
Kini di kamar rawat Zahra tersisa hanya Mumtaz, dan tiga sahabatnya. Mumtaz menekuri wajah lelah Zahra, ia memainkan jari jemari mungil kakaknya.
" Lihat, betapa kecilnya tangan Kakak. Aku bisa meremukannya dalam satu kali tekanan." Monolognya.
" Kenapa? Kenapa kakak diam. Apa aku tidak seberguna itu?" Mumtaz menangis dibawah tangan Zahra yang di genggamnya.
" Maaf!!! Maaf!!! sudah mengabaikan kak Ala, maaf tidak memahami kak Ala." Masih terisak, Mumtaz memukul-mukul dadanya yang sesak dengan rasa bersalah.
" Kak, bangun. Ayok kita bicara! Banguuunnn, jangan diam saja. Aku gak bisa kehilangan lagi. Hiks ..hiks..." Mumtaz melepas emosinya seiring buliran bening berjatuhan.
Tiga sahabatnya hanya terdiam dalam tundukan kepala menyembunyikan kesedihan mereka saat mendengar perkataan Mumtaz.
Ceklek!!!
Mumtaz menoleh, ia mengusap air matanya, Farhan berdiri kikuk.
" Maaf mengganggu, bisa ke ruangan saya? Ada yang harus saya sampaikan terkait kondisi prof. Zahra."
" Tentu." Empat sahabat itu dalam hening menuju ruangan Farhan.
Keluar dari toilet umum khusus pengunjung lantai zuper VVIP, Tia melihat Alfaska dan bude Sherly yang sedang menunggu lift.
" A..." Panggil Tia sembari mendekati mereka.
Alfaska dan bude menoleh kearah suara.
" Eh, Tia. Baru datang atau gimana?" Bude bertanya karena Alfaska tak kunjung menyapa istrinya, ia malah membalikan pandangannya ke pintu lift lagi.
" Sudah dari tadi bude, tadi menunggui Cassy sewaktu yang lain ke kamar kakak Ala."
" Oh begitu."
" Bude sama Aa mau kemana?"
" Kita mau pulang, apa kamu mau pulang bareng kita?" Tawar bude yang mengasihani istri keponakannya ini.
Terlihat jelas roman kesedihan di wajahnya, Alfaska sendiri mengabaikannya.
" Boleh?" Tanyanya ragu melirik suaminya.
" Kenapa enggak, boleh kan Fa!?"
" Hmm," jawab Alfaska tetap menatap pintu lift.
Tia tersenyum sumringah, senyuman yang tertangkap lewat lirikan ujung mata Alfaska.
Begitu pintu lift terbuka Alfaska langsung masuk kedalamnya," bude, cepat masuk!"
" Iya, ish sabar sih." Gerutu bude yang keasyikan ngobrol bareng Tia.
Dalam lift hanya terisi mereka bertiga bude berdiri di depan Alfaska yang berdiri di depan bagian kanan Tia.
Di lantai dua, tiga orang masuk lift yang dimanfaatkan Tia untuk bergeser lebih rapat pada Alfaska.
Tia tidak menyia-nyiakan kesempatan ia genggam tangan Alfaska yang bertengger disamping tubuhnya, gerakan cepat yang membuat Alfaska sedikit kaget, sesaat ia ingin menghentakannyaa, tetapi diurungkan kala melihat tangan siapa yang menggenggam jari tangannya.
Sadar sedikitnya waktu yang tersedia Tia mengeratkan genggamannya menyalurkan rasa rindunya pada suami terkasihnya yang dibalas dengan sedikit genggaman oleh Alfaska, dan itu cukup membuat Tia tersenyum, senyum yang beberapa minggu ini hilang darinya.
Tia yakin suaminya juga menyimpan rindu padanya, Tia menunduk dalam ketika dirasa bulir bening hendak meluncur keluar.
Ting!!!
Genggaman itu terlepas saat pintu lift terbuka, Alfaska keluar dari lift disusul bude dan Tia yang menatap punggung alfaska sepanjang menuju parkiran mobil.
Alfaska memarkir mobil di depan rumah Sherly," Fa, apa kamu mau mampir? Mami kamu ada di dalam." Sherly berucap penuh harap, ia tahu pasti adiknya sangat merindukan anak semata wayangnya.
" Iya, ada yang harus Afa berikan juga pada Mami." Alfaska mengambil amplop coklat dari dashboardnya.
" Kamu tunggu di sini." Tuturnya saat Tia hendak membuka pintu mobil.
