Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
225. Drama Keluarga.


__ADS_3

Toni disidang dengan alat bukti yang tidak bisa terbantahkan kevalidannya hingga beberapa argumentasi pembelaannya terbantahkan dengan bukti itu.


Kehadiran Parmadi lah sebagai saksi yang membuat kasus terang dan jelas bahwa Toni sebagai pihak pelaku. pada perkembangannya selain terlibat dalam perdagangan narkoba dan manusia dia juga terlibat pada kebakaran 10 tahun yang menewaskan seorang pegawai bea dan ***4i, Mahmud.


Alfred meradang, " dari mana kepolisian bisa menemukan bukti-bukti itu? Sialan, jadi selama ini mereka masih menyelidiki kasus ini dan dia..." Tunjuknya pada layar tv yang menampilkan Toni.


" Tidak mengatakan apapun padaku." Teriak Alfred naik pitam.


" Tuan, mereka pengkhianat, memangnya apa yang anda harapkan dari seorang pengkhianat selain memainkan pionnya untuk kepentingan mereka sendiri." Ujar Matunda.


" Apa maksudmu?"


" Toni tahu anda sudah dalam posisi lemah, tentu dia tidak akan selalu bekerja untuk anda, tetapi dia akan bekerja untuk menyelamatkan dirinya sendiri."


" Terakhir dia memberi tahu kita mengenai sosok anak kecil yang dicari sebagai saksi kunci pembakaran rumah tersebut, saya kira polisi pun memegang identitas anak itu. Sekarang siapa dahulu diantara anda dan polisi yang bisa menemukan dia dan menguasainya." 


Alfred menatap Matunda lekat," maka sebaiknya kau cari dimana dia berada saat ini. Kalau harus memasuki RaHasiYa, maka segera kita ke sana."


" Anda Bahkan belum bisa lepas dari ranjang itu tuan, bagaimana bisa menghadapi mereka?"


Tangan Alfred yang tergeletak di samping tubuhnya mengepal kuat. Kembali Kenyataan menghantam dirinya bahwa dia tidak berdaya.


******


Berto cukup gugup mendapati dirinya kini duduk bersama nama-nama yang berpengaruh di negeri ini di lounge mewah, Al-Tair.


Mateo terlihat santai, meski tatapan Bara dan keberadaan Daniel cukup mengintimidasinya.


Atma Madina, Birawa, Gaunzaga dan Gurman yang saat ini menatap mereka berdia penuh perhitungan.


" Jadi kau asisten yang mencoba menghancurkan negeri ini?" Tanya Bara meremehkan.


" Tuan, saya hanya bawahan, tentu saya hanya melakukan tugas yang diperintahkan oleh atasan saya yaitu Navarro."  Mateo membela dirinya, dan harus mengklarifikasi sebelum Atma Madina menggunakan kekuasaan menghancurkan dirinya.


" Bang Rodrigo, kau yakin pengkhianat ini tidak mengkhianatimu?" Sarkas Daniel, dia terlihat tenang, namun siapapun tahu Daniel dalam keadaan sangat marah.


" Saya yakin dia bukan orang tolol yang bisa mengkhianati Gurman. Sejak awal keberadaannya di sisi Navarro memang untuk membalas dendam." kata Rodrigo.


" Tapi puluhan tahun bersama pasti kau mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan diluar. Begitu cara bibit teror1s bermunculan menerapkan doktrin pada anak asuhan yang mereka beri kasih sayang dan perlindungan."


" Tuan, saya tidak menampik bahwa ada ikatan antara saya dan tuan Navarro, tetapi itu tidak melebihi dendam saya terhadap apa yang sudah Valentino lakukan pada Dolores." terang Mateo gigih.


" Kau memberinya picu ledak pada Navarro itu membuktikan segalanya, Mateo." Sergah Bara.


Rodrigo mengamati Mateo, otaknya kini mencerna apa yang dikatakan Bara dan Daniel.


Mateo menghela napas dengan berat, " saya diperintahkan oleh tuan Mumtaz.


Semuanya terbelalak, tidak menduga satu nama itu akan disebut oleh Mateo.


Bara saling melihat dengan Daniel, tanpa suara mulutnya bertanya apa kau tahu hal ini, Daniel menggeleng, dia tidak tahu hal ini.


Ini cukup mengganggu Daniel, dia pikir Mumtaz cukup terbuka padanya, tapi ternyata tidak.


Sementara Dominiaz dan Rodrigo mencerna informasi itu mengkaitkannya dengan berbagai peristiwa yang mereka alami.


Bagi Berto, dia sungguh ragu jika analisa kepolisian mengenai identitas anak kecil yang mereka kantongi adalah tepat.


