Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
201.


__ADS_3

Cklek...


Semua pandangan mengarah ke pintu, empat gadis yang duduk di dua brankar menghembuskan nafasnya kasar saat melihat Zayin, Adgar, Damian dan Dominiaz yang memasuki ruangan dengan pakaian santainya.


Baru melihatnya saja mereka sudah lelah, setiap Zayin datang maka mereka akan diceramahi habis-habisan, khususnya Cassandra dan Dista.


 Sudah  sepuluh hari para bocil dirawat di rumah sakit Siloam yang memaksa keempat keluarga tinggal di Tangerang, bolak balik Kronjo-karawaci.


Haidar yang rindu pada sahabat masa kuliahnya yaitu Aryan memaksa para keluarga untuk tinggal di rumahnya alih-alih memilih hotel yang dekat dengan rumah sakit. Menghormati orang yang menolong menantunya Aryan pun menyanggupi permintaan sahabat itu.


Kini keempat keluarga duduk anteng di sofa dan kursi berpencar di berbagai sudut ruang kembali melihat drama Zayin vs empat bocil.


" Kalian pikir kalian masih SMA, musuh kalian si Bella atau si indah? Bukan, mereka terori$. T-E-R-O-R-1-$! Buka KBBI apa arti kata itu." Bentak Zayin kesal.


" Tahu, Yin. Tahu. lo udah nyeramahin kita soal itu dari Minggu lalu, gue bisa bikin jurnal ilmiah tentang teror1s dari ceramah lo." Jawab Dista kesal.


" Tahu, kejadian udah lama Lo ungkit mulu." Timpal Cassandra.


" Heh, Bakpau. Lo pikir kalau kalian Kenapa-kenapa, bokap Lo, Abang Lo bakal diem? Kagak. Gue yang pusing ujungnya." Amuknya menunjuk mereka satu persatu 


" Sekarang kalau kalian dalam keadaan bahaya lagi, teriak aja napa. Gak usah sok bertindak heroik, ini syukur aja cuma patah kaki coba kalau lebih dari itu? Gue jadiin lodeh l juga Lo pada."


" Ck, A, inget Lo tentara bukan emak kompleks, jaim dikit napa." Tia menyahut sebal sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


" Diem Lo, Lo bawa ponakan gue, kudu hati-hati, kalau ada apa-apa, gue jadiin perkedel Lo." Tia merengut karena kena omelan. Alfaska hanya bisa mengelus punggung istrinya.


" Terus, si penculik itu diapain? Masih hidup mereka?" Tanya Sisilia.


" Menurut Lo? Gaunzaga, RaHasiYa, Prakasa turun semua. Teman gue yang jaga kudu nelpon gue buat berhentiin mereka."


" Yin, Lo lebih item." Celetuk Cassandra random.


" Masih lebih ganteng dari cowok Lo. Santai aja gue mah." Refleks Cassandra mengangguk yang mendapat sorotan malas dari Bara yang duduk di sofa.


Jangankan para bocah, mereka yang setiap saat mendengar Zayin mengomel saja jengah, sungguh zayin ini punya bakat bikin mereka kesal.


Cklek....


" Aa Ayin..." Panggil Adelia dari arah pintu yang berlari padanya dengan merentangkan kedua tangannya padanya disusul Crystal.


Zayin berbalik badan, wajah yang sebelumnya jutek sontak berubah lembut saat mendapati Adelia dan Crystal memasuki ruangan bersama Eidelweis dan Heru dengan membawa dua papperbag yang dipastikan berisi mainan diikuti Julia dan Akbar yang baru mengurus administrasi mereka


" Darimana kalian?" Tanyanya berjongkok mensejajarkan diri dengan pandangan para itik yang berebut tempat di kedua pahanya.


" Main ke mall beli mainan." Jawab Crystal.


" Adel juga beli?" 


" Beli dong." 


Hito yang duduk di sofa panjang memandang intens pada interaksi Zayin yang membelai sayang kepala Adelia. Ia menghembuskan nafasnya gusar mengingat perkataan Zayin di mobil itu.


" Kenapa?" Bisik Eidelweis duduk di sampingnya.


" Apa?" Hito menoleh padanya.


" Itu, helaan nafas kakak, kenapa?"


" Apa Zayin memang selalu selembut itu sama Adel?" 


