Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 64. Sisi lain Zayin.


__ADS_3

****


Zahra berkali-kali menelpon Hito tapi tak diangkat, kepalanya benar-benar pening kasus plagiat ini benar-benar menyita energi dan waktunya, ditambah LIPI yang tertarik akan penelitian ini hingga beberapa hari ini dia bolak-balik ke LIPI.


Perutnya lapar, Zahra melajukan motornya pelan dia tergiur ingin berhenti untuk makan malam di rumah makan yang terlihat ramai.


Saat hendak memasuki rumah makan matanya terfokus pada Hito dan seorang wanita yang dia kenal, mereka duduk di meja paling pojok sedang tertawa terkesan bahagia.


Seketika moodnya untuk makan hilang, dia menghubungi lagi Hito, dan dadanya sakit kala Hito menolak sambungan telponnya dan memilih melanjutkan perbincangan dengan wanita itu.


Tak sadar matanya berair meski ditahan airmatanya tetap luruh menuruni pipinya, dia menyeka pipinya dengan kasar, dia benci dikala Merasa lemah.


Untuk kesekian kalinya Zahra yang keras kepala menelpon Hito," hallo..." Sapa Zahra kala sambungannya diangkat oleh Hito.


" Hallo, kamu ada apa tumben telpon aku terus!?" Terdengar seperti ada nada tidak suka dari suara Hito.


" Apa tidak boleh aku menelponmu? Memang kamu sedang apa?" Tanya Zahra.


" Bukan begitu, aku lagi meeting penting, kamu sedang apa?"


" Kata kamu kalau lagi meeting ponsel kamu dinonaktifkan, aku sedang lihat kamu sama Ziva." Jawab Zahra sambil menatap Hito bersembunyi dibalik etalase dagangan.


"....." Hito tidak menjawab, dia beranjak mencari Zahra dengan raut khawatir, dan kesal.


" Kamu dimana? Aku cari kamu tapi gak nemu kamu, please kasih tahu aku kamu dimana?"


"......"


" Aku minta maaf." Hito masih terus mencari Zahra menyusuri seluruh area dalam rumah makan.


Zahra bergegas berlari bersembunyi dibalik kendaraan yang terparkir di depan rumah makan kala Hito menuju luar rumah makan. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara tangisan.


Ketika melihat Hito berbalik kembali ke dalam rumah makan Zahra bergegas menuju motornya. Dia mengapit ponselnya dengan helmnya


" Ara, kamu dimana? Beri aku kesempatan buat menjelaskan. ARA!"


BRAK!!!


Terdengar suara tabrakan di seberang sambungan, Hito panik dia melangkah keluar ke area parkir rumah makan, tak jauh dari rumah makan banyak orang berkerumun karena ada kecelakaan, wajah Hito memucat, dia berlari mendekatinya.


Matanya terbelalak kala mendapati Zahra yang terduduk lemas tangan dan kakinya terluka dengan motor yang menyamping karena jatuh, dia mendekati Zahra dan mengulurkan tangan untuk menolong. 


Zahra memandang Hito dengan penuh kekecewaan dia tepis uluran tangan Hito


" Ra..." Lirih Hito.


" Maaf, mbak saya tidak melihat mbak lewat." Ucap si penabrak panikbyang ternyata seorang remaja.


" Mari saya antar mbak ke rumah sakit tangan mbak terluka."  Ucap orang itu dengan mengulurkan tangan Zahra menerima uluran tangan orang asing itu dan memasuki mobil penabrak itu.


" Terima kasih, mas." Mobil itu pergi dari tempat kejadian meninggalkan Hito yang mematung dengan tatapan kosong.


*****


Mama terus menangis meski mereka sudah berada di rumah, mama takut kejadian lima tahun yang lalu dimana suaminya tewas karena kecelakaan terulang lagi.


" Ma, udah dong nangisnya. Kakak juga gak apa-apa cuma lecet doang."


" Kamu gak tahu sih gimana takutnya mama sewaktu dapet telpon kalau kamu kecelakaan, kalau kamu meninggal kayak ayah kamu gimana?" Mama mengeluarkan unek-uneknya.


" Maaf, tapi kakak gak apa-apa. Kan!"


