
"Maaf tuan mengganggu istirahat anda, panatua suci mengatakan bahwa anda besok sudah diizinkan untuk pulang.
Dan selamat, panatua juga berkata bahwa istri anda sedang mengandung, beliau juga menitipkan sebuah nama untuk calon putra anda.'' Ucap orang tersebut dengan sopan, sambil menyerahkan sebuah lembaran gulungan.
Mendengar hal itu, ia merasa sangat senang dan membuka gulungan tersebut.
"MURONGXU, ha..ha...ha...benar ha..ha...brruughhh...( suara benda besar jatuh dari ketinggian).''
"Yang mulia, ..ha..ha..mengapa anda bisa terjatuh dari ranjang ...ha..ha..?.'' Tanya sang istri, dengan suara tawanya yang memecah keheningan pagi dikuil.
"Sayang...sayang...aku akan menyuruh pelayan mengemasi barang-barang, kita kembali keistana.
Dan.... kau harus menjaga tubuh serta kesahatanmu, ingat ya jangan banyak bergerak, aku akan menyuruh orang menjemput kita, aku menyayangimu.'' Ucap pria tersebut dengan semangat, sembari mencium sang istri sebelum beranjak keluar dari ruangan.
"Aku yakin, itu bukan hanya sekedar mimpi biasa, bahkan nama untuk calon putraku juga sudah di siapkan.'' Gumamnya dalam hati, sembari melangkahkan kaki dengan penuh semangat.
Dan senyum yang terus terukir, mengiringi langkah kakinya.
Sementara itu, sang istri yang tidak mengetahui apapun, hanya bengong kebingungan, dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Ada apa dengan yang mulia?, apakah dia terbentur terlalu keras, ketika terjatuh tadi?.''
Dan pada akhirnya, kabar gembira datang dari keluarga kekaisaran Xili.
Permaisuri tercinta kaisar Murongyan, dikabarkan tengah mengandung calon penerus kekaisaran Xili.''
* flash back off *
Sebuah cahaya melesat cepat, membelah remangnya malam ini, cahaya itu masuk kesebuah ruangan.
Disana, terdapat sebuah ranjang per*duan besar nan indah.
Pada sisi ranjang, berukirkan sebuah simbol naga dan phonix yang saling bertautan, seolah menyiratkan suatu keharmonisan antara dua legenda mistik yang agung serta elegan.
Diatas ranjang tersebut, sepasang insan tengah mem*dukan tubuh, dengan berbalutkan sutra lembut motif bunga sakura.
Petal-petalnya yang mereka indah, serta nuansa warna pink di atas kilau keemasan, ikut memberikan makna akan indahnya tautan hati diantara keduanya. Saling merengkuh keindahan, menikmati kasih sayang dalam peny*tuan jiwa dan raga.
Namun tanpa disadari oleh keduanya, serta tanpa izin dari pemilik tubuh tersebut, sebuah bayangan menyatukan diri dengan tubuh gagah berbalut sutra tersebut, dan ......
''Sreeett....sreeeeett.''
Tiba tiba saja waktu terhenti sejenak, bahkan kelopak bunga sakura di ujung ruangan yang jatuh, hanya melayang diatas lantai tanpa menyentuh dasar ruangan(mengambang).
"Deeeebbbhhhhh..slaaahhhsss."
Sebuah pendar cahaya yang sangat kuat keluar dari tubuh kaisar Murong, seolah sebuah getaran magic, yang memberontak keluar, dan terpancar dari seluruh tubuh gagah pria itu.
__ADS_1
Merasakan sesuatu kejanggalan pada tubuhnya, ia menghentikan setiap aktifitas.
Pria paruh baya ( ingatkan sekarang usianya 35 tahun) di atas ranjang tiba-tiba saja, menarik diri dari kegiatannya.
Pria yang tak lain adalah Kaisar Murongxu itu terdiam mematung, serta tidak memperdulikan tatapan kebingungan dari sang wanita disampingnya.
Didalam kepalanya kini seolah tampak puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan bayangan kenangan-kenangan, akan kisah miliknya dari kehidupan terdahulu.(ingatan kaisar Murongxu dari kekaisaran negri Awan).
Namun, ia juga masih memiliki, kenangannya sendiri dikehidupan sekarang ini.
*Karena kaisar Murongxu negri awan dan Ziaruo, sudah hidup lebih dari ratusan ribu tahun dalam hitungan dunia manusia.*
Bayangangan ingatan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Muringxu menjadi gugup, panik, ragu, dan takut secara bersamaan.
Mata pekat Murongxu melihat keseluruh ruang, tubuhnya bergerak dengan gelisah menuruni ranjang peraduan.
Keringat mengucur semakin deras, membasahi tubuh polos tanpa ada sehelai kain yang mrlekat.
"Ruoer...Ruoer...Ruoer...''
Kaisar Murong terus saja menggumamkan sebuah nama,
ia mengulanginya berkali-kali.