" Apa menurutmu Navarro mengetahui identitas anak kecil itu?" Tanya Dominiaz.


" Toni masih punya anak buah yang loyal di instansi itu, dan Toni cukup setia pada Navarro, jadi kemungkinan besar tuan Navarro juga mengantongi nama anak kecil itu." 


Bara dan Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, mereka kini mengkhawatirkan Mumtaz.


" Berto, kau sudah memastikan identitas ini yang tersebar?" Tanya Dominiaz untuk memastikan.


" Iya, pak."


" Holy shitt." Bentak Bara sampai berdiri, dia melempar asbak yang terdapat di atas meja.


Beberapa pelayan sampai terlonjak, Eross sendiri yang duduk beberapa meja bersama Samudera selalu was-was jika lounge-nya digunakan tempat pertemuan bagi RaHasiYa apalagi ini melibatkan Gaunzaga dan Gurman. Dia hanya berdoa dirinya tidak terseret dengan apapun yang sedang mereka bicarakan.


" Lo santai dikit napa, Ross." Ledek Samudera 


" Enak Lo ngebacot, gue sama Denis pebisnis gak biasa gue ngadepin ini." Rungut Eross.


" Lha emang kita ngapain?"


" Ba-cot, Sam. Ba-cot. Lo bisa santai karena Lo biasa. Tapi gue? Tiap mereka mau booking lounge gue, sepanjang hari itu jantung gue deg degan. Gue masih minum susu ya untuk sarapan bukan sianida."


" Hahahahaha." Samudera sungguh menikmati kekalutan Eross.


Dominiaz mengirim informasi terbaru pada Hito yang masih berada di Tangerang.


******


Di kamar tidur Zahra, Hito sibuk dengan laptopnya hingga tidak menyadari Zahra memasuki kamarnya.


" Kak, istirahat dulu yuk." ajak Zahra, ia memijit bahu Hito yang terasa kaku.


" Bentar lagi, nanggung ini."


Zahra mengambil alih mouse, menyimpan file-file yang ahrus disimpan, lalu menonaktifkan laptop. Hito diam di kursinya.


" Istirahat, ini bisa dilanjut nanti." Zahra mengecup puncak kepala Hito.


Hito mengambil tangan Zahra dari kepalanya, membawanya ke sofa bersama dirinya.


" Ra, Mumtaz dalam bahaya."


" Dia pasti bisa jaga diri."


" Aku gak meragukan itu, tapi Navarro veteran tentara terlatih. sebaik apapun kemampuan bela diri sipil itu masih jauh dibanding tentara."


" Kita punya Zayin."


" Ra, Mumtaz ingin mengudang Navarro ke RaHasiYa. ucap Hito hati-hati.


Mendengar itu barulah tubuh Zahra menegang. tangan yang berada dalam genggam Hito mengepal.


" Ruben, pengacara keluarga memberitahuku bahwa Mumtaz telah membuat surat wasiat, beberapa asetnya dipindah namakan atas nama kalian sekeluarga. Mumtaz tahu dia menghadapi orang berbahaya yang punya serbu satu akal licik."


" Benarkan? bukankah itu melanggar kode etik advokat."


" Ra, konsentrasi ke wasiat, bukan ke profesionalisme Ruben."


"Tentu, maafkan aku." Ucap Zahra dengan suara mengambang karena tidak tenang.


" Saat itu tiba, aku harus ke Jakarta memastikan Mumtaz atau siapapun selamat." Zahra mengangguk.


Namun Hito bisa melihat jika Zahra tengah melamun.


" Ku mohon jaga dia."


" Dia adikku, tentu aku akan menjaganya. bisakah kau menjaga para wanita yang ada di sini."" ujar Hito.




Selepas isya Zayin dan Mumtaz mengunjungi rumah pamannya, memenuhi undangan pamannya yang katanya ada yang ingin beliau sampaikan.



Sepanjang jalan mereka mengobrol bagi yang melihatnya mereka seperti mengobrol ringan, tapi pembahasan yang mereka bicarakan adalah mengenai keselamatan presid3n.



" Lo yakin TNI sudah lebih meningkatkan keamanan presid3n setelah insiden pin GPS itu?"



Zayin mengangguk, beliau memilih tim penyamaran alih-alih mengganti staf Paspampr3s."



" Terserah kalian gimana caranya, gue gak paham." Sahut Mumtaz.



Zayin mendorong lengan Mumtaz." Jangan sok polos Lo, A. Gue tahu sejak kelas tiga SMP Lo bolak balik masuk situs TNI mencari bahan peledak, dan materi strategi perang."