" Malam ini gak ada yang boleh keluar rumah, mungkin ini teguran dari Allah karena kita terlalu sibuk masing-masing." Peringat mama ketika melihat mumtaz, Ibnu, dan Daniel beranjak berdiri, mendengar ucapan mama mereka duduk kembali di sofa.


" Ma,..." 


" Udah, kamu pergi ke kamar kamu, kamu gak dengar kalau kamu harus istirahat. Mumtaz, antar kakak kamu ke kamarnya. Kalian juga masuk ke kamar masing-masing." Mama pergi masuk ke kamar tidurnya.




Mumtaz berdiri diambang pintu kamar kak Zahra dengan bersedekap tangan.



Kak Zahra duduk di tempat tidurnya dengan kaki berselonjor disangga bantal.



" Bisa kakak cerita sekarang, ada apa dengan kakak?"



" Muy, please ini tuh cuma kecelakaan."



" Kakak pikir aku menerima alasan kakak yang selalu tertib lalu lintas, sekarang kecelakaan hanya karena tidak fokus?"



" Muy,..."



" Kakak cerita atau aku cari sendiri, dan apapun yang mengakibatkan kakak tidak fokus akan aku balas." Ujarnya tajam.



" Oke, aku lihat Hito dan Ziva makan bareng sedangkan aku telpon gak diangkat, itu yang bikin aku gak fokus." Ucap kesal kak Zahra yang merasa terintimidasi dengan aura Mumtaz.



" Kenapa gak disamperin, malah nangis sendiri."



" Kakak gak...." Ucapannya terhenti kala menyadari Mumtaz sudah mengetahui apa yang terjadi.



" Ishh, mana si Ibnu aku sita laptopnya." omel Zahra.



" Jangan konyol, aku yang nyuruh dia nyari tahu."



" Muy, jangan keterlaluan kamu."



" Kakak pikir cuma mama yang ketakutan pas dengar kamu kecelakaan? Aku sama Ayin juga, kak. Kakak tahu kan sejak ayah meninggal aku kepala keluarga dan aku merasa benci diri aku pas tahu kamu kecelakaan terlebih karena orang brengsek itu."



" Hito gak brengsek, akunya aja yang lebay."



" kakak bela dia sekarang? Dia udah sering bikin kamu nangis."



" Karena aku cinta dia, tapi..."



" Dia gak cinta kamu?" Zahra menggeleng.



" Kamu juga tahukan kalau dia juga cinta aku, hanya terkadang kakak lelah...keadaan tak dapat restu dari nenek Sri, terkadang sungkan ke kalian yang merasa kakak tega berhubungan sama orang yang bikin ayah meninggal, belum lagi kesibukan kita hingga komunikasi gak lancar..."



" Pengen mundur, dan menyerah?" Tanya Mumtaz.



" Terkadang, tapi mama bilang kalau masih punya rasa dan yakin terus perjuangin, aku gak bisa melepas perasaan aku seperti orang yang tidak bertanggung jawab begitu saja setelah kalian berkompromi dengan perasaan aku, terutama Zayin." Ucap Kak Zahra disela tangisnya.



Mumtaz melirik Zayin yang berdiri tak jauh darinya bersandar di depan kamar Zahra.



" Aku merasa bersalah sama kalian, tapi aku juga gak bisa begitu aja lepasin Hito. Aku tahu dia sibuk, tapi gak tahu kenapa akhir-akhir ini aku butuh dia banget."



" Melebihi dari kami?"



" Kamu dan Ayin udah terlalu sibuk, aku gak bisa..."



Mumtaz duduk di samping kak Zahra menggenggam tangan Zahra yang menyatu di atas pangkuannya.



" Kalau ada Ayin, dia pasti bilang ribet amat dah perempuan itu." ucap Mumtaz terkekeh, Zahra tertawa kecil.



" Sejak kapan kakak sungkan kepada keluarga sendiri? aku dan Ayin laki-laki, tempat berlindungnya perempuan. Kamu, Tia, mama selalu menjadi prioritas kami. Maaf kalau belakangan kami selalu sibuk dengan urusan kami sendiri."



Zahra menggeleng " kamu juga kan lagi terkena masalah."



" Itu bukan alasan, kakak mau kita kehilangan ketengilan dan kecuekan Ayin? Kakak mau aku merasa bersalah terhadap keluarga ini?" Kak Zahra menggeleng.



" Kakak hanya gak mau merepotkan."



