
" Tidak..." tolakan Zahra terus berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Eduardo.
Ia memutar dan menarik-narik tangannya yang mengepal, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Eduardo.
Sebagai dokter, tubuh lelaki bukanlah hal asing baginya sudah tidak terhitung berapa kali dia melihat tubuh lelaki, tetapi dalam situasi sekarang, hal itu sangat menjijikan.
Beruntung keadaan dalam tenda gelap, cahaya hanya berasal dari obor yang diluar tenda. membuat Eduardo tidak bisa melihat ekspresi putus asa Zahra.
Air matanya sudah mengalir deras, Zahra harus menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak keluar. Ia sungguh takut, namun enggan memperlihatkan kelemahannya.
" Ya, Allah. Ku mohon tolong aku." do'a Zahra dalam hati, hatinya terus melafalkan asma Allah.
Saat tangannya dirasakan mendekati selang-kangan Eduardo, Zahra sungguh tidak bisa membiarkannya.
Ia bergerak-gerak acak mencoba mengeluarkan diri dari belitan selimut, hal itu cukup membuat Eduardo terganggu, kembali ia menarik kuat tangan Zahra ke arah pisangnya
" Diamlah, dan rasakan..." Ucapnya berg4i-rah.
" Tidak sudi..." Desisnya.
Punggung tangan-nya merasakan pisang keras, lalu dinaik-turunkan di sana, Eduardo mengerang nikmat.
Zahra semakin mengetatkan giginya, kepalanya menggeleng cepat, airmatanya sudah tidak terhitung berapa banyak yang keluar.
Saat kepalan tangannya berusaha untuk dibuka oleh Eduardo, ia meronta-ronta.
" Buka sayang...Jangan buang tenagamu, nikm4ti..." Ucapan me-sum yang sangat mele-cehkan semakin menjatuhkan harga diri Zahra.
Seringai meremehkan terukir dari bibirnya," biarkan kami menik-m4inya."
Kata 'kami' membuat tubuh Zahra bergetar, ia menendang-nendangkan kakinya ke kaki Eduardo.
" DIAM.." bentaknya.
" Kalau kau berkerjasama, aku akan lembut denganmu, aku janji."
" Aku hanya ingin kau merasakan ha$r4tku."
Eduardo kembali menarik tangan Zahra.
Saking kerasnya tarikan tangan Eduardo, tubuh Zahra sampai turut terdorong.
" Aku tidak sudi menye-ntuhmu, lebih baik aku mati daripada menyentuhmu. PIUH!"
Ludahan itu cukup menghentikan tindakan Eduardo, ludahnya mengenai wajah Eduardo, ia mengusapnya, lalu menj1latinya dibarengi seringai mele-cehkan, namun iris matanya menajam.
Eduardo menj-ambak belakang kepala Zahra, lalu mena-mparnya sangat kuat.
PLAK!!..PLAK....
Kepala Zahra tertoleh 90°, berdengung hebat dan terasa panas.
" Kau akan menyesal, dan kau pasti menyesal pernah menyentuhku." Ucapannya penuh kebencian.
" Hahahaha...ku tunggu penyesalanku yang tidak akan pernah terjadi itu."
Eduardo berdiri, sambil menyeringai me-sum ." Aku tidak akan menyentuhmu, jika tidak diizinkan."
" Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhku, bodoh!"
Salah, Zahra melakukan kesalahan dengan menyebut Eduardo bodoh! Rautnya menegang marah.
Sambil melepas ikat pinggangnya, dia berkata; " Tamara."
Air muka Zahra berubah bingung," siapa dia? Orang tidak penting siapa dia?"
Ia membuka pengait kancing dan menurunkan res-letingnya. " ***-*** kecil yang beruntung menjadi simpanan tuanku yang mengizinkannya, dan disetujui oleh nyonya Guadalupe." Zahra syok.
" Saya tidak mengenalnya."
" Apa peduliku."
