
Malam H-3 pengumuman hasil investigasi Gonza resraurant.
BRAK!!!
Pintu kamar tidur hotel no 132 ditendang oleh seorang berpakaian serba hitam dan bertopeng, mereka melangkah masuk sambil memotret objek panas di depannya diikuti oleh beberapa orang yang berpakaian sama.
Dua orang yang sedang bergumul terlonjak memisahkan diri, hingga pria berusia 60 tahun terjatuh terlentang dengan senjatanya yang masih tegak dan licin oleh cairan yang menempelnya
Dua orang yang masing-masing memegang kamera polaroid dan kamera DSLR mengarahkan kamera mereka pada dua orang beda jenis kelamin tersebut dan mengambil potret merek, sedangkan satu orang membawa kamera video menyorot dua orang itu.
Satu orang bertopeng menginjakkan kakinya ke atas dada orang setengah tambun itu. Mereka tidak diberi waktu untuk menutupi tubuh bugil mereka.
" Hallo, bapak Bambang Artiva yang terhormat." orang dengan kamera polaroid itu melempar beberapa foto hasil jepretannya pada wajah lelaki itu.
" Si..siapa kalian?" Bambang Artiva, adalah kepala laboratorium yang mengepalai memeriksa zat makanan Gonza restaurant.
" Bagaimana kalian bisa masuk?" Teriaknya lantang.
Mengabaikan pekikan Bambang, orang yang disinyalir memimpin misi ini menoleh ke arah Devi," Hello, Devi, long Time no see. Jadi di sini kamu bermain selepas gagal menggoda Heru, suami dari Eidelweis Hartadraja." Ucapnya sambil tersenyum menghina pada perempuan yang masih terduduk di atas kasur sambil memegang bantal guna menutupi tubuh bugilnya, ia terkejut, dia tidak menyangka ada yang mengenalinya padahal dia sudah melakukan operasi plastik besar-besaran untuk merombak wajahnya agar tidak berperkara dengan klan Hartadraja.
Pria bertopeng tersebut menarik rambut Bambang menyeretnya ke sofa panjang, lalu mendudukkan di atasnya.
" Ubah keputusan hasil laboratorium mu yang penuh kebohongan atau semua tindakan korupsi yanh kau lakukan tersebar di media massa. Pria itu menyodorkan ponselnya.
" Kau berani mengancam ku?"
" Ck, mengulur waktu." Kata pria itu malas.
" Men, sebar foto mereka sekarang juga." titahnya pada rekannya yang membawa kamera DSLR.
Orang yang memegang kamera DSLR mengangguk cepat, saat hendak mengirim foto terdengar suara Bambang.
" Tunggu," ucap cepat Bambang mengangkat tangannya.
Orang itu berhenti bergerak.
" Baiklah, kemarikan hp-nya." Pemimpin itu memberikan panselnya yang sudah tersambung dengan nomor asistennya.
Bambang menempelkan ponsel itu di telinganya, begitu sambungan dijawab.
Dengan cepat Bambang berkata, " laporkan, saya diculik...Aaaws." pemimpin itu menonjok keras pelipis Bambang hingga dia terjatuh ke samping, mengambil lalu mematikan ponselnya.
" Ingin bermain dengan kami rupanya, kirimkan foto mereka ke media sosial."
" Siap."
" Hentikan,...maafkan saya. Saya berjanji kali ini sesungguhnya." Cegahnya dengan suara kecemasan.
Sang pemimpin mengabaikan dia," laksanakan perintah."
" Siap." Orang yang memegang kamera itu berjalan menuju temannya yang sedang sibuk mengutak-atik laptopnya.
" Berhenti, saya mohon." Bambang bersimpuh dengan kedua tangan menyatu.
" Gunakan ponsel mu." Titah sang pemimpin.
Tanpa sungkan masih bugil Bambang berjalan mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.
Ia langsung melakukan sambungan telpon dan memberikan instruksi kepada para stafnya.
Di lain tempat dalam waktu bersamaan kelompok orang-orang dengan pakaian yang sama serba hitam memasuki beberapa rumah oknum petinggi kepo.lisian dan BP.OM yang terlibat tindakan korupsi dalam kasus Gonza restaurant.
H-2 Pengumuman.
" Apa ini?" Suaranya meninggi bapak Ergi Kusuma, Kapo.lri. begitu terkejut dengan video yang diputar berdurasi 60 menit berupa potongan adegan penggerebekan dan penerimaan gratifikasi yang dilakukan oleh pengacara Eric Gonzalez terhadap beberapa oknum petinggi kepo.lisian dan BPO.M di layar ruang kerjanya.
