Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 68. Kemarahan


__ADS_3

Dengan emosi yang menguasai isi kepalanya Zahra melajukan motornya di jalanan padat karena jam pulang kantor dengan skill menyalip ala pembalap.


Hari ini sungguh melelahkan setelah menghabiskan lebih dari setengah harinya untuk melakukan klarifikasi dilanjutkan melakukan pemeriksaan pasien VVIP di rumah sakit. Sebenarnya dia berharap bisa pulang dan langsung beristirahat, tapi semuanya musnah ketika dia melihat isi tabs yang sedang di tonton oleh Yuda dan Rio yang mengikutinya ke rumah sakit.


Dia bahkan melupakan menelpon Hito untuk mendengar penjelasan tentang drama percintaannya dengan sang kekasih yang diberitakan akan bertunangan dengan sahabatnya atau otw mantan sahabat.


Kini dia di depan rumah mewah nan luas yang bisa dikatakan mansion, tapi Zahra tak sudi menyebutnya demikian dia tetap akan menyebutnya rumah.


" Dimana nyonya besar mu?" 


Para pelayan terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Zahra.


" Di ruang keluarga." Jawab pelayan dengan suara kecil dan gugup.


" Tunjukan." Tanpa kata pelayan itu langsung mengarahkan Zahra ke ruang keluarga.


Sesampainya di depan pintu antar ruangan langkahnya terhenti karena mendengar perbincangan Jimmy dan mami.




Belum hilang syok mami karena kabar pelaporan tindak pidana oleh Wilson kepada Aloya, calon besannya. Kini mami dikejutkan kembali dengan video syur Adinda dengan seorang pria.



" Alfa, ini apa?"



" Apa yang mami lihat, itulah kebenarannya. Calon mantu kebanggaan mu masih menjadi wts, bahkan bercinta dengan suami bibinya sendiri." Ucap Jimmy dengan suara dingin.



" Ini pasti ada yang memfitnahnya, Alfa!"



" Lihat tanda kedipan merah diujung atas kanan layar, itu tandanya sedang streaming. Atma Madina tidak mungkin tidak tahu arti streaming kan!?" Sarkas Jimmy.



Mami terperanjat, wajahnya memucat, tatapannya kosong, bola matanya bergoyang tak tentu arah yang menunjukan kebingungan.



" Saya beri waktu besok bagimu untuk membatalkan pernikahan ini, jika tidak akan ku sebar video ini." Jimmy meninggalkan ruang keluarga tanpa menghiraukan kegalauan mama.



Di ambang pintu ruangan dia melihat Zahra beserta Jeno yang berdiri menunggu.



" Kak,..."



" Aku ingin bertemu ibumu."



Jimmy menggeser tubuhnya ke samping memberi jalan Zahra.



Mengetahui adanya Zahra mami mengubah ekspresinya dengan cepat menjadi tenang.



" Ada apa kau ingin bertemu denganku?"



Zahra melempar bukti pembayaran mobil dan motor yang menjadi bahan penghinaan mami ke atas meja tepat di depan mami.



" Sebelum kau hina ibuku sebaiknya kau baca dulu struk itu." Ujar Zahra menahan emosinya



" Jelas di situ disebutkan pembayaran itu atas nama Muhammad Mumtazul Yusuf Romli. Dengar nyonya, kami meski tak sekaya anda, tapi pantang bagi kami menjadi pengemis apalagi pelacur." Sindirnya, setelah mengatakan itu Zahra memutar badan hendak meninggalkan ruangan.



" Kak,..." Jimmy masih berdiri di ambang pintu dengan perasaan khawatir.



" Kalau kau berani menikahi pelacur itu setelah adikku menyerahkan keperawanannya padamu akan ku potong burung mu sependek mungkin." Ucap frontal Zahra dengan mimik sok menakutkan.



Jimmy tersenyum sumringah karena dia tahu Zahra tidak membencinya.



" Tidak akan, itu janjiku. Aku adikmu."



" Ada darah Sandra di tubuhmu!"



" Lebih banyak makanan, dan kasih sayang mama di tubuhku." Serunya lembut.



Zahra tersenyum tipis sembari melirik mami melalui ekor matanya, kemudian melanjutkan langkahnya.



Mami mematung ter tohok mendengar penuturan putranya tentang peran seorang ibu, dia mengepalkan tangannya semakin meremas struk itu.



