Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
180. Setidaknya Satu Orang telah Lenyap.


__ADS_3

" Yu, bagaimana kalau kamu sama Nando atau Andros? Mereka berdua sama pinternya cuma beda casing."


" Oh, iya. Kenapa gak kepikiran. Si Andros pasti mau, dia lagi cari dana buat kuliahnya di luar." Ayunda mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya.


Ponsel itu tiba-tiba terlepas dari tangannya, ia mendapati Ibnu di belakanganya.


Ayu melirik tajam Rio yang mengedikan bahunya tidak tahu.


" Jangan berharap, jangan bermimpi." kata Ibnu.


" Kembalikan." Ayunda meraih-raih ponselnya yang diacungkan tinggi oleh Ibnu.


" Janji untuk tidak melakukan hal bodoh itu."


" Ish, gak ada urusannya sama Lo." Sentaknya, semuanya ternganga akan keberanian Ayunda.


" Ada, dan aku bisa bikin hidup Andros gak punya pilihan selain menjadi kuli di pasar." Tekan Ibnu menatap netra coklat Ayunda."


" Pilih..."


" Iya, ih. Gak asik. Terus siapa dong?"


" Ya gak siapa-siapa. Masih kecil sekolah dulu yang benar." Ibnu menyentil jidat Ayunda.


" Ish, sakit tahu. Beliin pizza ukuran jumbo, gak mau tahu."


" Hmm, modusnya cerdas. Dan Lo, Yo. jangan bikin ide yang gak mutu kayak gitu lagi, awas lo."


Rio mendengkus," sama orang lain gak boleh, tapi sendirinya labil mulu. Kurang protein Lo."


" Setuju " Khadafi dan Rio bertos tangan.


" Mumuy, kemana?" Tanya Ibnu,


" Pergi, sama bang Domin. Btw,  bagaimana nasib Otong Lo?" Tanya Rio random.


Ibnu melirik Ayunda." Ck, Jang ulangi lagi, Ayu."


" Jangan mendrama lagi, makanya."


" Gak bilang dia mau kemana?" Ibnu mengambil duduk disebelah Ayunda.


" Enggak, bilangnya urgent." Jawab Sisilia.


******


The  Baraz.


Mumtaz nekat menggunakan the Baraz tanpa izin dari Bara terlebih dahulu saat Gurman menelpon Dominiaz untuk bertemu guna mengeksekusi Guadalupe.


Alejandro, Rodrigo, Mumtaz, dan Dominiaz kini memenuhi ruangan luas bernuansa gelap yang terletak di bawah tanah, yang biasanya dijadikan fase akhir penahanan para musuh Bara.


Di sepanjang bagian sebelah kiri ruangan, dibatasi pagar besi ada beberapa tempat tidur otomatis yang terhubung ke halaman sekitaran bangunan. Tampak Tamara, Brotosedjo, dan kawannya terbaring bagai mayat hidup dengan lampu menyala berbeda warna.


Kini Guadalupe menjadi bagian dari mereka dengan pisau yang masih menancap di leher, hanya matanya yang berkedip yang menandakan kalau dia masih bernyawa.


" Tuan yakin mau menempatkan dia di sini?" Tanya Mumtaz.


" Yakin, apa kamu bisa menghubungkan kondisinya ke para musuh saya dan Navarro?


" Tentu, saya pikir. Kalian akan bawa dia balik kampung. Atau setidaknya dibawah kuasa Gaunzaga."


Mumtaz beranjak ke ruang sudut sebelah kanan yang terdapat jejeran meja dengan banyak alat dawai dilengkapi layar lebar.


Rodrigo menyusul Mumtaz, dia duduk disebelahnya. Tertera gambar peta Meksiko di monitor komputer.


"Kau bisa memasukan identitas target, secara otomatis sistem akan menghubungkan mereka dengan Guadalupe."


