Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 28. Menyingkirkan seseorang yang merepotkan


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jimmy menelpon direktur rumah sakit.


" hallo,..." jawab orang di seberang dengan suara serak khas bangun tidur.


" prof. Wawan, ini Alfaska Arsyara Atma Madina. siapkan tindakan terbaik pasien luka parah darurat oleh dokter terbaik."


" baik tuan, kami siap."


" terima kasih." Jimmy menutup sambungan telponnya.


******


Rumah Sakit Atma Madina


Begitu mobil Daniel berhenti di depan IGD, direktur rumah sakit, para dokter dan para perawat yang sudah menunggu langsung memindahkan Mumtaz yang tampak lemas karena banyaknya darah yang keluar dari mobil Daniel ke brankar.


Melihat darah yang terus keluar, mereka langsung menuju ruang intensif pra operasi yang merupakan ruangan guna pertolongan pertama pasien kritis persiapan sebelum tindakan operasi.


selama tiga jam Mumtaz mendapat perawatan instensif dari para dokter terbaik yang terdiri dari dokter bedah, dokter anastesi, dan dokter kulit dan kelamin beserta para perawat terbaik.


******


pukul 02.30 wib


Zahra yang sedang berdiri di lobby rumah sakit sedang menunggu Ziva pulang bareng ke apartemen Ziva.


.


" Zahra, untung Lo belum pulang." panggil salah satu rekan koasnya


" kenapa Lo Ra, malem-malem marathon?" tanya Zahra heran melihat teman koasnya berlari menuju padanya.


" adik Lo, gw denger dari gibahan IGD, adik lo masuk rumah sakit dalam keadaan terluka parah."


Zayin dan Mumtaz yang sering mengantar dan menjemput Zahra memang sudah dikenal banyak teman-teman Zahra di rumah sakit.


Zahra dengan kecepatan penuh langsung menuju lift ke lantai teratas.


" dia kabur. kan gw belum bilang adiknya di ruang pra operasi. hadeeuhh." Hira menepuk jidatnya.


*****


saat ini Mumtaz telah dipindahkan ke ruang inap lantai teratas Atma Madina privat.


dalam satu kamar terdapat dua ruang, satu ruang inap pasien, dan satu ruang tunggu.


" bagaimana dok? tanya Jimmy waspada


" Alhamdulillah tidak ada luka Berat. pasien mendapat beberapa jahitan guna menghentikan pendarahan, dan infeksi."


"beberapa hari ke depan pasien akan mengalami demam diakibatkan luka, kami akan memantau 24 jam." ucap prof Farhan.


" bagaimana dengan bekas lukanya ?" Jimmy menatap dokter Anggi. spDV


" untuk saat ini difokuskan untuk memulihkan luka dahulu, minimal lukanya kering. setelahnya baru diadakan pemeriksaan lanjutan." jelas dokter Anggi.


" berapa lama masa penyembuhannya? tanya Daniel.


" tergantung reaksi tubuh nya terhadap obat-obatan dan asupan makanan pasien. pada umumnya sekitar dua sampai empat Minggu." jelas dokter Danu salah satu team dokter bedah.


" hemm. baiklah. kalau begitu. saya hanya menekankan kepada kalian lakukan yang terbaik." tegas Jimmy.


" baiklah tuan..."


" Alfa, panggil saja saya Alfa prof. risih kalo dipanggil tuan berasa udah sepuh." Jimmy mencoba mencairkan suasana.


" baiklah Alfa. Pasti kami lakukan yang terbaik." prof. Wawan memastikan


" baik. terima kasih atas kerja samanya. maaf mengganggu waktu istirahat kalian."


" bukan masalah. itu sudah tugas kami. jika ada sesuatu yang diperlukan bisa panggil staf kami. mereka berjaga selama 24 jam. kami permisi." pamit para dokter diwakili oleh prof. Wawan.


****


ruang tunggu


saat ini di ruang tunggu tersisa Ibnu, Daniel, Jimmy, Rizal, dan Ubay, Jeno.


sebelumnya para ketua geng komplotan turut menunggu selama perawatan intensif Mumtaz.


PLAKKK..PLAAAKKK!!!!!


tamparan bolak-balik di kedua pipi Bella diberikan oleh Jimmy dengan dada memburu dan rahang mengetat.


" gw udah bilang Lo gerak, Lo mampus ditangan gw " desis menakutan dari Jimmy.


