Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
214


__ADS_3

" Matunda, datangilah putri dari Bram Brotosedjo. Sedari pagi saya telpon tidak dijawab." titah Navarro.


" Tuan, apa tuan belum mendapatkan kabar jika Maura Brotosedjo menjadi satu diantara sekian wanita yang dilelang?"


" Apa? Tidak mungkin."


" Tuan, anda telah lama berurusan dengan RaHasiYa, tetapi anda masih belum memahami cara kinerja mereka?"" tanya Matunda meremehkan.


" Kau...berani sekali..."


" Tuan, jika anda menggantungkan diri pada perpecahan antara Mumtaz dengan Atma Madina, itu nyaris mustahil berhasil."


" Tidak juga. Kau lihat dan  mendengarnya sendiri bagaimana mereka saling baku hantam."


" Saya tinggal membujuk Maura untuk mencairkan dana warisannya untuk proyek saya."


" Terserah anda, saya hanya mengingatkan."


" Dimana Maura saat ini, Matunda?"


" Dia bersama tuan Ernest Nugraha selama sebulan, tuan."


" Ck, sial4n. Kacau lagi sudah rencanaku." Navarro dengan daya upaya menahan amarahnya, agar suhu tubuhnya tidak membakar dirinya.


" Kita tidak bisa menggunakan dia lagi, sekarang buat dirimu berguna dengan mendatangkan Sivia padaku."


" Saya tidak mau, tuan Rodrigo dan tuan Alejandro telah memperingati saya untuk tidak mendekati keluarga mereka."


" Kau ini..kau anak buah siapa? Saya atau mereka."


" Saya bekerja untuk diri saya sendiri." skak Matunda.


Matunda dalam diamnya tertawa smirk, dia yang membocorkan semua komunikasi Maura dengan Navarro, dia tidak ingin ada orang yang mencelakakan tuannya.


*******


Sepuluh tahun lalu.


Dua remaja berbadan kurus berlomba berlari menuju rumah Ibnu dari sekolah yang dipulangkan terlebih dahulu dikarenakan para guru rapat. 


Saat tiba di m jalan setapak menuju rumahnya, dua remaja itu melihat beberapa mobil dan motor terparkir di depan rumah pak Mahmud yang terkenal kedermawanannya.


" Nu, mobil siap depan rumah Lo, mewah banget." Tanya remaja bermanik hitam.


" Gak tahu, paling kolega bapak." Jawab Ibnu.


" Gimana Lo mau pulang atau main dulu." tawar Mumtaz remaja.


" Pulanglah, panas ini."


" Oke, gue anter."


" Gak perlu, Lo langsung balik aja."


" Lo b3go, gue mau minta minum dan makan."


"  Ngobrol dong, pak Eko."


Namun canda gurau itu terhenti kala di depan rumah, dua orang asing memcurigakan mengawasi area rumah.


Mumtaz dan Ibnu bergegas bersembunyi ke balik tembok tetangganya yang tidak jauh dari sana. Lewat belakang, mereka terus melangkah dan memanjat pagar masuk ke pekarangan rumah.


Menekan satu persatu jendela setelah mereka tahu pintu belakang dapur dikunci, tidak seperti biasanya. 


Ada satu jendela yang berada di ruang tamu yang ternyata tidak terkunci, perlahan mereka berdua membukanya.


Terdengar sayupan gelak tawa dari suara lelaki yang tidak pernah di dengar sebelumnya dan tangisan pilu dari suara satu lelaki dan wanita, sedikit berdiri mereka mengintip seukuran mata mereka, mereka melihat apa yang terjadi di dalam.


Hampir saja mata mereka keluar dengan apa yang mereka lihat, Mumtaz kontan menutup mulut Ibnu yang mengeluarkan suara kaget.


Mumtaz menarik Ibnu untuk kembali turun berjongkok, Ibnu berontak menolak, ia ingin masuk, namun dicegah Mumtaz.


Dengan tubuh bergetar dan airmata mengucur Ibnu menatap Mumtaz yang memeluknya erat.


" Ssshhhtt, jangan nangis atau berteriak, mereka bisa menemukan kita."


Diiringi cegukan dan kegagapan Ibnu bicara, " ta..tapi..i..ibu..."


" Shhhtt, Lo di sini, gue lihat dulu keadaan dalam." Meski dia sendiri syok, namun Mumtaz sadar dia tidak boleh menunjukkan kelemahan.


Ibnu mengigit tangannya guna meredam tangisannya hanya menurut apa yang dikatakan Mumtaz, karena selama ini sahabatnya itu bisa diandalkan."


