Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 10 perusak tawuran


__ADS_3

" pak. maaf. demi menyelesaikan misi dengan tuntas. kami harus menyertakan rekaman video pribadi anda dengan nona Yuni."


pak Erwin mengangkat kepala dengan bingung. Ibnu meletakan laptop dihadapan pak Erwin yang menampilkan beberapa adegan mesra pak Erwin dan Yuni dikantornya.


dengan mengusap wajah gusar " untuk apa?"


" dikirim ke Nyonya Amara."


setalah beberapa saat Pak Erwin menganggukkan kepala pertanda mengerti tujuannya. " silahkan kirim."


" dan sekalian ungkapan cinta nyonya Amara beberapa hari yang lalu. ini untuk Pak Edi. yang saat ini berstatus kekasih nyonya Amara."


" Edi Baskoro? pengusaha kuliner no 1? bukannya beliau sudah beristeri" yang diangguki oleh Ibnu.


setelah terdiam beberapa saat.


" silahkan."sekalian tenggelam aja pikirnya.


" kami janji secara profesional. tidak ada rekam jejak anda.tapi secara pribadi.....ehmm...ehhm." kikuk Ibnu.


" saya siap mengambil resiko."


" baiklah dalam waktu 2 jam, insyAllah semuanya clear."


*******


Dua jam kemudian.


TV LED ukuran 60 inci. menampilkan tulisan 'CLEAR.'


dengan tatapan bingung, kaget,terkesan, takjub bercampur menjadi satu pak Erwin masih menatap layar tv linglung.


dari sekian banyak adegan yang bisa dia tangkap hanya notifikasi video Erwin dan Yuni yang masuk ke hp Amara dan amarahnya. notifikasi video ungkapan cinta yang penuh godaan Amara kepada Erwin dan penolakan Erwin yang masuk ke Pak Edi dan marahnya. kecepatan perpindahan uang antar rekening. dari rekening pak Edi ke Amara, Amara ke Yuni, Amara ke Erwin, Yuni ke Erwin dalam hitungan menit, video dan rekam suara upaya sabotase cafe' oleh Baskoro group atas keinginan Amara. penipuan dan kebohongan Yuni dan Amara terkait cafe D'lima ke publik. dan masih banyak lagi.


" WOW" pak Erwin tak henti takjub


" yakin semuanya selesai? tak ada jejak?" pak Erwin meragu


" seperti yang anda baca CLEAR. tak ada jejak, tak terdeteksi. BERSIH." tegas Ibnu.


" saya gak bakalan nanya bagaimana. karena saya gak bakalan ngerti."


" saya gak akan berhenti ucapkan terimakasih...."


sementara pak Erwin berbicara. empat pemuda tersebut berberes segala peralatan mereka.


" pak untuk peralatan yang dibawah besok malem aja ya." ucap Mumtaz.


" bisa gak yang dibawah tidak usah dicabut."


empat pemuda itu saling menatap. Jimmy maju dan duduk berhadapan dengan pak Erwin.


" hanya klien kami yang menggunakan peralatan kami."


" klien?"


menyodorkan kartu nama " RAHASIYAH." "perusahaan kami dibidang jasa pengendali keamanan."


" kami bertanggung jawab mengamankan rahasia dan segala hal terkait operasional perusahaan. seperti yang bapak lihat tadi...."


tok....tok....tok....


pintu dibuka tergesa.


salah satu pegawai dengan kepanikan " maaf pak mengganggu, tapi dibawah terjadi keributan maha dahsyat yang dilakukan antara Nyonya Amara dan mbak Yuni."


semua orang yang berada dicafe lantai satu terperangah ngeri melihat perkelahian yang dilakukan oleh dua wanita dewasa.


saat melihat Erwin. Yuni berteriak " pak tolong saya. badan saya luka semua ini" posisinya dibawah tubuh Amara yang dengan mengerikannya satu tangan menarik jambakan rambut, dan satu tangan lagi menampar tanpa ampun wajah Yuni. sang empunya hanya mampu teriak minta tolong.


tanpa menoleh " jangan ngebantu dia Erwin.* teriak Amara. pak Erwin hanya mengangkat tangan sambil menaikkan kedua alisnya.


