Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 27.marah


__ADS_3

Skandal perilaku Sivia selama hidup di Amerika menjadi perbincangan masyarakat.


Sivia yang dikenal sebagai sosok yang manis, berganti menjadi seorang wanita murahan.


video aib Sivia di Amerika memperlihatkan gaya hidup bebas yang dianut Sivia. Sivia setiap harinya melakukan one night stand dengan berganti-ganti pria berbeda, berpoya-poya dan penggemar pesta sex liar, serta seorang alkoholik.


Sivia yang mengaku sebagai lulusan Megister Bisnis dari universitas Stanford ternyata tidak pernah lulus sarjana atau drop out dari universitas New York.


Skandal hukum Gonzalez corp belumlah reda, bahkan saat ini Gonzalez corp sedang diselidiki oleh pihak kepolisian terkait penggunaan Mercuri diproduk make up-nya


sekarang keluarga Gonzalez disibukan kembali dengan skandal kehidupan Sivia mengakibatkan harga saham Gonzalez lebih anjlok dari sebelumnya.


" SIVIA AGUSTIN GONZALEZ..." teriak Eric, sang ayah.


" jika dia belum bangun, bangunkan dia." sergah murka Eric.


pagi hari ini dia tak menyangka akan mendapat berita yang memalukan tentang putrinya. memijit-mijit keningnya Eric berupaya meredakan emosinya.


Sivia turun dari tangga dengan langkah santai menggerutu karena dipaksa bangun


" ada apasih pih. pagi-pagi udah teriak. apa yang dilakukan Raul kali ini." celoteh Sivia langsung mengambil duduk di samping kakaknya Raul Ramos Gonzalez.


Eric tak segan melempar surat kabar itu ke wajah Sivia hingga Sivia tersentak di kursinya


" baca dan jelaskan pada papih." Eric melempar tatapan menghunus padanya.


"sekarang siapa yang sudah kamu bikin marah. kamu sadar tidak sejak kamu memutuskan mengejar Hito Hartadraja kamu selalu buat Masalah." tuduh Eric


Sivia tersentak terkejut atas pemberitaan aib yang selama ini dia sembunyikan. bahkan Raul memberi iPad nya yang mempertontonkan aksi ranjang nya dengan salah satu koleksi prianya.


" jauhi dia. dia sudah tidak menginginan kamu. kamu pikir dia akan meninggalkan kekasihnya yang jauh lebih baik dari kamu hanya untuk wanita murahan sepertimu? pikir pake otak. dia bukan orang bodoh." tekan Eric menghina.


" papih sudah banyak masalah, kalo kamu tidak bisa bantu papih minimal kamu jangan menambah masalah buat papih." Eric beranjak pergi dari ruang makan, namun sebelumnya Eric berujar


" kamu bereskan sendiri masalah kamu."


*****


rumah Aznan Hartadraja


seluruh keluarga kumpul di ruang keluarga atas titah nenek Sri.


sebelumnya nenek Sri meletak iPad di atas meja yang menyiarkan berita saat pesta ulang tahun nenek Sri dan pernyataan Hito.


" HITO kamu mulai berani membangkang nenek . kamu mempermalukan nenek di depan para undangan."


" ma tenang masih pagi. kita belum ada yang sarapan ini ma." papa Aznan mencoba meredakan amarah nenek Sri. namun tak digubris


" Hito, nenek harap kamu paham apa yang nenek lakukan adalah untuk kebaikan kamu. lihat kakak kamu, Damar. dia hidup bahagia dengan isteri pilihan nenek." bangga nenek.


" itu karena mbak Nadya perempuan baik-baik. beda sama si Sivia." bukan Hito yang menjawab, tetapi Edel. dia sudah kesal dengan keras kepala neneknya.


" diam Kamu Edel. cukup si Edel yang jadi biang kerok di keluarga kita. kamu jangan." sergah nenek Sri.


