
Saat keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah Mumtaz mendapati Ibnu yang sedang beres-beres pakaiannya dimasukan ke dalam tas besar belum menyadari kehadiran sahabatnya.
Mumtaz melihat jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi, " Pagi banget Lo datang." Mumtaz mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
" Baru ngejenguk Jeno, sekian aja ke sini."
Mumtaz memperhatikan raut Ibnu yang biasa saja merasa tidak terganggu, dia tidak menyukai itu.
" Nyesel Lo?"
" Dikit, gue udah minta maaf."
" Bagus, tapi bisa gak lagi-lagi?" Mumtaz duduk di sofa masih mengeringkan rambutnya.
" Dia yang salah deketin gue saat gue kesel."
" Sama siapa?"
Ibnu menatap Mumtaz dengan sarkas," serius Lo gak tahu? ini kejadian di kamar gue." Mumtaz diam.
" Lo gak ngizinin gue masuk ke cctv di kamar Lo." Mumtaz beralibi untuk menutupi apa yang dia tahu.
" Memang gak boleh. Daniel, gue sebal dengan kebebelannya. sekarang dia baru sadar, di minyak goreng itu menggedor-gedor pintu ayah Teddy jam empat pagi, gila gak tuh cewek."sewot Ibnu.
" Hmm. tapi jangan dijadikan alasan Lo berbuat kasar, Nu. Jeno teman kita udah lama kita bareng." ucap Mumtaz tenang.
Ibnu sedikit merengut," Iya enggak-enggak lagi."
" Cukup gue ngizinin Lo mengeksekusi Maura, dan hanya itu Lo mengambil tindakan main fisik."
" Iya, enggak-enggak lagi." ucap Ibnu patuh.
" Oke, lo kemari bawa apa?"
" Lontong sayur, mau?" Mumtaz mengangguk
Ibnu meninggalkan pakaian yang sedang dilipat menuju sofa, ia memasukan lontong ke dalam mangkok.
" Kalian tidur satu ranjang?" Ibnu melirik Lia.
" Hmm, kejadian kemarin bikin gue agak takut sendirian." jawab Mumtaz tanpa beban
Sontak Ibnu tertegun menatap Mumtaz sendu." Kalau Lo merasa bersalah,Lo yang gue tem-bak." kali ini ucapannya lebih serius.
" Apa kata psikiater?"
" Gue musti sering konsul aja sih kalau mulai mikir yang enggak-enggak."
" Ajak gue, kita Konsul bareng."
" Lo mau?"
Ibnu bersandar ke sofa." Lo menderita karena gue, kita saling terhubung. udah gue pikirin tentang ini, kesembuhan Lo itu pasti bergantung gue."
Mumtaz berhenti mengunyah, lalu mengangguk." dokter juga ngomong gitu." Lo tahu darimana?
" Radit, dia minta gue mempertimbangkan untuk konsul kalau gue ingin Lo sembuh."
Mereka menoleh kala dari ranjang terdengar lenguhan orang bangun tidur, mata mereka bersirobok dengan mata Sisilia yang masih sayu.
" Jam berapa sekarang?"
" Jam tujuh. tidur lagi aja kalau masih ngantuk." ujar Mumtaz.
Sisilia menggeleng, ia mengikat asal rambutnya, lalu turun dari ranjang." aku mau mandi di ruangan Daddy. kakak makan apa?"
" lontong sayur, bawaan kak Inu. mau?"
" Masih ada gak?"
" Satu lagi, aku simpenin buat kamu."
" Kak Inu udah makan?"
" Udah, Habis sandwich dua." jawab Ibnu.
"Jangan sampe lupa makan lagi, laki kok pingsan gegara gak makan." cibir Sisilia, meski demikian dia juga salah satu yang mengkhawatirkan kondisi Ibnu yang merosot selama Mumtaz koma.
" Iya, bawel."
Mumtaz memperhatikan interaksi mereka yang biasa saja," kalian udah damai?" tanyanya.
