
Di tempat yang minim pencahayaan ditengah riuhan pasar malam dua lelaki dewasa blasteran Eropa dan Amerika latin duduk santai di atas kap mobil mereka ditemani para asistennya menonton hilir mudik para pengunjung pasar malam.
Raul untuk beberapa saat membuka sebuah box kedap udara berisi sampel makanan yang merupakan seluruh menu dari restoran keluarganya.
" Gue harap Lo bantu, dan hasilnya keluar cepat." Pintanya disela hirupan nikotin.
" Kenapa tidak ke BPOM langsung?" tanya Dominiaz yang tatapannya tidak lepas dari empat gadis.
" Memang Lo percaya mereka? Resto bokap berlabel halal, tapi gue ragu."
" Hehehe, Lo tahu dampak dari yang Lo lakuin akan menghancurkan bisnis keluarga Lo!" Dominiaz mengingatkan.
Raul mengedikan bahu masa bodo," gue terlalu berhutang Budi pada Indonesia, dan terlalu takut bully-an netektif Indonesia dibanding bokap atau kakek gue."
" Hahahaha, benar sih, netizen +62 memang berdamage."
" Saat ini gak banyak orang yang bisa dipercaya, bahkan kalau ada gue ingin bekerjasama dengan orang yang bisa meruntuhkan kesombongan bokap."
" Lo coba hubungi Erros Al-Tairo dan Dennis Hendrawan. Mereka berdua pengusaha kuliner yang sedang naik daun."
" Lo kenal mereka?"
" Mereka temannya Eidelweis Hartadraja."
" Dan Lo pikir mereka mau bantu gue? Kakaknya Sivia?" skeptis Eric tak memungkiri fakta yang ada.
" Gue lihat Edel gak ada masalah sama adik Lo, buktinya selama ini adik Lo masih bisa nemplok di samping nyonya Sri."
" Itu karena adik gue gak punya malu."
" Kalau Lo pengen cepat urusan Lo lancar sama mereka ajak Eidelweis."
" Apa Hito masih posesif?" Raul meragu.
" Memang ada pria Hartadraja yang tidak posesif? Si bontot Adgar saja sekarang udah menunjukan taringnya."
Raul menganggukkan kepala, " Dibawah kepemimpinannya Hartadraja corp dalam waktu singkat menggeser Dirgantara."
" Itu karena dirgantara masih berkutat dengan masalah intern." jelas Dominiaz.
" Ya udah gue pergi, apa Lo masih mau di sini?" Raul menginjak sisa puntung nikotinnya.
" Hmm, malam ini tugas gue jadi baby sitter." Tunjuknya pada empat gadis yang tertawa di pasar malam.
" Raul, gue harap Lo gak terlibat peneroran pada mereka?" liriknya pada empat bocil.
" Teror? orang bego aja yang meneror mereka, dan itu bukan gue." Dominiaz menilai kejujuran Raul, yang syukurnya dia dapatkan.
Raul menuju pintu kemudi mobilnya, namun ia kembali menoleh padanya," oh iya hampir gue lupa, beritahu kakek Lo Alfred berencana menyerang kelompoknya mengingat kelompok beliau yang belum bisa dia taklukan."
Dominiaz tertegun untuk sesaat," okey, thanks."
Noprob, gue balik." Raul membuka pintu mobilnya, tepekur sejenak seakan masih ada yang mengganjalnya.
Dominiaz menaikan kedua alisnya melihat tingkah partner in crime-nya," masih ada yang belum Lo sampaikan?"
" Entahlah,...oh iya perihal teror mereka, entah sejak kapan Tamara sekarang ada di rumah gue, dan setahu gue dia tergila-gila pada Bara, sedangkan Nenek gue gak bisa move on dari tuan Fatio. Mereka berdua adalah wanita ambisius, gue khawatir mereka menyerang Hartadraja melalui nyonya Sri dan Cassandra.
Sejenak Dominiaz mengamati Raul," tahu banyak Lo tentang Tamara."
Raul mengedikan bahu," dia sering ke rumah bersama Bram Brotosedjo." kemudian dia menutup pintu mobil dan meninggalkan area pasar malam. Menyisakan Dominiaz dengan segudang informasinya.
****
Satu jam sudah para pria Hartadraja dan petinggi RaHasiYa, Zayin dan juga Bara membahas perihal Guadalupe dan sepak terjangnya.
" Jadi kesimpulannya Guadalupe ingin menghabisi Nenek? Tanya Akbar dengan emosi terpendam.