" Kata mereka aku bisa menikm4timu sepuasnya, bahkan membunuhmu. Jahat sekali mereka, hmm."
Zahra terkesiap, memory otaknya langsung berputar mengingat wanita bernama Tamara,...tapi sial, dia tidak bisa mengingatnya. Siapa dia.
Kemudian Eduardo melo-rotkan celana beserta boxernya sampai pa-ha, Zahra menutup kedua matanya serapat-rapatnya, tertampak pisang besar yang tegak lurus menunjukan betapa berg41rah dirinya.
Eduardo memainkan pisangnya sambil mend-esah nikm4t.
Mendengar de*sahan yang menji-jikan itu, tubuh Zahra menggigil hebat, ia menutup kedua telinganya
" Kalau ku masukkan milikku ke dalam mvlutmu, pasti sangat en4k. Buka mulutmu."
Zahra menggeleng, bibirnya dirapatkan kuat-kuat.
" Oh, ayolah..beb...open it."
Eduardo berjongkok di depannya, mengambil tangan Zahra yang kaku agar mendekat pada pisangnya.
" Jangan...jangan lakukan ini padaku..." .
"..Kyaaaa...hiks ku mohon...jangan..." Dapat dirasakan olehnya pisang keras itu.
" Yeah, memohonlah beb...I like it. Muachh.." Eduardo menc1-um tangan Zahra.
" Huhu .hiks...le..pas..."
" No, beb. Aku belum memasukimu." Bisiknya, lidahnya menjilati telinga Zahra yang dijauhkan oleh sang empunya.
" Tidak...menjauhlah dariku, ashole."
Eduardo naik pitam dengan sebutan itu, ia mengangkat tangannya kembali hendak menamparnya.
" MUMUY.....AYIN.....HITO...SIAPA SAJA...TOLONG...."Pekikan pilu itu didengar oleh para penjaga, namun mereka enggan menolong. Toh mereka juga butuh penghangat,bdan akan mendapatkannya begitu pemimpin mereka sudah puas dengan kor-bannya.
Dar...Dar!.....
Suara ledakan maha dahsyat yang tidak berhenti, bahkan semakin banyak, memaksa Eduardo menunda keasyikannya.
" ****, siapa yang main di malam hari." Ia mendorong Zahra, kemudian keluar dari tenda setelah memperbaiki penampilannya.
Zahra menangis, lelah bathinnya " Mumuy,...Ayin....to... long...Hi...To..." Nama terakhir yang Zahra sebut sebelum ia pingsan.
Di luar tenda, Nacho bersembunyi dibalik pohon besar menunggu kesempatan untuk berlari.
" Kenapa malam ini mereka rajin sekali patroli, biasanya juga tidur." Rutuk Nacho pada para penjaga yang berkeliling mengitari kamp.
Ia kesal pada dirinya sendiri yang bergerak lambat, sementara dari bayangan tenda dapat ia lihat Eduardo menampar Zahra.
Gerahamnya mengetat, ia menyeka airmata yang keluar, " ya tuhan...beri aku jalan...ku..mohon jangan biarkan aku terlambat menolong keluargaku untuk kali ini." Mohonnya disela isakannya sambil menangkupkan kedua tangannya.
Nacho melihat ada celah lagi, dengan menghembuskan nafasnya, ia berlari secepat mungkin.
" Bisa..Nacho..kamu pasti bisa..."
Penjaga malam kembali tampak, Nacho kembali bersembunyi, ia melipir kebelakang tenda, baru ia sadari ia tepat di belakang tenda gudang penyimpanan peluru.
Pendengarannya menangkap suara jeritan dari tenda yang berjarak dua tenda dari tenda persembunyiannya, itu tenda Zahra.
" Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." Tempat target yang sesuai rencananya masih dua tenda lagi, yaitu tempat menyimpan kayu bakar.
Merasa tidak punya pilihan, ia membakar sebuah kain yang sudah ia persiapkan, lalu menaruhnya menempel dengan tenda.
