Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
229. Gamang


__ADS_3

" Ya tuhaannn..., Pegel banget gue." Rintih Dewa memijit tengkuknya setelah menghabiskan waktu beberapa lama di cafetaria.


Dimas ayang berjalan di sampingnya terkekeh geli,"  lantai tujuh ada siapa?"


Mereka berjalan menuju samping kantor bagian lobby, sungguh mereka membutuhkan pemandangan alami setelah hampir 12 jam Setipa harinya dihabiskan mengawasi posisi seluruh gedung dan petinggi RaHasiYa.


Pihak kampus bahkan harus membatalkan perpisahan Yuda sebagai ketua BEM karena Yuda yang sulit dihubungi.


Dirinya  meninggalkan lantai sembilan hanya untuk kuliah, setelah waktunya dihabiskan di lantai tersebut.


" Banyak, anak buah bang Daniel hampir turun semua." 


Kini mereka duduk di bangku taman sambil mengemut permen susu.


" Kalau ini selesai, gue berjanji akan kuliah lebih giat, biar gue jadi dokter kayak kak Zahra.


" Otak Lo gak bakal nyampe." Seloroh Dewa.


Derrtt....drrttt....


Dimas mengambil ponselnya yang bergetar dari dalam kantong celananya.


Saat melihat Zahra ayang menelponnya dimas menjauh dari Dewa.


" Wa, gue duluan." Dimas beranjak masuk gedung, namun baru beberapa langkah Dewa memanggilnya.


" Mas, gue gak mau tahu, gue percayakan kaka Zahra sama Lo."


Sontak dimas diam menimbang, " maksud Lo?"


" Gue tahu Lo ditugasi mengawasi Navarro, bang Zayin udah mulai marah-marah, segala resiko yang terjadi nanti Lo yang nanggung."


" Wa, jangan bikin gue takut." Ucap Dimas cemas.


" Petinggi RaHasiYa sangat tidak menyukai perkembangan kondisi Navarro, sebaiknya Lo baca tentang dia, dan kasih tahu kak Zahra."


Dengan lesu lewat angnggukan Dimas mengiyakan." Gue pergi dulu."


********


Di siang bolong Zahra memilih mengunci diri di dalam kamar tidurnya dengan laptop menyala, dia sedang melakukan obrolan lewat daring dengan Dimas.


" Dimas, raport terbaru?" Titah Zahra to the points.


" Sejauh ini kondisi Navarro sesuai dengan analisa kita, perkembangannya dijaga ketat oleh doktor Zahira berdasarkan laporan dari Pak Matunda, asistennya."


" Bagus. Katakan pada Daniel untuk menyingkirkan tempat padat dan kuat dalam bentuk apapun di tempat pertemuan mereka."


" Siap, kak."


" Oh, iya. Saya sudah mentransfer honor kamu ya."


Terdengar erangan keberatan di sebrang saluran," Kak, itu tidak perlu. Ilmu Kakak saja udah cukup bagiku."


" Heh, jangan anggap saya miskin, Romli bilang selama ini kamu belum pernah mau menerima bagian kamu makanya untuk kali ini saya kirim ke kamu. Kalau mau marah, marah sama dia, dia yang maksa."


" Kak, saya tidak bisa___"


" Say tutup, awasi Navarro. Dan saya bayar kemampuan kamu, bukan harga diri kamu."


Klik____


Tring...


Dimas membuka aplikasi m-bankingnya yang memuat laporan pemasukan dana berjumlah cukup besar bagi mahasiswa dengan pekerjaan sebagai asisten penulisan jurnal.


" Semoga suatu hari nanti gue bisa seperti Kak Zahra." Gumam mahasiswa semester tiga tersebut penuh haru, tidak dia pungkiri itu sangat berharga baginya untuk biaya kuliahnya, tetapi rasa malu lebih besar menghinggapinya.


Di lain tempat Dewa merekam obrolan tadi, dan langsung melapor pada Mumtaz yang sedang berada di gedung Romli corp yang kebetulan di sana juga ada Zayin di sebelahnya, maka Zayin pun mengatakan keberatannya pada Hito setelah melihat rekaman komunikasi antara Dimas dan Zahra tersebut.


*******


Tok..tok...


Cklek_____


Saat pintu dibuka, Hito mendorong pelan Zahra agar kembali masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya kemudian menyimpan kunci itu ke dalam kantong celananya.


