Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 78. Terlalu Tenang


__ADS_3

Selepas yang lain pulang, Nathan, Dominiaz, dan para sahabat duduk santai di atas kursi kayu jati di teras samping dimana memandangi hujan, tepatnya memandangi dua orang yang terkubur sampai leher yang saat ini terpejam bagai mayat.


Di atas kuburan mereka sengaja di atapi kanopi bening baja ringan agar setiap benda yang jatuh menimpanya berbunyi kencang mengganggu mereka.


Di hadapan mereka oleh tim RaHasiYa telah disediakan layar proyektor yang tersambung dengan laptop yang terhubung langsung dengan kamera yang berada di tiga kamar tidur masing-masing milik Tamara, Amara, dan Gabriela.


" Lo yakin akan bertindak sekejam ini pada mereka?" Tanya Dominiaz memastikan.


" Tentu. Sepanjang hidup gue hari ini adalah akhir penantian panjang gue, setelah ini gue bisa hidup tenang." Tatapan Nathan lurus kepada dua orang tersebut.


" Demi ambisi mengubur mereka gue sengaja bangun rumah di tempat terpelosok begini, dan sekarang gue tidak boleh mundur." Lirih penuh tekad dari Nathan.


Dominiaz, dan yang lain diam tak berniat memotong curahan hati Nathan.


" Gue masih sering bermimpi nyokap-bokap teriak dalam mobil di tengah kobaran api meminta tolong, sementara mereka hanya tertawa memandanginya, dan Lo tahu sendiri beberapa tahun pertama sepeninggal mereka paman Luke bolak-balik ke psikiater untuk menghilangkan rasa duka yang berlebihan, jadi tidak ada alasan bagi gue untuk meringankan siksaan bagi mereka." Ucapannya penuh dengan amarah.


" Lo tahu kenapa mereka 'menyekap' tiga wanita itu?" Tanya Sandra.


Nathan menggelengkan kepala," gue hanya mengikuti mereka, bagi gue bisa membalas dendam pada Aloya saja sudah lebih dari cukup. Sebagai ucapan terima kasih gue akan berkerja sama dengan mereka apapun itu."


" Baik lah, sebagai sohib gue dukung apapun keputusan Lo, resiko kita tanggung bersama. Gue bawa beberapa anak buah Gaunzaga untuk mengurus mereka. Gue pikir Lo gak berharap mereka cepat mati kan!?" Sarkastik Dominiaz.


Nathan menggelengkan kepala," tentu tidak, bahkan gue berharap mereka panjang umur."


" Murah hati sekali Lo mengharap panjang umur orang yang sudah bikin hidup Lo hancur." Sindir Erwin.


" Hahahaha...baik kan gue." Nathan menyindir diri sendiri.


" Yeah." Jawab serempak mereka ambyar.


Hening sesaat,


" Ingatkan gue untuk tidak berurusan dengan RaHasiYa." Celetuk Nathan mengingat nasib Aloya ditangan mereka, dia ngeri sendiri membayangkan dirinya berada d i posisi mereka.


Erwin: idem (2)


Samudera: idem (3)


Dominiaz: idem (4)


Heru: idem (5)


Hito: ide....


" To, Lo gak bisa idem, sekarang aja Lo berurusan sama mereka lewat Zahra. Gue sih yakin mereka sekarang dalam mode mantengin Lo, sekali Zahra nangis lagi tamat riwayat Lo." Seru Heru mendelik ke Hito.


Para sahabat mengangguk setuju, memandangi Hito sok berempati.


" Ck, jangan sok bersimpati lo pada. Padahal dalam hati kalian senang." Dumel Hito, para sahabat nyengir kuda.


" Tahu ae, Lo jelangkung." Ucap santai Erwin.


" Sekarang apa rencana Lo ke depannya? Tanya Dominiaz.


" Mengembalikan hotel paradise pada Alatas!" Imbuh Nathan.


" Hmmm,...tapi Brotosedjo bukan orang yang mudah digulingkan, dia bukan orang kasar seperti Aloya." Heru mengingatkan.


" Kalian pasti udah dengar kalau Mumtaz menjadi bagian dari Alatas architecture, gue yakin sih itu gak lama hotel paradise itu pindah tangan, cuma nunggu waktu tepat aja." Ujar Hito.


