
Tinggi tubuh itu memang Sama, namun suara wajah dan warna kulit mereka bukan dari orang yang ia harapkan.
Akan tetapi, mengapa hatinya seolah berteriak dengan hebat bahwa dia adalah putranya, Jiang Jing Yun tercinta yang terlahir dari tubuh sendiri.
''Kau kah itu Yun'er?." Tanya Lexue dengan suara yang ragu serta bergetar.
Bagaimanapun jika kenyataan di depannya saat ini seperti yang ia pikirkan, maka itu adalah satu mukjizat yang tak terhingga.
Raut wajah Lexue masih enggan menerima, bahwa sosok di sana tak ada mirip-miripnya sama sekali, dengan sosok dalam imajinasi.
Karena hati keibuan dalam tubuh itu, dengan tajam mengatakan bahwa dia putranya.
Bahkan ketika suara tersebut pertama kali di dengar oleh Lexue, ia hanya mengingat sosok Jiang Jing Yun dalam reflek sekali tanggapan.
"Ini aku Bu, putramu Jiang Jing Yun."
Yongyu berjalan semakin mendekat kearah wanita di depan altar.
Sosoknya yang lama tak di jumpai, masih menyisakan raut wajah yang jelas dengan bulir kerinduan dalam hati.
Yongyu semakin merasakan gemuruh dalam dada, ketika telah tepat di depannya.
"Bagaimana kabar ibu selama ini?."
Sosok wanita tua di ujung ruang yang juga hadir di sana, menemani Lexue dalam kesehariannya, seolah merasakan keengganan yang besar untuk pemuda yang baru tiba.
Meskipun ia tidak seakrab seperti sang tuan, dalam ingatannya sosok Jiang Jing Yun tidaklah sama dengan yang berada di depannya saat ini.
Dengan cepat ia maju mendekat dan berdiri tepat di depan Yongyu.
Sehingga posisinya saat ini, berada di antara keduanya. "Yang mulia dia bukan putra kerajaan, mohon jangan gegabah untuk sesosok asing."
Tangan Lexue yang sempat terulur ke depan beberapa saat yang lalu, terhenti di udara.
Meskipun 70% ia meyakini bahwa ini putranya sendiri, namun dengan kemelut yang terjadi beberapa waktu terakhir, ia juga memiliki sedikit keraguan.
Yongyu yang menyaksikan keengganan serta penyangkalan sang pelayan tua di sana, tidak memberikan kemarahan untuk mereka.
__ADS_1
Bagaimanapun ia memang telah banyak berubah, bahkan dapat di katakan telah menjadi sosok yang lain dari dirinya dahulu.
Ia tersenyum kepada pelayan tua di samping sang ibunda, yang siap mengorbankan apapun untuk melindungi.
"Putra Anda, hanya ingin memastikan keadaan ibunda saja."
Yongyu masih memberikan tatapan lembut serta senyum ketenangan, meski tengah di curigai, baginya melihat sang ibu dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup.
''Jangan melakukan apapun untuk menguji kesabaran saudara imperial, ia telah banyak menderita untuk setiap tindakan ibunda."
Yongyu menyelipkan sebuah untaian manik-manik dari lantai, yang terjatuh ketika Lexue menerima kejutan, atas kehadiran dirinya beberapa waktu lalu.
"Apa maksudmu?, kapan aku menyakiti saudara imperialmu?." Lexue mencoba berkelit dari apa yang telah ia lakukan.
Baik di depannya benar-benar putranya ataupun bukan, ia tetap tak ingin mengakui keburukan tindakan yang telah ia upayakan untuk di pendam.
Mendengar apa yang di katakan sang ibu, Yongyu tersenyum miris. Bagaimanapun ia mencoba untuk memberi tahu, hal terakhir tetap berada pada keputusan sang ibu.
''Jika ibu mengatakan tidak, mungkin memang tidak. Hanya saja bisakah ke depannya jangan lakukan apapun untuk mengusik kakak, bagaimanapun dan apapun yang terjadi kita tetaplah putra-putra Anda."
Bahkan jika ia kekeh mempertahankan diri di sana, Yongyu tetap bukan lawan seimbang bagi tubuh yang siap melapor ke pada raja dunia bawah.
Dengan keengganan, pada akhirnya tubuh tersebut tergerak kesamping beberapa langkah.
Menyisakan ruang kosong diantara Lexue dan sang pemuda hanya satu langkah saja.