" Aku sih tergantung Kak Inu, kalap dia nyebelin kayak kemarin yang membatasi aku ngurus kakak, aku bakal jadi orang Cepu sedunia tentang dia ke Kak Ala."
" Ck, cuma saudara yang merawat saudaranya yang sakit." tekan Ibnu.
"Itu kalau saudara kakak jomblo, tapi kak Mumuy udah punya pacar, kado pacarnya yang ngurus." balas Sisilia tidak kalah menekan.
" Cuma pacaran kan..."
" Terpa aja harus ngurus." potong Sisilia cepat.
Ceklek...
Alfaska yang diikuti Daniel yang wajahnya banyak lebam, dan yang lain memasuki kamar dengan raut bertanya.
Mumtaz melihat ke Ibnu yang memasang wajah innocent." itu sebelum obrolan kita tadi." ucap Ibnu tidak merasa bersalah.
" Tia mana, kak?" tanyanya pada Alfaska.
" Nunggu di rumah."
"Ya udah, aku ke ruangan Daddy dulu, ya kak."
sebelum Sisilia membuka pintu, namun tangan sudah di handle nya, Sisilia berbalik setengah badan.
" Kak Daniel." Daniel yang hendak duduk di sofa menatap Sisilia.
"Apa?"
" Aku bicara begini sebagai Sisilia Gaunzaga, aku akan langsung menghabisi Sania kalau kak Daniel masih merecoki Ita meski harus berhadapan dengan Birawa, Gaunzaga-Pradapta tidak akan mundur kecuali nama Birawa hancur. Dista bukan perempuan pilihan lain setelah yang lain tidak sesuai, apalagi dibandingkan dengan wanita murahan macam Sania." tegas Sisilia, sisi lain darinya yang hampir tidak pernah diperlihatkan kecuali pada Mumtaz dan keluarganya.
Sontak suhu ruangan naik menegang, Daniel cukup kaget dengan peringatan Sisilia,, namun kalimat terakhirnya lah yang menohok jantungnya.
" Jangan menyusahkan Kak Mumuy dan berhentilah menjadi bebannya." Sisilia hilang dibalik pintu yang tertutup.
Hari ini rencananya hari kepulangan Mumtaz, mereka berencana berkumpul berbincang santai sebelum mengantarnya pulang.
Mungkin di dunia hanya Mumtaz pasien luka tak yang harus dirawat berbulan-bulan lamanya, karena semua tidak mengizinkannya pulang sebelum luaknya sembuh benar.
Rumah sakit Atma Madina bahkan didesak keduanya mendatangkan dokter ahli bedah plastik untuk menyamarkan bekas tembakan yang terlihat mengerikan atas desakan Cassandra dan Dista pada Bara, Gama, Hito, dan Zahra.
Usaha duo bocah yang bersikukuh itu akhirnya menghasilkan, Mumtaz rela terbaring di atas meja operasi lagi daripada mendengarkan rengekan mereka yang menagtkan akali Sisilia bisa saja berpaling jika Mumtaz memiliki bekas mengerikan tersebut di tubuhnya.
" Muy, udah Lo beresin semua gak barang bawaan Lo?" tanya Ubay memecah keheningan.
__ADS_1
" Baru segitu." tunjuknya pada kerjaan Ibnu yang tertunda.
"Kalian kalau belum sarapan, di kulkas ada sandwich. Lia sebagian beli banyak." Rizal dan Haikal berebutan ke kulkas dan mengambil apa yang ada di dalam sana.
Setiba keluar dari lobby rumah sakit mumtaz tertegun cukup alam karena keterkejutannya akan banyaknya warga dari berbagai kalangan dari level bawah hingga atas menyambut kepulangannya.
Dari politisi, pengusaha, warga biasa, mahasiswa, pelajar tumpak riuh memenuhi rumah sakit.
Tak ayal menghadirkan sebersit rasa terenyuh dalam sanubari Mumtaz, namun diirnaud yang terbiasa berdiri di balik layar kehidupan para sahabatnya sedikit merasa risih ketika dirinya punya panggung meski kecil.