Mumtaz secara mengendap kembali berdiri dan melihat apa yang terjadi lewat celah jendela, seketika tarikan nafas yang tertahan juga tubuhnya yang kaku mengundang penasaran Ibnu, ia pun kembali berdiri.


Dan, apa yang dia pikir halusinasi benar terjadi.


Di sana ibunya dibawah tontonan seorang berpakaian formal serta dua orang asing yang wajahnya buram yang satu mengacungkan pistol ke kepala Mahmud tengah tertawa terbahak puas menyaksikan pria berpakaian seragam coklat tengah m3mer-kosa wanita dengan tangan bermain di d4da wanita yang terus mengeluarkan airmatanya.


Lelaki itu terus meng-genjot meski sang wanita sudah berteriak kesakitan.


" To..long..le..paskan istri saya."


" Ini buah kau tidak menuruti keinginanku." Ucap pria asing yang kedua tangannya dimasukan dalam saku celana.


" Terus serang dia, Toni..."


Pria yang bernama Toni itu mempercepat gerakan maju mundurnya dengan tangan sembari merem4s d4d4 mengabaikan teriakan ampunan dari sang suami.


" Kya.....ibuuu...."


" Khaaahhhh..hhh.." Ibnu terlonjak sesak dari tidurnya di sofa, matanya terbuka lebar, nafasnya memburu cepat. Ketiga sahabatnya menatap dirinya yang bersimbah keringat.

__ADS_1


" Nu, are you okay?  Mumtaz lekas mendekati sofa, dia tidak suka akan penderitaan dan tatapan kosong yang tergambar di wajah sahabatnya.


Ibnu diam tidak merespon, Mumtaz  memeriksa kening Ibnu dengan punggung tangannya.


" Kenapa?" Tanya Mumtaz menenangkan.


Kedua tangan ibnu menutup wajah lalu mengusapnya kasar. " Gue mimpi, atau potongan masa lalu kembali."


Daniel duduk di depannya." Apa?"


Seketika Ibnu menangis, walau ia segera menyeka kasar airmata itu terus mengalir." I..ibu....Ton...si bangsat itu melecehkan ibuku..." rintih tertahan karena dadanya yang sesak mengakibatkan tenggorokannya tercekat.


" Mu..Muy...mereka tertawa saat Toni melakukannya, Lo ingat?" Mumtaz tertegun, bimbang untuk menjawab walau pada akhirnya dia mengangguk.


" Ba.. bagaimana bisa Lo hidup dengan ingatan itu?" Tanya Alfaska muram.


" Well, seperti yang gue bilang ayah bawa gue ke psikiater, karena gue pingsan berkali dan menangis meraung setiap kali gue sadar. sampai akhirnya gue berdamai dengan hal buruk itu."


" Maksudnya?" tanya Daniel tidak paham.


" Gue sejak itu mulai mencari tahu tentang mereka."


 " Kapan? Kita gak pernah lihat Lo periksa."


" Tiap kali ayah dan papi ajak kalian main, disitu ayah bawa kita."


" Kata ayah para bapak sudah bekerjasama mengingat kalian pun sedang trauma." Mumtaz berjalan ke kursi belajarnya.


" Sejak itu juga gue mendalami dunia komputer, khususnya peretasan. Gue ingin mampu meretas seluruh jaringan rahasia di dunia hingga tidak ada satupun yang bisa disembunyikan dari gue." 


" Apa Lo seperti ini, yang Ingat satu persatu?"


Mumtaz menggeleng." Gue langsung ingat semuanya, gue di diagnosa amnesia setengah."


" Dan Lo gak bilang ke kita?" 


" Gimana caranya? Lo dan  Aniel pasca penculikan, Inu terkadang linglung dengan tatapan kosong. Bara, dia terlalu sibuk menyembuhkan luka sendiri. Gue masih ada mama dan ayah yang terus ngasih support."


Mata mereka memanas dengan airmata yang bersemayam di pelupuknya.


" Sebenarnya ketergantungan kalian ke gue menyembuhkan luka gue, gue merasa dibutuhkan, gue sadar gue lebih baik dari kalian. Yang harus gue pastikan hanya kalian baik-baik saja, maka gue baik." Mumtaz menengadahkan wajah menahan laju bulir bening yang hendak keluar.


" Muy, bagaimana agar kita terlepas dari semua kisah buruk ini?" Tanya Daniel.


" Pastikan saja kalian baik-baik saja, selebihnya biar gue yang urus."


