Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 240 Pengakuan.


__ADS_3

Hati Jiang Jing wei seolah kembali hancur berkeping-keping.


Wajah itu masih kokoh di atas kepala Ziaruo, dengan dagu yang menyentuh pucuk kepalanya.


Wanita dalam dekapan tersebut masih diam, seakan tidak memahami apa yang tengah di pikirkan oleh sang suami.


Namun, ketika semua harapan yang di inginkan Jing perlahan memudar, suara lembut dari dalam dekapan membuat tubuh itu membeku.


''Baiklah..... Wanita ini akan menjemput Weiyun.''


Jing masih tak percaya dengan pendengaran miliknya.


Namun apapun, jika tentang kebaikan meski hal tersebut sebuah mimpi, ia akan mempercayainya sebagai kenyataan.


Dan untuk apa yang di dengarnya barusan adalah sebuah kebenaran, bagaimana ia akan menyangkal pendengaran itu.


Hati Jiang Jing wei di penuhi dengan kebahagian.


Bibir tipisnya melengkung indah, tanpa ia sadari.


Ternyata sesederhana itu memperoleh kebahagiaan, bukan tahta dan harta benda semata.


Sebuah persetujuan atas suatu pemintaan, nyatanya sebuah keindahan perwujudan, sebuah kebahagiaan terbesar yang ia rasakan sekarang.


Ziaruo terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan perkataan.


"Namun ada satu hal yang harus wanita ini katakan sebelumnya."


Jiang Jing wei yang telah di penuhi dengan kebahagiaan, atas ketersediaan Ziaruo kembali kepadanya, secara cepat menjawab. "Apapun itu Yun, kau boleh memintanya. Sebutkan saja apa keinginanmu."


Jing reflek melepas pelukan dan membawa Ziaruo tepat di depan dirinya.


Kini dengan posisi yang saling berhadapan, pria tersebut juga bisa melihat raut wajah serta setitik kecemasan disana.


Meski, Jing menyalah artikan perkataan Ziaruo, sebagai sebuah syarat untuk kepulangannya, hal tersebut tak membuat wanita itu merasa heran.


Ziaruo menatap balik Jing yang tengah antusias, serta pendengaran terpasang dengan baik.


Ia sempat sedikit ragu sejenak, dan berusaha untuk memilih penyampaian yang tepat, untuk suaminya tersebut.


''Ini bukan salah siapapun, atau demi apapun Baginda tidak di izinkan untuk menyalahkan orang lain, khususnya Weiyun.''


Suara itu terjeda sejenak, wanita itu menatap dan mencoba menelisik reaksi dari sosok di depannya sekarang.


Dan benar saja, meski sekilas kedua alis Jiang Jing wei mengerut sejenak.


Meski sedetik kemudian, tampilannya kembali biasa.


Ziaruo menarik nafas sedikit panjang, dan mulai membuka bibir kembali. "Wanita ini sekarang tak jauh berbeda dengan wanita lainnya.

__ADS_1


Di saat datang ke Yincang setelah pertempuran saat itu, kondisi tubuh ini tak dapat lagi mengontrol, serta menjaga bayi dari titik balik kekuatan sendiri."


Ziaruo semakin menatap lekat kearah manik mata Jiang Jing wei.


Dengan dirinya kehilangan kemampuan untuk melihat pemikiran orang lain, semakin ia penasaran dengan tanggapan serta pemikiran Jing.


Khususnya untuk hari ini dan untuk hal yang sedang ia sampaikan.


Wanita itu, tidak akan memberi kesempatan kepadanya, jika ada sedikit saja perasaan menyerah, kecewa bahkan iba untuk kondisinya sekarang.


Ia hanya ingin kepedulian serta ketulusan untuk kasih sayang dari sosok di depannya tersebut.


Tidak untuk sebuah rasa kasihan ataupun kehinaan untuk sebuah paksaan.


Dalam hati dan pikiran Ziaruo, ia tak pernah merasa buruk atas apapun yang telah terjadi kepadanya.


Namun, ia juga ingin memastikan bahwa Jing juga berpikir serupa.


Meski, dirinya telah kehilangan kemampuan magis, serta telah sempurna menjadi sosok manusia biasa.


Tak di perlukan untuk sisa waktu yang ia miliki, di samping sosok pria yang berbelas kasihan, dan menganggap dirinya dengan pandangan menyedihkan.


Ia hanya ingin mendapatkan perlakuan semestinya, sebagai seorang istri tanpa mengurangi rasa hormat yang ia terima seperti sebelumnya.


"Mungkin akan banyak hal yang membutuhkan bantuan Anda.


Dan ke depanya, wanita ini akan sering terluka serta merepotkan.''


Dan jika itu terjadi, ia telah berencana untuk tetap menetap, serta mempertahankan Weiyun di Yincang hingga hari terakhirnya datang.


