Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
206.Mencoba Memegang Kendali.


__ADS_3

Matahari baru lah terbit namun lantai satu rumah Aida sudah hiruk pikuk dengan banyak kegiatan dari banyak orang.


Sisilia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dikusak pakai handuk kecil. Bola mata hijau safirnya menyapa tubuh tegak kekasihnya yang berbalut kaos oblong hitam dimasukan ke dalam jeans hitamnya.


Mengamati Mumtaz berdiri di balkon yang memunggunginya dengan tangan dimasukan dalam saku celana sedang menelpon dimana aura gelap menyelimutinya.


" Kalau anda tidak menggubris keinginan saya, saya akan membuat anda terseret dalam kasus yang menimpa Andre, untuk membuktikan saya tidak gertak sambal dengan senang hati saya kirimkan satu bukti pada anda. Saya tutup telponnya."


Mumtaz mengetik sesuatu, setelahnya senyum smirk menakutkan menghiasi bibirnya.


Mumtaz sangat membenci kejadian ini, sungguh peristiwa yang menimpa Ergi sangat menggangu rencananya. Awalnya dia hanya menargetkan Navarro dan masa bodo dengan rekanan lelaki itu di masa lalu, tetapi penculikan keempat para adiknya dan kejadian Ergi, mengharuskannya bertindak ekstrim, mulai saat ini dia akan mengabaikan etika dan nama baik.


Mumtaz terjengkit kaget saat dua tangan mengalungi pinggangnya, tangan yang kecil yang putih halus, tangan favoritnya setelah tangan mama, Zahra dan Tia.


" Dari sejak datang Kakak gak lepas dari hp, apa segitu gentingnya?" Tanya Sisilia menopangkan dagunya di bahu Mumtaz.


" Jangan bilang kamu cemburu sama hp seperti gadis alay yang lain." Mumtaz mengusap punggung tangan yang membelitnya.


" Ck, mana ada, kamu pikir aku Ayu."


Wajah Mumtaz menengadah sedikit lalu bergidik ngeri.


" Kenapa?"


" Lagi ngebayangin aku pacaran sama modelan Ayu yang manja, cerewet, baperan, dan sekarang ditambah galak. Ya ampun aku yakin setiap harinya 10 helai rambutku berubah menjadi uban secara instan."


Suara dibelakangnya terdengar terkikik horor di telinga Mumtaz. " Kamu ketawanya jangan gitu, nakutin banget tahu. Puas banget kayaknya."


" Banget."


" Kak, aku bukannya ragu tapi..." Ada sedikit kebimbangan dari Sisilia


" Tanyakan saja." Kata Mumtaz


" Apa perasaan untuk kak Bella benar-benar udah gak ada?"


Mumtaz melepas ikatan tangan sisilia di pinggangnya, berbalik lalu mengusap kedua pundak Sisilia.


" Kenapa tiba-tiba nanya itu? Apa ada sikap ku yang menyinggungku?" Sisilia menggeleng.


" Terus terang cara aku mencintai seseorang belajar banyak dari almarhum ayah dan mama.


" Mereka dua insan yang sangat berbeda karakter, kami para anak sering bertanya kenapa ayah bertahan sama mama pun sebaliknya.


" Dari ayah aku mendapat pembelajaran bertanggung jawab terhadap orang yang sudah aku pilih meski dia tidak sebaik yang aku kira sampai di titik aku siap melepasnya.


"Itulah mengapa aku masih bertahan dengan Bella meski seluruh sekolah tidak menyukai perilakunya terhadap ku. Saat aku melepaskannya, saat itu pula aku menuntaskan rasaku. Aku gak mau menghabiskan waktu galau apalagi menyesal hingga terjebak dengan masa lalu hingga mengabaikan masa depan.


" Dari mama aku belajar bersabar, saat mereka ribut, mama tidak pernah mengendorkan kewajibannya melayani ayah hingga ayah malu sendiri. Itulah mengapa aku menerima semua perilaku Bella sampai aku berpikir tidak ada lagi yang harus ditolerir.


" Ketika aku melepaskannya, saat itu mindset ku tentangnya hanya teman satu sekolah, aku gak akan bersikap konyol menjadikannya orang asing yang gak aku kenal, karena bersamanya aku mendapat hikmah."