Edel mencibir atas perkataan nenek Sri. " biar Edel dinilai jelek sama nenek, tapi Edel lulusan terbaik Stanford ya. nek, ni liat kelakuan calon cucu mantu nenek." Edel memperlihatkan berita terbaru beserta video tentang Sivia di iPad neneknya.


nenek Sri mengamati dan menarik nafas kaget. dia mengelus dada. nenek Sri memijat keningnya pening.


merilekskan diri nenek Sri melunak " kalau kamu memang tidak mau dengan Sivia. kamu pilih mau dengan siapa?" nenek Sri menawarkan. beliau meminta sesuatu kepada asistennya


sang asisten memberi beberapa lembar photo perempuan muda cantik


" sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu nenek mau ngomong ini sama kamu." ucap nenek sembari membariskan masing-masing photo itu di atas meja.


" kamu boleh pilih dengan siapapun diantara mereka asal jangan dengan si Zahra itu. dia gak pantes buat kamu. dia itu gak setara dengan status sosial kita." pongah nenek Sri.


" mereka cucu kolega kakek kamu. mereka berasal dari status yang sederajat dengan kita. bisnis mereka termasuk top 20 di Indonesia. mereka pengen banget kenal sama kamu. nenek udah buatkan kamu jadwal temu dengan mereka." nenek Sri menyerahkan beberapa lembar yang berisi tanggal, tempat, dan profil perempuannya.


" kamu gak bisa beralasan sibuk. nenek udah konfirmasi dengan Heru mengenai jadwal kamu." nenek Sri menyilang kakinya dan duduk tegak.


Hito diam. dia memang sedari awal diam. tidak memberi tanggapan apapun terhadap apa yang dikatakan nenek Sri. melihat pasifnya minat Hito nenek Sri menghela nafas kesal.


" pah. bantuin mama dong bujuk Hito." rayunya kepada kakek Fatio.


mengangkat bahu sejenak kakek Fatio berujar " biar Hito urus jodohnya sendiri." ujar kakek santai. kakek Fatio beranjak menuju ruang makan yang diikuti oleh yang lainnya.


dulu iya kakek tidak suka dengan keluarga Mumtaz. beliau pikir mereka memanfaatkan kekayaan keluarganya untuk kesejahteraan pribadi mereka, tetapi setelah mendengar keterangan anak,cucu, dan Cicitnya beliau merubah pandangannya.


mendapat tanggapan santai dari suaminya nenek Sri mendesis frustasi.


****


Gemparnya media dengan skandal Sivia dan penegasan Hito bahwa Zahra adalah kekasihnya tak mempengaruhi keluarga mama Aida.


mereka duduk di ruang tamu, mama melirik kak Ala yang sibuk mempersiapkan bawaannya.


" kak, bilang sama mama hubungan kamu sama Hito, ini kayaknya makin serius beritanya" mama Aida bertanya pelan


Zahra berhenti dari kesibukannya " semuanya salah kakak. waktu itu kakak asal ngomong kita pacaran buat bales Hito yang mau balikan ke mantannya. kakak gak rela aja dia bisa bahagia setelah dia renggut kebahagian kita, khususnya mama."


" cuma itu?" mama Aida memastikan.


Zahra mengangguk " iya."


" kok keterusan gini. apalagi nenek Sri terang-terangan gak suka kamu, mama khawatir kak."


" kakak juga gak tau kenapa jadi gini. mama gak perlu khawatirkan apapun. semuanya still be okey ma!" kak Zahra meyakinkan mamanya


" kamu gak apa-apa sama perbuatan nenek Sri?" kak Zahra menggeleng


" ya udah kalo semuanya baik-baik aja. anak-anak mama kalo punya kesusahan jangan dipendam sendiri, curhat terus kita sharing cari solusinya. itu gunanya keluarga!" mama Aida menutup perbincangan paginya


" oke, ma."


" iya, ma."


jawab para anak. mereka beranjak mendekati mama menyalimi cium tangan mama.


" kak berangkatnya bareng Aa Mumuy ya." ujar Tia kepada kak Ala.


" kenapa?"


" Aa Ayin bareng aku. aku mau terus berangkat dan pulang bareng Aa Ayin. entar kan aku bakal pisah Sama kembaran ku."