Tanpa diketahui Mumtaz, perkara Navarro dengan obsesinya yang hendak membangun kembali kejayaan Romawi kuno diungkap Alfaska dan Ibnu saat bersaksi di pengadilan Toni atas tuduhan makar satu diantara tuduhan lainnya yaitu: bandar narkoba, perdagangan senjata ilegal, prostitusi, korupsi, pembuvnvhan berencana atas Mahmud, dan pencucian uang.
Persidangan yang sangat menyita perhatian dalam negeri maupun luar negeri mengingat korban adalah orang tua petinggi RaHasiYa.
Daniel dan Ibnu yang biasanya enggan menjadi pusat perhatian kini rela wara-wiri memenuhi undangan talk show stasiun televisi dimana pun mereka berada.
Jangan tanyakan bagaimana dengan Alfaska, disela membersihkan nama bapak Mahmud, Alfaska tidak sudi kepopulerannya kalah saing dari dua sahabatnya. atas prakarsa Rio dia merambah streaming di sosial media lewat akun Rio, *Handsomeboy tv* yang sempat viral dengan konten pergerakan posisi satelit beberapa bulan lalu
Dari mereka lah terungkap peran besar Mumtaz mengungkap kejahatan maha Mega abad ini dari eksistensi Surga Dunia hingga kerjaan bisnis Navarro yang melibatkan para politisi dan penegak hukum.
Nama Mumtaz menjadi populer, para teman SMA-nya bermunculan satu persatu memberi keterangan sosok Mumtaz yang dipanggil pelindung semasa sekolah dulu.
" Selamat anda sudah sehat kembali." Agung mengulurkan tangan.
Mumtaz melihat tangan yang menginginkan balasan darinya tersebut," pejabat sudah mau bersalaman dengan rakyat?" seloroh Mumtaz yang mengandung sarkas pada peristiwa yang tengah populer di media sosial.
Seketika Janu tergelak geli begitupun yang mendengarnya." Hahahaha... di sini banyak kamera dan sebentar lagi pemilu, kami butuh pencitraan." julid Janu menyinggung beberapa rekannya yang lebih memikirkan image ketimbang kerja selama menjadi dewan.
" Selamat atas kesembuhan anda." ujar Anggara Nasution mewakili pengusaha top 30 di Indonesia.
Jalan dari rumah sakit menuju rumah Aida disteril, banyaknya warga yang berdiri dipinggir jalan melambai tangan padanya sambil meneriakkan namanya membuat Mumtaz sedikit bingung dan bertanya.
" Ibnu dan Alfaska mengungkap kisah bapak ke media, ditambah persidangan Toni atas banyak dakwaan berat menggemparkan internasional, menjadikan Lo sosok populer." ucap Bara yang duduk di sebelahnya.
Dia tanpa sadar memainkan kedua tangannya yang memperlihatkan kecemasannya, mata Ibnu menatap sendu tangan itu.
Bara mengurung tangan itu menyalurkan ketenangan dan perlindungan, Mumtaz menoleh padanya." seperti Lo yang melindungi kita, kini kita yang melindungi Lo. jangan khawatir. Lo lihat jarak warga dengan jalan yang batasi anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang kita lewati cukup jauh."
Seutas senyum Mumtaz berikan sebelum dia mengangguk.
" Terima kasih."
"*No problem, we are family, right*?" tekan Bara.
"Hmm, kita keluarga." matanya memandangi warga yang melambai ke arahnya yang dibalas sukarela oleh Alfaska.
Sesampainya di depan rumah yang ditempuh lambat dari biasanya karena kerumunan warga Mumtaz turun dari mobil, beberapa teman lintas kampus menyambutnya." *Welcome home*, Muy." Ucap Brian.
" *Thank*, gak perlu padahal, tapi makasih."
" Gabung di rumah yuk." ajak Mumtaz.