Segera, dengan merayap ia kembali kebalik pohon, dengan cepat api merambat membakar keseluruhan tenda hingga mengenai peti kayu peluru, lantas terdengar ledakan peluru bagai petasan raksasa.
DAR...DAR....DAR...
Saking membahananya suara ledakan itu memancing orang-orang yang tertidur berhamburan keluar dari tenda.
Ketika situasi sedang ribut, Nacho keluar dari persembunyiannya, bergabung dengan yang lain.
Mereka terkejut saat melihat tenda yang terbakar, tidak ada yang berani mendekat.
Armando keluar dari tenda Zahra, berbarengan dengan yang lain, ia sama terkejutnya, dan hanya bisa melihat.
Nacho menjaga jarak jauh dari Armando guna menghindari kecurigaan.
Api semakin membesar, merambat pada tenda sebelah kanan dan kirinya yang sudah tidak berpenghuni.
" NACHO,..." Teriak Eduardo.
Nacho bergegas berlari menghampirinya.
" Keluarkan sandera, bawa ke tempat aman jangan sampai ada yang terluka."
" Siap tuan."
" Dia tidak boleh mati, sebelum aku menikmatinya." gumamnya.
Suara ledakan itu menghentikan adu argumentasi antara Zayin dengan Arvan.
Dihinggapi kepanikan " Kapten, dengan izin atau tidak, saya akan tetap pergi." Intonasi Zayin meninggi menyerupai bentakan.
Arvan dan pasukan militer lainnya terkaget, ia menghela nafasnya.
" Baiklah kamu boleh pergi, tapi dengan saya."
" Kalau Zayin pergi, saya juga pergi. Saya juga adiknya kak Zahra." Ucap Mumtaz tegas.
" Saya juga..."
" Saya juga..."
" Saya juga."...
Para adik dan anak RaHasiYa lain berebut mengajukan diri, berdiri siap.
__ADS_1
" Kamu tidak bisa mencegah saya untuk menyelamatkan tunangan saya." Tegas Hito mengintimidasi, ia sedaritadi sudah gregetan dengan keputusan Arvan.
" Baik, kita berangkat bersama, dengan formasi seperti tadi, namun lebih dekat."
" Gue bakal megang bokong Lo, kayaknya." Ujar Ragad pada Jarud.
Kacamata khusus malam sangat membantu mereka saat menyisir jalan, setelah lama berjalan, tetapi sebelum sampai dataran," STOOPP..." seru Jeno.
" Ada apa?" Teriak Zayin tidak sabar.
" Jam tangan." balas Jeno, Mereka saling mengoper sampai jam tersebut jatuh ke tangan Mumtaz.
Mumtaz meraba-raba pada jam tersebut, muncullah layar berwarna coklat dari jam tersebut. Mumtaz menegang, sedikit oleng karena terkejut.
Sontak Ibnu yang berjalan di belakang Mumtaz menyangga tubuhya.
" Tahanlah." Bisik Ibnu bergetar, bukan karena hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi dia tahu siapa pemilik jam tersebut.
Mumtaz mengangguk," lanjut?" Tanya Arvan.
" Lanjut." Timpal Ibnu, mereka melanjutkan perjalanan.
Dua setengah jam mereka berjalan tanpa henti, sampailah mereka di dataran horizontal.
Setelahnya, mereka berjalan lagi sejauh tiga kilometer sampai menemukan sebuah permukiman sementara berbentuk kamp yang dihuni orang.
Mereka berhenti sekitar beberapa meter dari kamp, agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh penghuni.
Arvan mengamati keadaan lewat teropong khusus malam.
Ketika Arvan hendak memerintah anak buahnya untuk melakukan inspeksi, Daniel menginterupsi.
" Kapt, pakai drone pengintai saja, di sana ada robotnya. Jadi kita bisa tahu luar dan dalam tenda dan sekitarnya."
" Kita mojok, Muy." Mumtaz menoyor kepala Ibnu.
" Lo punya hasrat sama gue?" Tanya Ibnu.
