Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 89. Salah Culik


__ADS_3

The Baraz.


" Tanda tangani." Titah Bara pada Celine yang duduk di sofa panjang diseberangnya.


" Ini, apa?"


" Penyerahan lahan milikmu untuk keluarga Wilson. Sebenarnya Lo gak perlu lakuin ini kalau Lo dan laki Lo gak menggabungkan lahan itu menjadi Surga Duniawi."


" Apa yang saya dapatkan kalau saya menandatangani surat ini?" Celine mencoba bernegosiasi


Bara tersenyum meremehkan," gue ganti aset Lo dengan satu gedung apartemen." Bara melempar foto apartemen yang akan dijadikan barter lahan warisan celine.


" Dan bebaskan saya." Tambah Celine


" Okey, dengan syarat jangan pernah mengganggu keluarga Hartadraja, Atma Madina, Birawa, dan Pradapta. Jika melanggar gue bunuh Lo."


Meski tubuhnya gemetar takut, Celine berusaha tenang.


" Baik."


" Bud, tulis kesepakatannya di atas kertas. Dia melanggar kita habisi dia dalam sekali tindakan." Pinta Bara pada asistennya yang langsung dilaksanakan.


" Sekarang tanda tangani itu semua, Lo bisa bebas."


"Mbak, tolong bawa Samuel, dia butuh tindakan medis." Pinta Fiona penuh permohonan menatap putranya.


" Lo sendiri, atau batal." Tegas Bara.


" Bagaimana dengan Adinda?" Tanya Celine berusaha kembali bernegosiasi.


" Sendiri, atau batal." Kembali, Bara mempertegas keputusannya.


Celine menyambut tawaran Bara, dia sudah muak dengan ruangan bau anyir pekat yang menyeruak diseluruh ruangan ini.


" Sorry, fi. Anakmu bukan urusanku." Celine meletakan bolpoin sesaat sesudah menandatangani seluruh surat.


" Bagus."


" Kak Bara, to... long lepasin aku." Rintih Adinda dengan pandangan menawarkan kenikmatan pada Bara.


Bara menatapnya jijik," ngaca dulu sebelum ngel"nte sama gue."


" Bara, saya bersumpah kamu akan menghadapi kehancuranmu sebentar lagi." Teriak Brotosedjo murka.


Bara mendelik tajam pada Bram," Lewat apa Lo bisa hancurin gue?" Keponakan pelacur Lo, Tamara? MIMPI!"" Bara meninggalkan ruangan itu dengan tatapan mencemooh.


Brotosedjo terperangah, dia tak menyangka Bara mengetahui tentang kehidupannya sampai sejauh itu.


" Bara, bagaimana denganku? Aku sudah menuruti kemauanmu!" Teriak Celine yang tak dihiraukan Bara.


*****


Tamara bertemu orang sewaanya di cafe'D'lima," saya ingin kamu menculik mereka." Serunya meyerahkan dua lembar profil Alatas bersaudara serta jadwal kedatangannya.


" Arab, heh?"


" I don't care."


" Duit?!"


" Gawe dulu."


" Gak begitu aturannya, beb. You know." Cengir orang itu.


Tamara membuka M-bankingnya." Entah apa yang terjadi, dia tidak paham yang pasti dia harus membuka rekening baru, dia harus melayani Daddy sugar tua bangkanya agar mau mentransfer sejumlah uang setelah Daddy sugar lainnya menolak memberikannya. Sungguh hari yang melelahkan.


" Sudah, seratus lima puluh juta."


Jring!! Satu notifikasi pesan.


Orang tersebut melihat ponselnya," thanks, honey."


" Whatever, gue cabut. Jangan gagal." Tamara beranjak pergi dari cafe tersebut.


" Kita party." Ujar orang itu pada temannya.


" Yoi." Temannya bergerak goyang alay hingga menumpahkan gelas minumannya yang masih terisi setengah tumpah membasahi kertas-kertas tersebut.


" Anjir, santai bro. Ini duit kita." Orang itu mengangkat dan mengelap kertas itu, namun tintanya luntur hingga foto dan nama belakang dua orang itu buram.


" Santuylah, masih bisa dilihat."


****


Bandara Soekarno-Hatta


Pukul 10.30 WIB.


Tiga pria berpakaian formal menunggu di terminal kedatangan dari luar negeri mengangkat kertas bertuliskan IBRAHIM.


