
Berto, Ibnu dan Mumtaz kini berada di lantai 28 di ruang kerja Mumtaz di gedung bernama Zaida tower.
Gedung berlantai 30 yang mereka bangun dua tahun lalu untuk perusahaan mereka yang bergerak dibidang keamanan cyber khusus perbankan. Nama Zaida diambil dari nama kedua orang tua Mumtaz yaitu Zain, dan Aida.
Perusahaan ini diberi nama Romli Company.
Klien pertama mereka adalah bank dari Dubai dan Qatar, selanjutnya merambat perbankan benua Eropa dan Amerika. Di Asia, China dan Korea adalah basis klien terbesar mereka.
Nama keduanya yang tersohor dalam bidang komputer karena sebelumnya dibawah nama RaHasiYa mereka sering bekerja sama dengan negara-negara memudahkan mereka mendapat klien kelas kakap.
" Katakan apa yang ingin Lo sampaikan." Tanya Mumtaz.
" Pak Toni dan Parmadi telah memastikan mereka menemukan anak lelaki yang merupakan anak kandung korban yang selama ini menjadi saksi kunci kejahatan mereka yang sedang dicari pak Ergi."
Ibnu dan Mumtaz membaca laporan identitas anak itu. Mereka berdua terkejut dengan identitas anak yang disinyalir sebagai saksi, saat Ibnu hendak berucap Mumtaz menggeleng.
" Lusa setelah bertemu dengan presiden, pak Arif hendak membuka kembali kasus sepuluh tahun lalu terkait kematian orang tua ibnu."
" Mengingat kasus itu dulunya sangat menjadi perhatian publik, gue khawatir anak itu akan berbahaya jadi polisi memutuskan untuk merahasiakan identitas anak itu untuk sementara.
" Kapan pak Arif bertemu dengan presiden?"
" Belum diketahui, menunggu hasil penyelidikan panglima TNI. Kalian pasti tahu polisi TNI-Polri membentuk tim gabungan dugaan adanya pemberontakan.*
" Hemm." Jawab Mumtaz tidak memberi informasi lanjut pada Berto.
" Apa korelasi antara kasus 10 tahun yang lalu dengan penyelidikan panglima TNI?"
" Navarro, mereka telah memasok senjata ilegal dari sembilan tahun yang lalu, disertai perdagangan ilegal lainnya. Jembatan Navarro adalah Gonzalez, dan negara ini adalah Brotosedjo. Keduanya hilang seperti ditelan bumi.
" Kami sudah mengkonfirmasi keluarga keduanya, dan mereka memastikan tidak tahu dimana anggota keluarga mereka. Dan mereka pun memastikan tidak terlibat dengan kejahatan keduanya." Berto berbicara sambil menilai mimik wajah kedua temannya itu.
" Apa kalian tahu dimana Guadalupe, Eric, dan Bram?" Berto memilih bertanya langsung.
" Kenapa lo pikir kami tahu?"
" Gue gak berpikir demikian? Tapi mengingat Guadalupe pernah menculik nyonya Sri dan kak Ala, dan menimbang sifat protektif akut kalian dan kemampuan kalian bisa jadi kalian menangani mereka sendiri."
" Well, kalaupun iya seharusnya kalian berterima kasih pada kami karena telah meringankan beban kerja kalian. Tapi stop pemikiran itu jika hal itu hanya analisa semata, kalau kalian terbukti menuduh kami dan tidak disertai bukti, percayalah kami tidak akan segan membongkar b0rok instansi Lo."
" Hmm, baiklah akan gue katakan itu pada atasan."
" Btw, bisakah kami minta bantuan kalian mencari keberadaan Andre, mulyadi, DNA ketu4?"
" Tidak, kami sedang fokus pada kasus Ibnu. Lagipula kami tidak menyukai instansi lo."
" Ayolah, ini demi negara ini." Bujuk Berto.
" Kami sudah melakukan banyak hal untuk negara, kalau negara ini masih acak kadut karena ulah pejabatnya, itu bukan urusan kami." Jawab Ibnu.
" Sombongnya. Nama instansi gue sedang jadi taruhannya. Massa sudah mulai mendesak."
" EGP."
" Nu, come on. Sekali ini saja."
" Ogah, kita hafal taktik kalian. kalian meminta bantuan, padahal cuma nguji ada kemungkinan kita menyembunyikan mereka lewat cara kerja kita." Tuding Ibnu kesal.