" Saya sudah menghubungi tuan Riina, dan beliau setuju. Jadi Dominiaz, tanpa mengurangi rasa hormat Sinolan Jaquino kepada Gaunzaga, saya memutuskan akan mengakhiri hidup Guadalupe di sini. Saya enggan menghabisi uang saya untuk sekedar mengangkut dia." ucap Alejandro.


Tatapan tajam Alejandro menghunus Guadalupe yang menitikan airmatanya.


" Saya pribadi tidak masalah, tapi jangan ingkari kesepakatan kalian,  untuk wilayah italia, segala urusan Navarro itu menjadi bagian Gaunzaga, dan kalian penanggung jawab bisnis Gaunzaga di bagian Amerika latin dan sekitarnya.


" Tidak akan, hanya biarkan kami turut berpesta dengan kalian." Ucap Alejandro.


" Tentu."


Berselang setengah jam Mumtaz dan Rodrigo bergabung kembali dengan mereka, ditangannya, Mumtaz membawa dua laptop yang ditaruh di tengah meja, dan sebuah remote yang dia berikan pada Dominiaz, meski tidak paham untuk apa, Dominiaz menerimanya.


" Tuan, Sebelum anda terhubung dengan mereka, saya akan menerangkan arti lampu hijau, kuning, dan merah yang terdapat di atas brankar tahanan."


" Lampu ini terhubung langsung dengan detak jantung, jika lampu berwarna hijau, artinya orang tersebut masih hidup. Kuning, untuk mereka yang sekarat. Dan merah untuk detak jantung mereka yang berhenti, dua jam setelah lampu merah menyala, para dokter akan memeriksa kondisi mereka, jika mereka dinyatakan meninggal oleh para dokter itu, tubuh mereka akan menjadi santapan para binatang penunggu gedung ini. Anda paham?"


" Itu berarti Brotosedjo, detak jantungnya sudah tidak ada?" Tanyanya menunjuk ranjang Brotosedjo yang lampunya baru berubah dari kuning menjadi merah."


" Menurut mesin begitu, pemeriksaan lanjutan dua jam kemudian."


" Itu mah keburu mati beneran." Celetuk Dominiaz.


" Lha memang itu tujuannya." Imbuh Mumtaz.


" Apa tuan Bara tidak akan marah?" 


Tanya Rodrigo.


" Paling ngambek sebentar karena tidak diajak. Ini kan moment favorit dia."


"  Saya paham." Tukas Alejandro.


Mumtaz sejenak mengetik di atas laptopnya, " Tuan, mereka sudah tersambung dengan kalian."


Mumtaz menghadapkan satu laptop yang menampilkan beberapa wajah para tokoh bawah tanah yang tersohor di dunia pada Alejandro, Rodrigo, dan Dominiaz yang duduk bersampingan.


Ia sendiri melipir ke belakang, berbisik ke telinga Dominiaz, " Abang bisa menekan remote itu jika ada yang membuat Abang kesal." bisiknya sebelum duduk dibalik laptop dengan menyalakan satu laptopnya lain.


" Hallo,.."


" Holla,..."


" Saya Alejandro Gurman, pemimpin kartel Sinolan Jaquino, dan disamping saya, rekan saya Dominiaz Gaunzaga, perwakilan Riina dan Filippo Gaunzaga. Dengan berbangga hati menunjukan pada kalian..."


Gambar full Guadalupe ditayangkan di sana, mereka terkesiap siaga.


" Saya tahu,... beberapa diantara kalian bekerjasama dengan dia dan Navarro untuk melemahkan Sinolan. Saya akan memberi kalian kesempatan untuk mengembalikan hak saya yang kalian curi atau kalian rasakan pembalasan kami." Tajam Alejandro, sang diktator Sinolan.


" Huh, jangan terhasut. Itu sebuah rekayasa tidak ada bukti, kami bisa menyerang anda." Ujar Valentino sombong.