" Bahkan aku tahu kamu lagi terkenal masalah plagiat."



Zahra mengangkat kepalanya kaget.



" Kak, kamu punya adik banyak, kamu pikir Daniel, Jimmy, Ibnu akan membiarkan kamu pergi ke Jerman tanpa pengawasan dari kami? Selama kamu di Jerman Birawa dan Atma Madina selalu berebut menugaskan anak buahnya mengawasi kamu, begitu juga Ibnu dengan keahlian komputernya, si Ratih itu, hanya Masalah sepele saja."



Kak Zahra memandang Mumtaz dengan tatapan tak terbaca dia memeluk Mumtaz erat, menangis di sana mengeluarkan segala bebannya.



Untuk beberapa saat mereka hanya berpelukan, Mumtaz mengurai pelukannya " kalau Hito terlalu sibuk datang pada kami yang selalu ada buat kakak."



Zahra mengangguk, " kenapa kalian bisa se dewasa ini, padahal aku yang anak pertama mama."



" Karena kami selalu mempersiapkan diri sebagai pelindung sejak ayah meninggal." Ujar Zayin yang memunculkan dirinya diambang pintu.



" Berhenti bersikap sok kuat, kalau terlalu lelah datang ke kami jangan cari yang jauh." ucap Zayin menegaskan



" Kakak pikir aku gak tahu kalau kakak yang biaya-in sekolah aku sewaktu Aa mumuy erorr?."



" Dih, itu kan hasil kerja ngajar les sama kamu jadi pelatih bela diri."



"  Biaya Tia maksud aku."



" Ya...wajarlah kakak anak pertama."

__ADS_1



" Aku saudara kembarnya, aku laki-laki seharusnya aku yang biayain dia, kakak untuk biaya kuliah sendiri aja susah."



" Terus aku cuek aja gitu kamu susah sendiri?"



" Di sini tuh aku ingin jelasin kalau kakak punya lelaki yang bisa diandelin, jadi sebelum mengandalkan lelaki anak orang, kalau kakak butuh sandaran lelaki keluarga sendiri yang harus diandelin." Ujar Zayin tegas.



" Apa aku harus tembak om Hito supaya dia jera bikin kakak nangis?"



" Heh, ngomong sembarangan aja." Sewot kak Zahra tak terima.



" Cih, tadi marah Hito begini lah, sekarang ngebela. Ribet amat jadi perempuan."



Zahra dan Mumtaz saling pandang, dan selanjutnya mereka tertawa.



" Hahahaha...."



Zayin meninggalkan kamar dengan senyum dibibirnya.



\*\*\*\*\*



Beda dengan Hito yang memasuki apartemennya dengan lesu tanpa menyalakan lampu masih dengan pakaiannya lusuh, dia menjatuhkan diri di atas sofa dengan bersandar pada sofa sambil tangan menjambak rambutnya.



Masih teringat raut kekecewaan Zahra atas dirinya, luka yang Zahra dapatkan karena dirinya.



Deerrrt... derrt....



Dia mengambil ponselnya segera berharap itu Zahra, tetapi ternyata Zivara yang menelponnya, dia banting ponselnya dengan kesal, dan merebahkan dirinya dia kepala sofa sampai tertidur melepas emosi. 



\*\*\*\*


" Kak, kamu beneran mau ke rumah sakit meski lagi luka?" Tanya mama heran. Mereka berkumpil di ruang keluarga untuk *family time*



" Iya, ada hal yang harus dilakukan."



" Kak..." Mama mulai marah.



" Ma, kakak ke rumah sakit bareng Aa." Mumtaz memegang bahu mama menenangkan.



" Muy, nanti kapan-kapan kita ke Pema kampus yuk, ada live musiknya, kan?" ajak Zahra.



" boleh."



" Emang yang bukan anak kampus boleh ngehadirin Pema kampus kamu, A?" Tanya mama antusias.



" Boleh, kenapa ma? Pengen ikut juga?" Tanya Daniel.



" Iya, kalian tega sering ninggalin mama di rumah sendiri. Kesepian tahu, dulu sebelum punya gedung sendiri kalian ngumpul di sini, tapi sekarang berkunjung aja jarang. Apa karena kalian udah kaya jadi gak butuh mama?" Mama merajuk.



Daniel, Ibnu, dan Mumtaz tertegun, dan cepat-cepat menggelengkan kepala.



