
Setelah pertemuan mendadak tentang Aloya di ruang inap Jimmy, semua orang menuju mesjid yang berada di area rumah Mumtaz.
Jimmy menolak dirawat di rumah sakit, dan juga tidak mau pulang ke rumahnya, ataupun ke rumah Bara, semula mereka hendak berkumpul di rumah Mumtaz, namun ternyata dikunci rapat.
Setelah melakukan shalat gaib bersama warga, mereka memutuskan berkumpul di rumah Birawa.
" Nu, belum juga ada petunjuk?" Tanya Jimmy untuk kesekian kali, Jimmy berbaring di sofa panjang ruang tengah, Ibnu menggeleng.
" Lo bisa ambil di cctv lalu lintas atau setiap kamera yang mereka lewati. Iya kali orang Indonesia gak ada yang punya cctv di rumahnya!" Komentar Jimmy kesal.
Menghela nafas jengah Ibnu menatap kesal Jimmy," semua udah dijabanin RaHasiYa, hasilnya nihil."
" Cih, katanya RaHasiYa perusahaan terbaik dalam hal peretasan dan teknologi, tapi nyari jejak satu keluarga aja gak bisa, payah." Cemooh Jimmy.
" Nemuin gue di hutan, dan gunung aja Lo mampu, iya kali nemuin si Mumtaz di darat terbuka gini RaHasiYa kagak bisa!" Jimmy masih mengomel.
Pletak!!!
Daniel menjitak kepala Jimmy gemas, " yang kita hadapi ini seorang hacker yang bisa ngegerakin satelit hingga kita bisa nemuin Lo dalam hitungan jam, ege." Omel Daniel.
" Hajar Niel, kasih dia tahu. Luar angkasa aja dia taklukan apalagi cuma jalan raya. Lo kalau gak bisa bantu mending mingkem kecuali Lo nemuin suatu petunjuk." Omel Ibnu.
" Maksud Lo?"
" Lo pikir kita pake apa bisa nemuin Lo dalam waktu singkat?"
" Pake drone navigasi, dan robot." Jawab Jimmy polos.
Pletak!! Lagi, Daniel menjitak kepala Jimmy, Jimmy meringis
" Emang penemuan Lo bisa dipake dalam cuaca hujan ditengah hutan begini?"
Jimmy mematung bingung ingin mengangguk atau menggeleng.
" Kagak bisa! Gue bisa nemuin jejak Lo cuma sampe mesjid atta,awun setelahnya lost contact."
" Nah itu caranya Lo bisa nemuin bang Jimmy gimana, bang?" Tanya Raja antusias
" Waktu itu gue buntu, tiba-tiba si Mumtaz pamer Gimana cara dia menggerakkan satelit, dan akhirnya kita bisa nemuin Lo. Drone dan robot hanya pelaksana setelah Mumtaz memasukan informasi Lo di sistem."
" Bang, ini yang Lo ceritain satelit di ruang angkasa atau satelit air tanah?" Tanya Juan tak yakin.
Pertanyaan konyol dari Juan membuat Daniel jengah," Lo lihat youtubenya Rio."
Mereka sontak membuka ponsel masing-masing dan membuka youtube, termasuk Jimmy.
Selama 25 menit tidak ada yang bicara, mereka secara khusu' menonton kinerja Mumtaz masa pencarian Jimmy.
"WOW.."
" WOW..."
" COOL..."
" KERRREEENNN." Serempak para sahabat memuji.
" Gue gak nyangka Lo sekeren ini, bang." Ucap Raja pada Ibnu.
" Sekarang Lo bisa nyebut aksi kita keren, tapi pas gue dikejar tim cyber seberang gue keringat dingin. Bayangin tu bocah demi nyari Lo doang nekat masuk satelit milik militer Amerika dan Rusia." Omel Ibnu buat Jimmy yang sibuk dengan laptopnya.
" Sampe sekarang NASA dan militer Amerika dan Rusia masih mencari pelaku penerobos satelit mereka, Lo tahu apa resikonya kalau kita ketahuan? BAHAYA!!! Jadi bayar pengorbanan kita dengan jadi suami yang baik bagi Tia." Tukas Ibnu panjang lebar.
Ibnu pusing, karena sejak dia keluar dari rumah sakit, dia langsung ke RaHasiYa atas permintaan Hito yang memaksanya memberikan ringkasan rekaman apa yang terjadi kepada Zahra selama sebulan.
