Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
202. Drama Cinta di Kampus.


__ADS_3

Selepas mengakhiri sambungan telponnya, Bara mendekati brankar Cassandra dan mencium pelipisnya.


" Maaf, saya harus pergi." ucapnya pada yang lain.


" Jangan bertindak gegabah, ikuti apa yang diomongin Ayin, atau aku menghukum mu."


" Lo mau kemana?" Tanya Alfaska.


" Mumuy, dia marah. Enggak tahu kenapa." Ucap Bara sambil menyalami satu persatu orang tua.


" Bang, nitip mereka, mereka bandel ikat aja." Ujar Bara pada Dominiaz.


" Pasti."


" Gue ikut." Alfaska beranjak mencium kening Tia yang memasang raut panik.


" Tenang, Aa Mumuy gak bakalan kenapa-napa." Bisiknya di telinga Tia.


" Tapi korbannya?"


" Pasti sudah sepantasnya." Alfaska mengusap kepala Tia.


" Mah, tolong jaga Tia." Pinta Alfaska pada Sherly.


" Tentu."


" Kabar-kabari." Ujar Aznan.


" Apa aku harus ikut?" Tanya Sisilia.


Bara dan Alfaska saling pandang, sebelum mereka mengangguk.


" Pinjem Sisilia-nya, om, Tan." Seru Alfaska pada pasangan Pradapta.


" Bawa aja, bawa calon mantu Tante secepatnya." Ujar Elena khawatir.


" Diusahakan, kalian hubungi kita. Assalamualaikum." Seru keduanya, Alfaska memapah Sisilia yang tangan kirinya masih diperban.


******


" AARRGHH..." 


" AAKRGGH____" teriak Mulyadi dan Andre saat ikat pinggang itu terus mencambuk tubuh mereka yang sudah penuh luka.


Setelahnya Mumtaz menyirami mereka dengan air yang sudah digarami.


" Ku mohon, ampuni kami___" lirih Sintia yang tubuhnya tidak lebih baik dari dua lelaki itu.


" Ku yakin para wanita yang kalian jual pun memohon untuk dibebaskan, tapi apa kau membebaskan mereka? Tidak, bukan! Jadi kalian pun harus menderita." Ucap Mumtaz dingin.


" Sejauh mana kau tahu tentang ini?" Tanya Andre pelan.


" Sejauh kau menikmati mereka sebelum kau jual ke luar, sejauh kau menyogok para petugas beacukai, sejauh kau memfitnah seseorang sebagai koruptor, sejauh kau dan dia membantu orang itu membvnvhnya beserta istinya yang tidak bersalah yang sudah kau perkosa. dan aku tahu lebih dari itu." Jawab Mumtaz dengan aura membvnvh.


Mereka bertiga terbeliak terkejut, tubuhnya kini gemetar karena tatapan nyalang itu.


BUGh___


Mumtaz menend4ng rahang Andre, kemudian menginjak ulu hatinya, menekannya kuat.


" Aaarrkkg...uhuk..uhuk..." Pekik Andre terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.


" Semua uangmu musnah, istrimu yang kau khianati yang menikmatinya. Ku dengar mantanmu itu sekarang hendak menikah lagi, sedangkan kau berada di titik menjijikan karena gundikmu saat ini dinikmati oleh sang monster s3x Ernest, btw, dia kirim salam berterima kasih padamu karena sudah melatih Devi yang bisa memuaskan dirinya."


Mata Andre mendelik tajam pada Mumtaz, " apa? Masih percaya diri Lo bersikap pongah di depan gue." murka Mumtaz.


Bughh...


Kembali Mumtaz, menend4ng bawah dagu Andre, beberapa giginya copot.


" LEO..." 


 Leo berlari mendekatinya." Siap."


" Hubungi dokter, lakukan kebiri pada mereka."


Mereka terbelalak terkejut, disusul menggeleng cepat


" Tidak ..ku mohon tidak..."tolak Mulyadi dan Sintia.


" MUMTAZ..." panggil Bara di belakang mereka diambang pintu.


Bara dan Alfaska di susul Ibnu, Daniel, Ragad dan Romli mendekat padanya. Mereka meringis melihat keadaan tiga orang itu, mereka sudah terlambat ketiganya sudah tidak tersisanya tanpa luka.


Pakaian Sintia sudah terkoyak dengan sebagian besar tubuhnya terpampang jelas, hal yang ditakuti mereka sudah terjadi.