Seorang pria brewokan khas timur tengah di belakangnya seorang wanita cantik yang berjalan agak jauh sibuk dengan ponselnya menghampiri mereka.


" Saya Ibrahim, kalian siapa?"


" Kami diutus untuk menjemput anda?"


Ibrahim mengernyit bingung, pasalnya dia tahu ayahnya tak punya uang untuk dihamburkan membayar orang hanya untuk menjemputnya.


" Kalian bohong." Ibrahim melangkah menjauhi mereka, namun salah satu dari mereka berdiri memepet ke belakangnya dengan menodongkan pistol di punggungnya.


" Jalan, atau peluru ini mengenai jantungmu." Bisiknya.


Ketika Ibrahim menyadari apa yang sedang terjadi, ia mentautkan kedua tangan ke belakang punggungnya memberi kode tanda 'x' melalui telunjuk tangan kiri dan kanan pada istrinya yang berarti menjauh dan lapor polisi, kode yang selalu mereka berikan satu sama lain jika mereka dalam keadaan bahaya.


Langkah Nela, istri ibrahim. Terhenti, memang ini bukan kali pertama dia dalam situasi seperti ini, suaminya yang berprofesi seorang auditor bersertifikat internasional beberapa kali menghadapi situasi berbahaya seperti ini, namun tentu saja masih membuat dia takut. Dia bergegas menoleh kanan-kiri guna mencari bantuan tak jauh dari tempat dia berdiri dia melihat dua orang petugas keamanan bandara sedang berpatroli, tanpa membuang waktu dan perhatian publik dia langsung mendekati petugas tersebut.


" Bang, kita langsung ke parkiran saja ya? Capek banget gue." Seru Fatih pada kakaknya, Ibrahim.


" Iya."


Dengan santai kedua saudara itu melangkah ke parkiran tempat mobil mereka berada.


Saat akan memasukan koper-koper mereka dari kejauhan Fatih melihat seseorang sedang dipaksa masuk kemobil Van warna putih oleh tiga orang.


" Bang, kayaknya ada orang yang lagi dalam bahaya deh." Tunjuknya pada mobil yang sudah tertutup yang terparkir tiga baris dari mereka yang mulai bergerak.


" Rekam aja, terus foto aja ni serinya. Kita ke kantor polisi. Kalau teriak takut membahayakan orang tersebut." Ujar Ibrahim bersiap menyalakan mesin mobilnya.


"  Gue udah foto no serinya. Kita ke kantor polisi aja, Bang." Ujar Fatih memasukan ponselnya ke saku celananya.


******


Orang-orang yang ada dalam ruangan Mumtaz terlonjak kaget karena pintu dibuka kasar, Zahra memasuki ruangan sambil menarik Zivara dibuntuti Zahira.


" Gue udah pengang ngedengerin permintaan maaf Lo. Omel Zahra.


" Kalau Lo emang beneran minta maaf, Lo urusin si Mumuy sampe sembuh" Tunjuk Zahra ke wajah segar para penghuni kamar.


"Gue kan dokter kandungan, Ra."


" Terus? emang Lo gak paham cara mengobati luka?" 


Zivara mendengkus, Zahira tertawa geli.


" Mau, enggak?" 


" Iya, mau. Tapi habis ini Lo maafin gue ya." 


" Tergantung hati gue. Lo pikir kelakuan lo kemarin gak bikin kepala sama hati gue gerah. Masih untung si Mumuy ngabisin perusahaan bokap Lo doang, gak termasuk ngabisin tabungan Lo."


" Iya, iya untung. Orang Indonesia mah kena sial juga masih ngomong ada untungnya." Gerutu zivara.


" Gue kasih lo kesempatan buat Deket sama Hito, itu untung kan?" Zahra melirik Hito yang duduk di sofa menatapnya tenang.


" Ck, udah gak minat gue. Laki Lo kalau udah nolak gak banget."


" Terus kenapa Lo nyoba nikung gue?"


" Gue lagi oon, otak gue lagi makan di warteg." Jawab Zivara sebal.


" Cih, di depan gue ngomong gitu, di belakang gue masih jalan bareng." Cibir Zahra.


" Kapan? Fitnah itu. Otak gue udah balik ke batok gue. Jadi gak ada ya gue jalan sama kanebo kering keriting macam dia."


" Lo lagi ngomongin siapa?"


" Laki Lo, kak Hito."


" Mana ada dia macam kanebo kering, kanebo basah, lembut gitu."


" Ama Lo doang kali. Lo lagi pamer sama gue?"