" Awalnya, tetapi penolakan frontal kakek tadi mengubah pikirannya, saat ini targetnya seluruh Hartadraja terutama para wanitanya." Alfaska menekankan kata wanita.
" Kita bisa melaporkan dia ke Gurman agar dia langsung dieksekusi." Tambah Adgar geram.
" RaHasiYa dengan Sinolan Jaquino sudah bersepakat untuk hal yang lebih luas, jadi maaf untuk itu harus ditunda." Ungkap Mumtaz yang membuat semua orang mengernyit bertanya.
" Untuk keamanan kalian lebih sedikit informasi lebih baik, jadi maaf saya tidak bisa memberitahukan informasi kesepakatan itu." Tambah Mumtaz.
" Tapi Guadalupe ini banyak trik, saya khawatir Gurman menargetkan Hartadraja." timpal Fatio memperingatkan.
" Untuk itu saya sedang mencoba sambungan video antara kakek dengan Gurman agar tidak ada kesalahpahaman." Klan Hartadraja terkaget dengan perkataan Mumtaz.
" Apa tidak berbahaya bagi kami?" sangsi Damar.
" Saya pastikan tidak, sebelumnya saya sudah memperingatkan beliau bahwa Hartadraja dibawah perlindungan Gaunzaga-RaHasiYa."
Dring!!!!
Bunyi yang menandakan panggilan video telah tersambung, dilayar sudah tampak seorang lelaki tua yang masih gagah dengan aura jahat tak terbantahkan. Bola mata hitam dengan tatapan tajam, wajah tegas dihiasi kumis tebal rambut hitam legam ikal.
" Maaf, Kek, tolong kenakan alat terjemahannya karena beliau tidak faham bahasa Jawa." Interupsi Mumtaz menyela saling mengamati dan menilai antar dua lelaki tua tersebut.
Fatio mendelik tajam pada Mumtaz yang dibalas senyuman tenang menjaga wibawa masing-masing.
" Hallo, Fatio Hartadraja, saya Alejandro Gurman, suami dari Guadalupe Firman. Wanita yang dulu anda taksir." gurman membuka perkenalan langsung menyentil hal sensitif yang cukup provokatif.
" Hallo, Alejandro Gurman, saya Fatio Hartadraja, suami dari Sri Hartadraja wanita yang diganggu oleh Guadalupe Gurman, istri anda. Catat baik-baik; saya bukan lelaki yang menaksir wanita anda, tetapi mantan kekasihnya yang berarti kami saling tertarik, tapi itu dulu sebelum saya menikahi Sri, dan Guadalupe sepertinya belum bisa menerima itu." tantang Fatio tak gentar.
Atmosfer ketegangan menyeruak seisi ruangan pada perkenalan keduanya bahkan sebenarnya sudah terasa seketika mereka saling melihat.
" Maaf Tuan-tuan. Turunkan tensi kesinisan kalian sebelum saya mengeluarkan peringatan yang berakibat fatal bagi kalian. Saya yakin kalian korban dari Guadalupe yang sedang melebarkan taring manipulatifnya lewat sisi kefeminismeannya." Tegas Mumtaz tak terbantahkan bagi mereka berdua.
Satu jam berlangsung percakapan diantara mereka dengan Mumtaz sebagai penengah karena dia yang mempunyai bukti valid atas perbuatan Guadalupe.
" Baik, sebagai penutup saya simpulkan bahwa Guadalupe telah memberi keterangan palsu pada anda selaku suami perihal status Eric dan keturunannya, serta hubungan Guadalupe dengan tuan Fatio. Sedangkan terhadap Fatio, selaku mantan. Guadalupe memaksakan kehendak ingin kembali bersama Fatio dengan meneror Sri, selaku istri Fatio. Siang tadi Guadalupe bersumpah akan melakukan tindakan nekat yang diasumsikan merupakan tindakan ancaman yang kemungkinan besar akan menyertakan tuan Gurman dalam tindakannya. Untuk mencegah hal yang tak diinginkan, saya sarankan kalian saling komunikasi baik langsung maupun lewat perantara setiap hal yang berkaitan dengan Guadalupe. Atas kerjasamanya saya sampaikan terima kasih." Mumtaz memutus sambungan video tersebut tanpa basa-basi.
" Bar, apa Lo baik-baik saja? Wajah Lo pucat, sedari tadi Lo memijat pelipis saja." Tegur Ibnu yang mengamati sejak kedatangannya.
