
Dalam sekejap saja, sosok Wuhan telah datang, dan menjawab. ''Pelayan di sini Yang mulai.''
''Setelah pelepasan hari ini, aku ingin beristirahat, jangan ada yang menggangu.'' Ucap Jing tegas.
''Dimengerti.'' Jawab Wuhan singkat, sebelum mengikuti Jing melangkah keluar, dari belakang.
Jing berharap untuk segera menyelesaikan semua urusan, dan berlari secepat mungkin menuju Ziaruonya.
Namun, rencana manusia tak pernah ada yang pasti.
Dalam gambaran Jing yang akurat, dan dengan pemahaman Wuhan yang sederhana.
Nyatanya penjaga terpercaya sekaligus sahabatnya tersebut, memberikan campur tangan yang hebat.
Wuhan mengingat perintah Jing, bahwa tuannya tersebut ingin beistirahat, dan dengan kondisinya yang cukup memprihatikan, Wuhan berinisiatif memaksimalkan istirahat sang kaisar.
Tanpa sepengetahuan dari Jing, Wuhan mencampurkan obat tidur, kedalam minuman sang kaisar.
Dengan kondisi yang kurang tidur, serta kelelahan yang bertumpuk. Jing tertidur dengan pulas, hanya dengan hitungan seper sekian detik saja, setelah meneguk tehnya.
.........................
Ketika Jing bangun, tubuh itu reflek terduduk, dan dengan cepat melihat ruangan yang tampak remang, dengan nyala penerangan kecil.
Menyadari hari telah gelap, hati Jing terlonjak dengan keterkejutan.
''Mengapa aku tertidur.''
Dengan cepat, ia bergerak hendak turun dari ranjang.
Dan dalam gerak cepatnya, Jing memanggil nama seseorang yang tengah ia pikirkan.
''Yuun..'' Sebutnya reflek ketika mengingat sang istri.
Ia tidak sadar telah memanggil nama itu, dengan suara keras.
Dan tanpa di duga, sebuah suara menyahuti dengan lembut, setelah pintu berderit.
''Wanita ini di sini Yang mulia.''
Seorang wanita cantik, perlahan memasuki ruangan dan menjawab panggilannya dengan lembut.
Jing kembali terkejut, serta bahagia secara bersamaan.
Bahkan, kaki yang hendak berdiri dan melangkah keluar beberapa saat yang lalu, kini membeku di tepian ranjang.
Dengan posisi masih duduk di tepian, Jing menatap lekat wanita yang telah ia hindari beberapa hari ini.
Ziaruo semakin cantik, dan memukau hati Jing.
Tentu saja pria itu juga merindukan wanita ini, ia ingin memelukannya.
Namun, entah mengapa ia masih diam dan tetap berusaha duduk tenang.
Bahkan, hingga Ziaruo ikut duduk disampingnya, ia masih diam.
Yang terlihat disana sekarang adalah, sepasang insan dengan gemuruh perasaan hati yang saling merindukan, sama-sama diam membisu, dengan kecanggungan besar.
Layaknya sepasang pengantin baru, yang masih malu-malu.
''Masih marah?.'' Ziaruo membuka percakapan.
Suara itu tenang, seperti ketenangan telaga dalam, tanpa riak air di atasnya.
Dan hal tersebut, menyejukan hati Jing.
''Eeemhz...'' Jing menggangguk, dan membuat jawaban singkat.
Dalam artian, ia mengiyakan pertanyaan dari Ziaruo.
Namun, sedetik kemudian ia menyadari refleknya yang bodoh.
''Ti..tidak, maksudku aku tidak pernah marah.'' Sambung Jing dengan cepat.
Melihat itu, Ziaruo tersenyum dan kembali menunduk.
__ADS_1
''Anda wajar untuk marah, saya telah kelewatan.'' Ziaruo.
''Maaf...'' Sambungnya lagi, lirih dan masih dalam keadaan menunduk.
Jiang jing wei menoleh kearah wanitanya sejenak, ada banyak hal yang ingin ia ucapkan, untuk wanita ini semalam.
Namun, semuanya menghilang ketika ia bersamanya sekarang.
Jing masih pasif, dan diam di samping Ziaruo.
''Apakah...'' Jing ingi bertanya, namun perkataannya terhenti, dan tak terselesaikan.
''Ya..'' Ziaruo menyahuti pertanyaan Jing, yang belum rampung.
Karena wanita itu tahu, dengan apa yang hendak di tanyakan oleh suaminya tersebut.
Dan hal tersebut, pastilah perihal kepergiannya besok.
''Baguslah.'' Jing mengatakan, hal bodoh lainnya lagi.
Dan secepat kilat, ia menyesali perkataannya tersebut.
''Apa yang kukatakan?.'' Pekiknya dalam kebisuan.
Jing meruntuki bibir konyolnya, yang telah lancang berkata kurang sopan, dan bisa menyebabkan kesalah fahaman lagi.
''Emmmzh, terimaksih.'' Ziaruo mengangguk pelan.
Ia juga tak tahu harus mengatakan apa, sebagai jawaban.
Dan pada akhirnya, kata terimakasihlah yang meluncur sepontan.
Hatinya hancur, mendengar kata itu dari bibir Jing suaminya.
Seolah pria tersebut, tak miliki kesedihan hati untuk kepergiannya besok.
Apakah semudah itu melepaskannya?, ataukah selama ini Jing hanya berpura-pura peduli?.
Perasan Ziarup bercampur aduk tak karuan.
Setidaknya jing tidak akan menderita, untuk kepergiannya besok.
Ziaruo menghela nafas panjang, ia ingin melepas setiap beban yang beberapa hari lalu menggelayut di hati serta pikiran.
