
" Dad, kita diminta mengungsi ke gedung RaHasiYa." Ujar Dominiaz begitu menutup sambungan telpon dari Mumtaz.
Mereka membatalkan meeting intern Gata TV begitu mendapat telpon dari Mumtaz.
" Bagaimana dengan mommy dan Sisilia?" Tanya Daddy khawatir.
" Terlalu jauh, dan sudah terlambat kalau kita memaksakan kesana, Mumtaz sedang menuju kesana begitu pun dengan anak buah Domin."
Dominiaz menekan tombol darurat yang berada di pojok kanan mejanya.
Tak lama Kepala penanggung jawab keamanan Pradapta corp masuk ruangan.
" Tutup akses semua gedung dibawah naungan paradapta-Gaunzaga corp. Jangan ada Karyawan keluar-masuk gedung. Cek semua orang yang berada dalam gedung. Sekarang!"
" Siap." Sang kepala keamanan langsung melaksanakan perintah atasannya itu.
" Mari, Dad. Jangan persulit mereka, RaHasiYa tahu apa yang harus dilakukan." Dominiaz mengapit tangan ayahnya menuju helipad yang terletak di rooftop gedung.
" Hubungi orang rumah untuk berkumpul di ruang rahasia, dan tutup semua pintu dari terdepan sampai terbelakang." Titah Daddy.
" Baiklah." Dominiaz menghubungi Ibunya.
*****
Ibnu telah bergabung dengan Alfaska di lantai sembilan, mengamati semua titik merah yang merupakan objek target, dan titik hijau pihak penyerang.
" Nu, ganti mode video di semua titik." Pinta Alfaska sambil tetap fokus ke layar.
Ibnu menuju kontrol meja besar pojok kiri ruangan yang terdapat berbagai macam alat komunikasi dan teknologi, dari komputer, lapotop, tab, iPad, ponsel, earphone,remote control, sampai alat picu ledakan. Dan lain sebagainya.
Tak lama muncullah berbagai tangkapan kamera diberbagai tempat dimana penyerang kemungkinan menuju.
Ibnu, dan Alfaska mengawasi satu persatu gambar tersebut memastikan posisi para target dari para penyerang.
" Bunda masih di rumah, suruh Brian dan anak buahnya jemput bunda bawa ke sini mumpung mereka masih jauh." Tatapan Alfaska, karena rumah Brian lah yang terdekat dengan rumah Birawa, namun tatapannya tidak pernah kepada dari layar.
Tanpa kata Ibnu melaksanakan permintaan Alfaska.
" No, amankan Bara. Mereka sudah masuk area gedung Atma Madina. Bawa dia ke helipad yang berada di rooftop gedung, Mu, tutup pintu utama lobby, hubungi kepala keamanan gedung." Titah Alfaska begitu dia dapat gambar dari cctv di area gedung Atma Madina
" Oke."
Ekspresi dua sahabat begitu datar, mata mereka awas mengamati pergerakan di layar.
" No, kirim anak buah ke kampus, ke gedung psikologi, hukum, dan kedokteran. Mereka menuju kampus." Alfaska mengawasi area UAM.
" Anak buah dibawah pimpinan Alex Santoso sudah mengamankan mereka, kecuali Cassandra, dia tidak berada ditempat, karena mereka melihat beberapa pergerakan mencurigakan dari orang asing yang menanyakan tiga bocil itu." Jawab Jeno.
" Bawa mereka ke gedung RaHasiYa." Timpal Ibnu, Jeno paham maksud dari Ibnu yang mengharuskan mengamankan target ke bungker bawah tanah.
" Cassy hari ini ada jadwal ke rumah sakit, buat paktikum." Beritahu Bara dari seberang saluran dimana ia sendiri telah berada dalam helikopter menuju gedung RaHasiYa.
Ibnu melacak mobil Cassandra, dan benar saja baru saja mobil Cassandra memasuki pelataran rumah sakit menuju area parkiran.
" Cari orang yang berada dekat rumah sakit." Pinta Alfaska.
Ibnu melakukan peretasan ke setiap nomor ponsel mencari tahu keberadaan setiap orang anak buah RaHasiYa atau orang yang dikenal mereka, maka terdapat satu nomor yang posisinya sedang melintas di jalan tak jauh sekitaran rumah sakit.