" Okey, hanya...seperti biasa." Ucap pelan Bara merujuk kelelahan yang selalu dia keluhkan.
" Sudah, Lo istirahat saja di sana. Lo sakit semua runyam." Tunjuk Alfaska pada ruang tidur yang terdapat di pojok kiri ruangan.
" Hmm." Bara beranjak menuju ruang tidur dengan langkah gontai tak lama langkah itu memelan dengan pijakan kaki melemah hingga ambruk.
" Kan..kan gue bilang apa, ah Lo Bar. Banyak gimmick." Cerocos Alfaska ditengah langkahnya menuju Bara yang sudah tergeletak di lantai.
" Niel, rumah sakit." Titah Alfaska sambil melonggarkan dasi dan membuka kancing atas kemeja Bara.
" Permisi," Hito mengambil alih Bara memeriksa suhu tubuh, pupil mata, denyut nadi dan lainnya yang diperlukan untuk pertolongan pertama.
" Lo, paham. Bang?" Tanya Alfaska yang memegangi kepala Bara.
" Gue punya gelar dokter, meski sekedar umum." Jawab Hito.
" Oke, kita pindah ke rumah sakit karena keadaan tidak memungkinkan untuk di sini." Seru Adgar.
Ketika semua orang sudah pindah lokasi, Alfaska menarik Zayin ke ruangannya.
" Ada apa, Bang?" Zayin duduk di depan meja kerjanya.
" Kita bicara tentang *biohacker* yang Lo mau." Alfaska menyetel layar, tak lama muncul kata demi kata yang membuat kalimat yang terus bermunculan tanpa gambar.
" Ini apa?" Zayin mengernyit bingung.
" Isi pikiran Guadalupe. Kita bisa tahu isi pikiran dia sebelum terucapkan atau tidak terucapkan. Ini hasil dari *biohacker* terbaru RaHasiYa."
Selanjutnya layar menayangkan bagian organ kepala manusia.
" *Biohacker* ini generasi kedua yang telah disepakati hanya digunakan untuk militer guna mengumpulkan data pihak lawan dibatasi hanya untuk *spionase*. Tapi laporan tulisan Mumtaz yang membuat gue nekat memasangnya pada sipil, gue gak mau menerima resiko Mumtaz mati sendiri."
Zayin seketika merubah letak duduk dari yang bersandar santai menjadi duduk tegak.
" *Biohacker* ini tertanam di otak besar, jika kita lalai mengakibatkan kelumpuhan otak permanen."
" Apa kita hanya bisa membaca pikiran saja?"
Alfaska mengganti tayangan dengan keadaan dimana Guadalupe sekarang berada.
" Apa yang dia lihat, bicarakan, fikirkan dalam hitungan detik terekam, daya tangkap pun meliputi seluruh audio dan visual yang tertangkap oleh sang subjek."
__ADS_1
" Sebab itu Lo bisa tahu kalau target Guadalupe sekarang seluruh Hartadraja!?" Gumam Zayin.
" Gue khawatir gak bisa mengawal seluruh isi fikiran itu, maka gue menugaskan Nando untuk membentuk tim memilah informasi yang sinkron dengan keadaan terkini terkait kata kunci Guadalupe, Javier, Gurman, Gonzalez. Dan Hartadraja, Amerika."
" Gue tahu Lo terikat etika TNI, tapi kami juga tahu mesti Lo tergolong junior Lo sudah terlibat beberapa aksi rahasia." Alfaska menatap lurus manik Zayin.
Mulut Zayin yang terbuka kembali tertutup kala menyadari bagaimana mereka tahu tentang itu, jawaban untuk itu karena mereka RaHasiYa.
" Siapa saja yang punya akses pada data ini?"
" Untuk sementara hanya gue, mulai besok seluruh petinggi RaHasiYa, Nando, dan elu." Seketika umpatan terlontar dari mulut Zayin yang mendapat geplakan manja di kepalanya.
" Kata kunci buat Lo khusus, yaitu; Indonesia, narkoba, Gonzalez, Tamara, dan Brotosedjo."
" Ayolah masukan kata kunci narkoba pada petinggi RaHasiYa, kita sungguh kewalahan menghadapi pasokan narkoba dari luar."
"Ck, kita udah bayar pajak besar, dan kita mesti repot ngurusin ini? *NO WAY*." tolak Alfaska secara terang-terangan.
" Lo gak sayang Indonesia?"
" Terserah bacot Lo, kecuali presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintah membuktikan dapat membasmi minimal setengah oknum pintu peredaran narkoba, RaHasiYa komitmen pada pendirian kita bertindak, berpikir dengan cara dan prinsip RaHasiYa."