Mumtaz dan Ibnu duduk tenang di sofa ruang kerja Kap.olri.
" Saya pikir anda sudah mengerti, tidak perlu saya jelaskan." Mumtaz beranjak melangkah mendekati meja kerja Kap.olri. Menyodorkan sebuah flashdisk.
" Di sini seluruh rekaman lengkapnya, saya ingin melihat keseriusan yang pernah anda katakan kepada kami, kalau anda berkomitmen memberantas narkoba." Mumtaz mengetuk-ngetuk flashdisk tersebut.
Ergi mengusap wajahnya kasar, dia tahu sebesar apa pengaruh yang dimiliki para oknum tersebut baik di instansinya maupun dunia politik.
" Ini akan menggemparkan Indonesia."
" Jika anda mengkhawatirkan karir anda, anda bisa serahkan ini kepada kami." Mumtaz berbaik hati menawarkan RaHasiYa untuk memberasinya.
" Kami masih punya harga diri."
" Dan kami masih menghormati kalian sebagai alat negara, kita sama-sama peduli pada Indonesia." timpalnya cepat.
" Kedua, jika anda berlaku jujur dan adil, saya yakin Gonzalez akan melaporkan tindak pidana korupsi oknum itu, pilihannya dia atau kalian yang yang bertindak dulu."
Ergi mengangguk paham." Kalau begitu akan kami lihat hasilnya, permisi."
Begitu Mumtaz dan Ibnu hilang dibalik pintu yang tertutup, Ergi menelpon bawahannya untuk menindak lanjuti video itu.
H-2 pembatalan investasi dana Sky Bir.
Daniel, Alfaska, dan Adgar bertemu janji dengan seorang pebisnis besar, Ernest Nugraha. pria tua yang tidak diragukan kepiawaiannya dalam dunia bisnis. mereka bertemu dia restaurant yang menyajikan makanan Italia kelas premium, A & D restaurant.
Beliau orang pertama yang bisa melebarkan sayap bir pletok ke manca negara.
" Saya yakin ada hal penting dibalik kalian mau merepotkan diri untuk hal kecil ini." Ujar Ernest.
" Kakek benar ada alasan kuat kami meminta anda untuk membatalkan rencana invetasi anda di sky bir, dan itu masalah keluarga." pinta Adgar tenang.
Adgar mengenal Ernest sering bertemu kala masih kecil dibawa Fatio untuk meeting dengannya, saking seringnya maka sebutkan kakek ia tujukan padanya.
Ernest mengernyitkan keningnya mencoba berpikir hubungan Gonzalez dengan Hartadraja, Birawa, atau Atma Madina.
Tidak lama ia memahami keadaannya," apa ini ada hubungannya dengan pembatalan tunangan Hito dengan Sivia."
Adgar tergelak," Kakek jangan mengada, kami tidak sepicik itu. Baiklah akan saya beritahukan alasannya, ini karena saya sangat menghormati anda, kakek kesayangan."
Ernest tertawa geli, dia tahu betul anak muda di depannya ini, dia bercover slengean dan cuek, tapi Ernest dapat melihat kecerdasan dan keuletannya. Hal ini terbukti Hartadraja corp dibawah kepemimpinannya berhasil mengembangkan beberapa perusahaan cabang yang hampir bangkrut menjadi perusahaan mainan canggih yang diminati masyarakat menyaingi produk luar.
Meski dia kecewa bukan Akbar yang menjadi CEO-nya, tapi dia tahu dibalik kesuksesan Adgar ada sosok Akbar yang tajam melihat pangsa pasar internasional.
" Saya merasa terhormat, tuan junior." Ledek Ernest.
" Ck, masih anda memberi julukan itu padaku."
" Hehehe selamanya, bagiku kamu adalah anak kecil bengal, dan juga Cassy yang lucu. bagaimana kabarnya?"
" Dan Cassy lucu itu akan menjadi tidak lucu lagi jika Guadalupe Gonzalez dan Tamara berhasil menculik dan memperkosanya."
Ernest terbelalak terkejut," culik? Perkosa?"
" Iya dan mereka pelakunya."
" Tamara? Siapa dia?"
" \*\*\*\*\*\* yang menservice Kakek di *the naughty*."
" Ohh, dia. Cantik sih tapi produk palsu."
" Yeah, tapi Kakek menikmatinya."