" A,..." Panggil Tia memohon.
" Tunggu!" Tegasnya keluar dari mobil mengabaikan roman sedih dari wajah kedua perempuan beda generasi itu.
" Sabar ya!" Sherly menepuk bahu Tia, yang diangguki oleh sang empu.
" Assalamualaikum..." Salam Alfaska.
Sandra yang sedang menuju dapur, terhenti langkahnya saat mendengar suara yang amat dirindukannya" Wa, alaikumsalam... Afa..." Sandra berlari menyambut Alfaska sembari merentangkan kedua tangannya terangkat ke atas.
Sandra langsung menubruk Alfaska, memeluknya erat, ia menangis dalam pelukan putranya mengabaikan rasa gengsinya.
" Mi, jangan begini. Kita ke ruang tamu." Seru Alfaska terkesan datar, padahal ia pun menekan rasa rindu pada mami-nya, tetapi di satu sisi lain dia tak mau kecewa lagi oleh mami-nya."
" Ada apa?" Sandra terheran, Tia biasanya Alfaska bersikap kaku padanya.
" Kita duduk dulu."
Setelah mereka mengambil duduk di di sofa yang berada di ruang tamu dan tenang, Alfaska meletakan amplop coklat itu di atas meja.
" Apa ini?"
" Baca saja."
__ADS_1
" Dari pengadilan agama?"tutur Sandra dengan suara gemetar.
Alfaska hanya bisa mengangguk, kedua tangannya mengepal di depannya.
" Mediasi kalian gagal, itu surat pemanggilan persidangan pengajuan talak kalian." Ucap Alfaska menahan emosi. Meski dia tidak dekat dengan ibunya, tak ayal perceraian ini membuat bathinnya sakit.
" Fa, lihat... Papi kamu..." Ucapan yang menyimpan kesinisan
" Mi, please. Jangan ucapkan hal kotor tentangnya, Afa cukup tua untuk dipengaruhi Mami." Potong Alfaska dengan tatapan tajamnya.
" Afa, mengapa kamu tidak mencoba membujuk Papi kamu untuk berdamai dengan Mami."
" Untuk apa? Jangan libatkan Afa, ini masalah kalian. Papi berhak bahagia!"
" Apa menurut kamu Papi tidak bahagia dengan Mami?
" Kapan mami memahami Papi? Apa Mami tahu kalau Papi rindu kebersamaan dengan Mami?"
Sandra terdiam, ia coba mengingat kapan terakhir ia dan suaminya mengobrol santai. Dan ia terhenyak mendapati faktanya, itu sudah amat sangat lama sekali.
" Tapi Mami kerja?" alibinya pelan.
" Untuk apa? Bantu keuangan keluarga? Bullshit. Mami ongkang-ongkang kaki di rumah kita tidak bakal jatuh miskin, Mi."
" Fa,...tolong mengerti Mami."
" Kapan kami tidak mengerti Mami, pertanyaannya kapan Mami mengerti kami? Sudahlah Afa lelah selalu membahas hal yang sama dengan Mami, buang-buang waktu. Afa pergi." Alfaska beranjak ke pintu utama.
" Tia mana?" Tanya Mami saat Alfaska memegang gagang pintu.
" Ada di mobil."
" Mami mau ketemu dia." Sandra berdiri.
" Jangan temui dia." Ucapnya dengan suara bernada datar.
Mami terkaget," FA..." Bentaknya.
" Dia istri saya, anda memberi pengaruh buruk padanya maka dari itu saya melarang anda untuk menemuinya." Sesudah mengatakan itu Alfaska menghilang dibalik pintu meninggalkan Sandra yang masih mematung terlalu syok dengan perkataan Alfaska yang penuh kebencian padanya.
Sepanjang jalan menuju apartemen tidak ada pembicaraan diantara suami-istri tersebut.
" A, apa terjadi sesuatu dari pembicaraan kalian?" Tia berhati-hati bertanya tak ingin membuat suaminya tersinggung.
Keduanya duduk di dalam mobil yang terparkir di pelataran parkir depan taman yang jendelanya terbuka penuh. Di sini mereka bisa melihat beberapa keluarga yang bercengkrama gembira.
" A,..apa Aa menugaskan Bang Ragad yang dulu nyulik aku buat lindungi aku?" Tanya Tia buka suara
" Kok tahu?"
" Dia tinggal di unit sebelah kita, katanya sekarang dia jadi bagian RaHasiYa."