" Iya, itulah mengapa Edel selalu berharap Zayin jodohnya Adel meski umur mereka terpaut jauh. Dia selalu memperlakukan Adel baik bahkan disaat dirinya marah, dan dia yang paling marah kalau ada yang menangisi Adel." Jawab Eidelweis dengan suara pelan, namun masih terdengar oleh Haidar yang tidak sengaja mencuri dengar.


" Adel tidak salah, aku dan mas Heru yang berdosa. Andai waktu bisa diulang aku gak akan melakukan perbuatan hina itu." Eidelweis tercekat, ia mengelus perutnya yang menegang.


Hito mengambil satu tangan Eidelweis, tangan satunya mengusap perut buncit Eidelweis.


" Aku merasa menjadi paman yang buruk, aku Bahkan enggak tahu apapun yang dialami Adel kalau Zayin gak cerita."


Eidelweis mengusap lembut punggung tangan Hito yang menggenggam tangannya." Enggak, kamu dan Kak Damar paman yang terbaik. Kalianlah yang menjadi perisai ku disaat nenek begitu membenci kami."


" Apa nenek masih bersikap tidak baik pada Adel?" 


" Tidak, hanya saja..kakak tahu kan bagi nenek yang terpenting nama baik keluarga. Mungkin beliau tidak sengaja jika terkadang bersikap tidak adil pada kedua cicit mereka itu. " Ucap Eidelweis dengan tatapan sendu.


" Untung ada Zayin, nenek kalau di depan Zayin tidak berani mengasingkan Adel, atau dia mendapat julidan darinya." 


" Tapi kayaknya Zayin gak mau dia dijodohkan dengan Adel."


" Heh, Zayin hanya tidak suka aku mengatur kehidupan Adel, Zayin hanya ingin Adel tumbuh dengan keceriaan dan kehendaknya."


" Om Hito___" panggil Adelia.


" Iya, kenapa Del?" Atensi Hito kini menghadap Adelia.


" Makasih buat mainannya."


" Mainan?"


Adelia mengangguk." Mainan Balbie sama lumahnya yang dikasih Tante Ala, katanya dari om Hito cuma om-nya lagi sibuk ngulusin Olang usil." 


" Om Hito baiikkk...banget. Adel sayang om."


" Ical juga makasih udah dibeliin." Timpal Crystal.


" Barbie juga?" Tebak Hito, Crystal mengangguk.


" Sama-sama." Jawab Hito menahan emosi haru meski dia tidak merasa membelikannya.


Hito menoleh pada Eidelweis meminta penjelasan.


" Waktu kita main ke rumah kak Damar, pas kebetulan nenek membelikan rumah-rumahan Barbie buat Ical, tapi gak beli buat Adel, terus Adel nangis.


" Besoknya dia cerita sama Zahra, lusanya Zahra ngasih boneka Barbie dan segala tetekbengkeknya yang lebih bagus dan besar atas nama kamu. Dia sering ngelakuin itu."


Hito terdiam masih menyimak hal yang tidak dia ketahui.


" Tan, kapan mereka pulang?" Tanya Zayin pada Julia.


" Nunggu dokter visit, terus bisa pulang." 


" Bagiamana kalau kalian menginap dulu di tempat saya? belakangan, walau kalian menginap, kita belum bisa bersantai."


" Kami ucapkan terima kasih, tapi sepertinya..."


" Kebuy, sebenarnya lebih baik mereka untuk sementara tinggal di tempat yang jauh dari Jakarta dulu " sela Zayin atas ucapan Fatio.


" Maksudnya?" Tanya Teddy.


" Gar, bawa keluar mereka dulu." Pintanya pada Adgar mengalihkan Adelia dan Crystal padanya.


Semuanya mendekat di sekitaran Zayin dengan pandangan penasaran, Zayin memutuskan mengungkapkan keadaan yang nyata.


" Cil, dengarin baik-baik supaya Lo pada gak bertindak bodoh lagi." Matanya mengedar pada empat gadis yang cemberut padanya.


" Yang nyulik mereka adalah anak buah Navarro yang bekerjasama dengan petinggi kepol1si4n. Mereka diculik agar Navarro bisa barter dengan Aa Mumuy yang bekerjasama dengan Gaunzaga menguasai teritorial Navarro di Italia.


" Makanya kalian harus tetap bertahan di sini sewaktu-waktu kita butuh kalian kan gampang bawanya."


" Siapa Navarro?" Tanya Dista.


" Orang yang bekerjasama dengan Guadalupe untuk menculik nyonya Sri dan kau Ala, dia seorang mafia."


