
"**Jika ...daun pohon yang rindang sudah mulai menguning, dapatkah ia menyambut datangnya angin pagi ?.
*Angin sepoi musim semi, membelai indah menyapa sinar jingga* .
Jika ... pohon tua nan rindang perlahan kehilangan daunnya, bisakah ia menerima tetes embun pagi esok hari, menyeka debu lusuh hari kemarin.
Jika .... pohon tua tak lagi mampu menumbuhkah daun baru, masihkah pantas menyapa sang bayu, melepas rindu
berpangku mimpi.
Jika ... daun tua pohon rindang mulai menguning, tak lagi ada luka dan pilu menyapa, melepas rela berpeluh rasa, untuk sang angin menyapa cakrawala jingga** .
"Oh sungguh pilu nasib pohon tua .
hixs..hixs."
**( tangis di buat buat untuk expresi suatu acara) **
"Para pendengar setia, gelombang radio s**ra s*nj*ya , dimanapun anda berada, semoga kisah pilu sang pohon, bukan kisah nyata dari penulis puisi kita kali ini ya."
"Agar kita, selalu bisa menampilkan senyum untuk sahabat-sahabat, dan orang orang terkasih kita."
"Yup..sudah 30 menit saya Andara menemani anda bermelankolis ria, bersama puisi-puisi cantik siang ini."
"Sampai jumpa pada kesempatan, dan jam yang sama, salam kompak dan tetap semangat,see..you..bay bay."
**.....Mendengar siaran radio di dalam mobil.....**
"Bahkan siaran radiopun mengingatkan tentang usia, sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa." Ucap Rasya pelan sambil tersenyum miris.
Perasaannya merasa tersindir, akan puisi yang baru saja di bacakan, oleh pembawa acara sebuah Radio.
Sehingga ucapannya tersebut, tampak seperti sebuah gumaman saja.
Ada raut kecewa pada wajah tampan itu, jika boleh jujur baru kali ini Rasya merasa tak berdaya.
Jangankan untuk mencoba mengenalnya, sekedar memandang gadis yang berusia jauh lebih muda darinya itu, baginya terasa sangatlah tidak pantas.
Kepercayaan diri serta arogansinya, entah sedang pergi kemana?.
Mungkin jika itu soal harta, ketampanan, ataupun soal postur tubuh ia berani bersaing.
Namun kali ini, sekalinya ia menaruh minat dan tertarik akan seorang wanita, justru ia tak mampu berbuat apa apa.
Kesombongan, kebanggaanya serta, sifat tenangnya sirna, karena faktor perbedaan usia di antara mereka.
Rasya menghela nafas panjang, dan kembali menginjak pedal gas mobilnya.
Melajukan mobil merah tersebut, menuju gedung perkantoran tempatnya berkerja, untuk melanjutkan semua actifitas, yang belum selesai sejak tadi pagi.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering, sekilas ia melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
Perlahan ia menepikan mobil, berhenti sejenak untuk menerima panggilan tersebut .
" Hallo ...ia Ma.. ada apa ?."
Sementara itu....
Dilobi sebuah rumah sakit, seorang gadis cantik berjalan santai dan tenang, sambil menjinjing dua kantong makanan.
Gadis itu yang tak lain adalah Rahartika, ia bermaksud mengejutkan sang ayah dengan membawakan makan siang.
Oleh karena itu, ia meminta bantuan Randy untuk mengantarkanya kerumah sakit, dan meminta sahabatnya untuk pulang lebih dahulu.
Meskipun Randy menawarkan diri untuk menunggunya, namun Rahartika menolak tawaran tersebut.
Karena, setelah dari rumah sakit nanti ia telah memiliki rencana, akan langsung ke rumah Nayla untuk kerja kelompok.
"Tok..tok..tok."
__ADS_1
Suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk!."
Terdengar sahutan dari dalam ruangan.
"Jreng ..jreng ...siang ayah ku yang tampan seantero kecamatan." Sapanya kepada sang ayah, sambil mengangkat bawaan.
Melihat sang putri, yang datang kerumah sakit siang itu, merupakan sebuah kejutan untuk Dr. Ardi.
Dengan cepat Pria paruh baya, yang masih menampakkan sisi rupawannya, meletakkan pena.
Dr.Ardi berdiri dan memeluk Rahartika sejenak, sebelum menerima makanan yang di bawa oleh gadis tersebut.