" Rumah Lo udah sesak, Muy. makanya kita di luar. lagian di sini gampang ngambil makanannya." seloroh si cepak menunjuk tenda yang terdapat prasmanan panjang.
Mumtaz terkekeh," langsung dimakan aja kalau begitu. Gue masuk dulu."
Sepanjang berjalan ke rumahnya, Mumtaz menyalami orang-orang yang menjabat tangannya. Teddy dan RT lah yang meredam antusias warga hingga Mumtaz bisa lewat masuk ke rumahnya.
Di dalam ruang tamu, sembari menangis Hanna sudah merentangkan tangan. Mumtaz segera memeluknya erat.
"Maaf, ya. kami lalai memperhatikan kamu, maafin bunda." lirihnya.
Mumtaz menggeleng, Ia menyeka airmata Hanna." Aa senang sudah kembali pulang, punya kalian itu suatu anugerah."
__ADS_1
" Sekarang kami akan memastikan kamu mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan sedari dulu " tegas Aryan yang mengusap-usap punggungnya.
" Papi, punya papi saja Aa bersyukur, Jangan berlaku berlebihan yang membuat Aa seperti orang asing." Mumtaz memeluk Aryan yang tidak bisa lagi menahan tanggul air matanya.
Aryan mengeratkan pelukannya." Maaf, dan terima kasih sudah menyayangi Alfaska yang tidak dia dapatkan dari Mami-nya." ucapnya sebelum mengecup keningnya dalam
" Mumtaz, sini. kakek juga ingin dipeluk kamu." Fatio dengan kaki tuanya menerobos orang yang menghalanginya.
Mumtaz mengulurkan tangan menyambut tangan tua Fatio. Fatio membingkai wajahnya." Heuh, kakek bangga padamu. kalau ada yang galakin kamu bilang kakek, biar kakek yang pites." semua orang terbahak atas bujukan Fatio yang seakan Mumtaz anak kecil.
" Adgar jailin Mumuy, kek." Fatio mencari Adgar yang ternyata berdiri tidak jauh dari Mumtaz yang tengah membelalak besar.
" Bohong, kagak pernah. kayak Adgar punya nyawa sembilan aja berani jail sama bang Mumuy." elak Adgar cepat merespon tatapan tajam kakek buyutnya.
" Sekarang kita makan baru nanti kita haru-haruan lagi." teriak Tia.
" iya, sebaiknya kita makan." ujar Elena mengusap lengan calon menantunya.
Maka bubarlah kerumunan orang yang mengelilingi mereka, Tia menghampirinya, lalu memeluk erat kakaknya" Kangeeennn...Jangan lagi terluka, kami sudah gak bisa kehilangan lagi." lirih Tia dalam pelukan Mumtaz.
" Insya Allah enggak lagi, gimana kabarnya ponakan Aa?" tanyanya seraya mengecup puncak kepala Tia.
" Nendang mulu, kayaknya mau jadi teman sparing uwa-nya." jawab Tia.
Mumtaz tergelak," Hahahaha...uwa Tunggu ya." Mumtaz mengelus perut Tia.
Namun kemesraan kakak beradik itu tidak bertahan lama, Dista dan Cassandra menguasai Mumtaz dari Tia lalu mereka berebut memeluk hingga terjadi adu mulut diantara keduanya.
" Sayang, kita makan. gak guna menonton monyet ragunan rebutan perhatian." ledek Alfaska merangkul istrinya membawanya ke ruang makan.
Hari itu para tetangga, teman, sahabat dan relasi bisa melihat bagaimana Mumtaz adalah sosok yang sangat menyayangi tanpa pamrih. rela berkorban demi orang-orang tersayangnya melewati batas kemampuannya.
Ditengah gagap gempita kesembuhan Mumtaz satu pasang mata tidak pernah lepas kan perhatiannya dari Mumtaz sejak dari lobby rumah sakit hingga Mumtaz melangkah menaiki tangga.
" Gue ke atas dulu." ucap orang tersebut sembari melirik ke arah tangga pada Ibnu meminta perhatiannya.
