 


Ia bermaksud membawanya pergi dari sana, dan mencari pertolongan.


Dengan langkah berat, atas beban di punggung, serta menahan rasa sakit di sekujur tubuh, perjalanannya meninggalkan gubuk tersebut, jauh lebih lama dan terasa sulit.


Namun, ia telah memutuskan untuk membawa sang penyelamat, dan akan memastikan kesembuhan untuknya.


Meski pelan dan menyakitkan untuk tubuh itu, akhirnya ia dapat membawa wanita penyelamatnya pergi dari sana, menuju ke arah pondok sederhana yang paling ujung.


"Anda harus sembuh nona, saya akan memastikan anda akan selamat, harus selamat.'' Ucapnya lirih penuh keyakinan.


** flash back on **


Ziaruo mendengar suara sang guru, ketika ia hendak memasuki kamar.


''Segeralah masuk kedalam cermin air bulan, ujian *kedewia**nmu* sebentar lagi akan di turunkan.'' Ucap guru besar Xio.


Tentu saja, hanya Ziaruo yang mampu mendengar hal itu.


Meski Yongyu berada tak jauh dari sana, tetap saja ia tidak mendengar apapun.


Setelah Ziaruo yang mendengar suara sang guru, ia buru-buru menutup pintu ruangan dan ingin segera memasuki dimensi cermin air bulan.


Akan tetapi, ketika baru mengeluarkan cermin air miliknya, sayup-sayup terdengar jeritan seorang wanita meminta pertolongan.


Bukan hanya itu saja. Di sana ia juga mendengar lain yang tengah tertawa, serta perkataan yang kurang pantas, dan itu dari beberapa pria.


Ziaruo, ingin mengabaikan suara tersebut, dan segera masuk ke dalam cermin air miliknya.


Bagaimanapun juga ia mengetahui, bahwa ujian kedewian yang akan ia alami sesaat lagi, bukanlah hal yang mudah untuk di hadapi.


Dan jika Ziaruo tidak benar-benar siap, maka nyawanya bisa saja tak dapat ia pertahankan.


Wanita itu ingin mengabaikan suara tersebut, ia menulikan telinga dan hendak melangkahkan kaki masuk kedalam cermin air bulan.


Namun, kembali ia mendengarkan teriakan itu lagi dan semakin terdengar memilukan.


Ziaruo menghentikan langkah, serta menghela nafas sembari memejamkan mata sejenak.


"Guru maafkan aku. Izinkan kali ini saja aku melanggar nasehatmu. Jika murid tak bisa melewati ini, hutang budiku ambillah di kehidupan mendatang.'' Gumam Ziaruo setelah membuka mata, sebelum melesat pergi dari kamarnya.


Sementara itu, disebuah negri yang sangat jauh.


Seorang pria tampang dengan rambut putih keperakan yang panjang, tersenyum tipis.


"Aku tahu kau akan melakukannya dengan baik, jaga dirimu karena awal yang baru akan ada di depanmu.''


Wajah itu masih datar, seolah ia telah mengetahui arah alur yang akan terjadi, untuk sosok yang tengah ia lihat melalui cermin air di depannya.


*flash back off*


Di depan sebuah pondok tengah hutan barat.


Seorang pemuda dengan tenangnya, memasuki halaman pondok.


Tampak kegagahan serta kepercayaan diri, pada tampilan serta aura wajah itu.


 


"Siapa yang ingin anda temui tuan?.'' Tanya Yongyu, dari atas tangga pondok.


Yongyu menatap ke arah halaman, dengan tatapan yang kurang bersahabat.


Ia memang selalu merasakan ketidak sukaan. Ketika ada orang datang ke gubuknya.


''Maafkan saya tuan, saya ingin bertemu dengan nona Ziaruo.'' Jawab pangeran Muronghui, dengan sopan.


"Maaf pangeran, katakan saja kepentingan anda kepada saya, dan nanti biar saya sampaikan kepadanya.''Jawab Yongyu datar.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, wajah pangeran Muronghui tampak kecewa, dan kembali berkata. ''Maaf tuan, saya hanya ingin menyampaikan ucapan terimakasih, untuk nona Ziaruo atas bantuanya beberapa waktu lalu.''


Suara pangeran Muronghui terdengar tenang, namun itu jelas terlihat di mata tajamnya, bahwa ia tengah menutupi rasa kecewa.


Bagaimanapun, untuk datang ke pondok Ziaruo, ia memerlukan waktu 3 hari perjalanan, 6 hari untuk pulang dan pergi.


"Baiklah, nanti saya akan sampaikan.'' Jawab Yongyu datar, sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam pondok.


Yongyu seolah tidak memperdulikan, ataupun menganggap penting pangeran tersebut.