Ernest mengedikan bahunya," bagiku selama dia punya lobang, dan dapat memuaskan ku, tidak Masalah." Ucapnya frontal.
" Mengapa petinggi RaHasiYa turut hadir? Ini pasti hal yang besar." Ernest menelisik Daniel dan Alfaska
" Hartadraja dibawah tanggungjawab RaHasiYa." Terang Alfaska tenang sambil menikmati menu hidangannya.
Erangan dan umpatan Ernest tua memenuhi ruang VIP tersebut.
" Jadi, kakek pasti tahu dampak bekerjasama dengan Gonzalez."
" Yeah, dan saya tidak ingin cucu saya hidup dalam kemiskinan. Ya Tuhan, saya langsung teringat nasib keluarga Husain." Ucapnya bergidik ngeri yang berlebihan.
Si tua Flamboyan ini memang banyak tingkah, hingga mudah bergaul dengan yang muda.
" Baiklah, anggap semua sudah dilakukan. Lagian apa Gonzalez begitu bodoh berperkara dengan keluarga Damian Prakasa."
" Bukan Eric, tetapi mama-nya Guadalupe, dan Tamara, simpannya yang terobsesi pada Bara." Imbuh Adgar.
" Ngomong-ngomong Tamara, bisakah Kakek melimpahkan kesalahan pembatalan ini kepadanya?" Pinta Adgar dengan gestur wibawa sebagai CEO perusahaan raksasa.
Ernest mengangguk-angguk paham, " saya juga akan melakukan hal yang sama jika perempuan dikeluarga saya dilecehkan, baiklah, tapi dengan syarat."
" Saya bisa memberi anda bantuan informasi penting tentang perusahaan anda yang saya ragu Anda mengetahuinya." Sela Daniel sambil melirik Ernest, karena dia sibuk dengan ponselnya.
" Apa?"
" Jadikan ini syarat anda baru saya beritahu."
Sesaat Ernest menimbang dengan mengamati Daniel yang saat ini terfokus pada Ernest.
Menghembuskan nafasnya dengan berat, Ernest mengangguk." Baiklah, ini karena anda petinggi RaHasiYa yang tidak mungkin berbicara hal yang bersifat receh."
Daniel tersenyum, " saya lihat anda beberapa kali mengalami kegagalan mendapatkan proyek karena ide kalian sama dengan salah satu pesaing anda. Berdasarkan pencarian kami salah satu menantu anda melakukan mark up dana dan pembocoran Rahasia perusahaan anda dengan bayaran tinggi."
Ernest mengerutkan dahinya dalam, tidak mengerti.
" Maaf, ini." Daniel mengasongkan iPadnya ke hadapan Ernest, ia membaca dan menelaahnya. Sampai akhirnya ia menggebrak meja Alfaska yang asik menikmati hidangan mengangkat piringnya karena takut jatuh.
__ADS_1
" INDRA." Teriak Ernest pada asistennya Yaang menunggu di luar, penuh amarah.
Indra memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
" Kamu periksa laporan ini, SEKARANG!!" rekannya pada kata terakhir.
" Bagaimana bisa kalian menerobos keamanan perusahaan kami?"
" Tidak sulit, bahkan itu dilakukan oleh para magang kami dalam waktu lima menit." Alfaska menimbrung setelah selesai makan.
" Tidak mungkin, pengamanan cyber kami dilakukan oleh pihak asing."
" Maksud anda *labow cyber*?"
Ernest mengangguk.
"Anda dibohongi. Kemanan anda produk lokal dengan sistem sederhana." Tutur Alfaska sembari membersihkan area bibirnya dengan serbet makan lalu melempar pelan serbet itu ke atas meja.
" Menantu anda berencana kabur ke luar negeri, sekarang otw bandara. Kalau anda mengizinkan kami bisa mencegahnya saat ini."
" Lakukan." Ucap Ernest cepat.
" Ini syarat untuk Hartadraja." tekan Daniel untuk memastikan.
" Iya. Baiklah."
Alfaska melakukan sambungan telpon, tak berapa lama ia menyudahinya.
" *Done*." Serunya Santai.
" Bisakah kalian membantu,..."
" Untuk yang lainnya, itu bisnis. Datang saja ke gedung kami."
" Ck, *seriously*?"
" Sangat. kami ingin melihat iktikad baik anda terlebih dahulu dalam membantu Hartadraja." Alfska beranjak merapikan jasnya disusul Daniel.