" Aku beribu kali mengatakan mencintaimu, apa kamu masih menyangsikannya?" Sisilia menggeleng.


" Aku...well, tembok yang kokoh tetap akan boong kalau terus mendapat pukulan dari benda berat." Sisilia berharap Mumtaz memahami perumpamaan tersebut.


" Dan kamu pikir aku akan goyah ketika Bella terus menerus mendekatiku." Sisilia mengangguk.


" Saat berpacaran dulu, sikap kasarnya memang aku terima, tapi bukan berarti aku gak sakit hati. Sakit hati yang terus menerus akan melahirkan kekecewaan yang berakhir ketidak respect-kan.


" Aku menemukanmu yang sangat mencintai dan mengerti aku, tol*l sekali aku kalau aku melepaskan mu demi wanita lain yang belum tentu teruji sepertimu."


" Kalau wanita itu lebih cantik?"


" Aku sadar diri aku gak ganteng-ganteng amat"


" Siapa bilang?"


" Aku, disekeliling aku ada Bara, Daniel, Akbar, Rio, walau males ngakuinnya ada Alfa juga.


" Gak tahu diri sekali aku menyia-nyiakan spek bidadari kayak kamu. Aku tahu banyak orang di fakultas kamu yang deketin kamu. Makanya aku jaga hati aku buat kamu. Hanya kamu sampai kamu bosen dan gak mau sama aku."


" Gak bakalan."


Mumtaz memeluk Sisilia, mengecup pucuk kepalanya.


" Makasih atas segala perasaan kamu untukku. Aku sangat menghormatinya." Ucap Mumtaz sungguh-sungguh.


" Sama-sama. Sekarang kita makan. Dari tadi sarapannya belum juga dimakan."


Mereka beranjak duduk ke sofa, " Hari ini aku bakal sibuk banget, kamu di sini saja, untuk makan dan minum tinggal hubungi bang Jeno.


" Selain gempa, apapun yang terjadi jangan keluar kamar." Ucap Mumtaz disela suapan nasi uduknya.


" Iya, paham." jawab Sisilia.


" Kuliah aku gimana?" Tanya Sisilia 


" Online, seperti biasa. Bara udah menghubungi rektor, dan meminta rektor untuk merahasiakan tentang kalian."


" Gak bisa dikawal aja gitu?"


Sisilia disuapi Mumtaz seraya menggeleng." Kami sengaja memutuskan kalian ceritanya sudah meninggal agar lawan tidak terus mengincar kalian apalagi Tia sedang hamil, no way."


Tok__tok___


" Masuk." Undang Mumtaz.


Ibnu membuka pintu lalu bersandar pada daun pintu." Apa gue harus ikut sama Lo?"


" Iya, Lo udah sarapan?" 


" Udah, tapi gue nganter Ayu dulu."


Kunyahan Mumtaz berhenti, dia menatap dalam Ibnu yang menghela nafas berat.


" Gue bareng Zayin dan yang lain." Ucapnya terseret.


" Oh, silakan."


" Iye..." Jawab Ibnu sedikit meninggi sebelum menutup pintu.


Sisilia mengangkat alisnya bertanya." Lagi pms dia." Mendapat jawaban ngawur kekasihnya Sisilia berdecak.


" AYUUU..." teriak Zayin dari bawah tangga.


Mumtaz menuruni tangga sambil menyampirkan jasnya di pundak.


" Kenapa harus teriak sih, dek."


" Si Ayu lelet banget, A."


" Aa Inu mana?" tanya Mumtaz.


" Gak tahu. AYUUU...."


" Iya..iya galak amat sih." Ayu berlari kecil menuruni tangga, mencium punggung tangan Mumtaz, dan yang lainnya eetelahnya berlari keluar seblum mendapat Omelan panjang dari Kakak termudanya itu.


" Lo, kalau bukan anak orang udah gue giling jadi daging cincang Lo." Gerutu Zayin.


" Dek.." tegur Mumtaz.

__ADS_1


" Abis sumpah leletnya kayak siput."


" Kalau gak lelet bukan Ayu namanya." Sabut Daniel.


" Siapa dong?" Timpal Alfaska.


" Siti." Celetuk Daniel yang mendapat sambutan tawa dari yang lain.


" Yud, bilang ke RI1, kita ubah tempat pertemuan ke cafe d'lima. Sekalian konfirmasi ke bang Erwin." Ucap Mumtaz ke Yuda 


" Pasti mereka marah."