Pasalnya, bukan sekali dua kali mereka membantu peme-rintah tapi berujung mereka menjadi tertuduh, karena cara kinerja mereka yang selalu beda, tetapi berhasil menemukan objek.
" Kita juga belum menemukan pembvnuh politisi senior itu, aaarrgghhh, kerjaan gue banyak amat ya! Apa menurut kalian pembvnvhnya seorang psikopat?" Pancing Berto.
" Emang ada lagi korbannya?"
" Bisa jadi Mulyadi, Andre ternyata sudah dibvnvh olehnya juga."
" Karena apa?"
" Mereka sama-sama pejabat kotor."
" Syukurlah, siapapun yang melakukannya kami sebagai bangsa yang mencintai negeri ini berterima kasih padanya." sindir Mumtaz berlebihan.
" Ck, kalian ini bukannya bantu. Muy, please..."
" Gue mah asisten Ibnu, kalau Ibnu bilang no, yang gue sih no." Seloroh Mumtaz.
" Emang?" Berto ragu, pasalnya raut keduanya sangat meyakinkan.
" Heeh, kantor Ibnu aja di lantai 29, gue 28. Itu buktinya."
" Kok bisa?"
BUGh...
Ibnu melempar bantal sofa pada Berto," maksud Lo tampang gue gak pantes jadi CEO? Lo lihat aja papan nama gue sebagai CEO perusahaan ini."
" Kan nama perusahaannya nama keluarga Mumuy. Kok elo yang jadi bosnya."
" Lo lihat perusahaan kit yang lain namanya Mahmud company yang jadi CEO si Mumuy." Terang Ibnu malas.
" Wow kalian udah kaya ya."
" Hmm, mau apa Lo?"
" Bini, gue pesen satu."
" Lha kita aja belum punya."
Setelah Berto pergi, Nando masuk ke ruang kerja itu, wajahnya menunjukan kegelisahan.
" Bos ,gimana kalau mereka tahu gue yang bvnvh politisi itu?"
" Tenang, Gak akan ada yang tahu. Jarud sudah memastikan itu." Ucap Mumtaz.
" Lo cukup belajar yang benar siap-siap menggantikan posisi gue di Mahmud company."
" Emang Lo mau kemana?"
" Gue dan Ibnu mau fokus di Romli company saja."
" Pokoknya semester enam Lo kuliah, Lo harus udah megang perusahaan itu." Timpal Ibnu.
" Ck, males bos. Gue gak tahu sama sekali soal pertanian, pertambangan atau apapun selain komputer
" Ya belajar lah."
" Males, kita tukar posisi saja lah."
" Dih enak di elo gak enak di kita. Masalah kita sama Nando." Ucap Ibnu
Nando beranjak ke arah pintu," boda amat, gue mah mau nyuruh mami yang kerja, beliau kan lulusan bisnis." Ucapnya sebelum menutup pintu.
" Lha kenapa gak Sekarang aja." Teriak Mumtaz.
******
Di rumah sakit Atma Madina, Arif mengunjungi Ergi.
" Pada saat kematian Amelia tertangkap layar anak buah RaHasiYa, bisma dan yang lain, tetapi pak Janu bersikeras mereka tidak terlibat mereka datang mendampingi dirinya atas permintaan Birawa, apa menurut anda itu mungkin?" Tanah Arif.
" Mungkin saja, mengingat Birawa pendukung utama pak Janu. Rif, kalau kamu tidak punya bukti kuat keterlibatan RaHasiYa dalam pencarian ketu4, mending jangan membahas mereka atau mereka akan mengungkap keterlibatan lo 10 tahun yang lalu." Peringatan Ergi.
__ADS_1
" Gue gak terlibat." Sanggah Arif.
" Tapi Lo tahu rencana mereka mengorbankan pak Mahmud kan? Lo menolak tetapi Lo tahu rencana itu dengan baik, dan Lo gak melakukan upaya pencegahan apapun, kita tahu apa yang akan terjadi sama Lo."
" Presid3n kita sekarang komit menghukum tegas setiap pelaku tindak pidana kerah putih, dan cara kinerja RaHasiYa mengusut tuntas target mereka sampai ke akarnya. Buktinya berkas yang ada di atas meja Lo terkait Navarro 80% hasil kinerja mereka."
