Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 55. Penegasan


__ADS_3

" Mum, ini sih keren banget." Ujar Fatih yang sedang melihat beberapa maket property milik Mumtaz di suatu ruangan bernama Studio Arsitektur.


" Ini yang terbaru, gue bikin ini setelah mensurvei beberapa perumahan di Indonesia, dan dampak pada lingkungan sekitarnya." Ujar Mumtaz menunjuk sebuah maket rumah mewah dengan hamparan rumput dan beberapa pohon besar.


" Gue paling malas menyebut judul tema, jadi untuk sementara gue menamai H2O house, karena rumah ini dibangun di atas tanah yang padat dan tidak terlalu banyak sumber air, tatapi kita bisa memelihara tanah menjadi subur dengan perputaran penggunaan air."


Fatih meneliti bentuk rumah ini yang memiliki banyak lubang dalam Paralon yang hampir mengelilingi seluruh rumah tersebut.


" Ini memang harus menggunakan paralon?"


" Tidak harus, kalau Lo punya opsi yang lebih baik atau lebih murah, kenapa enggak diganti."


" Lubang-lubang ini buat apa?"


" Ya buat menjatuhkan air ke tanah secara merata,intinya dari tanah, oleh tanah, untuk tanah. Gue berharap rumah yang dibangun tidak menghasilkan banjir bagi masyarakat sekitar, karenanya kita harus bikin 'rumah' bagi air dihunian kita. Kita bisa memelihara air tanah sehingga daratan tidak makin turun."


" Lo ada 3D-nya?"


" Tentu. Lo pelajari, sudah paham, Lo pamerin."


" Asli sih, ini pasti lolos. Gue yakin belum ada yang sampai mikir sedemikian jauh kayak Lo."


" Kita berharap saja. Tadinya gue harap gue bisa bangun rumah ini di Indonesia, tapi kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih rendah, jadi ya..,dimana aja juga jadi."


" Ini gue bawa ya."


" Bawa aja." Fatih mengikuti Mumtaz keluar menuju rumah sambil membawa maket rumah H2O.


" Loh, ini siapa, A?" Tanya mama ya sibuk memilah kain seragam.


" Teman satu fakultas, namanya Fatih."


" Gitu dong bawa yang baru. Teman kamu dari dulu itu mulu rada bosen mama." Mumtaz terkekeh.


" Lumayan dapat pembantu gratisan juga." mama terkikik mendengar itu.


" Ini mau kemana lagi?"


" Balik kampus, ma."


" Kalau begitu mama nitip kain-kain ini buat para sahabat Tia. Mamanya Lia diundang gak?"


" Undang deh kayaknya, Tia kan udah dekat sama keluarga Lia."


" Kalau begitu tambah nitip buat Tante Julia dan Tante Elena." mama menyodorkan beberapa papperbag ke Mumtaz.


" Bilang, seragam lelakinya menyusul."


"Iya, Tih, numpang di mobil Lo ya."


" Masukin aja, entar gue bantu. Gue simpan ini dulu." Fatih melangkah keluar rumah.


"A, uang yang kepakai buat nikahan Tia banyak banget loh kalau diresepsiin mewah."


" Gak perlu khawatir, kartu yang di mama gak bakalan habis kok meski mama cuma pakai satu kartu doang."


" Duit kamu banyak banget ya?"


" Ma, Aa udah ngumpulin dari empat tahun lalu. Mama cuma pakai buat belanja rumah yang gak seberapa itu duit udah kayak gunung kalau di cash-in, percaya sama Aa. Mama hanya Perlu doa,kan Aa biar luas rezekinya, dan lancar segala urusannya."


"Amiiinn."


" Maaf, tante. Apa cuma ini?" Tanya Fatih yang membawa papperbag-papperbag tersebut."


" Oh iya hanya itu, maaf merepotkan. Kamu bukannya bawa malah dibawain sama orang lain." mama mamukul pelan pundak Mumtaz


" Santai aja, ma." Mama dan Mumtaz ke teras rumah.


" Aa berangkat dulu." Mumtaz dan Fatih mencium tangan mama


" Assalamu'alaikum."


"Wa, alaikumsalam."


****


" Terimakasih kalian mau datang atas undangan kami. Kami mau mengumumkan sesuatu." Ucap Tia ke semua para sahabat


Para sahabat lelaki dan perempuan saling baru pandang bingung. Mereka dikumpulkan di basecamp atas undangan resmi Tia dan Jimmy bahkan mereka disuguhi pizza dan minuman.