" Hmm, bukti..." Rodrigo mengangguk-angguk.


" Eduardo, dan Pablo...apakah setelah penyiksaan terhadap mereka kemarin hanya karena  menculik profesor Zahra dan nyonya besar Hartadraja?" Bibir sexy Dominiaz mengulum senyum culas.


Wajah Valentino menegang, begitupun dengan yang lain.


Sebenarnya Alejandro dan Rodrigo tidak paham atas apa yang sedang dikatakan Dominiaz, mereka pun kini diam mengamati.


" No, off course not. More than that."

__ADS_1


" Btw, Valentino. bagaimana kondisi Alfred junior? Kami dengar dia mengalami gangguan jiwa karena trauma sebab kukunya dimakan peri?" Dominiaz memainkan kartu pelemahan pada sang lawannya.


Kini giliran Mumtaz menatap bertanya pada Dominiaz, bagaimana dia mengetahuinya?


Wajah Valentino menegang, raut wajahnya memerah." Jadi ini semua ulahmu, kan ku balas kalian semua" teriaknya murka.


" Jangan menantang, Valentino. Bahkan kau tidak tahu anak buah ku sudah mengepung lokasimu. Paman Filippo tinggal menunggu aba-aba dariku." Ucap Dominiaz terkesan santai meremehkan.


" Untuk kalian para tuan kartel, Kami akan melupakan kecurangan kalian,  kalau kalian mengembalikan milik kami." Tegas Rodrigo.


" Kalian hanya membual, kau dan para antek si@lanmu itu akan m@ti, secepatnya." Gertak Valentino.


Tawa terbahak mengintimidasi dari ketiganya membuat Valentino menggeram kesal, sedangkan yang lain mulai mempertimbangkan.


Meski mereka juga merupakan kartel besar dan tersohor, namun jika Gurman berkoalisi dengan Gaunzaga, salah satu mafia terbesar dan terkejam dari Italia, mereka tahu tidak ada gunanya melawan kedua mafia tersebut.


" Benarkah? Sebelum kau menyentuh Gaunzaga, mansion mu, ku hancurkan.


Dominiaz menekan remote yang diberikan oleh Mumtaz, Mumtaz tersenyum tipis merasa senang.


Bhoom..Duarrr...duar...duar...


Ledakan maha dahsyat yang menerbangkan apa yang mengenai mengejutkan semuanya, ledakan itu berasal dari bagian belakang mansion Navarro.


Laptop menampilkan kehancuran gudang penyimpanan senjata milik Navarro yang disamarkan menjadi gudang penyimpanan anggur.


Valentino yang terkejut bergegas berlari kencang keluar rumah melihat apa yang terjadi tampilan gambar bergoyang karena tidak fokus.


Anak buah Navarro berteriak nyalang karena terkejut, mereka berhamburan menyelamatkan diri, sementara yang  mengangkat senjata dan langsung berpencar.


Kedua tangan Valentino terangkat lurus ke atas dengan wajah terkesiap dan panik, wajahnya memerah murka berteriak memberi perintah apda bawahannya untuk menyingkirkan benda-benda yang mudah terbakar dari are gudang.


Orang-orang dilayar yang menyaksikan itu sama terkejutnya, pasalnya meski Navarro bukanlah mafia kelas kakap, namun pengamanannya terbilang susah ditembus mengingat Alfred Navarro mantan tentara senior pasukan khusus.


Dominiaz sendiri sebenarnya terkejut, akan ledakan dahsyat itu, kini ia yang berbalik memperhatikan Mumtaz yang tersenyum smirk meski tipis. Tindakan itu tertangkap mata terlatih Alejandro dan Rodrigo.


Di kepala mereka kini terbesit pertanyaan yang sama untuk pemuda yang penuh teka-teki itu, kapan dia memasang bom itu? apa motif dia menargetkan Navarro?"