setelah puas, masih duduk diatas tubuh Yuni. Amara mengalihkan tatapan kepada Erwin yang membuat empat pemuda maju pasang badan melindunginya.


tiba-tiba tatapan murkanya dialihkan kepada Zahra yang berdiri tak jauh dari tempat kejadian disamping meja berpelanggan.


mata menyalang, raut murka, penampilan berantakan. Amara menghampiri Zahra hendak melayangkan pukulan. melihat gelagat itu dalam sekejap Mumtaz menghadang, menyembunyikan Zahra dibelakang tubuhnya dan mencekik leher Amara sehingga Amara tepekik karena kekurangan oksigen.


" jangan berani mencoba mendekatinya. atau kau tinggal nama." sangar Mumtaz.

__ADS_1


ketika suasana tegang, pintu cafe' terbuka menampakan Hito dan Heru yang terbelalak kaget menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya.


dengan tergagap dan tangan mencoba melambai-lambai minta pertolongan, Amara " Hi..to...tolong aku. anak benalu ini mencelakaiku." jeritannya semakin kencang seiring semakin erat cekikan itu.


Hito mengalihkan tatapan antara Amara dan Zahra yang berada dibelakang tubuh Mumtaz beberapa kali. tangannya terulur mengambil lengan Zahra dan membawa zahra kebelakang tubuhnya.


Amara terhenyak kaget. dengan wajah datar Hito berucap " apa yang kau lakukan padanya?" matanya melirik ke arah zahra.


membuka mulut dengan maksud ingin berucap.disela Mumtaz " kalo kau berbohong, kau akan mendapatkan lebih dari ini." diucapkan dengan suara pelan tapi kasar.


Mumtaz menghempaskan cekikannya sehingga Amara jatuh terduduk dilantai dengan terbatuk-batuk.


" apapun yang ingin kau katakan aku tidak peduli. ku peringatkan kau, sebaiknya kau menjauh." lewat matanya Hito memberi tanda ke arah Heru. dan Heru membuka pintu cafe' lebar-lebar.


" kau Yuni. saya pecat." ucap pak Erwin kepada wanita yang berpenampilan menyedihkan.


**********


dikantor CEO D'lima


" jadi semuanya sudah beres?" tanya Heru.


" Alhamdulillah. mereka sudah membayar kejahatan mereka."


" kau bilang satu Minggu, tapi kurasa ini belum seminggu?" Hito penasaran


" mereka menargetkan begitu, tapi ternyata hasilnya lebih cepat."


" bagaimana dengan kesepakatan investasi gw?"


" gw terimakasih banget kalo Lo masih mau lanjut."


" tentu. gak ada alasan kenapa gw harus stop. kedepannya maybe gw bakal sering mampir. jangan bosen Lo" sarkas Hito.


" silahkan. gak lah mana ada gw gitu." tutup Erwin.


Erwin menepuk jidatnya " waduh kerja kegaduhan tadi lupa gw traktir mereka pizza. malem Minggu aja ah. Dateng Lo berdua."


" hhhmmmm."


*********


triririring.....bel pulang sekolah


" horree...horreee.... kita pulang....." yang pasti sorak norak anak-anak BINAKU BANGSA.


"AAA....aaaaaaa....AAAAA.....Aarrrghhh" jeritan siswa-siswi didepan gerbang sekolah. yang berhamburan masuk kembali ke kawasan sekolah. karena gerbang dilempari berbagai bentuk benda keras.


" WOY SINI LO PADA.....PANGGIL PANGLIMA BARA LO.." teriak salah satu diantara mereka diiringi deru motor-motor sport mencoba mengintimidasi. sekolah seakan telah terkepung oleh ratusan anak berseragam putih abu-abu tetangga, BINA BANGSA. memenuhi jalan utama dan menimbulkan macet. teriakan dan ke bar-baran mereka menarik perhatian orang-orang sekitar. yang dari jauh berkumpul banyak dari mereka mengangkat tangan memegang hp, mencoba merekam kejadian. menambah kemacetan pengguna jalan lainnya bahkan banyak pengendara motor berhenti turut menonton kejadian.


para siswa yang paham keadaan tidak kondusif secara inisiatif menggiring para siswi masuk kembali ke kelas. sedangkan para siswa bersiaga depan gerbang bagian dalam bersebrangan dengan pihak lawan.