" Bukan begitu ma, kita ini mahasiswa unggulan dan mengemban tugas negara, jadi sibuknya itu super banget." Ucap Ibnu mendramatisir



" Lagian mama juga bukannya lagi sibuk ngurusin coffe shopnya, ya?!" Ucap Zayin.



" Eh, iya juga ya. Gak jadi deh kesepiannya." Ucap mama santai yang membuat para anak terbengong.



" Apa sih ma gak jelas banget." Rutuk kak Zahra.



" ma, kata bunda kalau butuh bantuan interior hubungi bunda." ucap Daniel



" beneran? telpon sekarang ajalah." mama masuk kamar tidurnya. tak lama kembali bergabung.




" Isshh, tu orang. lagi mode sombong kampus sendiri." dumel Daniel.



" Assalamualaikum." Kak Edel memasuki rumah dengan menggendong Adel diikuti om Heru.



" Tuh kan mas apa aku bilang, mereka tuh gak nonton tv biar tv di depan juga." ucap Edel.



Tanpa basa-basi kak Edel menyalakan televisi.



" Pihak polisi mengeluarkan putusan penghentian penyelidikan karena tidak menemukan perbuatan melawan hukum dan kurangnya bukti buat kasus kamu, Muy." Ucap Edel menggebu-gebu sambil menyerahkan Adel ke pangkuan Zayin yang duduk santai makan brownies.



" Kata polisi, setelah memeriksa saksi dan para pihak terkait, polisi tidak menemukan pidana. Sedangkan yang kamu lakukan dalam kategori *force Majoure*, karena terdesak untuk membela diri, dalam hal ini Sisilia."



" Kapan diumumkannya?" Tanya Ibnu.



" Kemarin sore."



" Mbak, gak ngikuti berita kasus ini?" Tanya kak Edel ke mama.



" Enggak, gak boleh sama para anak. Takut cepat banyak keriput katanya Zayin."



" Mbak?" Tanya Zahra bingung.



" Iya, mbak. aku mau ganti panggilan aku ke mbak dari Tante menjadi mbak. Kita kan mau besanan."



" Siapa sama siapa?" Daniel memancing sambil melirik Zayin yang menyuapi Adel kue brownies.



" Ayin sama Adel lah. Kalian juga jangan manggil aku kakak lagi, tapi Tante. Kalian manggil Heru, om. Tapi ke aku kakak, gak sopan tahu." Kak Edel merengut.



" Kak,..." Zayin tanpa sengaja agak meninggikan intonasi suaranya karena gusar.



" Kenapa? Kamu gak mau nikah sama Adel?" Tanya Edel tiba-tiba bersuara lemah dengan mimik sedih.



" Bukan begitu, itu gak pantes aja gitu."



" Apa karena masa lalu tante? Apa karena Adel hasil dari ketidakbaikan, kamu nolak Adel?"



Refleks Zayin menutup telinga Adel, " apa maksud Tante? Aku gak pernah mikir sampai sejauh itu." Suara Zayin menajam, semua orang terkejut pasalnya baru ini Zayin mengeluarkan aura seram.



" Benar kata Nebuy Sri, kalian yang agamis tak mungkin mau menjadikan Adel yang anak...." Edel sesegukan tak mampu melanjutkan ucapannya "...menjadi bagian keluarga kalian." Lirih Edel dalam pelukan Heru.



Mereka tersentak kaget. Zayin mengoper Adel ke mamanya, mendekati Edel dan mendudukkannya di sofa. Zayin berjongkok dengan menekuk satu kaki di hadapan Edel yang tertunduk.



" Tan, maaf, bukan maksud Ayin menolak tapi ini seperti mendahului takdir Allah. Adel masih balita sedangkan Ayin udah dewasa, Ayin merasa tidak nyaman membicarakan itu sekarang."



Zayin meremas kedua tangan Edel " untuk saat ini bagi Ayin selain negara hanya tiga wanita saja yang menjadi pusat perhatian Ayin; kakak, Tia, dan mama. Tiga itu saja udah bikin Ayin mumet ditambah tetangga kayak kak Edel, Ayin masih menyimpulkan urusan perempuan itu meribetkan dan gak sanggup nambah lagi."



Edel mengangkat kepalanya dan tertawa kecil merespon ucapan Zayin, Zayin tersenyum.