" Kita harus mengakui kemampuan cyber negara ini masih kalah jauh. Rif, gue bungkam, mereka bungkam tentang Lo, karena kita punya pemikiran yang sama Lo orang baik."
" Pak Toni mendesak gue untuk mengangkat isu mereka, atau beliau mengakui gue terlibat. Gi."
" Gue dengar kondisi beliau tidak sehat."
" Hmm, Ibnu melakukan hal yang terbilang asusila dan itu berdampak pada syarafnya."
" Berarti tamat riwayatnya, petinggi RaHasiYa terkenal sadis, mereka tidak akan berhenti sebelum lawan mereka tidak berdaya atau mati. Lo tenang saja.
" Lo tahu sepak terjang mereka?"
" Gak juga. Loyalitas diantara mereka kuat, gue dengar mereka menghukum penculik Alfaska dan Daniel, dan sampai sekarang tidak ada orang yang tahu keberadaan Aloya dan Rafael."
" Gue pikir akan beda dengan pak Toni, dia ada di tangan kita."
" Kerja mereka bersih."
" Gue tahu, dokter yang menangani pak Toni mengatakan pak Toni gangguan syaraf Akibat depresi."
" See, Lo tenang saja. Rahasia Lo 10 tahun yang lalu aman, Lo jangan menghalangi kerja RaHasiYa saja."
" Gue jadi bingung RaHasiYa itu penjahat atau penolong."
" Tanya saja sama diri Lo sendiri, soal kasus 10 tahun yang lalu, dan sekarang Lo Kapolri. Lo pantes gak nyandang jabatan ini." Sindir Ergi.
" Ck, gue bersalah, gue gak lapor, tapi gue juga gak berdaya, Toni waktu itu orang nomor 1 di instansi ini. Sedangkan gue masih ecek-ecek."
" Presiden ingin membahas ini, masyarakat sudah tidak sabar menunggu persidangan Toni." Ucap Arif.
" Hmm, good luck."
"Kapan Lo sembuh?"
" Sekarang gue udah sembuh. Tapi presid3n bilang gue off dulu, gue bantu Lo di belakang."
*******
Saat kembali ke Jakarta atas titah panglima, Zayin langsung ke rumah Birawa dengan kemarahan yang besar.
Kala mendengar berita dari Raja yang dia dapatkan informasinya dari Rio mengenai apa yang terjadi dengan petinggi RaHasiYa, Zayin tidak berniat menahan emosinya.
Ternyata Teddy dan Hanna sudah kembali, dapat dipastikan kembalinya mereka karena berita itu juga.
" Paman, dimana putramu? Zayin menantang pada Teddy yang sedang membaca koran sore ditemani secangkir kopi di ruang keluarga.
Sejenak, Teddy terkaget dengan panggilan dari Zayin yang berubah terhadap dirinya. Biasanya Zayin memanggilnya ayah, namun sekarang menjadi paman.
Teddy melipat koran," Zayin, tenang lah dulu. Ayah pikir mereka sedang salah paham."
" Apa paman sudah melihat rekamannya? Ini , lihatlah. Saya kira di sana tidak ada kesalahpahaman." Zayin menyerahkan sebuah memori card.
Zayin keluar dari ruang keluarga menuju ruang tengah dibuntuti oleh Teddy yang menghela nafasnya berat. Teddy paham betul Zayin tidak akan mendenagarkan perkataannya disaat sedang emosi
" Mana putramu, paman. Apa dia berlindung dibalik ketiak mu, khas anak konglomerat jika sudah melakukan kesalahan." ledek Zayin membahana ke seluruh ruang rumah besar itu.
Daniel yang sedang dikamar tidurnya terkejut akan suara penuh amarah itu, ia bangun dari pembaringannya, beranjak ke pintu dengan mempersiapkan diri di ha-jar kembali.
Ayunda keluar dari kamarnya bersamaan dengan Daniel keluar dari kamarnya.
" Yu, masuk kembali." titah Daniel.
" Ayu..."
" Abang gak bisa memerintah Ayu, Aa Ayin juga kakak Ayu. Sewaktu abang sibuk ngurusin perempuan gendut itu, Aa Ayin yang nyembuhin luka Ayu." tolak Ayunda yang berlari menuruni tangga untuk menemui Zayin.
jleb...
Daniel terdiam, termenung. Berapa banyak kesalahannya, berapa banyak kebodohan yang sudah dia lakukan. untuk pertama kalinya Daniel merasa sebagai pecundang pasca penculikan dulu.
