Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
125. Duka petinggi RaHasiYa.


__ADS_3

Sri dan Zahra duduk dilantai dengan kaki berselonjor, nafas mereka terengah-engah.


Zahra melirik Sri yang kesusahan mengambil nafas akibat kelelahan.


" Nek, balik badan membelakangi aku."


" Mau ngapain?" Ucapnya pelan.


" Periksa denyut nadi." 


Sri pun berbalik, mereka saling membelakangi, Zahra secara seksama memeriksa nadi Sri karena ruang gerak yang terbatas.


Setelahnya mereka kembali ke posisi semula." Nek, agak sedikit angkat kepalanya, ambil dan buang nafas perlahan. Rilekskan tubuhnya." 


Setelah hampir seharian mereka bepergian dari Jakarta-Bandung-Cirebon, menggunakan mobil, helikopter, pesawat pribadi, helikopter lagi, dan sekarang mereka berakhir dibangunan besar ditengah hutan.


" Hallo ladys." Guadalupe melenggang masuk ruangan dengan mengenakan kimono bersama tiga pria kekar.


Para pria langsung sibuk memasang kamera, laptop, dan ponsel di atas meja tepat di tengah ruangan.


Sementara Guadalupe yang duduk di kursi sibuk dengan merapihkan make-upnya


Zahra berdecak," akhirnya muncul juga, ternyata anda dalangnya."


Mereka bercakap menggunakan bahasa Inggris.


" Yes, I am. Terkejut?"


" Enggak sih, otak cerdas gue menempatkan Lo yang paling teratas."


Guadalupe menatap intens Zahra, siapa kau?"


" Kudet juga lo gak kenal siapa gue."


"Ahha, kamu calon istrinya Hito, bukan!?" Ucapnya sumringah dengan bila mata melebar


Guadalupe tersenyum smirk," saya tidak tahu bagaimana kamu bisa bersamanya," menunjuk Sri dengan dagunya," tetapi keberadaan kamu bagai bonus untuk saya."


" Yakin Lo? Semoga saja gue bukan bahaya buat Lo."


" Madame, semuanya sudah siap." Ujar salah satu dari pria tersebut.


Guadalupe mendekatkan kursi pada meja.


" Baiklah, kalian bisa keluar."


" Baik, nyonya, jika terjadi sesuatu anda bisa menekan tombol darurat ini." tunjuk pro bertatto pada tombol kecil disamping pintu.


" Yeah." Pintu tertutup.


Kini di ruangan hanya tinggal mereka bertiga.


Guadalupe membuka kimononya yang ternyata didalamnya dia mengenakan lingerie yang teramat sexy seluruh tubuhnya hampir terlihat.


Sri dan Zahra melotot, tanpa segan Zahra tertawa terbahak-bahak.


" HAHAHAHA....HIKS.. HAHAHAHA.."


Guadalupe mendelik tajam pada Zahra yang menertawainya.


" Kau pasti iri akan kemolekan tubuhku." Serunya menyombong sembari melenggokan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


" Hmpptt..." Zahra sengaja menahan tawa meledek," sorry dorry ni ye Madame, muka Lo emang keliatan kenceng karena oplas, botox, tarik tambang, eh, salah tarik apalah itu. Tapi body Lo gak bisa menipu kalau Lo udah tua."


" Udah Peyot, coba Lo goyang pasti melambai itu kulit lengan."


Muka Guadalupe memerah, kalau saja Fatio tidak menjawab vc-nya sudah dipastikan dia akan mengamuki Zahra.


" Hallo."  Sri menegakkan tubuhnya mendengar suara suami yang sangat ia rindukan.


" Hallo, amor. Bagaimana harimu, apa kamu mencari istri kecilmu?" Suara lembutnya mendayu guna menggoda.


Sri kesal dengan apa yang dilakukan Guadalupe.


" Tenang, nek. Jangan marah, dia hanya memancing emosi nenek." Bisik Zahra, Sri hanya mengangguk.


Guadalupe melirikan dari ujung matanya  Zahra memeragakan orang muntah kala guadlaupe merayu Fatio yang membuat Guadalupe kesal.


Mendengar suara keras Guadalupe yang tidak menerima ucapan Fatio, Sri uang tidak menerima suaminya diteriaki, dengan kesusahan dia merubah duduknya menjadi tegak menumpukan kakinya siaga berdiri.


" Mau ngapain, nek?"


" Ngelabrak dia lah, enak saja meneriaki suami saya." Ngotot Sri.


" Astaganaga." Erang Zahra, tidak bisa dia bayangkan dua wanita tua beradu jotos karena pria.