" Ya laporin aja ke pemerintahnya, Kenap kita yang ribet." Sahut Cassandra.


" Kalau segampang itu ngapain kita yang ribet." Sewot Zayin.


" Kalau kita nongol?" Tanya Sisilia.


" Kalian menghancurkan rencana yang sudah disusun bertahun-tahun oleh Aa Mumuy untuk mengalahkannya.


" Bertahun-tahun? Kenapa?" Tanya Teddy.


" Hmm, ini berkaitan dengan negara ini." Zayin mencoba sedemikan rupa agar mereka tidak curiga pada yang sesungguhnya tujuan Mumtaz.


" Kalau urusan negara ya lapor ke polisi atau TNI." Timpal Cassandra.

__ADS_1


" Lo gak inget kasus si Andre dan Mulyadi."


" Lha kenapa dengan mereka?" Tanya Cassandra balik.


Zayin memijit pelipisnya lelah." Ta, Lo yang paling cepat nangkep, kasih terang mereka."


" Entar gue jelasin, yang pasti pemerint4h gak bisa dipercaya." Terang Dista.


" Dan Aa Mumuy gak bakal ngelepas mereka karena udah nyentuh kalian semua."


" Gimana dengan kuliah kita?" Tanya Sisilia.


" Tinggal kuliah. Kan ada mobil." Jawab Zayin malas.


" Jauuuhh... Capek." Protes Tia.


" Ck, jangan ngeluh, dibanding para pejuang yang memerdekakan negara ini, usaha kalian gak seberapa." sindir Zayin.


" Kita tinggal dimana? Kita banyakan ini Tanya Eidelweis.


" Di rumah saya saja. Kalau nampung kalian doang, saya masih mampu." Ucap Haidar.


" Kak Edel gak ikut serta ya. Kalau kakak ikut nginep, bakal ketahuan. Kakak kan tinggal diseberang kami, mereka akan curiga kalau Kakak gak balik-balik." Tolak Zayin.


" Lho kok gitu?" 


" Iya, begitu. Lagian Adel harus sekolah juga."


" Apa Zayin selalu ngatur Adel?" Bisik haidar ke telinga Aryan.


Aryan mengedikan bahunya tidak tahu." Dengar-dengar sih begitu, pokoknya jangan ganggu Adel."


" Anak balita itu?"


" Hmm, Zayin itu mukanya doang kayak bayi, tempramennya kayak mafia." 


Haidar menoleh kaget ke arah Aryan dengan raut tidak percaya yang dibalas Aryan mengangguk.


" Coba saja Lo ganggu salah satu dari Zahra, Tia, dan Adel. Gak peduli lo pamannya dia bakal hajar lo."


" Mukul beneran?" Aryan mengangguk.


Haidar menatap keponakannya yang sedang membujuk Eidelweis.


*****


" Ini apa?" Tanya Ergi pada map yang disodorkan Mumtaz.


" Membantu TNI, kalian pasti tahu kalau identitas dari para penculik itu palsu, jadi kami membongkar semuanya."


" Penculik?" Tanya Ergi bingung.


" Pak Ergi, Navarro menculik para adik saya, satu diantar mereka adalah polis1 aktif. Saya berikan waktu beberapa hari untuk anda mengungkap siapa dia."


Tok..tok...


Daniel dan Mumtaz menatap bertanya Ergi dan panglima." Apa kalian mengundang seseorang yang kami tidak tahu?" Tanya Daniel menyelidik


" Tidak, buka pintunya." Titah panglima pada ajudannya.


Masuklah pr3sid3n, menteri keuangan, BUMN, dan beberapa ajudannya.


Ergi dan panglima berdiri menyambut mereka tapi tidak dengan Daniel dan Mumtaz.


" Maaf kalau kami mengganggu kalian, tapi tuan Mumtaz, kami menemukan anda dan beberapa rekan anda membekukan dana kalian di BUMN, kalian tahu apa akibatnya, kan?"


" Tahu, saat ini masyarakat mulai merasakan harga mahal." Sahut Daniel.


" Jadi bisakah kalian tidak bertindak arogan, ini akan menimbulkan kekacauan." Ucap menteri BUMN.


" Alih-alih kalian membujuk kami, mending kalian ambil uang yang sudah dikorupsi oleh para pejabat, saya yakin jumlahnya dapat menutupi ancaman resesi ekonomi yang mengancam negeri ini." Timpal Daniel tajam. 


