Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 26 luka yang samar.


__ADS_3

Berita skandal hukum Gonzalez corp menjadi tranding topik di Indonesia dan dunia. dalam semalam saham Gonzalez jatuh pada titik terendah sepanjang 10 tahun terakhir transaksi di BEJ.


Gonzalez corp tidak hanya tidak mampu bersaing dengan top 5, namun terlempar dari persaingan 30 perusahaan besar


" AAAAgghhh...kenapa jadi begini siapa yang berani bermain dengan Gonzalez." murka Eric Gonzalez.


pukul 23.00 WIB. petinggi Gonzalez corp masih berada di kantor sibuk menangani kekacauan mendadak yang terjadi akibat bocornya rahasia perusahaan ke publik dalam waktu 12 jam saja


" siapa yang berani meretas perusahaanku, kenapa perusahaanku dengan mudah dimasuki peretas? bukankah pengamanan rahasia kita salah satu yang terbaik?" tatapannya menusuk kepada kepala divisi IT perusahaan


" maaf masih kami telusuri tuan, mereka masuk tanpa jejak dalam waktu singkat. peretasannya terjadi sangat cepat. kita berhasil mendeteksinya saat-saat terakhir."


" saya tidak mau tahu. perbaiki bagian cyber kita." titah Eric tak terbantahkan. Eric meninggalkan kantor dalam keadaan murka.


******


markas the aneh


" kita berhasil ambil semua rahasianya Gonzalez. jangan dibuka semua sekarang ya." Daniel membuat keputusan


" iya. yang sekarang cukup ini aja. kalo dia berulah lagi keluarin lagi satu." ujar Jimmy. yang diangguki semuanya


" yang gw heran kenapa si Sivia kerja di Navarro bukan di perusahaan bokapnya. dia kan ahli warisnya." Daniel penasaran tentang fakta itu.


" Lo aja yang selidiki." ucap Jimmy. yang diangguki oleh yang lain. Daniel berdecak sebal.


" oh yeah..." Ibnu berisik sendiri menggunakan headset mengutak-atik komputernya tanpa mempedulikan obrolan teman-temannya.


para temannya memandang jijik ke Ibnu yang asik sendiri, mereka tahu pasti Ibnu sedang menikmati hasil peratasan terbarunya.


tanpa permisi Jimmy melepas headset Ibnu " Napa lu?"


Ibnu mendecak sebal mengambil headsetnya dari Jimmy dengan jari telunjuk mengarah ke komputer.


jimmy ternganga takjub dengan kedua tangan menutup mulutnya.


" emang di dunia ini selalu ada orang yang bodoh. " mendengar komentar Jimmy Daniel dan Mumtaz penasaran dan bergabung melihat layar komputer Ibnu.


" jackpot. entah kebaikan apa yang gw lakuin di masa lalu sehingga Allah benar-benar baik banget sama kita." narsis Daniel.


saat ini di layar komputer Ibnu terbuka jutaan database kantor pusat Gonzalez corp di spanyol tanpa susah payah mereka meretasnya.


hal ini karena Sivia sedang membuka silang antar server perusahaan Gonzalez corp dengan seseorang sehingga seluruh database Gonzalez corp dari seluruh dunia terpampang jelas.


Ibnu dan para temannya sigap cepat mentransfer ke komputer dan menyimpan paralel dimasing-masing akun mereka.


******


" Mumtaz, Mumtaz, main yuk" suara berisik dari sekelompok remaja yang menggedor-gedor pintu pada sore hari.


kak Zahra membuka pintu memasang wajah sangar, tampak remaja-remaja itu nyengir lima jari.


" maaf gak menampung anak-anak jelek dan akhlakless." kak Zahra bersedekap perut


" ih kakak mah gak punya humor." Jimmy berdecak


" humor apaan ngajak ribut iya. ini banyakan amat dah yang Dateng." sungut kak Zahra.


" kenalkan saya Radit sohib terzeyeng Mumtaz, suamiable kalo gak percaya tanya aja sama yang lain." Radit mode playboy on.


" pasti cuma ngaku-ngaku aja " sarkas kak Zahra. kak Zahra menatap bertanya ke yang lain yang dijawab geleng kepala dengan mengucap " bohong " tanpa suara.