Yuda, sang ketua OSIS. maju selangkah. " punya urusan apa kalian serbu kesini."


" diam lo. jangan banyak bacot. Lo cukup serahin Bara. perkara selesai." teriak Brian, sang pemimpin ditangannya memegang balok kayu.


" untuk?"


" dibilang jangan banyak bacot. mana Bara yang katanya sang legenda tarung...atau udah berubah jadi sang PENGECUT." lawan mencoba memprovokasi.


" gak ada. Lo salah kalo nyari dia disini."


" kenapa? takut. dia ketauan hoax tentang keberaniannya...."


selagi keadaan digerbang sekolah memanas. dua orang siswa berlari panik mencari sosok yang dicari. tapi tak kunjung hasil. dikoridor dekat mushola tampak seseorang yang tak asing berjalan santai..


" Mumtaz,...." panggil mereka


yang dipanggil menoleh kebelakang. " ya...?"


" mau kemana?" tanya salah satunya


mengangkat tangan yang memegang sajadah " ke mushola. Napa? mau ikut?" tawarnya.


menggeleng kepala, tanpa kata, tanpa kode dua orang itu menarik tangan Mumtaz yang mendapat perlawanan dari sang empunya. selama perjalanan mereka menjelaskan apa yang terjadi.


sepanjang jalan koridor mereka diiringi teriakan ketakutan dan tangisan para siswi.


suasana makin memanas.saat ini gerbang digoyang-goyang paksa pihak luar sambil berteriak mengucapkan kata-kata provokatif. sebagian siswa sekolah BINAKU BANGSA ada yang tersulut emosi dan balas teriak.

__ADS_1


menghela nafas kasar. dengan menggunakan toa yang diambil digudang peralatan Mumtaz berkata " PERMISI-PERMISI AIR PANAS,...AIR PANAS."


seketika hening, karena kaget. suara itu membahana. dengan langkah santai Mumtaz melewati brikade teman-temannya yang secara sukarela memberi jalan. dia membuka sedikit pintu gerbang dan melewatinya. memberi tanda lawan tuk mundur.


tanpa bicara dia menggelar sajadah dan menunaikan shalat ashar ditengah-tengah dua pihak yang emosi. shalat yang sejatinya dilakukan dengan bacaan surah secara sunyi, sengaja Mumtaz keraskan bacaan surahnya. tak ada yang berani menyela, memprotes. sampai selesai shalat tersebut suasana tetap hening.


melepas peci, melipat dan memasukannya kedalam saku. semua tindakan itu diperhatikan serius oleh semua pihak.


Mumtaz berdiri menghadap lawan dengan tenang berucap " ada perlu apa sampean datang kemari?"


seakan tersadar dari hipnotis. lawan gelegepan sesaat dan menetralkan raut wajah.


memperhatikan Mumtaz dari atas sampai bawah, menimbulkan kekehan menyepelekan. " serahin Bara." ucap lantang Brian


" kenapa? ada perlu apa?"


" jangan ngebacot. itu urusan kita."


menoleh kebelakang kearah teman-temannya. dijawab gelengan kepala.


" gak ada Bara. katanya."


kesal merasa diledek. sang pemimpin maju melangkah mendekati Mumtaz dengan tatapan nyalang. menunjuk dada mumtaz dia mendesis,


" gw gak punya urusan sama Lo. PERGI atau Lo jadi pengganti Bara ngerasain Bogeman gw."


menghempaskan telunjuk didadanya Mumtaz membalas dengan tajam " saya juga gak mau tau urusan bromance kamu sama Bara. tapi kamu udah ngeganggu sekolah saya." mendengar kata 'bromance' cekikikan terdengar dari belakang Mumtaz.


" terus Lo mau apa kalo gw ganggu sekolah Lo?" tantangnya geram


" ga ngapa-ngapain, selain kamu harus pergi dari sini. orang-orang udah pada kangen kasur."