" Kami kira pertemuan ini selesai, kami permisi." Alfaska dan Daniel meninggalkan ruang menyisakan Adgar dan Ernest.
Ernest memperhatikan Adgar yang sedang makan.
" Apa mereka mampu menyelesaikan Masalah ini dengan cepat?"
Adgar mengedikan bahunya, " kalau tanpa bantuan mereka Hartadraja corp sudah lama hilang." Adgar menaruh serbet ke atas meja menatap balik Ernest tua.
\*\*\*\*
Ruang kerja Eric sudah tidak berbentuk, semua benda berserakan tidak pada tempatnya.
" MATEO." Teriak Eric. Wajahnya sudah memerah.
Saat ini ia hanya percaya pada Mateo ketimbang asisten lainnya, ia percaya kegagalan beruntunnya karena ada diantara asistennya yang berkhianat.
" Saya, tuan."
" Buat janji temu dengan tuan Ernest." Kalau dia punya cadangan pengusaha lain untuk membantu investasi dalam pengembangan produk minuman beralkoholnya, dia akan memilih yang lain, tetapi dia tidak punya pilihan yang lain tidak ada yang bersedia.
" Baik tuan."
Berselang sepuluh menit Mateo masuk ruangan " sore anda bisa berhenti dengannya, sebelum beliau bertolak ke Eropa."
Eric tersenyum bagaikan melihat setitik cahaya dalam kegelapannya.
\*\*\*\*\*\*
Semua tindakan Eric terpampang dilayar ruang kerja Mumtaz, ditonton oleh petinggi RaHasiYa."
sekarang layar menampilkan sebuah bangunan layaknya sebuah pabrik.
Drung!!!
Satu notifikasi email masuk, Mumtaz menerima sesuatu dari Raul, dan membaginya kepada petinggi lainnya.
" Kita harus melaporkan kepada pak Ergi." Ujar Ibnu atas informasi lengkap terkait gratifikasi hasil kiriman dari Mumtaz.
" *Nope*. Ini senjata kita jika pak Ergi tidak bekerjasama dengan baik." Daniel mempelajari dokumen hasil kiriman Mumtaz.
" Gue setuju." Bagaimanapun jangan terlalu mempercayai mereka sebelum di uji." Timpal Alfaska
Dring!!!
Satu orang memencet pintu ruang kerja Mumtaz, Mumtaz membuka sandi pintu ruangan
Tak lama Nando masuk dengan membawa segulung kertas karton besar.
Sesampainya di meja ruang tamu, dia membuka dan membentangkan gulungan itu. Para petinggi hanya memperhatikan tanpa bertanya
" Ini, lokasi terbaru nyonya Belinda. Posisinua dekat dengan bang Ragad, tetapi medan masih sulit." Tunjuknya pada titik merah dan hijau yang menandakan keberadaan belinda dan Ragad.
" Tuan Eric sudah menginstruksikan agar Belinda dibawa ke tempat rahasia mereka."
" Dimana?"
" Jagakarsa, rumah besar yang sudah lama tidak terisi." Nando menyodorkan iPadnya gambar rumah dan alamat lengkapnya.
" Hancurkan berbarengan dengan Gardenia house dan tempat narkoba lain miliknya." Ujar Mumtaz.
" Kapan Lo bakal meledakkan mereka, semua sudah ready." seru Daniel.
" Tunggu tanggal mainnya." serunya sambil mengetikkan sesuatu untuk dikirim kepada Eric pada jam tertentu.
Tiba-tiba semua orang yang berada di ruangan itu terlonjak karena terkejut.
" DUAR!!! DUAR!!! cretak!!
dilayar terpampang ledakan yang berasal dari pabrik tersebut, para petinggi RaHasiYa mengalihkan perhatiannya pada Mumtaz yang mengedikkan bahu dengan santainya ia berucap.
" Pabrik sky bir."
" oohhh." jawaban mereka tak kalah santai.
Nando hanya bisa bengong melihat kobaran api yang memenuhi tampilan layar.
\*\*\*
Plak!!!
BUGH!!!
Hajaran, dan tamparan dirasakan oleh Tamara yang sudah terkapar tak berdaya dengan tubuh penuh lebam dan tetesan darah.
Guadalupe hanya bisa menonton kemarahan Eric tanpa berminat bertanya apa sebabnya.
__ADS_1
Sepuluh menit yang lalu, Eric langsung menghajar Tamara begitu dia masuk ke ruang tengah mansionnya.