" mereka cuma iri jangan dipercaya. " jengah Radit


" kita boleh masukkan kak." Haikal mencoba sopan


" bawa apa kalian. kalo bawa diri Doang tunggu di sini siapa tau ada sisa." tukas kak Zahra galak. para remaja itu menelan sulivanya


" siapa kak?" tanya Mumtaz yang datang dari belakang kak Zahra..


" bukan siapa-siapa cuma nunggu sisa makanan." sindir kak Zahra


" kalian udah Dateng. masuk yuk." ucap Mumtaz tenang. sedangkan teman-temannya melirik takut kak Zahra.


seakan paham Mumtaz memberi mereka uang dua ratus ribu rupiah.


" ni gw tambahin. Lo pada harus bawa empat kantong besar yang berisi makanan." para temannya ternganga bengong.


temannya itu pada ngundang dirinya sendiri ketika mendengar ada makan gratisan di rumahnya. mendadak sok akrab mereka tuh.


*****


Halaman belakang yang tidak terlalu besar telah ramai oleh para remaja hyperaktif. mama sampai bingung mau beraksi seperti apa. bagusnya mereka sadar diri numpang makan jadi mereka yang menyiapkan segala peralatan BBQ an


Ziva yang datang dengan prof. Farhan berhasil membuat Hira dan Zahra cemberut tapi juga penasaran.


Dikarenakan melonjaknya penggemar gratisan, itu sebabnya saat ini Kakak Zahra mendorong Hito yang baru sampai di teras rumah untuk kembali ke mobil mengantar dirinya membeli daging dan bahan lainnya untuk BBQ an.


***


supermarket


Hito dan Zahra beriringan mendorong troli ke tempat makanan beku, Zahra mengambil sosis, nugget, kentang, bakso, dan bahan shabu-shabu.


setelahnya mereka menuju tempat daging


" apa anak SMA sekarang emang gitu ya nyari gratisan mulu." gerutu kak Zahra.


" kalo tau gini mending wisudanya rahasia." cerocos Zahra. Hito tersenyum mengusak jilbab Zahra gemas


" udah cuma beli ini aja?" tanya Hito melihat isi troli. memiringkan kepalanya guna menatap Zahra yang menunduk sedikit serius melihat harga daging


kaget karena dekatnya jarak wajah Hito dengan wajahnya seketika Zahra mundur dengan tubuh yang tidak seimbang sehingga Zahra refleks berpegangan ke tangan Hito yang terulur kepadanya agar tidak jatuh.


demi mengurai kecanggungan yang terjadi di antara mereka Zahra mencoba bercanda


" modus ya kamu." tuduh Zahra. Zahra memilih beberapa pak daging.

__ADS_1


" kok modus kan udah pacaran." balas Hito terkekeh


" ih kamu mah gitu mulu. jadi aku gak tau balasnya gimana." rutuk Zahra melangkah menjauh dari Hito.


Hito tertawa gemas berlari kecil untuk menyusul Zahra.


" ya balas aja I love you." ucap Hito ketika sudah sejajar dengan Zahra menuju kasir.


Zahra mengangguk " iya. I love me." Hito tertawa terbahak mendengar ucapan tak terduga Zahra.


Selama mengantri giliran di kasir Hito dan Zahra bercanda layaknya pasangan saling melempar humor receh yang menggelikan.


" semuanya Rp.2 500.000 kak." ujar penjaga kasir


sewaktu Zahra ingin membayar, Hito menyela dengan menyerahkan kartu debitnya yang dengan cepat Zahra mencekal tangannya


" kamu ngapain?" tanya heran Zahra


" bayar." Hito menjawab polos


" ini belanjaan aku. kenapa kamu yang bayar." Zahra menolak bantuan Hito


" jangan perhitungan aku atau kamu yang bayar sama aja." bujuk Hito.


Zahra menggeleng " aku maksa Zahra." Hito bersikeras


menghela nafas berat mengambil kartu Hito. yang dibalas Hito senyuman. Hito berjalan beberapa langkah meninggalkan Zahra.


Begitu dia berbalik menunggu Zahra wajah Hito mendatar melihat Zahra tidak menggunakan kartunya untuk membayar belanjaannya.


" kenapa gak pake kartu aku?" protes Hito. kini mereka berjalan ke parkiran


" kan belanjaan aku. buat makan anak orang juga." Zahra menyerahkan kartu ke Hito


" simpan aja dulu." Hito mengangkat kedua tangannya yang membawa belanjaan. Zahra menyimpannya dalam tas Selempangnya.