" Hallo. Yin, dimanapun Lo berada putar balik ke rumah sakit Atma Madina." Ibnu menghubungi
Zayin.
" Gue ngantuk bang, dua hari belum tidur." Suara Zayin tak jelas menandakan ia sedang berada di jalan raya.
" Cassy dalam bahaya." Alfaska langsung to the point.
" Siap." Zayin memutar balik motor trail hitamnya menuju rumah sakit.
" Fa, hubungi Akbar, dan Adgar agar mengevakuasi para ibu, dan om Hito agar mengevakuasi para ayah ke gedung RaHasiYa." Seru Ibnu, sementara dirinya menghubungi kak Zahra karena melihat beberapa kelompok tak dikenal rumah Eidelweis dan mama Aida.
Pada deringan ketiga sambungan telpon diangkat.
" Hallo, kak. Sekarang pergi ke rumah Tante Edel bawa mereka ke rumah kakak, kalian bersembunyi di ruangan kontrol rumah belakang!" Pinta Ibnu tanpa menunggu sapaan dari Zahra.
Zahra yang paham akan situasi darurat ala RaHasiYa langsung melaksanakan titah Ibnu, yakni ditandai suara datar tanpa emosi penuh dengan penekanan terfokus.
Dengan kecepatan penuh ia berlari menuju rumah tetangganya itu.
Di sana ia melihat Eidelweis sedang bermain dengan Adelia, tanpa kata ia menggendong Adelia, dan menarik Eidelweis.
" Nanyanya nanti aja, sekarang ikut Ala." Ucapnya cepat, paham akan kebingungan Eidelweis.
Eidelweis yang semula hendak protes diurungkan melihat raut tegang diwajah Zahra.
Saat dipertengahan jalan menuju rumahnya, Zahra melihat dua kelompok orang mencurigakan mendekati arah mereka, segera ia membawa Eidelweis dan Adelia ke rumah tetangga yang berada tepat disamping rumahnya.
" Hallo, Dit. jaga rumah mama Aida dan Tante Edel akan ada beberapa kelompok geng menuju sana untuk menculik mereka." Pinta Ibnu pada Adit ketua remaja kompleks sekaligus tetangga Mumtaz.
" Siap."
****
Gedung Hartadraja
Setelah Hito mendapat telpon dari Dominiaz dan juga Alfaska ia langsung menghubungi pihak keamanan komplek perumahan keluarganya agar menutup akses keluar-masuk orang asing.
Damian, Damar, Heru dan juga papa Aznan segera diamankan dalam satu ruangan dengan Hito yang akan membawa mereka langsung ke helipad.
" Julia ada di BIBA, To." Ucap Damian.
" Nadya ada di rumah." Damar memberi informasi.
" Akbar, dan Adgar sudah mengamankan mereka yang di rumah, dan membawa mereka ke gedung RaHasiYa atas instruksi Alfaska."
" Aku hubungi Alfa untuk konfirmasi kak Julia."
" Bagaimana dengan Cassy?" Tanya Damian was-was.
" Percayakan pada mereka." Ujar Hito tenang.
*****
Tamara tersenyum penuh kemenangan dengan wine merah berkualitas tinggi ditangannya berdiri memandangi pemandangan Jakarta di penthouse apartemen milik Wilson.
" Kenapa Lo tersenyum senang begitu, Tam." Tanya Erika yang duduk di sofa panjang ruang tamu.
" Hmm, tak mengapa hanya membayangkan empat kancil cerdik itu sedang meratapi kekalahan mereka karena kehilangan orang-orang tercinta mereka."
" Siapa yang Lo maksud?"
__ADS_1
" 'rahasia'." Ucapnya pelan sambil tersenyum manis.
****
Semua pria sudah berkumpul di lantai sembilan turut memperhatikan cara kerja dua petinggi RaHasiYa yang sedang khusu' memberi instruksi pada seluruh jajarannya yang berada jauh di lapangan sana.
Terlihat jika para pengaman RaHasiYa cukup kewalahan karena banyaknya posisi yang harus ditempuh dalam waktu bersamaan.
" Nu, kalian bisa pakai Gaunzaga." Dominiaz berseru setelah mengamati layar besar yang menampilkan seluruh lokasi target.
Ibnu, dan Alfaska bertukar pandang , lantas mengangguk.