Masih sibuk dengan merespon ucapan Sri, mereka dikagetkan gerkan tiba-tiba tubuh Sri yang ditarik paksa lalu dihempaskan, karena kurang keseimbangan Sri tersungkur ke atas meja.


" SAYANG..."


Saking syoknya, Zahra hampir lalai lepas pandangannya dari pis.tol yang diambil Guadalupe dari belakang punggungnya kini terangkat hendak memukul Sri.


Ketika ujung pistol beberapa senti di atas kepala Sri, Zahra refleks berdiri lalu berlari menubruk dan mendorong tubuh Guadalupe hingga terjatuh.


BRAKKK!!"


" TIDAAKKK.." teriak bersamaan para lelaki diseberang saluran.


Suara kursi yang semula diduduki Guadalupe turut terjatuh.


Pis.tol itu terlepas dari tangan Guadalupe tergeletak beberapa langkah darinya, tubuh Guadalupe tertindih tubuh Zahra.


Zahra merayap memposisikan diri mengunci pergerakan lemah Guadalupe, " Kau, berhadapan dengan amarahku." Desisnya menajam tepat di telinga Guadalupe.


" Menyingkir dari tubuhku." Balas Guadalupe berusaha mendorong tubuh Zahra.


 Krek!!!


" Aaaa..kkhh." pekik Guadalupe memegangi tulang rusuknya yang ditekan Zahra hingga patang


Zahra sengaja berguling menyingkir dari tubuh Guadalupe hingga bersandar pada tembok, ia menggoyangkan tangannya agar ikatan melonggar, setelahnya ia mencoba memindahkan tangan ke depan.


Ia menekuk tubuhnya, mendorong badan kebelakang dengan bersamaan secara perlahan menarik tangannya lewat bawah kaki ke depan.


" Hah..hah...gak percuma latihan Wushu." Engahnya.


Zahra berdiri, berjalan menuju Guadalupe yang masih mengerang.


Daghh!!!


Tanpa ekspresi ia menendang perut Guadalupe, semakin membuat Guadalupe memekik.


" St..top...ka..mu se..ora..ng  dok..te..r."


" Iya, dan cukup tahu bagaimana membuatmu lumpuh." Ucapnya dingin.


Zahra me.ngi.njak lalu me.nekan tulang belikat Guadalupe dan memutari tekanannya menimbulkan cedera otot hingga bersayap


 " Aaaa.." belum usai sakit karena tendangan, kini sakit menderanya lagi.


" Dok..dok..Ter. a..ku...a..akan..me..la..por..kan.. mu."


" Whatever." Kini Kakinya berpindah pada tulang selangkanya, ujung kakinya menekan tulangnya dan terdengar


Krek!! Patah sudah, hingga merobek kulit luarnya yang mana tulang itu menonjol sampai terlihat.


Nafasnya sudah sulit untuk diatur, ia meringis kepayahan tidak bisa lagi berteriak.


" Berani kau menyentuh orang yang ku lindungi."


Sri menatap ngeri tak percaya akan tindakan Zahra


Zahra berjalan mengarah ke kakinya, sengaja telapak kakinya ia tekan  ke tulang tulang keringnya,  jempol kanannya ditekan di mata kaki sedangakan kedua tangannya memegang pergelangan kakinya.


Dengan tangan terikat menekan mata kaki lalu dengan tenangnya memutardan mematahkan pergelangan kakinya, mata kakinya bergeser.




Tinng!



Selahi Zahra sibuk dengan Guadalupe, Ibnu sibuk mencari lokasi mereka. Setelah mendapatkan lokasi, Ibnu menelpon Bara.



" Hallo, Lo dimana?"



" Gue otw D'lima.". jawab Bara.



" Putar balik, ke Halim. gue udah tahu lokasi mereka. gue kirim ke iPad Lo."



" *Hmm*."



" Pesawat sudah *ready*, lima menit lagi *take off*."



Terdengar gerutuan dari sebrang saluran sebelum sambungan diputus yang diabaikan Ibnu.



\*\*\*\*



Diwaktu bersaman dilain tempat.



" Nek, nenek!' Raul berkeliling mencari neneknya.



seorang asisten menghampirinya," maaf tuan, nyonya besar sedang keluar."



" Kemana?"



" Tidak tahu, Tuan."



" Terima kasih." Raul berjalan menuju kamarnya.



Begitu membuka pintu, ia mendapati Eric tiduran dikelilingi foto-foto Belinda yang disembunyikan Raul.



Raul memasang wajah santai dengan kedua tangan dalam saku celananya.



Tidak ingin berbasa-basi Eric menatapnya tajam, " dimana Belinda-ku?"