" Jijik, dan Lo tahu itu."
Ibnu terkekeh, Mumtaz membiarkan Ibnu mengikutinya, kalaupun diusir menjauh, Ibnu akan tetap ngeyel.
Sedangkan Ibnu tidak ingin kejadian sewaktu SMP kembali terulang, saat dia meninggalkan Mumtaz sendiri karena harus ke perpustakaan, sementara mereka punya rencana sepulang sekolah akan membalas orang yang membully Zahra.
Kenyataannya, sepeninggal Ibnu, Mumtaz membolos dan menantang kelima pembully di sekolah mereka, dan hasilnya Mumtaz memasukkan semuanya ke rumah sakit selama sebulan.
Sudah sepuluh menit Mumtaz menekuri jam tangan tersebut, menyalakan, lalu mematikan cahaya di jam yang dia pasang untuk kakaknya berulangkali.
" Semuanya tidak akan terjadi, kalau gue ngasih tahu perihal alarm ini. Sial, kenapa gue lupa memberitahukan kakak tentang sinyal bahaya ini." Gumamnya kesal.
" Sudahlah, sekarang persiapkan mental, buat mereka jera." Ibnu membuka laptopnya, dan menyambungkannya ke panel Surya mini.
" Gue baru sadar, jalannya sih enggak jauh, cuma karena medannya yang sulit yang bikin kita lama." Seru Jarud.
" Kepeleset dikit, auto almarhum di depan nama Lo." Seloroh Ragad.
" Istirahat 20 menit." Seru Arvan.
Dari kejauhan Zayin memperhatikan keresahan kakaknya yang sedari tadi memainkan jam tangan.
" A..." Mumtaz terkesiap, dia tidak menyadari kapan Zayin mendatanginya.
" Punya siapa?" Zayin menunjuk jam tangan dengan dagunya.
Mumtaz memberikan jam tersebut pada Zayin.
" Kak Ala."
Zayin tertegun, " jadi kak Ala di sana?" Tunjuknya pada kamp yang tidak jauh dari mereka.
" Kalau penculiknya ada di sana, berarti iya."
Mumtaz beranjak berjalan menjauh," mau kemana?"
" Aa bawa baju ganti?" Herannya.
" Kenapa enggak, isi ransel Aa cuma kacamata, sama dompet, jadi diisi pakaian ganti."
" Peralatan?"
" Anak RaHasiYa bawa, jadi tinggal minta. Untuk peralatan pencarian ada Alfa, Daniel, dan Ibnu yang bawa."
Zayin menghela nafas berat" Apa yang akan Aa lakukan?"
Mumtaz paham arah pembicaraan Zayin merujuk pada penculik Zahra.
" Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya balik Mumtaz, sambil membersihkan badannya dengan tissue basah.
zayin mengambil tissue itu, lalu mengusap wajahnya." Mengu-litinya."
" Ingat, jangan sampai ma-ti."
" Siap..."
" Muy, Ayin, sini." Panggil Daniel yang sedang berkumpul dengan para kopa-ssus dan petinggi Gaunzaga dimana ditangannya memegang drone yang diduga telah melaksanakan tugasnya.
Bukannya mendekati Daniel, Mumtaz malah melangkah ke arah Ibnu yang sedang menutup laptopnya.
" Nu,..."
" Data dari drone dan robot pengintai, telah mengidentifikasi semua penghuni kamp, dan asal senjata. Gue juga sudah memberitahukan ke Rodrigo tentang mereka, dan meminta mereka mengurus soal keluarganya." Jawab Ibnu sembari berjalan bersampingan dengan Mumtaz ke tempat Daniel dan yang lainnya.
" Armando?"
" Disekap om Damian."
" Keluarganya?"
" Rodrigo bilang, sudah ditangani."
" Lihat..." Daniel menyodorkan iPadnya.
Zayin dan Mumtaz terganggu dengan raut Hito yang menggelap, Mumtaz meraih iPad Daniel yang berisi rekaman kamera dari robot pengintai yang mengawasi di dalam tenda.