Valentino kembali ke ruang kerjanya dengan Sorot membvnvh dimatanya, dia siap menghabisi Dominiaz.


" Ku bvnvh kau, akan ku jadikan tubuh kakekmu pajangan diruang tamuku" Desisnya sangar.


" Jangan berambisi menghabisi keluargaku, Navarro. paman Filipo mengawasi mu. Tentu kau tahu apa yang akan terjadi dengan Navarro kalau beliau marah." Ucap Dominiaz santai.


Mata Rodrigo berfokus pada para pemimpin kartel lain." Kalian, Bagaimana? Apa kalian masih berkeyakinan kalau Sinolan masih bisa dipermainkan? Eric sudah punah, Guadalupe, tinggal menunggu waktu." 


" Kalian membual, tidak ada bukti Eric dikalahkan."


Foto mengenaskan Eric dengan kaki yang buntung Hingga selutut dan gosong, kulit mengelupas  karena terbakar diseluruh tubuh tertampak jelas.


Semuanya meringis ngilu, walau kekejaman bukanlah hal asing bagi mereka, namun melihat kondisi Eric mereka bertanya siksaan macam apa yang mereka terapkan.


" Setelah Angela, saudaramu yang menjadi tumbal kejahatan kalian, apa saya harus melakukan sesuatu pada putri remaja mu juga? Atau pada mereka bertiga sekaligus!" Ultimatum Dominiaz merujuk pada ketiga anak Valentino.


" Tapi sayangnya kau akan kalah terlebih dahulu, adikmu, Sisilia Pradapta, saat ini mungkin sedang bersenang-senang bersama anak buah ku.  Kau lihat ini, gaunzaga...."


Valentino memperlihatkan sisilia yang baru keluar dari lift di lantai dua di sayap kiri ruang sakit, tepatnya ruang ICU dimana Jeno berada tanpa pengawalan


" Persis tipikal Keluarga perempuan mafia yang keras kepala, hmm. Hahahaha... kau pikir hanya kau yang memiliki kemampuan melacak dan menguntit, kami juga jangan lupakan latar belakang profesi ayahku." Desisnya menantang.


Tawa senang Lawan bicara mereka berbanding terbalik dengan atmosfer ruangan  yang meningkat tajam.


Air wajah tenang Mumtaz sulit terbaca oleh orang-orang yang ada dihadapannya, mimik muka yang selalu meresahkan bagi Dominiaz, kini ia paham raut itulah yang akan melahirkan tindakan melebihi ekspektasi orang pada umunya mengenai sang empunya . 


Terkesan santai, namun Mumtaz menyalakan saluran paralel di earpieces-nya, memutar kembali perkataan Valentino, terdengar banyak langkah kaki diseberang saluran.


Setelah mendapat berita dari Mumtaz semua anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang berada di rumah sakit dan sekitarnya bergerak cepat.


 Ibnu dan Samudera berdasarkan titik koordinat keberadaan sisilia yang dikirim oleh Mumtaz membuka seluruh cctv rumah sakit, tampak banyak orang yang bergerak penuh kejanggalan, orang yang dipastikan anak buah valentino.


Suara tawa Valentino jelas tertangkap oleh pendengaran semua anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang berhasil memancing amarah mereka.


Untuk Menjaga keamanan, dan meminimalisir korban dan resiko. Bara menginstruksikan m semua orang yang berada di rumah sakit tanpa terkecuali selain yang darurat untuk tidak berlalu-lalang bebas. Mereka hanya boleh bergerak di tempat masing-masing.


Terbatasnya orang luar yang bergerak, maka dengan mudah anak RaHasiYa dan  Gaunzaga menemukan dan melumpuhkan anak Navarro yang ternyata tersebar diseluruh penjuru rumah sakit.


" Jika kalian temukan lawan, habisi nyawanya di tempat." Mimik dan suara Mumtaz yang tenang kontras dengan kata-kata kejamnya.