" Apa yang Lo katakan pada Leo?" Tanya Bara.


" Mengebiri mereka."


" Muy,____" 


Prak...


Mumtaz melempar satu DVD yang dibungkus amplop ke lantai ke hadapan mereka." Lo baca isinya, setelahnya terserah kalian mau apa."


" Leo panggil dokter secepatnya, juga hubungi Nathan Wilson, pinta satu panggung untuk penampilan striptis Sintia." Setelah mengucapkan itu Mumtaz meninggalkan gudang.


" Bar, apa mereka harus diobati?" Tanya Leo.


" Lo aja, gue mau ogah." Balas Bara.


" Gue apalagi." Timpal Alfaska


" Idem." Daniel.


" Biarkan luka mereka membusuk seperti yang lain." Ujar Ibnu menelisik wajah Andre, Mulyadi, dan Sintia. ia menggeleng saat kilatan bayangan menerpa otaknya. Mereka satu persatu meninggalkan gudang.


Romli masih syok, dia seakan jatuh ke belahan dunia lain, kehidupan teman-temannya hal yang tidak pernah dia duga. Dia mengira Mumtaz dan para sahabatnya seperti dirinya, hanya mahasiswa biasa yang mengejar mimpi.


" Santai, Lo bakal lihat yang lain." Ragad menepuk bahu Romli yang masih mematung kaku.


" Hah?" Romli masih cengo, ia menggeleng lalu menyusul para temannya.


Saat hendak memasuki mobil, gerakan Mumtaz terjeda saat ia melihat Sisilia yang duduk di kursi penumpang bagian tengah.


Ia bergegas masuk langsung memeluk Sisilia erat melupakan cedera di lengan kekasihnya.


" Awws..." Ringis Sisilia.


Mumtaz langsung melepas pelukannya," maaf, aku lupa. Sakit banget pastinya." Dia mengusap-usap perbannya.


" Gak apa-apa, gelay dikit aku tuh. Muka kamu terlalu serius." Ujar Sisilia sembari tersenyum. Ia mengelus rahang kekasihnya.


" Gak lucu gelay-nya. Kok kamu ada di sini?"


" Jadi obat emosi kamu, katanya kamu lagi marah banget. Kenapa, hmm?" 


" Cuma lagi bete aja, mereka gak bosen berulah."


" Ya udah secepatnya abisin mereka. Aku kangen kencan sama kamu. Kamu nyadarkan kalau gak punya waktu sama sekali buat aku?"


Mumtaz mengangguk," iya, secepatnya aku selesaiin." 


" Muy, kita kemana ni?" Tanya Ragad.


" Kampus, dari tadi Yuda nelponin gue mulu.


" ngapain?" Protes Alfaska tidak suka.


" Tanya aja langsung."


" Sekalian nunggu aku kuliah, ya kak." Pinta Sisilia.


" Sampe jam berapa?" Tanya Daniel.


" Cuma satu doang kak."


" Ya udah kita tunggu." Sahut Bara.


Di kelas, Sisilia dipandangi oleh para temannya, pasalnya dia belajar didampingi oleh Ragad yang notabene anak jurusan otomotif.


Dosen yang tahu Sisilia teman Bara pun tidak bisa menegur akan keberadaan Ragad meski kini mereka sedang praktek di laboratorium.




Di basecamp BEM.



" Ada apa sih, Yud pake manggil ke sini?" Gerutu Alfaska duduk di kursi meja rapat yang besar.



 Yuda menarik nafas dan menghembuskannya gusar, di ruangan ini terdapat banyak anak BEM yang sibuk dengan tugas masing-masin. 



" Gak ada makanan, Yuda? Kampus Segede UAM gak bisa ngasih konsumsi buat BEM-nya yang udah bikin hal membanggakan kayak kemarin payah banget."  Sindir Mumtaz pada kedua pewaris Atma Madina yang memutar bola matanya malas.



" Ambil, pesan apa aja." Bara melempar ponselnya ke atas meja depan sofa, dia sendiri tiduran di sofa panjang.



" Gue yang pesan, Mum. Gue mah gak pernah mengecewakan." Romli mengambil ponsel.



" *Guys*, makan *guys* mau pesan apa?" Teriak Romli yan langsung disambut sumringah oleh anak BEM.