Mumtaz terperangah menatap Zayin." Dan Lo diem aja?"



" Lo aja kagak ngomong."



" Sejago apa Lo mengenai *hack*?"



" Gak lebih jago dari RaHasiYa, tapi waktu itu Lo belum pandai menghapus jejak digital lo dan dengan sedikit manuver pencarian gue bisa menemukan jejak Lo."



" Kenapa Lo bertindak seolah gak tahu?" 



" Karena gue pikir itu ucap buat iseng. Kan Lo yang ngebet jadi tentara buat wujudin mimpi mama bukan gue, karena kondisi bang Afa bang Daniel dan Aa Inu aja Lo gak jadi masuk Akmil."



" Berhubung gue yang jenius gabut dan gak punya cita-cita, dan gue pikir jadi tentara banyak tantangannya makanya gue milih jadi prajurit dan impian mama terwujud."



" Aa ingatkan gimana mama nangis kejer waktu gue lukis Akmil. Sumpah sih itu memori yang gak bisa dilupakan." Mumtaz pun mengangguk.



Pikirannya melayang beberapa tahun lalu saat Zayin lulus pendidikan militer mama-nya dengan tidak malunya memeluk Zayin erat sambil menangis tersedu-sedu sebagai tangisan bahagia katanya. Bahkan beberapa pengunjung memerhatikan mereka saking nyaringnya suara tangisan mama.



Setiba di lingkungan pesantren tidak jauh dari rumah Haidar mereka melihat wanita paruh baya berpakaian syar'i dengan koper di sampingnya tengah menghardik Tante yang duduk lesehan bersama Fajar dan Farah serta memangku Fajri yang menangis ketakutan dalam pelukannya.



Beberapa santri meski tidak kentara karena segan melirik ke arah mereka.

__ADS_1



Mereka berdua tahu siapa wanita itu, dan mereka sangat tidak menyukainya.



Mengambil langkah lebar mereka berdua bergegas pergi ke rumah tersebut.



Perempuan itu mengangkat tangan hendak menampar Rabiah,  mereka berlari kencang, tangan itu menurun mengarah ke pipi Rabiah, ketika tangan itu berjarak beberapa inci dari pipi Rabiah, tiba-tiba dari arah belakangnya ada tangan besar mencekal dan meremas tangan wanita itu kuat-kuat hingga wanita itu meringis kesakitan, sementara Rabiah dilindungi dibalik punggung oleh yang lain.



" Aawsss...lepas, siapa yang berani memegangi ku." Sentak wanita itu menoleh ke belakang.



Teriakan wanita itu mengundang para santri berhenti dari kegiatannya, bahkan beberapa ustadz mendekati mereka. Langkah mereka terhenti saat tahu orang yang membuat wanita itu berteriak memberi sorot mata mengancam.



" Tahu dirilah, bahwa Lo bukan siapa-siapa lagi hingga bisa menghardik sambil menunjuk-nunjuk wajah bibi gue?" Ucap Mumtaz dingin.



" Siapa kau, lepaskan!" Bentak Fatma galak.



Para santri yang menyaksikan adegan itu menyingkir memberi jalan sambil menunduk kala Haidar dan Aryan lewat dan berdiri tida jauh dari rumahnya, ia memperhatikan apa yang terjadi di depan teras rumahnya.



" Nama Lo Fatma Rosidah. Datang ke sini dengan alibi menuntut hak anak, padahal hak anak yang dikirim oleh paman digunakan untuk kepentingan pribadi. Sudah sejak empat bulan yang lalu kiriman untuk Abidzar dari mang haji Haidar tidak pernah kau kirimkan pada anakmu karena kau gunakan untuk kepentingan pribadimu dan membayar hutang pinjol maupun offline dengan total 265 juta."



Tarikan napas dari para santri karena tidak percaya terdengar disekitaran.



" Kau diusir dari rumah keluarga besar kedua karena banyaknya *debt colector* yang menagih hutang. Rumah pemberian mang haji atas nama Abidzar kau jual tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.



" Karena tidak punya tempat tinggal, dan tidak punya uang kau ingin kembali untuk tinggal dengan alibi berhak tinggal di sini sebagai ibu dari Abidzar padahal rumah ini sudah atas nama Farah. Itu sekelumit tentang Lo, apa musti gue beberkan semuanya?" Wajah dingin Mumtaz mampu membuat wanita yang dikenal mulutnya yang tidak berakhlak itu bungkam.



Wajahnya pias, tubuhnya bergetar ketakutan." Si..siapa kamu?"