" kalo lo pake otak kecil lo sedikit aja buat nurutin omongan Mumtaz, dia gak akan terbaring di sini." hardik Jimmy marah


Jimmy menarik kerah baju Bella erat dan mengangkatnya hingga tubuh Bella pun turut terangkat. raut ketakutan dari bella tidak dia gubris.


eratnya genggaman Jimmy di kerah Bella sampai mencekiknya. Bella kehabisan oksigen, dia memukul-mukul tangan Jimmy agar melepasnya, namun Jimmy tetap bergeming.


dia suka melihat Bella yang dibencinya menderita


dari luar terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari banyak orang


BRAK!!!


pintu terbuka lebar dengan paksa, di sana ada Zayin, Tia, dan mama Aida. nafas mereka memburu menahan tangis


Jimmy melempar enteng Bella ke tembok. berbalik beranjak mendekati mama


BUKGH!!!


Bella menangis bercampur sakit dan takut. dia terduduk lemas dengan kepala sakit akibat tamparan Jimmy.


Daniel, dan Ibnu juga menghampiri mama Aida


" maaf. gagal melindungi Mumuy" ucap menyesal Jimmy membawa mama kepelukannya, Daniel dan Ibnu turut memeluk mama.


dalam pelukan mereka mama menangis pilu dan menyayat hati. membuat yang lain menunduk turut menangis menyesal.


Tia menangis dalam pelukan Zayin yang memeluk erat Tia saling menyalurkan kekuatan dan ketabahan. sampai mata Tia memfokus satu titik pada seorang perempuan.


melepas pelukan Zayin, dia mendekat, menarik, dan memukul wajah Bella dengan keras tepat di tulang pipinya.


"Aaaa..."


teriakan Bella mengalihkan perhatian orang yang ada. mereka terhentak kaget dengan apa yang dilakukan Tia.


Tia melangkah mendekat, menginjak tangan Bella dan berdiri menjulang dihadapan Bella


" aaaa...." jerit Bella keaskitan.


" Lo, Lo...kesialan dalam hidup kakak gw." Tia mengucapkannya dengan suara pelan tenang menakutkan


menekan pijakan kakinya ditangan Bella menghiraukan luka-luka di wajah Bella


"AAAAA....." Bella terus menjerit kesakitan


PLAKK!! PLAKK!!!


Bella menerima lagi tamparan di wajahnya. wajah yang penuh luka diseluruh permukaanya. Bella pasrah, dia tak berdaya lagi.


Tia menyeret Bella melewati orang dalam ruangan, menggeser tubuh Zayin yang terpaku dia ambang pintu dan menghempaskan di koridor rumah sakit sampai menubruk sederet kursi tunggu.


kak Zahra yang hendak masuk ruangan melebarkan mata tersentak kaget melihat orang yang dilempar layaknya barang rongsokan.


" balik Lo. jangan setor muka Lo dihadapan kakak gw lagi atau Lo celaka seumur hidup Lo." Tia mengancam. masuk ruangan menutup pintu dengan keras di depan wajah kak Ala yang mengelus dada sabar.


kak Zahra membuka pintu ruang inap mendapati Mumtaz yang terbaring miring dengan senderan guling. mendekat, dan memeriksa suhu tubuh dan lukanya.


menghela nafas letih beranjak ke ruang tunggu


mendapati para sohib Mumtaz dan keluarganya duduk mengelilingi meja.


" sekarang udah jam empat kalian langsung pada istirahat aja ya. besok kakak akan minta penjelasannya." kak Ala memberi titah pada para remaja itu.


mereka menoleh ke kak Ala dan menganggguk.


sebelumnya pihak rumah sakit telah menyediakan tambahan kasur lipat untuk para penunggu yang ada.


tanpa komando mereka langsung tidur begitu menempel di kasur.

__ADS_1


" kalian tidur aja. biar kak Ala yang jaga Mumtaz." ucap kak Ala pelan sambil mengusap wajahnya. sebenarnya dia lelah dan ingin istirahat, tapi dia khawatir pada kondisi Mumtaz.


tanpa kata Zayin menggandeng kakaknya ke ruang inap. dia merubah sofa menjadi tempat tidur dan menarik kak Ala untuk tidur.


ketika Zahra ingin bangun " tidur. kakak yang lebih butuh tidur. Ayin yang jaga Aa Mumuy. sekalian mau tahajud." tegas tak terbantahkan.


terlalu letih untuk melawan kak Ala langsung menutup mata.