Hito mengarahkan Zahra duduk di kursi, sementara dirinya berdiri di depannya Zahra, membelai wajahnya, kemudian membingkainya agar menatap lurus padanya.


" Ada apa?" Zahra terganggu dengan raut Hito yang terlihat datar.


Hito melepas wajah kekasihnya untuk mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman pembicaraan dirinya dengan Dimas.


Zahra terperangah kaget," kalian menyadap ku?" Tanya Zahra tidak percaya.


Hito berjongkok, menyatukan kedua tangan Zahra, lalu menumpuknya dalam satu genggaman." Kamu menelpon Dimas ketika dia berada di gedung RaHasiYa, semua sinyal yang masuk otomatis akan tersimpan pada server mereka."


" Apa Mumuy tahu?" Tanya Zahra risau.


" Dia salah satu perancang gedung itu dan petinggi RaHasiYa, menurut mu?" Hito mengelus lembut punggung tangan Zahra yang terlihat sudah cemas.


" Yang kamu khawatirkan bukan Mumtaz tapi Zayin. Dia dalam mode marah besar padamu."


 Zahra terkejut ia ingin berdiri namun langsung dicegah Hito dengan menekan pundaknya agar tetap duduk.


" Ayin, kenapa dia terlibat dalam urusan ini? Bagaimana dengan karir militernya? Come on, dunia militer bersinggungan tipis dengan politik." Ucap Zahra sewot.


" Aku gak menahu perihal itu, setahu ku semua hal mengenai Navarro bersifat rahasia."


" Kak, kamu gak bisa gak tahu, kamu harus tahu." Bujuk Zahra.


" Ra, bisa jadi menurut Zayin apa yang kamu lakukan menghambat upaya mereka. Kamu gak konformasi dulu sebelumnya."


" Tapi kamu tahu."


" Ra, pada dasarnya Gaunzaga dan RaHasiYa tidak saling membocorkan informasi. Kami hanya mengatakan apa yang perlu, ini bukan hal yang mudah untuk digibahi, dan aku gak tahu apa rencana kamu."


" Jadi, aku mohon jangan mempersulit keadaan. Aku gak tahu apa yang dimaksud mengecewakan bagi Matunda adalah kesembuhan Navarro. Dulu kamu menolak untuk mengobatinya, tapi sekarang kamu menyembuhkannya. Aku gak bisa nebak maksud kamu, aku gak bisa lindungi kamu kalau ada hal yang negatif terjadi pada mereka karena keputusanmu." Terang Hito panjang lebar.


Zahra mengambil tangan Hito, mengusap, lalu menepuknya lembut." Kak, percaya sama aku, semua baik-baik saja. Apa yang kalian lihat bukanlah apa yang terjadi." 


" Aku percaya kamu, tapi kamu tahu sendiri Zayin orangnya gimana. Jadi, beri aku laporan apa saja yang menyatakan bahwa kamu tidak berbuat keliru."


Zahra mengambil satu bundel kertas di meja, lalu mendirikan ya ke hadapan Hito.


" Semuanya ada di situ, tanya saja pada prof Farhan untuk keterangan lebih lanjut."


Hito berdiri, kemudian mengecup kening Zahra lama." Jangan bikin aku khawatir, hmm."


Zahra mengangguk mengangguk.


" I love you." Ucap Hito lembut dengan tatapan hangat.


" Love you too."

__ADS_1


Tidak berapa lama dari luar kamar terdengar suara keributan.


Braghkk..kedubraghhkk....Brakh...


 Kontan Zahra dan Hito kaget, mereka berjalan ke pintu, begitu pintu dibuka mereka melihat Adgar kewalahan dengan segala barang bawaannya yang dicoba dimasukkan dalam ranselnya.


" Gar, ada apa?" Tanya Hito menghampiri dia.


" Eh, om Hito." Matanya melirik Zahra sekilas namun semapt tertangkap oleh Hito.


" Kamu mau pergi?"


Adgar mengangguk." Kemana?"


" Jakarta. Darurat."


" Kenapa?" Zahra kini bergabung.


Adgar serikat gugup, ia mengusap tengkuknya yang tidak pegal, dilanjut memijit pelipisnya, kemudian ia memijit hidungnya.


" Ee..eee..." Adgar gugup.


" Adgar, jawab." Titah Hito tegas.


Adgar menghela napas kasar." Gedung... RaHasiYa...Ter..." Dia ragu untuk memberitahu namanya  


******


Adgar tengah berjalan-jalan bersama Crystal di sekitar pesantren sambil sesekali menjawab sapaan dari para santri saat menerima telpon dari Raja.