Tak lupa dia juga memerintahkan tenaga ahli RaHasiYa untuk mencari jejak Mumtaz.
Setelahnya meluncur ke masjid, dan sekarang di rumah Birawa, dan menghadapi kecerewetan Jimmy.
Jimmy menutup mulutnya rapat, dia agak gugup kalau Ibnu sudah agak kesal.
******
Di ruangan teratas gedung Hartadraja telah berkumpul klan Hartadraja, Birawa, dan para pemegang saham lainnya.
Mereka sedang menonton berita bisnis yang dihebohkan pengajuan pailit oleh Husain ke pengadilan niaga, oleh media Husain group sudah dinyatakan bangkrut.
Dengan kebangkrutan Husain, posisi perusahaan mengalami perubahan drastis, komposisi top 5 yang semula Hartadraja, Atma Madina, Husain, Birawa, Pradapta. Saat ini Birawa, Pradapta, Atma Madina, Dirgantara, dan Hartadraja.
" Laporan itu omong kosong, bagaimana mungkin kita bisa terjun dari posisi puncak ke posisi terendah di top 5." Protes nenek keras kepala.
" Turunnya kredibilitas Hartadraja diawali pengumuman pertunangan Hito dengan Zivara Husain yang memang sedang mendapat perhatian negatif di masyarakat." Jelas Damian, selaku direktur investasi dan perencanaan.
Aznan melempar iPadnya ke atas meja," Saham Hartadraja corp. Selama tiga puluh delapan jam terakhir merosot tajam." Ucapnya menatap lurus sang ibu.
" Sejak melakukan merger dengan Alatas kontraktor dan ditambah dengan berhasilnya tanda tangan Mega proyek Pembangunan perumahan di swiss point Alatas architecture terus meroket mendekati Hartadraja, tak mustahil dalam waktu 24 jam Hartadraja terlempar dari top 5.
" Birawa, bukankah kalian bisa menolong kami?" Kita sudah berteman lama!" Bujuk nenek.
Teddy Birawa yang duduk bersila dengan santai menjawab," anda telah menyakiti keluarga Aida, mereka adalah keluarga kami, mustahil kami membantu anda. Hal ini sudah dibicarakan dengan paman Fatio dan Aznan dan mereka makluminya."
" Atma Madina saat ini bukan dalam posisi membantu kalian, Nyonya lihat sendiri performa Atma Madina sedang menurun." Jelas Aryan santai.
" Hito, kau sebagai CEO apa tak bisa berbuat sesuatu? Tanya nenek.
Hito diam bergeming.
" Hito, dewasalah. Kau harus bertanggung jawab Hartadraja diambang kebangkrutan!?" Teriak nenek panik
" Tidak, kita tidak bisa melakukan apapun. Ingat, kita berhadapan dengan RaHasiYa. Hanya kau yang bisa merubahnya." Jawab Hito sinis.
" Apa? Katakan akan nenek lakukan." Nenek penasaran.
" Seperti permintaan Mumtaz, kau harus meminta maaf dan mengumumkan pembatalan pertunangan Hartadraja dengan Husain yang konyol itu."
Nenek terdiam menyerapi perkataan Hito, kemudian menggeleng," tidak, nenek tidak mungkin melakukan itu." Tolak nenek sengit.
Hito dengan santai mengedikan bahu," terserah, dan nikmati kebangkrutan."
" HITO, tidak bertanggung jawab sekali kamu. Nenek lengserkan kamu dari posisi CEO." Ancam nenek melupakan suatu fakta.
" Lakukan, aku tidak butuh posisi itu."
Respon Hito yang terkesan meremehkan membuat nenek naik pitam," cepat selenggarakan RUPS luar biasa pelengseran Hito dari jabatan CEO." Seru nenek.
" Maaf, Nyonya. RUPS itu belum bisa dilakukan, mengingat Mumtaz dan Zahra selaku pemegang saham masing-masing 10% dan 15% tidak hadir." Jawab Heru, selaku asisten Hito.
" Apa? Bagaimana mereka memiliki saham di Hartadraja corp?"
" Mumtaz membeli saham yang dilepas oleh Husain, sedangkan Zahra mendapatinya dari pemenuhan syarat yang diajukan pihak keluarga korban kecelakaan dimana Hito pelakunya." Heru menjelaskan secara jelas agar nenek tidak lagi bertanya.
