
Masih didalam perjalanan menuju taman...
''Aku juga bahagia Jing, sama sepertimu.'' Ucap Permaisuri Yun, didalam hatinya.
''Ibarat sebuah lukisan, mungkin......Hubungan kita baru bermula dari sebuah titik, di tengah hamparan luasnya kanvas. Namun sekecil apapun titik mula kisah kita, akan kupastikan disana, tidak akan ada celah tanpa warna.'' Lanjut Ziaruo dalam hatinya.
Kaisar Jing menoleh beberapa kali, kearah Wanita tercintanya, dengan tangan masih saling bergandengan wajah tampan serta tegasnya, seolah berubah menjadi sempurna dimata Ziaruo.
Hingga akhirnya mereka sampai di Gazebo ditengah taman, tempat Permaisuri Yun memperoleh perlakuan kurang menyenangkan dari sang ibu(Janda Lexue) kemarin.
Tiba tiba Kaisar Jing berhenti dan berbalik kearah Ziaruo, ia tersenyum sembari berucap pelan.''Selamat atas hari kelahiranmu permaisuri, terimakasih karena telah terlahir kedunia ini, dan terimakasih sudah bersedia menikahiku...aku mencintaimu Yun''
Dengan suara penuh perasaan Kaisar Jing mengucapkan semuanya, ketika ia sampai pada bait pernyataan cintanya, pria tersebut memeluk serta beberapa kali me**ec*p kedua pipi, serta kening Ziaruo.
Hingga sebuah suara batuk dadakan yang melankolis mengejutkan mereka.'' Eheem...eheem..''
Dengan reflek Ziaruo menatap kearah sumber suara. Sementara itu, Kaisar Jing yang telah memgetahui hal tersebut, tersenyum sesaat sebelum berkata.'' Lihatlah siapa yang aku undang datang hari ini Yun?, kau pasti merindukan mereka.''
Ziaruo membulatkan mata, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Disana telah berkumpul putra putri angkatnya, Kakaknya Yongyu, bahkan ada beberapa pengurus toko yang bertempat di sekitar istana kekaisaran.
Ziaruo menatap semua orang yang hadir disana dengan senyuman, sesaat sebelum ia berbalik menatap lagi sang suami.
Dengan senyuman cantiknya, ia menatap kearah Kaisar Jing, sembari berucap dengan penuh ekspresi kebahagiaan.''Terimakasih Yang mulia.'' Wanita itu memeluk tubuh Jing.
Mendapat reaksi yang demikian, Jing berbisik lirih.'' Apa kau bahagia Yun.''
''Sangat, sangat...bahagia.... Terimakasih.'' Jawab Ziaruo, sebelum melepas pelukannya, dan berjalan menuju sebuah meja besar didepan Gazebo taman, dengan banyak hidangan mewah tertata diatasnya.
''Hormat kami Yang Mulia Kaisar...hormat kami Yang Mulia Permaisuri...semoga anda hidup seratus tahun lagi.'' Ucap semua orang disana, sembari memberi hormat, menyambut kedatangan kedua orang itu.
''Anak anak, kakak..jangan terlalu formalitas, ayo bangunlah.....Aku masih ibu kalian, aku adikmu kak.'' Jawab Ziaruo dengan tangan hendak meraih Yongyu, dan membantunya bangun dari sikap memberi hormat.
__ADS_1
Akan tetapi, belum sempat tangannya meraih tubuh sang kakak, sebuah lengan kokoh memeluknya dari belakang, sembari berkata dengan nada tenang khasnya.'' Kalian bangunlah, khusus hari ini kita lakukan seperti keluarga saja, tidak ada Kaisar dan Permaisuri.''
Perkataan Jing yang diluar kebiasaan membuat semua orang yang disana menjadi heran.
''Tidak biasanya pria arogan itu, berbaik hati dan bersikap ramah, Ciih.'' gerutu Yongyu dalam hatinya, ia merasa aneh dengan keputusan sang kakak, yang seolah diluar kebiasaannya.
"Yunsang, kemarilah..kau duduklah di dekat kami..Apa kau tak merindukan ibundamu?" Pinta Kaisar Jing kepada putra angkatnya.
Akan tetapi, sejak kejadian di balai pengobatan( selir Feng menganiaya sang ibu, dan Kaisar hanya diam saja), Yunsang mulai kurang menyukai Jing, ia merasa pria tersebut tak dapat melindungi, serta menjaga sang ibu tercintanya.
" Baik Yang Mulia." Jawabnya dengan raut muka yang tampak terpaksa.
Bocah yang mulai beranjak remaja(9 tahun) tersebut berdiri dari duduknya, berjalan mendekati tempat duduk disamping Ziaruo.
''Hormat Ibunda, semoga anda selalu bahagia.'' Sapa Yunsang sembari menunduk sesaat.
Ziaruo mendengarnya dengan jelas, dan ia pun menoleh serta mengulurkan tangannya, sembari berkata dengan lembut.''Terimakasih ...kemarilah, duduk disampingku.''