" Wow .wow...masih kau bicara seakan mampu memenangkan arena pertempuran..." Valentino salah perkiraan, dia pikir yang mengatakan itu adalah Dominiaz yang bungkam sejak Sisilia menjadi target.


Alejandro dan Rodrigo enggan meluruskan, ia lebih tertarik melihat taksi gabungan kinerja Anka RaHasiYa dan Gaunzaga yang tertampak di layar besar dinding di atas meja panjang itu.


Saat Sisilia berbelok menuju gedung utama dirinya dibekap dari belakang dengan tangan besar berlapis sarung tangan yang Sisilia tahu pasti ada obatnya, karena tidak lama kepalanya pusing. Karena tidak sengaja mencium bau obat itu 


Refleks dia menahan nafasnya, segera mensugesti pikirannya bahwa di depan sana ada bala bantuan untuknya, tubuhnya yang sudah tenang menuntun tangannya merayap masuk ke dalam Sling bag-nya mencari satu bahan yang dia yakini ampuh.


Mengikuti langkah penyekapnya, dari ujung matanya ia melihat beberapa orang sedang berduel fisik.


Dominiaz setenang mungkin meredam detak jantungnya, ia berusaha keras memasang wajah santai tidak terpengaruh meski dibawah meja tnsgannya mengepal kuat hingga buku tnsgannya memutih.


" Yeah, Dominiaz terus saja kau pasang muka sok santai mu itu, aku dengan senang hati akan merubah raut itu dalam sekejap, tidak lama lagi."


Valentino mulai kesal karena merasa diabaikan, sebab Dominiaz tidak meresponnya. 


Bagi Dominiaz mengamati keadaan adiknya lebih penting dari apapun.


Merasa sudah berada di tempat ramai, Sisilia memegangi tangan penculik, lalu menginjak keras kakinya, berbalik kemudian memelintir tangannya, menggunakan lutut menendang juniornya, yang ditambah menonjok rahangnya dengan sikunya. Mendorong orang itu pada temannya yang baru pulih dari kekagetannya. Yang terkahir, tentu saja dia kabur dengan lari secepat dia bisa.


Anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang melihat kedatangan Sisilia sigap mengamankannya sambil terus bertarung.


Kini Sisilia di kelilingi sekutunya, berdasarkan laporan terkini dari anak kedua organisasi itu para petinggi dua organisasi bersangkutan yang berada di tempat mendatangi lokasi.


Dalam sekejap Sisilia berada dibawah perlindungan mereka.


 Bara menghadap ke arah kamera cctv setempat." Saya tidak tahu dengan siapa saya berurusan, tapi siapapun anda, jangan harap kau bebas dariku."Ucapnya mengungkapkan kejengkelannya.


" Angkut dan bakar semua jasad lawan itu, kirim abunya sesuai instruksi yang memerintahnya."


" Kirim abu itu ke Italia, ke alamat yang sama ketika kalian mengirim jasad Angela." Timpal Mumtaz.


Di sebrang sana, Valentino mematung terkejut, rencana yang sudah dia susun sedemikan rupa dipatahkan dalam hitungan menit.


Raut syok ala Valentino membuat perasaan Dominiaz mengalami euforia seketika, ia terkekeh meremehkan begitu juga dengan Alejandro dan Rodrigo yang menggeleng-geleng.


" Kau salah mencari korban, Valentino." seru Mumtaz.


di monitor kini terpampang Ivanka, Puti tertua Valentino yang sedang menempuh pendidikan di Inggris digiring oleh dua lelaki tidak dikenal ke dalam sebuah Van.


Valentino mengamuk, ia mengumpat, mencaci mengancam yang tentunya tidak berpengaruh sama sekali.


Tiga orang yang seruangan Mumtaz, memperhatikan wajah tenang itu, wajah yang dibaliknya ternyata tersimpan insting monster.