" Anak dari orang yang kau usir akibat keserakahan mu, Aida Romli. Apa kau masih ingat nama itu Fatma Rosidah?" tanya Mumtaz dengan suara beratnya.


Tubuh gempal itu makin bergetar, kakinya refleks mundur. Raut ketakutannya jelas terpatri di wajahnya.



" USTADZ..." Teriak Zayin.



Salah satu ustadz setengah membungkuk berlari mendatangi mereka.



" Muhun, kang." jawab ustadz yang bernama Maulana tersebut.



" Bawa wanita itu." Titih Zayin dengan nada tidak terbantahkan.



" Kau tidak bisa mmgusirku." Hardik Fatma.



" Tentu bisa, kami salah satu ahli waris, dan Lo cuma mantan. M-A-N-T-A-N istri yang berati putus hubungan." Sahut Zayin.



" Aku ibu sepupu mu."



" Terus urusan gue apa, harus meyow gitu." ucapnya meledek.



" Dia juga ahli waris pesantren ini."



" Anak Lo ahli waris, tapi Lo bukan. PEA."  Kata-kata dari Zayin itu cukup mengagetkan yang mendengar.




" TIDAK MAU." Sentak Fatma naik pitam.



Mumtaz yang mulai kesal mengeratkan cengkramanya" Pilihan buat Lo, pergi atau dibawa ke polisi." Tanya Mumtaz.



" Kalian tidak akan berani..."



Mumtaz  bukan menelpon Kapolsek, tetapi langsung Kapolri.



" Lihat siapa yang gue telpon." Mumtaz memperlihatkan nama Arif pada Fatma.



" Be-go, nantangin kakak gue." gumam Zayin yang didengar Rabiah, dan keluarganya.



" Baik, saya pergi. Tapi kalian tidak bisa mengesampingkan hak anak saya." Fatma akhirnya mengalah.



" Suruh dia datang kemari, bukan Lo." Sahut Zayin.



" Bawa dia. Sebarkan ke seluruh penghuni dan penjaga pesantren bahwa wanita ini diharamkan untuk memasuki kawasan pesantren." Mumtaz mendorong Fatma hingga hampir terjatuh.



Mumtaz mengambil dompet dari saku jaketnya, membuka lalu mengambil semua cash yang dia punya kemudian memberikannya pada ustadz tersebut.



" Bawa dia ke tempat paling jauh dari pesantren ini."



" Dan Lo, berani datang kemari lagi, gue kasih diri lo pada para *debt colector* itu." Ancam Mumtaz



Dengan tergesa-gesa Fatma menarik kopernya meninggalkan pesantren. 



Di sisi lain, Zayin mencengkram kerah baju koko Fajar, menarik dirinya masuk ke dalam rumah.



" Apakah mereka terbiasa melakukan ini?" Tanya Haidar pada Aryan.



" Hmm, anakku selamat atas bantuan ponakan Lo."



" Bubar, lanjutkan pengajian kalian." Seru Haidar.



Dalam sekejap kerumunan orang membubarkan diri kembali pada aktifitas masing-masing.



Haidar melanjutkan langkahnya menuju rumah, saat tangannya memegang kenop pintu dari dalam rumah terdengar suara pukulan.



Matanya terbelalak saat dia melihat Fajar sudah terduduk lemas di atas lantai dengan wajah banyak berdarah.



Sementara Mumtaz yang duduk di sofa menenangkan Farah yang menangis histeris begitu pun dengan Fajri yang masih berlindung dl gendongan ibunya.



" Cuma ba-nci laki yang ngebiarin nyokap ditunjuk-tunjuk orang lain dengan hina." bentak Zayin.



" Gue mau marah, tapi dilarang umi." bela Fajar, ia menyeka darah di ujung bibirnya.



" Terus Lo nurut aja gitu, kalau tadi dia nampar bibi Lo juga bakal diem aja?"

__ADS_1



" Ya kagaklah, tadi juga gue mau menghalaunya tapi keburu kalian." elak Fajar.



" Diragukan. jelas-jelas kita nyegah pas tangan itu hampir kena pipi bibi." ujar Mumtaz.



" Lo laki, bokap Lo mantan jawara, iya kali Lo gak punya sedikit mental preman dari bokap Lo.



" Gimana Lo lindungi cewek Lo, adik dan ibu Lo aja Lo gak bisa lindungi. ben-cong Lo." umpat Zayin.



" Zayin, ini salah bibi. bibi yang larang Fajar meladeni bibi Fatma." ucap Rabiah.



" Ya dia punya otak, BI. seharusnya di situasi kayak gini dia gak dengerin bibi. dia harus mengambil sikap tegas. dia itu pemimpin di rumah ini setelah mang haji Haidar. dia pelindung kalian kalau mang haji Haidar berhalangan membela kalian."