" Makasih, bang. Bisa Gaunzaga mengawal evakuasi target, sementara RaHasiYa melumpuhkan mereka?" Pinta Alfaska.
" Tentu." Dominiaz langsung melakukan sambungan telpon pada orang kepercayaannya.
" Fa, share loc posisi mereka." Ujar Dominiaz.
" Maaf bang, aku retas nomor mereka guna 0 ya." Ucap Ibnu yang sibuk dengan komputernya, Dominiaz hanya mengangguk.
Butuh sepuluh menit anak Gaunzaga bergabung dengan anak RaHasiYa di berbagai posisi.
" No, berikan earphone Lo ke pemimpin Gaunzaga." Ujar Ibnu pada Jeno yang sedang berbicara dengan pemimpin Gaunzaga sementara anak buahnya bertempur dengan para penyerang.
" Om," Ibnu memberikan masing-masing pria earphone untuk mempermudah komunikasi evakuasi."
" Hanya dengan earphone ini kalian akan tersambung dengan yang lain, dan komunikasi kita tidak akan bocor ke yang lain." Terang Ibnu.
" Fa, Mumtaz apa mampu menghalau mereka sendirian saja?" Tanya Gama mengkhawatirkan keadaan anggota keluarganya.
" Bantuan sedang di jalan om." Jawab Alfaska yang sudah mendapat laporan dari pemimpin Gaunzaga kalau dirinya sedang menuju rumah Pradapta.
****
Tiba-tiba wajah Gama menegang kala melihat segerombolan geng motor berhasil mendatangi kediamannya.
Sesampainya Mumtaz di rumah besar Pradapta, ia tidak melihat satu orang pun yang berjaga, maka dia melompati pintu gerbang, memeriksa semua pintu yang ternyata semuanya terkunci.
Tak jauh dari tempat dia berdiri terdengar suara motor menggema mengepung area kediaman Pradapta.
Mumtaz membuka dompet dan mengambil satu kartu kreditnya, menggunakan kartu kreditnya yang berwarna hitam untuk membuka kunci pintu samping rumah, dan menutupnya kembali.
" Hallo, bang. rumah dalam keadaan sepi, Abang tahu dimana mereka?" Tanya Mumtaz ke Dominiaz lewat earphone.
Mumtaz menuju ruang kerja Gama setelah mendapat keterangan dari Gama.
Menekan tombol kecil disamping rak buku besar, maka terbelah dualah rak buku tersebut yang menampilkan sebuah pintu berukuran sedang.
Mumtaz membuka pintu tersebut, dan mendapati semua penghuni berada dalam ruangan yang Tak begitu luas.
Serentak penghuni ruangan terperanjat bersiap memukul siapa saja yang masuk ruangan, namun diurungkan ketika mengetahui Mumtaz yang masuk ruangan itu.
Mumtaz memperhatikan satu persatu penghuni ruangan, dan menemukan Sisilia yang berusaha bersikap tenang sambil memeluk ibunya.
Mumtaz menggapai Sisilia dan Tante dalam pelukannya, membisikan kata-kata menenangkan.
Setelah lima menit berlalu, barulah dia mengurai pelukannya.
Terdengar suara ribut-ribut dari corong suara kecil yang terdapat di dinding bagian atas ruangan.
" Yuhuu..spadaaa.. apakah ada orang di rumah?" Ucap salah satu dari mereka.
Terdengar dumelan, protesan, namun dari suaranya mereka bergerak berpencar.
" Kita tidak bisa menunggu di sini saja, kita harus mempersiapkan diri. Saya lihat beberapa orang sudah siaga." Mumtaz tersenyum menenangkan pada beberapa art yang bersiaga dengan beberapa alat dapur dari pisau terkecil sampai pisau daging, penggorengan, panci, baskom, spatula sendok sayur yang mereka gunakan sebagai pemukul, dan pelindung.
Para art itu tersenyum bangga mendapat pujian dari Mumtaz.
Mumtaz melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Tante Elena yang masih gemetar ketakutan.
Menggenggam kedua tangan Tante, Mumtaz menghadapkan wajah Tante padanya.
" Untuk saat ini percaya pada saya, kita harus keluar dari sini." Elena hanya bisa menganggukan kepala.