" lain kali pake punya aku ya."


" atas dasar apa aku pake uang kamu?"


" pacar."


Zahra memutar bola mata jengah " gak cukup juga alasan itu."


" kenapa?"


" kitanya gak halal."


Hito melirik Zahra tersenyum tipis.


****


Suasana halaman belakang lebih ramai dari pada pasar malam. semuanya karena teman-teman sekelas Mumtaz dan Bara, ditambah teman-teman Zayin, dan teman Tia.


" kenapa kayak penitipan anak gini ya?" keluh Zahra menepuk jidatnya


" kok di sini. ini kan selamatan kamu." Hito mendatangi Zahra.


" sakit kepalaku denger teriakan mereka"


" namanya anak muda lagi over energi mereka." Hito terkekeh


" aku pernah seumuran mereka, tapi gak bar-bar kayak mereka deh. dikasih makan apa sih mereka?"


" capek banget ya?" selidik Hito.


" batin aku yang capek." Zahra menepuk-nepuk dadanya. Hito masih mentertawakan kegalauan Zahra.


" kak, ini ada undangan dari nenek buyut." Akbar menghampiri Zahra untuk menyerahkan sebuah undangan ulang tahun.


Zahra menerimanya dengan mengernyit " beneran buat kakak? "ragu Zahra. dia sangat yakin kalau nenek Sri sangat tidak menyukainya. jadi wajarkan lalu dia heran.


mengambil duduk di tempat kosong di samping Zahra Akbar mengangguk


" heran ya? sama Akbar juga heran." sarkas Akbar.


" kak. ini Akbar ceritanya mau ngelobby kakak buat bolehin Mumtaz gabung di team penanggung jawab keamanan rahasia perusahaan." Akbar mencoba berbicara hati-hati


" Hartadraja corp butuh mereka. memang mereka dengan baik hati memperkenalkan beberapa hacker buat bantu Akbar ngamanin perusahaan, tapi itu belum cukup." Akbar menoleh dengan tatapan memohon


" Akbar kurang paham apa yang terjadi, tapi secara pribadi Akbar minta maaf. Akbar sadar daripada membantu Hartadraja lebih banyak membuat keluarga kakak menderita." Akbar menghela nafas berat


" mungkin saat ini Akbar bukan siapa-siapa, tapi sebagai Hartadraja Akbar berjanji pasang badan melindungi kakak dan keluarga. bukan karena kasihan, atau simpati, tapi tulus dari hati dengan niatan baik. karena kalian baik terutama Mumtaz." Akbar memainkan minuman kaleng yang digenggamnya


" dia mungkin tidak banyak bicara, tapi kecepatan berpikir dan kesigapannya menyelamatkan kehidupan Hartadraja. diamnya dia lah yang membuat kebaikannya tak terasa." suara Akbar bergetar menahan tangis mengingat pertolongan yang diberikan Mumtaz berkali-kali kepadanya dan keluarganya.


Akbar tahu teman-temannya Tak akan membantunya jika Mumtaz melarangnya. meski tak kentara Akbar dapat membaca kode permintaan ijin temannya kepada Mumtaz sewaktu menolongnya melindungi peretas atas perusahaannya.


" kalo dia mau, dengan kemampuannya dia bisa menghancurkan Hartadraja dalam sekejap. tolong pikirkan permintaan Akbar." setelah curhatan hatinya Akbar beranjak mendekati teman-temannya.


meninggalkan Zahra yang termangu perihal adiknya mumtaz. matanya mengarah ke Mumtaz yang duduk di pojokan yang sibuk dengan ponselnya.


Mumtaz yang merasa diperhatikan menengadah menatap lurus kak Zahra dengan raut bertanya. Zahra menggeleng memberi senyum.


Hito terdiam merenungi perkataan Akbar mengusap wajah frustasi.


" kenapa? ngantuk ya?" Zahra menoleh ke Hito. Hito menggeleng. tangannya terulur mengusap sayang kepala Zahra yang tertutup jilbab Zahra hanya mengernyit bingung.