Alfaska mengangguk-anggukan kepala," hampir tiap hari dia ngintilin aku, cuma gak semobil aja sama aku, kalau keterusan aku suka dia gimana?" Pancing Tia berharap suaminya memberi respon yang diinginkannya.
Kedua tangan yang memegang setir mobil mengerat hingga memutih, Alfaska menyandarkan kepalanya pada kursi.
" Kalau itu bisa mengembalikan kamu kepada kamu yang dulu, mungkin itu lebih baik."
Tarikan nafas terkejut terdengar dari Tia, tubuhnya menegang," A..." Panggilnya tak percaya, ia ingin memastikan pendengarannya, namun takut.
Alfaska menatap lurus manik Tia yang masih syok," kini saatnya kita bahas apa yang menyebabkan hubungan kita jadi kacau begini."
Alfaska mengambil salinan isi amplop coklat dalam dasboard lalu memberikannya pada Tia, dia memang sengaja mengcopynya untuk diberikan pada istrinya.
" Ini apa?" Tanyanya ketakutan begitu membaca kop surat pengadilan agama.
" Salinan pemanggilan sidang talak Papi kepada Mami."
" Kenapa diberikan padaku."
" Tia, awalnya aku senang kamu dekat dengan mami, melihat mami sudah bisa menerimamu memperlakukan mu layaknya putri sendiri, tetapi kamu mulai bersikap beda, tatapan kamu lebih tajam namun dingin, tidak ada lagi keteduhan, kamu mulai membeli barang-barang branded, berpakaian karya desainer, bolak-balik butik." Sampai sini Alfaska menghembuskan nafas berat.
" Gaya bicara kamu mulai tegas tanpa toleransi, kamu mulai berani hingga melawan perkataan kak Ala, bahkan mulai membentak dan menyalahkannya, orang yang sangat kamu hormati setelah almarhum mama Aida. Intinya kamu menjadi pribadi egois, sombong, keras kepala, pemarah, individualis. persis sepeti Mami." Tekannya pada tiga kata terakhir.
" Sebagai suami aku mencari tahu, dan itu tidak sulit aku lakukan. Aku marah, kecewa, sekaligus sedih pada Mami yang kupikir telah berubah menjadi lebih baik, ternyata tidak. Beliau memang tidak lagi menghina kalian, bahkan mulai dekat, dan menerima kalian, tetapi ternyata itu semua bohong belaka, dia alihkan karakter nyonya besar dia kepadamu, dia jadikan kamu boneka dia, memaksa keluarga kamu untuk menerima keegoisannya, yang tentu saja ditolak oleh kak Ala." Alfaska menghela nafas panjang lelahnya.
" Puncaknya kelakuaan arogansi kamu pada saat barbequan kak Ala yang berakibat hubungan tidak baik dalam keluarga kamu, kak Ala keluar dari rumah, ia mengira Mumtaz membela kami dan tidak lagi menggap kak Ala sebagai kepala rumah kalian. Beruntungnya aku, keluargamu masih menerimaku, tidak menjudge aku meski aku malu karena merasa gagal sebagai imam kamu." Sebelum melanjutkan pembicaraannya, Alfaska menarik nafas dan menghembuskannya dalam.
" Tia, Aku menikahimu untuk ibadah yang berarti pribadi kita menjadi lebih baik lagi, jika kamu masih tetap begini, apa yang terjadi pada Mami dalam tuntutan itu bisa saja terjadi padamu."
Sontak kepala Tia yang tertunduk, terangkat karena terkejut, " aku sudah membicarakan ini dengan Mumtaz dan Zayin, kalau aku merasa menyerah, dengan sangat menyesal aku mengembalikan kamu pada mereka, dan mereka menyetujuinya." Bulir bening lolos dari mata Alfaska, hatinya begitu sakit membayangkan hidupnya tanpa Tia sebagai tercintanya.
" Ini yang harus aku lakukan untuk wanita tercintaku, jika kamu berubah karena sakit mental, dan penyakitnya adalah Mami ku, maka aku harus melepasmu tak peduli sesakit apa yang akan aku terima. Mungkin Ragad bisa lebih baik bagimu dari pada aku." Lirihnya, kepalanya tertunduk dalam.
Tia menggelengkan kepalanya cepat, Alfaska menatapnya dengan tatapan penuh luka, luka yang tidak Tia sadari dialah dia yang menorehkannya.
" Boleh aku tahu apa alasan kamu terjebak dengan Mami?"