" Kalian batal nikah?" Ucap Raja.


Pletak!!!


Jitakan keras di kepala Raja dari Jimmy yang berdiri di dekatnya.


Tia dengan sabar tersenyum " InsyaAllah pernikahannya jadi, yang batal hanya resepsi mewahnya."


" Kenapa? Jadi Lo benaran bangkrut bang, gara-gara belanjaan kita!?" Ujar Dista yang mendapat tatapan jengah Jimmy.


" Bukan, gue masih konglomerat, Ta. Tapi gara-gara mami gak setujui kita, jadi mau bebeb yang baik hati dan lemah lembut ini hanya ingin resepsi sederhana yang dihadiri keluarga dan kolega saja."


Mereka terdiam tidak tahu harus merespon bagaimana.


" Cuih, sok ngartis." cibir Daniel. 


" Ya udah yang penting sah, masalah resepsi kalau Jimmy balik modal." Celetuk Radit.


"  Iya benar. Gue udah dapat kain seragamnya, gue bakal bikin baju sexy." Ucap Amanda


" Cih, badan datar kayak triplek juga sexy dimana nya." Ledek Juan. Dan terus ocehan antar sahabat bergulir sambil memakan hidangan kecuali Mumtaz dan Zayin yang menatap Tia dengan nanar.


Mumtaz merangkul pundak Zayin yang wajahnya sudah memerah menahan amarah." Kita hanya bisa mendukungnya, Jika Tia sudah menyerah baru ambil tindakan." Bisik Mumtaz, Zayin mengangguk mantap, dan bergabung dengan yang lain.


Ting!!!


Notifikasi pesan dari seseorang, Mumtaz membuka aplikasi pesan


" Jika kalian ada waktu saya malam ini akan berkunjung ke RaHasiYa."


" Tentu, dengan senang hati kami menyambut Anda." Mumtaz memasukan ponselnya ke saku celana.



" Baiklah ini hari terakhir inpeksi lapangan, saya harap kalian bikin laporan secara detil agar pembangunan stand tidak terganggu. Terima kasih atas kerja samanya, Rapat bubar." Pungkas Yuda.



" Sisilia, kita shalat dulu baru pulang." Mumtaz membantu Sisilia membawa papperbag dari mamanya.



" Aku dan yang lain malam ini menginap di rumah kakak."



Mumtaz sekilas melirik Tia yang tertawa dipaksakan dengan anggota BEM lainnya. Mumtaz yang sudah berdiri kembali duduk.



" Udah ijin mommy?"



" Udah."



" Papperbag kamu aku titipin ke kak Domin aja ya kami mau ketemuan di kantor." Sisilia mengangguk



" Muy, kumpul di RaHasiYa kata Jimmy." Ucap Ibnu menghampiri mereka.



" Kenapa dia gak wa gue langsung?" 

__ADS_1



" Lo tahu siapa Jimmy. Lo aja yang negur, gue ogah jadi perantara." Ibnu bergegas keluar.



" Pakai jaketnya." Mumtaz menyematkan jaket ke Sisilia.


" Kamu?"


" Aku pakai ini." Tunjuk Mumtaz ke Hoodie-nya.


" Lain kali bawa jaket atau apa buat pakaian luar, dingin."Mumtaz memasangkan risleting jaket.


" Mumtaz, anter aku pulang ya." Pinta Riana yang berlari mendekat ke Mumtaz tanpa rasa malu dan sungkan


Beberapa pasang mata yang berada diparkiran menatap Riana tak percaya yang berani meminta Mumtaz mengantarnya saat ada Sisilia.


"Enggak, Lo jangan pernah minta bantuan gue buat anter Lo lagi. Gue yakin teman Lo ada di depan sekarang." Ucap Mumtaz sambil memakaikan helm ke Sisilia.


Riana mengepalkan tangan mendengar penolakan gamblang Mumtaz


" Itu helm baru?"


" Iya, cewek gue gak mau pakai helm bekas orang lain."


" Udah rapih. Jangan lupa tasnya" ujar lembut Mumtaz sambil menggantung papa Papperbag Sisilia.


Riana menahan geram.


" Helm yang lamanya, mana?"


" Dibuang lah, ngapain di simpen. Ayo naik." Mumtaz membantu Sisilia naik ke motor dan meletakan tangan Sisilia di pinggangnya, dan menggenggamnya sesaat sebelum menstarter motornya.


" Pegangan, kan dingin." Ucap Mumtaz keras cukup di dengar oleh orang-orang yang berada diparkiran. Mereka meninggalkan parkiran kampus.