Teriakan Ayunda memanggil Zayin memulihkan kembali kesadarannya.
" Aa Ayin..." Ayunda berlari menyebrangi ruanan lalu meloncat ke pelukan Zayin yang langsung ditangkap Zayin memegang punggungnya.
Hanna dan Teddy belum sempat mencegahnya, mereka khawatir Zayin membanting Ayunda karena perasaan Zayin yang sedang tidak baik terhadap Daniel.
" Ck, berat. Turun."
" Gak mau." Ayunda bergelayut dimana dua tangan melingkari leher Zayin, dan ke dua kakinya melingkari pinggang Zayin.
" Kamu bukan monyet, lagian aku kesini mau ketemu kakak kamu."
"Tuh ada di atas, hajar aja sampe babak belur. Aa Afa kurang banyak mukulnya."
" Pasti itu mah. Sekarang turun dulu, atau aku bilang sama Adel."
" Ish, tukang ngadu." Ayunda menurunkan kakinya yang membelit pinggang Zayin.
Zayin terkekeh, dia sangat tahu kelemahan Ayunda. Ayunda akan selalu kalah baik bicara mupun keganasannya dengan Adelia jika itu soal Zayin.
" Daniel, turun kau." Panggil Zayin.
Hanna bernafas lega melihat Zayin masih menyayangi Ayunda, iamendekati Zayin yang memang terlihat sangat emosi.
" Zayin, tenanglah." Hanna mengusap lengan Zayin.
" Bibi, berhentilah menyuruh aku tenang. Aa Mumuy dan Aa Inu memang bukan darah daging kalian, jadi kalian tidak akan merasa terhina akan ucapan kasar putra kandung kebanggaan mu." Tuding Zayin frontal yang menyakiti perasaan Hanna dan Teddy.
" Zayin, jangan sembarang ngucap, bunda gak salah." Daniel menuruni tangga.
Zayin tersenyum miring," Heuh, keluar juga anak manja."
Zayin menaiki tangga menjemput Zayin saat sampai di pertengahan tangga, mereka bertemu. Tanpa kata Zayin mencengkram kaos Daniel, langsung meno-njok hidung Daniel, diteruskan dengan pipi, dan di akhiri hanta-man dia rahangnya yang membuat Daniel berteriak kesakitan.
Setelahnya dia dorong Daniel yang langsung terhuyung, seakan belum puas di tendang perut Daniel hingga terjatuh kemudian terguling sepanjang sisa anak tangga sampai lantai bawah.
Ayunda dan Hanna sudah menjerit ketakutan, Teddy terperangah akan aksi bru-tal Zayin, ia melihat putranya terkapar dibawah anak tangga.
Hanna ingin menghampirinya, namun dicegah Teddy. beliau khawatir Zayin menyakiti istrinya. tindakan Zayin pada Sandra membuktikan Zayin tidak pandang bulu untuk membalas perbuatan orang yang menyakiti orang-orang tersayangnya.
Dengan santai tanpa rasa takut, dan melupakan tatakrama Zayin menuruni tangga, berdiri tegak di depan Daniel yang meringis.
" Zayin, stop." Pekik Teddy saat melihat Zayin hendak menendang perut Daniel.
" Katakan pada putra mu, bukan kami yang ingin bersama dengannya, saya ingatkan padamu, kau yang selalu menangis ingin dia temani, kau yang selalu merengek meminta pertolongannya, tapi hanya karena wanita gendut dan wajah hasil oplas yang tidak bermutu, kau buang kakak ku."
" Demi nama ayah dan mama ku, siapapun wanita yang mendekati mu akan ku hancurkan. Kalau kau berpikir karena kau menyandang nama Birawa aku tidak bisa menyentuh mu, kau salah. Bahkan akan ku siksa dirimu hingga menjadi orang tidak berharga seperti kau membuang Kakak ku seperti sampah."
Ucap Zayin tepat di depan muka Daniel," A..Ayin...ma..maafkan a..ku..." Isak Daniel. Airmatanya mengalir deras.
Perkataan Zayin bagai pedang yang berhasil menusuk jantungnya bahkan menembus raganya. ia tidak bisa bernafas, ini terlalu menyakitkan.
Tidak cukupkah rasa bersalah yang menggerogotinya, tidak cukupkah hukuman Mumtaz dan Ibnu yang enggan bersama dengannya lagi.