Tia menangis tersedu-sedu, ia menunduk." Aku rindu sosok Mama." Isaknya.
Alfaska memejamkan matanya, terbit tersenyum ironi dari bibirnya.
" Kamu tahu kisahku, bahkan yang paling terburuk sekalipun. Di bagian mana kamu temukan Mami berperan sebagai ibu yang baik untukku?" Alfaska mengusap wajahnya kasar.
Tercetak wajah lelah darinya," aku habiska masa remaja ku di rumahmu, karena aku tidak ada siapa-siapa di rumahku. Bahkan kasih dari kak Ala lebih aku dapatkan dari pada peran Mami, dan kau cari sosok ibu dalam diri Mami?" Pertanyaan yang sangat retoris diajukan olehnya.
" Daripada Mami, kenapa kamu tidak mencarinya kepada bunda? Aku yakin bunda siap 24 jam selama tujuh hari memberi mu kasih sayang ibu, daripada Mami."
Tia menatap kosong Alfaska, Alfaska dengan lembut menggenggam kedua tangan Tia dalam satu tumpukan tangan." Semua pilihan ada ditangan mu, apapun itu, aku akan menerimanya dengan legowo meski itu pahit.
" Masih ada yang ingin kamu sampaikan?"
" Aku kangen kamu, pulanglah!" Pinta Tia memohon.
" Aku akan pulang, kalau kamu kembali seperti dulu."
Merasa pembicaraan telah usai, Alfaska kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen.
Setiba di lobby apartemen, Alfaska memberhentikan mobilnya," apa yang sudah aku katakan tadi jangan anggap remeh, aku serius tentang semaunya."
Tia mengangguk paham," apa kamu tidak turun walau sekedar mengantarku?"
Alfaska menggelengkan kepala," itu hanya akan mempersulitku, kalau pada akhirnya kita akan berpisah." Ucapnya pelan sarat kesedihan.
Air muka Tia muram, ia turun dengan gesture kalah." Hati-hati." Ucapnya diluar jendela pintu yang terbuka.
" Iya, masuk. Jangan lupa makan." Tia mengangguk.
Gerakan Tia membalik badan terhenti karena panggilan dari Alfaska," Tia... Aku mencintai mu! Kembalilah!!" Selanjutnya Alfaska meninggalkan Tia yang termenung.
__ADS_1
Di ruang lobby sudah ada Ragad yang menunggunya atas perintah Alfaska, ia melihat Tia yang masih menangis sambil berjongkok menangkupkan wajahnya di atas tumpuan lututnya meski Alfaska telah pergi sepuluh menit yang lalu.
*****
Pukul enam pagi Alfaska sudah berada di kantornya karena ada meeting pada pukul tujuh nanti.
Ia ditemani Budi dan Ubay membahas beberapa proyek perusahaan.
" Bud, kamu yang temui pak Steven dari Amerika untuk buka lahan hutan di Kalimantan.
" Biar saya dan Ubay yang bertemu tuan Xanana terkait pembangunan jalan diperbatasan RI dengan Timor Leste."
Ceklek!!
Haikal memasuki ruangan dengan setumpuk berkas.
" Apa ini?" Alfaska memijat-mijat pelipisnya hari masih pagi, tetapi kepalanya sudah pusing.
" BNN meminta bantuan kita menanggulangi peredaran narkoba."
" Sejak kapan kita ngurusin itu? males banget. Ingatkan mereka kita sudah bayar pajak mahal buat gaji mereka." sinisnya, dia benci pada pejabat negara yang semakin korup belakangan ini.
" Bagiamana dengan yang lain?"
" baru dapet info dari Yuda, Mumtaz dan Ibnu yes."
" Daniel?"
" kata Rizal dia ngikut aja."
" Ck, gak guna itu Birawa satu itu."
Brak!!!
Mereka semua menoleh pada pintu yang dibuka dengan paksa.
Sandra memasuki ruangan dengan mata tajam, bibir menipis, langkah lebar. Berdiri dengan kepala terangkat, dibelakangnya Sherly memberi raut wajah cemas akan adanya pertengkaran baru antara ibu dan anak ini.
" Alfaska, sebenarnya apa mau mu?"
Kening Alfaska mengernyit bertanya," apa?"
" Kenapa kamu masih memaksa bude mu kerja untuk Atma Madina corp sementara Bara sudah pulih, tetapi kamu melarangnya keluar dari rumah sakit."
Merasa akan ada perdebatan sengit dengan ibunya, Alfaska meminta para asistennya untuk keluar dari ruangan.
