Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
237


__ADS_3

Ibnu memijit pelipisnya karena pusing ditambah kening yang telah mengkerut dalam seiring kalimat yang dia baca dari file-file sisa yang telah berhasil dibuka seluruhnya.


Sebenarnya kepalanya sangat sakit karena terus dipaksa mengingat setiap kejadian yang dia baca, satu persatu potongan ingatan itu terkuak.


Heeuuuu...hhheeekkkh.....


Tubuhnya tersentak, napasnya tertahan, dadanya terasa sesak saat kalimat," ...senjata itu diacung oleh seorang asing berkulit bule dengan bola mata berwarna biru tepat ke kepala bapak..."


" Huhu...hiks...." lirihan kecil tangis sekaligus rembesan air mata yang meleleh di pipinya begitu saja, Ibnu menyeka setitik airmata itu seiring sinar sorot matanya yang meredup.


Ia kembali membaca deretan huruf di monitor komputernya.


" Saat itu suasana mencekam, moncong pistol dengan pelatuk yang tinggal tarik tepat di kening bapak yang memohon ampunan akan pembebasan kami, Inu yang tidak berhenti menangis, ibu yang meringkuk menyembunyikan tubuhnya yang terekspos merintih sembari menutupi tubuhnya dengan sobekan kain yang terkoyak. Si bule itu tertawa terbahak-bahak sangat menakutkan lebih menyeramkan daripada tawa Joker yang diperankan Heath ledger dalam film batman- the dark night-, dan itu pula yang tidak bisa aku lupakan. Karena tawa itulah yang mendorongku berbuat lebih."


" Hah..hah.hah...hah..." Ibnu mengembuskan napas berlebihan karena napasnya yang terasa tersumbat di rongga tenggorokannya, ia memegang lalu meremas rambutnya saat bayang tawa itu bagai sederet adegan film yang berputar di kepalanya.


 Ibnu berdiri tapi dia bingung dan linglung, ia mendorong kursi kerjanya. " Tidak....tidak...TIDAK...pergi..pergi kau...bang-sat..."jeritnya kuat- kuat.


" IBUUUUU..BAPAAAKKKK..." Teriaknya disela isakan tangis dan derai airmata." BAPAAKKK....hiks....hiks..." Tubuhnya bergetar, detak jantungnya berpacu kencang, dadanya bergemuruh.


Ibnu menjatuhkan diri kembali di kursi dengan gesture melemah tanpa tenaga." Huhuhu....ibu.....bapak.....maaf..maafkan Inu...huhu....huhuu...hiks... Aku gak berguna, selalu gagal..aku pecundang....hiks...." Pundak yang bergetar itu turun begitu lemah.


Ia menopang kepalanya dengan kedua tangan yang disangga di atas meja membiarkan airmatanya jatuh begitu saja membasahi kayu jati mahal itu.


Sekelebatan adegan hari naas itu kini semakin jelas di pelupuk ingatannya, untuk waktu yang lama dia dalam posisi itu, yang kemudian menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, menarik napas menenangkan diri, kepalanya disandarkan pada kepala kursi hingga menengadah.


Dia pikir dirinya sudah bisa menerima setiap ingatan kematian orang tuanya menghantuinya, namun dia salah. Waktu tidak jua membuatnya berdamai dengan keadaan.


" Ibu...bapak...ku harap kalian tidak membenciku....ku harap kalian tahu aku menyayangi kalian." Lagi setetes airmata mengalir membasahi pipinya.


Setelah menenangkan diri dari kelonjakan emosi yang telah lama tidak dia rasakan, Ibnu mengingat-ingat kapan terakhir dia emosional perihal orangtuanya? Aaahh..sewaktu dia pingsan dan diopname di rumah sakit Bhayangkara.


Ibnu menarik kursinya untuk mendekati meja, ia kembali membaca tulisan Mumtaz.


