Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 110. Mencari Ikatan Hati


__ADS_3

" Kakak mau resign? Zahra terlonjak kaget mendengar suara Zayin.


Ia berbalik dari hadapan kompor, mengusap dadanya, melihat Zayin memegang amplop berukuran sedang panjang warna putih yang bertuliskan surat pengunduran diri.


" Bisa gak masuk tuh tidak mengendap-endap, ini bukan Medan perang atau medan latihan." Omel Zahra.


" Ayin tadi udah ketok pintu dan salam, tapi tidak ada sahutan."


" Emang?"


Mengabaikan celotehan Zahra, Zayin mengangkat amplop putih itu.


" Kakak mau berhenti?"


" Kamu ke sini sendirian?" Zahra mencoba mengulur waktu mencari alasan untuk selanjutnya


Zayin melirik ke ruang tamu, Zahra dapat melihat William dan Bayu yang sudah terkapar dilantai masih mengenakan seragam lapangannya.


" Jadi, benarkan mau Mengundurkan diri?" Kekeuh Zayin, dia tidak bisa membiarkan Zahra menghindar.


Zahra kembali meneruskan memasak nasi goreng untuk sarapannya.


" Iya."


" Heh, ternyata seorang profesor juga bisa jadi pengecut." Ledek Zayin dengan tampang mengesalkan


" Apa maksud kamu?" Zahra menedelik tajam.


" Kakak resign karena ucapan omong kosong om Hito kan?, Lari dari masalah, namanya PE-NGE-CUT!"


" Ini tidak ada hubungannya dengan itu?" Elak Zahra menegaskan, ia masih terus mengaduk nasi gorengnya yang ditambah porsinya.


" Katakan padaku apa alasannya?" Zayin menaruh kembali amplop itu ke atas meja dan berjalan mendekati Zahra.


Zahra sempat kalang kabut dibawah tatapan menyelidik Zayin yang intens.


" Aku..."


" Jangan pake alasan beban kerja berat, itu terdengar bullshit. kakak tidak profesional." Tekannya pada kalimat terakhir.


Zahra meletakan sodet, menghadap Zayin.


" Apa yang kau tahu tentang cinta, jika selama ini sampai usia dewasamu kamu belum juga jatuh cinta."


" Jadi benar karena om Hito,..." Zayin tersenyum smirk, membuat Zahra geram.


" Tidak perlu menjadi playboy untuk mengerti urusan cinta, dan usiaku otw 19. Kedewasaan tidak ada hubungannya dengan usia dan pengalaman ternyata, buktinya kakak berapa tahun menjalin hubungan? Dan berapa usia kakak sekarang?, Kini kakak mengundurkan diri karena Masalah cinta!" Telak Zayin.


Terpancing ucapan Zayin, Zahra mematikan api kompor, ia menghadap Zayin penuh, bersedekap dada.


" Kau tidak akan paham. Di sini..." Zahra menunjuk dadanya,"...sakit. orang yang aku pedulikan, setelah apa yang kami lalui, menganggapku orang asing. Sakiiittt sekali."


" Di sini kakak yang kurang bijak."


" Kenapa kamu bela dia?"


" Aku gak bela siapapun, satu hal yang aku kasih paham ke kakak. Meski aku dalam keadaan sekarat sekalipun jika ku dengar keluarga Perempuanku diperkosa, aku akan langsung bangun dari ranjang pesakitan ku. Karena bagi kami menjaga kehormatan saudara perempuan adalah HAK! Camkan itu!" Pernyataan Zayin yang tegas dengan air muka serius membuat Zahra speechless.


" Seharusnya Kakak dapat memahaminya, aku tahu om Hito salah bicara demikian, tapi dia lelaki yang bertanggung jawab, kondisinya kurang fit, kakak tahu hal itu, tetapi kakak dengan mudah memutuskan ikatan dan mengundurkan diri. Ini KONYOL! Kakak mempermainkan perasaan kami." Lanjut Zayin.


" Ayin, apa maksudmu?"


" Dia, pembunuh ayah, terlepas dari takdir atau khilaf, dia yang menyebabkan ayah pergi! om Hito menjadikan kami yatim, dia menjadikan Mama janda, Kakak fikir berapa malam yang mama lalui untuk menangis di depan foto ayah karena merasa mengkhianati ayah dan memaksa menerima om Hito? ." suara Zayin bergetar karena luapan emosi. Zahra mematung.