Tatapan Alfaska berubah tajam, sebagai pewaris Atma Madina corp, dia tidak suka jika ada orang yang mempertanyakan keputusannya, tatapan yang sempat membuat Sandra bergidik.
" Karena memang dia masih membutuhkan istirahat." Ucapnya tenang.
" Bullshit, tadi Mami ke rumah sakit dia terkikik-kikik dengan Cassandra Hartadraja."
" Kau hanya melihat dari luarnya saja, tetapi aku tahu kelelahan yang paling terdalam dalam dirinya."
" Omong kosong, buat dia bekerja, kembalikan bude mu pada butik Mami. Mami butuh bude mu di butik."
" Saya asumsikan saat ini kau berperan sebagai seorang pebisnis bukan sebagai keluarga."
Bola mata Sandra memutar malas," hentikan melodrama keluargamu, Alfaska." Bentak Sandra.
Alfaska tertawa miris," menurutmu semua tentang kesehatan bathin keponakan hanya drama? Kalau begitu Persetan dengan butikmu, Sandra." Alfaska balas membentak
Baik Sandra maupun Sherly terhenyak akan kemarahan Alfaska.
" Bukan kau yang melihat dia menangis di malam hari karena kesepian, bukan kau yang melihat Bara yang tiba-tiba marah untujsesuatu yang tidak dia pahami, bukan kau yang melihat dia tertawa padahal tidak ada yang lucu, BUKAN KAU, TETAPI AKU! AKU!!!" Teriak Alfaska menunjuk dirinya sendiri sepenuh hati di depan wajah Sandra.
Sherly terkejut, dai tidak tahu apa-apa tentang itu, dia pikir putranya hanya kelelahan fisik semata.
" Itulah mengapa aku meminta bude berkerja di Atma Madina corp supaya bude bisa lihat apa yang sudah Bara lakukan untuk keluarga kita dan dampak bagi emosinya. Bara bekerja sejak dia remaja hingga kini, banyak emosi yang dia sembunyikan demi memajukan perusahaan ini, kini saatnya kita yang melakukannya biarkan dia menjadi dirinya sendiri."
" Lantas bagaimana dengan butik Mami?"
Alfaska memejamkan matanya rapat-rapat, rahangnya mengetat.
" Setelah panjang lebar aku bercerita tentang Bara yang kau ributkan masih butikmu? Hahahaha," tawanya menyimpan luka.
" Butikmu harus mengikuti sesuai arahanku."
" Alfaska jangan kurang ajar kamu, itu butikku, hasil kerja kerasku."
" Hasil kerja kerasmu? Hahahaha."
" Kau pikir pakai otak bisnis yang kamu rasa cemerlang itu, mana ada orang baru dalam dunia fashion berkembang pesat dalam waktu singkat jika bukan karena pengaruh orang besar dibelakangnya."
" Apa maksudmu?"
" Maksudku adalah, orang yang bekerja dalam manajemen, pemasaran, desain, dan sebagainya adalah orang-orang perusahaan Atma Madina. Mereka yang membuatmu berjaya, BUKAN DIRIMU!" Tekan Alfaska, dia tidak peduli jika apa yang dikatakannya akan menyakiti hati Mami-nya.
Sandra menggeleng," kamu bohong."
" Karirmu didukung oleh Aryan Argadinata, suamimu yang saat itu menjabat sebagai CEO yang sekarang dipegang oleh Bara. Saat kamu berjaya orang yang berjasa dalam karirmu kamu hina. Sehingga dia pergi meninggalkan mu."
" Alfaska..." Panggilnya dengan suara bergetar.
" Kalau kamu tidak menuruti titahku aku bisa memerintah mereka untuk meninggalkan butikmu, lalu butikmu hancur."
" Kamu tega melakukan itu padaku?"
" Kenapa tidak, ketika kamu tega menghancurkan hidupku Lagi dan lagi dengan mencoba menjadikan istriku sepertimu." Ujarnya dingin menatap Sandra kecewa.
"Apa maksudmu? Aku hanya menjadikan dia pantas untuk seorang hebat sepertimu."
" Dia istriku, aku yang tahu bagaimana dia pantas untukku bukan kamu!"
Mata Sandra membola lebar mendengar perkataan kasar Alfaska padanya.
" Afa, berhenti menyudutkanku. Jangan sampai restuku ku tarik lagi."