Nenek tersentak, dia tak menyangka keluarganya dengan mudah ditaklukan oleh seorang mumtaz.
" Apa hanya itu jalan satu-satunya?" Ucap pelan nenek memandang Damian.
" Iya, dan waktu nenek tidak banyak. Ingat, Mumtaz memberi tenggat waktu 48 jam." Ujar Akbar.
" Nyonya, maaf kami sebagai pemegang saham menyatakan sikap jika dalam sisa waktu tidak melakukan permintaan bapak Mumtaz, kami akan menarik investasi kami, kami tidak ingin mengambil resiko berurusan dengan RaHasiYa." Ucap salah satu pemegang saham.
" Pah,..." Sri berharap pertolongan dari Fatio.
" Ini ulah mu, kamu sendiri yang harus menyelesaikannya." Seru Fatio tenang.
Desakan keadaan yang menghantam nenek membuat dirinya kesal, tatapan tajam dia arahkan kepada Hito yang memberi respon cuek.
*****
Kediaman Fatio Hartadraja dipenuhi para wartawan yang diundang ke konferensi pers yang diadakan keluarga Hartadraja.
Mereka duduk berjajar di belakang microfon.
Setelah pembukaan yang dilakukan Heru, selaku asisten Hito. Nenek berdiri di depan microfon.
" Selamat malam semuanya, seiring simpang-siurnya berita mengenai keluarga Hartadraja, saya selaku tetua urusan rumah tangga akan melakukan beberapa klarifikasi mengenai berita yang ada.
__ADS_1
Bahwa bisnis Hartadraja dalam keadaan baik-baik saja, masih dalam kendali, para investor masih solid, jadi berita yang mengatakan Hartadraja corp ditinggal para investornya itu hoax.
Bahwa pertunangan Hito Hartadraja dengan Zivara Husain...dibatalkan.
" Demikian dan terima kasih." Nenek mengakhiri klarifikasinya dengan cepat.
" Apakah pembatalan ini karena Husain sudah bangkrut?" Tanya salah satu wartawan
" Apakah dokter yang bernama Zahra sebagai perusak pertunangan ini?"
Hito dan yang lain terperanjat kaget dengan pertanyaan itu, bagaimana mereka mengetahui tentang Zahra jika selama ini Hito sangat hati-hati bersikap di depan umum.
Heru mengangkat tangan tanda tenang," pertunangan ini direncanakan dan diumumkan tanpa sepengetahuan Hito dan Hartadraja lainnya. Pertunangan ini hanya atas kehendak nyonya Sri dan nyonya Farah Husain berserta Zivara sendiri, karena ternyata Hito tidak menyukai Zivara, maka pertunangan ini dibatalkan." seru Heru tanpa memperhatikan etika.
" Kenapa tuan Hito tidak angkat bicara mengenai pertunangan ini?"
" Seperti yang kalian tahu tuan Hito malas bicara hal yang tidak penting, baginya berita pertunangan ini tidaklah penting." Terang Heru.
Nenek menatap tajam punggung Heru yang berani bicara lancang bahwa tindakannya hanya hal sepele.
" Apakah berita mengenai dokter Zahra juga tidak penting?"
Hito berdiri mengganti Heru, semua orang terkaget tidak menyangka tuan muda ini mau memberi keterangan apalagi di depan media.
" Sudah lama saya jatuh cinta pada dokter Zahra, dan sudah beberapa bulan ini kami menjalin hubungan, bagi saya hanya Zahra calon istri saya. Saya mencintai Zahra, sangat mencintainya hingga saya tidak tertarik pada wanita lain. Terima kasih." Hito kembali duduk.
Ucapan Hito itu mengegerkan para wartawan mengingat Hito termasuk individu yang pelit bicara apalagi membicarakan hal pribadi.
****
Zivara menghela nafas berat menonton konferensi pers Hartadraja, dirinya merasa dipermalukan.
Zivara mengganti Chanel televisi ke berita bisnis yang memberitakan kepailitan perusahaan keluarganya, dia merasa bersalah kepada papahnya yang telah berjuang mempertahankan bisnis keluarganya. Dia dan mamahnya yang ternyata menghancurkannya.
Kala mengambil keputusan menyetujui rencana nyonya Sri dia benar-benar melupakan sosok Mumtaz dan Zayin yang protektif terhadap keluarganya.
Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya, jiwa dan raganya lelah, persahabatannya dengan Zahra hancur, akibat dari pernyataan Hito tadi predikat pelakor akan dia emban.
Klekkk!!! pintu dibuka oleh seseorang, namun Zahra enggan mengangkat kepalanya.
Farhan duduk di kursi seberang Zivara, tangannya mengusap kepala Zivara.
" Udah makan?" Zivara menggeleng mendengar pertanyaan dari Farhan.
" Ada yang bisa kubantu?"
Zivara menegakkan badannya," apa yang sudah ku lakukan? Mengapa semuanya jadi kuburan bagiku?" eranganya sedih.
" Aku sama sekali tidak menyangka akan berurusan dengan RaHasiYa, apa kau pikir bisa membantuku? Hartadraja saja tidak bisa melawan mereka!"
Farhan terdiam menyadari itu.
" Hira pernah mengingatkanku tentang Mumtaz dan Zayin, tetapi aku mengabaikannya."
" Apa kamu suka Hito?" Zivara tidak menjawab, Farhan memejamkan mata sejenak untuk menekan emosinya karena Zivara tidak menyanggahnya.
" Aku enggak tahu aku suka atau tidak padanya, tapi aku hanya tak ingin menyesal seperti aku membiarkanmu menikah dengan dr. Anna dulu tanpa perjuangan."
Farhan tertegun, dan menetralkan raut wajahnya.
" Zahra bukan kekasih yang baik bagi Hito, dia tidak memperdulikan Hito yang berada dibawah tekanan nenek, aku yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, aku yang lebih sering duduk di mobil Hito, bukan Zahra."
Zivara diam.
" Apa atas keinginan Hito kau satu mobil dengannya?"
Masih diam.
" Jika tidak, maka kau tidak berarti apa-apa bagi Hito. Aku mengenal dia lebih lama darimu, setiap membicarakan wanita tercintanya nama Zahra yang selalu dia sebut, namamu tidak pernah disebutnya meski dalam keadaan marah."
" Tapi dia tidak menolakku?"
" Tapi dia tidak menerima mu. ungkapannya tadi di depan media membuktikan dia menolak mu, Ziva."
Zivara terdiam, memikirkan perkataan Farhan.
" Menyerahlah atau kau akan kehilangan aku kembali, aku bukan selingan, Zivara." Farhan mengultimatum Zivara.
Zivara terdiam entah kenapa kalimat terkahir Farhan membuatnya takut.
****
Permisi,..." Salam tamu.
" Eidelweis membuka pintu utama."
" Nyari siapa ya mas?" Tanya Eidelweis
" Apa benar ini rumah Eidelweis Hartadraja?"
" Iya, benar."
" Saya dari dealer dititipkan untuk membawa mobil atas nama saudari Aulia Zahratul Kamilah kesini?"
Eidelweis terkaget, dia berbalik kembali ke dalam rumah, pengantar tadi mengernyitkan bingung. setelahnya Eidelweis kembali dengan beberapa orang.
" Kapan mas menghubungi mereka?" Tanya Jimmy.
" Eeh,...i...itu saya. kemarin mengirim email." Jawab pengantar dengan gugup.
" Bohong, mas bohong." Bentak Jimmy, karena dari kemarin mereka sama sekali tidak bisa menghubungi Mumtaz dan saudaranya.
" Tidak, ini buktinya." sang penganter menyerahkan bukti Email pada Jimmy.
Jimmy dan yang lain saling pandang," mas boleh turunkan mobilnya." Ujar Eidelweis menunjuk ke garasi di depan rumah Eidelweis
Tak lama menyelesaikan soal mobil terdengar suara pintu pagar rumah mama Aida dibuka oleh orang, para sahabat berlari untuk memastikan, Fatih terperanjat kaget karena diteriaki oleh Jeno dan yang lain.
" Lagi ngapain Lo Tih?" Tanya Daniel mendekati Fatih.
" Ini gue disuruh Mumtaz bangun garasi buat mobil kakaknya."
" Kapan dia ngehubungi Lo?" Tanya Jimmy.
" Tadi pagi."
" Gimana caranya?"
Fatih yang heran dengan pertanyaan beruntun hanya bisa menjawab.
" Email." Fatih memasuki pekarangan rumah diikuti para sahabat.