" Hanya karena kakak mencintainya kami menerimanya, setelah kami menerimanya, kakak dengan begitu mudah mencampakkan dia? Egois."


Zayin menatap Zahra tajam.


" Ayin, kakak lelah."


" Istirahat, datang padaku, dan Aa Mumuy."


" Ayin..." Zahra melirih menahan tangisnya merasa bersalah pada keluarganya.


" Kak, aku ingatkan kakak pada kemarahan Aa Mumuy pada nenek keriput yang berakhir Aa melempar kartu kredit hitamnya" nafas Zayin menggebu karena marah.


" Itu janji kami, dan peringatan bagi Hartadraja manapun untuk tidak menyakitimu, selama ini kami diam karena kami bisa melihat om Hito melakukan yang terbaik untukmu, ingin membahagiakanmu."


Zahra menangis, ia membenci dirinya sendiri yang tidak melihat itu.


Tak tega melihat kesedihan Zahra, Zayin menarik Zahra ke dalam pelukannya, mengecup keningnya dalam," kak, sebaik-baiknya om Hito, dia bukan manusia sempurna, tapi lihatlah berapa banyak pengorbanannya, dia menghapus nama Hartadraja dibelakangnya, itu untukmu. dan Kakak pasti tahu banyak hal yang sudah ia lakukan untukmu. Bagaimana bisa Kakak melepasnya hanya karena satu kebodohannya."


Zahra menangis tersedu-sedu dalam pelukan Zayin. Mengeratkan pelukannya. Untuk beberapa lama tidak ada yang bicara diantara mereka.


" Karir mu senjata perang melawan nenek keriput itu, banyak pengorbanan untuk mencapainya, jangan sia-siakan hanya karena urusan kecil ini."


Zahra mengurai pelukannya, mengangkat kepala untuk menatap Zayin.


 " Yin, tapi Kakak sakit, tidak bisa menahannya lagi. Maaf!! Maaf mensia-siakan pengorbanan kalian. Kakak nyerah."


Zayin menyeka air mata Zahra dengan lembut," kalau ingin lepas, silakan, tapi dengan kepala dingin dan hati baik. Tidak dalam keadaan emosi, sekali kamu melepasnya, tidak ada kesempatan untuk kembali! Pertimbangkan itu!!"


Zahra terdiam, dia ragu. Bukannya merespon ucapan Zayin, Zahra malah menarik Zayin untuk memeluknya Kembali. 


Zayin terkekeh" Hehehe,  takut ya gak jodoh sama om Hito, sok-sokan pake resign." Ledeknya.


" Maaf, ini kita jadi sarapan gak?" Tanya Bayu dengan muka bantalnya.


Zayin menoleh, " Jadilah, cacing di perut gue mah profesional jam segini menari-nari pengen disuapin." Sindir Zayin melirik Zahra yang sudah Kembali sibuk dengan nasi gorengnya.


****


" Akbar, kamu pulang bareng Tamara." Titah Nebuy tanpa basa-basi.


Hari ini Dewi sudah diizinkan untuk pulang, Sri meminta Akbar untuk  menjemputnya di rumah sakit, hal yang sebenarnya membuat Akbar heran. Mengingat selama ini dia selalu kebagian menunggu di rumah.


" Hmm." Balas Akbar malas.


" Kalau gitu Akbar pulang duluan." Tanpa menoleh pada Tamara Akbar meninggalkan ruangan neneknya.


Tamara tergopoh-gopoh mengikuti langkah besar Akbar.


" Bar, tunggu!" Akbar menghiraukan protesan Tamara.


Tak ada kata yang terucap selama di perjalanan.


" Bar, kita mampir ke mall dulu yuk! Buat beli bingkisan buat nenek Dewi."


" Hmm."


Tamara memutar bola matanya malas, sejak pertama bertemu sampai sekarang Akbar tidak pernah berbicara padanya, kalau bukan demi kekayaan Hartadraja, dia tidak sudi membuang waktu dengan kutub es ini.


" Bar, kamu tidak ada niatan kita lebih dekat gitu? Sebentar lagi kita tunangan loh."


Ckittt!!!!


Akbar mengerem mobilnya dadakan, dia menoleh pada Tamara.