Meninggalkan Riana dengan wajah memerah menahan amarah dan tangan terkepal erat hingga memutih.


" Sok pamer." Cibir Romli. yang mendapat tertawaan dari yang lain.


" Apa gue bilang, Mumtaz itu setia, dan gak akan segan bersikap kasar. Ini mending masih pake omongan jangan sampai kekerasan yang Lo dapat. Lo kalau masih punya sedikit moral mending mundur." Ujar Rida.


Riana menatap Rida nyalang dan meninggalkan parkiran kampus menuju sebuah mobil Inova hitam.


****


Di ruangan Mumtaz, mereka berlima berkumpul dengan Jimmy duduk bersimpuh di hadapan Mumtaz yang duduk di sofa single


" Maaf, aku tahu kamu sudah mendapatkan rekaman video pertemuan mami dengan Tia. Maaf, membiarkan mami menghina mama dan Tia."


Ya, memang seusai berkumpul di basecamp Erwin ngirim rekaman video pertemuan mami dengan Tia. Katakanlah Erwin pengecut, tapi Erwin tidak mau berurusan secara personal dengan Mumtaz dan keluarganya yang akan beresiko negatif bagi usahanya.


" Apa kamu bersekongkol dengan mami?" Jimmy menggeleng tegas


" Jadi kenapa kamu meminta maaf kepadaku?" Tanya Mumtaz.


" Disebabkan aku, mama dan Tia dihina oleh mami, kehormatan perempuan-perempuan yang seharusnya aku lindungi, dan aku gagal." Jimmy menunduk penuh penyesalan.


Mumtaz menutup mata menahan gejolak amarah kala mengingat video itu.


" Jim, mungkin suatu hari kita akan ada di pihak yang bersebrangan jika mami masih menghina mama, mengingat dalam tubuhmu mengalir darahnya." ucap Mumtaz sendu.


" Kami, yang orang biasa hanya punya harga diri untuk tetap menengadahkan kepala berdiri sejajar diantara kalian yang memiliki nama besar, uang, dan kekuasaan. Jadi jika ada yang menghina, sulit bagi kami memakluminya." tekan Mumtaz


" please, jangan ada kata 'kami' dan ' kalian' diantara kita, itu berasa bahwa kita orang asing aku gak suka. Kau tahu arti mama dan Tia bagiku sama berartinya denganmu dan Zayin." lirih Jimmy.


" Berdirilah, kau masih di samping Tia dan menyayanginya itu cukup bagiku sebagai kakaknya. Pastikan ini terakhir kalinya Tia dihina, jika kau tidak mampu melindunginya, kembalikan padaku." Ucap tegas Mumtaz


Jimmy makin menunduk " apa kau sanggup dengan syarat ku?"


Tidak ada pilihan untuknya, Jimmy menyadari itu, Jimmy mengangguk mantap " tentu, aku sanggup." Tegasnya.


Bara dan siapapun di ruangan itu tidak mampu menginterupsi Jimmy dan Mumtaz, faktanya hinaan mami terhadap mama dan Tia menyakiti mereka semua.


" Permisi, apa kami mengganggu kalian?" Tanya kak Dominiaz berdiri bersama om Hito dan Akbar di ambang pintu.


" Kalian sedang apa? Tanya Akbar melihat pemandangan dihadapannya.


" Kami lagi latihan teater kolosal Angling dharma, masuk sini." Jawab ngasal Daniel.


Jimmy berdiri dan duduk di sofa dengan gaya elegan ala autokrat yang membuat para sahabat memutar bola mata jengah.


" Adgar, mana?" Tanya Akbar.


" Di lantai tujuh bareng Zayin dan yang lain." Jawab Ibnu.


"  Saya kemari ingin mendengar lebih lanjut peretasan Gaunzaga."


" Ooh itu tugas Ibnu," ucap Daniel santai.


Ibnu tanpa protes menuju dinding kaca pemisah antara meja kerja Mumtaz dan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai layar hologram touchscreen, dan menyentuh play diujung bawah kanan layar.


Mengetik beberapa kata kunci, dan muncul gambar simulasi peretasan Gaunzaga dari benua Amerika.


" Kalian tidak perlu memperhatikan saya, apa yang saya tampilkan bisa kalian lihat di meja besar di hadapan kalian


" Hah?" Akbar terperangah takjub karena meja yang mereka duga hanya meja  biasa ternyata juga merupakan layar hologram.