" Iya." 

__ADS_1


" Ara, udah. Makan, biar dia urusin Mumtaz " Hito menarik lembut tangan Zahra menuju sofa


Trring!!


Satu pesan masuk ke ponsel Zivara, Matanya terbelalak kaget, tangannya lunglai lemas ponselnya terjatuh.


" Ra, Abang gue diculik." Lirihnya ketakutan.


Zahra terkaget, sontak dia mengambil ponsel Zivara dan membacanya.


" Muy,.." ia memberikan ponsel Zivara ke Mumtaz.


Zahira membawa Zivara yang masih bengong ke sofa," Abang Lo punya musuh?"


Zivara menggeleng," Abang gue baru balik dari Dubai. Ra, ini gimana?" Paniknya.


Zahra melirik Mumtaz dan ibnu yang sudah sibuk dengan laptopnya.


" Fa, hubungi Jeno. Nu, shareloc ke Jeno. Mumpung mereka belum jauh."


Mumtaz membuka kancing piyama rumah sakitnya yang dihalangi oleh zahra.


" Mau kemana, kamu?" 


" Nyusul mereka."


" Diam ditempat. Aku yakin mereka masih bisa menanganinya."


" Kak,.."


" Jangan sok jagoan. Luka kamu aja belum kering. Ibnu, kamu bisa nangani ini kan?"


" Siap."


Ceklek!!


Semua mata menoleh ke arah pintu yang dibuka oleh Ibrahim dan Fatih Alatas.


" Kenapa?" Ada apa?" Tanya Ibrahim bingung menatap mereka semua.


" Kapan datang, Bang?" Tanya Mumtaz.


" Ini dari bandara langsung kesini." Jawabnya.


" Gimana keadaan Lo?"


" Baik, bisnis gimana?"


" Alhamdulillah lancar, kita udah tanda tangan. Untung Fatih paham desain Lo." 


" Syukur deh, sorry balik duluan."


" Its okey, si Nathan suruh gue ketemuan sama dia di sini. Tu anak belum datang?"


Belum juga dijawab, pintu dibuka kembali menampakan Nathan dan seorang pria bersetelan formal.


" Sorry, ganggu?" Mereka menggeleng.


" Lo udah datang bro." Nathan dan Ibrahim saling menyalami ala pria.


" Kenalin dia Erlangga, notaris. Lo dan Fatih harus tanda tangan beberapa akta pemindahan nama hotel paradise, dan aset lainnya yang jadi milik om Adam dulu." Ucap Nathan.


Baik Ibrahim maupun Fatih terkejut,


" Ini maksudnya apa?" Tanya Ibrahim bingung menatap satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut.


" Nath, Lo kalau ngeprank gue pake acara gini gak lucu, Lo tahu kan gimana kerasnya gue berusaha ngedapetin hak bokap gue?" Ucap Ibrahim waspada.


Nathan yang paham kondisi hati sahabat kecilnya, ia mengangguk," gue gak ngeprank, ini nyata. Lo baca, dan Lo tanda tangani."


Nathan mendorong Ibrahim dan Fatih yang masih terbengong ke ruang tunggu yang ternyata ada Dominiaz dan Heru.


" Er,..." Panggil Nathan ke Erlangga.


Erlangga duduk membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebundel berkas yang disodorkan pada Ibrahim dan Fatih.


" Silakan dibaca." Serunya, mereka berdua membaca isi akta pengalihan kepemilikan sejumlah aset Alm. Ayahnya yang dulu dirampas Bram Brotosedjo.


" Silakan tanda tangan." Erlangga mengasongkan bolpoin ke Ibrahim dan juga Fatih, mereka hanya manut karena masih bingung


Erlangga memberesi akta-akta tersebut setelah ditandatangani oleh mereka berdua.


" Saya akan urus ini secepat mungkin supaya kalian cepat mengeksekusi hak kalian." Tukas Erlangga.


" Nath, ini sungguhan?" Lirihnya terisak.


"Iyalah, masa masalah gini gue bohong. Kita bisa lanjutin impian bokap kita." Jawab Nathan menahan emosi haru.


Ibrahim memeluk Nathan erat," thanks, bro. Gue gak tahu harus membalasnya dengan apa!"


" Bukan gue, bro. Tapi mereka, RaHasiYa."


Ibrahim menatap semua orang yang berada di ruangan itu, dia kenal Daniel, Alfaska, Bara, dan Ibnu. Pemuda-pemuda yang sedang jadi perbincangan dunia bisnis international karena inovasi dan insting bisnis mereka.