Pertemuan dengan Ernest tadi hanya mendapatkan hasil informasi mengapa Ernest membatalkan pinjamannya, itu karena jalangnya ini yang mengatakan kepada Eric bahwa dia diambang kebangkrutan dan berniat curang padanya.
Berani benar gem.bel ini memfitnahnya.
Sesudah puas menyakiti Tamara, Eric menjatuhkan dirinya di sofa panjang samping Guadalupe dengan dada naik turun.
" Kenapa kamu menghajar dia?" Guadalupe prihatin atas kondisi Tamara yang sudah tidak berbentuk wajahnya.
" Dia membocorkan kondisiku pada tuan Ernest, hingga dia membatalkan pinjamannya." Nafas Eric masih menggebu. Ia mencoba menurunkan emosinya.
" Langkah apa yang akan kamu ambil untuk kasus restoran, nama Gonzza sudah tidak bisa dipakai lagi. Sekarang semua cabang ditutup, baik di Indonesia. Maupun luar." Guadalupe menghampiri Tamara, ia ingin memeriksa denyut nadinya.
" Dia masih hidup, obati dia sekadarnya. Jangan sampai kita keluar biaya untuk mengobatinya." Eric memejamkan matanya guna menghilangkan keresahannya.
Sungguh dia butuh Belinda untuk memenangkannya. Untung bisnis narkoba dan penjualan senjata ilegalnya masih berjalan dengan baik.
" Soal kasus itu aku masih punya cara, sebentar lagi mereka yang akan bungkam dan mengikuti alurku." desis Eric dengan mata memancarkan ketajaman balas dendam.
Ia beranjak pergi menuju kamar tidurnya, ditengah anak tangga ia menerima satu notifikasi.
Ia mendapat suguhan live streaming, bola matanya membola besar, pabrik produksi Sky Bir miliknya terbakar menimbulkan ledakan bersusulan bagai petasan di tahun baru.
Triring!
" ***Ini hidangan cemilan buat mu Gonzalez***."
emosi yang sempat mereda, kembali ke permukaan. Ia urungkan menuju kamar tidurnya, melangkah kembali pada Tamara, laku menyeretnya dengan menarik bagian belakang dresnya.
" Eric, dia sudah terluka parah, mau dibawa kemana dia." Pekik Guadalupe khawatir.
" Dia \*\*\*\*\*\* ku, dia harus menservice aku." Balas teriak Eric membawa Tamara ke kamar tidur tamu.
\*\*\*\*
Dua Minggu ini lahir-bathin Hito sungguh di uji, kesibukannya mengurus bisnis rintisannya diakhir tahun penutupan buku beserta pendekatannya terhadap Zahra yang selalu berakhir mengecewakan cukup menyita waktu istirahatnya.
Seperti saat ini, ia di gedung Gata tv untuk RUPS, sebagai pemegang 30% saham Gata tv ia harus hadir.
Keningnya sudah mengerut dalam mendengar ocehan perempuan yang berprofesi sebagai aktris, Yunita.
Ini pertemuan ketiga mereka di Gata tv, dalam tiga pertemuan Yunita bertingkah sok akrab pada Hito layaknya teman lama yang cukup membuat Hito merasa terganggu.
Heru yang berdiri di samping Hito menunggu lift hanya terkekeh geli melihat mimik bosan Hito.
Tring!!
Pintu lift terbuka, Hito langsung memasukinya, Yunita hendak turut masuk, namun dicegah oleh Heru.
Dia memandang Heru kesal," maaf, lift ini khusus pemegang saham, bukan untuk pegawai biasa." Ucapan lugas Heru sarat sindiran mampu menghentikan langkah Yunita.
Dia menatap Hito berharap pembelaan yang berakhir mengecewakan, karena Hito lebih tertarik memperhatikan dinding lift.
Begitu pintu lift tertutup, Heru menertawainya," pengecut sekali kau."
Hito hanya mendelik," singkirkan dia dariku. Kenapa dia selalu muncul kalau kita kesini?"
" Karena dia ingin kamu, beb." Jawab Heru melambai.
" Sekali lagi Lo begini gue suruh Edel masukin Lo ke RSJ ya." Kesal Hito, Heru tahu pasti bagaimana cara membuat Hito naik pitam dalam waktu singkat.
Heru tergelak," hahahaha."
" Tapi serius, diluaran sana sudah banyak rumor tentang kalian."
" Rumor apaan, kenal juga enggak."
