
Dalam keegoisan Biyi, ia tak akan membiarkan orang lain untuk melakukan keburukan untuk wanita itu. Khususnya tanpa perintah dan rencana darinya.
Dan Ruiyin mulai menginjakkan kaki, ke suatu wilayah yang tak seharusnya ia jamah.
Bahkan, sebelum ia memahami siapa dan apa jalinan di antara mereka, ia telah salah dan terjebak dalam khayalan sendiri.
Yang lebih buruknya lagi, wanita tersebut telah salah, dan lancang dalam niatannya.
Sungguh wanita Ruiyin memiliki keberanian yang besar.
Mendengar apa yang di utarakan oleh wanita di depannya, secara mengejutkan Biyi tertawa dengan menggelegar.
''Hahahaha....hahaha..hahaha.''
Suara tawa tersebut mengalun lepas, seolah tak ada sosok lain dalam pandangan pria itu, kecuali mereka berdua di sekitaran pondok.
Padahal, di sana bukan pondok kecil itu saja yang berdiri.
Bahkan dengan keheningan senja, suara tawa Biyi makin menggema dengan leluasa, seperti nyaringnya gelegar petir di tengah derasnya hujan.
Dengan tawa itu, Biyi seakan hendak menerapkan sisi perasaan, yang kini meremas hatinya yang hambar untuk sosok di hadapannya saat ini.
Dan Ruiyin bukan sekedar wanita pada umumnya, meski dengan tatapan terkulai pasrah, ia masih dapat memahami makna di dalam tawa sang tuan.
Secepat suara itu terhenti, secepat itu pula sebuah reflek dingin dan menusuk kuat, menembus punggungnya.
Sebuah tawa yang identik dengan kegembiraan, nyatanya telah membangkitkan bulu-bulu halus, di belakang tengkuk leher belakang wanita itu.
Ruiyin mulai merasa salah dengan apa yang ia ucapkan.
Hatinya berkata dan meneriakkan alarm tanda untuk bersiaga.
Meski demikian, ternyata reaksi yang ia lakukan masih sia-sia.
Sebuah tangan kokoh, menyentuh serta menekan kuat kulit pangkal tenggorokan yang halus miliknya.
"Aaakkhhh...Tu..tu..tuan..." Panggilnya dengan suara yang tergagap.
Bulir bening dengan cepat merembes keluar dari kedua Indra penglihatan.
Entah sebesar apa kekuatan yang di miliki Biyi, tubuh Ruiyin yang berlutut di lantai kini telah terangkat ke udara, layaknya sehelai bulu ringan yang tak memiliki bobot sama sekali.
"Berani kau membencinya."
Ucap Biyi pelan penuh tekanan, sesaat sebelum menghempas tubuh Ruiyin dengan kasar kembali kelantai.
__ADS_1
Tak ayal tubuh wanita itu, terjerembab dengan jarak tak jauh dari tempat ia semula berlutut.
Kedua bola mata Ruiyin masih membulat penuh, memikirkan apa yang terjadi dalam kilas beberapa detik barusan.
Ia tak percaya, bahwa sosok di depannya ternyata memiliki sisi seperti sekarang.
Selama pengabdiannya 6 tahun terakhir, ia telah 4 kali menerima hukuman kejam dari Biyi.
Sehingga tubuhnya telah memahami reflek dan mengembangkan reaksi yang tepat.
Namun, meski demikian ia masih tidak bereaksi ketika melihat sang tuan menggerakkan tangan perlahan, yang kembali terulur kearahnya.
Tubuh miliknya hanya semakin meringsek ke belakang, manakala mata Ruiyin menatap lekat pada sosok tubuh di depannya.
"Tuan..." Panggilnya dengan gemetar, saat Biyi semakin menatapnya intens dan duduk berjongkok tepat di depannya.
Sosok dingin yang ia kagumi dalam hati memang biasa terlihat acuh, kini semakin tak tersentuh dan menakutkan.
Bahkan tuan di depannya sekarang, seperti raja neraka yang tengah menagih pembalasan, untuk sesuatu yang telah ia pinjam.
"Tu..tuan..''
Lagi-lagi hanya dapat manggilnya dengan penuh penghambaan.
Namun sesuatu yang buruk tak akan pernah menunggu seseorang untuk siap, Bahkan belum sempat wanita itu mampu untuk mencetak dengan benar tentang kejadian di depannya, serta menenangkan ketakutan hati kecil di dada itu.
Ia kembali di kejutkan dengan tindakan Biyi kembali.
Pria itu menyentuh bibir kecilnya perlahan, menelusuri benda merah ceri tersebut dengan lembut, kemudian bergerak turun menemui bekas luka di leher.
"Jangan menebak apapun, pikiranmu tidak akan bisa mencapai itu.'' Biyi.
Nada suaranya terdengar melembut, seperti aliran ritme air yang tenang menuju hilir, dengan kedalaman yang rata.