 


Ibrahim menyalami satu persatu dari mereka." Terima kasih, entah apa yang mendorong kalian menolong kami, tapi saya ucapkan terima kasih." Isaknya tak bisa lagi ditahan rasa haru dalam hatinya.


" Its okey, Fatih teman kita, itu gunanya punya teman." Timpal Daniel tenang. Fatih terbelalak, ia menatap Mumtaz yang mengedikan bahu.


" Maaf, bukan maksud merusak suasana haru, tapi Jeno kehilangan jejak para penculik itu."Ucap ibnu. 


Suasana haru berubah tegang," sepertinya mereka membuang ponsel bang Ibra." Lanjut ibnu.


" Penculikan?" Apa yang kalian maksud penculikan di bandara?" Tanya Fatih.


" Iya, Lo tahu? Tanya Ibnu.


" Korban berjas hitam, brewok tipis khas orang arab, tinggi, hidung mancung, kulit coklat bersih, rambut ikal?"


" Itu Abang Ibra aku." Tangis Zivara histeris.


" Gue foto no seri mobilnya." Fatih mengeluarkan, dan memberikan ponselnya pada ibnu.


" Tadi gue gak sengaja lihat ada orang dipaksa masuk mobil sama tiga orang, gue udah lapor polisi."


" Nu, Lo otw. Gue udah dapet lokasinya." Seru Mumtaz.


" Thanks, bro. Gue pergi." Ibnu keluar ruangan.


Di sofa masih terdengar tangisan Zivara dalam pelukan Zahira.


*****


Di lantai dua gedung belum rampung dibangun yang terlantar seorang lelaki terikat duduk di sebuah kursi dengan beberapa lebam di wajah.


Tamara marah, wajahnya yang tertutup masker memerah, matanya melotot


" Gobl*k,...Lo salah orang." Teriak Tamara kesal menampar pipi orang-orang sewaannya.


" Itu sesuai dengan foto yang Lo kasih ke kita *****." Sanggah ketua penculik memberikan kertas yang sudah robek dan lecek.


Tamara melihat kertas tersebut, dia geram." Lihat...ini tak sama." Tunjuk Tamara pada gambar yang sudah buram dan orang yang diikat mereka.


" Sama, mereka brewokan, namanya Ibrahim." Kekeuh penculik itu.


"Dasar gobl*k, yang gue maksud Ibrahim Alatas bukan dia, dia siapa gue gak tahu." Sewot Tamara.


Membuang nafas gusar, Tamara mengangkat tangan ingin menampar mereka kembali yang langsung dicekal oleh penculik.


" Lo tol*l, kalau kita pinter kita udah jadi menteri. Jangan karena Lo bayar kita Lo bisa seenaknya sama kita, l*nte."


Mereka adu mulut karena salah menculik orang, yang diculik mereka bukanlah Ibrahim Alatas yang diinginkan Tamara melainkan Ibrahim Husain, kakak dari Zivara.


"Aaaakkhhhh." Terdengar teriakan dari lantai bawah, mereka terlonjak kaget tak lama beberapa orang langsung menyerang mereka dengan lemparan cambuk, membuat mereka langsung membalas serangan tersebut meski tak siaga. Terjadilah perkelahian.


Tamara yang terkaget dengan penyusup langsung dia kabur ke arah tangga yang terdapat di sebelah pojok seberang langsung menuruninya dan pergi menuju kendaraanya yang terparkir tersembunyi tak jauh dari sana meninggalkan perkelahian sengit di lantai dua.


*****


" Bang,..." Zivara masuk UGD dengan panik diikuti Zahra dan Zahira, para petugas memandangi mereka terheran, pasalnya sejak aktifnya Zahra di rumah sakit Zahra dan Zivara sering adu mulut sengit.


Zivara memeluk Ibrahim yang meringis kesakitan." Kenapa Abang bisa diculik sih?" Omelnya.


" Kamu tahu?" Kaget Ibrahim.


" Dari kak Nela yang kirim pesan ke Ziva. Yang nyelamatin Abang juga teman Mumuy, adiknya Zahra. Sekarang mereka lagi jemput kak Nela di bandara." Terang Zivara ditengah isakan tangisnya.


" Ziv, Lo berisik, mending ke administrasi buka kamar buat kakak Lo." Seru Zahra sebal. sementara Zahira sudah sibuk memeriksa ibrahim.