BUGH....


pukulan, Mumtaz terima diperutnya. karena tidak siap, dia termundur sedikit. teman-teman yang lihat, kembali emosi dengan teriakan dan siap maju setelah beberapa saat lalu bisa teredam namun ditahan-tahan para sohib Mumtaz dan Bara. sang lawan tersenyum smirk merasa diatas angin dengan siaga mereka mengeluarkan senjata yang mereka bawa.


" ADA APA INI?" teriak seorang guru dari belakang disertai beberapa guru. mereka menyusul kedepan karena teriakan takut dari para siswi yang tak kunjung pulang.


Pak Abun berdiri disamping Mumtaz yang berdiri tenang.


" ada apa kalian bikin ribut disini." tanyanya kepada sang pemimpin.


mengedipkan bahu dia menjawab selengean raut nyebelin " gak maksud. kalo anak sekolah ini gak bikin onar."


pak Abun menoleh ke Mumtaz. Mumtaz menggelengkan kepala tanda tak tahu.


" maksud kamu?"


" gw cuma minta serahin si Bara, tapi mereka gak ngasih."


" Baranya gak ada pak." bisik Mumtaz.


" kamu denger sendiri si Baranya gak ada. udah pulang sana, mandi, ganti baju, minum susu. terus istirahat." ujar pak Abun mencoba tenang.


BUGH... pukulan keras diwajah diterima pak Abun dari Brian yang mengakibatkan pak Abun tersungkur meski tak sampai jatuh ke aspal karena ditahan Mumtaz. semua orang terhentak kaget, tidak menyangka Brian dapat melakukan kekerasan terhadap guru.


dengan nafas memburu dan tatapan marah merasa disepelekan Brian maju melangkah hendak memukul kembali, namun dihadang oleh Mumtaz dengan pukulan keras dijatuhkan tepat pada ulu hati Brian dengan telak.


BUGH....Brian langsung terkapar, terbatuk mencoba menarik nafas. melangkah mendekat dengan amarah, satu kakinya menginjak lengan Brian yang memukul pak Abun. berdiri menjulang diatas tubuh tak berdaya Brian.


" MINTA MAAF. gw udah bilang gw gak peduli urusan Lo sama Bara atau siapa pun. tapi lain hal kalo Lo bersikap kasar pada guru. MINTA MAAF." dengan menekan kakinya ke lengan Brian.


meringis kesakitan, namun tak jua jera, setelah mampu benafas Brian mencoba mene'kel kaki Mumtaz dengan kakinya, namun kaki Mumtaz mampu menghindardan menendang keras perut Brian. oleh sebab satu kaki masih menginjak satu lengan Brian, maka setengah tubuh Brian terdorong berlawanan sehingga terdengar suara putusnya bahu tangan Brian.


aaaaaaaarrrrghhhhh...... jeritan nyalang kesakitan dari mulut Brian membuat orang ketakutan dan meringis. seakan mereka merasakan nyerinya.


beberapa temen Brian mencoba melakukan pembalasan dengan secara serempak menyerang Mumtaz, teman sekolah yang melihat itu bereaksi yang langsung ditahan oleh para sohib Mumtaz dan Bara. agar tak terjadi perkelahian hebat dan meluas


dengan mudah Mumtaz meladeni upaya mereka. dalam waktu singkat para lawan terkapar tak berdaya.


seperti dikomando, melihat teman mereka kalah, maka sekelompok teman lainnya meju menyerang, tetapi segera Mumtaz mengangkat satu tangan memberi tanda stop


menatap tajam lawan, Mumtaz berucap " silat, karate, taekwondo, beberapa beladiri yang gw kuasai. sekarang gw mendalami judo dan muay-thai. kalo lo pada sanggup melawan, gw jabanin, kalo gak, mundur."


nyali mereka ciut, secara perlahan lawan mundur. mereka sadar mereka tak akan memenangkan arena ini.


" woy kalo mau kabur bawa temen Lo. apa temen Lo mau kita bikin teriyaki." teriak Jimmy yang melihat lawan membubarkan diri.


" dikira kita bakal ngerawat mereka kali. CUWIH." sambung Rizal,sohibnya Bara.

__ADS_1


mau tidak mau mereka mengangkut teman-teman yang kalah tarung.


__ADS_2