" Kata siapa kita bakal tunangan?"


" Nebuy Sri, aku pikir kamu setuju makanya diam aja."


" Dan Lo mau?"


" Kenapa tidak? Kita sama-sama jomblo, aku suka kamu."


Akbar merotasikan bola matanya." tapi gue gak suka Lo, lagian bagaimana mungkin kita tunangan gue aja gak tahu sama sekali tentang Lo."


" Makanya jangan diam aja, tanya dong."


" Males banget, gak ada ya kita tunangan."


" Emang kamu bisa menolak Nebuy?"


Akbar terdiam, seolah ia tidak berdaya, sedetik kemudian matanya berbinar.


" Oke, kita tunangan."


Mata Tamara pun ikut berbinar," seriusan kamu mau?"


" Setelah gue pikir, gak sial amat gue tunangan sama Lo, dengan itu gue bisa keluar dari nama Hartadraja."


Mata Tamara langsung membola," maksudnya?"


Akbar melihat kekagetan Tamara, dia tersenyum smirk tipis, sangat tipis sehingga Tamara tidak menyadarinya.


" Gue udah lama pengen keluar dari keluarga toxic ini, dengan tunangan dan menikahi Lo gue bisa bebas dari Hartadraja."


" Gimana dengan Hartadraja corp?"


" Memang kenapa?"


" Bukannya kamu CEO-nya?'


" Bukan?"


" Hah? Terus siapa yang menjadi pengganti om Hito?"


" Adgar! Masa soal beginian aja Lo gak tahu."

__ADS_1


Tamara terbelalak," bukan kamu?"


" Bukan, gue mah miskin, si Adgar sejak jadi CEO ngedepak gue. Mungkin karena itu nebuy jodohin gue sama Lo, supaya gue punya penghidupan diluar Hartadraja."


Tamara memijat pelipisnya pusing, kenapa jadi begini? Niat dia menyetujui perjodohan ini supaya dia punya uang untuk menghidupi kehidupan dia dengan Bara. Semuanya kacau.


" Tapi seingat aku kamu punya perusahaan sendiri."


" Darimana Lo tahu?" Akbar menatap Tamara waspada.


Tamara gelagapan, dia keceplosan." Itu, Nebuy yang bilang."


" Awalnya, tapi dicabut sama Adgar. Dia kan tipe menguasai gitu."


" Dan Lo diam aja?" Nada Tamara meninggi.


" Itu perusahaan cabang, ya otomatis Adgar punya kuasa atas semua perusahaan yang berada dibawah naungan Hartadraja corp pusat, gue mah cuma bisa pasrah. Jadi setelah menikah, gue numpang di Lo dulu ya sebelum gue dapet kerjaan."


Sebelum menyalakan mesin mobil Akbar melirik pada Tamara yang memasang wajah kusut, ia tersenyum puas, sangat menikmati pemandangan di sampingnya.


Tamara sudah kehilangan mood bagusnya, dia salah sasaran, dia pikir setelah menikah dengan Akbar dia bisa hidup glamour, ternyata zonk.


Selama dalam mall tidak banyak interaksi diantara mereka, akbar biasa saja, sementara Tamara sibuk memilih tas branded.


" Bar, yang ini bagus gak?" Tamara mengangkat satu tas tangan berukuran sedang.


" Itu buat Lo apa nenek? Masa jenguk orang sakit hadiahnya tas."


" Nenek lah, gue pilih yang ini." Tamara menuju kasir, begitu kasir menyebutkan harga Tamara menoleh pada Akbar. yang sudah asik dengan ponselnya.


Baru 30 menit dia bersama Akbar, tapi ia sudah merasa lelah." Akbar, bayar."


Akbar mengangkat kepala dari ponselnya," kok gue?"


" Terus siapa?"


" Itu kado siapa?"


" Gue."


" Jadi,..."


Tamara menghela nafas capek," Bar, ini buat nenek Lo."


" Yang mau ngado siapa? Lo kan? Jadi Lo lah yang bayar. Lagian gue mana mampu beliin tas itu." Akbar bergidik menatap horor tas berlogo H itu.


" Ya terus gimana? Ini beneran gue yang bayar?" Tamara menatap Akbar tak percaya.


Selain dengan Bara dia tidak pernah membayar belanjaannya jika jalan bersama pria.