Ibnu mengangguk," apa gue juga harus ke sana?" tanyanya khawatir.
orang itu menggeleng, " dia butuh ruang sendiri."
Istirahat siang barulah Mumtaz bisa masuk kamar, setelah disepakati akan diadakan selamatan atas kesembuhan Mumtaz selam seminggu penuh, warga sekitar dan pengunjung menyambut meriah acara yang disponsori sukarela oleh para relasi RaHasiYa dari top 10 hingga top 50.
Mereka melarang warga mengumpulkan dana, mereka hanya ingin seluruh warga turut hadir akan kebahagiaan ini.
Mumtaz langsung menuju kamar mandi lalu mencuci muka di wastafel, napasnya terengah cepat dan berat, raut gusar tercetak jelas di wajahnya.
" Gak bisa, gue gak bisa selamanya cemas begini." racaunya gusar menyugar rambut hitamnya.
Tok...tok...
" Muy, Mumuy..." panggil orang itu.
Mumtaz segera membuka pintu yang dia kunci dari dalam karena khawatir ada orang yang melihat kondisi lemahnya ini.
Saat menemukan Radit, Mumtaz lantas memeluknya," Gue butuh seseorang." ungkapnya gemetar.
" Gue ada di sini, jangan ditahan gue senang Lo butuh gue." ucap Radit mengusap menenangkan punggung Mumtaz.
Lama mereka di posisi saling memeluk tanpa rasa risih, memang itu yang diperlukan Mumtaz, dan Radit memberinya sukarela.
perlahan Mumtaz menguraikan pelukan itu, sorot matanya redup dan bingung sangat Radit tidak sukai.
"Muy, ada gue."
" Ini terlalu menyesakkan, gue gak kuat merasakannya. ketakutan, kegelisahan, kecemasan, dan kehampaan ini sangat menyiksa gue Radit. gue gak sanggup lagi merasakannya." lirih Mumtaz dengan mata bergoyang tanpa arah.
" Muy, lihat gue." Radit menangkap wajah Mumtaz agar menatapnya.
" Lo berhasil melewati yang terberat, Lo berhasil mengalahkan musuh yang memusnahkan bapak, Lo berhasil melindungi orang-orang tersayang lo. ayah dan mama di sana bangga sama Lo. jangan menyerah, jangan sekarang ataupun esok. jangan pernah, kita lewati ini bareng-bareng. kalau Lo gak nyaman bersama mereka, Lo bisa hanya sama gue atau siapapun yang Lo mau. mereka sayang sama Lo sebagaimana Lo menyayangi mereka." terang radit dengan suara sangaunya menahan tangis.
Dia sendiri sangat ketakutan saat melihat raut putus asa Mumtaz.
" Gue kakak mereka, seorang kakak harus kuat." ucap Mumtaz bimbang. walau dia bersepakat dengan para sahabatnya untuk saling membahu, nyatanya hatinya enggan melakukan itu, dia terbiasa kuat di hadapan Meraka yang dia panggil adik.
" Kakak sedikit membagi keluh kesahnya tidak akan mengurangi rasa bangga mereka sama Lo, Muy. bagi mereka Lo tetap kakak terbaik." seru Radit.
Di luar kamar, Zayin, dan para sahabat menahan tangis mereka menguping kesusahan bathin Mumtaz.
Tidak ada yang bersuara dari mereka, mereka memasang telinga lebar-lebar atas curahan hati orang terkasih mereka.
Dominiaz satu diantara mereka, matanya memejam mencoba merasakan dia di posisi Mumtaz.
Sedari usai belia, selama bertahun-tahun karena keadaan sudah harus kuat menampung traumatik para sahabatnya, harus mengalah akan kebutuhannya dari kebutuhan para sahabatnya.
__ADS_1
Dominiaz membual matanya yang memerah," tidak dia tidak akan sanggup menahan kewarasannya, kemungkinan besar dia akan gila saat itu juga." bathinnya.
Orang yang terlihat tenang, tidak selalu baik, itu yang Dominiaz pahami....