" ya Allah Ya, itu mah dua tahunan lagi Ayin masuk Akmil. jangan lebay. gak cukup kamu nempelin Ayin di rumah?" jengah kak Ala


" dua taun itu sebentar kak. aku gak mau lewatin masa-masa singkat kebersamaan kita."


Ayin menoyor kepala Tia. " jangan alay. kamu sama aku masih bisa ketemuan. ayo kak kita berangkat." ajak Zayin kepada kak Ala


Tia berdiri di ambang pintu sambil merengut kecewa.


" ayok dek berangkat." Mumtaz merangkul pundak Tia keluar dari rumah.


****


istirahat


" kak Mumtaz." panggil Sisilia berlari kecil mendekati Mumtaz yang hendak ke mushala


" kenapa kok pake lari-larian." tanya Mumtaz pelan


bernafas capek Sisilia menunjuk ke arah belakang " itu Tia berantem di kelas."


Mumtaz menarik tangan Sisilia langsung berlari menuju kelas Tia.

__ADS_1


sesampainya di koridor kelas Tia sudah ramai kerumunan orang. menghalau orang yang di depannya Mumtaz melihat dua siswi saling bertikai.


tepatnya satu orang yang duduk di atas tubuh lawannya secara yang membabi-buta menyerang dengan pukulan, satunya lagi terbaring berteriak mencoba menangkis serangan yang dinilai percuma.


dua teman lawannya sudah dipegangi oleh Dista dan teman sekelas Tia. tak ada yang melerai, bahkan mereka bersorak memberi dukungan buat Tia.


Mumtaz menarik mendekap Tia yang terus meronta dari tubuh Bella yang sudah kepayahan.


" kenapa? ada apa? bisik Mumtaz menepuk-nepuk punggung Tia menenangkan.


" dia ngatain aku gak pantes jadi adik Aa yang kalem dan baik karena aku genit hiks.. hiks.." Isak Tia dalam dekapan Aa Mumtaz.


Mumtaz menatap marah kepada Bella, Bella yang sadar arti tatapan Mumtaz ketakutan dengan gugup bela mencoba membela diri


" dia yang cari gara-gara. aku cuma bilang nanti promnight aku pergi sama kamu..."


" tadi Lo ngomongnya gak kayak gitu. tadi Lo ngomong pake sok songong dan ngeremehin hubungan Sisilia sama kakak gw." teriak Tia


" gw gak mau. gw menolak. mana mungkin gw biarin cewek jahat kayak Lo deketin kakak gw." murka Tia.


" dasar mantan tak tau malu. Aa Mumuy itu udah punya Sisilia kenapa harus pergi sama Lo. udah ditolak berkali-kali masih aja ngejar. cuih" Tia meludahi Bella.


merasakan dekapan Mumtaz mengendur Tia menerjang Bella dengan tendangan dan tonjokan hingga Bella terjengkang. Mumtaz sambil berdecak menarik kembali Tia dan membawa Tia pergi dari arena diikuti Dista, Cassy dan Sisilia.


******


kantin


guru yang rapat untuk ujian nasional dimanfaatkan siswa-siswi nongkrong di kantin.


meja yang paling besar dan paling panjang diisi penuh oleh Bara dan gengnya, Zayin dan para sohib, Mumtaz dan para sohib, Tia dan para sohib ditambah teman sekelas mumtaz dan Bara.


" awalnya gimana sih kok bisa berantem gitu?" Jimmy mulai kepo.


" si Bella sama konco-konconya datang ke kelas dengan gaya senga terus bilang gini ke Tia; Tia, Lo tau gak promnight entar gw pergi sama Mumtaz." Dista memperagakan gaya tubuh dan bicara Bella. yang mendapat tertawaan dari penonton di mejanya


" kasian banget ya pacarnya sekarang gak dianggap. beneran mereka pacaran atau cuma settingan buat narik perhatian gw. gitu sebel kan!" Dista masih berlanjut memperagakannya.


" dan Lo dengan polosnya percaya omongan halu tu orang?" Zayin kesal punya saudara kembar bikinnya ribut mulu.