****


para sohib Mumtaz dan para sohib Bara duduk mengitari meja untuk sarapan.


" Bara Dimana Jim?" tanya Daniel.


" di Jepang. sama bokap Lo juga. lagi ngurus proyek pengembangan robotik pengintai."


" heh. Atma Madina mulai melirik dunia keamanan?"


" ga tau. tapi gw saranin ke dia jangan. biar Birawa aja. kita jangan ikut pusing." Jimmy menjelaskan yang mendapat dengusan dari Daniel.


" ini gimana dah nasib Mumtaz, kan Minggu depan kita UN" tanya Ibnu.


" kakak tadi subuh udah telpon Akbar supaya kesini ngomongin kerja sama yang tertunda itu. kita siap join kalo Hartadraja bersedia memindahkan UN Mumtaz ke sini." ujar kak ala sambil meminum teh.


" cuma Mumtaz?" Jimmy menyelidik.


kak Ala mengangkat mengedikan bahu " kalo kalian ingin, kenapa enggak sekalian!"


Jimmy, Ibnu dan Daniel nyengir senang sambil bertos tangan.


" kita juga Jim." Rizal menawarkan diri


" dih ogah. Lo anak IPS."


" entar Bara marah Lo kalo gak dipindahin juga?" Ubay menakuti Jimmy.


" dih dikira gw takut sama dia. kagak woy. kagak!" sewot Jimmy.


Jimmy menelpon Akbar dengan senyum sombong.


***


tok...tok...


pintu dibuka dari luar oleh Akbar yang datang bersama om Damar dan om Hito.


mereka bersalam cium tangan om Damar dan om Hito.


" gimana keadaan Mumtaz? tanya Akbar.


" masih sama belum ada perubahan. sekarang dia malah demam." ucap Ibnu.


" kalian gak sekolah?". tanya om Damar.


" enggak. nemenin mama Aida. kak ala kan bentar lagi shift." jawab Daniel memperhatikan kak Ala yang sedang melamun.


om Hito mendekat berjongkok di depan kak Ala " kenapa?"


Ala kaget dengan kedatangan Hito tersentak " eh gak apa-apa. kok di sini?"


" tau dari Akbar. mama mana?". tanya Hito. kak ala mengantar om Hito, Akbar, dan om Damar ke ruang inap


" assalamu,alikum Tante." salam om Hito." mereka bersalam cium tangan ke mama Aida.


" gimana keadaan Mumtaz?" tanya om Damar


" wa, alaikumsalam. Alhamdulillah. cuma demamnya belum turun." jelas mama


Akbar mendekat ke ranjang Mumtaz, memperhatikan Mumtaz tidur dengan wajah pucat.


" kami turut perihatin atas apa yang menimpa Mumtaz." ucap om Damar bersimpati.


" terima kasih. mohon do,Anya atas kesembuhan Mumtaz."


" semoga lekas sembuh. ammiinn." bersama mereka mengamini.


" kak, sarapan dulu gih. bentar lagi tugas kan" saran mama.


" kamu belum sarapan? ini udah jam sembilan loh." tanya Hito. Zahra menggeleng.


mama mengangguk " iya bawa sana Hito, dari semalam kayaknya Ala belum makan"


******


cafe Roume


Hito membawa Zahra ke cafe depan rumah sakit, Zahra memesan nasi goreng Mozarella.


" kok gak bilang Mumtaz sakit?" tanya Hito yang mengelap sudut bibir Zahra yang tersisa keju.


" aku juga masih ngeblank. tidur jam empat an subuh dibangunin Ayin karena Mumuy demam tinggi. yaa.. terus gak inget apa-apa."


" kamu udah makan?" tanya Zahra.


" udah. di rumah. waktu sarapan dapet telpon perihal Mumtaz dari Akbar."


Zahra menggigit bagian dalam bawah mulutnya, tangannya bergerak sembarang arah di piring.


"em...soal kerja sama..."


" husshh...Akbar udah jelasin. papa setuju pindahin UN Mumtaz dan teman-temannya."


" bukan karena kerja sama, tapi karena sudah seharusnya demikian." Hito menyela Zahra.


" masuk jam berapa?" tanya Hito


" jam satu an sebenarnya, tapi prof Farhan minta masuk jam 11an buat penelitiannya."


" abisin makannya. apa mau disuapin?" Hito menarik turunkan alisnya jahil.