Jimmy memandang punggung mami " Kalau ku beritahu berapa banyak uang yang Mumtaz punya, sudah dipastikan kau akan malu telah menghina mama, bahkan anakmu ini kalah jauh darinya." Ucap sinis Jimmy meninggalkan ruangan.



Mami menatap struk itu, menelitinya, dan memang tertera nama Mumtaz dalam pembayaran itu. Kegundahan kini merayapi hatinya



\*\*\*\*



" Ingatkan gue untuk gak bermasalah sama Lo." Ujar Ibnu menatap ke layar yang sedang mengamati tindakan Zahra dengan meringis.



Mumtaz mendengus " kalau Lo cukup Tia yang turun tangan." Ibnu menelan salivanya membayangkan kecerewetan Tia.



\*\*\*\*\*



Meski sesaat namun mencuri perhatian, berita pertunangan Hito dengan Zivara cukup mempengaruhi saham Hartadraja corp ke posisi negatif, hal ini karena kinerja buruk Husain dikhawatirkan mempengaruhi  kinerja Hartadraja apalagi telah keluar surat pernyataan dari RaHasiYa yang tidak akan menjamin segala akibat dari aktivasi perusahaan Hartadraja pasca pertunangan itu.



" Saya ingin nama yang mengeluarkan pengumuman pertunangan itu." Ucap papa Aznan kepada para direksi.



Aznan mengumpulkan seluruh direksinya ke ruang kerjanya mengingat statement pertunangan di keluarkan atas nama Hartadraja corp pusat.



" Nyonya besar yang menitahkannya yang disetujui oleh nyonya Husain, pak." Jawab direktur bagian humas.



Papa Aznan menahan emosi yang ditujukan ke ibunya.



deerrrtt...drrrtttt...!



" hallo..." Raut Aznan berubah emosi mendengar omongan orang yang di seberang sana.



Aznan menyimpan ponsel di sakunya



" Bereskan kekacauan ini segera."



" Tapi pak, bagaimana dengan nyonya besar?"



" Itu urusan saya."  Aznan bergegas pergi meninggalkan ruangan.



\*\*\*\*\*



" A, hari ini ke Pema yuk!" Ajak Tia yang datang dari arah dapur dengan sepiring singkong rebus yang langsung disantap para bujang gabut itu.



" Ini weekend." Tolak halus Mumtaz yang duduk di sofa single dengan laptop di pangkuanya



" Ya mumpung weekend kan rame."



" Males." Demi menyempurnakan penyerangan terhadap Aloya, Mumtaz dan para sahabat baru pulang pukul 03.00 wib.



" Ini kalian hari Sabtu pukul 16.00wib ada di rumah gadis orang, gak ada yang mesti di apelin gitu? malam Minggu loh ini." Ucap Zahra bertolak pinggang sembari menggelengkan kepala melihat para sahabat adiknya memenuhi ruang tengah yang ribut karena permainan PS yang dilakukan oleh Ibnu dan Adgar.



" Ini lagi ngapelin kakak." Ucap Raja ngasal.



" Jatuh banget harga diri gue di apelin cowok kayak lu." Dumel zahra menoyor kepala Raja



Raja mencibir mendengar dumelan Zahra.



" Udah pada shalat belum sih?"



" Udahlah, jama,ah kita." Timpal Juan.



" Ma, Ayin kemana sih kok dari kemarin gak kelihatan?" Tanya Zahra ke mama yang datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas susu yang diambil alih Rizal, dan membagikannya ke para bujang itu.



" Kayak lihat tunawisma nginep di hotel aku tuh." sarkas Zahra.



" Terus aja ngejek kita, kak. tapi kita gak malu tuh." timpal Radit santai.



karena terlalu sebal Zahra menendang punggung Radit yang duduk tepat di depannya, Radit hanya mampu melotot karena tersedak susu coklatnya tak berani marah.


__ADS_1


" Gak tahu, habis ngancurin mobil orang langsung pergi." Ucap mama, mengusir Rizal yang duduk di sofa berukuran sedang samping sofa Tia.



" Muy, itu rongsokan mau di seberang aja?" Mobil hancur mami sudah ditempatkan di lahan kosong depan rumah mama di derek menggunakan losbak tetangga dan dibantu para sahabat.



" Yang punyanya belum ngambil." Mumtaz mengedikan bahu.