" gak lah.gw juga diem aja pas dia ngomong gitu." bela Tia. yang diangguki teman-temannya


" ngamuk kenapa?" Daniel menimpali


" pas si Bella bilang Tia itu mungkin anak pungut. karena bukan prestasi yang dia toreh kayak Zayin sama kak Mumtaz tapi kegenitan sama cowok." jawab Cassy karena Tia dan Dista sibuk makan.


" tepatnya bilang gini, pake aja jilbab kelakuan sama kayak cabe mencelok cowok sini mencelok cowok sana." Dista semangat menjelaskan sembari mengelap mulutnya.


" hah? serius si Bella ngomong gitu?" Zayin tak percaya. sedang yang lain geleng kepala tak habis pikir.


" keselkan kalian juga dengernya. aku dimana genitnya circle cowok yang deket sama aku tuh temen sekelas, temannya Aa Ayin, sama temennya Aa Mumuy." sewot Tia.


semua orang terdiam. para lelaki cukup sadar lebih baik diam daripada salah bicara jika perempuan sedang ngegas.


" kamu sekarang mulai ikutan berantem, katanya kamu ikut megangin Merry dan Indah." ucap Bara lembut ke Cassy yang duduk di samping Bara.


temen Bara yang belum terbiasa dengan gaya chocolava lumer ala Bara ke Cassy bergidik ngeri


" bukan gitu kak. pas Tia berantem sama kak Bella, temennya kak Bella mau ngeroyok Tia. sebelum kejadian Dista ngejambak rambut kak Merry sama kak Indah tapi mereka ngelawan ya pas mereka mau nyerang Dista ya kita pegangin kak Merry sama kak Indah. bukan cuma aku doang tapi Lia sama temen sekelas lain juga ikutan." jawab Cassy ketakutan pada Bara marah.


Cassy yang pernah mendengar kekejaman Bara jika marah menjawab takut


" jangan takut gitu. bagus itu kamu harus berani bergerak. lain kali lebih banyak bertindak ya." Cassy hanya bisa mengangguk. tidak tahu betapa menakutkannya kejadian tadi. Bara mengusap surai panjang Cassy lembut.


" kelas kalian kayaknya kompak ya?" Daniel bertanya


mereka mengangguk " kelas kita udah berjanji akan bersatu melawan kekejaman kakak kelas.", tukas Dista semangat.


" yang gw gak ngerti kenapa Sisilia dibawa-bawa? Muy, Lo beneran pacaran sama Lia?" tanya Jimmy ke Mumtaz yang masih sibuk menenangkanTia


semua pasang mata memperhatikan Mumtaz dan Sisilia. Sisilia menunduk risih. Mumtaz melirik Sisilia


" ya..aku pikir kalo Aa udah punya cewek, si Belek itu bakal berhenti ngejar Aa.tapi aku lupa kalo su Belek ga punya malu dan gak tau diri." Tia menjawab dengan raut marah sambil memegang sendok erat.


" tapi kak Mumtaz sendiri gak marah kan?" selidik Dista. dia penasaran dengan perasaan dua orang ini.


terdiam lagi, melihat Sisilia yang ikut juga menatapnya seperti yang lain " enggak. kakak gak marah." Mumtaz dan Sisilia saling tukar pandang cukup lama setelah keluar jawaban itu.


Tia yang senang " fix, pulang entar Aa yang anter Lia pulang. aku sama Aa Ayin." putus Tia.


" btw kalian bakal pergi ke promnight?" tanya Tia.


" ujian aja belom udah ngomongin promnight." jengah Haikal


" bagian ujiannya d skip. ga minat tau gw." nyinyir Tia.


" enggak. Aa gak ikut!" jawab Mumtaz yang memang tidak menyukai keramaian pesta.


Daniel: idem


Jimmy: idem


Ibnu: idem


Bara: idem


" biasanya kalo mereka pada idem, mereka bakal ngadain acara sendiri. gw juga idem ah" Ubay berasumsi.


" ya udah gw juga idem" komentar yang lainnya


" lah kalo pada idem yang hadirin promnight siapa?" tanya Dista bingung.