" Bayangan ketakutan Inu, tangisan bapak dan ibu. Memicu ku mempelajari lebih serius dunia hack yang memang sangat ku sukai. Aku melatih diriku dengan mengikuti perlombaan, atau menantang diriku memasuki keamanan server perusahaan baik milik swasta atau milik negara dengan imbalan bug yang besar. Aku mendapat uang, tetapi yang terpenting aku berhasil menemukan identitas si bule tersebut.


" Bertahun-tahun aku menggali informasi tentang dia baik pribadi maupun profesional mempelajari kelemahan dan keunggulan dia, membuat strategi, mempelajari pembuatan bom dari bom molotov sampai bom berdaya tinggi ala militer. Aku pelajari semuanya. karena aku punya satu tujuan."


" Ketika mama menginginkan anaknya menjadi tentara dengan senang hati aku ingin mengajukan diri untuk menyanggupinya hitung-hitung mengimbangi dia yang seorang mantan tentara, namun Zayin merusaknya dengan dia mengajukan diri. Aku kaget? Tentu. Zayin orang yang bebas, orang yang tidak mau diatur dan paling keras kepala yang aku tahu bertolak belakang dengan dunia militer, dunia yang harus disiplin, dunia yang bekerja dibawah komando. Entah bagaimana bentukan Zayin sebagai seorang tentara.


" Belakangan aku tahu mengapa dia mengajukan diri, terlalu banyak orang yang bergantung padaku, khususnya Ibnu dan Alfaska yang sangat rentan emosinya tanpa dia sadari aku pun punya trauma tersendiri.


"Aku selalu merasa ketakutan setiap kali ada kebakaran, rintihan bapak dan ibu, bayangan seringai puas dan bola mata biru yang berbinar yang menikmati terbakarnya dan habisnya tubuh ibu dan bapak. Ditengah kepayahan ku akibat tertembak dari jarak tidak jauh dari rumah dia berdiri dengan pongah kobaran api yang melahap ibu, dan bapak sebelum aku jatuh pingsan.


Seiring berjalannya waktu aku terus mengawasi sepak terjang dia, yang pada akhirnya aku tahu dialah biang keladi atau pemimpin yang menghendaki bapak meninggal karena menolak  keinginannya melakukan pemalsuan datang di bea dan cukai.


Bapak seorang pegawai bea dan cukai bagian penginput masuk dan keluar barang di pelabuhan entah apa sebutan untuk itu, aku tidak berminat mencari tahu, dia menemukan beberapa kali pengiriman yang tidak sesuai antara laporan dan lapangan, saat mengetahui faktanya tentu bapak menolak menyetujui laporan itu. Bagaimana dia bisa menyetujui penyelundupan narkoba dan senjata  berjumlah fantastis. Bapak melaporkan itu ke atasan yang akhirnya diselidiki, sialnya polisi yang saat itu dipimpin Toni mengungkap segala peranan bapak dan melaporkan pada bule itu.


Dia marah, dia datang ke Indonesia, dan langsung mengeksekusi bapak bagi pembelajaran bagi yang lain yang menolak keinginannya gilanya.


Dia yang berasal dari Italia, sangat jauh ku raih, namun Tuhan berkata lain, kemampuanku dalam bidang peretasan membawaku ke tanah biru, Eropa. Di sana aku sudah punya identitas diriku sendiri di tengah orang- orang penting dan profesional aku tahu bagaimana menanganinya berkat kerjasama dengan orang-orang ku mulai menyusun rencanakku."


" Italia? Siapa dia?...tidak mungkin Gaunzaga kan?" Gumam Ibnu.


"Dia benar-benar dibawah kuasaku, semua aspek kehidupannya telah menjadi milikku tinggal menunggu kasih Tuhan yang baik mengizinkanku membalaskan dendam ku. Ternyata lewat Adinda Aloya, Surga Duniawi. Di sana semuanya bermula.