Tangan Yongyu yang lebar perlahan meraih tubuh Lexue dengan lembut, membawanya dalam dekapan hangat kasih sayang kerinduan seorang putra.
Ada banyak rasa bercampur aduk di antara keduanya, kerinduan, kasih sayang, perlindungan, kesedihan, bahkan rasa malu bercampur aduk menjadi satu.
''Berdoalah untuk Ayahanda di nirwana ibunda, dan jika bisa doakan untuk kebahagian kami." Sambungnya lagi.
Yongyu masih memeluk erat tubuh Lexue dengan dagu berdiri kokoh, di atas pucuk kepala wanita tua tersebut.
"Bagaimanapun kecewanya kakak di masa lalu terhadap ibu, ia tetaplah gumpalan daging dari ibunda."
Yongyu tak pernah mengerti tentang hatinya yang begitu mendukung Jiang Jing wei, dengan banyaknya kekecewaan di masa lalu seharusnya sekarang telah membenci sosok kaisar Zing tersebut.
__ADS_1
Darah memang lebih kental dari pada air, perumpamaan tersebut mungkin telah membuktikan, segala sesuatu di antara mereka.
Seburuk apapun keadaan keduanya saat ini, tetap saja dirinya dan sang kakak terukir dari jiwa dan darah yang sama.
Setidaknya itulah yang terpikirkan di benak Yongyu.
Akan tetapi, ketika wanita dalam pelukannya mulai membuka suara, wajah itu tidak lagi menampilkan ekspresi yang sama.
"Saat itu kau masih kecil dan sangat memuja dirinya, haruskah memberimu keburukan dan mencoba untuk melenyapkan adiknya sendiri?."
Lexue mengetahui beberapa hal yang tak di ketahui oleh orang lain, namun ia yakin bahwa sang putra tercinta telah mengetahui hal itu.
Mendengar perkataan tersebut, Yongyu mengambil nafas panjang dan menjawab. "Mungkin ini bakti ku untuk ibu, dewa memberikan hukuman atas kecurangan ibu untuk kakak."
Lexue membulatkan mata lebar mendengar baris kalimat sang putra. dan bertanya dalam hati, sejauh mana putranya ini mengetahui segala perbuatannya di masa lalu.
Lexue mendorong tubuh gagah Yongyu, dan melepaskan diri dari pelukan hangat. "Tidak!...Tidak ada hal seperti itu."
Janda Lexue berteriak dengan keras, bahkan jika itu hanya mereka di sana, suara nyaring tersebut mungkin terdengar hingga ke beberapa penjaga di luar.
''Bagaimana kau masih membelanya, bukankah dia ingin membunuhmu dengan racun?, mengapa ia harus sekejam itu kepadamu, bahkan setelah ia duduk di atas singgasana."
Janda Lexue berubah menjadi sosok kuat dalam keinginan, bahkan dari nada suara dan gerakan tubuh disana, tak terlihat sama sekali ada sosok lembut yang tergambar sebagai teratai putih anggun dalam kenangan pemuda tersebut.
"Jangan seperti ini Bu, kita jelas tahu mengapa ia melakukan semuanya kepadaku." Yongyu berusaha menenangkan sang ibu. Ia tidak berharap bahwa hingga detik sekarang janda permaisuri Lexue, sang ibu tercinta masih tetap saja keras kepala.
Melihat tatap mata putra tercinta dan mendengar perkataan itu yang seolah menghakimi dirinya, dalam hati janda Lexue tidak terima.
Ia menghapus jarak diantara mereka dengan langkahnya yang sedikit goyah untuk mendekat, dan kembali berucap. "Apa yang kita ketahui?, dan apa yang bisa ia ketahui?."
Mata itu lekat menatap manik mata sang putra, ia begitu tegas dengan apa yang di luncurkan diantara hembusan angin di gigi.
''Ibunda..." Panggil Yongyu dengan ekspresi tak percaya, bimbang, ragu, bahkan juga enggan.
"Yang dia tahu hanya berdiri kokoh diatas sana, serta hanya menjaga tahtanya saja." Wanita masih menatap lekat manik Yongyu, dengan rasa amarah dan kesedihan yang di utarakan dalam bait perkataan.
"Bahkan jika dia telah berkuasa disana, mengapa ia masih menerapkan tangan hitam untukmu?, mengapa ia tidak mau melihat pesonanya diantara matamu saat itu?." Wajah itu masih di lingkupi dengan amarah. Bahkan, jika itu dengan gemuruh kemarahan yang besar, ia tak berdaya untuk menahan lelehan air mata.
__ADS_1