********


Malam hari sepulang dari markas Mumtaz mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang. memotong jalan melewati jalan kecil yang sepi karena memang saat ini sudah pukul 23.00 wib. tanpa sengaja di depan sana terdengar jeritan seorang wanita minta tolong Mumtaz menambah kecepatan lajunya. dan benar saja di depannya seorang wanita sedang dikelilingi oleh sekelompok lelaki sambil tertawa ria.


menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatan, ketika dia menebak siapa wanita yang di sana Mumtaz menambah kecepatannya.


" berhenti bro..." Mumtaz berhenti di depan mereka yang menggoda si wanita yang menangis histeris.


sekelompok pemuda tersebut yang ternyata anak geng motor menoleh untuk mengetahui siapa yang mengganggu keasikan mereka " terus aja jalan bro." ucap salah satu dari mereka


" sorry gak bisa. yang kalian ganggu itu temen gw bro. bisa kalian lepasin kan."


" hehehehe.. mau jadi pahlawan bro? gak perlu kali bro. jalan gih."


" berhenti bro." Mumtaz turun dari motor mendekat dan mengulurkan tangan ke wanita itu, tapi ditepis oleh orang yang di depannya


" nantang lo." tanpa aba-aba


BUGH!!! pukulan mengenai wajah Mumtaz merobek sudut bibirnya


mengelap darah dari sudut bibirnya Mumtaz menatap lurus tajam ke orang yang dipanggil ketua.


melepas ikat pinggang, dan menggulungnya setengah nya Mumtaz dalam sikap kuda-kuda. dengan tiba-tiba Mumtaz langsung menyerang dengan tendangan lurus ke area ulu hati sekaligus menebaskan ikat pinggangnya ke arah tangan lawan dan menariknya.


merebut cerulit dari tangan lawan Mumtaz menggunakannya untuk menangkis dan melukai area aman lawan.


serangan satu persatu dari geng itu dapat dilumpuhkan dengan mudah, namun anggota geng itu makin lama makin banyak, ternyata geng itu meminta bantuan gang lainnya


menyadari jumlah lawan yang makin banyak, Mumtaz sambil bergerak menghalau serangan tendangan,pukulan, dan tonjokan yang bertubi-tubi Mumtaz bergerak mendekat ke arah Bella.


ketika Bella dalam jangkauan tangannya Mumtaz menarik keras Bella sampai menubruk badannya. menarik tangan Bella, Mumtaz berjalan lari untuk mencari ruang guna persembunyian Bella.


sambil berlari Mumtaz mengeluarkan ponselnya dengan tangan satunya yang bebas

__ADS_1


" Bell, buka mata kamu!"


mendengar suara yang dikenalnya Bella yang sedari tadi menutup mata karena takut, Bella membuka matanya kaget


" Mumtaz!" lirihnya


" jangan ngelamun Bell. fokus." Mumtaz menggoyangkan tangan Bella.


dirasa cukup Mumtaz berhenti berlari menarik dan melepas nafas agar cepat tenang. memberikan ponselnya ke Bella


" lo sembunyi dibalik pohon besar itu dan telpon Ibnu. tekan kontaknya yang lama sampai warna hijau. cepat lari." bola matanya melirik pohon yang di sebelah kanan.


" tapi kamu gimana Mum."


" Bell please jangan mulai keras kepalanya. ikutin aja instruksi gw kalo Lo pengen selamat." ucap Mumtaz tanpa basa-basi.


Mumtaz mengambil sikap kuda-kuda pencak silat, namun selanjutnya dia tebaskan ikat pinggang ke area mata dan wajah lawan disertai tendangan ke area dada, perut dan ulu hati ala karate dan pukulan ke tulang pipi dan rahang ala muay-thai.


Bella mengambil lari cepat kebalik pohon dan melakukan instruksi Mumtaz.


setelah menemukan kontak Ibnu dia menekan lama kontak tersebut sampai ada jawaban dari seberang sana


" hallo.. Muy ada apaan?"


" Ibnu ini Bella, sekarang Mumtaz sedang dikeroyok anak geng." suara Bella bergetar ketakutan


" " Lo jangan matiin hpnya." terdengar suara gaduh di seberang sana tapi bukan disaluran Ibnu Bella tak mau ambil pusing.


setelah mendengar pembicaraan Bella dan Ibnu, Daniel dan Jimmy yang kala itu terhubung langsung mempersiapkan diri.