" dih alay." cibir Zahra. Hito terkekeh.


*****


sudah beberapa hari Mumtaz dirawat keadaannya pun mulai membaik. demamnya sudah turun.


mama Aida memaksa para sohib Mumtaz untuk pergi ke sekolah. beliau paham mereka menunggui Mumtaz hanya sekedar modus karena malas sekolah.


Bella yang sudah beberapa hari ini selalu berkunjung ke rumah sakit. dia pernah ikut menjenguk Mumtaz bareng teman sekelas Mumtaz, tapi dia ditolak masuk ruangan oleh Tia.


hari ini dia menjenguk lagi, karena dia tahu para sohib, Zayin dan Tia ber sekolah.


tok...tok...


pintu dibuka oleh mama Mumtaz. ketika hendak bersalam, mama Mumtaz mendorong keluar Bella.


mereka di depan ruangan Mumtaz. mama memperhatikan Bella dengan seksama.


" kalo tidak salah, kemarin kamu ditolak Tia. dia sudah jelas mengatakan kamu dilarang datang lagi kesini. sekarang kamu kesini lagi. bagian kata-kata Tia yang mana yang tidak kamu pahami. mama mengucapkannya jelas dan menegaskan


" Tante, saya Bella, saya orang yang ditolong Mumtaz saya ingin berterima kasih padanya dan memohon maafnya." ucap Bella pelan.


" saya tahu siapa kamu. saya yakin Mumtaz sudah memaafkan kamu. saya ingin kamu tidak kesini lagi." tatapan mama penuh arti. suara mama menajam


Bella terhentak dengan nada suara mama Mumtaz. kini dia paham kenapa mama Mumtaz tidak mengijinkannya. dia meringis menyesal.


" kamu mantan Mumtaz yang memperlakukan anak saya dengan buruk. jika kamu memang beriktikad baik menyesal. jauhi anak saya. bukan hanya kamu yang dia tolong. dan ini bukan kali pertama Mumtaz masuk rumah sakit karena sifat baiknya."


" saya ingin kamu tidak kemari lagi. silahkan pergi!" mama masuk ke ruangan.


*****


meski telah dilarang keras untuk tidak berkunjung, tapi Bella tetaplah Bella yang keras kepala dan semau dia. saat ini dia kembali menjenguk Mumtaz. dia tahu Mumtaz saat ini sendiri.


berbekal seragam sekolah dan atas nama sahabat Mumtaz, dia diijinkan untuk menjenguk Mumtaz oleh para petugas yang menjaga lantai teratas rumah sakit Atma Madina.


setelah mengetuk pintu, Bella mendorongnya dan masuk ruangan


Mumtaz yang masih terbaring miring melihat siapa yang masuk. dia menatap datar Bella.


dia sangat tidak suka perilaku Bella. dia mendengar ketika mamanya melarang Bella menjenguknya, tapi dia masih egois.


mendapati tatapan datar Mumtaz, Bella salah tingkah. dia mendekati ranjang Mumtaz, menaruh bingkisannya di nakas

__ADS_1


" Mum, gimana kabarnya?" tanya Bella lembut.


" baik."


" duduk di sofa aja Bell." ujar Mumtaz cepat ketika Bella hendak menarik kursi yang dekat ranjangnya.


berwajah sedih atas penolakan Mumtaz, Bella menurut melangkah ke sofa.


setelahnya tidak ada yang berbicara diantara mereka.


klek...


pintu dibuka oleh seseorang. di sana ada Sisilia yang berdiri bingung apa yang harus dilakukannya setelah mendapati Bella di sini. apa dia kembali keluar atau terus masuk.


badannya telah setengah berbalik keluar, tapi dia berhenti, dan kembali balik masuk menuju ruangan dibawah tatapan sengit Bella.


Mumtaz tersenyum tipis mendapati Sisilia masuk mendekatinya. tadinya dia akan memanggil Sisilia saat dia melihat Sisilia berbalik badan, namun membatalkannya.


" assalamualaikum. kak Mumtaz aku bawain titipan mama Aida buat makan siang kakak. mama belum bisa kesini katanya."


Sisilia menghiraukan tatapan tidak senang Bella. dia sangat menyadari Bella tidak senang akan kehadirannya, tapi dia bisa apa.


Mumtaz mengangguk " wa, alaikumsalam. kok sendirian?" tanya Mumtaz pelan


" enggak sendiri. bareng Dista., tapi dia beli minuman di cafe depan dulu." jelas Sisilia sembari memperbaiki posisi tubuh Mumtaz.