" Mum, kenapa si Romli jadi ngelunjak sejak tinggal di rumah Lo?" Cibir Daniel.



" Udah sih, gak apa-apa. Sedekah sama kaum buluk macam dia pahalanya berlipat ganda." Celetuk Mumtaz.



" Mum, omongan Lo nyelekit ke ginjal gue, tapi berhubung kalian baik, gue sans aja." 



" Emang Lo gak berdaya, ogeb." Rendi menoyor kepalanya.



" Ini gue kapan bisa ngomong pentingnya ya?" Kesal Yuda.



" Tinggal cuap-cuap susah amat." Ucap Alfaska.



" Dew4n menawarkan posisi bagi mahasiswa berprestasi jurusan politik dan hukum dengan nama aspirasi muda sebagai pengawas sekaligus rekanan di sen4y4n, gimana kita terima?"



Cklek...



" Jangan, kata bokap gue itu upaya dew4n membungkam pemuda atas kasus ini." Seru Brian yang masuk tanpa permisi.



Semua mata memandanginya." Heh, gampang amat Lo masuk sini." Tegur teguh.



" Tinggal buka pintu." Jawab ngeyel Brian sambil menyeruput minuman milik Yuda.



" Bokap Lo ada ngomong apa?" Tanya gladys.



" Para d3w4n resah karena dibentuknya tim gabungan ormas dan mahasiswa yang mengawal kasus ini. Dengan adanya tim tersebut mereka sulit untuk bernego, bagaimana pun mereka *team work*." Tambah Brian.



" Ck, masih belum insyaf juga para tua bangka itu." Gerutu Alfaska.



" Muy, gimana?" Tanya Yuda.



" Lha ngapain nanya gue, kita mah gimana ketua. Ketua BEM yang lain gimana?"

__ADS_1



" Mereka seirama dengan Brian, setiap laporan tim kan di berikan ke masing-masing BEM yang dilanjutkan ke pihak kampus, hipotesanya, sejauh ini tidak banyak perubahan signifikan dari pihak senay4n. Bahkan mereka cenderung melakukan tindakan mencurigakan." Terang Yuda.



" Si Ita masuk gak?" Tanya Yuda.



" Kenapa nanya adik gue?" Ucap Bara.



" Harus gue akui analisa dia dan temannya mantap abis, demo kemarin lancar karena analisa kasus dari tim hukum yang bikin kita gak terpancing atas provokasi lawan." Timpal Yuda.



" Gak masuk, dia diamankan sampe perkara Navarro selesai." Imbuh Daniel.



" Gue telpon dia dulu." Yuda masuk ke ruangan khusus ketua BEM.



Cklek\_\_\_



Maura memasuki ruangan dengan raut menyedihkan, 



" Ada Bara-nya?"



" Mau ngapain? Belum puas Lo ganggu sepupu gue?" Sentak Alfaska.



Semua pandangan mengarah ke Maura yang menciut tapi pandangannya mengedar  ke seluruh ruangan, begitu melihat Bara yang berbaring di sofa ia langsung mendekatinya.



" Bara bangun " Maura mengelus lengan Bara yang dilipat di dada.



Bara menghentak tangan tersebut, dia membuka matanya yang langsung menajam saat melihat siapa yang mengganggu waktu istirahat berharganya.



" Mau ngapain lagi Lo?"



" Bar, aku butuh kamu. Masa kamu tega ngebiarin aku sendiri, ini terlalu berat bagiku hidup sebatang kara." Rengek Maura.



Bara mendudukan dirinya di sofa dengan malas-malasan." Terus Lo mau gue matiin Lo juga? *Fine*, gue kasih Lo ke Labrador gue."



Maura menggeleng cepat." Bukan begitu, aku mau kamu temani aku. Aku tahu kamu masih peduli sama aku, buktinya kamu nyelamatin aku dari kebangkrutan bokap nyokap.



" Sekarang sudah gak ada yang menghalangi cinta kita, kita masih saling sayang, apa susahnya kita bersama lagi?" Tatapan Maura menyampaikan permohonan.



" Dasar ya tidak tahu diri, emang susah keturunan jal4nk plus bajingan kayak lo dibaikin. Semua yang gue lakuin bukan kemauan gue, tapi perintah Mumtaz yang dia pikir Lo gak mesti merasakan keisalan dari ulau bonyok Lo, tapi Lo malah mencoba ngerusak hubungan gue sama Cassy, pergi Lo." Bentak Bara.