Nathan mengernyitkan bingung atas ucapan Hito.


" Petinggi RaHasiYa itu terkenal setia kawan, dan totalitas dulu mereka bantu perusahaan Hartadraja hanya karena Akbar yang meminta tolong dengan dasar Akbar teman dari Bara, atas bantuan mereka perusahaan terhindar dari kerugian milyaran rupiah, bahkan kami sekarang berhemat banyak untuk menjaga rahasia perusahaan." Terang Heru.


Mereka manggut-manggut paham.


" Btw, Alatas bentar lagi nyalip Hartadraja, Lo gak masalah, to?" Tanya Samudera, Hito menggelengkan kepala.


" Bentar lagi juga Hito lengser dari posisi CEO Hartadraja corp." Samudera melirik Hito penuh arti.


Hito menghela nafas berat memikirkan itu.


" Gue tatap bersama  Lo dimana pun, dan kapan pun." Heru mengulurkan tangan ke Hito yang dibalas jabatan dengan senang hati olehnya.


" Thank."


" Hemmm."


*****


" TIA," panggil Alfaska pada Tia yang sedang bercengkrama dengan para sahabatnya di taman dekat kantin.


Tia menoleh mengarah ke suara yang memanggilnya, dia bergeming memandang suaminya yang sudah lama tak bertemu berdiri  bersama para sahabatnya dari arah gedung sains dan teknologi.


" Aaaaa," tanpa basa-basi Tia beranjak dan berlari mendekati Alfaska, Alfaska yang melihat antusiasme Tia dia pun turut berlari menjemputnya, keduanya berlari sambil merentangkan kedua tangan.


" Kayak film India enggak sih." Ujar Juan.


Mata Raja berbinar karena ide pikiran konyolnya, dia mengambil speaker bluetooth-nya, dan mencari list musik India  legendaris kuch-kuch hota hai.


Musik bersuara keras itu mengiringi adegan pelukan erat dua sejoli yang  melepas rindu seperti sudah terpisah  puluhan purnama mengundang perhatian mahasiswa dan mahasiswi di sekitarnya.


Alfaska memeluk erat Tia, mengangkat dan memutarnya sambil terus kencang karena kegembiraannya.


Ketika Alfaska bergembira, Raja, yang di perusahaan Rugawa menjabat wakil direktur bagian perencanaan dan pelaksanaan produk yang memiliki etos kerja detail dan menuntut kesempurnaan sibuk memborong air mineral boto dengan berbagai ukuran, dan air galon berukuran sedang. Dia menarik dengan memaksa beberapa mahasiswa dan sahabat seniornya untuk mengikuti arahannya demi mewujudkan imajinasinya dengan sempurna


Rio yang menyadari kelakuan adik tingkatnya itu bergegas mengeluarkan alat untuk pengambilan video guna konten YouTubenya.


Alfaska berhenti berputar, masih memeluk Tia erat, dia mengurai pelukannya sedikit untuk mencium kening Tia lama dan dalam.


" Miss you so bad, Hon. Love you!" Setelahnya mereka saling tatap dalam waktu yang lama, lupa akan tempat dan waktu Alfaska mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Tia yang dengan mudahnya sudah memejamkan mata siap menerima kedatangan benda kenyal sang suami."


Tarikan nafas tertahan gemas dan melow dari mahasiswi meramaikan adegan itu hingga guyuran air dari atas kepala mereka, dan tubuh mereka membasahi diri mereka padahal tidak hujan.


Tia dan Alfaska menjerit kaget hingga mereka menjauhkan tubuh dari satu sama lain, Alfaska melirik siapa pelaku yang mengguyur mereka, dia tersentak kaget mendapati para teman mahasiswa, dan sahabatnya yang berjongkok mengelilingi mereka dengan air mineral botolan yang menyirami mereka ke seluruh tubuh mereka, bahkan Daniel, sang soulmate, dan Ibnu sampai menunggangi bahu kekar Jeno dan Haikal demi bisa mengguyurnya dari atas kepala tadi dengan air dalam galon.


 


Alfaska melihat pakaian Tia yang tembus pandang lantas dia pun langsung memeluk Tia tanpa malu atas sorakan para teman mahasiswa yang melihat mereka.


Pletak!!!!