" BEBASKAN PUTRIKU." Bentak Navarro marah sampai urat di lehernya menonjol tajam.


" Jangan mengharapkan untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat."


" Siapa kau, keluar kau!!"

__ADS_1


" Untuk sementara urusanku denganmu selesai."


" Kau ceroboh, adikku adalah perempuan kecintaannya salah satu petinggi RaHasiYa. dan aku berani menyentuhnya? B0D0H!!" ejek Dominiaz.


" Kau membuat kesabaran ku habis, Valentino." Ucap Dominiaz tidak kalah culas dari lawannya.


Dengan gerakan slow motion yang dramatis, Dominiaz menunjukkan remote ke monitor dengan jempol di atas tombolnya. 


Ketika tombol itu ditekan, lagi, terdengar suara ledakan yang lebih besar dari sebelumnya yang yang saling menyusul. Teriakan panik para penghuninya semakin lantang.


Yang menakjubkan, ledakan itu berasal dari bawah tanah yang melempar bangunan dan benda lainnya yang ada di atasnya bagai kertas .


Valentino memejam mata sambil menggeram, melihat wajah kalah musuhnya, Dominiaz tertawa devil.


" Kau lakukan ini semua karena kecelakaan itu? iya, kan? Sandra Atma Madina hanya partner Bisnis kalian, mengapa kau begitu menganggap serius." kilah Navarro.


" Lebih dari itu..kau menyentuh RaHasiYa, kau menjadikan saudaraku, Jeno Subrata korban dari kecelakaan itu, dan itu fatal, br3ngs3k." ucap Mumtaz dibalik laptop itu.


" Kau dengar, Valentino? kau telah menambah musuhmu!" tekan Dominiaz.


" Pertunjukan selesai!" Tukas Dominiaz dilatarbelakangi kobaran api di monitor.


" Kami beri waktu 1× 24 jam untuk konfirmasi persetujuan kalian, atau kalian yang akan menjadi korban selanjutnya." Ucap Alejandro.


" Dan untuk kau, Valentino. Berambisi boleh, 1d1ot jangan! Kau terlalu dini jika ingin melawan Gurman dan Gaunzaga, berlatihlah dengan organisasi yang selevel dengan mu dulu sebelum berhadapan dengan kami!" Tukas Alejandro.


" Valentino,...adios..." seru Rodrigo dan Dominiaz.


Klik...


Monitor laptop gelap mengakhiri interaksi online menegangkan itu.


Hufhh....


" Wow, kerenn..kalau begini saja situasinya, saya tidak perlu ke bioskop nonton action dan hanya untuk mengurus ini dan itu Gaunzaga." Ucap Dominiaz ditengah seruputan kopinya.


" Mumtaz, ada yang bisa kau jelaskan?" Tanya Rodrigo.


" Heh, kau secret admirer ku, Kenapa tidak kau cari tentang Ini semua."


" Ck, sekarang, sebutkan apa imbalan yang kau inginkan?"


" Saya ingin kalian mengamankan usaha saya di negara kalian. Saya baru bergabung dengan BUMN kalian di sektor pertambangan, dan saya juga membeli beberapa tanah di beberapa wilayah negara kalian untuk pertanian. Intinya singkirkan pejabat korup dan berbagai aksi ilegal dari usaha saya. Bagaimana teknisnya saya serahkan pada kalian."


" Serius kamu menjadi pengusaha?" Dominiaz penasaran.


" Saya ini punya calon seorang Gaunzaga-Pradapta, saya tidak  ingin ketika dia bersama saya kelak, dia merasa susah atau level hidupnya menurun. Jadi saya harus merintis dari sekarang."


Dominiaz berdiri, bertepuk tangan antusias." WOW, mengharukan...boleh saya minta pelukan..adik ipar?" 


Dominiaz merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan senyum lima jarinya, Mumtaz  meresponnya dengan bergeming datar.