Terpampang Zahra yang meringkuk menggigil meski telah diselimuti dengan selimut tebal.
" Setidaknya kita sudah menemukannya." Bisik Ibnu.
Zayin menatap Arvan, " kita atur strategi, jangan gegabah." Sela Arvan begitu Zayin membuka mulut.
" Kakakku ada di sana, sedang sakit. Dan kita masih atur strategi? Teriak zayin karena kesal dengan keputusan Arvan.
Dimulailah kembali adu argumentasi antar dua personil tersebut, sementara Mumtaz fokus memperhatikan keadaan Zahra dan sekitaran kamp.
" Zayin,..."
Zayin langsung terdiam mendengar suara datar Mumtaz.
" Kita atur strategi untuk hasil terbaik." Zayin menghela nafas kasar, meski keberatan akhirnya dia mengangguk.
__ADS_1
Karena saking fokusnya mengatur strategi dengan duduk melingkar besar di atas tanah, kejadian dimana Eduardo membopong Zahra ke toilet luput dari pengamatan mereka.
DUAR...
Sampai saat terdengar suara ledakan, Mumtaz bergegas memeriksa tenda, dan ia terperangah syok mendapati tenda kosong.
Mumtaz memberi iPad tersebut Bara, beranjak berlari ke ranselnya, saat hendak masuk area kamp, dicegah oleh Arvan.
Arvan menyelami iris mata Mumtaz yang dingin" *Team work*." tegasnya sebagai seorang pemimpin.
" Semuanya bergerak sesuai posisi masing-masing."
" SIAP..."
Serempak mereka bergerak sesuai arahan dibawah komando kopa-ssus.
Butuh berjam-jam mengembalikan keadaan kamp kembali normal setelah kebakaran tadi, yang lain sudah kembali tertidur karena kelelahan, namun tidak untuk Nacho.
Ia bertukar tempat dengan temannya yang terletak di samping tenda Zahra, matanya terus mengintip keadaan diluar, ia melihat Eduardo mendatangi tenda Zahra, lalu masuk kedalamnya.
Eduardo sungguh membutuhkan pelepasan emosi atas apa yang terjadi malam ini.
" Aaarrghh..." Eduardo mengusap-usap pisangnya yang tegak.
" Ngapain gue solo, kalau ada perempuan yang bisa gue pa\*ke."
Dengan semangat dia pergi ke tenda dimana Zahra meringkuk.
Krieeeett...kerieeett...
Perlahan-lahan Eduardo melangkah masuk tenda, Meski Zahra tertidur dalam balutan selimut tebal, g41rahnya masih tinggi.
Membekap cepat mulut Zahra , lalu membopong Zahra bagai karung menuju toilet yang berada di seberang pojok kiri.
Ia mengunci pintunya, kemudian dia simpan kuncinya di saku celananya.
Setelah mempersiapkan dua senjata andalannya, berupa satu granat nanas, dan satu granat asap.
Nacho mengendap-endap keluar dari tenda, tapi kembali berbalik masuk tenda, saat Eduardo keluar tenda dengan menggendong Zahra di pundaknya.
Ia terkejut Eduardo membawa Zahra ke toilet yang paling pojok. Kali ini ia tidak lagi gugup, tetapi hanya amarah yang dia rasakan.
Begitu pintu toilet di tutup, Nacho segera berlari sekuat tenaga ke arah belakang toilet yang gelap.
Eduardo mendudukan Zahra yang sepenuhnya belum sadar di atas westafel semen.
" Begini lebih baik, beb." Bisiknya.
Zahra mengernyit karena sakit di kepalanya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya yang temaram.
kedua matanya langsung terbelalak besar mendapati Eduardo yang sudah bertelanjang da-da
" Aphmph..." Mulutnya dibekap kembali.