Daniel langsung mengoperasikan drone bersinyal dan pemindai jangkauan jarak jauh.


Jimmy terlebih dahulu mendobrak kamar anak sopirnya dan membangunkannya


" bangun Lo keluarin motor sport sekarang!" titah Jimmy sambil melempar kunci motor.


dia sendiri sibuk mengutak-atik iPad melihat situasi lapangan dimana Mumtaz dikeroyok. dia memindai wajah para lawan Mumtaz lewat drone yang diterbangkan Daniel.


setelah mendapat semua rekam wajah itu dia masuk ke situs kementerian dalam negeri dan mengambil database kebagian kependudukan dan pencatatan sipil. setelahnya dia mentransfer hasil pencariannya ke Ibnu.


Bella dibalik pohon melihat pergulatan Mumtaz dengan lautan anggota geng.


dalam perkelahian ini Mumtaz tidak banyak mengambil gerak. setiap gerakan yang dilakukan hanyalah gerakan inti langsung melumpuhkan lawan.


Perpaduan antara bela diri pencak silat, karate , taekwondo, ju-jitsu, dan muay- thai yang dia kuasai dengan pukulan ke arah hidung, dagu, tulang pipi, rahang, dan ulu hati. tendangan juga diarahkan ke tulang kering, perut, ulu hati, dada dan rahang dengan gerak cepat agar lawan tidak diberi kesempatan untuk menyerang dan membaca gerakannya serta melumpuhkan lawan dalam seketika.


dia tahu gerakan cepat akan menguras tenaganya begitu cepat. ketika tubuhnya mulai terasa lelah karena meladeni lawan yang tiada habis. Mumtaz menggunakan gerakan Capoeira menjadikan bagian belakang tubuh lawan sebagai tumpuan menahan beban tubuh guna menghindari pukulan lawan sekaligus menendang dan mengumpulkan tenaga kembali.


dengan gerakan Capoeira Mumtaz gunakan tubuh lawan untuk menumpu kedua tangannya mampu mengangkat tubuh sehingga layaknya terbang untuk melakukan tendangan sekitar dada dan berakhir memelintir leher lawan yang langsung ditendang dadanya dan mendorong ke arah lawannya


dengan gerak ju-jitsu dalam sekejap mengapit leher dan menekan rahang lawan menempatkan tubuh lawan didepan seluruh tubuhnya dijadikan tameng pukulan dan tendangan lawan, sesudahnya dia lempar lawan itu ke tengah serangan temannya sekaligus menyerang dengan tonjokan area dagu dan rahang


pihak lawan kewalahan dengan gerakan cepat dan mematikan dari Mumtaz. setelah melihat temannya terkapar tak berdaya dalam satu kali gerakan, mereka sebenarnya ciut, tapi takut hukuman dari ketua gengnya.


dengan menggunakan gerak silat dia lakukan tendangan celorong langsung ke arah ******** lawan, dilanjutkan tendangan kuda sekitaran dada, dan dagu serta tendangan sabit yang diharap melumpuhkan langsung beberapa lawan dalam satu gerakan mengarah tulang kering.


karena banyaknya lawan Mumtaz dan lamanya waktu pergulatan, mumtaz kehabisan tenaga, untuk menghindari serangan lawan yang memang dilengkapi senjata tajam, cerulit, golok, pedang, pisau lipat, dan lainnya.


dia berlari dan memanjat pohon besar nan rindang sampai menduduki dahan teratas dan terbesar. di sana dia duduk beristirahat dengan mengatur pernafasan


" hallo,.. Daniel hadir. cek!"


" gw Ibnu otw bareng Yuda!"


" Jimmy here otw pake motor sports gw. depan gw belok tinggal satu persimpangan gw nyampe!"


" hallo,..Nu Lo udah nyampe mana? Daniel terhubung dilain saluran.


" gw dikit lagi nyampe!"