Tanpa dosa kabar mengangguk," dompet gue ketinggalan di mobil, dan juga gue gak sanggup." Akbar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Wajah Tamara semakin tertekuk, tidak mungkin baginya membatalkan pembelian tas itu, bisa malu dia mengingat dia berlangganan di toko ini. Mau taruh dimana wajah cantiknya ini.


Tamara mengambil dompetnya, dia terpaksa menggunakan kartu kredit titipan Guadalupe untuk kepentingan mencari orang sewaan yang bisa melakukan tugasnya untuk mengeksekusi Sri Hartadraja.


Akbar membalik badannya kembali pada sofa yang disediakan pihak toko. Dia tertawa sangat puas.


****


Di gedung RaHasiYa, lima orang sahabat menertawai Tamara lewat hack cctv toko.


" Gue pikir cuma Afa yang tega terhadap perempuan, tetapi ada yang lebih sadis." Daniel menggelengkan kepala tak habis pikir.


 Alfaska mendengkus," Jangan meremehkan dendam orang pendiam." Celetuk Alfaska.


" Uang itu dari Guadalupe Gonzalez." Tutur Ibnu yang sibuk dengan laptopnya.


" Sebanyak itu?" Tanya Daniel heran.


" Yap, dan ini pasti untuk sesuatu. Tidak mungkin Nenek itu menitipkan kartunya untuk jajan Tamara." Analisa Bara yang diangguki oleh yang lain.


" Nu, masuk ke ruangan Eric." Mumtaz mendorong tabsnya ke arah Ibnu."


Ibnu menyambungkan tabs Mumtaz yang sedang meretas cctv ruang kerja Eric di kantornya pada laptopnya.


Terlihat di layar Eric sedang bicara dengan seorang pria berusia 40an dengan pakaian ala seorang Detektif.


" Tuan, kami telah menemukan tempat persembunyian nona Belina." Ujar pria bernama Darman, seorang detektif yang disewa Eric untuk mencari kebenaran tentang Belina.


Tubuh Eric menegang, ia mengambil beberapa foto yang diasongkan oleh Darman di atas meja.


Wajahnya berubah pias terkejut sekaligus menyorot rindu perempuan yang berada di foto itu, ia mengusap gambar Belina yang menampilkan tawa lebarnya.


" Jadi benar dia masih hidup?"


Eric kembali terkejut," kalau Belina masih hidup, mayat siapa yang dimakamkan? Tak lama dari kejadian kebakaran itu."


Darman membuka amplop besar putih berlogo rumah sakit.


" Kami berhasil menemukan DNA dari sisa tubuh yang sudah termakan tanah, dia wanita bernama Yuni, istri dari Ahmad Sutami, pegawai yang anda pecat."


"Apa? Bukankah dia pelayan pribadi Belina?"


Darman mengangguk," seseorang membakarnya untuk menghilangkan jejak kematian suaminya." Ucap Darman menatap intens Eric.


Lagi, satu fakta yang membuat Eric terkejut, dan bingung.


" Untuk lebih jelasnya, anda bisa baca dokumen ini." Darman menyodorkan satu map besar berisi dokumen penting sekitar Belina.


" Apa kau bisa membawa Belina padaku?"


" Tempatnya terpencil, Medan lapangannya susah."


 Eric membuka ponselnya, mengutak-atiknya," saya sudah transfer."


Darman memeriksa ponselnya, ia tersenyum," terima kasih, akan kami usahakan."


Melihat dan mendengar apa yang diucapkan dua orang tersebut tubuh Ibnu kaku, seketika mati rasa. Wajahnya beku pucat pias seperti tiada aliran darah, Daniel, Alfaska, dan Bara melihatnya bingung. Hanya Mumtaz yang menatapnya iba penuh sesal, merutuki kecerobohan dirinya seharusnya dia tidak menyuruhnya menayangkan streaming cctv tersebut.


Merasa diperhatikan Ibnu melihat satu persatu sahabatnya yang berakhir pada Mumtaz, tanpa kata ia menerjang dan menghajar Mumtaz secara brutal yang membuat para sahabatnya terbengong.


Mumtaz tak melakukan perlawanan atas pukulan dan hajaran Ibnu, dia membiarkan Ibnu melepas emosinya dan menjadikan dirinya samsak Ibnu.


" Nu, stop." Ujar Alfaska begitu sadar dari keterkejutannya.