"Apa kau bolos sekolah hari ini, jam segini kau bisa ada di sini ?." Tanyanya, sambil meletakkan makanan di atas meja, serta mendudukan tubuh pada kursi santai, yang tak jauh dari sana.
"Sudah nggak jaman lagi Yah...acara bolos-bolos sekolah, apalagi sebentar lagi aku UN."
Rahartika mendudukan tubuhnya santai di samping sang ayah, sementara itu Dr. Ardi mulai membuka dan menyuapkan makan siang, yang di bawakan putrinya.
"Semua guru rapat Yah, jadi dipulangkan lebih awal." Jawab gadis itu dengan santai.
"Oh ya... nanti bantu Ika memberikan kotak nasi yang lain untuk paman, tante dan 2 kakak tercintaku(sepupu) ya." Lanjut Ika lagi, dengan gaya malasnya.
"Aku harus ke rumah Nayla untuk kerja kelompok." Lanjutnya lagi.
Dr. Ardi hanya meng''Eemh''kan saja perkataan sang putri, ia tengah menikmati makanan.
"Oh ya, kamu tidak ingin menjenguk paman Wijaya?, sudah 3 hari ini dia rawat inap di sini." Tanya Ardi, setelah minum segelas air putih, sebagai penutup acara makan siangnya.
"Jika kau bisa menjenguknya senbentar, ayah rasa Ia akan sangat senang. Dia sering menanyakan kabarmu." Lanjut Ardi kembali.
"Kalau sebentar sepertinya nggak papa, Yah." Jawabnya singkat, dengan posisi masih tetap sama.
Mendengar jawaban tersebut, Ardi tersenyum dan menekan pelan hidung putrinya, sembari berkata. "Tentu saya sebentar sayang, kalau lama itu namanya merawat, atau ngejagain.he..he."
"Ayo aku antar ke ruangannya, tapi nanti Ayah tinggal, ada jadwal1operasi lagi.''
"Tok..tok..tok."
Suara pintu di ketuk.
"Boleh aku masuk?." Tanya Ardi ketika, memasuki ruangan kamar pasien VIP.
"Sejak kapan, kau membutuhkan izin dariku untuk kesini, Di?." Jawab seorang pria, dari dalam ruangan.
Dan itu benar adanya, bahkan Ardi telah memasuki ruangan tersebut, bahkan sebelum sahutan suara dari dalam, selesai di ucapkan.
Melihat kehadiran gadis cantik tersebut, sebuah senyum cerah terukir diwajah Wijaya.
Dengan suara antusias ia bertanya. "Apa dia Rahartika ?."
Dan ucapan Wijaya membuat seorang pemuda, yang kebetulan berada tak jauh dari ranjang, menghentikan pembicaraan pada ponsel miliknya, menoleh kearah pintu masuk.
''Jeblaaaaar..''
Pemuda itu diam mematung menatap lekat, kearah gadis cantik yang masih berdiri, tak jauh dari pintu masuk kamar.
"Ya tuhan ...itu dia, gadis di rumah makan tadi." Pekik Rasya dalam hatinya .
"Ia... ini Rahartika, putri kecilku yang dulu sering kau culik itu." Jawab Ardi menggoda Wijaya.
"Ika ...ini om wijaya, orang yang dulu kau bilang paling baik sedunia, apa kamu masih ingat ? " Ucap Adi, kepada putrinya.
Pria itu berusaha mengingatkan Rahartika, tentang kenangan ketika sang putri masih kecil.
"Dan.... itu putra ke duanya.. Rasya." Lanjut Adi memperkenalkan pria muda, yang kini diam mematung.
Ika hanya tersenyum lembut, menanggapi penjelasan sang Ayah, serta memberikan tatapan tenang, serta lembut kearah orang-orang yang di sebutkan oleh Ardi.
__ADS_1
"Apa hari ini kamu tidak masuk kerja Rasya ?." Tanyanya santai, saat melihat pria muda tersebut ada di sana, pada jam-jam kerja seperti sekarang.
"Em..ker..kerja om, cuman ini tadi di minta untuk menggantikan menemani papa, mama ada keperluan sebentar om.'' Jawab Rasya agak terbata.
Rasya sedang berusaha menenangkan hatinya, yang tengah terkejut serta dipenuhi kebahagiaan.
Seolah ia menerima serangan kejut, setara 340volt.
Sebenarnya baik Adi dan Rasya sama-sama baru saling kenal. Mereka bertemu saat Wijaya, ayah Rasya, datang berobat kerumah sakit.