" Ini bawa ID gue, bilang kamar Zuper VVIP. Gue lakuin ini karena abang Lo baik, gak kayak Lo yang mau nikung gue."


" Bisa kan gak pake nyindir gue." Dumel Zivara mengambil ID Zahra.

__ADS_1


" Gak bisa. Mulut gue udah lemes sama Lo." Tantang Zahra.


Ibrahim meringis tak enak, Zivara melangkah pergi dengan mulut berkomat-kamit sebal.


" Maafin Ziva ya, Zahra." Ucap Ibrahim yang sudah tahu apa yang terjadi diantara dua sahabat itu atau mantan sahabat.


" Otw, bang. Tuk adik Lo harus dikasih pelajaran supaya peka-nya terkumpul banyak."


" tapi kamu gak benci dia kan?"


" Gak ada guna benci dia. Cuma masih kesal aja."


******


" Jadi kesimpulannya mereka sebenarnya mau nyulik Lo, Ibrahim Alatas, tapi salah sasaran. Lo punya musuh atau gimana?" Tanya Husein pada Ibrahim Alatas.


" Sorry, gak deh kayaknya."


Ibrahim Husein menatap kesal pada sahabatnya ini.


" Gara-gara nama kita sama dari dulu gue sue mulu, mungkin salah satu cewek Lo yang gak move on?"


" Gak ada, udah lama gue gak main cewek." Sanggah Alatas.


" Ganti aja nama Lo."


" Gak bisa, udah ditumpengin ini."


" Alay." Husein melempar bantal ke Alatas.


" Lo lihat muka yang nyuruh mereka? Tanya Alfaska.


" Gak, dia pake masker, tapi dari siluetnya dia sexy, kulit putih, rambut hitam begelombang sepunggung."


" Ini?" Tanya Ibnu memperlihatkan foto diponselnya.


Husein menganalisa foto tersebut," kayaknya iya deh."


" Shitt. Gue yakin Tamara nyulik bang Ibra karena udah tahu tentang pengalihan aset dia. kan cuma Alatas bersaudara yang belum rampung." Ucap Bara.


" Kata si penculiknya mereka dibayar seratus lima puluh juta." Timpal Ibnu.


" Gar, hubungi kebuy soal Daddy sugar dia." Pinta Bara.


" Kata kebuy, itu udah beres. Gue juga udah hubungi pengusaha yang lain." Ucap Adgar tak lama setelah menutup sambungan telponnya.


" Jadi masih ada orang yang berani menyuapi dia setelah peringatan dari kita." Gumam Bara.


" Gue udah periksa aliran dana dia, dia buka rekening baru no itu dia pake baut transfer ke penculiknya, tapi gak ada aliran dana ke rekening dia." Seru Ibnu.


" Mereka pake cash." Ucap Akbar.


" Gue lacak GPS hp, dan mobil dia beberapa hari lalu dia singgah ke rumah seseorang yang bernama Irwan Sudrajat." Timpal Mumtaz.


" Anjir, tu cewek kakek bangkotan aja diladeni." Umpat Adgar yang mengundang tanya yang lain.


" Lo kenal dia?" Tanya Daniel.


" Teman lama kebuy, waktu kecil sering diajak main ke rumahnya. Kata kebuy, waktu muda beliau termasuk fuckboy."


" Hubungi kebuy sebelum gue turun tangan, beri peringatan atas nama Bara Atma Madina siapa yang bantu itu jal*ng akan dihancurkan, karena berani mengancam calon istri Atma Madina." Ucap Bara tegas.


" Siap." Jawab Adgar yang langsung menghubungi kebuy-nya.


" Bang Erlangga segera rampungkan urusan peralihan kepemilikan, pake  kartu nama RaHasiYa buat hubungi pejabat terkait. Gue kirim surat kuasa RaHasiYa lewat email." Ujar Daniel merujuk pada kartu hitam pinggiran gold elegan berlogo 'R' milik petinggi RaHasiYa.


Dikalangan konglomerat kartu itu lebih bernilai dibanding kartu kredit hitam, dengan kartu tersebut orang itu bisa dengan mudah melobi para pejabat negara hampir di seluruh negara di dunia.


" Siap, anggap sudah selesai. Gue cabut." Erlangga keluar ruangan.


ceklek!!


prof. Farhan masuk, dia mendatangi brankar Husein, Zivara yang berdiri disamping kakaknya menunduk menggeser merapat ke Zahra yang sedang mengupasi kulit apel.