" Peduli amat gue."


" Yin, pastiin hp Lo gak mati. Aa vidcall Lo."


" Hmm, Kami berangkat."


" Muy, para ketua BEM datang bareng Ama Lo apa gimana?" Tanya Yuda yang sedang sarapan bareng bersama anak RaHasiYa di rumah makan.


" Duluan aja, gue takutnya terlambat. Ada urusan dulu."


" No, pastiin keadaan sekitar aman, sekarang kita berurusan sama dedengkotnya. Romli Lo pastikan kak Ala selamat di tempat tujuannya.


" Jangan khawatirkan apapun di sini." jawab Jeno.


*****


Alfred menggeram karena lagi-lagi rencananya gagal." padahal menghabisi Ergi bukanlah perkara sulit tapi si tua bangka itu tidak mampu." Monolognya yang diucapkan penuh amarah.


" Matundo, apakah semuanya sudah siap?"


" Apa yang sudah siap, tuan?" Tanya balik Matendo, dia paham tapi dia akan berlagak bodoh di depan orang sok berkuasa ini.


" 1d1ot, tentu saja para pasukannya, hal ini saja kau tidak nyambung."


" Tuan, itu tugas tuan Mateo."


Alfred menatap nyalang Matunda yang berani membantahnya." kau pembangkang."


" Itulah saya, tapi siapa yang akan mengurus Anda? Hidup anda tergantung pada obat selain Mateo hanya saya yang bisa meracik obat tersebut dan membalut perban di tubuh anda itu."


"Ma-tun-da..." Bentak alfred kencang. Suhu tubuh Alfred meninggi holter monitor yang merekam ritme jantung berbunyi, dada Alfred sesak, bunyi monitor itu makin nyaring lampunya berwarna merah yang menandakan kondisi Alfred yang tidak baik-baik saja.


Matunda, walau berat hati dia memasukan cairan berupa obat penenang pada infus Alfred untuk menormalkan kembali suhu tubuh Alfred atau alfred habis masa hidupnya yang tidak boleh terjadi saat ini.


" Lihatlah tuan, anda memang tidak berdaya, saya memang salut anda masih berpikir bisa membalikan keadaan, tapi semuanya memang sudah tidak bisa diperbaiki. Anda di negara asing terbaring bergantung pada alat medis. Saya punya hutang budi padamu, maka itu saya peduli pada anda, saya sarankan kita pulang. Negara ini terlalu besar untuk anda taklukan.


" Hentikan ocehanmu. Mending kau hubungi ketua."


" Halo ketu4. Sebaiknya kau singkirkan Toni segera atau karir mu tamat."


" Tidak perlu kau ajari aku untuk melakukannya, tapi kau belum mengirim uang yang kau janjikan padaku."


Tangan Alfred mengepal, " sial di situasi seperti ini bajingan ini masih bisa berpikir tentang uang." Alfred membathin.


" Saya akan kirim, kau singkirkan dia "


"Kirimkan uang itu, baru saya singkirkan Toni. Ingat hanya saya gerbang terakhir anda menguasai negeri ini. Sudah tidak ada lagi yang mau melakukannya keadaannya tidak menguntungkan."


" Baik, saya kirim. Dan kalau aku gagal, nyawa keluargamu yang akan habis."


Klik...."


" Matunda transfer dana  sebesar 20 milyar pada ketua."


" Baik, tuan." Berjalan ke mejanya yang mana komputernya sudah menyala, dia melakukan m-banking untuk mentransfer.


" Apa? Bagaimana bisa?"


" Tuan Valentino melakukan transfer besar-besaran pada  nomor rekening asing yang menghabiskan 90% dana anda." Ucap Matunda dengan seringai dingin menyertainya.


******


Wanita s3xy itu beranjak ke kamar mandi setelah memposting foto selfy-nya dengan wajah Toni yang ditutupi icon tawa. Ia turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi.


Wanita itu keluar dari suite tersebut yang sudah ditunggui oleh Andros kawan-kawan.


" Kak, ikut gue?" Pinta Andros mengulurkan tangannya dan memanfaatkan wajah gantengnya untuk menjerat wanita itu.


Wanita itu terdiam sejenak sebelum menyambut uluran tangan Andros." Kemana?" 