" Aida... Aida...keluar kamu dasar janda tak tahu malu!!!" Mendengar suara teriakan yang menghina mama para penghuni rumah bergegas keluar rumah dengan raut wajah waspada.



Adgar yang mendapati neneknya lah yang berteriak terkaget, dia bergegas menghampiri neneknya yang memarkirkan mobil mewah Rolls-Royce keluaran terbaru warna hitam tepat di depan pintu pagar rumah mama sehingga menghalangi jalan.



" Nek, apa-apaan sih." Adgar menegur nenek untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.



Tak menggubris teguran Adgar, nenek terus menatap nyalang ke depan..



" Kamu kasih makan apa anak doktermu itu sampai tak tahu malu berpacaran dengan orang yang akan bertunangan!" Nenek mengucapkannya sambil bertolak pinggang.



Melihat gelagat neneknya seperti kena kerasukan Adgar menaiki body mobil mewah tersebut untuk berlari ke rumah Tante Edel dengan ponsel menempel di telinga melakukan panggilan.



Tak lama Edel mengebrak mobil neneknya memaksa sopir untuk minggir dari pintu pagar, sang sopir yang melihat ekspresi marah Edel langsung memundurkan mobilnya dan memarkirkannya di lahan kosong.



"... anak bungsunya saja tidak diakui sebagai menantu malah dijadikan gundik Atma Madina." Seru nenek dengan mengacungkan surat undangan pernikahan Atma Madina, dan melemparnya.



" Sekarang anak sulungmu kau jadikan perusak pertunangan orang lain."



Zahra mencegah mamanya yang hendak menghadapi nenek Sri, dia melirik Mumtaz dengan kode melindungi sang mama.



" Begini cara konglomerat bertamu, elegan sekali kalian." Sarkas Zahra dengan suara tenang.



" Untuk masuk ke rumah gundik tak perlu sopan santun, hanya merendahkan martabat saja."



" NENEK!!!" Tegur keras Eidelweis sarat kebencian



" Ada buktinya kalau kami seorang gundik?"



" Tunjuk pada dirimu sendiri, bukankah kau berhubungan dengan Hito, calon tunangan Zivara Husain." Ucap nenek dengan bersedekap dengan gestur mencemooh.



" Saya berhubungan dengan Hito jauh sebelum kau paksakan pertunangan ini berarti Husain itu calon gundik buatan mu!" Tantang Zahra dengan bersedekap juga.



" Tak peduli siapa yang berhubungan terlebih dahulu, yang terpenting siapa yang diinginkan, dan cucuku memilih seorang Husain."



" Benarkah?, sudah lama Hito terus mendesak ku untuk bersedia menikah dengannya, tapi ku tolak. Sekarang saya tergoda ajakan dia untuk bertunangan dengannya mengingat kau terus memaksakan kehendakmu padanya. Sebagai kekasih yang baik saya akan mengabulkannya." Zahra tersenyum miring sinis seakan mengolok nenek.



Nenek melototkan matanya geram, para sahabat menatap takjub Zahra, kecuali adgar yang berdiri dengan was-was.



" Apa yang terlihat di iPad tidak seperti Hito yang terpaksa mengantar calon tunangannya ke toko perhiasan." Nenek Sri memperlihatkan layar iPad kepada Zahra yang memperlihatkan Hito duduk di sebuah sofa di toko perhiasan mewah yang di belakangnya terdapat Zivara dengan mama Farah.



" Kak, ini bagus enggak?" Tanya Zivara memegang sebuah cincin ke hadapan Hito yang tidak digubris oleh Hito yang sibuk dengan ponselnya.



Eidelweis menelpon Hito yang diangkat olehnya."



" Hallo,"



" Sudah Edel bilang jauhi si Ziva itu, sekarang Zahra sedang melihatmu bersamanya di toko perhiasan." ucap geram Zahra



Di layar terlihat Hito tertegun, dari matanya dia mencari sesuatu sampai terlihat suatu titik fokus. Dia menghampiri titik fokus itu, dan mengambil benda dari orang yang sedang mengawasinya dengan sebuah kamera di tangannya.



Mumtaz merebut iPad itu dan melemparnya hingga pecah layarnya. 



Nenek tertawa terbahak puas melihat Zahra terdiam.