****


Ballroom hotel Hitad milik Hartadraja


pesta perayaan ulang tahun ke 91 tahun nenek Sri seperti biasa diadakan mewah yang dihadiri keluarga besar, para teman, kolega termasuk Atma Madina, dan Birawa.


keluarga Zahra hadir memenuhi undangan nenek Sri. sebenarnya mereka malas untuk datang, karena kesan tidak ramah Yanga diberikan nenek Sri setiap mereka bertemu.


papa Aznan dan keluarga menyambut mereka. Hito langsung menarik lengan Zahra agar mendekat padanya.

__ADS_1


selama pesta berlangsung Hito tak membiarkan Zahra jauh darinya. dia berkeliling menjamu para tamu dengan menggandeng lengan Zahra di lekuk lengannya. meski di sana juga ada Sivia.


" terima kasih kepada seluruh undangan yang menghadiri perayaan ulang tahun Nyonya besar Sri yang ke 91. sekarang saatnya puncak acara yaitu meniup lilin dan ucapan selamat kepada sang Nyonya besar." MC mengajak para undangan berdiri dan mendekat.


nenek Sri mengambil alih speaker " saya ingin seluruh keluarga saya berdiri bersama saya. dalam kesempatan ini saya juga ingin memperkenalkan calon isteri cucu saya Hito Hartadraja yaitu Sivia Gonzalez." nenek Sri tersenyum lebar menatap Hito tajam untuk tidak berbuat sesuatu yang memalukan.


para tamu seketika berbisik. pasalnya yang mereka tahu dari berita Hito sedang berhubungan dengan Aulia Zahra Kamilah seorang calon dokter yang sedang menjalani koas.


" saya tahu kalian pasti bingung. pemberitaan yang beredar diluaran sana tentang Hito dan wanita itu adalah tidak benar. bagaiman mungkin seorang Hartadraja memiliki hubungan dengan seorang pelayan caffe."


" lagi pula saya tidak pernah mendengar Hito membuat statement bahwa dia berpacaran ,tapi sang wanita yang mengaku pacarannya. kita semua tahu semua wanita dapat mengaku sebagai kekasih Hito, tapi apakah Hito mengakuinya? itu yang harus diperhatikan dan Hito tidak pernah mengakuinya." nenek Sri tersenyum membanggakan diri.


penghinaan nenek Sri membuat beberapa orang menarik nafas terperangah. Mumtaz dan para sohib mengambil langkah berdiri di depan mama Aida dan Tia.


Akbar menghela nafas berat, dengan penghinaan nenek Sri, dia tak mau membayangkan apa yang terjadi sebagai pembalasan dari Mumtaz. dia hanya berharap Hartadraja masih bisa terselamatkan.


Mumtaz dalam circle pergaulannya terkenal tenang dan kalem. dia tidak mudah tersulut amarah, bahkan terkesan cuek


tapi beda halnya jika yang di usik adalah keluarga dan teman-teman. dua tanpa pikir lama akan membalas perbuatan itu.


Bara, Daniel, Jimmy, Zayin dan Mumtaz membuat benteng didepan mama Aida dan Tia, sehingga para wartawan tidak dapat mengambil gambar wajah mereka berdua.


Zahra menunduk memejam mata menahan sakit.


Zahra tahu dia dan Hito tidak memiliki hubungan istimewa. tapi entah mengapa penolakan terang-terangan nenek Sri di depan umum sangat menyakitinya. dia menatap mamanya untuk memastikan bahwa mamanya baik-baik saja yang dibalas senyum menenangkan dari mama


tak jauh berdiri dari Hito dan Zahra, Sivia tersenyum bangga, dia dengan percaya diri yakin Hito akan menghampiri dan menggandengnya ke atas panggung.


Hito yang berdiri di samping Zahra menegang menahan marah. dengan tenang dia menatap Zahra mengapit lengan Zahra di lekuk lengannya dengan erat. dia tak akan membiarkan neneknya puas dengan memenuhi keinginan neneknya


" Tengadahkan kepala mu Zahra. kau pasanganku. kau yang ku pilih." Zahra tertegun atas bisikan Hito. dia tersenyum pada Hito.


bersama mereka menaiki panggung tanpa menggubris tatapan marah nenek Sri.


" Sivia, maju sayang." panggil nenek Sri. Sivia maju dengan raut tidak menyenangkan.


dipanggung nenek Sri mencoba menempatkan Sivia berdiri bersanding dengan Hito.


alih-alih membiarkan Sivia berdiri di sampingnya, Hito menarik Zahra memilih mundur beberapa langkah berdiri dibelakang keluarga lainnya.