Bahkan, ia juga tidak menawarkan untuk bermalam kepada tamu yang datang dari jauh.


Mendengar, serta melihat sikap Yongyu, Wangze penjaga bayangan pangeran mahkota, merasa geram dan berkata. ''Kurang ajar sekali pemuda itu, Pangeran apakah perlu saya membereskanya?.''


Pangeran Muronghui tersenyum, melihat kemarahan Wangze.


Dengan suara yang masih tenang, ia menjawab. "Tidak perlu, aku rasa gadis itu memang sedang tidak berada di dalam pondok.''


"Lalu, apakah yang akan kita lakukan sekarang yang mulia?.'' Wanze.


''Kita akan menginap dulu di sini, besok kita akan melanjutkan penyelidikan kita, ke perkampungan merah milik King, dan kali ini kita harus berhasil.'' Muronghui.


"Baik yang mulia, saya akan menyiapkan alas tidur, untuk kita malam ini.''


Jawab wangze sambil membungkuk hormat, sebelum melangkah pergi untuk menyiapkan tenda seadanya, di teras pondok Ziaruo.


Yongyu memperhatikan Pangeran, dan bawahannya yang bersikeras menginap disana dari kejauhan.


Pemuda tersebut tidak bersimpati, ia hanya menghela nafas panjang, dan kembali menutup jendela rapat.


"Ziaruo berapa hari lagi, kamu akan mengurung diri di dalam sana?. Ini sudah seminggu lebih, apakah kau baik-baik saja?.'' Gumam Yongyu dalam hati, sembari menatap makanan yang ia letakkan di depan pintu sang adik.


Yongyu resah dan cemas, ketika melihat makanan yang ia siapkan, tetap tidak disentuh oleh Ziaruo.


Sejak Ziaruo mengurung diri(sepengetahuan Yongyu), pria itu akan selalu meletakkan makanan di atas meja kecil di depan kamar Ziaruo.


Meski sang adik tidak membuka pintu, dan memakannya.


Yongyu akan selalu mengganti dengan makanan baru, pada setiap jam makan Ziaruo.


 


Sementara itu di sisi selatan hutan Barat


 


Seorang wanita mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.


''Eeehhh....sakit, mengapa kepalaku sakit sekali?.'' Rintih gadis itu pelan, dengan pandangan mata yang masih samar.


"Nona...Nona anda sudah sadar. Untunglah, anda akhirnya sadar.'' Ucap wanita, yang baru saja masuk kedalam kamar tersebut.


Wanita itu, langsung memeluk tubuh gadis di atas ranjang tersebut.


"Mengapa kau menangis?, apa kau mengenalku?, dan kenapa aku ada disini?, ini dimana?.'' Pertanyaan beruntun ia ucapkan, seolah telah melupakan semuanya.


"Nona, ini saya Xioyu, orang yang telah nona selamatkan.'' Jawab wanita itu antusias.


Xioyu adalah wanita yang telah Ziaruo selamatkan, dari dalam gubuk ditepi sungai.


Namun, karena kilatan petir yang menyambar tubuhnya(ujian Kedewian), Ziaruo melupakan semua ingatan miliknya.


"Xioyu?, menyelamatkan?, kapan?, benarkah aku telah menyelamatkanmu?, mengapa aku tak mengingat apapun?.'' Ucap Ziaruo dengan nada kebingungan.


Mendengar ucapan Ziaruo, sepasang mata di luar ruangan yang hendak masuk, tersenyum dengan cerah. Ia berbalik mengurungkan langkah kakinya.


"Jika dugaan ku benar, maka ini kesempatanku, aku akan menjadi keluarga anda nona, kami akan menjadi keluarga anda kedepannya.'' Pikir pria itu dalam hati, sembari melangkah dengan cepat, menjauh dari sana.


''Aakkhh..kepalaku ..sakit sekali, Xioyu kepalaku sakit sekali, mengapa aku tak dapat memgingat apapun, aahhkkk sakit.'' Rintih Ziaruo lagi, dengan memegangi kepala.


Semakin ia mencoba mengingat, semakin sakit kepalanya.


"Nona ...nona ...anda kenapa lagi.'' Tanya Xioyu panik, serta ketakutan.

__ADS_1


"Nona Xioyu, biarkan tabib memeriksanya terlebih dahulu.'' Dari luar ruangan, sebuah suara tegas serta memiliki aura yang mendominasi melangkah masuk.


Dua orang pria dewasa masuk, bersama seorang bocah kecil yang tak lain adalah Yanyan.


Salah satu pria tersebut, segera meriksa kondisi Ziaruo dengan teliti.


Wajahnya tampak fokus.


Dan beberapa saat kemudian, pria yang tak lain adalah tabib tersebut menghela nafas dalam.