" ZAYIN..." Teriak Dista diambang pintu dengan nafas ngos-ngosan. Di belakangnya ada Bara dan juga Alfaska.
__ADS_1
Dista mendekat, " Zayin...apa yang....aaakh..." Ia tercekat Melihat Daniel babak belur.
Saat Dista hendak berjongkok, Zayin mencegahnya dengan menarik tangannya.
" Jangan mengasihinya, baginya kau sangat menyusahkan.."
" A..Ayin...ta..pi i..ni terlalu..." Dista sudah menangis.
Zayin menyeka airmata itu dengan yang kedua tangannya, " berhenti menangisinya, dia bukan yang baik untukmu. Dia tidak mencintai mu, Ita. Jangan rendahkan dirimu untuk orang yang belum tentu jodohmu hanya karena syahwat atas nama cinta, Ita."
" Ta..tapi ...aku..."
Derrt..drrt...
Zayin merogoh ponsel Daniel dari saku celananya, tertera nama Sania di sana. Zayin me-loudspeaker ponsel tersebut, menatap mencemooh Daniel yang menatapnya penuh permohonan maaf.
" Hallo, minyak goreng? bagaimana kencan mu dengan Mumtaz? apa dia mulai melayani godaan mu?"
seseorang wanita di dalam penthouse mewah terkejut dengan tubuh gemetar karena suara berat sarat ancaman dibalik pertanyaan sok perhatian itu.
Ia melihat kembali nama yang ditelponnya, " siapa kau?"
" Lo gak perlu tahu siapa gue, wanita haus belaian kayak Lo pasti langsung nemplok ke gue kalau liat kegantengan gue. tapi gue peringati kalau Lo berani usik Dista lagi, Lo abis di tangan gue."
" Gue gak takut sama Lo?
" Benarkah, kenapa suara Lo bergetar. Lo tanya si Devi, ibunya Jessika, dia kenal Naura mamanya Maura, apa yang terjadi dengan anaknya yang berani mengacaukan hubungan Cassandra dengan Bara, tapi karena lo berurusan dengan gue, Lo bakal mendapat lebih dari Maura."
" Mana Daniel?"
" Lo mau minta perlindungan ke dia? dia aja K.O di tangan gue. gimana bisa dia ngelindungi Lo, b*tch."
" Siapa Lo?" bentak Sania.
" Orang ganteng berkualitas premium sejagat raya."
klik...
Zayin menutup panggilan itu, melempar ponsel tersebut yang mengenai pelipis Daniel.
Zayin menggendong Dista ala bridal style, saat hendak melangkah meninggalkan rumah, kakinya ditahan Daniel.
" Za...Zayin...ma..maafkan aku..." Rintihnya.
Zayin menghempaskan tangan itu, " tidak sudi. Tidak kau, tidak Bara. Kalian ini, jika dalam situasi yang tidak menyenangkan selalu saja menempatkan kami kaum miskin menjadi orang asing. Cih mental pecundang dipiara." Zayin menatap lurus Bara yang terdiam.
Daniel menatap kepergian Zayin, melihat gadis yang masih menyandang kekasihnya terlihat nyaman dalam pelukan Zayin, itu mengusik hatinya, dia tidak menyukainya. Hanya dia yang seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi Dista.
Saat sampai di tempat Bara," kau, jangankan peduli Cassy, adik mu saja kau biarkan merana sendiri demi jalank sekelas Maura. Selera kalian para konglomerat tentang wanita sangat payah." cibirnya.
Hana memandangi putranya, dan sahabatnya dengan setengah jengkel.
" Benarkah apa yang dikatakan Zayin, kalian menyingkirkan peran Mumuy hanya karena perempuan, sementara dia mengorbankan segalanya untuk kalian."
" Lagipula kalian sangat keterlaluan, Mumuy tengah sibuk melawan kejahatan, dan kalian sibuk dengan perempuan? Come on, Aniel, Bara. Menggelikan, sangat mengecewakan." Hanna meninggalkan ruang tengah tanpa melirik Daniel yang masih tergeletak di atas lantai.
" Angkat dia, ayah lihatnya saja kesal." Teddy merangkul Ayunda meninggalkan ruangan menuju ruang kerjanya hendak berbicara serius dengan putrinya.
Alfaska dan Bara mendekatinya, Alfaska membantunya berdiri, tapi tidak dengan Bara.