''Wanita ini bukan lagi sosok dewi dengan takdir Phoenix. Hanya manusia biasa yang sama seperti para selir di istana dalam Baginda."


Ziaruo perlahan membuka lengan baju kiri miliknya.


Ia menunjukan gambar yang menyerupai seekor burung Phoenix, yang semula keemasan, kini berubah menjadi warna merah kecoklatan.


''Saya telah melepas segalanya untuk menjaga Weiyun di saat itu. Dan tentu saja segalanya adalah setimpal.


Bahkan, jika waktu di putar kembali wanita ini tidak akan berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sa...."


Ziaruo belum sempat menyelesaikan perkataan, sebuah pelukan erat kembali merengkuh tubuh itu.


"Aku mencintaimu Yun. Aku selalu mencintaimu, sejak pertama pertemuan kita hingga sekarang.


Bukan tentang apa yang kau bawa dan miliki.


Aku tidak peduli dengan semuanya. Bahkan, jika jiwa dan raga ini terpisah, dan kaisar ini yakin, selamanya hati ini hanya memiliki dirimu.''


''Ia sosok Jiang Jing wei dengan hati Zhanglei, akan selalu menjadi milik Ziayun.

__ADS_1


Dan Ziaruo akan selalu menjadi Ziayun miliknya.'' Lanjutnya dalam diam.


Suara itu, serta pengutaraan perasaaan yang mendalam dari bibir Jing, membuat hati Ziaruo menghangat.


Perlahan ia memejamkan mata, dan dari sudut mata itu mengalir bulir bening yang lancar.


''Aku mencintai apapun dirimu. Siapapun Ziaruo, dia akan selalu menjadi satu-satunya wanita pemilik hati kaisar ini." Lanjut Jing lagi.


''Ia dan wanita ini, akan mengabdi untuk Anda sebagai sosok istri sepenuhnya, meski itu hanya sebatas di kehidupan ini." Sahut Ziaruo dalam hati.


Entah itu karena dirinya yang telah berubah menjadi sosok sekarang.


Atau karena telah tersentuh ketulusan Jiang Jing wei, Lagi-lagi Ziaruo merasakan gambaran kebahagian untuk kehidupan saat ini.


........................


Meninggalkan pasangan yang tengah saling menguatkan, serta berbagai kasih sayang di penginapan.


Dan beralih di tengah kota lain, tepatnya di sebuah kota yang berada di balik hutan kaki bukit kecil.


Seorang pria dengan pakaian yang menampilkan sosok sebagai pelajar, tengah memutar cangkir teh di atas meja.


Menggerakkan benda kecil tersebut, ibarat sebuah mainan yang tengah bergulung memutar ke sembarang arah, sesuai perintah jari sang pria.


''Jadi ia sekarang di penginapan itu. Apa ada yang lain?.'' Ucapnya masih dengan nada tenang.


''Seperti yang di perkirakan, sepertinya wanita itu bukan seseorang dengan latar belakang sederhana, dari pengamatan pelayan, penginapan tersebut telah di tutup untuk tamu lain dua hari sebelumnya.''


Pria penjaga tersebut berhenti berucap, ia berdiri dan menyerahkan secarik kertas yang telah ia ambil dari balik baju.


''Meski siapa yang melakukan itu tidak dapat di konfirmasi, namun dari status pemilik penginapan dapat di tebak siapa orang tersebut.''


Setelah menyerahkan kertas, pria penjaga kembali menunduk, dengan sebelumnya memundurkan tubuh dua langkah kebelakang.


Hal ini mampu di tebak bahwa pria di depannya, yang di sebut sebagai pewaris itu memiliki posisi yang tak dapat di pandang sebelah mata.


''Oh...menarik, semakin aku mengetahui semakin aku tertarik.'' Ucapnya dengan senyum tipis tersembul di bibir.


''Jangan lakukan apapun, cukup amati saja. Jika seperti apa yang kita ketahui, mungkin sekarang kehadiran para penjaga bayangan, telah di sadari oleh mereka.''


''Baik, pelayan mengerti." Jawab sang pria penjaga, sebelum melesat pergi dari sana.


Meninggalkan sosok tegap sang pewaris, dengan cangkir yang masih berderak, memutar atas perintah jari-jarinya.


''Baidu, apakah ia Ziaruo yang tersohor itu?.''


Ucapan itu, terlontar dari bibir sang pewaris Xia dengan lancar, di dalam ruangan yang kosong.


Namun sedetik kemudian, sebuah bayangan muncul entah dari mana, dan dengan ketenangan menyahuti pertanyaan tersebut. ''Itu bisa menjelaskan segalanya dengan jelas pewaris."

__ADS_1


"Kau benar, jika itu dia segalanya pasti mungkin. Sosok dengan keindahan yang seperti itu, hanya bisa menjadi sosoknya saja.''


__ADS_2