"Kenapa? ada apa dengan tunangan saya tabib?.'' Tanya pria yang lain.


"Sepertinya calon istri anda, telah mengalami luka pada bagian kepala(benturan), sehingga tidak dapat mengingat apapun lagi tentang masa lalunya.'' Jawab sang tabib menjelaskan.


Dalam kondisi seperti ini, biasanya kita tidak boleh memaksanya, untuk mengingat tentang masa lalu.''


Sang tabib mengatakan segalanya, dengan mimik wajah serius.


''Jangan biarkan ia tertekan dan biarkan ingatannya pulih secara alami.'' Lanjut pria yang di panggil tabib itu.


Mendengar hal tersebut, mata sang pria yang mengaku sebagai tunangan Ziaruo, memancarkan kecerahan.


(Secerah mentari pagi di musim panas hehe..).


Namun hal tersebut, ia tutupi dengan ketenangan khas miliknya.


"Baiklah, aku pulang dulu dan akan menyiapkan obat untuk luka-lukanya. Siapkan saja obat ini untuknya, 2 kali sehari di pagi dan sore.'' Lanjut sang tabib lagi, sambil memberikan bungkusan berisi racikan tanaman herbal kepada pria itu.


''Baiklah tabib, saya akan melakukannya, sesuai petunjuk anda.'' Jawab sang pria, dengan nada tenang, sembari mengantar tabib tersebut keluar dari ruangan.


"Yanyan kau temani kakak disini dulu ya.'' Ucapnya kepada bocah kecil, sebelum beranjak mengantar tabib hingga ke depan pintu keluar.


'' Yanyan...Yanyan .., mengapa aku sepertinya mengenal nama itu?.'' Gumam Ziaruo pelan, namun masih dapat di dengar oleh semua orang yang disana.


''Tentu saja kau mengenal nama itu, lalu apakah kau mengingat wajah kami?.'' Sahut pria tersebut, sembari mengajak sang putra, mendekat ke arah ranjang bersamaan.


Mendengar perkataan sang pria, Ziaruo menatap kearah mereka lekat.


"Wajah kalian, ia aku sepertinya pernah melihat kalian....aaakkhhh...sakit ..kepalaku sakit.'' rintih Ziaruo, sambil kembali memegangi kepala.


"Sudahlah, jangan di paksa untuk mengingat kembali. Apapun adanya dirimu, baik kau mengingat atau tidak tentang kami, kau tetaplah wanita yang aku cintai.'' Ucap pria tersebut, dengan lembut.


Meski perkataan itu meluncur lembut, namun tetap saja pada wajah pria yang tak lain adalah Gutingye tersebut, menampilkan kekecewaan yang tergambar jelas.


Namun, hanya hatinya saja yang benar-benar tahu.


Karena pada kenyataannya, kekecewaan itu hanya sebuah trik yang tengah di upayakan, sebaik mungkin oleh Gutingye.


Mungkin juga dapat di sebut sebagai jurus seribu ekspresi.


Sorot mata menyiratkan kejujuran, wajah menampilkan kecewa, senyum menerima dan penuh keikhlasan.


Akan tetapi, dengan hati yang yang penuh perencanaan serta berbunga-bunga.


Sorot mata itu memang berkata jujur, sejak hari pertemuan mereka di tepi sungai, ia tidak dapat melupakan wajah, dan kelembutan Ziaruo.


Dan dengan kondisi serta pertemuan mereka kali ini, baginya adalah sebuah kesempatan dari dewa untuk dirinya.


Oleh karena itu, ia telah memutuskan untuk menjaga dan melindungi Ziaruo dengan rela meski tanpa ingatan masa lalu.


Bahkan, ia juga telah menerima serta mengakui wanita itu sebagai tunangannya.


Dan untuk hatinya yang berencana, hanya dirinya dan dewa saja yang mengetahui.


"Yanyan temani kakak sebentar, ayah akan mengambil obat ke rumah tabib.'' Gutingye.


Dan ada yang ingin kukatakan kepada anda nona Xioyu, tolong ikuti saya.'' Lanjut sang pria, dengan suara tegasnya.


Sementara itu, Xioyu dengan penuh kebingungan mengikuti langkah kaki Gutingye (ayah Yanyan /Gutingyan).


Bagi Xioyu banyak hal yang menurutnya jangggal.


Namun, dia juga tidak mengetahui apa-apa tentang nona yang telah menyelamatkannya, tersebut.

__ADS_1


*Biarlah segalanya berawal dari sebuah kesalahan, aku akan menanggung semuanya, atas kesalahan, dosa, dan keburukan ini. Selama bisa bersamamu segalanya terasa sepadan, sedikitpun aku tak akan menyesalinya *


^¤ Gutingye ¤^


__ADS_2