Bara memisahkan Ibnu dari Mumtaz yang sudah terbaring lemas," lepas, biar gue hajar dia." Pekik Ibnu meradang.


" Nu, woy, sadar!" Bentak Bara menepuk-nepuk pipi Ibnu.


Menghiraukan Bara, Ibnu masih menatap nyalang Mumtaz," berapa lama Lo tahu tentang ini?"


Mumtaz dibantu Daniel dan Alfaska duduk di kursi kembali.


" Gue bakal jelasin nanti, sekarang kita urus urusan Gonzalez terlebih dahulu."


" Jelasin sekarang, BANGSAT." Bentak Ibnu.


" Nu, woy, tenang." Bara khawatir Mumtaz terpancing emosi Ibnu.


" Its oke. Bar, biar dia marah." Ujar Mumtaz tenang menyeka darah di sudut bibirnya.


Ibnu melihat gerakan Mumtaz yang membersihkan luka di wajahnya," Gue pergi dulu." Ia pergi meninggalkan lantai tujuh itu.


" Muy, bisa Lo jelasin apa yang terjadi?" Pinta Alfaska.


" Lo buka semua file yang gue kirim jawabannya ada di situ."


" Itu lagi, si Ibnu aja kesulitan buka dokumen Lo apalagi kita." Omel Daniel.


Mengabaikan perkataan Daniel, ia memencet interkom di mejanya," Dewa, kesini."


Tak lama Dewa memasuki ruangan konferensi," siap bos."


" Lo dan Dimas cari informasi tentang orang ini." Tunjuk Mumtaz ke layar yang menampilkan wajah Darman dan Josep."


" Gue harap dalam satu jam semua informasi mendetil tentang mereka ada di atas meja gue."


" Siap bos." Dewa kembali ke ruang kerjanya.


" Muy," Alfaska menahan kekesalannya.


" Kenapa gak Lo minta bantuan Nando untuk membuka data itu."


" Memang boleh?"


Bola mata Mumtaz berputar malas," gue gak pernah larang."


" Kenapa Lo gak ngomong langsung?" Tanya Bara.


" Ceritanya panjang, muka gue sakit, emang si Ibnu kalau udah marah anjrot banget."


" Muy..."


" Niel, kalau Lo mau bantu, kirim rekaman tadi ke Raul dan Dominiaz agar mereka waspada." Sela Mumtaz.


Daniel hanya bisa menghela nafas, ia menuruti permintaan sahabatnya.


Mumtaz beranjak keluar ruangan," Lo mau kemana?" Tanya Alfaska.

__ADS_1


" Ke kak Ala, biar si Ibnu dimarahi." Sahut Mumtaz.


" Ck, dasar tukang ngadu."cemooh Alfaska yang dibalas jari tengah oleh Mumtaz.


*****


Guadalupe menatap marah ponsel yang memperlihatkan pengeluaran yang begitu besar dari kartunya, kartu untuk kepentingannya sekarang digunakan untuk membayar harga tas mewah.


Raul memasuki mansionnya dengan santai, ia baru pulang setelah menghabiskan malam dengan begadang bersama Rodrigo.


" hallo, Nek. siapa yang bikin Nenek kesal?" Raul duduk di sofa single menilai mimik muka Guadalupe.


" Ja.lang ayahmu menghabiskan uang Nenek untuk membeli tas."


" Kok bisa?"


" Nenek menitipkan satu kartu padanya untuk kepentingan nenek."


Raul terkekeh mencemooh, dia menggeleng sambil sibuk dengan ponselnya. Tak lama raut wajahnya berubah begitu mendapat kiriman video dari RaHasiYa.


video ayahnya dengan detektif itu, ia beranjak hendak ke kamarnya. meninggalkan neneknya yang masih menatap ponselnya.


Selama menonton video tersebut rahangnya mengeras, wajahnya berubah panik dan ketakutan.



Selama mengobati luka Mumtaz tak henti mulut cerewet Zahra terus mengomelinya tak peduli tatapan Hito padanya.



" Siapa yang melakukan ini padamu?"



Hito melongo, Mumtaz menggeleng. Setelah diceramahi selama 20 menit pertanyaan itu baru terlontar, yang benar saja.



" Ibnu." jawab Mumtaz malas.