" Sekarang saya paham kenapa kau tidak menikah lagi sejak suami mu meninggal, Aida. Kau manfaatkan kecantikan anak gadismu untuk menjerat anak konglomerat agar membiayai kehidupan kalian, atau kau sendiri adalah simpanan seorang konglomerat!"  Ucap nenek dengan ekspresi menghinakan.




Mama mendekati Zahra, mengusap-usap punggung putrinya yang dia tahu sudah dikuasai amarah.



" Katakan padaku Zahra, berapa orang yang kau tiduri untuk gelar doktermu di karenakan tidak mungkin keluarga miskin seperti kalian bisa membiayai kuliahmu di luar negeri."



" SRI,..." Teriak kakek Fatio yang sudah berdiri tegang di depan pintu pagar bersama para Hartadraja di belakangnya.



Nenek seketika panik, dan raut wajahnya pias karena ketegangan rahang suaminya.



Zahra memutar tubuhnya melangkah masuk kedalam rumah, namun sebelumnya dia menatap Mumtaz dengan kode 'terserah padamu' dan meninggalkan kerumunan orang.



" Hahahaha...bagus menyingkir lah kau wanita murahan, kami Hartadraja tak akan Sudi memungut seorang rendahan menjadi menantu."



" MAMA!!!" Tegur Aznan.



Sudah tak bisa menahan lagi amarahnya Mumtaz masuk kedalam rumah, tak berapa lama dia kembali dengan membawa beberapa bulatan tampak seperti tanah liat, dan terus melangkah keluar dengan tatapan keji dan wajah datar.



Ibnu yang mengetahui apa yang dipegang Mumtaz berlari menyusul Mumtaz, tapat di hadapan para Hartadraja Ibnu mencekal tangan Mumtaz.



" Jangan." Ibnu memohon.



" Apa kau akan biarkan keluargamu dihina segitu kejinya?" Tanya Mumtaz dengan tatapan terfokus, Ibnu melepas cekalannya.



Dengan melangkah besar dan pasti Mumtaz menuju mobil mewah nenek, menempelkan benda bulat di beberapa titik mengelilingi body mobil.



Setelahnya berdiri beberapa meter dari keluarga Hartadraja " mari kita lihat berapa lama kebanggaan Hartadraja bertahan." Ucapnya dingin.



Mumtaz mengangkat sebelah tangannya yang memegang tombol kendali berbentuk silinder  para sahabat yang baru menyadari tindakan Mumtaz membelalak terkejut.



Menatap lurus nenek, Mumtaz menekan tombol, dan...



BUUUUMMMM....BUUUMMM!! DUAAAARRR!!!!



Ledakan-ledakan besar disertai terpentalnya mobil hingga beberapa meter disusul kobaran api di tengah warna orange mulai menggelap dari awan petang.



Semua orang bahkan para tetangga berkumpul di luar rumah karena kaget bunyi ledakan, terperangah syok.



Tanpa takut Mumtaz mendekati nenek," itu baru DP-nya." Ucapnya tepat di muka nenek.



" Ada apa ini." Seru Zayin menyelidik yang berdiri tak jauh dari kerumunan orang yang berdiri di depan rumahnya menatap tajam antara Mumtaz dan nenek, dan kobaran api.



Dengan pakaian dan tatapan yang sama dengan sewaktu pergi, dan koper senjata berlaras panjang yang ditentengnya kehadiran Zayin menambah suasana semakin tegang dan menakutkan.



" Zahra,..." pandangan semua orang tertuju kepada Hito yang memandang jendela kamar Zahra yang ternyata terdapat Zahra yang berdiri di jendela.



" Masih punya muka kau datang kemari." geram Mumtaz mendekati dengan langkah besar ke Hito yang berekspresi khawatir.



BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!



Meski para wanita sudah menjerit histeris melihat amukan Mumtaz yang menghajar secara membabi buta badan dan wajah Hito tak ada satu orang pun bergerak untuk melerai sampai Hito tergeletak tak bergerak, dan Mumtaz masih bernafsu untuk terus menghajar.



Ibnu dan Daniel langsung mendekap tubuh tubuh Mumtaz menjauh dari Hito.



" Om, tolong segera bawa om Hito dari sini." seru Daniel kepada om Damian yang masih bertahan memeluk Mumtaz yang terus memberontak ingin menghajar Hito.



Damian dibantu beberapa sahabat bersama-sama memindahkan Hito ke mobil Damian, dan meluncur meninggalkan rumah.



\*\*\*\*\*\*



pukul 19.00 wib.