" Have fun."


" Gak sekolah?"


" Gampang itu mah."


" Tahu siapa saya?"


" Wanita cantik nan mempesona hatiku sejak semalam." Ucap Andros diakhiri kedipan menggoda satu matanya.


 


Para kawannya memutar bola mata malas, dan mencibir wanita itu yang percaya akan gombalan Andromeda.


" Hehehe____"


Di parkiran basement hotel, sudah ada Van hitam yang menanti mereka. Setelah memasukan wanita itu ke mobil, Andromeda segera menutup  pintu mobil yang langsung jalan tanpa menghiraukan teriakan wanita yang baru saja mereka bawa.


" Cctv, aman?" Tanya Andromeda ke orang di seberang sambungan earphone-nya.


" Aman. Lo langsung ke sekolah supaya ada alibi."


" Hmm."


Tiga remaja itu masuk ke mobil Brio merah meninggalkan area hotel. Begitu Brio itu tidak lagi nampak di jarak tangkap cctv, seorang pemuda menutup laptopnya ditengah kebisingan canda teman sekelasnya.


" Do, Mabar, yok." Ajak temannya yang sudah berkumpul dipojokan.


" Males."


" Ck, siniin hp Lo, sayang kuota Lo nganggur." Teman berambut jabrik menengadahkan tangan padanya.


" Bilang  aja Lo lagi kere." Nando memberikan ponselnya.


" Do, gue gak tahu ada apa sama Lo, tapi gue suka Lo yang lebih terbuka dan santai gini daripada yang dulu yang murung dan diam terus. Keep it, bro." Temannya itu menepuk bahu Nando sebelum bergabung dengan yang lain.


Nando tersenyum tipis menanggapinya." Gue gak punya lagi alasan untuk bersedih, orang itu telah lenyap. Keluarganya sudah menderita seperti menderitanya keluarga gue." Monolog Nando pelan.


Matanya melihat seedaran ruang kelasnya menatap pada teman-teman sekelasnya yang entah bagaimana tidak ada pergantian siswa berarti, dia yakin Mumtaz dan Adgar yang mengatur ini. 


Dia yang sulit berteman karena dirundung dendam, tanpa sengaja mengasingkan diri, namun sejak pertengahan kelas 10 dan bertemu dengan beberapa orang yanh pantang menyerah merecokinya dengan menyontek pr, memaksa kerja kelompok, bahkan bolos setelah selalu diketusi olehnya.


*****


Ibnu yang berkemeja coksu distel dengan celana bahan hitam menambah kesan manisnya. Sedangkan Zayin masih setia dengan kemeja flanel dan kaos gelapnya dibalut jaket kulit. turun menggeleng kepala melihat Ayunda cemberut.


Zayin yang langsung menuju ruang yayasan meninggalkan Ibnu dan Ayunda berjalan berdampingan ke kelas Ayunda di ikuti Bayu dan William.


" Ibnu." Mereka menoleh ke arah suara di belakangnya, raut Ayunda seketika mengeruh saat Mela dengan anggunnya berlari kecil ke arah mereka.

__ADS_1


Tak punya malu dan bersikap sok akrab Mela memegang lengan Ibnu yang segera ditepis olehnya, Ibnu menggenggam tangan Ayunda yang hendak berbalik pergi.


" Ada apa?" Ibnu tampak biasa saja.


" Ee...h enggak. Itu...aku cuma mau nyapa kita udah lama enggak ketemu."


" Apa Lo sekarang juga bawa kamera?" Mela terhenyak akan sikap dingin Ibnu.


Air muka Mela menurun sendu," Nu,__maaf. Aku gak maksud___"


" Kalau udah nyapa mau ngapain?" 


Mela salah tingkah, dia menyesal menyapa, namun ia urung patah semangat." Nu, apa mesti kamu dingin begini? Apapun kesalahanku kita tidak bisa melupakan kalau kita pernah dekat. Mungkin saat ini kita sudah bersama kalau  dia tidak menggangu pendekatan kita." Mela melirik Ayunda yang bersikap acuh padanya.


Ibnu tersenyum miring menanggapinya." Kita yang dulu asing banget, tiba-tiba gue deketin lo, padahal Lo gak ada bagus-bagusnya. Lo gak pernah bertanya kenapa?"