Pada saat itulah, Wijaya memperkenalkan Rasya kepada Adi.
Dan sejak saat itu juga, hubungan mereka terlihat akrab.
Entah itu karena Rasya yang sopan, dan baik dimata Adi. Atau karena hubungan persahabatan antara Adi dan Wijaya (ayah Rasya ), yang membuat mereka berdua, menjadi cepat akrab dan timbul rasa nyaman.
"Oh ya... kenalkan ini anak om, Rahartika, dia tadi mampir mengantar makan siangku.'' Ucap ardi lagi, sembari memperkenalkan Rahartika kepada Rasya.
''Dan ini....maaf hanya membawa1kotak saja, aku tidak tahu kalau kamu juga ada di sini." Sambungnya lagi, sambil menyerahkan 1kotak nasi makan siang, kepada Rasya.
Jujur, sebenarnya kotak tersebut di maksudkan untuk sang ibu (Riana ibu Rasya ), yang bisanya menjaga Wijaya.
Karena untuk makan siang ayahnya, sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.
"Baiklah.. aku tinggal dulu, masih ada satu operasi lagi." Pamit Adi kepada Wijaya.
''Jaga dirimu, jangan lupa nanti hubungi pak Diman untuk mengantarkanmu kerumah Nayla." Ucap Adi lagi, sambil mengusap pelan kepala Rahartika lembut.
Dan hanya di jawab anggukan serta sebuah kata singkat oleh sang putri, serta anggukan cepat sejenak. ''Emm..''
"Baiklah Wijaya, Rasya aku tinggal dulu, jangan membully putriku." Candanya sebelum melangkahkan kaki, keluar dari ruangan tersebut.
" Baiklah ..baiklah cepat kau pergi sana." Jawab Wijaya, menimpali candaan sang sahabat.
"Kamu sudah dewasa Tika dan juga cantik, sangat mirip dengan mamamu." Ucap Wijaya, mulai menyapa putri sahabatnya tersebut.
"Ia ..saya Rahartika om." Jawab Ika sambil berjalan mendekati ranjang.
Gadis itu meraih tangan kanan Wijaya, membungkukan tubuhnya, serta mencium tangan pria itu lembut penuh hormat.
Menerima perlakuan seperti itu, bibir Wijaya tersenyum, ia melirik kearah sang putra yang sedari tadi, menatap lekat kearah gadis cantik, yang baru beranjak dewasa di depannya itu.
Dagu wijaya tergerak keatas sejenak, dengan sedikit tarikan di ujung bibirnya, seolah berkata. "Bagaimana, bukankah dia sempurna?."
Ujung mata Wijaya melirik sang putra, yang tentu saja gerakan sekilasnya tidak di ketahui oleh gadis itu.
"Bagaimanana keadaan om hari ini?, apa sudah jauh lebih enakan ?." Tanyanya dengan lembut.
Mendengar pertanyaan gadis cantik itu, Wijaya tersenyum dan menjawab. "Sudah jauh lebih baik, mungkin 2 hari lagi om bisa pulang."
"Oh ya Ika ....kenalkan ini anak om....Rasya, dia seorang manager pemasaran di kantor,
jika kalian bertemu lagi lain kali,
harus saling menyapa, agar kalian lebih akrab.''
''Syukur-syukur bisa jadi sahabat." Lanjut Wijaya, sembari memperkenalkan lagi putranya.
Mendengar ucapan sang ayah, dengan cepat Rasya mengulurkan tangan, menyambut tangan gadis cantik itu, yang juga mengulurkan tangan ke arahnya.
"Rasya Wijaya diningrat.''
Didalam dada bidang pemuda itu, ada debaran kencang ibarat suara genderang, yang sedang ditabuh dengan keras.
"Saya Ika kak, ...Rahartika rahmawan salam kenal." Sambut lembut sang gadis, dengan senyum manis sejuta kharisma miliknya.
Setelah perkenalan, yang sedikit terlihat canggung bagi Rasya, akhirnya mereka memulai berbincang-bincang, membahas soal yang umum di bicarakan oleh seseorang yang baru kenal.
Seperti actifitas, tempat belajar. Namun, lebih banyak membahas tentang kondisi dari Wijaya, karena saat ini dialah bintang utamanya.
__ADS_1
~º♡ºsejauh apapun berlari menghindari dan bersembunyi, namun jika tuhan sudah berkehendak, akan tetap berjumpa dengan cara-cara yang tidak terdugaº♡º~