" mau makan sekarang?" Mumtaz melirik jam di dinding kamar. masih menunjukan pukul setengah sebelas.


Mumtaz menggeleng" entar aja. kamu gak sekolah?"


Sisilia mengambil buah-buahan yang di nakas menawarkan satu persatu ke Mumtaz sampai akhirnya Mumtaz mengangguk sewaktu ditawari buah jeruk.


" sebenarnya sekolah, tapi waktu di sekolah, Tia berinisiatif mengajak kita termasuk sahabat kakak dan kak Bara menjadwal giliran jaga kakak. supaya mama gak kesusahan." Sisilia menjelaskan sambil mengupas kulit jeruk dan menyuapi Mumtaz.


" katanya mau nyuapin aku, tapi kok suapin diri sendiri." protes canda Mumtaz ketika Sisilia ikut makan jeruk.


" hehehe... ngiler. aku suka banget jeruk soalnya." jawab Sisilia tanpa dosa.


jengah dianggap tidak ada, Bella mendekat ke ranjang Mumtaz.


" kamu kenapa gak minta sama aku kalo mau makan buah?" Bella merebut jeruk dari tangan Sisilia dengan kasar.


" biar aku suapin, awas kamu!" Bella menyingkirkan Sisilia dari kursi yang di dudukinya.


Sisilia dengan damai beranjak bangkit dan menuju sofa


" Lia,..." Lia balik badan menoleh ke Mumtaz


" duduk sini." Mumtaz menepuk pinggir tempat tidurnya.


Sisilia melirik Bella. karena Sisilia berdiri masih dalam jangkauan Mumtaz, dia menarik Sisilia untuk duduk di sampingnya.


" Mumtaz, kamu ada belum maafin aku ya sampe kamu memperlakukan aku buruk gini." rengek protes Bella


" gak ada yang perlu dimaafkan. gw gak merasa memperlakukan lo dengan buruk."


" Mum, aku masih sayang kamu, kamu juga pernah cinta aku. apa gak bisa kembali? aku janji akan menjadi pacar yang baik buat kamu." mohon Bella


Mumtaz menghela nafas pelan " gw gak mau balikan sama lo seperti yang Lo dengar, gw sudah sama Sisilia."


" ya.. kamu bisa putusin dia, dan balik sama aku, dan aku gak suka kamu pake Lo-gw sama aku."sentak Bella


" Lo gak dengar omongan gw. gw gak mau balikan sama Lo." suara Mumtaz memelan. dia merasa lelah, dan Bella tidak peka hal itu


Sisilia yang sedari tadi perdebatan diam mengelus lengan Mumtaz menenangkan yang langsung dihentakan oleh Bella.


" Lo jangan sok perhatian ke Mumtaz. cuma gw yang berhak."bentak Bella


brak..


pintu di buka keras ternyata oleh kak Zahra yang diikuti Dista.


kak Zahra buru-buru masuk ruangan dengan khawatir karena mendengar teriakan seseorang dalam ruangan.


" kamu gak apa-apa, Muy?" khawatir kak Zahra mendekati Mumtaz. Mumtaz menggeleng.


kak Zahra menatap sinis Bella yang gelisah karena tertangkap tangan berada di kamar Mumtaz


kak Zahra menarik tangan Bella berdiri dari kursi " siapa yang ngijinin Lo jenguk adek gw?" tanya menusuk kak Zahra.


Bella terdiam menunduk. dia tidak berani menjawab pertanyaan kak Zahra.


" kamu yang undang dia kesini?" tanya pelan kak Zahra kepada Mumtaz yang mendapat gelengan dari Mumtaz.


" gak ada sopan nya Lo teriak di depan orang sakit. Lo pikir Lo siapa, hah?" kak Zahra menunjuk-nunjuk dada Bella.


" kak... maaf." ucap Bella ketakutan


" bullshit maaf lo. dari kemarin dulu Lo bilang maaf dan ngedrama menangis menyesal, tapi Lo dengan tanpa sesal ngelanggar larangan orang, termasuk larangan dari mama gw." kak Zahra mengucapkannya dengan tegas menatap lurus mata Bella yang mencoba menghindar dari tatapan menusuk kak Zahra


" gw gak tau Lo bego atau emang gak punya otak, tapi yang pasti gw yakin Lo gak pake otak Lo."