" Lia, masih ingat bela diri yang sudah diajarkan kan!?" Mumtaz bertanya sambil memakaikan kemejanya menutupi kepala Sisilia.
" Iya, kak." Lirihnya.
" Tenang, dan fokus. Kita pasti bisa, bantu kakak ya." Tukasnya menatap lurus ke manik Sisilia, yang mengangguk khidmat.
" Kalian lindungi nona, dan Nyonya urusan mereka biar saya yang tangani, begitu kita ketahuan segera kalian cari tempat perlindungan yang lain. PAHAM!!!" Tekan Mumtaz.
" PAHAM."jawab serentak mereka.
Suasana tambah menegangkan kala terdengar,
Tokkk...tokkk!!!
Suara aduan tongkat ke lantai terdengar semakin dekat pintu rahasia yang berarti mereka berada di ruang kerja Gama.
Mimik para art berubah cemas bercampur takut.
" Tetap tenang, dan fokus, saya pernah menghadapi mereka, mereka hanya punya modal tampang sangar, tapi tidak memiliki kemampuan berkelahi."
Ucapan Mumtaz membangkitkan semangat dan percaya diri mereka.
Ketika pintu rahasia berhasil mereka temukan, dan terbuka Mumtaz langsung melancarkan tendangan lurus dengan hentakan keras tepat mengenai dada hingga orang tersebut langsung terdorong menabrak beberapa orang di belakang.
"Aaakhh, uhuk..uhuk!!!"
Terdengar batukan dari beberapa penyerang tersebut, Mumtaz dengan segera menyerbu penyerang uang laian, dan lewat matanya mengistruksikan art untuk keluar dari ruangan dan berdiri di belakang mereka.
Ternyata orang yang dikirim ke rumah Pradapta sangat banyak, Mumtaz langsung fokus menghadapi serangan para preman tersebut.
Serangan bertubi-tubi datang dari segala arah Mumtaz tahu dia tidak bisa banyak gerak, karena keterbatasan ruang gerak, dan terhimpit waktu, oleh karenanya ia mengambil gerakan yang langsung melumpuhkan lawan, Setiap penyerang langsung dipatahkan anggota bagian tubuhnya ada yang bagian tangan, kaki, tulang rusuk, tulang selangka bahkan menonjok langsung menekan ke ulu hati.
Para art membentuk lingkaran melindungi majikannya, ditengah jeritannya mereka membalas perlawanan dengan alat dapur yang sudah mereka siapkan.
Sedangkan Mumtaz sambil bergerak melawan menggiring mereka ke arah pintu.
Matanya melirik satu orang yang bergerak, namun tidak menyerangnya, langkahnya mengarah ke para art, Mumtaz memperkirakan orang tersebut mengincar Sisilia atau elena, tak ingin mengambil resiko dia tarik orang tersebut yang juga ia perkirakan adalah ketua dari mereka, langsung memelintir tangannya dan mematahkan tulang belikat lawan,
" AAAAAAKKKHHH." jeritan kesakitan lawan ia abaikan, ia Jambak rambutnya,dan menengadahkan kepala lawan, dan satu tangan lain mengunci lehernya.
" STOP,...MUNDUR!!" titah Mumtaz pada penyerang yang lain.
Seketika pertempuran terhenti, para pnyerang Tia punya pilihan selain mengikuti perintah Mumtaz yang sudah menguasai ketuanya.
" Siap yang menyuruh Lo?" Desis Mumtaz tepat di telinga sang lawan.
__ADS_1
......
Menekan tangannya yang memiting leher lawan, menekan tepat di tulang belikat yang sudah patah.
" Aaaakkh,"
" Sebutkan namanya atau Lo lumpuh selamanya." Suara datar yang mengancam mampu membuat lawan ciut.
Mumtaz mengarahkan wajah dia ke cctv ruang kerja agar para sahabatnya mendapatkan identitas dia, tak lama terdengar laporan dari Ibnu.
.....
" Evan, a.k.a the lead, Pemimpin dari Blue Devils, geng terbesar dari Bandung. Memiliki dua saudara perempuan ayah seorang anggota legislatif daerah, ibu seorang sosialita yang memiliki affair dengan sopir pribadinya. Bagaimana jika Bara Atma Madina memerintahkan anak buahnya merusak dua saudara perempuan Lo, dan sebar tentang keluarga Lo "Mumtaz mengucapkannya penuh ketegasan tak terbantahkan.