Mela membelalak, ia sungguh tidak menyangka Ibnu yang kalem bisa sejahat ini perkataannya." Nu, kamu kenapa?"


Ibnu menghembuskan nafasnya malas. Ia harus berterus terang pada teman SMA-nya ini.


" Mel, gue tahu Lo suka Mumtaz, Lo deketin Bella berharap bisa berdekatan dengannya, tapi Bella yang tinggi hati enggan semua di kantin dengan orang yang berpredikat pacarnya itu hingga kesempatan Lo lebih dekat dengannya gagal.


" Gue gak suka Bella, tapi gue lebih gak suka orang yang akan membuat Mumtaz gak nyaman. Makanya gue deketin lo, Lo menyenangkan, tapi sifat manipulatif Lo yang bikin gue gak respect sama Lo. Upaya pencegahan Ayu akan kedekatan kita itu gue jadiin anugerah. Gue gak mesti susah-susah buat jauhin Lo." Ungkap Ibnu yang sebenarnya, sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun yang berhasil membuat Mela mundur beberapa langkah saking terkejutnya.


" Jadi Lo tahu perasaan aku, kamu bilang aku manipulatif, bagaimana dengan kamu? Aku sudah mulai suka kamu." Lirih Mela berdrama.


Ucapan yang menyimpan kesakitan itu menarik perhatian murid yang hendak melewati koridor itu.


" Jangan berdrama, Lo gak suka gue, Lo cuma ingin identitas di mata orang yang merupakan luka akibat kekecewaan yang Lo dapati dari ibu Lo."


Mela sekali lagi terperanjat kaget." Lo juga tahu itu?"


" Gue pasti cari tahu setiap orang yang hendak mendekati orang-orang yang dekat dengan gue. Btw, Mumtaz juga tahu, dan Lo pasti tahu kalau dia bisa kejam terhadap perempuan. Jangan lupakan apa yang terjadi pada Tanura dan Genk saat SMA dulu."


" Lo nyapa gue, bukan karena Lo peduli sama gue, tapi Lo mau bikin Ayu marah dan ragu sama gue hingga Ayu insecure dan menjauhi gue." Tuding Ibnu frontal.


" Aku?" Ayunda menunjuk dirinya sendiri.


" Iya, kamu dekat dengan Zayin, dia itu terobsesi ingin terkenal dengan cogan."


" HAH?  Serius? Badan krempeng, muka pas-pasan gini?" Timpal Ayunda tanpa hati.


Mela yang merasa dihina menatap nyalang Ayunda. Secepat kilat Mela berjalan dengan dua langkah lebar kemudian  mengangkat tangan hendak menampar, Ayunda sudah memejam mata erat, Ibnu sudah memeluknya menawarkan punggungnya untuk dipukul Mela namun pukulan itu tidak juga datang.


Ternyata tangan itu jatuh dalam cekalan keras tangan besar Zayin, Mela meringis kesakitan ia merasa tulang tangannya bakal retak.


" Yin." Lirihan itu terdengar manja.


" Baru dengan apa gue bikin Lo jera, apa yang gue kasih ke kalian berdua belum juga cukup?" Ucap Zayin merujuk pada Mela dan Jessica yang ternyata masih mengganggu Ayunda.


Remasan di tangan Mela semakin mengencang para murid yang melihat Mela meringis ikut pula meringis karena ngilu.


" Bang, anter Ayu ke kelas, gue urus yang ini." Kata Zayin yang matanya masih menatap lurus Mela.


Ibnu menarik pelan tangan Ayunda, mereka melanjutkan berjalan ke kelas Ayunda.


Adgar berdiri di belakang Zayin hanya bisa menyaksikan satu stafnya ditangani sahabatnya itu.


" Gar, gue bawa dia dulu." Zayin menarik paksa Mela menuju gudang, di sana Mela merasakan kekejaman Zayin, pergelangan tangannya rusak parah setelah dengan tanpa hati Zayin meremukan pergelangan tangan Mela mengabaikan permohonan ampunan dari Mela diiringi tangisan dan pekikan yang memenuhi gudang tersebut.


Brak...


" Kenapa Lo gak jemput gue?" Tanya Ayunda sok berkuasa pada Nando yang sedang mengobrol dengan ean sebangkunya.


" Bang Ayin yang mau nganter Lo."