Kembali dilihatnya disana diatas ranjang peraduan, sesosok tubuh dengan balutan selimut sutra tengah menatapnya lekat, penuh kebingungan.
Bibir wanita itu, bergerak seolah mengatakan sesuatu, akan tetapi ia tak mendengar apapun dari gerak bibir tersebut.
Bahkan, ia juga jelas mengingat janji-janji keduanya tentang kesetiaan, serta rencana pertemuan mereka nanti, diakhir perjalan ujian mereka.
Tiba-tiba saja tubuhnya membeku, hatinya berkecamuk, ada perasaan begemuruh di dalam dada bidangnya.
"Ha..haa..haa...ha...aaaaakkkhh......aaaahhhkkkkk.'' Pekiknya keras, dengan nada tawa yang memilukan.
Ia mencengkram dada bidangnya kuat-kuat, hingga menampilkan warna kemerahan, dan putih yang hampir bersamaan, tubuh gagahnya luruh, lemas, dan terduduk dilantai.
"Ruoer...Ruoer...Ruoer,'' Panggilanya lirih dengan penuh kepiluan.
Ia tak mendengar apapun saat ini, tidak juga suara wanita yang terus-menerus memanggil dari atas ranjang, dengan panggilan keagungan miliknya( yang mulia), wanita tersebut tak dapat berbuat banyak.
Sempat beberapa saat lalu, ia berusaha menenangkan pria yang ia cintai tersebut, dengan menyentuhnya, akan tetapi justru ia memperoleh tepisan kasar.
Yang didengar oleh Murongxu adalah detak jantung miliknya, serta gemuruh didalam dada itu saja.
Namun, beberapa saat kemudian bulir bening meleleh membasahi wajah bersih bak giok miliknya.
Tanpa suara isakan ataupun tangisan, bulir-bulir tersebut jatuh dengan deras, dari mata hitam pekatnya.
__ADS_1
"Ruoer...Ruoer....Ruoer.'' Murongxu kembali menggumamkan sebuah nama, dengan penuh kerinduan dan pilu.
Akan tetapi, ia tak menyadari disana didalam ruangan tersebut, juga terdapat sepasang mata lain, yang juga melelehkan air mata.
Namun, dengan perasaan terluka dan terhina akan sebuah kehadiran orang lain, yang seolah menggantikan tempatnya.
Dengan kedua jari-jari lentiknya, ia mencengkram selimut sutra itu penuh amarah, dan rasa kebencian.
''Sungguh menyedihkannya diriku, ibarat sebuah bayangan, atas sosok orang lain.'' Ucapnya dalam hati, dengan bulir air mata, namun tajam menatap pria didepannya.
Sementara itu dari luar ruangan, Kasim Di menyeruak masuk, ketika mendengar teriakan dari kaisar Murong.
Terlihat pada wajahnya penuh kecemasan.
Terlebih lagi, ketika ia melihat tubuh sang tuan terduduk dilantai ruangan tanpa seutas benangpun.
Segera ia mengambil sebuah selimut dan memakaikan ke tubuh itu, dan bertanya.
"Ada apa yang mulia, apakah ada bemimpi buruk?.''
"Dia istriku kasim Di, dia kekasihku, dia hidupku, Ruoer milikku, dan aku menyakitinya.'' Deretan perkataan meluncur dari bibir Murongxu tak terbendung.
Namun meski demikian, ucapan pria itu sepelan sebuah bisikan, dan hanya mampu didengar oleh orang yang benar-benar dekat dengan tubuhnya.
Bahkan kasim itupun, tidak dapat mendengar semuanya secara lengkap dan jelas.
Di tengah kebingungan, serta ketidak fahamannya, kasin Di menoleh kearah atas ranjang, dan berseru sedikit tinggi.
"Apa yang terjadi selir naggong?.''
Sang wanita (selir Nanggong) hanya diam membisu, ia juga kebingungan harus menjawab apa?.
Akan tetapi, bagi Kasim Di diamnya tersebut adalah tindakan yang salah.
Dengan diamnya sang selir, Kasim Di justru semakin geram dan meninggikan lagi suara.
"Katakan ada apa dengan yang mulia kaisar?." Tanya sang kasim lagi.
Namun kali ini pria tersebut tidak hanya bertanya padanya.
Akan tetapi, ia juga menc*ngkr*m lengan wanita tersebut dengan kasar, setelah merapikan selimut di tubuh kaisar.
"Apa kau kira, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu?.'' Sambungnya lagi, masih dengan kekasaran yang sama, serta tatapan yang tajam serta penuh penekanan.
Namun wanita itu, masih menatapnya dengan tatapan yang miris, dan penuh rasa kekecewaan.
Perlahan bibirnya mulai terbuka. "Ha..haa...ha..., mengapa kau tidak membunuhku saja kasim?.''
__ADS_1
Selir Nanggong seakan kehilangan akal di saat itu.
Akibat rasa kecewanya, ia berani bereaksi seperti itu kepada Kasim Di, orang yang paling menakutkan bagi semua penghuni di istana dalam.