****
Pukul 03.30 wib, di rumah sederhana terdengar suara Isak tangis yang berasal dari dua kamar tidur yang ditempati Zahra dan Tia.
Mumtaz dan Zayin yang duduk di sofa ruang tamu menghela nafas berat, kepergian mama membuat rongga hati mereka kosong, dan sekarang diisi kepiluan.
Tak lama Zahra bergabung dengan mereka. dengan mata sembab.
" Muy, apa tidak bisa membebaskan Hartadraja?" Tanya Zahra hati-hati.
__ADS_1
" Kak, soal Hartadraja its all about ego. Si Nyonya itu belum minta maaf padamu." Ucap Mumtaz.
" Kakak gak apa-apa."
" Kak, pahami aku. Beliau bukan sekali dua kali hina kamu, ini caraku melindungi keluargaku."
" Muy, prinsip dasarnya orang tua selalu benar, anak selalu salah. Kita orang yang lebih beradab tak patut orang tua meminta maaf kepada anaknya." Zahra mencoba menjelaskan.
" Kakak bukan anak dia." Ucap Zayin lemes.
Zahra mendelik sebal pada Zayin," bukan itu pointnya. Yin."
" Jika Allah menjodohkan aku dengan Hito, dimana nenek meminta maaf padaku akan selalu menjadi ranjau bagi kami."
" Beneran kakak tidak apa-apa?" Tanya Mumtaz memastikan, Zahra mengangguk.
" Oke, Aa biarkan mereka, namun tidak berminat memperbaiki keadaan."
Zahra tersenyum," mama pasti bangga sama kamu yang udah lapang hati, gak seperti seseorang." Zahra mendelik pada Zayin.
" Aku bisa membanggakan mama dengan cara lain." Zayin masih ngeyel.
" Yin, ada email pengiriman mobil kakak, mau taruh dimana mobil kakak?"
" Numpang aja dulu di rumah Tante Edel."
" Lusa operasi kakak berkaitan dengan kasus itu."
" Udah diurus sama Dimas, atas sisi kemanusiaan itu ditunda nanti habis tujuh hari mama."
" Kamu sudah mengatur semuanya kan?"
Mumtaz menatap Zahra seakan ada sindiran dalam ucapannya.
" Tia, dia pasti butuh Jimmy."
Mumtaz menatap Tia yang berdiri diambang pintu tengah, tangannya memberi tanda Tia untuk mendekati mereka.
Mata sembab Tia mengusik hati mereka, Tia duduk ditengah-tengah Mumtaz dan Zayin.
Mumtaz memeluk Tia," maaf. Biar Ibnu, Daniel, dan Radit menatar mental Jimmy dahulu, bagaimana dia bisa menjadi suamimu yang baik jika dia tidak bisa mengatasi beban hidup dia sendiri. Bagaimana kamu bisa menjadi pendamping Jimmy yang menanggung beban berat jika kamu belum bisa kuat untuk mandiri."
" Beri waktu untuk kalian sendiri, sebelum kalian bersama dalam mahligai rumah tangga. Tidak ada lagi mama yang menjadi akar hidup kalian, bersabarlah." Timpal Zayin.
Tia mengangguk dalam tundukan kepalanya," bukan karena kalian benci kami?"
" Kenapa dah? Tidak ada kebencian dalam keluarga yang ada sindir-sindiran." Sarkas Zayin melirik Zahra yang berekspresi polos.
*****
Atmosfer ruangan dilantai teratas menegang, sudah dua jam mereka berkumpul dan berdebat terkait keadaan Hartadraja yang belum membaik.
" Dasar pembohong, mereka bilang akan menghentikan tindakan mereka kalau saya bicara, tapi mana? Hartadraja masih saja bergerak negatif." Murka nenek.
" Heh, ikhlas sekali anda." Sindir Teddy.
" Kurang aj..."
" Berhenti, atau saya tarik investasi Birawa di Hartadraja corp." Ancam Teddy tegas.
Nenek diam dengan raut naik pitam.
" Kau melupakan sesuatu Nebuy." Ucap Akbar
" Apa?"
" Meminta maaf kepada Zahra, itu yang juga di pinta oleh Mumtaz bukan!?"
" Tak sudi." Dengus nenek.
" Maka bilang good bye pada top 5." Cerocos Adgar.
Nenek menggeram dengan melotot, Adgar hanya cuek.