" Sebaiknya kau membawa berita penting bukan karena gabut saja." Todong Adgar to teh point.


" Navarro telah menguasai gedung RaHasiYa." Informasi Raja membuat Adgar menghentikan langkahnya untuk berdiri tegak siaga.


" Maksud Lo? RaHasiYa bukan tempat semua orang bisa masuk, Raja." Adgar sewot karena belum bisa menerima berita itu.


" Kenyataannya begitu. Ternyata Navarro punya anak buah yang hebat."


" Bukankah bang Ibnu ada di sana, dia atau bang Mumtaz tidak akan membiarkan tanpa perlawanan."


" Nah, itu herannya mereka tidak mendeteksi sama sekali perlawanan kedua Abang itu atau memerintah mereka untuk melawan. Bang Mumtaz memerintahkan mereka untuk mempelajari jejak hacker tersebut hingga bisa masuk gedung."


" Tapi setidaknya kita tahu mereka tidak akan mudah melewati pintu masuk kecuali pintu itu bisa membaca pikiran orang. Kecuali..."


" Kecuali bang Mumtaz membiarkannya." Potong Raja.


" ****..mereka tidak bisa melakukannya, gue dengar Navarro adalah ahli siasat di kesatuannya. Walau  ada Zayin, gue pikir dia belum bisa jadi tandingannya." Ujar Adgar.


" Dan di sini kita kekurangan personil." Seru Raja merujuk pada pembaharuan teknologi pada lantai teratas.


" Gue balik. Sampai jumpa." Adgar menutup sambungan telepon itu.


Setelah menutup panggilan, Adgar lantas berjalan cepat ke tempat Crystal lalu menggendongnya meski dia  tengah bermain dengan para santriwati.


Di gendong dadakan di tengah keseruan  Crystal pun menangis meraung kencang hingga mengudang perhatian beberapa santri.


Khadafi yang melihat itu berjalan menghampirinya, beberapa santri saling pandang bertanya walau tak dipungkiri mereka juga takjub sofa Adgar.


Khadafi yang dikenal santri biasa saja kenal dengan orang kaya raya klan Hartadraja.


Pertama kedatangan para konglomerat tersebut membuat satu pesantren heboh, mereka bisa melihat langsung orang yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi. 


" Ical kenapa bang? Tanya Kadafi mengambil Crystal ke dalam gendongannya.


Ia menepuk-nepuk punggung Crystal guna menenangkan.


" Makan, Dafi." Jawab Adgar seenak udel.


Khadafi memutar bola mata malas." Maksud gue Lo apain, ya kali itik juga Lo bikin kesel.


" Kemana?"


" Ck, kayak bini Lo. Jaga aja udah." Dumel Adgar.


Khadafi menatap punggung Adgar dengan khawatir6, 80% memperkirakan ini urusan RaHasiYa.


" Aa dafi, Ical pengen jajan." Rengek Crystal.


" Kita jajan kalau Icalnya berhenti nangis." Khadafi mengusap air mata Crystal.


Crystal mengangguk, ia memaksakan untuk tersenyum.


Khadafi yang melihat upaya Crystal untuk jajan tersenyum geli," anak pintar." Ucap Khadafi seraya mengelus rambut Crystal.


" Kya... Aa Dafi Ical cayang Aa Dafiii..." Pekik Crystal mengundang beberapa orang memperhatikannya termasuk Adgar, dia bahkan sampai berhenti melangkah.


Adgar berbalik, saat langkah pertama menghampiri mereka ponselnya kembali bergetar.


Dengan mata memandangi Khadafi dan Crystal yang tertawa bahagia Adgar menjawab panggilannya.


" Hallo." Ucapnya ketus tidak sabar. Adgar kembali menelponnya.


" Gedung RaHasiYa sudah dikepung anak buah Navarro." Ucap Raja.


Langsung Adgar mengubah panggilan berganti ke video call. Raja yang bersembunyi di bawah meja sekretaris depan ruang kerja Ibnu  merekam gambar keadaan sekitar.


" Oh, shitt." Umpat Adgar.


Pandangannya mengarah pada Khadafi.


" Dafi."


Khadafi yang dipanggil menoleh pada Adgar, Adgar jari telunjuk dan jari tengahnya menunjuk matanya kemudian mengarah padanya.


" Awas Lo gue liatin, Lo mabipnical dari gue, abis Lo di tangan gue." Setelah menagtkan demikian Adgar berlari ke rumah mama Aida.