Fajar yang masih terduduk di lantai menunduk menyerapi perkataan sepupunya itu. hatinya tergelitik akan sindiran Zayin mengenai posisi dia sebagai anak lelaki.



" Kalau sekali lagi Lo bertingkah ba-nci kayak tadi, gue akan bawa lo ke markas TNI, gue latih Lo supaya jadi lelaki sebenarnya. Lo dengar gue, Fajar?"



" Dengar." jawab fajar pelan.



" Jawab yang tegas jangan menye-menye kayak cacing tepar Lo."



" Dengar. gue tahu gue salah, tapi jangan hina gue melulu." Fajar balas bentak.



" Fajar." tegur Rabiah.



Bukannya menuruti keinginan Fajar agar suhu suasana menurun, Zayin malah lebih jadi." gue, Ahmad Muzayyin Hasan akan terus selalu menghi-na lo selama Lo pantas jadi bahan bullyan." tantang Zayin dengan mimik culas.



Aryan menghembuskan napas lelah, dia gregetan dengan sikap Zayin terus memprovokasi lawan.



Menyadari tidak ada bantahan dari Fajar, matanya kini menyorot pada Farah yang sudah tenang.



" Farah, apa kamu punya bela diri?" tanya Zayin.



Farah menggeleng."



" Jawab, bukan ngode." bentak Zayin.



" Enggak."



Zayin berjalan , kemudian berjongkok di hadapan Farah yang memilin-milin kedua tangannya gusar.



Zayin memandangi Farah yang tertunduk dalam." Farah, lihat aku." pinta Zayin dengan suara tegas.



" Refleks Farah mengangkat wajahnya." Rah, mending Lo ikut bela diri, bukan untuk siapa-siapa, itu untuk Lo sendiri.



" Di luaran sana bahaya, yang mengharuskan kamu menjaga diri kamu sendiri.



" Kalau aku gak bisa menggunakan tangan dan kaki untuk bertahan, maka gunakan mulut mu, kalahkan lawan mu lewat ungkapan, maka mentalnya yang akan roboh. paham!"



Farah mengangguk meski pelan.



" PAHAM!"



Farah terjengkit, ia makin mengerut ke tubuh Mumtaz mencari perlindungan, Farah ketakutan, pelupuk matanya sudah banyak bulir bening yang siap jatuh.



Fajar berdiri, berjalan ke sofa, " Bang, jangan bentak dia. dia katakutan." Fajar membawa Farah ke dalam pelukannya.



Zayin menjauh dari sana, duduk di sofa yang lain." tugas Lo membuat dia tidak lagi takut."



" Bang..."



" Fajar, suatu hari kalian akan menemukan kehidupan masing-masing kalau kalian manjain dia berlebihan, dia akan menjadi sosok lemah, mudah ditindas."


 



\*\*\*\*\*



Di kamarnya yangs udah seperti kapal pecah karena amukan Alfred yang murah akibat berita resminya dibuka kembali kasus kebakaran 10 tahun yang lalu.



" \*\*\*\*, MATUNDA...MATUNDA..." Teriak Alfred, namun tidak ada jawaban.



Dia butuh obat, suhu tubuhnya mulai meninggi, kepalanya sakit berdenyut-denyut tidak tertahankan.



Seingatnya Di kulkas penyimpanan, masih ada satu atau dua obat infusan.



Perlahan-lahan Alfred menurunkan diri dari brankar, kemudian dengan gerak melambat menegakan dirinya.



Dia berdiri di atas kakinya sendiri, baginya ini bagaikan mimpi setelah sekian lama berbaring tidak berdaya di atas ranjang sialan itu.



" Hahahhaha..akhirnya aku berdiri...aku bebaaassss..." teriak Alfred menggila.



cklek...



Pintu dibuka, tampak Matunda melihat apa yang ada di depannya. ia mematung karena terkejut.



" Matunda,..lihat



lihatlah aku sekarang bisa berdiri." Ucapnya sumringah.



Di tempatnya Matunda masih diam, ini sungguh hal yang mengagetkan.



" Matunda, pasti kau senang, akhirnya tubuh ini tidak lagi terbaring bagai mayat."



Meski berat hati, bibir Matunda walau kaku terangkat untuk membentuk senyum.



" Selamat tuan, anda mengalami progres yang memukau." Ucapnya dengan suara berat.



" Matunda, persiapkan diri untuk ke RaHasiYa" Ucap Alfred dengan raut yakin dan percaya diri.


__ADS_1


" Baik, tuan."...


__ADS_2