" Ck, bertele-tele, padahal libas aja sama Lo pada."
" Mingkem lambe mu, nak! Sampai sekarang si Daniel aja masih harus melayangkan surat protes pada kementrian pemuda dan olahraga agar mereka bergerak nyata dalam program memperdayakan kreatifitas pemuda dalam menumpas premanisme dikalangan remaja."
Alfaska beranjak melangkah keluar dari ruangan," Lo habis ini lanjut kemana?" Alfaska mengamati penampilan Zayin yang seperti eksekutif muda.
" Ekhem, ekhem." Kode untuk pengintaian di club 21\+\+.
" Hahahaha." Alfaska tertawa terbahak puas melihat wajah tertekuk Zayin setiap mendapat tugas ditempat haram yang penuh kegiatan prostitusi.
" *Bye*, gue *go* dulu." Ujar Zayin melajukan motor trailnya.
" Ck, gaya bahasa apa itu." Alfaska hanya bisa menggeleng-geleng saja.
\*\*\*\*
Raul memasuki ruang kerja ayahnya setelah mendapat pesan dari ayahnya agar menemuinya di ruang kerjanya melalui kepala pelayan rumah tangganya.
Kedua alisnya terangkat tatkala melihat ayah dan neneknya berkumpul, dia melangkah santai layaknya orang tanpa beban ciri khas dari orang tidak bertanggung jawab. Imej yang selama ini dia pertahankan di depan keluarganya.
" Pa, bisakah kau ajari kesopanan pada j.lang mu dn gan menutup selang.kangannya Setipa melihat aku?" dumel Raul muak dengan tingkah Tamara.
" Raul, darimana saja kamu?" Omel neneknya, memukul punggungnya pelan ketika dia mencium pipi kanan dan kiri neneknya.
" Raul, berhenti bersikap seenaknya dan bermain dengan ja.langmu, setidaknya contoh Rodrigo, dia sudah dipercayai oleh kakek untuk memimpin kawasan Guadalajara sedangkan kau,...satu kawasan Jakarta saja belum becus." guadaluoe mendengkus marah.
" Nenek, sejak dulu aku selalu bilang kalau aku tidak berminat untuk kerja, di keluarga ini sudah terlalu banyak orang penghasil uang, sedangkan yang menghabiskannya tidak ada, dan aku yang mengambil peran itu.
" Papa bosan mendengar ocehanmu itu, mungkin hanya kau seorang pewaris diusia tigapuluhan yang masih menjadi bawahan karyawannya." Sinis Eric hanya mendapat jawaban kedikan bahu masa bodo dari Raul.
" Sudah, hiraukan saja putra tidak berguna mu itu. Sekarang kau harus melakukan apa yang mama perintahkan." Ujar Guadalupe.
" Tidak sudi, Mama. Raul dalam dunia bisnis memang tidak berguna, tetapi dia memiliki pergaulan yang luas, kau bisa tanyakan padanya bagaimana posisi Hartadraja kini?" Sebelah alis Raul terangkat bertanya pada ayahnya.
" Nenek menyuruh Papa untuk menculik wanita Hartadraja untuk menekan tuan Fatio." Jelas Eric.
" Hahahaha, kalau begitu ucapkan *good bye* pada kehidupanmu, dan sambutlah malaikat maut mu." Cemooh Raul.
" Raul, jangan pernah meremehkan nenekmu, jangan lupakan kalau nenek istri dari seorang pemimpin kartel yang terbiasa membunuh hanya dengan satu kata."
" Nek, ini bukan Meksiko, ini Indonesia. Tidak peduli sebesar apa kekuasaan yang suamimu punya di sini kau hanya tamu, maka bersikap baiklah kau selama di sini kalau tak ingin dipermalukan oleh dunia."
" Ck, ditengah pergaulan bebas globalisasi tidak peduli sebagus apa ideologi dan prinsip bangsa Indonesia, anak mudanya tetap saja menghabiskan waktu percuma kongkow-kongkow di cafe."
" Itu beda konteks, tapi jika kau mengusik negara mereka, mereka akan berdiri paling depan memerangi musuhnya."
" Kita tidak bicara negara, kita hanya perlu menghancurkan Hartadraja." Kekeuh Guadalupe.
" Hartadraja dilindungi RaHasiYa, jika kau mengusik mereka, kau mengusik seluruh pemuda Indonesia." Guadalupe mengernyit bingung.