" Enggak, aku gak mau pergi dari kamu."



" Terus Lo mau ngapain?"



" Kamu mau kita bersama lagi."



" Gue gak mau, gue punya Cassy yang gue cinta banget." Karena kesal, Bara mendorong keras Maura hingga dia terjengkang membentuk kaki meja.



Maura tersentak tidak menyangka Bara bisa melakukan kekerasan padanya, ruangan seketika sunyi dari segala pergerakan penghuninya.



Cklek...



Sisilia berdiri bingung sekaligus takut, ia melihat Maura yang menangis duduk malu di lantai sementara Bara menatapnya dengan marah.



" Kak, benar kak Bara balikan sama Maura?" todong Sisilia, ia masuk ke ruangan diikuti Ragad yang langsung duduk di kursi pojokan, tangan Sisilia dipegang Mumtaz.



" Apaan, enggak." Bantah Bara.



" Itu yang dia bilang, sebelum kita diculik dia mengirim video kak Bara bareng dia apartnya dan kalian saling pelukan." Sisilia mengutak-atik ponselnya, dan memberikan video tersebut pada Bara.



" Anj1nk, dasar jal4nk murahan. Gara-gara ini Cassy salah paham dan marah sama gue."



PLAK...




" Muy, tanggung jawab Lo." Ucap Bara.



" Iye, maaf. Ini gue lagi usahain bangkrutin dia." Sahut Mumtaz menelpon seseorang.



Wajah Maura memutih, dia menggeleng cepat, dia tergesa-gesa merangkak memegangi kaki Mumtaz yang langsung dihempaskannya." *No*, jangan Mum . Gue minta maaf..."



" Hallo, Randy...bisa Lo ke UAM? Ada Maura di sini."



"......."



" Oke gue tunggu."



" Gue, gue gak tahu siapa dia." Ucap Rendi, sang wakil ketua BEM menunjuk Maura.



" PD, yang dimaksud Randy Wibowo. Kegantengan banget Lo." Daniel mengusap kasar wajah Rendi.



" Alhamdulillah..gue masih selamat."



" Mum, gue mohon\_\_\_ jangan biarkan dia kesini, gue pergi..gue gak bakal ganggu Bara lagi..."



" Jangan percaya, iya dia gak ganggu kak Bara, tapi dia ganggu Cassy sebagai gantinya. Beberapa kali dia mendatangi Cassy supaya Cassy memutuskan kak Bara."



" APA?" para abang kaget serentak.



" Kak Bara juga salah, beberapa kali ingkar janji buat ketemuan Cassy yang ternyata malah ketemuan sama dia." Jelas Sisilia.



" Dia sakit, gue kesana sebagai teman." Terang Bara menjelaskan, dia tidak mau para sahabatnya menjauhkan dia dari Cassandra.



" Kebetulan banget ya sakitnya hampir disetiap kakak janjian sama Cassy, terus dia kirim video kebersaman kalian. Itu yang bikin Cassy sakit hati dan minta putus sama kakak." ucap Sisilia kesal.



" Boleh gak sih aku jambak dia, muka sok menderitanya negeselin banget." Tunjuk Sisilia pada Maura.



" Silakan, mau dijadiin moncong rudal juga silakan." Sahut Bara.



" Tapi ogah, gadis selevel gue gak main sama cewek manipulatif kayak dia. Lagian ngapain sih pake nolong dia."



" Aku yang salah sayang, Maaf. Niatnya mau manasin si Tanura mana kutahu dia sejahat itu." Ucap Mumtaz.



Cklek...



Masuklah Riana bersama Divanya, semua yang ada menghela nafas malas karena akan ada drama percintaan baru.



"Mumtaz..." Dengan percaya dirinya sambil tersenyum lebar Riana berlari kecil pada Mumtaz yang mer sponnya dengan mengernyitkan kening bingung.



" Kamu lama gak datang kemari untung aku datang, aku bawa makan siang buat kamu." Riana mengeluarkan kotak makan dari Tote bagnya.



Mumtaz menerima kotak itu tapi langsung di dorong ke para temannya yang menyambutnya dengan baik. Riana hanya menganga tidak percaya.



Sisilia mengangkat kedua alisnya bertanya pada Mumtaz." Aku sendiri gak paham, dia mungkin kena ayan." Ucap Mumtaz menarik tangan Sisilia mendekat padanya.