Sivia yang mencoba menggeser dicegah oleh Akbar dan Eidelweis yang berdiri menghalangi jarak antar mereka.


pada sesi photo kakek Fatio sengaja membuat sibuk nenek Sri. papa Aznan menarik Hito dan juga Zahra untuk berdiri dekat mereka yang diikuti Akbar dan Eidelweis guna menghalangi Sivia. yang pada akhirnya di sesi itu Sivia berdiri paling belakang diantara yang lain.


Mumtaz mengirim pesan ke teman-temanya.


" publish aib Sivia selama di Amerika."


Awalnya Mumtaz ingin mempublish kelemahan Hartadraja, tapi melihat upaya Akbar dan Eidelweis di panggung Mumtaz mengurungkannya.


****


Seusai pesta, Hito yang berjalan berdampingan dengan Zahra mendapat pengawalan ketat dari para bodyguard. pasalnya begitu mereka nb keluar dari gedung, mereka langsung digerubungi oleh para wartawan.


sedangkan keluarga yang lain pulang bersama Bara, Daniel, dan Jimmy.


" pak, apa bapak bisa konfirmasi atas pernyataan nenek anda?"


"saya yakin beberapa dari kalian ada saat kejadian di restoran itu. di sana saya mengakui Zahra sebagai pasangan saya."


" apa yang dikatakan nenek saya itu karena beliau tidak terlalu mengikuti kisah percintaan saya dan Zahra." jelas Hito tegas.


" sepertinya nenek anda tidak merestui hubungan kalian?"


" itu karena nenek tidak mengenal kekasih saya ini. saya yakin jika nenek saya mengenalnya beliau akan sangat menyukainya."


" bagaimana dengan Sivia, mantan anda?"


" well, dia hanya mantan yang gak bisa move on. tentu saya tidak akan membuang waktu mengurusi dia, yang terpenting bagi saya adalah kekasih saya." Hito membawa Zahra segera ke mobilnya.


*****


Hito masih memarkir mobilnya di depan toko cake dan bakery.


Zahra tadi meminta Hito untuk mampir ke toko langganannya. seusai membeli beberapa roti, muffin cokelat, brownis cokelat dan minuman cappucino blend dan americano, Hito tak segera menjalankan mobilnya.


mereka menikmati muffin dan brownis di mobil. Hito beberapa kali melirik Zahra lewat ujung matanya bingung memulai pembicaraan.


" kamu jangan minta maaf. itu bukan salah kamu." Zahra berbicara sambil makan muffin kesukaannya.


" tapi itu sangat memalukan dan menyakitimu." sanggah Hito. yang diangguki Zahra.


" iya sakit banget. apa kita terlalu menghayati peran ya sampai nenek menganggap kita itu beneran punya hubungan." renung Zahra.


" kamu juga sih. kan kata aku juga dulu cepetan sanggah. malah sampe sekarang diem aja." cerocos Zahra sebal.


" aku juga gak paham kenapa males banget buat menyangkalnya. padahal aku tuh termasuk orang yang gak suka diberitakan hal-hal yang gak benar "


" ya mungkin kamu di sini punya rasa bersalah." Hito menggeleng.


" sejujurnya itu gak ada hubungannya. aku gak ngerasa tidak keberatan rumor pacaran an itu dikaitkan dengan perasaan bersalah."


" apa kamu terbebani dengan rumor ini?" tanya Hito penasaran.


Zahra menggeleng " aku gak punya waktu buat mikirin itu. fokus aku tuntasin koas secepat mungkin."


" kenapa buru-buru?"


" pengen cepat ngambil spesialis terus jadi dokter hebat supaya setara sama Hartadraja. jadi dak ada orang yang berani ngeremehin aku dan keluargaku." Hito mengangguk- angguk.


" aku dukung kamu. aku juga bakal jadi CEO hebat biar setara sama kamu. SEMANGAT!" mengepal kedua tangannya dan menggoyangkannya.


" gitu dong itu baru pacaran nya aku. SEMANGAT!" balas Zahra. mereka berdua tertawa terbahak bersama.


^^^ini aku up semoga pada masih ngikuti. maklum baru nulis, jadi agak kagok bikin cepat ceritanya.^^^


^^^terima kasih yang masih ngikuti cerita ini.^^^

__ADS_1


^^^taufan kamilah, 26 , juni, 2021.^^^


__ADS_2