" Menurut kalian siapa yang bisa menstop tindakan Mumtaz?" Tanya Damar.
" Kalau ada mama Aida, hanya mama Aida yang bisa mengerem mereka, sekarang..." Perkataan Adgar menggantung.
" Zahra, hanya Zahra yang bisa menstop Mumtaz dan Zayin." Ucap Bara bergabung dengan mereka.
" Sorry, telat." sesal Bara.
" Bullshit, mana bisa si Zahra itu mengatur adik-adiknya yang dia bisa hanya merusak kehidupan orang." culas nenek.
" Berhenti Nyonya, Mumtaz melihat kita, kecuali anda ingin hancur sekarang juga." Ungkap Bara.
Nenek dan yang lain diam, memutar penglihatan mereka ke semua arah di ruangan.
" Pertanyaannya siapa yang bisa meredam amarah Zahra." Bara kembali ke pokok pembahasan setelah melihat tingkah konyol orang-orang diruangan ini.
Semua pasang mata menatap Hito, Hito bergeming.
" Lupakan, sekarang saja saya belum bisa menghubungi Ara." Imbuh Hito pelan.
" Melihat performa Hartadraja yang stuck di tempat ku pikir Mumtaz sudah mendapat wejangan dari Zahra." Ucap Daniel yang baru datang bergabung.
" Apa urusan anda di sini Birawa muda?" sarkas nenek.
" Saya di sini mewakili RaHasiYa tentang kelanjutan kerjasama kita." ucap Daniel menatap klan Hartadraja.
" Apa kalian mempertimbangkan memperpanjang kontrak kita?" tanya Damian semangat
" Mungkin, dengan syarat anda, Nyonya tidak mengusik Zahra dan keluarganya kembali." Tukas Daniel.
" Tidak profesional, mencampuradukan soal pribadi dalam urusan bisnis." cemooh nenek.
" RaHasiYa tidak akan menjadi salah satu perusahaan terbesar dan terkuat hanya dalam waktu empat tahun jika dijalankan tidak profesional, Nyonya." ucap memperingati dari Daniel.
" Hartadraja tidak butuh sekelompok anak muda tidak sopan seperti kalian."
Rahang Daniel mengeras atas hinaan nenek.
" Baiklah, kalau begitu..."
" Abaikan, abaikan ucapan beliau. ucapan beliau tidak memiliki kekuatan apapun bagi Hartadraja." putus Fatio.
Nenek terbelalak mendengar ucapan suaminya yang menjatuhkan wibawanya.
" Ucapan beliau bisa menyakiti kak Zahra, ia kakak saya. jadi jika kalian ingin kerjasama ini berlanjut pastikan beliau tidak mengusik kak Zahra dan keluarganya, kalian sudah melihat nasib Husain sebagai contoh apa yang bisa kami lakukan terhadap orang yang menghina keluarga kami."
" Tidak akan saya biarkan." Sesuai Hito tajam."
" Pastikan, sekarang juga. Hitam di atas putih!" Tekan Daniel
" Birawa muda, kau tahu Hartadraja bukan seorang pengkhianat!" tegur nenek tak menerima penghinaan Daniel atas keluarganya.
" Saya tidak meragukan loyalitas Hartadraja yang lain, hanya anda yang saya ragukan."
" Baiklah akan kami siapkan berkas kerjasama yang baru." seru Heru beranjak pergi keluar ruangan.
" Serius kalian menuruti keinginan mereka? Zahra akan besar kepala karena berhasil melumpuhkan kalian." hardik nenek
" Nebuy, hentikan. Nenek tidak tahu apapun, ini bukan hanya soal bisnis ini soal kemanusiaan." ucap Akbar dengan intonasi tinggi.
" Kak Zahra bukan anda yang suka merendahkan, ini peringatan terakhir saya. Anda akan berhadapan dengan Birawa, dan Atma Madina jika mengusik Zahra dan keluarganya." tatapan tajam mengiringi ultimatum Daniel.
" Btw, tumben abang ada waktu kemari?" tanya Adgar.
" RaHasiYa sudah menemukan Mumtaz dan keluarganya, kami hanya ingin menjamin mereka terjaga kehormatannya kala mereka kembali.
Kecuali Bara, semua pasang mata terbelalak terkejut...
Jangan lupa Like, KOMEN yang membangun, dan VOTE ya...
__ADS_1