Namun lagi-lagi, entah itu karena sekarang masih ketakutan atau memang telah memahami arah pembicaraan sang tuan, tubuh tersebut semakin bergetar dengan rasa yang tak dapat di gambarkan.
Ruiyin semakin ketakutan, bahkan dengan sebuah kelembutan dan sentuhan halus sang tuan yang ia puja di dalam hati.
Sementara Biyi yang melihat luka di leher, dan melakukan sentuhan di bibir Ruiyin saat ini, tidak menghiraukan tatapan horor wanita di sana.
Biyi masih menampilkan tatapan kasih sayang, ketika ia melihat sosok yang menyerupai kelinci kecil di depan pemangsanya tersebut.
"Sungguh sangat menggemaskan jika dia bisa melakukan tindakan seperti ini, tapi bisakah itu terjadi?, itu mungkin terjadi jika sudah menjadi akhir dunia, dan tentu saja permohonan dengan ekspresi itu tidak akan di tujukan untukku." Pikir Biyi dalam diamnya, ketika menyentuh sosok Ruiyin.
Wajah itu dan tatapan disana semakin melembut, seiring pemikiran dalam kebisuan Biyi.
__ADS_1
Sayangnya, pada wajah tegas dan tampan yang di miliki pria di sana, juga terpahat sepasang bibir tipis.
Dan dari sana, meluncurkan sebuah baris kalimat yang sama sekali berbeda, dengan apa yang kini di tampilkan oleh tatapan sepasang manik mata di baris atas.
''Sepandai-pandai dirimu, trik kecilmu ini tak akan mempan untukku."
''Dan satu hal lagi, kau tak pernah pantas untuk membicarakan ataupun membenci dirinya. Bahkan, jika kau terlahir 7 kehidupan dengan kemuliaan."
Ucapan pria tersebut memang terdengar tenang dan lembut, akan tetapi makna di dalamnya tetap saja menohok hati Ruiyin dengan hebat.
Dengan bahasa lain, bahwa sebaik apapun dirinya, semulia apapun kehidupan yang ia miliki, dan meski ia dilahirkan dalam kebaikan hingga 7 kehidupan, sekedar membenci dan berpikir buruk untuk wanita itu, ia tidak pantas.
''Siapa wanita itu?." Pekiknya dalam hati dengan keras.
Ia masih duduk terjerembab di lantai, meski tubuh gagah di depannya telah berdiri, dan balik duduk di atas kursi dengan elegan, Ruiyin masih berusaha mencerna semua yang terjadi.
"Aku akan bermurah hati untukmu kali ini, jangan melakukan kesalahan bodoh seperti ini lagi."
"Urusanku tidak perlu perhatianmu, kau bersiap saja untuk mengikuti pria ini kembali ke Tang, jangan mengecewakan waktuku yang terbuang.'' Lanjut Biyi lagi.
Tak ada lagi ekspresi wajah lembut, yang baru saja ia tampilkan beberapa saat yang lalu.
Wajah itu telah kembali datar dan dingin seperti biasa. Seperti sosok tuan yang ia kenal selama ini.
Ruiyin perlahan bergerak untuk menstabilkan diri dengan menopang tubuh dengan kedua kakinya yang masih gemetar.
Ia tahu, tak akan ada simpati untuk dirinya jika masih bersikap layaknya lotus putih yang lemah.
Karena bagi tuannya seorang wanita yang lemah tidak berguna sama sekali, dan ia tak ingin tertinggal di belakang sang tuan, menjadi benda usang tak terpakai.
Ruiyin menyeka wajah dengan kedua tangan, menebah bajunya beberapa kali untuk menghilangkan debu yang melekat, sebelum kembali berjalan mendekat dan membuka mulut untuk menjawab sang tuan.
"Pelayan mengerti tuan, mohon sekali ini beri kelonggaran untuk memandang kesetiaan wanita ini sebelumnya."
Ada ke enggannan dalam petik baris kalimat Ruiyin. Bagaimanapun, dalam hati ia masih memiliki batu berat yang terkubur dalam.
Tuannya adalah sosok tinggi dalam hati, mengapa ia harus membela, bahkan meninggikan wanita yang bahkan tidak mentolerir sang tuan.
"Tunggu hingga nanti kami bertemu di masa mendatang, kita akan menghitung segalanya.
Bahkan kekasaran tuan untukku hari ini, juga akan ku lipat gandakan kepadamu." Pikir Ruiyin dalam diamnya, ketika melangkah menuju ruangan bilik kamar di samping kiri.
Dan tanpa di sadarinya, sebuah senyum tipis sekilas tercetak di wajah pria itu, yang seolah tengah mencemo'ohnya dengan buruk.
"Adik...ada sedikit kesenangan baru telah ku siapkan untukmu." Gumamnya pelan.
__ADS_1