" Baju menerawang tuh di lapis sama baju Lo, bukan pake meluk. Modus banget hidup Lo." Omel Mumtaz yang menyampirkan kemejanya luarny ke bahu Tia. Sedari tadi dia sudah malas melihat adegan norak dari dua sejoli alay ini.


Alfaska nyengir kuda sambik menggaruk tengkuknya salah tingkah," maksud hati gitu, tapi hasilnya gini."


Dari ujung netra-nya Mumtaz dapat melihat Sisilia yang berdiri di ambang pintu masuk kantin memegang air mineral botol, begitu mata mereka bersirobok Sisilia berbalik badan dan pergi dari pandangan Mumtaz yang memandanginya dengan pandangan getir.


Saat hendak menyusulnya,


" Mumtaz." Panggil Fatih dari arah kantin, Mumtaz mengalihkan penglihatannya pada Fatih.


" Kita harus ngumpul buat pematangan sebelum berangkat. Sejauh ini mereka puas dengan keterangan Lo." Ucap Fatih begitu berdiri di depan Mumtaz.

__ADS_1


" Hmmm," Mumtaz melangkah mengikuti Fatih menuju pelataran parkir kampus.


***** 


" Hahahaha...video Bollywood Lo langsung rame di YouTubenya Rio, Fa. Lo harus minta bayaran sama dia." Ujar Haikal masih menonton konten Rio.


Memang Rio itu teman dalam bakwan dia mengambil kesempatan adegan rindu dua sejoli tadi menjadi konten YouTube nya yang langsung trending setelah dua jam di upload.


Sosok Alfaska memang sudah dikenal banyak orang setelah dia menggantikan Bara memimpin Atma Madina sewaktu Bara tersandung skandal cintanya.


" Jangan lupa bayaran buat gue, bang. Kalau gak ada ketotalitasan gue gak bakal ambyar tu video, alhasil konten Lo sepi." Ujar Raja jumawa, Rio mengangguk setuju.


" Gue teraktir Lo bakmi depan kampus." Tawar Rio santai, Raja mendengus gak terima.


Dista, Tia, dan Cassandra memasuki ruangan dengan sumringah.


" Mau kemana?" Tanya Bara memegang, dan mencium syahdu tangan Cassandra, dia sudah membaca gelagat binar belanja dari mata dua gadis tersayangnya ini.


" Mall, tapi sebelumnya kita mau jemput Lia dulu." Ucap Cassandra melirik Mumtaz.


" Kak Mumtaz mau disampein salam gak ke Lia?" Tawar Dista 


Mumtaz mengangguk," bilang aja love you bangets!" Bukan Mumtaz yang bicara ucapan gemay itu, melainkan Alfaska.


" Hehehehe, sip. Rebes." Balas Tia sambil mengedipkan sebelah matanya genit.


Setalah tiga perempuan kesayangan mereka pergi, suasana kembali tenang.


" Muy, gue gak pernah lihat Sisilia gabung sama Tia semenjak mama meninggal, kemana dia?" Tanya Rizal membuka suara.


Dia memperhatikan Mumtaz yang sejak kedatangan mereka di rumah Birawa diam sambil sibuk dengan ponselnya.


Mumtaz mengusap wajahnya gusar, dan menggelengkan kepala," kenapa nanya gue dah, kan kalian yang ada di sini."


" Kalian putus?" Tanya Radit hati-hati.


" Ngarep Lo?" Tanya sinis Mumtaz.


" Santai boss, cuma enggak biasanya Sisilia gak ngebucinin Lo." Radit mengangkat kedua tangan.


" Gue juga gak ngerti apa yang terjadi. Tapi jangan sampe, gue butuh dia." Lirih Mumtaz sendu.


Para sahabat pun terdiam, tak biasanya Mumtaz mengeluarkan isi hatinya.


Semenjak dia balik dari Tangerang, sudah berapa kali Mumtaz menelpon, dan mengirim pesan pada Lia, namun tak ada satupun yang dibalasnya.


" Btw, kematian mama gue baru nyadar hidup ini ternyata hanya singkat tak peduli berapa lama kita menikmatinya, oleh karena itu guys, gue gak mau buang waktu gue lagi. Ita terlalu berharga utnuk gue sia-siakan, di malam terakhir Pema gue mau melamar dia." Ucap Daniel tenang.


" HAH?" semua orang terkejut.