" Berhenti bersikap bisa mengatasi segalanya, Muy." Bentak Alfaska.


" Bagi ke kita, buat kita berguna bagi lo. Di sini yang punya rasa sayang bukan cuma Lo, tapi gue, Inu, juga Aniel sayang sama Lo. Please bagi ke kita sedikiii..t aja dari derita Lo." Airmata Alfaska mengiringi ucapan itu.


Tidak sanggup bicara, Mumtaz mengangguk, " sorry, gue cuma takut kalian terluka. Gue gak mau kak Ala dan Tia kembali susah karena kita."


" Okey, besok laporannya."


" Gue sendiri yang melakukannya, Muy. Lo beristirahat lah."


" Enggak, Lo gak boleh..."


" Apa Lo pikir gue selemah itu?" Tanya Ibnu dingin.


" Bukan itu masalahnya, tapi tangan gue terlanjur kotor. Biar gue aja yang kotor, kalian jangan."


" Enggak, ini tentang gue, jadi harus gue yang mengeksekusikannya."


Mumtaz dapat melihat Ibnu sedang mode keras kepala.


" Baiklah, tapi gue harus ada di sana."


 


" Muy, Lo serius dengan perkataan Lo tentang Bara?" Tanya Daniel.


" Iya, gue serius. Soal Bara itu ngeribetin gue, si Maura rubah cilik yang gak pernah gue duga.


" Terserah kalau kalian gak suka, gue gak bisa biarin satu hal remeh merusak apa yang udah gue susun.


" Gue yakin saat ini Navarro sudah mengetahui apa yang terjadi di the Flawless, dan dia puas menertawakan kita.


" Di sini banyak orang yang berkhianat, dan gue gak butuh nambah satu."


" Tapi Muy, perkataan Lo bikin dia syok."


" Bagus, supaya dia tahu diri. Gue gak pandang bulu, siapapun yang berulah, gue singkirin. Ini juga berlaku buat kalian." Peringatan Mumtaz diucapkan selurus maniknya menatap Daniel dan Alfaska.


Mereka berdua terdiam, keseriusan di mata Mumtaz mengakhiri debat ketiganya.


" Lo anggap apa kami? Hingga dengan mudah Lo buang kami." Tanya Alfaska.


" Maksud gue, gue tahu hubungan kalian berdua lebih dekat dibanding kami, tapi lo juga gak bisa buang kami sekejap mata mengkedip." Tambah Alfaska sendu.


Dia sangat tersinggung dan terluka melihat sikap Mumtaz yang dengan mudah mengatakan akan melepas mereka seperti mereka berharga. Ia sangat iri pada Ibnu.


Ibnu yang menyadari redupnya sinar manik Alfaska diam tidak nyaman.


Mumtaz menghampiri Alfaska dan Daniel yang kini duduk di ranjang Mumtaz, berjongkok di depannya layaknya membujuk wanitanya.


Sungguh dia kesal akan situasi saat, seharusnya saat ini dia menyerang Navarro melalui Matunda, tapi persoalan Bara menundanya.


" Fa, kalian berdua pulanglah. Rumah kalian lebih gede dari ini. Kalau kosong sayang. Baca file yang berhasil Inu buka." Usir Mumtaz.


Dia tidak punya tenaga meladeni ambekan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


" Ini juga rumah gue, Lo gak lupa kan gue suaminya Tia." Ngeyel, khas Alfaska.


Mumtaz memejamkan mata, menahan kekesalannya. Ia beralih menatap Daniel.


" Karena rumah gue gedong, gue ogah sendiri. Ayah dan bunda mengalihkan sementara urusan kerja ke kantor yang ada di Serpong supaya mudah mengawasi Ayu." Timpal Daniel.


Mumtaz berdiri" Terserah, apa atuh aku mah cuma pangeran ganteng yang terjebak dengan tiga kurcaci bucin." Mumtaz berjalan ke arah sisi lain ranjang.


Merebahkan dirinya, lalu menendang bokong kedua sahabatnya sampe tersungkur 


" Pergi Lo ke kamar masing-masing, gue mau tidur. Semalaman dengerin curhatan teman yang sedang kalian iriin  noh."


"Tega Lo." Alfaska mengusap bokongnya yang lumayan nyeri teranduk lantai.


" Emang." Mumtaz menutup matanya dengan satu tangan di atasnya.


" Aaaaa..gak mau. Gue mau di sini." Bukannya pergi, Alfaska meloncat ke atas kasur lalu dari samping mengukung erat tubuh Mumtaz.