Alfaska memapahnya menaiki tangga." Bar, bantu." Kata Alfaska kesal.
" Gak mau, kenapa gue harus bantu pengecut yang nyakitin adik gue?" Ucap Bara sinis.
" Karena dia sahabat gue, yang nyelametin sepupu Lo yang mau dilecehkan sewaktu diculik." Sindir Alfaska.
Bara tersentak, " Lo kata dia pengecut, ngaca diri Lo. Bukankah Lo menyangsikan Mumuy soal Maura padahal dia selalu jujur sama Lo."
Setelahnya Alfaska melanjutkan menolong Daniel yang diam sejuta bahasa. Dia bingung mengapa situasinya menjadi rumit begini.
Alfaska menggeplak kepala belakang Daniel," gue udah tahu siapa si minyak goreng itu, dia cewek jelek yang selalu ngejar Mumtaz."
Daniel menoleh padanya, " hah?"
" Iya, gak boong gue. Sebelum Lo invest ke perusahaan dia, mending Lo selidiki latar belakang keluarganya, Lo akan menemukan hal yang sangat mengejutkan."
Alfaska mendudukan Daniel di atas kasurnya. " Kenapa Lo gak beritahu gue sekarang?"
" Buat apa, Lo khianati sepupu baik gue buat cewek zonk bentukan hasil oplas itu. Cari sendiri." bentak Alfaska.
" Fa, gue gak selingkuh, serius. "
" Terserah, Lo mau zina sama dia juga gue gak peduli. Tapi satu hal yang harus Lo tahu, Lo milih dia, gue pastiin Lo nyesel dunia akhirat. Hahahhaha. Gue pergi." Alfaska keluar dari kamar. Daniel yang masih mencerna apa yang terjadi.
****
Mumtaz masuk ke kamar Zayin yang tengah mempersiapkan dirinya dengan seragam kebesaran angkatan lautnya yang berwarna biru dongker.
"Mau kemana Lo, tumben pake seragam harian?" Mumtaz duduk di tepi ranjang Zayin.
" Ck, to the points. ada apaan?" Zayin merapihkan kerah seragamnya.
" Apa Ita udah balik ke Tangerang?"
" Udah."
" Lo ngeha-jar Daniel?"
" Dikit."
Mumtaz menghela nafas gusar." Ayin,..." ucapannya terhenti, karena Zayin berbalik dan menatap tegas.
" Jangan pernah bilang jangan ikut campur. nyatanya gue gak bisa diem aja Lo dibikin di posisi salah karena arogansi khas konglomerat mereka."
Kembali Zayin berbalik ke kaca besarnya, mengenakan topi" bukannya gue pernah bilang, Lo bis ngandelin gue, A. gue ingetin sekali lagi, Lo terlalu melankolis jika berhubungan dengan mereka, sedangkan bagi gue, tergantung pandangan mereka terhadap Lo."
" Udahlah lupakan tentang mereka."
" Ya udah gue mah slow aja."
" Gimana kabarnya Tia?"
" super baik, mang Haidar terlalu manjakan dia, jadi hamilnya nyebelin banget. untung hamilnya kebo, tapi ngidamnya naudzubillah. tengah malam dia bangunin orang cuma buat nyari rujak. kan bete."
Mumtaz terkekeh geli, namun sedetik berikutnya berubah serius." Yin, gimana perasaan Lo ke Alfa?" gue tahu Lo yang paling sakit saat talaq itu jatuh."
Zayin mengedikan bahunya," Ayin udah ngomong sama suami istri itu, kalau drama itu terulang kembali, jangan harap mereka kembali ruju'."
" hehehe, si Tia pasti langsung kalang kabut."
Zayin pun terkekeh," langsung pucat dia."
" Yin, Lo rapat apaan kali ini?"
Zayin memindahkan kursi meja belajarnya, ke hadapan Mumtaz, dan duduk di sana.
" Navarro sudah siaga, sayangnya kami tidak bisa masuk ke sistem rudal mereka. A, Lo gak bisa selalu menghalangi kami,beritahu kami sandi rudal itu."
Mumtaz balas tatapan Zayin tepat ke ambil coklatnya." Gue gak pernah mengalami kalian, masalahnya, gue lebih tahu dulu ketimbang kalian. kalau kalian belum bisa membuka kode rudal itu, itu bukan salah gue. kalian aja yang payah."
" Iya juga ya"....
__ADS_1