" Tuan-tuan, maaf kami harus pergi, urusan tetekbengek ekonomi bukan urusan kami, seperti halnya urusan kesengsaraan rakyat saya pikir kalian menganggapnya bukan urusan kalian." Sindir Mumtaz menatap mereka satu persatu dengan tatapan menusuk.


" Permisi!!" Mereka berdua meninggalkan ruang rapat di mab3s TN1 dengan raut sinis.


" Hallo." Sapa Mumtaz menjawab saluran telponnya.


" Tuan, tuan Ibnu marah. Dia ingin tahu..."


" Saya kesana, ulur waktu. Saya tutup. Ucapnya langsung menutup sambungan telpon itu.


" Kenapa?"


" Ikut gue aja." Ucapnya sambil berlari ke parkiran.


******


" Matunda, apa kau bersenang-senang mempermainkanku? saya sungguh tidak tertarik akan ceritamu masuk ke Indonesia,  yang aku ingin tahu sedang apa kau di sini?" Bentak Ibnu tidak sabar.


Sedari tadi Matunda hanya menjawab berputar-putar setiap kali dia bertanya.


" Tuan, saya sedang bertugas."


" Itu sudah kau jawab, sekarang tugas apa yang sedang kau lakukan?"


" Mengambil ini." Matunda mengangkat tabung kecil cairan berwarna hijau.


" Untuk apa?"


" Pengobatan."


" Siapa?"


" Tuan, saya ingin memberitahukan Anda sesuatu..."


" Matunda, jika kau berbelit-belit seperti tadi ku patahkan satu atau dua tulangmu." Gertak Ibnu.


Matunda menjilati bibir bawahnya karena gugup, sungguh mengulur waktu adalah hal yang melelahkan.


" Katakan obat siapa itu?"


" Navarro." Seru Mumtaz dari arah pintu yang masuk bersama Ragad dan Daniel.


Baik Matunda maupun Romli menghembuskan nafas lega, mereka sungguh tidak bisa lagi menghadapi Ibnu yang mulai naik pitam.


" Lo..."


" Lo tahu alamat ini dari file yang gue kirim, seharusnya Lo tahu semua hal itu berkaitan dengan Navarro."


" Termasuk rumah ini?" Tanya Ibnu.


" Hmm." Jawab Mumtaz seraya duduk di sofa ruang tamu.


" Lo tahu dia membelot pada Navarro"?


" Tuan, saya tidak membelot." Elak Matunda.


" Lo menjadi asistennya, apa lagi namanya?"


" Dia gue tugasin untuk bersama Navarro, kemampuan hackernya sangat di butuhkan Navarro."


" Darimana Lo yakin dia tidak berkhianat, negaranya saja dia khianati."


ucap Ibnu sinis.


" Tuan, saya tidak pernah berkhianat, negara saya yang mengkhianati kami, dan demi Tuhan saya memang bukan orang suci, tapi saya bukan orang tolol yang berani berpaling dari kalian setelah kalian menyelamatkan saya." Bantah Matunda habis-habisan.


" Kau hampir mencelakai orang-orang ku."


" Saya pastikan saya tidak bertanggung jawab, itu bukan tugas saya."


" Lantas apa tugasmu?"


Seketika Matunda kembali gugup, matanya melirik Mumtaz yang mengangguk tipis.

__ADS_1


" Saya ditugaskan menjaga identitas anda?"


" Identitas ku? Apa maksudmu?"


" Navarro sejak beberapa tahun lalu mencari seseorang bernama Ibnu Faris Mahmud."


" Darimana hipotesamu itu kalau itu saya, namaku Ibnu Abdillah___iya, kan!?" Ucapnya ragu.


" Well, diantara kalian berempat hanya anda yang bernama Ibnu, ku pikir itu nama anda, tuan." 


" Konyol__, untuk apa dia mencari nama itu?"


" Saya tidak tahu, saya beranggapan demikian, sebab saya butuh pegangan dalam menjalankan tugas saya. Adalah kewajiban saya melindungi kalian, tuan. Saya mohon jangan ragukan saya." Matunda memohon teramat sangat pada Ibnu, Ibnu mengepal nafas gusar walau akhirnya dia mengangguk.


" Tuan, Navarro membentuk tim dibawah pimpinan saya sedang mencari cara agar dia bisa masuk ke gedung RaHasiYa." Ucap Matunda.


Petinggi RaHasiYa menanggapinya secara santai," akan ku beritahu kapan kalian bisa masuk ke sana." Sahut Mumtaz yang mendapat tatapan kaget dari para rekannya.