" Serius Lo?" Tanya Rizal meyakinkan atasannya ini, Daniel mengangguk.


" Dari lama emang gue udah berniat menikahi dia, tapi nunggu dia lulus kuliah dulu, tapi dari kejadian  kemarin gue sadar hidup itu gak selalu sesuai yang kita rencanakan."


" Rencana lamarannya gimana?" Tanya Yuda, sebagai ketua BEM, dia harus menjaga agar jadwal berjalan lancar, tetapi sebagai teman dia pun harus mendukungnya.


" Lo pernah nawarin the Aneh manggung, kan?!" Yuda mengagguk," jadi selesai perfom gue ngelamar dia." Ucap Daniel sambil menatap Mumtaz dengan tatapan memohon, karena selama ini Mumtaz lah yang selalu menolak jika ada tawaran manggung.


Melihat kesungguhan Daniel, dengan terpaksa Mumtaz menyetujuinya. Walau dalam hati keberatan, dia sungguh males jika harus menjadi pusat perhatian.


Sebenarnya sejak dua sahabatnya dikenal orang sebagai pewaris konglomerat, Mumtaz enggan terlihat bersama dengan mereka, dia sungguh tak nyaman menjadi perhatian banyak orang.


" Oke, nanti gua atur ulang jadwalnya." Tukas Yuda.


" Gue ke toilet dulu." Ucap Ibnu beranjak pergi.


Saat hendak kembali ke ruang tengah dimana temannya berkumpul Ibnu terkaget ketika ada yang menarik kaosnya hampir dia melayangkan pukulan namun diurungkan ketika dia melihat yang menarik kaosnya adalah sang bunda.


Bunda membawa Ibnu ke ruang kerja ayah tanpa menyadari kalau ayah ada di sana, di tempat kebesarannya.


" Bilang, ada apa dengan Mumtaz?" Tanya bunda to the point,


Ibnu mengernyitkan alisnya bingung, " " emang dia kenapa?"


" Itu yang pengen Bunda tahu, kenapa Mumuy selalu terlihat sedih."


" Yaaa, karena baru ditinggal mama?!" Ucap Ibnu ragu.


Bugh!!


" Awwss."" Ibnu meringis mengusap-usap lengannya yang lumayan sakit, bunda benar-benar memukulnya dengan bertenaga.


" Dia ada masalah sama Sisilia? Jangan bohong!!!" Peringat bunda.


Ibnu terdiam ragu untuk menjawabnya.


 " Ibnu, jadi benar kan ada masalah diantara mereka? Ngomong dong."


" Bunda tanya aja sendiri sama dia, takutnya ini disangka ikut campur."


" Kamu ini sama temen sendiri kok takut." Dumel bunda.


" Emang bunda berani nanya dia langsung!?" Tanya Ibnu setengah meledek.


" Enggak, makanya bunda tanya kamu. Kamu kan sama dia soulmate." Cerocos bunda sambil mengkaitkan jari telunjuk kanan dengan  jari telunjuk kirinya.


" Mana ada, kalaupun iya, mana ada soulmate ngebuka rahasia temannya sendiri." 


" Kamu ini, teman susah kok diam aja, cerita napa siapa tahu bunda bisa bantu." Bunda bertolak pinggang saking gemasnya bunda pada Ibnu yang masih enggan membuka suara.


" Ini ada apa ya kok ribut di sini." Tanya ayah yang sedari tadi menonton obrolan mereka.


Bunda yang merasa mendapat pertolongan langsung mengadu.


" Tuh, Ibnu gak setia kawan. Masa Mumtaz lagi susah dia enggak mau bantu." Adu domba ala bunda.


" Hah." Ibnu melongo kenapa aduannya seperti dia pengecut begitu.


Ayah mengernyit meragukan ucapan istrinya, pasalnya dia tahu kalau itu tidak mungkin Mumtaz dan Ibnu adalah dua orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk satu sama lain.


" Ayah, ih kenapa diam aja." Bunda memukul Bahu ayah gemas.


" Nu," panggil ayah sarat teguran, dan minta penjelasan.


" Inu, enggak tahu apa-apa, yah."


" Bohong, awas aja kamu bunda gak bakal restui hubungan kamu sama Ayu." Ancaman bunda terdengar mengerikan bagi Ibnu.