" Jangan berisik, nikm4tilah." Zahra menggelengkan kepala cepat, airmatanya sudah banjir membasahi pipi, wajahnya semakin pias. Ia panik sekaligus ketakutan.
" Aku harus Mer4$4kanmu." satu tangannya turun untuk membuka pengait celana.
Gelengan kepala Zahra semakin kuat, mencoba turun dari westafel, namun keburu dicegah oleh Eduardo.
" Tidak, kau tidak bisa kemana-mana. Aku sungguh membutuhkanmu." Eduardo mendekatkan wajahnya hendak menci+um, begitu ciu-man itu mendarat, bukan bi-bir Zahra yang kena, melainkan tembok.
" Sial, nona. Berhentilah member-ontak." Bentaknya.
Eduardo memegang tengkuk Zahra dengan kasar ia menekannya, memperpendek jarak antara bi-bir Zahra dengan bi-birnya.
" TIDAAAKKK..." Jerit Zahra di depan wajah Eduardo.
Nacho yang berdiri di belakang toilet segera mengambil granat nanas, melepas tuasnya, lalu melempar ke tengah lapangan.
DUAR....
Ledakan itu membuat yang tertidur kembali bangun, mereka sontak berhamburan keluar tenda dengan pakaian seadanya.
Eduardo terkejut, namun dia tidak ingin berhenti, ga1r4hnya harus segera dituntaskan.
Dengan kesal Eduardo melepas kupluk yang menutupi rambut sepunggung Zahra.
" Ti...dak..." Tangisnya mencoba menutupi kepalanya yang kembali mendapat cegahan dari Eduardo.
Eduardo terpana, " Kau..cantik...aku akan menikahimu."
Dia lantas mengukung Zahra, menjepit kedua kaki zahra dengan pa-hanya.
" Piuh, ma-ti kau." Hardiknya marah.
Eduardo naik pitam, ia menyeka ludah Zahra di wajahnya, " kau...baiklah...bagaimanapun aku akan men1km4timu."
Tangan kiri Eduardo memegang tengkuk Zahra, sedangkan tangan kanannya memegang kedua tangan Zahra dibelakang punggungnya.
Kini hanya kepalanya yang bergerak kanan kiri mencoba menghindari ciu-man, dan Kaki Zahra terus memberontak mencoba melepas jepitan pa-ha Eduardo.
Kesal karena ciu-mannya selalu gagal, rambut sepunggung Zahra yang terurai sangat mengganggunya, setiap Zahra bergerak, rambut itu mengenai wajahnya, bahkan mencolok matanya.
" BERHENTI BERGERAK..."
Saking marahnya, ia melepas pegangan ditengkuk, dan kedua tangannya, serta jepitan kakinya meregang.
Mengambil kesempatan itu Zahra membe-nturkan kepalanya dengan kepala Eduardo, Zahra mengerang sakit. Kepalanya bagai mau copot.
Eduardo pun kesakitan," aaakkkhhh..." Begitu Eduardo mundur beberapa langkah, menggunakan sisa tenaganya Zahra menendang sekuat tenaga tepat di pisang tegak Eduardo.
" AAAAKKKRRGGHHH..." Eduardo memegangi pisangnya, ia menunduk dalam.
Melihat Eduardo dengan kesakitan, Zahra meringis ngilu namun tidak menyesalinya.
Ia turun dari westafel agar bisa kabur, namun naas pintunya terkunci, dan kuncinya tidak berada ditempatnya.
Beberapa saat pria itu melenguh sakit, namun selanjutnya ia tersenyum smirk.
" Mau kabur, hmm. Ini akhir hidupmu, nona." Eduardo maju ke arahnya secara dramatis.
Zahra melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh tembok.
" Kau tidak bisa lari lagi, saat ini juga aku akan men1km4timu."....
" Please...lepaskan aku.."
" Terlambat untuk memohon, nona.."
Zahra terus menghindari dengan melempar sembarang benda yang dia raih ke wajah Eduardo yang berhasil dihindarinya
Ia mengeles setiap tangan Eduardo hendak menggapainya. berjalan ke arah berlawanan dari arah langkah Eduardo.