" Cih, gadis bergilir. Ups, apa Lo masih gadis?" Sindir Jessica dengan tampang menyebalkan.


Ayunda menghela nafas berat merasa lelah, tadi Mela sekarang Jessica, duo sepupu yang menyebalkan.


" Serius Lo masih mau berurusan sama gue, Jess? Si Mela tadi baru dibawa Aa Ayin." Murid yang sudah ada di kelas menghentikan kegiatannya, atensi mereka melihat dua remaja yang tidak pernah akur.


" Terus?" Tantang Jessica, dia pikir Zayin pasti sudah pulang.


" Mau Lo gue bikin Lo belajar di pintu kelas?"


" Kuasa orang tua masih bangga Lo?"


" Ngaca, Lo dulu juga make kekuasaan orang tua buat bully orang. Ups dulu, sekarang udah bangkrut Lo ya. Gue dengar kakak tiri yang gak ngakuin Lo karena Lo anak haram itu bekerja sama dengan kakak gue, makin jaya dia setelah kegagalan nyokap bokap Lo ambil harta nyokapnya. Btw, dimana nyokap Lo sekarang? Pastinya lagi ngelont3." 


" Hahahaha,____" seisi kelas tergelak puas mendengarnya.


" Jess, sudahlah emang Ayu lebih di atas segalanya dibanding Lo jadi gak heran gue kalau Andros lebih suka dia ketimbang Lo. Tapi kan Andros gak pernah mandang Lo." Ejek teman sekelasnya.


Suasana kelas heboh kembali, selama satu tahun kemarin setiap hari Jessica selalu mempermalukan orang-orang yang dia pilih secara random karena kegabutannya, dia merasa punya bekingan yaitu kepala sekolah yang saat ini sudah dicebloskan ke penjara karena kasus korupsi.


Tanpa mereka sadari Zayin sudah bersandar di pintu memperhatikannya membiarkan Ayunda bertindak.


Marah karena hari ini dia kalah lagi berdebat dengan Ayunda, Jessica berbalik hendak keluar kelas, namun urung tubuhnya membeku karena kehadiran Zayin, wajahnya memucat. Ia merutuki dirinya yang tidak pernah jera mengganggu Ayunda karena rasa dengkinya.


" Lo, ikut gue." Telunjuk Zayin menunjuk lurus Jessica


Anak BIBA segera menggiring Jessica yang tiba-tiba merasa kakinya kaku digerakkan. 


" Lo pikir suhu, ternyata cupu."


" Udah tahu pawang-nya ganas masih aja cari masalah, waras Lo?" 


" Emang kudu di azab kontan sih baru otaknya nyambung."


Ejekan dan cibiran terus dilontarkan sepanjang Jessica meninggalkan kelas.


Namun keributan kelas tidak mengganggu atensi Nando dari memperhatikan Ayunda.


" Napa Lo ngeliatin gue segitunya? Demen Lo sama gue?" Tuding Ayunda yang mendapat cebikan malas dari Nando.


" Sini, gue bisikin." Tangan Nando bergerak mengundang.


Ayunda memberi telinganya di dan Nando." Kakak Lo dan yang lain tahu c1vm4n sama bang Ibnu." Ayunda menganga, refleks dia menjitak keras kepala Nando karena terkejut dicampur takut.


" Aawwws, Yu." Omel Nando mengusap kepalanya yang sakit.


" Lo serius?" Nando mengangguk.


" Bayangin kalau bang Ayin tahu____"


" Jangan horor deh." Ayunda membayangkannya saja tidak berani.


" Ya Lo, masih itik udah berani begituan." Ledek Nando yang menikmati ketakutan Ayunda.


Siapapun yang mengenal keluarga Romli mereka tahu terlepas ketegaannya melakukan kekerasan terhadap perempuan, betapa Zayin sangat melindungi kehormatan perempuan, khususnya perempuan yang dia lindungi.


" Kalau dia tahu, itu dari Lo, awas Lo."


" Gak bisa gitu, bang Afa juga tahu, Lo tahu sendiri betapa lemesnya mulut Abang Lo itu." Protes Nando.


Ayunda menggigit kukunya karena panik," iya juga ya. Gimana dong."


Ayunda berjalan ke bangkunya, ia mengacak rambutnya frustasi yang mendapat kikikan usil dari Nando....


.

__ADS_1


__ADS_2