Sementara om Hito dan Kak Dominiaz berusaha menjaga ekspresi wajah mereka meski dalam hati mengakui kehebatan teknologi RaHasiYa.


" Penemuan retasan terhadap Gaunzaga ditemukan oleh hacker lapis tiga kami, atau berlevel tengah team satu yang wilayah peretasan meliputi antar benua." Prolog Ibnu.


" Mereka diberi tugas dengan kata kunci Aloya. Penelusuran lebih lanjut menemukan perusahaan bernama Hernandez Security yang ternyata dibawah kekuasaan Gonzalez."


" Dari rekam jejak mereka sudah beberapa kali berusaha meretas Gaunzaga, tapi selalu gagal baru kemarin mereka berhasil, sayangnya langsung diketahui oleh kami."


" Beberapa saat terjadi perang cyber Antara RaHasiYa dan Hernandez tapi Alhamdulillah kami berhasil mengatasinya, Meski kami mengalami kalalaian bagian penghapusan jejak, sehingga Gaunzaga berhasil mendeteksi keberadaan kami."


" Kakek hanya tahu dari Indonesia."


" Dan hanya itu yang Gaunzaga harus tahu, bukan!?" Tekan Ibnu.


" Papa ditugasi mencari kalian?" Pancing Dominiaz menatap Mumtaz dan diikuti oleh yang lain.


" Sebagai pelaku cyber, saya pikir bijaknya adalah biarkan Gaunzaga mengetahui lewat cyber, itu jika kalian mampu menemukan jejak kami." Ucap Mumtaz mengandung tantangan.


Dominiaz mengangguk paham " pasti sulit."


" Tidak ada yang mustahil di dunia ini." ucap Ibnu.


" Bagaimanapun terima kasih atas perlindungannya."


" Apa Gaunzaga tahu jika Hernandez berhasil meretas beberapa database Gaunzaga, khususnya bidang kuliner dan teknologi."


Dominiaz seketika tegang, dan tanpa basa-basi menelpon kakeknya, mereka berbicara dengan bahasa Italia yang langsung diterjemahkan oleh mesin penerjemah yang terdapat di ujung ruangan dekat ruang tamu berupa kotak hitam yang tersamar berupa pemutar piringan hitam.


Selama pembicaraan berlangsung sampai selesai tatapan Dominiaz tertuju pada layar yang menampilkan terjemahan pembicaraan mereka.


" Well, kalian tahu isi pembicaraan kami. Kami tidak tahu tentang hal itu, tapi memang ada perusahaan dari Amerika latin yang mencoba memeras Gaunzaga dengan tebusan seharga dua juta euro untuk database yang berhasil mereka bobol." Ucap kaku Dominiaz


" Jangan termakan gertakan mereka, faktanya database tersebut sudah hilang, lenyap tanpa jejak. Team dua kami berhasil menarik dan menghapus data tangkapan mereka, dan memanipulasi dengan data lain baik yang asli maupun salinannya."


" Maksudnya?"


" Tolong tekan kata operasi plastik." Dominiaz menekan kata kunci tersebut yang terletak di bagian bawah tengah dari beberapa Kata kunci yang tersusun berupa bagan.


" Ini bukan data Gaunzaga."


" Dan hanya ini yang mereka dapatkan. Semua database Gaunzaga yang dicuri berhasil dikembalikan, dan keamanan Gaunzaga telah terkunci ganda oleh RaHasiYa."


Tak terelakan Dominiaz bernafas lega, dia tertawa sumringah


" Saya tak tahu apa yang melatarbelakangi kalian menolong kami, tapi sebagai perwakilan Gaunzaga, saya ucapkan terima kasih. Maaf saya harus menelpon kakek kembali."


Tak berapa lama Dominiaz mengakhiri sambungan telpon.


" Boleh saya tahu apa sebab kalian menolong kami?"

__ADS_1


" Sisilia. Fakta yang tidak bisa kami bantah adalah Mumtaz bucin akut terhadap Sisilia." Bongkar Daniel.


Dominiaz menatap dalam Mumtaz yang terkesan santai.


" Muy, Lo gak ada rasa malu gitu?" Sindir Jimmy.


" Heh, sama kalian kenapa mesti malu."


" Sebegitu sukanya kamu sama Lia?" Tanya Dominiaz yang mendapat anggukan dari Mumtaz


" Cinta banget " tegas Mumtaz


Ibnu: " Allahu Akbar."  


Jimmy: " Nikah woy, nikah."