" Hah? Maksudnya apa ya?" Gumam Khadafi bingung.


Crystal terkikik-kikik merasa lucu.


" Heh, apa maksud Aa Adarg6?" Khadafi menggelitik perut Crystal.


" Mana Ical tahu, Ical kan bidadali."


" Astaga dia gak mungkin cemburu kannya. Dasar itik meresahkan." Omel Khadafi yang melanjutkan gelitikan di perut Crystal.


" Hahahhhaah... ampun...ampun...."




Adgar berjalan-jalan bersama Crystal di sekitar pesantren sambil sesekali menjawab sapaan dari para santri saat menerima telpon dari Raja.


__ADS_1


" Sebaiknya kau membawa berita penting bukan karena gabut saja." Todong Adgar to teh point.



" Navarro telah menguasai gedung RaHasiYa." Informasi Raja membuat Adgar beristri tegak siaga.



" Maksud Lo? RaHasiYa bukan tempat semua orang bisa masuk, Raja."



" Kenyataannya begitu. Ternyata Navarro punya anak buah yang hebat.



" Bukankah bang Ibnu ada di sana, dia atau bang Mumtaz tidak akan membiarkan tanpa perlawanan."



" Nah, itu herannya mereka tidak mendeteksi sama sekali perlawanan kedua Abang itu atau memerintah mereka untuk melawan. Bang Mumtaz memerintahkan mereka untuk mempelajari jejak hacker tersebut hingga bisa masuk gedung."



" Tapi setidaknya kita tahu mereka tidak akan mudah melewati pintu masuk kecuali pintu itu bisa membaca pikiran orang. Kecuali..."



" Kecuali bang Mumtaz membiarkannya." Potong Raja.



" \*\*\*\*..mereka tidak bisa melakukannya, gue dengar Navarro adlah ahli siasat di kesatuannya. Meksi ada Zayin, gue pikir dia belum bisa jadi tandingannya." Ujar Adgar.



" Dan di sini kita kekurangan personil." Seru Raja merujuk pada pembaharuan teknologi pada lantai teratas.



" Gue balik. Sampai jumpa." 



Setelah menutup panggilan, Adgar lantas berjalan cepat ke tempat Crystal lalu menggendongnya meski dia tengah bermain dengan para santriwati.



Di gendong dadakan di tengah keseruan permainannya Crystal pun menangis meraung kencang t kolom-kolom hingga mengudang perhatian beberapa santri.



Khadafi yang melihat itu berjalan menghampirinya, beberapa santri saling pandang bertanya walau tak dipungkiri mereka juga takjub.



Khadafi yang dikenal santri biasa saja kenal dengan orang kaya raya klan Hartadraja.



Pertama kedatangan para konglomerat tersebut membuat satu pesantren heboh, mereka bisa melihat langsung orang yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi. 



" Ical kenapa bang? Tanya Kadafi mengambil Crystal ke dalam gendongannya.



Ia menepuk-nepuk punggung Crystal guna menenangkan.



" Makan, Dafi." Jawab Adgar seenak udel.



Khadafi memutar bola mata malas." Maksud gue Lo apain, ya kali itik juga Lo bikin kesel.




" Kemana?"



" Ck, kayak bini Lo. Jaga aja udah." Dumel Adgar.



Khadafi menatap punggung Adgar dengan khwatir, 80% memperkirakan ini urusan RaHasiYa.



" Aa dafi, Ical pengen jajan." Rengek Crystal.



" Kita jajan kalau Icalnya berhenti nangis." Khadafi mengusap air mata Crystal.



Crystal mengangguk, ia memaksakan untuk tersenyum.



Khadafi yang melihat upaya Crystal untuk jajan tersenyum geli," anak pintar." Ucap Khadafi seraya mengelus rambut Crystal.



" Kya... Aa Dafi Ical cayang Aa Dafiii..." Pekik Crystal mengundang beberapa orang memperhatikannya termasuk Adgar, dia bahkan sampai berhenti melangkah.



Adgar berbalik, saat langkah pertama menghampiri mereka ponselnya kembali bergetar.



Dengan mata memandangi Khadafi dan Crystal yang tertawa bahagia Adgar menjawab panggilannya.



" Hallo." Ucapnya ketus tidak sabar.


__ADS_1


" *Gedung RaHasiYa sudah dikepung anak buah Navarro*." Ucap Raja.


__ADS_2