" manusia itu tempatnya salah dan dosa, sebaik-baiknya pendosa adalah yang menyesali dan bertaubat. Ayin tidak sebaik yang Tante kira, kita lebih banyak ibadah karena kita sadar dosa kita menggunung, jadi sesama pendosa jangan saling insecure, oke!?" Zayin mengoyang-goyangkan pelan genggamannya. Dan memberi senyuman sambil menaik-turunkan alisnya.



" Tapi Tante minta Ayin sama Allah lewat do,a boleh ya!" Tawar Edel.



" Ayin merasa tersanjung, tapi inget ke depannya jangan maksain Adel, waktu Adel masih panjang biarkan dia menikmati setiap fase kehidupannya sesuai keinginannya. Siapa tahu di simpang depan ada jodoh yang lebih baik buat Adel." Ujar Zayin bijak para kakak melongo mendapati Zayin yang serius.



" Kamu, beneran nolak Adel bukan karena Adel...."



" Ayin gak nolak, cuma risih, kayak pedofil. Kita sekeluarga gak pernah mikir negatif tentang Adel kita semua sayang Adel."


__ADS_1


" Tuuuh kaaaaannn, cuma kamu yang pantes buat Adel. Karena cuma kamu yang bisa menerima Adel." Rengek Edel.



Zayin berdiri " Ishhh, jadi orang ganteng dan bijak kayak Ayin emang langka sih, tapi akibatnya nyusahin. Udah ah orang ganteng mau sarapan dulu."  Zayin beranjak ke ruang makan, sedangkan yang lain mendengus dengar kepedean Zayin.



Heru menatap takjub Zayin.



" Yin, kadar cueknya bisa dikurangin gak?" Tanya Edel mengikuti Zayin ke ruang makan.



" Enggak, Ayin segini aja masih banyak yang ngejar apalagi kalau dikurangin, yang ada entar Tante yang kelepek-kelepek sama Ayin, duh nambah ribet deh." Zayin bergidik ngeri membayangkannya.



Mama hanya tersenyum. " Si ganteng udah dewasa juga." Monolog mama sambil menatap Zayin.



\*\*\*\*



" Lo, kenapa kusut amat, apa ada hubungannya dengan mata Zahra yang sembab." ucap Hito menjatuhkan dirinya di sofa ruang kerja Hito.



Hito menatap Heru," Zahra nangis?"



" Gak di depan gue, tapi tadi pas berkunjung ke rumahnya matanya sembab."



Hito menyugar rambutnya gusar.



" Telpon dia lah kalau Lo kepikiran." usul Heru.



" hp gue hancur gue banting."



" kebiasaan, mau langsung dibeliin lagi?"



" Gak usah, mending gini gak diribetin nenek."



" hallo cucu nenek terganteng." ucap nenek sumringah memasuki ruang kerja Hito sambil merentangkan tangan berharap pelukan dari sang cucu yang ternyata tidak meresponnya.



nenek menetralkan raut wajah meski kecewa dengan dinginnya sang cucu." jangan lupa hari ini makan siang bareng Ziva, nenek sudah memberitahu dia."



ceklek!!!!



" Maaf, ada tamu bernama Zayin memaksa bertemu bapak." ucap sang sekretaris.



Hito dan Heru saling pandang kaget, nenek berdiri siaga.



" Persilahkan masuk." titah Hito melangkah menuju sofa.



" Maaf, ganggu waktu anda." ucap Zayin formal.



Hito menjabat tangan Zayin " Hanya kaget, tak biasanya keluarga Zahra mampir ke sini. silahkan duduk."



Zayin duduk dengan gestur tubuh santai, dia melirik Heru.



" Saya akan pergi jika mengganggu." ucap Heru hendak berdiri.



" Tidak perlu, om bisa sebagai saksi."



" Apa keperluan kamu dengan cucu saya?" tanya nenek judes.



" Tidak ada urusannya dengan anda, anda bisa pergi dari sini." ujar Zayin masih santai.



Hito, Heru, dan nenek terkejut dengan keberanian Zayin.



" Kau..."



" Saya bukan cucu anda, saya tidak punya kewajiban mendengarkan Anda, jadi sebelum anda bicara dan menghabiskan waktu saya, saya peringatkan bahwa saya tidak akan mendengarkan ocehan anda."



nenek melotot dengan sikap kurang sopan Zayin. Dia melangkah meninggalkan ruangan Hito.