Daniel: " Vicky Prasetyo insecure."


Bara: " untung Cassy gak dengar."


Akbar, om Hito, dan Kak Dominiaz terbengong hilang kata.


 


" Oke, sekian dari saya." Ibnu duduk kembali di tempatnya.  


Ketika suasana telah kondusif Daniel menatap Akbar.


"Bar, Lo ke sini bukan hanya mencari Adgar kan?"


Akbar melirik Mumtaz " ini ada hubungannya dengan kerja sama Hartadraja dengan Husain


" Baiklah sebagai rekan besan dari Mumtaz kami akan ajak kak Dominiaz tour keliling gedung." Ujar Jimmy




Di ruangan kini tersisa Akbar, om Hito, Mumtaz dan Ibnu.



" Saat ini kami tidak menganjurkan Hartadraja menjalin kerja sama dengan Husain group. Manajemen dan keuangan mereka lemah akibat keputusan ceroboh Raihan Husain." Terang Ibnu.



" Apa karena itu kalian mempending penawaran Husain?" Tanya Hito.



" Saya pikir kami menerima kerja sama dengan Hartadraja empat tahun lalu Dimana kondisi Hartadraja beda tipis dengan keadaan Husain saat ini." Jawab Ibnu tersirat rasa tersinggung di dalamnya.



" Apa ada urusan pribadi sehingga anda begitu penasaran dengan keadaan Husain? Tanya Mumtaz tersirat sindiran.



Yang mampu ditangkap oleh Hito " tidak ada, hanya Husain begitu memaksa kami untuk bekerja sama dengan mereka."



Ibnu menunjukan statistik dari organisasi perusahaan Indonesia



" Berdasarkan kecakapan sumber daya, Husain turun pada peringkat enam dari peringkat tiga, secara keseluruhan, saat ini Husain peringkat lima di bawah Hartadraja."



" Kesimpulannya Hartadraja untuk saat ini wajib memeperhatikan diri sendiri daripada perusahaan lain, karena Alatas dan Abimanyu mengekori kalian dengan selisih kecil." Terang Ibnu.



" Apa kalian akan masih mempending perpanjangan kerja sama kita?" Tanya Hito.



" Apa kalian membutuhkan asuransi untuk menjalin kerja sama dengan Husain?" Sarkas Mumtaz



Tak dapat disangkal Hito sangat terkejut dengan dugaan Mumtaz



" Saya tekankan jika pun kita perpanjang kerja sama kita, kami akan tetap memutus kerja sama kita Jika kalian bekerja sama dengan Husain."



" Mengapa kamu begitu tidak suka dengan Husain?" Tanya Akbar



" Saya tidak bisa mengacuhkan air mata yang keluar dari kakak saya karena ulah Zivara Husain dan Hito Hartadraja." Ucap tajam Mumtaz.



Akbar menatap terkejut ke arah pamannya.



Hito merutuki diri atas kesalahannya " saya kira di sini ada salah paham." Ucap Hito.



" Salah paham atau tidak, tolak ukur saya adalah kebahagiaan Kakak saya, tidak perlu penyelidikan lebih lanjut. Sikap selanjutnya terhadap Husain tentu kami serahkan kepada Hartadraja." Pungkas Mumtaz



" Tentu." Ucap Hito paham maksud tersembunyi Mumtaz.



\*\*\*\*



Hari Minggu, seharusnya menjadi hari santai, tapi tidak bagi Jimmy. Dia harus bangun dan pergi mengantar Tia ke WO.



" Alfa, bangun ada tamu istimewa untuk kamu." Ucap mama dari balik pintu



Dengan berpakaian rapih Jimmy menemui mami dan papi yang duduk di ruang tamu



Sesampainya Jimmy di pintu ruang tamu tiba-tiba tatapannya menyalang, wajahnya menegang, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal sampai memutih.



Mami melihat Alfa berdiri di ambang pintu, menghampiri Alfa dengan senyum manis



" Alfa, kenalkan itu Adinda Aloya, calon isteri kamu." Ucap senang mami sambil menunjuk seorang wanita cantik yang terduduk sopan dengan dress di bawah lutut menatap terkejut padanya.



Ketegangan dan kegusaran yang teramat sangat dialami Jimmy memunculkan titik merah pada jam tangan yang dipakainya mengirim sinyal kepada para sahabat di masing-masing ponsel mereka.



Di tempat masing-masing para sahabat terbelalak  kaget atas apa yang mereka lihat di ponsel mereka...

__ADS_1


__ADS_2