Raul tersenyum kecil meremehkan, ia tidak akan lagi berpura-pura. Dia tahu semuanya telah terbongkar. " apa aku terlihat tidak peduli pada ibuku?


__ADS_1


" Dia wanita-ku."



Raul mendengkus," masih bermimpi kau, Tuan."



Eric melangkah ke hadapan Raul. mereka saling memancarkan permusuhan.



" Serahkan dia, atau kau berurusan denganku. ini peringatan terakhir."



" Apa aku terlihat takut padamu?"



" Kau hanya seorang pecundang."



" Percayai apa yang ingin kau yakini."



Eric mencengkram kerah Raul." sebaiknya bertindak bijaksana."



Raul menyingkirkan tangan Eric dari tubuhnya, lalu merapihkan pakaiannya santai.



" Alih-alih kau meributkan yang bukan menjadi hak mu, sebaiknya kau cemaskan ibumu."



" Apa maksudmu?"



" RaHasiYa sudah mengetahui penculikan Sri Hartadraja, yang pastinya Gaunzaga pun tahu. Tamatlah riwayat mu, Gonzales."



Eric terkaget, ia tidak mengira secepat itu RaHasiYa mengetahui tindakan ibunya.



" Kalau aku tamat, kau pun selesai. ingat dibelakang nama mu ada namaku."



" Heh, terserah. Aku tidak peduli."



Jengkel akan respon Raul yang santai akan gertakannya, Eric memilih pergi ke ruang kerjanya.



Meninggalkan Raul dengan yang tersenyum licik padanya.



Raul mendekati ranjangnya, duduk di pinggir kasurnya lalu mengambil satu foto yang dikirim Josep padanya.



" Mama, tunggu sebentar lagi. kita akan berkumpul." lirihnya, ia tidak bisa mencegah air mata membasahi pipinya.



Raul, pria kuat karena penderitaan yang dialami dalam hidupnya kini menangis karena merindukan peluakan ibunya.



di ruang kerjanya Eric menelpon Alfred.



" Hallo."



" *Hallo, ada apa*?"



" RaHasiYa tahu mama menculik nyonya Sri."



" Lantas?"



" Kemungkinan mereka tahu kau bersekongkol dengannya."



" *Ck, kau terlalu takut pada mereka, tidak semudah itu mereka tahu tentang ku*."



" Navarro, kau terlalu meremehkan mereka." Eric kesal akan tanggapan Navarro.



" Dengar, tentang RaHasiYa, biar itu menjadi urusanku. sekarang bagaimanapun informasi keadaan putriku?"




" *Di perusahaanku*?"



" Sudah, semua gedung perusahaanmu sudah aku periksa, tidak pernah ada kedatangan putrimu. apa kau yakin dia ke Indonesia?"



" *Tentu saja, aku yang menugasinya langsung. apa kau pikir aku punya waktu luang untuk dibuang percuma*?" hardik Navarro.



" Bukan begitu, kau tahu sendiri idenya tidak bisa ditebak. Mungkin dia singgah disuatu tempat dahulu guna menyusun strategi?"



" *Bisa jadi, tapi sebaiknya dia segera melapor padaku sebelum aku marah*."



" Akan aku sampaikan begitu aki bertemu dengannya."



" *Gonzalez,Jangan lagi gagal pengiriman lusa nanti. kalau gagal, aku sendiri yang akan ke Indonesia*."



" Tentu, asistenku sedang menekan para pejabatnya."



" Ku tunggu kabar menggembirakan darimu, satu bulan ini hanya kabar buruk yang ku terima darimu."



" Sedang sial saja." Eric memutuskan sambungan telponnya.



\*\*\*\*



Guadalupe bagai tak bernyawa, hanya mulutnya yang masih mangap berusaha menghirup oksigen.



Seumur hidupnya meski kehidupannya dijalani keras tidak pernah dia mendapat serangan beruntun dan sistematis seperti saat ini. matanya menatap tombol kecil, ia ingin meraihnya, namun mustahil.



Zahra berjongkok didepan wajah pias Guadalupe.



Nafas Guadalupe sudah memendek, namun masih bisa bicara," ka..u a..kan ma..ti."



Zahra tersenyum devil," itu lebih baik, daripada kau. Seumur hidupmu kau tidak akan bisa lagi berlenggok, kau saat ini sudah cacat." Ucapan penuh ancaman itu membuat Guadalupe merinding ngeri.



" Kau kimi hanya sampah sosial." Pungkasnya sinis.



" A..kan..ku..ba..las ka..u."