''Jing telah dapat menerima, dan baik-baik saja untuk kepergiannya.'' Ziaruo mematri itu dalam hati.
Dan yang ingin dilakukannya, adalah hal berbeda lainnya lagi.
Ziaruo ingin merilekskan hati, dengan kerinduan untuk pria itu disana.
Ia juga ingin berpamitan, dengan prianya di dunia ini untuk terakhir kali.
Ziaruo mengangkat wajah, dan berdiri dari duduk.
Perlahan ia berjalan, dan berdiri tepat di depan Jing.
Wanita itu menatapnya dalam sejenak, seakan tengah melukis sesuatu yang sangat berharga.
Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu, pikiran Jing buntu.
Bahkan, pria tersebut tak bereaksi atas sikap lembut sang istri.
Ziaruo meraih lengan Jing, dan menuntunnya untuk bangkit dari duduk.
Di tengah kerinduan dan kebingungannya, Jing mengikuti apapun kemauan dari Ziaruo.
Bahkan jika harus berlari meninggalkan segalanya, Jing rela.
Akan tetapi, pikiran itu terlalu jauh dari apa yang terjadi sekarang.
Setelah Jing berdiri, perlahan Ziaruo melepas pakaian Jing satu persatu, hingga yang tertinggal hanya pakaian bagian dalamnya saja.
Sejenak Ziaruo memeluk tubuh itu erat, membawa tangan sang suami, untuk menyambut pelukannya.
Jing mengikuti apapun yang dilakukan oleh Yun-nya.
__ADS_1
Ada kebahagiaan menyeruak dalam hati Jing, ada deru degub jantung yang berpacu dalam dada bidangnya.
Namun, ada juga keingin tahuan yang mengelitik hati jing, tentang apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh sang istri.
Mereka berpelukan beberpa saat, sebelum Yun membantunya duduk kembali di tepi ranjang.
Hati Jing semakin berdegub kencang, ketika ia melihat Ziaruo juga melepas pakaian miliknya.
Sebuah senyum manis, terpasang pada wajah cantik wanita yang sangat ia cintai tersebut.
Perlahan namun pasti, suara Jing mengalir lembut memanggil sebuah nama. ''Yuun.''
Nama itu, meluncur ibarat alunan merdu di telinga Ziaruo.
Dan menjadi pembuka tautan bibir keduanya, untuk saling beradu.
Malam itu, keduanya meluapkan kerinduan yang telah ditahan beberapa hari ini.
Mengisahkan kenangan terakhir untuk Ziaruo, sebelum kepergiannya esok hari.
Jing, yang diliputi dengan kebahagiaan, melupakan sejenak bahwa, besok adalah hari terakhir kebersamaan mereka.
Dan entah kapan mereka akan di pertemuan kembali, atau berpisah selamnya tak ada yang tahu.
Jing merengkuh tubuh Ziaruo, dengan keindahan kebahagiaan.
Dibawah kungkungannya, sang istri menunjukan wajah bahagia, dan itu merupakan keindahan hidup sempurna, bagi Jiang jing wei.
Kebahagiaan atas dirinya di mata sang wanita, merupakan sebuah kebanggan tersendiri untuk Jing.
Hingga waktu bergulir menjelang pagi, mereka baru menyelesaikan rutinitas kebahagiaan mereka.
Tubuh Jing, terlelap tidur dengan Ziaruo berada dalam dekapan.
Tampak senyum lembut pada wajahnya, ketika ia terpejam dalam bauaian selimut kehangatan tubuh wanita tercinta.
Dengan kebahagiaan itu, Jing tak lagi protes tentang penderitaan yang ia alami.
Tidak juga, dengan kepedihan beberapa hari kemarin.
Jing telah terbuai dan lupa, bahwa pagi ini hatinya akan kembali tercabik-cabik, untuk kepergian wanita itu.
Perlahan Ziaruo membuka mata.
Ia melihat Jing yang terlelap dan wajah itu tampak tenang.
Seolah, sebuah senyum terpasang lembut disana.
Ziaruo menatap wajah itu lagi sejenak, mencium kening, kedua mata, hidung, kedua pipi, dagu, dan berhenti sedikit lama di bibir.
Ziaruo tersenyum tipis, dengan bulir bening di ujung mata, ketika Jing meleguh tanpa sadar.
''Maafkan aku jika bisa.''
''Dan jika itu sulit, bencilah sedalam anda mecintai wanita ini.'' Ziaruo berbisik lirih.
Di sela kelelahan Jing, ia masih terlelap dan hanya meleguh sejenak dengan gumaman tak jelas.
Namun, apapun itu nyatanya suara tersebut, merdu di telinga Ziaruo.
Bahkan, ketika Ziaruo meraih tangan Jing, dan meletakkannya di diperutnya yang rata, Jing masih tidak bereaksi.
''Sapalah ayahanda sayang, dan mungkin dalam beberapa bulan mendatang, kau akan menemuinya kembali dalam wujudmu sebagai bocah.''
''Di saat itu, jangan biarkan ia merindukan ibumu yang kejam ini.'' Gumam Ziaruo lagi, masih dengan suaranya yang lirih.
Lelehan air mata Ziaruo tak lagi terbendung, mengalir deras seperti hujan di luar sana.
Bahkan, beberapa tetesan bersarang telak, di punggung tangan Jing.
Di sela gelegar petir yang berkilat dan menyambar, isakan tangis wanita itu tak terdengar.
Hingga, tubuh itu berhenti menangis dan bangkit dari ranjang, tubuh Jing masih terlelap dan terpejam.
Ziaruo meraih pakaian yang berserakan di lantai, memakainya dan merapikan diri sendiri.
__ADS_1
Wanita itu berdiri mematung, memandang ranjang dengan sosok tubuh di atasnya sejenak, sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu ruangan..