Seketika wajah Evan pucat kesi, tubuhnya gemetar.
" Gu,...gue gak tahu....aaakkhh." nafas Evan memburu karena tekanan tangan Mumtaz mengenai tulang salangkanya.
" Jangan bermain dengan gue, sebut!!"
" Panji,... Seseorang bernama Panji menelpon gue, gue dibayar 250 juta buat rusak anak perempuan Pradapta." Evan terus bercerocos tanpa diminta.
Wajah Mumtaz seketika memerah mendengar pengakuan Evan, tatapan membunuh dimatanya membuat lawan di ruangan gemetar.
" Gue Mumtaz, Pradapta dibawah perlindungan gue."
Tarikan nafas tertahan dan bola mata membulat di setiap lawan, gerakan sontak terhenti. Nama Bara saja cukup mengerikan bagi mereka, berurusan dengan Mumtaz berarti mengundang maut, itulah pikiran anak geng selama ini.
Semua anak buah Evan melepas persenjataan yang ada di tangan mereka tanpa diminta, semuanya mengangkat tangan menyerah.
Mumtaz tersenyum smirk melihat kepengecutan mereka, ia merogoh saku celana Evan, dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya.
" Ketik nomor bapak, sebutkan nomor dari ponsel ini." Pinta Mumtaz ke seorang satpam yang langsung melaksanakan tugasnya.
Dari luar ruang kerja terdengar hajaran dari orang yang baru datang, Mumtaz paham bala bantuan telah tiba.
" Di ruang kerja." Teriak Mumtaz, sepersekian detik anak Gaunzaga mengambil alih kendali di rumah Pradapta.
Dibawah pengawalan Gaunzaga Mumtaz mengevakusi keluarga Pradapta menuju gedung RaHasiYa.
Tangan Sisilia dan elena tak pernah lepas menggenggam tangan Mumtaz sepanjang menuju RaHasiYa.
****
Semua orang yang berada di lantai sembilan terpaku pada aksi Mumtaz, mereka terkesima seorang yang berperawakan terbilang kurus mesti berotot mampu mengalahkan puluhan anak geng motor yang terkenal brutal.
Di lain tempat menampilkan video yang mana Zayin telah sampai di pelataran rumah sakit, ia diberi kuasa pass entry atau bebas masuk atas perintah dari Bara.
Begitu menuju area parkir, dari jauh ia melihat Cassandra ditarik oleh empat orang berpakaian preman dengan perlawanan bela diri yang dimilikinya yang tak sebanding dengan kekuatan para preman itu. Zayin menarik gas motornya ketika mendekati mereka dengan kecepatan tinggi Zayin menabrakkan motornya pada empat preman itu, ia melompat dari motornya sembari menarik Cassandra ke dalam pelukannya.
Para preman tersebut terkaget dengan kedatangan motor mengarah pada mereka belum sempat melindungi diri sehingga mereka terhempas karena tabrakan itu, pegangan mereka pada Cassandra terlepas karena tarikan oleh Zayin.
Cassandra meronta hendak melawan, ia takut yang memeluknya adalah bagian dari para penculik itu.
" Diam, badan gue sakit. Lo enak nindihin badan gue, gue kena aspal ditambah ditindih badan bulet Lo." Rintih Zayin sambil meringis.
Cassandra langsung berhenti berontak, dari ujung matanya Zayin dapat melihat teman preman tadi yang berjumlah enam orang mendekati mereka.
" Bangun, temannya pada datang. Dengar, begitu gue serang meraka Lo lari sambil berteriak cari pertolongan, gak pake panik, atau ketakutan apalagi mendadak ngeblank kaku atau gue paksa Lo traktir gue selama setahun di restoran steak yang termahal." Perintah Zayin tegas, Cassandra hanya mengangguk.
" Kalau mereka nyerang Lo langsung tendang bagian vitalnya atau cakar aja mukanya, ingat perkataan gue, isi dompet Lo taruhannya." Peringat Zayin pada Cassandra yang selalu marah kalau diminta traktiran oleh Zayin yang Taka tahu malu.
Zayin mengurai pelukannya, ia langsung berdiri menarik juga Cassandra untuk berdiri, memposisikan Cassandra di belakangnya tepat menuju jalan keluar dari area parkir.