Zahra memutari tubuh Guadalupe, " hmm." Lalu mengangkat Guadalupe untuk berdiri, sebelum Guadalupe berpijak tepat, menggunakan lututnya Zahra menu.suk perut lalu men.onj.ok dagu bawah Guadalupe hingga dia terjungkal, terus mengulang menend.ang mengabaikan jeritan, permohonan ampunan dari Guadalupe.



Setelah memastikan Guadalupe sudah tidak berdaya, ia berjalan menuju Sri yang sudah ketakutan melihat amarah Zahra.



" Nek, apa nenek baik-baik saja?" Sri hanya mengangguk. Ia sungguh gugup kepada Zahra.



Saking marahnya Zahra tidak menyadari posisi Guadalupe saat ini tidak jauh dari pintu.



Sewaktu Zahra sibuk mengurus Sri, Guadalupe dengan kepayah memaksakan diri bergerak merayap menyeret dengan sebelah tubuhnya yang masih berfungi mendekati pintu, hingga ia bisa memencet tombol darurat.



Terlalu fokus pada Sri, Zahra tidak menyadari jika tiga pria kekar memasuki ruangan.



Mereka terbelalak terkejut, mendapati Guadalupe hancur. wajahnya sudah tidak berbentuk penuh lebam dan bengkak.



dua pria mengangkat Guadalupe lalu membaringkannya dipinggir tembok.



" ZAHRA..." teriakan dari seberang saluran berhasil membuat Zahra menoleh, namun terlambat. 


__ADS_1


Saat kepalanya menoleh, pria bertahi lalat meng.ha.jar wajah Zahra, terlalu kaget Zahra terhuyung.



" Ha..bi..si.. dia." erang Guadalupe.



Lalu dirasa kembali pu.ku.lan diperutnya, kepalanya sungguh pening, belum Zahra menyadari apa uang terjadi setelahnya pukulan di perutnya menyusul yang membuat Zahra ambruk jatuh ke lantai.



" ZAHRA..." jeritan pilu nenek disela sesenggukan tangisnya. Dan para pria di cafe' lah yang masih membujuk Zahra pada tubuhnya untuk bertahan.



Sakit dikepalanya yang teramat sangat ia abaikan, fokusnya hanya satu melindungi nenek.



Zahra mengistirahatkan tubuhnya, membiasakan tubuhnya dengan rasa sakitnya.



Mata lebamnya melirik keadaan sekitar,  bersyukur ia berposisi tengkurap. Saat mereka sibuk mengurus kamera, Zahra  nyiapkan kepalan tangannya dibawah perutnya.



Para petinggi RaHasiYa dan Gaunzaga membeliak tak percaya apa yang mereka lihat.



Tangan mereka mengepal, amarah terlontar mengisi ruang cafe', Hito bahkan sudah memba.nting satu kursi dan mele.mpar meja yang mengenai beberapa meja hingga ikut terguling.



Para pekerja yang masih terjebak di dapur karena dilarang pulang meski cafe tutup merinding ketakutan.



Pria bertahi lalat dibantu oleh pria bertato me.nye.ret Zahra ke tengah ruangan dalam posisi terlentang dengan mata terpejam. kamera mereka posisikan menzoom Zahra.



" Lihat perempuan kesayangan kalian akan mati saat ini." Seringai maut menghiasi bibirnya.



" Kau sentuh dia, ku pastikan hidupmu dan keluarga mu hancur." Ucap tajam Mumtaz.



" Terlambat, kami akan melakukannya saat ini."



Peri bertatto naga menghampiri Zahra, ia berdiri menjulang di atas tubuhnya. 



Satu kakinya terangkat ingin  menghantam perut Zahra, namun sebelum kaki itu mengenai tubuh Zahra, mata Zahra terbuka dengan gesit kaki Zahra terlebih dahulu menendang keras tepat *junior* -nya.



Jeritannya meraung memenuhi ruangan sembari ia memegangi juniornya yang terasa remuk, mengambil alih fokus para rekannya.



Pria terebut meringkuk dilantai masih memegangi *juniornya*.



Setelah mengatur nafas Zahra langsung berdiri mengambil posisi kuda-kuda.



Para rekannya terbelalak kaget, pria berta.hi lalat melayangkan pukulan pada Zahra yang mampu hindarinya dengan gerakan memutar lalu kepalan tangannya me.non.jok ulu hati pria tersebut.



Pria itu oleng sembari mengringis, sebelum pria itu sempat memasok oksigen, Zahra me.nen.dang dadanya lalu melakukan gerakan tendangan memutar pada rahang pria tersebut hingga pria itu terlempar kebelakang.