" Muy, kita tidak boleh membiarkan musuh masuk ke dalam teritorial kita." Protes Daniel.


" Gue sudah tidak bisa menunda lagi, dia sudah mulai nekat menghalalkan segala cara agar tujuannya terlaksana."


" Tuan, saya sudah terlalu lama pergi, saya harus pamit." Sri Matunda melihat jam tangannya.


" Pergilah. Terima kasih atas informasinya."


" Jangan sungkan, kalian tahu, saya hidup untuk kalian."


" Jangan berlebihan, kau hidup untuk dirimu sendiri. Temukan kehidupanmu setelah ini."


Matunda hanya menunduk dalam mendengar ucapan mumtaz yang sejak hari dimana dia diselamatkan oleh kedua orang tersebut dia menyebutnya sebagai majikannya.


 "Rom, tolong antarkan dia ke luar."


" Baik." Jawab Romli bagai terhipnotis, ini kali pertama dia melihat temannya  sebagai sosok yang berbeda.


" Mari, tuan." Ucpa Romli kikuk, dia tidak terbiasa dengan suasana formal seperti ini."


" Matunda."


Langkah Matunda terhenti saat Ibnu memanggilnya, ia menoleh padanya.


" Apa jaminannya kau tidak mengkhianati kami?" Tanya Ibnu masih ragu padanya.


 Sejenak Matunda memejamkan matanya, merasakan sakit dihatinya diragukan oleh orang yang dia sanggup mempertaruhkan nyawanya demi orang itu.


" Seluruh jiwa ragaku taruhannya, tuan." Ucap Matunda mantap lurus ke dalam netra hitam Ibnu.


" Mulai saat ini kubperintahkan kau menginformasikan segala sesuatu yang Navarro perintahkan padamu."


" Baik, tuan."


" Apa kau keberatan, Mumtaz?" Sindir Ibnu sinis.


Mumtaz menggeleng terkesan santai," Tidak sama sekali, segala hal tentang Navarro Lo lebih berhak untuk tahu daripada gue."


" Kau dengar itu, Matunda?" Sarkas Ibnu karena dia merasa tersinggung akan sikap Matunda yang lebih berat kepada sahabatnya itu.


Matunda menghela nafas lelah." Tuan, saya tidak pernah berubah, baik anda maupun tuan Mumtaz sama berartinya untuk saya, kalian majikan saya."


 


Tangan Mumtaz mengepal kuat mendengar itu, sedangkan Ibnu mengeratkan rahangnya." Dan saya perintahkan kau buang pikiran itu, atau ku tonjok kau. Pergilah, melihat mu moodku rusak."


Matunda menunduk hormat sebelum meniggalkan ruangan. Sedangkan Romli masih terkesima dengan apa yang dia lihat.


Sepeninggal mereka, tiga sahabat itu masih duduk di ruang tamu.


" Gad, Lo kan belakangan nyupirin dia, apa yang Lo tahu tentang Navarro tapi gue engga." tanya Ibnu pada Ragad yang sedang memeriksa setiap lemari pajangan.


" Tidak ada, teman Lo gak banyak omong, dia cuma ngutak-atik gadgetnya." Jawab Ragad melirik Mumtaz yang sedang menutup mata terlihat lelah.


" Lo, Niel?" Daniel mengangkat wajah dari ponselnya.


" Tidak ada, dan gue cuma nunggu dari lo soal file itu. Gue bersama dia, karena ayah yang maksa gue bersama dia karena belakangan dia sering ketemu pejabat, sementara Bara dan Afa sibuk ngurus para penculik itu."


Ibnu menatap sahabatnya itu dengan raut sedih, meski ia tidak tahu apa penyebabnya, tapi ia merasa bersalah. Dia punya firasat ini semua tentang dia.


" Muy, apa gue pergi saja ya supaya Lo gak kesusahan lagi." Ucapnya sendu.


Mata Mumtaz seketika terbuka, ia menatap tajam Ibnu." Pergilah, tapi semuanya tidak akan berhenti, pada akhirnya Lo akan mendengar gue mati." Sahutnya menahan emosi marahnya.


Ibnu dan Daniel terbelalak mendengar itu," sejak sepuluh tahun lalu gue menanggung rasa bersalah, menjaga Lo dan Dafi adalah salah satu penebusan dosa gue." Ucap Mumtaz dengan tatapan menerawang.