" Kata sebuah infotainment, kalian memiliki hubungan khusus. Bahkan dia beberapa kali pernah diundang untuk wawancara di beberapa acara bincang. Dia tidak mengiyakan, tetapi menggiring opini masyarakat bahwa kalian ada sesuatu "
" Ck, halu. Gibah aja terus kayak Edel, kayak cewek Lo."
" Iya, ya. Sejak nikah sama adik Lo gue sering gibahin orang." Heru berbicara pada dirinya sendiri.
Begitu lift sampai ke tempat tujuan mereka langsung menuju ruang meeting.
Rumor yang ditanggapi santai oleh Hito nyatanya dianggap serius oleh Zahra.
Raut wajah Zahra begitu muram membaca gosip di platform infotainment.
Ia memperhatikan penampilan sang wanita, tidak dapat dipungkiri kulit putih bersih nan mulus sangat menggoda bagi pria manapun.
Refleks Ida menyentuh bagian perutnya, tiba-tiba rasa *insecure* menghinggapinya.
Kini untuk pertama kalinya rasa takut kehilangan Hito menyergapnya membuat Zahra termenung, tak lama bulir bening keluar dan mengaliri di pipinya tak mampu dia cegah lagi.
Zahra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tubuhnya bergetar karena tangisannya.
Zayin dan Mumtaz di kamar tidur Mumtaz dalam diam mengamati gambar di laptopnya.
Mereka ingin membawa zahra dalam dekapan mereka, membiarkan meluapkan emosinya lalu menenangkannya.
Zayin beranjak melangkah menuju pintu," mau ke mana?"
Mumtaz memperhatikan air muak Zayin yang tegang.
" Ke kediaman Hartadraja."
" Jangan gegabah." peringat Mumtaz.
" Tergantung, lebih baik Aa ke rumah sakit. traktir Kak Ala makan." seru ya sebelum menutup pintu.
" Hmm." jawabnya kepada angin.
*****
Berselang 25 menit Zayin sudah berdiri di depan halaman luas kediaman Aznan dan Dewi, kabar dari Adgar kini mereka sedang berkumpul di rumah neneknya.
Tok!! tok!!
pintu dibuka oleh Julia yang menatapnya heran," Zayin, ada apa? tumben main kesini."
Zayin tersenyum tipis, karena suasana hatinya belum membaik.
" Ada Adgar-nya, Tante?"
" Ada, mari masuk.
selam kakinya melangkah netra matanya mengitari isi ruangan mencari sosok pria yang membuat Kakaknya menangis, namun tidak dia temukan.
Di lain tempat, secara perlahan Mumtaz memutar kenop pintu ruang praktek Zahra, dorongannya terhadap pintu tertahan kala mendengar isak tangis kesedihan di dalamnya.
Mumtaz mengeratkan kepalan di kedua tangannya, lalu menutup kembali pintu yang sudah terbuka sedikit , mengembuskan nafasnya. lalu menungguinya di ruang tunggu pasien.
" Bapak Mumtaz." seorang dokter muda cantik nan imut mendekatinya dengan senyum lebar di bibirnya.
Mumtaz menoleh lalu memasang wajah datarnya.
" Ada yang bisa saya bantu?" mata dokter itu melirik ke ruang kerja Zahra, lantas spontanitas ia mendengkus.
" Bapak juga suka dia?" tunjuknya pada pintu ruang kerja Zahra.
Mumtaz mengerutkan dahinya tidak suka pada cara bicara orang berdiri di hadapannya.
" Jangan suka, Pak. dia play girl. mending aku saja." ucapnya tak tahu malu.
Mumtaz bersedekap dada," saya tidak level dengan dokter berotak udang dan berakhlak tipis kayak Lo. Mutia Wibowo. pergilah sebelum saya bertindak menghancurkan keluargamu."
Suara dingin itu membuat tubuh Mutia bergetar, ia pun berlari cepat. Mumtaz melihat itu tersenyum smirk.
ceklek!!!
Zahra kaget mendapati Mumtaz," sedang apa kamu disini?"
" Mumtaz melangkah mendekati Zahra.
" Mau neraktir kakak dinner."
" Tapi aku udah janjian sama Hira dan Ziva."
" Enggak apa, aku teraktir semuanya." ucapnya sambil merangkul Zahra.
" Tempat mahal ya."
" Hmm."
" Naik apa kesini?"
" Mobil."
__ADS_1
Zahra tersenyum sumringah, ia menelpon sahabatnya yang lain. melihat Zahra bahagia, Mumtaz pun tertawa kecil....