" Jangan harap, menggelikan." Mumtaz beranjak ke meja kerjanya.


Dominiaz merungut, sedangkan Alejandro dan Rodrigo tergelak puas.


"Kau mau kemana?" teriak Dominiaz saat Mumtaz memegang kenop pintu.


" menghukum adikmu."


" Urusan belum selesai."


" Hmm, Setidaknya satu orang otw lenyap." matanya menunjuk lampu brankar Guadalupe yang berwarna merah.


*****


Apa yang terjadi di mansion Navarro diketahui oleh Alfred melalui Mateo yang memperlihatkan rekaman kejadian itu


" Apa yang dilakukan Valentino sehingga membuat Gaunzaga sangat marah?" Bisiknya.


Mateo menghela nafasnya berat." Kita tahu Valentino terlibat berkomplot dengan pak Andre dan Guadalupe dalam kecelakaan kemarin."


" Hmm."


" Kecelakaan itu mengakibatkan Nyonya Sandra meninggal, dan tuan Jeno, salah satu tangan kanan petinggi RaHasiYa dan Bara terluka."


Mata Alfred menatap Mateo mencari kebenaran yang dia dapatkan dari netra hitam itu.


" Sebagai top 5 di Indonesia hubungan mereka sangat dekat, satu sama lain saling membantu guna memperkokoh posisi masing-masing.


Rumornya mereka kini menjadi bagian dari sembilan naga penguasa ekonomi Indonesia."


" Si@l, kapan saya bisa keluar dari sini?" Bisiknya.


" Belum bisa dipastikan, luka anda masih butuh perawatan intens."


" Apa penyamaran Armando terbongkar?"


" saya kira belum, mereka masih mengira Armando tetap setia kepada Sinolan."


" Kalau begitu, siapkan mereka untuk mulai bergerak, diawali dengan menanam bom ranjau di tempat umum. Apa mandi tahu dimana saja tempatnya."


" Baik, kalau begitu saya permisi."


*****


Di suite presidential, hotel the Sultan Mateo, Ricky, dan Raul bertemu membahas titah dari Alfred.


" Saya kira Damian harus tahu, kita tidak bisa melimpahkan semuanya pada RaHasiYa, atau Gaunzaga." ucap Ricky.


" Atur saja oleh Lo, gue mah ngikut saja. gue gak mau tinggal di negara yang termasuk negara berbahaya." ucap snatai Raul yang terkesan tidak peduli.


" Lo bantu lah, gue pengen ini cepat kelar, capek gue."


" Ya begitulah nasib double spy." celetuk Ricky tidak bersimpati.


" Thanks atas ketidakpedulian kalian." gerutu Mateo yang mengundang gelak tawa dari lawan bicaranya.


*****


Sesampainya di rumah sakit melalui udara menggunakan helikopter, Mumtaz dan Dominiaz disambut Budi dan Yuda guna membawa mereka ke ruangan Bara Atma Madina.


Di sana telah ada petingginya RaHasiYa, Gaunzaga, Hartadraja, Birawa, Farhan, dan direktur rumah sakit.


" Ada apa?" tanya Mumtaz.


" Di lobby ada Irina wibowo, beliau berteriak-teriak meminta pertanggungjawaban rumah sakit terkait insiden yang menginap Mutia." ucap Bara.


Mumtaz dan Dominiaz mengembuskan nafasnya kasar, mereka berdua memijit-mijit pelipis mereka.


" Terus?"


" Masalahnya kak ala bilang urusan Mutia biar dia yang menanganinya." tutur Bara.


" Informasi dari Hito, sampai sekarang belaou masih tidur." jelas Heru.


Di lobby, mengenakan outfit mewah nan glamor Irina terus melakukan orasi betap tidak bertanggung jawabnya rumah sakit ini di depan puluhan wartawan yang haus berita dan sensasi ditengah duka....

__ADS_1


__ADS_2