Alfaska tersenyum miring, Sandra amat sangat tidak menyukai mimik Alfaska saat ini," Hahaha, restu, aku tidak butuh restumu. Tidakkah kau ingat aku sudah menikahinya tanpa restumu, aku tidak butuh restumu!!'
" ALFASKA,...aku hanya bertindak sebagai ibumu. Aku tidak ingin dia mempermalukan kita Atma Madina dengan penampilannya yang sederhana, sikap yang ramah, apa kata orang? Nanti dia, kita diejek oleh dunia!"
" Dan menjadikan dia seorang janda sepertimu? Kamu hanya akan menjadikan anak gadis orang seorang janda sebagaimana gelar itu yang akan kamu sandang sebentar lagi. Setelah gelar itu kamu sandang kebanggaan apa yang kamu miliki, Mami? Jangan lupakan fakta itu." Ucapan telak dari putranya menohok relung hatinya.
" Mom, aku sudah menyerah mengharap kasihmu sebagai seorang ibu ketika kamu menjodohkan aku dengan Adinda Aloya. Kamu sudah gagal menjadi seorang pasangan, setidaknya jangan pernah jadikan dirimu gagal menjadi seorang ibu! Ku mohon jauhi keluargaku!!"
" Apa kau berniat membuangku? Apa ini yang diajarkan Aida ibu kebanggaanmu tentangku padamu?" Sandra membentaknya, egonya sangat tersentil.
" Ayolah, di sini kamu yang membuangku bukan aku. Aku bertanya padamu untuk apa kau berdiri di sini saat ini?" Sindirnya.
" Untuk butikmu! Kamu memintaku memperkerjakan Bara yang tidak baik-baik saja untuk usaha butik sialanmu!"
" Alfaska hormati Bisnisku."
" Untuk apa? Karena butik itu kamu korbankan keluargamu, kenapa aku harus peduli pada bisnis sialannya itu?"
" Jadi kamu bersungguh-sungguh akan menjadikan bude bagian dari Atma Madina corp dan mengabaikan permintaanku?"
" Tidak hanya bude tetapi juga Mami. Jika kamu ingin memakai nama Atma Madina dibelakang namamu, kamu harus bekerja di sini. Kami ingin bebas."
" Afa..."
" Hentikan, hentikan pembicaraan yang berbelit-belit dan memutar ini keputusanku sudah bulat. Apapun argumentasimu tidak akan mengubah apapun lagi." Tukasnya tegas.
" Mulai besok kamu berkantor di gedung ini ,atau aku hancurkan butik kesayanganmu itu."
Merasa sia-sia dan buang waktu, Sandra keluar dari ruangan Alfaska dengan wajah marah.
" Fa, apa ini tidak keterlaluan?" Tanya bude.
" Ini upayaku mengembalikan keluargaku, bude! Hidupnya dalam dunia amannya menjadikan beliau arogan yang tidak bisa di kendalikan lagi. Ini usahaku sebagai putranya." Lirihnya pilu.
Sherly terdiam, ia merasa bersalah.
" Fa, kamu dan Bara pasti mengalami kehidupan yang berat. Di usai muda harus memegang kendali perusahaan besar seperti Atma Madina corp." Sherly tertunduk lesu.
" Andai bude tidak koma selama delapan tahun, mungkin baik kamu atau Bara masih sehat wal,Afiat. Seharusnya bude atau Mami kamu yang duduk di kursi itu bukan kamu atau Bara." Tunjuknya pada kursi yang sedang Alfaska duduki.
" Bude, please. Bude kembali dan hidup sehat ditengah-tengah kami itu sudah cukup bagi kami. Hiduplah dengan bahagia bude , dan Mami."
" Bagiamana dengan Tia?"
Tataon Alfaska menerawang, " Aku mencintainya, itulah mengapa aku menikahinya, tetapi kalau dia menikah denganku membuat dia rusak, aku harus melepaskannya. Aku tidak ingin buat mama Aida kecewa padaku."
" Kenapa tidak kau perbaiki tanpa harus berpisah darinya?"
" Sudah. dan itu gagal. Pengaruh Mami begitu kuat dalam dirinya, dia menjadikan keluarganya orang asing, dan orang asing keluarganya. Itu salah, dan itu karena aku."
" Jadi keputusanmu sudah bulat?"
__ADS_1
Alfaska menunduk, kemudian mengangguk," hmmm."
Tia melihat semua yang terjadi di ruangan suaminya lewat laptop Ibnu yang sedang melakukan pengawasan terhadap Alfaska, ia menangis tersedu-sedu...