Sekarang hanya tinggal menunggu kesiapan mental Ibnu menghadapi dia, aku mudah saja menghancurkannya, tapi ini urusan Ibnu, sebagai anak lelaki dia yang harus menanganinya, aku paham rasa bersalah yang menggelayuti sanubari Ini yang merasa gagal menjadi putra yang berbakti, kini ku beri bakti itu padanya. Aku cukup memastikan dia aman, tidak ada yang menyentuhnya. Karena itu aku memanipulasi data kependudukan sebagai Ibnu Faris Mahmud sebelum menjadi Muhammad Mumtazul Yusuf.

__ADS_1


" Ini negara 62, tidak ada hal yang mustahil yang tidak bisa dilakukan, saat ku tahu mereka mencari sosok anak kecil itu, aku memperdayai mereka. Aku tidak mungkin membiarkan Inu celaka atau tersakiti lagi, aku sudah berjanji pada bapak dan ibu untuk menjaga Ibnu dan Khadafi, janji terakhirku pada mereka sebelum Ibnu menyeretku keluar dari kobaran api tersebut. Aku tahu ini beresiko tinggi karena mereka sudah melibatkan para petinggi negeri ini, namun daripada Ibnu yang celaka lebih baik aku, ini penebusan dosaku karena tidak bisa menyelamatkan bapak dan ibu.


Bule itu, bola mata biru yang yakin bisa menguasai negeri ini bernama Alfred Navarro yang dikenal sebagai pengusaha kuliner dengan restoran menyajikan menu Italia yang memiliki cabang hampir di seluruh kota besar Indonesia. Dia dalang dari pembvnvhan bapak dan ibu Ibnu."


Heuks....


Ibnu tercengang, ia menggelengkan kepala tidak percaya. Putaran flashback kejadian satu tahun yang lalu saat penculikan nyonya Sri, dan Kak Ala, Bara yang tega mengelupas kulitnya bagai menyasak binatang, kak Ala yang bersedia mengobatinya, penjagaan Mumtaz terhadap dirinya saat mereka berhadapan muka dengan Alfred semuanya terbaca sudah alasan mengapa sahabatnya itu bernapsu menghabisi bule itu.


Ibnu beranjak ke pintu, dia kaget melihat Rio dan beberapa anak buah yang berbeda dari yang biasa yang duduk di sofa bukan Bima atau Jeno seperti biasanya.


" Bima mana?" Rio terkejut mendapati Ibnu yang berdiri diambang pintu.


" Di tempatkan di tempat lain." Suara mengambang ragu membuat Ibnu curiga.


" Beneran?"


" Iya, gak percayaan amat."


" Enggaklah, Lo sama Ragad buaya darat orang terakhir yang bakal gue percaya." timpal Ibnu sambil melangkah ke lift yang mana Rio mengikutinya.


Rio terkekeh," Mau kemana Lo?" Rio menekan tombol buka pintu lift.


" Ke ruang kerja Mumuy. Dia ada di sana kan?" Rio menggeleng.


" Dimana dia?" Pintu lift terbuka.


Cukup lama Rio diam, sebelum akhirnya membuat keputusan." Biar gue yang antar." Rio menekan angka ke lantai teratas.


" Yo, ada apa?" Tanya Ibnu yang menyadari ada yang berbeda di gedung ini yang terasa lebih sunyi dan terlalu tenang.


" Mumtaz di lantai kubah."


" Apa yang terjadi selama gue gak ada?"


" Banyak. Lo tahu berapa lama Lo di dalam? Dua Minggu. Banyak yang terjadi dalam dua minggu tersebut."


" Kenapa gak ada yang memberitahu gue?"


" Dilarang Mumuy." Mata Ibnu terpejam kuat.


Ting...


Pintu lift terbuka.


Dia melihat Daniel dan Alfaska dengan raut cemas berusaha membuka pintu kubah. setelah bentakannya tak kunjung mendapat jawaban Ibnu berlari mendorong kedua sahabat itu, dan mengutak-atik mesin pengendali akses pintu.


" Gak bisa dibuka, Nu. Mumuy mengubah sandinya." Ucap Daniel pelan.