" Ku sarankan hentikan obsesimu terhadap tuan Fatio."
" Dia tidak hanya obsesi Nenek, tapi dia cinta sejati ku."
" Mama, Kau tak pantas mengucapkan pria lain sebagai cinta sejati sementara kau memiliki suami." Hardik Eric tidak suka.
" Eric, jangan pernah koreksi perilaku Mama."
" Tapi tindakanmu dapat menghancurkan seluruh usahaku."
" Tidak akan, sekarang kau adalah salah satu pengusaha besar."
" Tapi kita orang asing, kita tidak bisa bertindak bebas di negara orang." Tolak Eric.
__ADS_1
Raul hanya diam seperti orang bodoh menyaksikan adu mulut antara nenek dan ayahnya.
" Stop." Interupsi Raul ditengah keributan," Nek, ada pepatah tangguh ditengah bangsa Indonesia, kau segan, kami sungkan. Kau bar-bar kami ganyang. Artinya tidak peduli sehebat apa kau, jika kau mengusik kehidupan harmonis mereka, mereka akan menghancurkan mu sampai sehancur-hancurnya. Jadi sudahi pembicaraan ini."
" Tapi kita bisa, bukankah campuran obat dimakanan restoranmu sangat efektif membuat mereka kehilangan akal sehatnya." Ceplos Guadalupe.
" MAMA..' Eric melirik Raul, dia khawatir Raul mendengar ucapan mamanya, namun dia bernafas lega ketika menyadari raut datar putranya yang dia asumsikan Raul tidak paham akan ucapan ibunya.
Guadalupe terdiam, dan berubah cemas, tapi seketika raut wajahnya kembali normal mendapati Raul sepertinya tidak menyadari apapun.
Tok!! Tok!!!
" Masuk." Eric senang dengan interupsi ini.
Sivia memasuki ruangan dengan raut kesal sekaligus jijik.
" Ini, satu lagi cucu tidak bergunaku." Skeptis Guadalupe."
"Mama hentikan." Peringat Eric tegas.
" Kita tidak akan sesusah begini jika dia tidak melakukan hal konyol berupa berselingkuh dengan pria tak berguna."
" Katakan apapun yang ingin kau katakan, aku tidak peduli. Aku kesini hanya ingin bilang ja.lang papa sedang teler dengan setengah tel.anjang bagian atas di ruang tengah menjadikan rumah ini seperti bordir." Sinis Sivia.
Mereka berempat beranjak menunju ruang tengah, tatapan menghinakan seketika tertampak di wajah mereka kala melihat Tamara dengan tak tahu malunya sedang mas.tur.basi.
Di atas meja terdapat serbuk putih sisa yang seperti baru saja dikonsumsi oleh sang empu.
" Kalau kau jijik, kenapa kau undang dia tinggal di sini?" Tanya Eric menatap putrinya heran.
" Aku?" Bukannya Papa yang menginginkan dia tinggal sewaktu dia menjemputmu dari bandara."
Mereka terdiam, "final, kalian berdua ditipu olehnya." Sahut Raul.
"Raul, apa kau berminat?" Eric tersenyum mesum plus culas.
" Tak akan pernah aku pakai bekasanmu, Pa." Cetus jijik Raul kelaur ruangan
Guadalupe yang paham nafsu putranya berdecak sebalu turut melangkah keluar ruangan, " pastian dia tidak hamil, mama jijik membayangkan punya turunan darinya, setelahnya ganti semau Sofanya." Serunya sebelum menutup pintu.
" Sivia, ikut Nenek yuk?"
" Tentu, aku hanya menikmatinya." Eric berjalan sambil membuka ikat pinggang celana panjangnya
Raul berdiri di depan pintu kamar tidurnya, begitu melihat Sivia, dia langsung menariknya masuk ke dalam kamarnya.
Sivia menatap kakaknya aneh ketika Raul membawanya ke kamar mandi yang ada di kamar tidurnya, lalu menyalakan shower.
" Apa? Kenapa kita di sini?" Sivia bingung akan sikap kakaknya.
" Sejak kapan kau dekat dengan ja.lang itu?" Bahkan Raul tak sudi menyebut namanya.
" Aku tidak dekat." Sangkala Sivia yang tak rela namanya ditautkan dengan Tamara.
" Tapi kau tidak banyak protes selama dia tinggal di sini."
Sivia tidak bisa menjawab, dia takut kakaknya akan marah padanya.
" Apa dia memerasmu?" Raul bersedekap dada berdiri tegak.