" Kamu pikir bunda enggak tahu kalau kamu selama ini ngejar-ngejar ayu." 


" Bukannya sebaliknya ya." Gumam Ibnu.


Melihat istrinya yang mulai hilang kesabaran, ayah harus mengambil sikap.

__ADS_1


"Nu." Sekali lagi panggilan ayah terdengar sebuah peringatan bagi Ibnu entah mengenai apa.


Ibnu yang tak mampu berbuat apapun hanya bisa pasrah. Dia mendekati meja ayah sambil membuka ponselnya.


" Inu gak tahu pasti apa ada Masalah atau tidak diantara Mumuy dengan Sisilia, tapi kemungkinan karena ini Sisilia menghindari Mumtaz."


Ibnu meletakan ponselnya ke atas meja kerja ayah, dengan cepat bunda menyambarnya. Ayah yang juga penasaran, tapi tidak mau mencari masalah dengan istrinya membawa bunda kepangkuannya dan  mereka menonton bareng rekaman cctv ruang tamu rumah Pradapta yang di hack oleh Ibnu, malam dimana Mumtaz datang ke rumah Pradapta hendak meminta ijin membawa Sisilia menemani Tia yang mendapat penolakan dari Elena.


Usai menonton, bunda berdiri dengan mengibas-ngibaskantangan di depan wajah yang mulai memerah, ia geram.


" Sumpah, bunda kesal dan juga gemas dalam waktu bersamaan." Celetuknya


" Ayah, bunda gak mau tahu sekarang juga ayah minta ketemuan sama pak Gama bawa sekalian Elena."


" Kok, ayah jadi ikut-ikutan."


" Terus harus bunda langsung yang minta ketemuan sama Elena? Aneh enggak sih. Bunda sama beliau gak dekat, ayah."


Melihat ayah yang hendak protes lagi, bunda melototi ayah," ayah telpon pak Gama, bunda telpon Sandra. Bunda harus tatar emak-emak ini."


Bunda meletakan ponselnya di depan telinganya.


Merasa tidak ada lagi yang harus dikerjakan Ibnu beranjak meninggalkan ruang kerja ayah, baru beberapa langkah kaos belakangnya sudah ditarik lagi oleh bunda.


" Kamu gak boleh kemana-mana, kamu harus ikut bunda jelaskan pada mereka siapa Mumtaz sebenarnya."


Ayah meringis dapat merasakan ketidakberdayaan Ibnu yang enggan menuruti keinginan bundanya, namun tak kuasa tuk menolaknya.


Ceklek!!!


" Kalian sedang apa ?" Tanya Daniel heran melihat Ibnu ada di ruang kerja ayahnya.


" Ada apa, Niel?" Tanya Ibnu.


" Lo dicariin Mumuy mau balik, Lo nginep di sini atau pulang bareng Mumuy?"


Ibnu menatap bunda, bunda melepas kaos Ibnu yang tak sadar masih dia pegangi.


" Balik."


Daniel mengangguk," jaga dia, gue gak suka cara tenang, dan santai dia menyikapi kepergian mama."


" Hmmm, Lo gak ikut?"


" Gue di sini, jaga Afa. Orangnya lagi tidur."


" Radit?"


" Ada, gue udah minjem dia sama orang tuanya, Alhamdulillah diijinin."


" Oke, kalau gitu gue balik." Ibnu berbalik badannya hendak menyalami bunda dan ayah.


" Jaga diri kalian, kalau ada apa-apa cerita sama bunda. Kamu jangan terlalu diam." Bunda memberi pelukan penyemangat pada Ibnu.


Melihat Daniel yang masih berdiri dalam ruangan ayahnya," Lo masih mau di sini?"


" Iya, gue mau ngomongin rencana lamaran ke Ita."


Ibnu bergeming terkaget untuk sesaat, " gue ikut apapun rencana Lo, gue balik."


******


Di ruang privat cafe' D'lima lima wanita paruh baya berkumpul atas undangan Hanna.


" Maaf, saya mengganggu waktu santai kalian, tetapi ada hal yang mengganjal yang harus saya luruskan mengenai Mumtaz dan saudaranya" selama berbicara netra hitam Hanna menatap dalam para tamunya satu persatu.