" Gue dengar dari Hira Lo di sini." ucap Farhan santai menyalami ala pria.


" Iya, gue diculik gegara tu mantan fuckboy." ucapnya merujuk pada Alatas.


" Akibat nama kalian yang sama?" Farhan terkekeh.


" hmm."


" Ziva, Lo kenapa sih mepet-mepetin gue." Zahra sengaja membesarkan volumenya.


" Berisik." Zivara menggeplak tangan Zahra.


Farhan melirik Zivara yang masih tertunduk." gue balik dulu, entar gue mampir lagi."


" Prof, pulangnya bareng aku ya. si Ayin lagi sibuk gak bisa jemput aku." pinta Zahra lembut.


Farhan melirik Hito yang sudah berdiri siaga.


" Gak bisa, kamu pulang bareng aku."


" klKamu kayaknya lagi sibuk banget sama RaHasiYa."


" Enggak, kamu pulang bareng aku. Awas Lo nikung gue." Hito memperingati Farhan yang terkekeh geli.


" Gue biasa aja, Zahra-nya sendiri yang minta."


" Ya Lo tolak, nih Ziva jomblo. gak punya bakat pelakor dia." sindir Hito yang mendapat tatapan tidak suka dari Farhan.


" Kalau gak boleh, cukup bilang. gak perlu bahas yang kemarin." ucap Farhan.


" Masih peduli prof. aduh hati aku kretek terbelah banyak, prof." Zahra mendramatisir.


" Gak ada ya kamu kretek karena dia, Lo kalau masih suka sosor jangan diem-diem Bae." Hito menarik lembut tangan Zahra melangkah ke arah pintu, Zivara yang tidak mau ditinggal refleks memegang lengan Hito.


" Jangan pegang-pegang." Zahra menepis tangan Zivara.


" gak sengaja, dikit doang."


" Gak ada dikit-dikitan." Zahra menarik Hito bertukar posisi, Hito hanya diam menurut sambil tersenyum.


" Pelit Lo, kak Hito aja diam."


Gemas dengan sikap Zivara, dia mendorong Zivara hingga jatuh ke pelukan Farhan dengan refleks Farhan memeganginya, Zahra menarik Hito untuk keluar ruangan.


" Ara.." Zivara dengan wajah memerah mengejar Zahra.


" Lo gak susul mereka?" tanya Husein.


" Enggak, kalau mereka ngumpul berisik. gue balik."


" Han, gue harap Lo sabar menunggu Zivara, gue tahu dia masih sangat suka lo. Gue gak mau lihat dia frustasi lagi." pinta Husein.


" Hmm." Farhan keluar ruangan.


" Ck.ck..ternyata kisah cinta dunia profesinal sealay anak ABG." ucap Adgar menggelengkan kepala yang mendapat jitakan dari yang lain.


****


" Sial...sial... Kenapa semuanya tidak ada yang berjalan sesuai rencana gue." Jerit Tamara mengubrak-abrik kamarnya yang sudah berantakan.


Dia menelpon seseorang yang ternyata tidak dijawab, membanting ponsel tersebut.


" Gue bersumpah, kalau gue lihat Lo, gue langsung bunuh Lo, Maura." Gumamnya dengan pancaran mata sarat dendam.


Lalu dia menelpon orang suruhannya untuk melancarkan aksi selanjutnya.


" Apa maksud Lo, Lo cancel. Gue udah bayar mahal Lo." Hardik Tamara ke seseorang diseberang.


" Gue gak butuh duit itu, gue gak mau tahu Lo lakuin apa yang sudah kita sepakati."


" Sialan Lo, Bangs*@t Lo." Lagi, Tamara melempar ponselnya atas kasur.


Dia benar-benar marah, orang suruhannya membatalkan rencana mereka.


" Apa yang sebenarnya terjadi? Aaakkkkh." Dia meluapkan emosinya dengan menjambak rambutnya sendiri.


" Sabu, gue butuh sabu." Dia sibuk mencari barang haram tersebut di totebagnya.


Tring...


Satu notifikasi pesan masuk.


Setelah melihat si pengirim, dia buka pesan tersebut, dan tersenyum menerawang.


" Selalu ada cahaya dibalik kegelapan. thanks to Sri Hartadraja." Gumam Tamara senang....


**Jangan bosen buat tekan jempol, komen, kasih hadiah, dan vote....seee you...


Baca terus ya**...

__ADS_1


__ADS_2