__ADS_1


Zahra berpakaian casual menemui mama yang duduk diapit Mumtaz dan Zayin yang masih menangis.



Mama memandang penampilan Zahra," mau kemana, kak?" tanya mama hati-hati yang tahu perasaan putrinya masih sensitif.



" Ke rumah Hartadraja, mempertanggungjawabkan perbuatan ala yang mengakibatkan mama dihina."



Mama menghampiri Zahra menarik lembut tangannya " sini duduk dulu."



Beberapa saat Zahra bergeming, namun akhirnya mengikuti mama duduk di sofa panjang.



Mama menatap Zahra lembut namun tegas



" Marah boleh, tapi jangan mendendam. membalas boleh, tapi jangan mendzalimi."



" Tidak janji, dia sudah menghina mama."



" Bukan menghina, hanya penyaluran kepedulian nenek Sri pada keluarganya."



" Seharusnya mama sakit hati dan marah atas semua tuduhan nenek tua itu." ucap Zahra dengan emosi yang tertahan.



" Hanya orang amatir yang masih sakit hati atas kejulidan orang lain, mama hidup udah setengah abad rugi sekali jika masih baper atas amarah orang lain." Serunya dengan bahasa yang santai guna mengurangi ketegangan.



Mama menepuk-nepuk punggung tangan Zahra," jangan karena kejadian ini kamu menyesal dikemudian hari, pertahankan, jika memang dia pantas." Mama bisa melihat Hito sangat menyayangimu." mama menyinggung hubung Zahra dengan Hito.



" Tak sepadan dengan hinaan keluarganya kepada kita."



" Hanya nenek yang marah, selainnya menyayangimu. kalau kamu ingin pergi, pergilah dengan syarat beristigfar dan bershalawat sepanjang perjalanan." mama melepas genggamannya, mencium kening Zahra.



" Aa temani kakak." Ucap Mumtaz.



" Ayin juga." mereka beranjak menuju pintu namun sebelumnya mencium tangan dan kening mama.



" Pergilah, di sini sudah terlalu banyak orang yang menemani mama. sumpek." Gurau mama.



\*\*\*\*\*



Penjaga gerbang yang mengenali Zahra langsung membuka gerbang rumah memberi akses masuk Fortuner yang dikemudikan oleh Mumtaz memasuki pekarangan rumah.



Semua orang yang berkumpul di ruang keluarga terkejut saat kepala pelayan menginformasikan kedatangan Zahra dan saudaranya.



Zahra berdiri diambang pintu ruangan mengamati semua orang yang hadir, didapatinya Farah, dan Zivara yang salah tingkah di bawah tatapan sinis Zahra.



" Masih berani kau kemari setelah membakar habis mobil saya." hardik nenek.



" Urusanmu denganku tak perlu kau hina ibuku." Ucap Zahra melupakan sopan santun.



" cih, anak kemarin sore menantang ku." cibir nenek.



Zahra melirik sinis Zivara yang duduk tertunduk dengan senyum miring mengejek.



" Kau tuding saya hina kerena menjual tubuhku untuk biaya hidupku, tapi di sini kulihat Husain yang kau pilih menjadi besanmu menjual putrinya untuk menyelamatkan perusahaannya, berdasarkan tuduhan mu saya tidak melihat perbedaan Husain dengan saya."



Semua orang yang hadir terkejut dengan ucapan berani Zahra.



" KAU, lancang sekali kau menyamakan keluarga bar-bar mu yang rendahan dengan Husain yang Ter..."



" Tutup mulutmu!!!" Zayin memperingati.



Mendengar suara datar mengintimidasi dari Zayin nenek mengatupkan bibir seketika.



" Sayang..." Suara lirih kesakitan dari Hito mengundang semua orang menatapnya yang berdiri diambang pintu bertumpu pada tongkat di sebelah kanan, dan Edel di sebelah kiri dibelakangnya terdapat Dominiaz dan prof. Farhan.



Zahra mengamati Hito yang babak belur dengan meringis menyesal, sedangkan para adik menatapnya datar tanpa penyesalan.



Nenek tersenyum " Ziva, Hito memanggilmu ban.."



" Zahra-ku sayang,..." Sela Hito meringis mengulurkan tangan ingin menggapai Zahra.



" Aku ingin mendekatimu, tapi nenek keriput itu akan mengataiku sebagai perusak hubungan kamu dengan Ziva."