Berhasil memancing rekan terakhir mendatanginya



" Kau ja.la.ng cilik, ma.ti kau sekarang." Pekiknya kesal sambil melayangkan tenda.ngan.



Zahra berhasil mengapit kaki pria itu, lalu me.nen.dang balik rahang, melapas kapitanya, tanpa jeda diakhiri sikunya meno.hok dada pria tersebut



Pria itu kesakitan memgangi dadanya membungkuk, memudahkan Zahra untuk melumpuhkannya dengan menggunakan kekuatan lengan atasnya ia memu.kul punggung pria tersebut yang langsung jatuh telungkup.



Ingin mengakhiri aksinya dengan gerakan kakinya, tanpa menyadari akan keberadaan pria bertatto yang berhasil me.milin leher Sri.



" Stop, atau ku Bu.nu.h dia."pis.au di leher Sri.



Membatalkan aksinya, Zahra menatap tajam pria tersebut dengan raut datar nan dingin.



Ruangan yang gelap memudahkan Zahra bergerak melipir, guna mengalihkan fokus lawan Zahra meledeknya.



" Hahahaha... badan kekar jiwa ben.cong. menghadapi satu aku saja kalian tak mampu pake nyoba berurusan dengan Hartadraja. IDI.OT." tekannya mengesalkan.



" Aku yakin *junior* lo tidak lama lagi tidak berguna, kau..hanya lelaki sampah."



Wajah pria itu sudah memerah, ia semakin menekan pis.au itu ke leher Sri, Sri memekik karena merasakan ujung pisau itu menu.suknya.



" Sepertinya dia tidak peduli padamu, nyonya. Ucapkan selamat tinggal padanya." Pi.sau otu sudah di posisi mengiris, Bakan melukai kulit permukaan Sri.



" Kau bunuh dia,  ku keluarkan isi kepala nenek lam.pir ini."



Kaki Zahra sudah berada di atas sisi kepala Guadalupe yang terbaring lemah.



" Stop," titah lemah Guadalupe.



Men.ekan sedikit tepat bagian menjurus ke wajah Guadalupe, jeritan Guadalupe menghentikan gerakan pria bertato itu.



Tetapi sedetik kemudian pria tu kembali mencekik leher Sri dan menekan pi.sau di lehernya.



" Kau tidak akan berani."



" Mau bertaruh?"



Zahra merubah posisi kakinya, tumitnya menekan tepat telinga dan bagian sisi bawahnya, tak urung rasa sakit menyerang Guadalupe yang refleks berteriak kesakitan.



" Jangan lupakan aku seorang dokter, yang paham titik pusat organ tubuh." Peringat Zahra.



" Lepaskan dia." Pria tersebut tidak punya pilihan selain melepaskan Sri, dia tidak habis pikir akan keke.ja.man Zahra.



Lagi, Zahra menekan sisi kepala Guadalupe yang terus meraung.



Seseorang bergerak dibelakang Zahra sembari mengangkat kayu balok yang ingin Dihan.tamkan ke kepala Zahra.



Para pria di cafe' dapat menangkap gerakan siluet iti, refleks mereka bereteriak,



" ZAHRAAAA..DI BELAKANGMU."



Zahra yang terkejut mengendorkan sikap waspada, namun ia masih sempat melihat gerakan pria itu, tetapi kali ini dia gagal menghindarinya.



Balok yang bermaksud memukul kepala belakang Zahra, karena gerakan refleks Zahra prianitu hanya memukul kuat tengkuknya,



" ZAHRA..." Jerit Nenek dan para pria di cafe'.



Zahra ambruk terjatuh ke lantai, pria bertahi lalat itu kepalang marah mene.ndang, menarik Zahra berdiri, lalu meng.ha.jarnya bertubi-tubi dari segala sisi tubuh Zahra, Zahra tidak diberi waktu untuk melawan. 



Serangan dadakan membuat Zahra terdorong membentur tbok, terakhir pria itu menendang rahang Zahra sampai memu.ncratkan da.rah tepat di depan kamera.



disela kesadarannya Zahra merasakan Pi.stol diperutnya, bergerak kecil ia mengambil pis.tol itu lalu menyembunyikannya dibalik baju perutnya.



Mata lemah Zahra menatap nanar kamera, sisa tenaganya hanya untuk berucap" maaf." Sebelum matanya tertutup.



" ZAHRAAA.." Pekik petinggi RaHasiYa, Gaunzaga, dan klan Hartadraja.



Pria bertaji lalat itu mengambil kamera memenuhi layar dengan wajahnya yang tertawa meremehkan.



" Adios." ucapnya sebagai penutup sebelum layar kamera itu menggelap...

__ADS_1


__ADS_2