" Gak ada garam kalau gak ada lautan." kata Sisilia.



" Dia ngaku sebagai calon istri Lo, Mum. Katanya Lo udah ngasih perusahaan dia balik ke bokapnya sebagai bukti Lo serius sama dia." ungkap Gladys. 



" Dia salah paham, aku gak balikin perusahaan itu, tapi aku minta paman Husein buat mengurusnya, itu pun cuma yang di pusatnya doang. Aku gak tega lihat paman Husein kesusahan karena kehilangan perusahaannya. Kamu jangan marah, kalau kamu gak suka aku tarik lagi." terang Mumtaz cepat pada Sisilia



" Bukan karena kamu peduli sama dia?"



" Enggaklah, itu juga syaratnya dia dan omnya gak gabung di sana. Cuma Jasmine yang aku izinin buat bantu beliau. Ini saran dari paman Aznan dan papi, suer." 


__ADS_1


" Beneran?"



" Sumpah."



" Gak karena dia?"



Mumtaz menggeleng," ingat dia aja juga enggak."



" Jleb.." celetuk Teguh.



" Lagian si Gladys ngomong sembarangan." Oceh Alfaska.



" Dih, kalau kalian gak percaya tanya sama semua orang yang di lantai ini, wong dia ngomong ke semuanya. Ditambah si Mumtaz dan Sisilia kalau jalan bukan kayak orang pacaran.



" Orang pacaran tuh kayak gimana?" Tanya Mumtaz bingung.



" Pegangan tangan."



" Ini." Mumtaz mengangkat tangan mereka yang sedang bergenggaman.



" Sambil jalan, rangkulan..."



" \*\*\*\*\*\*\*." Celetuk Andreas.



Mumtaz melempar kertas berbentuk bola kecil padanya " Lo pikir cewek gue apaan, lagian gue gak sebangsat Lo." Omel Mumtaz.



" Gue juga enggak..."



" Kemarin gue lihat Lo nempel sama si anak ekonomi di ujung lorong dekat toilet 2 fakultas ekonomi." Tuding Teguh.



" Itu cewek random yang udah lama ngejar gue, dia nyodorin diri, gue embat lah mumpung jomblo gue." Alibi Andreas.



" Kembali ke laptop, intinya karena kalian jarang terlihat mesra, dan si Riana bacot kemana-mana soal Lo yang udah balikin perusahaannya jadi mereka percaya sama omongan dia."



" Div, Lo umumin ke media kampus atau sosmed manapun. Gue cinta sama satu cewek dan itu Sisilia Pradapta, kalau ada yang ngaku, itu halu belaka. Awas kalau Lo gak sebarin gue abisin Lo!" Ancam Mumtaz yang langsung diangguki Divanya.



" Mum, sumpah gak ada kesempatan buat aku?



" RI, harus gue apain Lo supaya Lo kapok? Kudu gue bikin muka lo cacat permanen?" Riana kontan menggeleng.



" Kenapa kamu suka Sisilia yang gak pernah lalui apapun buat kamu?" ucap Riana marah.



" Dih, sok tahu." cibir Alfaska.



" Lia gak perlu buat apa-apa, dia udah kasih cintanya sama gue aja itu lebih dari cukup buat gue. Gue yang cinta banget sama dia."



" Aku cinta duluan sama kamu, dari maba aku cinta sama kamu."



" Kalau mau siapa duluan yang cinta, gue dari SMP, mau apa Lo?!" Tantang Sisilia jengkel melihat Riana.



" Sayang, tenang..." Mumtaz memegang lengan Sisilia.



Sisilia melepas pegangan itu," kakak gak terima aku menghardik dia .."



" Bukan, ini persoalan perasaan ngeyel dia sama aku, kamu itu ratu aku gak perlu kamu merendahkan diri untuk persoalan orang gak penting kayak dia, biar aku yang urus. Tugas aku menjaga kehormatan ratu hatiku."



Semua orang cengo mendengar gombalan Mumtaz yang pada detik selanjutnya semuanya berlagak muntah.



" MUMTAZ..." pekik Riana tidak terima Mumtaz bersikap lembut pada Sisilia.



Wajah Mumtaz seketika mengeras, dia berjalan menghampiri Riana, berdiri tegak di sana berhadapan langsung.



" Siapa Lo berani berteriak sama gue?"