" gw Zahra, kakak dari Mumtaz dengan tegas dan jelas melarang Lo Bella, mantan adik gw yang jahat untuk mendekati adik gw."


" kalo Lo masih sombong dengan cara melanggar, Lo bisa request, Lo mau dipatahin berapa tulang tubuh Lo. gw bisa bikin Lo cacat permanen."


" kalo Lo masih nekat, gak cuma Lo yang gw bikin cacat, tapi seluruh keluarga Lo." ancam kak Zahra


" kalo masih tetap juga bego, gw gak segan suntik mati Lo." kak Zahra mengatakan itu semua tepat di depan telinga Bella.


" camkan itu. agar Lo gak anggep remeh omongan gw. gw pastiin ketika Lo keluar dari sini, hari ini juga keluarga Lo bangkrut. gw bosen denger kelakuan Lo yang gak ada akhlaknya."


kak Zahra mencari kontak di ponselnya, setelah menemukannya dia melakukan sambungan telpon. " pergi Lo." ujarnya dengan gerakan kepala.


Bella bersegera melangkah pergi keluar kamar


" hallo, Bara..." Bella tersentak ketakutan mendengar nama yang dia dengar di balik pintu sebelum pintu tertutup rapat.


****


apartemen Heru, pukul 01.30 wib. dini hari


BRAKK..!!!


Pintu kamar tidur Heru dihentakan Edel dengan raut naik pitam, karena mendapati Heru tidur seranjang dengan seorang wanita


terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba, Heru menyalakan lampu tidur di nakas.


belum kesadarannya terkumpul penuh Edel memukul-mukul badan Heru dan pasangannya secara membabi-buta diiringi tangisan pilu.


" kenapa kau mengabaikan ku setelah kau tiduri kalo pada akhirnya kamu tidur dengan jalang."


" apa kurang ku bagimu. bertahun-tahun aku rela menunggu mu menerimaku, segala cara aku lakukan untuk mendapatkan mu, tapi kamu tolak aku. apa aku harus jadi jalang seperti dia untuk kamu terima?" teriak Edel mengeluarkan segala kesedihannya


ketika tersadar, Heru mencengkeram erat tangan Edel dan membawa keluar dari kamarnya.


" kau pikir apa yang sedang kau lakukan Edel? menerobos rumah orang dan menumpahkan kemarahan tanpa sebab sampai mengganggu istirahat orang" Heru bertanya dengan murka dan tersinggung


Edel melempar beberapa lembar photo Heru dan seorang wanita dengan pose mesra."


menatap photo itu lama, Heru tersadar sesuatu


" kau membuntuti ku? lancang sekali kau langgar ruang pribadiku? Heru naik pitam mendapati kesimpulan itu.


" apa kau pikir aku akan diam melihat kau bermesraan dengan jalang itu setelah kau meniduri?" tantang Edel


balik menantang Heru berucap " apa yang akan kau lakukan? akan menuntutku? ayolah kita melakukannya suka sama suka." ejek Heru merendahkan.


" setidaknya kau bicara dengan ku kalau kau tak menginginkan ku. jangan setelah kau nodai aku, esoknya kau langsung buang!"


" mana jalang itu. akan ku habisi dia." Edel berbalik badan menuju kamar Heru, tapi sebelum sampai ke kamar, Heru menarik kasar tangan Edel dan menghentakan ke sofa


" hanya telah tidur denganku jangan coba kau campuri hidupku."


" kau sebut dia jalang, lantas bagaimana denganmu. kau sudah serahkan keperawananmu padaku." Heru mengejek


" tapi dia jauh lebih baik dari padamu. dia tidak mengejar laki-laki, aku yang mengejarnya. beda denganmu meski telah ku tolak kau berkali-kali, tetap saja kau mengejarku. kau itu lebih rendah darinya."


" lebih baik kau pergi dan menetap di luar negeri lagi seperti sebelumnya. ada kau hidupku sial. pergi kau!" hardik Heru.


Edel meremas dadanya begitu sakit mendengar penuturan Heru.


" kau jahat Heru. aku sungguh mencintaimu, sangat...sangat mencintaimu hingga rela kau tiduri, tapi kau tega samakan aku dengan pelacur mu itu!!!"

__ADS_1


Edel menatap nanar Heru. dengan tangis pilu yang tak bisa dibendung lagi Edel meraih tasnya dan keluar dari apartemen Heru...


__ADS_2