Zayin membuka helmnya, menggerakan lehernya ke kiri dan ke kanan guna merilekskan persendian.
Begitu mereka mulai menyerang Zayin langsung memberikan tendangan memutar yang mengenai dada mereka semua yang berakhir menduduki perut orang terakhir yang kena tendangannya.
Bertumpu pada dada orang tersebut Zayin melakukan tendangan salto pada rahang orang yang hendak menyerangnya.
Mengambil sikap kuda-kuda, Karena badannya lelah, Zayin pun langsung menyasar area vital pada setiap tendangan, pukulan, dan hajarannya. Hingga dalam waktu singkat ia dapat menangani mereka semua.
Sedangkan Cassandra langsung lari terbirit-birit sambil berteriak "TOLLLOOONNGGGG ADA PENCULIKKK!!" dengan tangan yang membentuk corong di bibirnya.
Teriakan Cassandra mengundang para orang yang seketika menghampirinya termasuk pihak keamanan rumah sakit.
Diingatkan dengan taruhan Zayin, Casandra dengan sigap mengarahkan para orang itu ke area parkir yang ternyata penculik sudah terkapar semua oleh Zayin.
Zayin memungut helmnya, ia menarik Cassandra untuk mengikutinya,
" Pak, ikat mereka tunggu bala bantuan dari bang Bara. Ujar Zayin sambil berlalu menuju motornya.
" Baik, Yin. Terima kasih." Ujar pak satpam yang kenal Zayin karena sering mengantar-jemput Zahra.
" Naik," seru Zayin pada Cassandra begitu ia sudah di atas motornya.
Cassandra yang tingginya hanya sebatas dada Zayin kesulitan saat hendak menaiki motor trailnya.
" Ayin, bantuin ih, ini motor ketinggian." Keluh Cassandra.
" Elu yang kependekan, Cass. Tumbuh tuh ke atas bukan ke samping." Ledek Zayin.
Cassandra hanya bisa cemberut, " cepetan, Cass. Gue masih banyak gawean ni."
" Bentar ih." Berpegangan pada tangan Zayin akhirnya Cassandra meski kesusahan berhasil menaiki motor tersebut.
" Pegangan, gue mau ngebut." Cassandra langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Zayin, yang mendapat gerutuan dari Bara di seberang sambungan sana.
" Jangan cemburu, bang. Gue sama modelan sexy aja ogah apalagi modelan bola gini males."
Plak!!!
Cassandra langsung memukul keras kepala Zayin hingga terhuyung ke depan, terdengar kekehan geli dari beberapa orang di seberang sana.
*****
Bagaimana dengan Tante Julia, Fa?" Damian ingin memastikan keselamatan istrinya.
Ibnu merubah video utama ke sekolahan Binaku Bangsa ( BIBA ) dimana seluruh kawasan sekolah sudah dalam perlindungan anak geng antar sekolah dibawah komando geng BIBA.
" Percayalah kepada mereka, sambil menunggu jemputan dari RaHasiYa atau gaunzaga Tante Julia insyaAllah aman. Geng motor sekolah yang tergabung dibawah geng BIBA merupakan lapis ketiga keamanan RaHasiYa, sejak tiga tahun lalu RaHasiYa memperdayakan kualitas kawula muda tingkat remaja sesuai bidang peminatan masing-masing, puncak kepemimpinan dibawah komando Bara tentu saja. Hal ini efektif menurunkan aksi premanisme oleh remaja di masyarakat." Ucap Alfaska tenang.
Para senior mengangguk takjub dengan gebrakan RaHasiYa.
Tiba-tiba suasana tegang kala mendapat kabar jika Sandra tidak berada di butik kala anak RaHasiYa menjemput nyonya-nyonya Atma Madina.
Ibnu segera mengecek posisi ponsel dan mobil Sandra yang ternyata sedang menuju ke kediaman Aida, saat mendekati rumah Aida terlihat di belakang mobil Sandra terdapat sekitar 50 penyerang.
Tidak ada pilihan, Alfaska menelpon Zahra untuk menjemput mamy.
__ADS_1
Atmosfer ketegangan ruangan meningkat kala motor yang dikendarai Zahra yang membonceng Sandra dikepung penyerang....