Di depan pintu nenek mengingatkan, " Hito, jangan lupa Ziva menunggu kamu untuk makan siang di restoran hotel the sultan."



" Anda bisa bilang ke Ziva untuk tidak mengganggu om Hito, karena dia akan makan siang dengan kak Zahra." Zayin beranjak mendekati nenek.



" KAU..." nenek sudah mengangkat tangan yang memegang tas hendak memukul Zayin.



" Sekali kau pukul saya, saya pastikan kau ditahan di jeruji tahanan, jangan uji kesabaran saya, saya bukan mumtaz, kak Zahra, atau mama yang bisa diam saja mendengar hinaan orang terhadap keluarga saya." Zayin mendekatkan diri berdiri di hadapan nenek.



BRAK!!!!



nenek menutup pintu keras, Zayin kembali menghadap Hito dan mendudukan diri di atas sofa.



" Peringatan yang ku ucapkan kepada nenek itu berlaku untuk mu, om Hito." zayin menatap langsung manik Hito.



Hito menghela nafas berat, " saya tidak bermaksud membohongi Zahra, tapi saya hanya bisa mengatakan apapun berita tentang saya dan Ziva itu semua hanya kehendak nenek."



" Om, jika kau tidak lagi mampu melindungi kak Ala lepaskan dia jangan biarkan dia menderita, kami berkompromi dengan hubungan kalian karena kami meyakinkan diri bahwa kau bisa membahagiakan dia."



Hito terdiam tak ingin menyela curahan hati calon adik iparnya.



" Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu, tapi tak mudah bagi kami melihatmu bersama dengannya, berseliweran diantara kami, tapi kami memaklumi dengan melihat kebahagiaan dia setiap membicarakan kamu sampai tadi malam dia menangis karena kamu. Bukan hanya sekali itu tapi lebih, aku dan Aa Mumtaz tidak bisa lagi mentolerir itu. Apapun pilihan om cepat putuskan, kami siap menerima yang paling menyakitkan untuk kakak sekalipun!!"



Hito tersentak atas peringatan dari Zayin.



" saya pikir di sini ada kesalahpahaman, saya tidak pernah berubah tentang perasaan saya kepada Zahra, apapun yang nenek inginkan sedang saya lawan saat ini. Saya hanya sedang berstrategi."



" saya pegang ucapan om, baiklah saya pergi mau menuntut ilmu supaya bisa menyaingi Hartadraja." sarkas Zayin.



\*\*\*\*\*



" Muy, kakak baru nyadar. Hari ini pakaian kamu rapih banget kayak eksmud." Zahra memperhatikan Mumtaz dari kepala sampai kaki Mumtaz yang berpenampilan rambut kelimis, dengan kemeja merah maroon dilapis jas hitam dan celana bahan hitam.



" ck, biasa aja. Hari ini mama minta Aa temenin, jadi kalau mau pulang telpon Daniel atau Ibnu aja ya, kita ketemuan langsung di kampus." Mumtaz meletak rantang makan siang Zahra di atas meja kerjanya.



Ceklek!!!



Suster Reni memasuki ruangan dengan setumpuk map.



" Eh, ada Mumtaz. Maaf ganggu, tapi pasien udah pada ngantri dok. dokter yakin mau buka praktek?" sangsi Reni menyerahkan map.



" iya, langsung aja mulai."



" Mumtaz, selamat ya atas penghentian penyelidikannya. Kita mah yakin kamu gak bersalah." Ucap Reni.



" Terima kasih, mbak. Kak, aku pamit." Mumtaz mencium tangan dan kening Zahra. 



Di lobby Mumtaz bertemu Bara dan om Gama, om Heru, beserta pak Hazam, dan menyalami mereka.



" kita langsung ke kantor saja." Ujar Bara.



" Iya, tentu." Ucap mereka serempak.



\*\*\*\*\*



Mommy Elena dan Sisilia yang sibuk bersiap ke kampus sedang menonton berita tentang Mumtaz tiba-tiba dia terusik mendapati sebuah pikiran yang menggelitik hatinya



" Dek, apa kamu gak khawatir jika sewaktu-waktu Mumtaz bertindak kasar ke kamu?"...

__ADS_1


__ADS_2