" gw udah call Bara, dia udah ngutus Rizal, Ubay, dan Jeno serta geng komplotannya juga otw. ' Jimmy menjelaskan panjang lebar


" Niel. suruh mereka aktifin earphone!" ucap Ibnu


" sebutin berapa jumlah mereka?" Jimmy berujar


" anjir sekarang sekitar 50an. Nu rusakin sinyal sambungan telpon lawan!" titah cepat Daniel


" udah off!" Ibnu melapor


" anjir kok nambah banyak. ni si Jeno, Rizal, Ubay mana dah. lama bener. ni orang udah nambah sekitar 70 an!"


" kita udah nyampe di sekitar satu kilo di lokasi belakang mereka, kita siap menyebar!" Jeno menjelaskan posisinya.


Bella melihat Ibnu yang terkepung di area bawah pohon bingung bagaimana cara menolong Mumtaz.


Bella memutuskan dia akan berlari guna mengalihkan perhatian para geng itu sambil meminta pertolongan.


melihat gelagat gerak meresahkan Bella, ibnu yang memantau di iPad dia langsung bicara


" Bella, Lo jangan bergerak diam di situ." cegah Ibnu


Jimmy yang juga melihat itu " Bella, Lo gerak. Lo mampus ditangan gw." Jimmy memberi peringatan.


Bella tentu tidak mendengarkan mereka. perhatiannya dijatuhkan melihat kondisi Mumtaz.


dengan menjerit sebagai pengalih perhatian dia berlari cepat sekuat tenaga mencari bantuan. satu hal yang terlupa oleh Bella, mereka mengendarai motor.


sang ketua geng tertawa terbahak bahak mendapat umpan " kejar dia!" titahnya kepada anggota lainnya yang berada di belakang.


mereka bersama sekitar sepuluh motor mengerjar Bella sambil tertawa dan memperbesar dengungan gas motornya sehingga berbunyi riuh.


Mumtaz yang melihat Bella dikepung, turun dari pohon dan mengejar menyusul Bella.


sang ketua yang melihat Mumtaz lengah tanpa kewaspadaan dengan penuh tenaga mengangkat kedua tangan yang memegang pedang


SHEEERKH!! SHOOSH!!!


dan menebas silang pedang tersebut ke sepanjang punggung Mumtaz


" AAAARRGGGHHH....!!!"


teriak Mumtaz kesakitan, dia terkapar telungkup di atas jalan.


kejadian penebasan pedang dilakukan di depan Jeno, Rizal dan Ubay beserta geng lainnya yang baru sampai di lokasi. mereka terperangah terkejut.


dengan marah mereka menambah kecepatan dan tidak berhenti meski ditengah para geng lawan.


mereka menabrakkan motor mereka ke lawan dan sebagian mengepung menjaga jalan keluar lawan dari segala arah.


para geng komplotan dibawah komando lapangan Jeno langsung melancarkan hajaran, pukulan, dan tendangan tanpa ampun ke area vital lawan. lawan sama sekali tidak diberi ruang untuk membalas. perkelahian tidak seimbang itu terus berlanjut.


Rizal, dan Ubay langsung menangani Mumtaz.


Bara yang melihat kejadian itu lewat layar laptopnya mengepal kedua tangan keras, rahangnya mengeras menahan emosi dan memberi titah;


" bereskan, hancurkan dan bakar seluruh kendaraan mereka. ringkus semua orang yang di sana. bawa ke markas."


Jeno, Rizal, Ubay, menginstruksikan titah Bara kepada seluruh ketua geng komplotannya.


tidak berapa lama Ibnu, Daniel dan Jimmy datang. mereka langsung mendekati Mumtaz dan membawanya menggunakan mobil Daniel menuju rumah sakit Atma Madina.


" pisahkan orang yang menebas Mumtaz bawa Bella kehadapan gw!" titah Jimmy kepada Rizal dan Ubay sebelum pergi....


^^^terima kasih udah baca novel ini sampai part ini...semoga enjoy....^^^

__ADS_1


^^^jangan lupa like, comment, & vote nya...^^^


^^^taufan kamilah, 28, Juni, 2021^^^


__ADS_2