" C'mon. Sudahi tingkah konyolmu." Geramnya.
Dalam satu hentakan tiba-tiba, Eduardo berhasil meraih tangan, lalu mengangkat tubuh Zahra ke atas westafel.
" Show time,..."
Zahra menutup kedua kakinya rapat-rapat, tangisnya sudah pecah sedari tadi.
Di luar toilet, para tentara menembaki setiap obor yang menyala agar apinya padam. Semua orang ribut kalang kabut.
Tidak memberi lawan kesempatan untuk mempersenjatai diri, mereka melakukan serangan dari segala penjuru arah, mengagetkan para lawan.
Keadaan yang gelap gulita, ditambah tanpa persiapan, meski lawan berjumlah lebih banyak, namun mudah untuk dikalahkan oleh mereka yang berkacamata khusus yang sudah terlatih.
Mumtaz, Zayin, dan Hito bagai tidak terbendung kekuatannya, setiap menemukan musuh, musuh langsung dilumpuhkan hanya dalam satu atau dua kali gerak saja.
" Muy, kita handle di sini, Lo dan Ayin cari kak Ala." ujar Ibnu.
Mumtaz mengangguk, mereka berdua berkeliling membuka setiap tenda, menelusuri setiap tempat, perasaan mereka semakin kacau kala Tidak menemukan Zahra dimanapun.
" Kak Alaaa..."
" Kak Alaaa..."
Teriakan lara dari dua bersaudara membahana ditengah sengitnya pertempuran.
Nacho mendengar keributan di luar toilet, ia mengintip, dan terkejut dengan pemandangan di depannya.
Memanfaatkan kacaunya suasana, berlari ke depan toilet, membuka paksa pintu pintu, namun tidak berhasil.
Menendang-nendang kuat pintu toilet, ia berniat mendobrak pintu.
Mendengar pintu ditendang
" Tolong..." posisi Zahra sudah berada di bawah tubuh Eduardo di atas westafel.
Hoodie bagian atas sudah terkoyak, karena pergulatan.
Eduardo langsung membuka celana beserta boxernya mempertontonkan pisangnya yang besar, menarik Zahra, menendang kedua kaki Zahra hingga ia berlutut.
Kedua tangannya menangkup wajah Zahra, ia mengarahkan mulut Zahra ke pisangnya.
BRAAAKKK...
Nacho lagi-lagi syok mental melihat pemandangan di depannya, dengan murka menyerbu Eduardo.
tubuh Eduardo terdorong ke tembok, pegangannya terlepas, Zahra terhempas ke lantai. Ia tergugu.
Nacho memukul membabi-buta Eduardo, namun karena tubuhnya yang lebih kecil, dengan mudah Eduardo menghempaskan tubuh Nacho.
Keadaan terbalik, kini Nacho yang terlentang di lantai, Eduardo berdiri di atas. Tanpa perasaan Eduardo menyerang Nacho berulangkali.
Zahra yang meliihat itu, berusaha duduk, ia mengambil pistol yang diselipkan di dalam kaos kakinya.
Setelah memastikan Nacho tidak berdaya Eduardo Kembali pada Zahra.
" Sekarang giliranmu, bitc*h!"
Sebelum ia melepaskan tembakannya, Eduardo sudah berpaling kepadanya. sontak ia menyembunyikan pistolnya dipunggung
Eduardo menarik kerah Hoodie hingga terangkat memperlihatkan pin-ggang ramping nan mulus Zahra.
Eduardo memeluk pinggangnya erat hingga menempel penuh, tangan Zahra jatuh ke samping, tak membalas pelukannya.
" Say good bye...as*hole." Ucapnya sambil menatap nyalang Eduardo, Zahra menodongkan pistolnya ke pinggang Eduardo lalu menembakkannya....
Ayok ramaikan komentar dan likenya, terus kasih vote, dan hadiah....see you...
__ADS_1