Sivia masih bungkam, menunduk untuk menghindari intimidasi dari akkaknya, berdiri memindah tumpuan kaki menandakan tak nyaman akan kondisinya kini.
" Apa dia tahu tentang hubunganmu dengan Herry? dan mengancam akan memberitahukan itu pada papa?" Raul mengira tebakannya tepat seirinh mimik terkejut dari Sivia.
Sivia mengangkat wajahnya syok, kemudian ekspresi takut muncul di wajahnya." Ba..bagaimana..." Gugup Sivia seketika.
" Bagaimana kakak bisa tahu? Bodoh, kau pikir papa tidak tahu kelakuanmu dengan Herry? Kalau kakak tahu, papa pasti sudah tahu."
" Tapi kenapa tetap diam?"
Raul mengedikan bahu," menunggu saatnya, mungkin."
Tubuh Sivia langsung gemetar ketakutan, Raul tidak tahan melihatnya, lantas dia membawa adiknya kedalam pelukannya.
" Tenanglah. Papa hanya tahu kau masih suka temu janji di cafe, tidak di apartemen atau hotel. Lain kali berhati-hati jika ingin bermesraan dengannya." Raul menepuk-nepuk pelan punggung Sivia agar tenang.
" Kakak tahu?" Raul mengangguk."
" Kakak bisa jaga rahasiamu dengan satu syarat." Raul menunduk menatap Sivia.
" Apa?"
" Jangan pernah kau turuti perintah nelNnek!" Tekan Raul, Sivia menatap bingung.
" Tapi sudah terlambat, aku sudah bilang menyanggupinya walau tidak tega. Nenek Sri meski terkadang judes, tetapi hanya dari beliau aku mendapat kasih sayang keluarga perempuan." Lirihnya.
" Apa yang dia perintahkan?"
" Hanyay mencampur bubuk putih pada makanan atau minuman Nenek." Sivia mengambil kantong kecil yang berisi bubuk putih itu dari sling bagnya.
Raul mengambil itu," kakak pegang, kau bisa mengatakan sudah melaksanakan perintahnya."
" Tapi aku takut pada Nenek."
" Pilihanmu berurusan dengan nenek atau seluruh Hartadraja? Ingat dibelakang Hartadraja ada petinggi RaHasiYa, kau sudah pernah berurusan dengan mereka lima tahun lalu, apa kau ingin berurusan dengan mereka di lagi?"
Sivia langsung cepat menggeleng, sungguh dia kapok berurusan dengan empat pemuda itu.
" Urusan nenek biar tanggung jawab Kakak."
Ceklek!!!
Guadalupe terkejut melihat dua cucunya sedang berpelukan di kamar mandi.
" Apa yang sedang kalian lakukan?" Nenek harap kalian tidak incest." Tuduhnya penuh curiga.
Tanpa menyita perhatian Raul memasukkan kantong kecil itu kedalam saku celana bahannya." Apa tidak ada pikiran yang lebih merendahkan selain itu?" marah Raul akan pikiran neneknya, keduanya mengurai pelukan mereka.
" Kalian berdua keluar dari kamarku." pinta Raul dengan nada kesal.
" Nenek kesini juga hanya mencari Sivia." Sinis Guadalupe sembari menarik tangan Sivia yang ditolak perlahan oleh Sivia agar neneknya tidak curiga.
" Nek, maaf. nenek kalau mau berbicara denganku tunggu besok, sekarang Sivia harus segera pergi sudah ditunggu teman-teman." Sivia bergegas berlari keluar dari kamar.
" Nek," panggil Raul melangkah mendekati Guadalupe mencegah neneknya menyusuli Sivia.
" Apa?"
" Sini, kita bicarakan lanjutan menyabotase Hartadraja." Raul duduk dipinggir kasur menepuk sampingnya,
" Nenek pikir kau tidak peduli, dan ogah membantu." Guadalupe memukul lengan Raul yang dibalas kedikan bahu.
Derrt!! Derrt!!
" Hallo," Guadalupe melipir keluar balkon kamar begitu mendapat telpon dari anak buahnya.
Perlahan, tanpa kentara Raul berpindah posisi berdiri diujung pintu geser antara kamar dan balkon menggeser sedikit pintu agar terdapat celah untuk mencuri dengar hingga terdengar suara Guadalupe yang berkata," lakukan, pastikan dia terluka parah, mati lebih baik."
__ADS_1
Senyum Guadalupe terpatri dibibir sensualnya.