" Gue tahu." Ibnu mengeluarkan tabletnya, lalu menyambungkan dengan mesin tersebut.


Ia terus mengutak-atik mesin tersebut, meski selalu gagal.


Meski raut Ibnu terlihat tenang, namun hatinya bercampur antara kegelisahan, ketakutan, kecemasan yang tidak berujung.


" Kenapa kalian sampai tertipu Mumuy?"


" Karena kita be-go percaya saja kalau mereka butuh kita ketimbang dia." Jawab Alfaska, sungguh merasa bodoh menelan bulat-bulat alasan Mumtaz yang mendesaknya harus mengawasi keluarga Gurman.

__ADS_1


" Mereka?"


" Iya, keluarga Hartadraja, Gaunzaga, Birawa, Bara, Gurman-Gonzalez, Mateo, dan masih banyak lagi." ucap Daniel.


" Ini bukan kali pertama dia mengelabui kalian, seharusnya kalian tahu gestur dia sewaktu bersikap egois." Tutur Ibnu menekan rasa cemasnya.


" Nu, Lo sendiri bagaimana? Lo sudah menemukan  apa yang Lo cari?" Tanya Daniel.


Sejenak Ibnu tertegun, memejamkan mata, ia harus menenangkan dirinya, dia tidak mau hal terburuk dalam pikirannya terjadi.


Nu, apa yang Lo dapatkan dari file itu?" Alfaska bertanya sekali lagi.


" Sesuatu yang harusnya gak boleh gue lupain. ****, kalau gue gak lupa Mumuy gak dalam bahaya." Suara Ibnu bergetar.


Ia lempar tabletnya karena kesal gagal terus membuka sandi pintu.


Daniel mendekat menepuk bahunya " relax, pikiran kacau tidak akan menjadi solusi."


" Di dalam juga ada Ayin." tambah Alfaska.


Rio maju menghampiri mereka." Nu, biar gue yang coba."


" Lo gak bakalan bisa, ini Mumtaz bukan tugas kuliah." Bentak Ibnu


Rio tidak sakit hati akan sikap kasar Ibnu, dia paham Ibnu sedang kalut.


" Beberapa bulan ini gue intens sama dia, walau belum menguasai setidaknya gue bisa menerka performa Mumtaz untuk lantai ini, untuk kasus-kasus yang melibatkan Alfred Navarro." Ucap Rio tenang.


Mendengar nama Navarro, tubuh Ibnu langsung memberi respon menegang," gue harus bvnvh dia."


Ucapan penuh dendam itu mengundang atensi mereka bertiga.


" Kenapa?" tanya Alfaska.


" Dia yang bvnvh orang tua gue."


" Bukan karena dia mau menguasai Indonesia?" ucap Daniel.


" Menguasai Indonesia? tanya mereka bertiga yang kini berganti menatap Daniel.


Anak buah gue, Jarud, dan Dewa mereka tim mengawasi pergerakan Navarro khususnya persenjentaan dia itu."


" Itulah mengapa dia memesan banyak topeng pada gue?" gumam Alfaska.


" Topeng?" tanya Ibnu.


" Kalian Inget gak, dia selalu meminta ornag kita untuk menyamar lawan yang tertangkap, khususnya yang menculik bocil itu, atau menculik kak Ala? dia tidak pernah mengklarifikasi pada Navarro kalau anak buahnya tertangkap, dia biarkan Navarro percaya kalau misinya tercapai. itu semua apa?"


Tiga sahabat itu bingung, mereka buntu, mereka benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Tring ...


ceklek...


Mereka bertiga menatap Rio yang berhasil membuka pintu, segera saja mereka masuk ke dalam ruang yang bertepatan dengan suara yang mengerikan.


DOR...DOR...DOR.....

__ADS_1


" TIDAAAKKK..." teriak ketiganya beserta orang-orang yang dilantai sembilan dan anak RaHasiYa. teriakana itu mengiringi meluruhnya tubuh itu dan akhirnya jatuh ke lantai....


 


__ADS_2