Hito menggeleng lemah," hanya kamu, satu-satunya." ucap Hito dengan suara pelan



Zahra mengambil kotak kecil dari dalam tas selempang-nya, dan mendekati Hito.



" Ini darimu, jika kamu masih berniat melamar ku, minta lah pada ibuku."



ketika Hito hendak mengambil kotak kecil itu, nenek menepis tangan Zahra hingga kotak itu terjatuh. marah karena merasa dihina nenek mengambil cangkir yang berisi teh panas, dan menyiramkannya ke arah Zahra.



Semua orang terkejut dengan kejadian cepat itu, Zayin langsung mengamankan nenek dengan menempatkan tangan kanan memelintir tangan dan menempatkannya dipunggung nenek, dan tangan kiri menahan di mengukung leher nenek



AAAWWSSS!!!



Rintihan kesakitan itu buka berasal dari Zahra, melainkan dari Hito yang refleks memeluk Zahra ketika neneknya berancang-ancang menyiram Zahra.



Zivara tanpa sadar beranjak mendekati Hito hendak menolongnya, kala Zivara mengulurkan tangan ingin membantu Zahra yang sedang membuka kancing piyama Hito, Zahra langsung menepisnya, dan mendorong badan Zivara hingga terjengkang.



" Pergi kau, jika terjadi sesuatu pada Hito, ku bunuh kau." Peringatan mematikan dari Zahra membuat bulu kuduk semua orang meremang karena ngeri.



Zivara tertegun, kemudian gemetar ketakutan atas ancaman Zahra.



" HEI, SIAPA KAU BERANI...aakkh!!" nenek di cekik oleh Zayin.



Para Hartadraja tidak ada yang berani bergerak, mereka tidak mau mengambil resiko terburuk.



Tanpa kata Zahra fokus melakukan pertolongan pertama terhadap luka Hito, setelahnya dia menatap nenek Sri dengan tajam.



" Zivara yang kau banggakan punya hubungan khusus dengan prof. Farhan di belakangmu, Saya ragu dia akan melepaskan Farhan setelah dia menikahi Hito mengingat Ziva sudah tergila-gila padanya bertahun-tahun lamanya. Apa ada yang lebih buruk dari itu? kau ditipu olehnya." desis menusuk Zahra tepat di muka nenek.



Semua orang terkaget, dan memandang antara Farhan dan Zivara.



" Saat ini, Husain dan Hartadraja adalah nama yang paling ku benci. Apa salah kami padamu sehingga kau begitu menghinakan kami, aku mencintai Hito, kenapa itu menjadi suatu kesalahan?" jerit Zahra pada kalimat terkahir sembari menangis meluapkan rasa terluka.



Mumtaz yang sedari tadi diam berdiri mengawasi keadaan, kini angkat bicara.



" Husain, seharusnya kau belajar dari masalah Riana untuk tidak mengusik wanita-wanita tercintaku. Ziva, andai kau datang padaku untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu, demi persahabatan kau dan kak Zahra pasti akan ku tolong, tapi kau salah memilih sekutu. Kau buat kakak menangis, dan aku tak kan memaafkannya."



Mumtaz merangkul Zahra," 1×24 jam saya pastikan Husain bangkrut, Hartadraja pelan tapi pasti mengikuti Husain. Kecuali Sri Hartadraja mengumumkan pembatalan pertunangan dalam 2×24 jam di hadapan media massa." peringatan Mumtaz menatap langsung manik kakek Fatio.



" Lepas wanita itu, Zayin."



Mumtaz melempar kartu silver Palladium JP. Morgan yang jatuh tepat di muka nenek.



" Hitung semua kerugian mu, saya yakin saldo dalam kartu itu bisa melunasinya. *black card American express-nya* ada di tangan mama!"



Mereka bertiga meninggalkan ruangan dengan suasana mencekam.



Tring!!!! notifikasi masuk ke semau ponsel yang ada dalam ruangan



" Aaakh,. om, *faster*...omhh," rintihan mesum terdengar dari ponsel Adgar, semua pasang mata menatap menyipit ke Adgar yang menggeleng walau matanya masih melotot karena kaget dengan video yang dia dapatkan



" Ka,...kalian lihat saja ponsel kalian sekarang." katanya gugup.



Para Hartadraja membelalakan mata karena video syur tersebut...

__ADS_1


__ADS_2