" Dih awaasss..najis gue dipeluk lo. Ah elah lepas kalian ini." Berontak Mumtaz yang terkesan sia-sia karena Daniel bergabung dengan Alfaska.


" Nu,...coba tolongin gue..." Mumtaz menghindar dari ulah Alfaska yang sengaja menggodanya dengan memonyongkan bibirnya berlaga hendak mencium.


" Ogah. Gue pergi." Ibnu beranjak keluar kamar, namun saat diambang pintu dia berucap,


" Gue kirim file ke komputer kalian yang akan menghilang 30 menit dari file terkirim kalau kalian gak membukanya." Lalu Ibnu menutup pintu.


" Ish nyebelin, kalian berdua nyebelin." Alfaska beranjak dari ranjang disusul Daniel.


" Entar kita balas, Fa." Provokasi Daniel 


" Dih, kayak yang bisa, gue kalau mau, bisa aja tahu semua isi komputer kalian." Balas Mumtaz.


" Ish...sialan gak seru."


BRAKH...


Alfaska menutup kencang pintu kamar itu yang mendapat teriakan makian dari sang empunya.


Setelah memastikan para sahabatnya pergi, mumtaz mengambil ponselnya dari saku celana yang sejak tadi bergetar. Ada pesan dari Berto.


" Kita ketemuan di cafe d'lima. Urgent!!!!"


" Heuh, kapan labirin ini tuntas." Gumam Mumtaz lemah.


******


Bara tengah terkapar di dalam bathub apartemennya dengan luka lebam yang memenuhi seluruh tubuhnya.


Terkadang dia meringis kala air hangat menyentuh luka menganga.


Para sahabat berdiri memperhatikannya dengan lenguhan malas.


 " Sekali lagi Lo nyoba m4bok, gue pastiin Jeno bawa Lo ke rumah sakit." Omel Haikal.


Selepas pergi dari rumah Mumtaz, Bara pergi ke bar dan memaksa bar yang masih tutup untuk dibuka.


Saat dirinya memesan sebotol whiskey jack Daniels, sontak para sahabat menghajarnya secara bergantian. Walau pada akhirnya mereka kalah tangguh.


Jeno lah yang mampu menghajar habis-habisan Bara itupun karena tenaga Bara yang sudah terkuras melawan yang lain sebelumnya.


Mereka tahu apa yang terjadi jika minuman laknat itu ada di tangan Bara, dia akan terus minum sampai tidak sadarkan diri.


Saat m4buk Bara akan berubah melankolis, dia akan terus melakukannya hingga dia merasa putus asa karena kesakitan hati yang tak kunjung pergi.


Hal ini pernah terjadi enam tahun lalu saat Bara, di hari kematian ayahnya dan dia sangat merindukan sosok ayahnya itu, saat itu ibunya, Sherly belum sadar dari komanya.


Bara merasa beban yang ditanggungnya begitu berat, dia merasa tidak lagi sanggup menanggungnya maka alkohol lah pelariannya.


Bagi para sahabat daripada melihat Bara m4buk mereka lebih memilih Bara babak belur, tentunya ditangan mereka.


" Hmm, pergi kalian." Ucap Bara lemah.


" Kita tunggu Lo dalam waktu 20 menit." Ujar Rizal.


Ceklek....


Bara melihat para sahabatnya berkumpul di atas kasurnya berbaringan santai menonton televisi, ia mengenakan bathrobe-nya  berjalan ke walk in clothes.


" Gue akan datangi Maura, meminta penjelasan mengapa dia melakukan itu?" ucap Bara setelah berpakaian.


" Cih, nyari penyakit. Mending kalau dia jujur, kalau enggak, Lo kan percaya aja apa yang diomongin Maura. Ucap Jeno skeptis.


" Emang gue seb3go itu?"tanya Bara sembari menyisir rambutnya.


" Gobl*k malah." Celetuk Ubay.


" Kalian ikut aja kalau gak percaya."


 " Lha emang kita harus ngikut. Gak mau gue nyawa gue ilang di tangan Mumtaz, masih sayang nyawa gue." Ucap Rizal.


" Dia gak peduli lagi sama gue." 


" Dih baper. Dia benci ke tol*lan Lo, bukan diri Lo." Sewot Haikal.


" Ayo, kita pergi sekarang." Jeno sudah membuka pintu kamar....


Yuk partisipasinya untuk cerita ini....vote, like, komen, hadiah. share juga ke teman kalian ya...


jangan lupa baca cerita aku yang lain...


tengkyu....

__ADS_1


__ADS_2