" Saya rasa saya tidak punya masalah dengan Mumtaz, dan saya sayang dengan Zahra. Saya berharap dia menjadi menantu saya." Jawab Dewi menanggapi ucapan Hanna.


Hanna tertegun sejenak," benarkah?, Maaf, tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi saya hanya ingin memastikan saja."


Dewi mengangguk memahaminya," saya paham, mama Sri memang terlalu keras terhadap Zahra saya sendiri bingung karena apa?"


" Bagaimana dengan Hito?"


" Demi Zahra dia menghapus nama Hartadraja di belakang namanya, tentu saya dan mas Aznan memberi restu untuk itu, kami hanya ingin kebahagiaannya." Terang Dewi menjelaskan apa yang terjadi dengan keluarganya.


Mereka semau tercengang, sungguh mereka tak menyangka mendengar berita besar ini.


" Bukankah CEO Hartadraja itu harus dari keluarga kalian?" Tanya Sandra hati-hati.


Dewi mengangguk," iya, Hito sudah siap dengan segala resikonya, dia sudah tak ingin lagi diatur mama Sri."


" Oke, perihal Zahra - Hito clear. Sekarang perihal Sisilia - Mumtaz." Mata Hanna sekarang tertuju pada Elena.


" Saya sudah memaksa Ibnu untuk  membuat rangkuman rekaman perilaku Mumtaz terhadap Sisilia, dan perilaku Riana kepada Sisilia yang membuat Mumtaz kasar padanya  agar anda berhenti berpikiran negatif padanya." Hanna  to the point, ia menyodorkan iPadnya pada Elena.


" Hal yang sama juga berlaku padamu, Sandra. Aku benar-benar tak terima sikap kasar kamu pada mereka, kalian lihat sendiri bagaimana keluarga Aida memperlakukan Atma Madina." Lagi, Hanna menyodorkan iPad yang lain pada Sandra, dan Sherly.


Lama tak ada yang bicara, wajah  Elena gusar, dan pias atas kesalahpahaman pemikirannya tentang Mumtaz, dia dapat melihat betapa Mumtaz sangat mencintai Sisilia.


" Lusa adalah hari terakhir Pema, mereka semua akan berkumpul di sana. Seharian itu saya harap kalian meluangkan waktu, kita akan mengikuti mereka agar tidak ada lagi kesalahpahaman ini. TIDAK ADA PENOLAKAN!" Tekan Hanna kala melihat Sandra hendak membuka  mulutnya.


" Termasuk saya?" Tanya Dewi menunjuk dirinya sendiri.


Hanna mengangguk," saya ingin kamu melihat hubungan mereka sebagai keluarga." Jawab Hanna.


" Dan, saya lebih menekankan ini pada anda Nyonya Elena." Tukas Hanna tenang, namun penuh peringatan.


Elena mengangkat wajahnya dari atas iPad, "tentu, saya tidak sabar ingin mengenal calon mantu saya.


******


Zayin, Mumtaz, dan Ibnu terdiam berdiri di depan kamar tidur Zahra. Saat mereka hendak ke kamar  masing-masing mereka mendengar tangisan dalam kamar yang diyakini  tangisan penuh kepiluan.


Zayin secara perlahan membuka pintu kamar, dia tersentak mendapati kakak tertuanya menangis sambil memeluk bingkai foto yang diyakini merupakan foto mama.


"Ma, mama. Pulang! Ala kangen. Ma, Ala sakit, ala butuh Mama! Hiks..."


" Mamaaaa..., Ala... Ala... hanya US bagaimana, Ala sayang hit, tapi ala belum bisa memaafkan mereka... Ala ingin Mama kembali...hiks...hiks.." 


Zayin yang tak sanggup melihat keadaan kakaknya menutup kembali pintu kamar itu.


Tiga pemuda itu kini termenung dikamar tidur Mumtaz.


" Kita terlalu sibuk  ngurusin Aloya, hingga lupa tentang kak Ala." Seru Ibnu menyesal.


Mumtaz, dan Zayin menganggukan kepala.


Ibnu dalam diamnya menatap Mumtaz, sungguh dia mengkhawatirkan keadaan Mumtaz yang terlihat terlalu tenang, dan santai dalam menyikapi semaunya.


TERLALU TENANG!!!...


like, komen, hadiah...hadiah...n votenya... ya

__ADS_1


__ADS_2