Wanita itu, meraih tangan Yunsang, ia menuntunnya untuk duduk pada kursi di sebelah tempat duduknya.
''Ibu sangat merindukanmu sayang, bisakah kau sering sering mengunjungiku.'' Bisik Ziaruo sembari mendekatkan tubuhnya, disaat sang putra mendudukan tubuh tepat disebelahnya.
''Bluuuuussssh.''
Wajah Yunsang merona bahagia, ia mengerti tentang keadaannya yang sesungguhnya.
Bahwa ia bukanlah siapa siapa, bagi wanita yang kini menjadi Permaisuri di kekaisaran Xili, wanita tercinta Kaisar Jiang jingwei.
Dirinya hanyalah, seorang bayi yang tidak diketahui dari mana asal usulnya, akan tetapi kenangan yang ia miliki selama ini, wanita tersebutlah yang telah merawat, serta melimpahkan kasih sayang untuknya sebagai ibu, sekaligus penopang semua keperluannya.
Dengan wajah yang bersemu serta malu malu, Pria kecil itu menunduk dan menjawab lirih.'' Ananda juga sangat merindukan ibunda.''
''Eheeeehhh.....'' Jing menghela nafas panjang mendengar bisik bisik mereka, ia mengingat kejadian, dimana ia tak dapat melakukan apapun, saat Ziaruo di perlakulan kurang baik dan kasar oleh selir Feng, sedangkan ia tak dapat berbuat apapun, dan hal tersebut disaksikan oleh Yunsang.
__ADS_1
Jing menyadari ada perubahan sikap dari putranya tersebut, semenjak kejadian hari itu.
Akan tetapi, untuk saat sekarang ia tak dapat berbuat banyak.
Helaan nafasnya kembali terdengar, sebuah nafas panjang yang mengatakan tentang kegundahan serta ketidak berdayaannya.
Di dalam hatinya bergumam.'' Nanti akan ada saatnya, kita akan saling bicara dan menghilangkan semua kesalahpahaman ini.''
''Baiklah....karena semua orang sudah berkumpul, mari kita mulai acara makan siang menjelang sorenya...haha...haha..mari mari.'' Ucap Kaisar Jing, dengan wajah serta sikap yang ia buat seramah mungkin.
Ia ingin menempatkan dirinya, sebagai orang biasa.
Seorang suami dari Nyonya Yun(Ziaruo), sebagai ayah angkat Yunsang, serta sebagai pasangan dari majikan mereka(pekerja kediaman Ziaruo), bahkan ia menempatkan diri sebagai adik ipar dari Yongyu adik kandungnya.
Seorang kakak(Jiang Jingwei )yang memanggil adiknya(Jiang Jingyun/Yongyu) sebagai kakak ipar.
Dan sikapnya tersebut, tentu saja bukanlah hal biasa bagi semua orang yang disana. Bagaimanapun pria itu bersikap sekarang, pada kenyataannya, dia tetaplah seorang Kaisar yang dikenal sangat dingin serta kejam.
Sementara itu, tak jauh dari tempat mereka, dengan segala usaha mengakrabkan diri, ditengah kecanggungan, serta ketidak leluasaan. Tiga orang wanita bersama didalam suatu ruangan yang cukup indah, tengah membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
''Aku harap kali ini, tidak ada kesalahan lagi seperti dulu, ingat semuanya berada di tanganku.'' Ucap Wanita itu, dengan suara yang penuh dengan nada ancaman.
''Dan jika kali ini kalian berhasil, bukan hanya kalian akan selamat dari hukuman, aku juga akan memberikan kemakmuran untuk keluarga kalian di desa.'' Lanjut wanita itu kembali.
Mendengar Janji yang diberikan oleh sang wanita, kedua pelayan tersebut tampak antusias. Dengan tindakan yang kecil mereka sudah dapat memperoleh hadiah yang begitu besar.
Salah satu dari dua wanita yang menunduk didepan wanita itu, perlahan membuka mulut dan berkata.'' Apakah benar kami akan diampuni, dan menerima imbalan besar Yang Mulia selir?, dan kami hanya perlu meletakkan benda tersebut, didalam pavilliun yang Mulia Permaisuri?.''
Mendengar pertanyaan itu...., wanita yang dipanggil sebagai selir tersebut, tersenyum dan mendekat kearah wanita yang baru saja berbicara tadi.
''Kau benar...dan sekaranglah saat yang tepat melakukannya, ketika semua orang berada ditaman.
Selir tersebut, menatap kedua wanita yang kini tengah saling pandang.
__ADS_1
Tampak jelas ada keraguan dari keduanya, akan tetapi tak menunggu waktu yang lama, dengan suara yang hampir bersamaan mereka menjawab.'' Baik...kami akan melakukannya Yang mulia selir.''
''Bagaimanapun otak kalian berpikir, uang dan kekayaan tetap akan menghalangi rasional kalian, dasar orang orang re*d*han'' Ucap dalam hati sang Selir.