" Tapi Lo gak bersalah___"


 Mumtaz beranjak, dia melempar lampu meja di samping sofa, semuanya terlonjak kaget. " Tahu apa Lo tentang hari itu, kalau gue gak gegabah mungkin orang tua Lo masih hidup, Lo dan Dafi gak jadi yatim piatu" teriak Mumtaz.


" Semuanya karena gue...gue....bokap Lo mati karena gue...saatnya gue bikin orang-orang itu mati." Mata Mumtaz merah menyalang.


Kemudian dengan langkah lebar Mumtaz pergi dari ruangan itu, menghempaskan Romli yang baru membuka pintu ruang tamu. 


Ragad bergegas berlari menyusul Mumtaz, ia mengumpati dirinya sendiri karena terlambat bergerak.


Saat sampai di teras rumah, mobil Fortuner itu sudah meninggalkan perkarangan rumah. Lantas ia menelpon seseorang.


" Bar, Lo harus balik ke Jakarta, Mumtaz ngamuk."


" Ada, dia ngomong sesuatu?"


" Dia hanya bicara dia akan membvnvh orang yang sudah menghabisi orang tua Ibnu.


" Ooh,, ****. Gue kesana. apa ibnu bersama Lo?"


" Iya."


" Jangan biarkan dia sendiri, urusan Mumtaz biar gue yang urus."


" Okay."


" Nu___" Ibnu menoleh pada Ragad yang berdiri di ambang pintu masuk ruang tamu.


" Gue gak tahu apa yang terjadi, tapi sejak penculikan nyonya Sri dan kak Zahra, dia tidak pernah tidak serius terhadap orang yang bernama Navarro.


" Sesekali dia bergumam menyebut nama Lo, setiap itu dia menitikan air mata. Gue ceritain ini ke mereka.." matanya melirik Daniel, dan Ibnu paham maksud dari mereka adalah para sahabatnya.


" Mereka memutuskan Mumtaz tidak pergi sendiri, kalau pake mobil, gue yang nyupirin, kalau dia pake motor, Leo dan yang lain berada di belakanganya, dan hanya satu nama yang sering dia sebut, yaitu nama Lo." Ucpa Ragad tercekat.


" Lo gak tahu gimana muka dia setiap Lo pingsan, Lo gak tahu kewarasan dia hampir hilang kalau Sisilia tidak membantunya, gue mohon, sekali saja Lo jangan bikin dia merasa putus asa, merasa tidak berguna, karena sesayang itu dia sama Lo." Ucap Ragad sambil menitikan air matanya.


Ibnu tertunduk dalam seraya menjambak rambutnya." Gue salah, gue__ bodoh, gue egois...hiks" racaunya ditengah isakan tangisnya.


Daniel menghampirinya, berdiri di depannya, mengusap kepala ibnu. Kemudian dia berjongkok di depannya.


" Hilangkan perasaan kalau Lo beban kita, kita bersaudara, kepedihan kalian, kesedihan gue, Afa, dan Bara.


" Kita sayang Lo___" Ibnu memeluk Daniel erat menangis dibahunya.


" Gue tersiksa karena tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi hari itu, sementara Mumuy berusaha sendiri membela gue__, Niel."


" Daniel mengusap-usap punggung Ibnu menenangkan." Biarkan dia dengan segala rencananya, kita harus menjadi penopang tubuh dan jiwanya. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mendukungnya sebagaimana dia mendukung kita untuk menyembuhkan diri, hmm?"


Dibalik punggungnya, Ibnu mengangguk. Dia mengurai pelukannya, menyeka air matanya." Dimana dia?"


Matanya melihat Ragad yang menggeleng." Serius gue gak tahu, Bara nyuruh gue gak ninggalin kalian." Terang Ragad yang tidak terima keraguan dari mata Ibnu.


*****


Di tempat lain, Mumtaz memasuki area gudang eksekusi.


" Buka pintunya____" titah Mumtaz dengan suara dinginnya. 


Para penjaga melirik pada Leo yang berdiri di belakangnya, Leo mengangguk. Meski ragu, mereka membuka pintu gudang itu.


Tiga orang, dua pria dan satu perempuan dengan penampilan memprihatinkan menutup mata mereka karena silau cahaya yang masuk di ruang serba gelap itu.

__ADS_1


Sambil melangkah masuk, Mumtaz melepas ikat pinggangnya yang lebih dari setengahnya menjutai lalu di lilitkan sedikit pada tangannya. Tiga orang tersebut menatap dia ngeri...


__ADS_2