" Mum..mum. maaf, a..aku...tidak..suka..."



" Berapa kali musti gue bilang gue gak peduli apa yang Lo rasa, ini peringatan terakhir, sekali lagi Lo ganggu hidup gue, gue abisin seluruh keluarga Lo dalam artian harfiah."



" Mum, *please* kasih aku kesempatan, aku yang rajin bikinin kamu makan, sesuatu yang tidak Sisilia lakukan untuk kamu." Tekan Riana.



" Memang Lia-ku tidak perlu melakukan itu, dia cukup ada di samping gue, itu segalanya untuk gue. Soal makanan, Romli dan yang lain yang makan, Lo pacaran aja sama dia, dia lagi butuh tukang masak buat ngisi perut gembulnha."



Air mata Riana terjatuh, dia merasa bukan lagi sakit tapi terhina, namun itu tidak menggugah perasaan Mumtaz yang sudah muak padanya.



" Mum..." Lirih Riana.



" Heuh, susah ya jadi laki, baik dikit cewek baper, gak baik dibilang cowok brengsek. Mau lo pada apa sih, cewek?" Jengah Alfaska.



Alfaska menarik Riana bergabung dengan Maura yang masih terduduk di lantai." Dengar, ini untuk seluruh perempuan di muka bumi ini.



" Cowok membantu kalian itu bukan karena dia naksir Lo, tapi kalian yang notabene makhluk lemah kita jadi tergugah buat bantu kalian.



" Cowok kalau naksir, pasti 'ngejar' Lo, meski Lo gak suka, dia ngabisin waktu sama Lo, dia mau direpotin sama Lo, intinya dia memberi waktu dan dirinya buat Lo, kalau cowok gak ngelakuin itu, berarti dia gak suka Lo, dia cuma baik sama Lo karena Lo makhluk hidup, gak lebih.



" Jadi Maura, Riana dan Lo juga Diva...." Tunjuknya pada Divanya, Divanya terhenyak waspada.



" Jangan dekati para sahabat gue dan ceweknya, Lo tahu gue gak segan nyakitin perempuan kalau Lo bersikap kurang ajar dan melewati batas, PAHAM! Mereka mengangguk patuh.



Ruangan hening, kalau sudah Alfaska yang bicara mereka enggan menginterupsi.



Tok ..tok....



Rika membuka pintu, dia terpana akan sosok yang berdiri di depan pintu. Rendy Wibowo datang dengan style formal ala pengusaha muda kemeja merah maroon yang bagian lengannya digulung sesiku, celana bahan hitam dan dasi bermotif garis perpaduan antara merah dan hitam.



Pun demikian dengan mahasiswi lainnya yang tertegun nganga melihat penampilan Rendy.



" Nama sama, tapi nasib beda, ya Ren." Gurau gladys pada Rendi.



" Ck, lihat 10 tahun lagi, gue juga bakal kayak gitu." Bisik Rendi.



" Dia udah jadi bos."



" Emang ya Lo ngeselin." Rendi menjitak pelan kepala Gladys yang terkikik menertawainya.



" Sorry, apa gue datang di waktu yang gak tepat?" Ujarnya seraya memandangi semuanya.



" Enggak, bahkan kamu datang amat sangat terlambat." Ujar anggota BEM perempuan.



" Ck, sorry. Kalian ada keluar dulu." Seru Daniel yang mulai jengah dengan pandangan teman BEM-nya yang melihat Rendy bagai makanan hotel berbintang 5.



Ragad membuka pintu ruangan, satu persatu keluar dari sana." Lo tetap di situ." Bara berujar pada Maura yang hendak berdiri.



" Ini kalau makanan datang, siapa yang bayar? Kita pesan banyak banget Lho." Ucap Romli.



Semuanya melihat Bara." Ck, gak bisa ditalangin dulu napa." Meski demikian Bara mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribuan.



" Kalau ada yang se-sultan Lo di sini, kita gak ambil pusing soal makan." Balas Romli.



" Jadi duafa bangga." Cibir Alfaska.



" Ck, untung kalian para konglomerat baik, jadi sejulid apapun kalian pada, gue mah sabar sampe ke liver gue."Romli mengusap dada sambil berjalan keluar.



Kini atmosfer ruangan meningkat drastis, apalagi dengan kehadiran Rendy yang menatap tajam Maura....


__ADS_1


 


__ADS_2