Zahra terdiam karena kaget," kenapa? bukan karena cewek kan!?"



" Apa sih gak level banget."



" Ya, terus kenapa?"



Mumtaz sedang memutar otaknya mencari alasan karena tidak mungkin dia mengungkap alasan sebenarnya.



" Mumtaz, saya tadi dapat telpon dari Zayin, kalau kakak kamu ini akan mengundurkan diri dari rumah sakit." Hito mengalihkan perhatian Zahra, ia paham Mumtaz enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Zahra.



Mumtaz menatap menyelidik Zahra," kenapa? jangan bilang karena marah sama om Hito Kakak bertindak gegabah begitu." tebak Mumtaz.



Zahra berusaha menormalkan wajahnya yang sebenarnya kaget Mumtaz dapat menebak alasan dia *resign*.



" Jangan dibahas, Kakak gak jadi *resign* kok."



" Kenapa?"



" Tidak apa-apa, hanya tidak mau menjadi pengangguran."



Hito terkekeh, Mumtaz berdecak mendengar perkataan konyol Zahra. Mengingat banyak rumahan sakit yang memperebutkannya.



" Apa susahnya bilang masih cinta om Hito." celetuk Mumtaz.



" Aaawwsss, pelan-pelan, Kak." ringis Mumtaz, Zahra menekan lukanya sewaktu mengobatinya.



" Selesai, silakan kalian keluar dari ruangan ini sebelum saya marah." usirnya memakai bahasa formal.



Hito terkekeh meski dia tetap berjalan melangkah menuju pintu mengikuti langkah Mumtaz.



" Ara, love you too." ucapnya sambil mengedipkan satu matanya sebelum menutup pintu menghindari omelan Zahra.



Kini Mumtaz, Hito dan Dominiaz berkumpul di ruang kerja Hito.


" Gaunzaga sudah mulai mempersiapkan pindah lokasi." ucap Dominiaz.


" Jangan terlalu jauh, kami sedang merancang rencana agar semua ini berakhir." imbuh Mumtaz.


" Mum, saya harap kamu beritahukan kami apa yang akan kalian lakukan."


" Tentu, bila saatnya tiba."


Hito memandangi Mumtaz seksama," saya dengar Rodrigo masih di Indonesia?!"


" Mungkin, saya tidak tahu pasti." jawab Mumtaz tenang.


" Mum, saya harap kamu bisa berbagi informasi mengenai Kartel Sinolan." pinta Hito


Mumtaz menggeleng," maaf, untuk itu saya tidak bisa, meski om bukan lagi bagian dari Hartadraja, tetap saja ikatan darah tidak bisa diabaikan."


" Apa sebahaya itu?" tanya Dominiaz.


" Ini melibatkan para pejabat pemerintahan."


Umpatan segera berlomba terlontar dari mulut Dominiaz.


****


Estelle menatap kepergian Tamara bersama Akbar dari Mall dengan tatapan sengitnya, ia begitu marah mendapati Tamara menikmati hidup mewah sementara dirinya menjadi buron.


Dia mengikuti Tamara sejak dari kampus, Tamara sudah ingakri janji padanya. dia tidak membayar imbalan dari jasa teror yang dilakukannya kepada Cassandra Hartadraja.


Dia sungguh tidak mengerti mengapa hidupnya terjebak menjadikan dia seperti seorang *******, imbalan yang besar bagi penemu dirinya membuat dia tidak bebas bergerak Bahkan kini dia menjadi sosok paranoid setiap ada orang yang mendekatinya.


Kini dia mengikutinya dengan menggunakan ojek kemana Tamara pergi sebelum membuat perhitungan dengannya....


*****


" IBNUUUU...." Ibnu terlonjak kaget dengan jeritan Zahra yang menyambutnya begitu dia menginjakan kaki di ruang tamu rumah Mama Aida.


Ia menatap ngeri Zahra yang sudah melototinya dengan bertolak pinggang, sementara dari lirikan matanya dapat ia lihat Mumtaz duduk santai di sofa panjang dengan senyum menyebalkan.


" A... apa?" Ibnu sungguh takut pada Zahra.


" Apa kamu bilang? kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada wajah Aa Mumuy?


" Kak, I...Inu bisa jelasin kenapa itu bisa terjadi?


" Kamu pikir Kakak peduli,TIDAK!! apapun alasannya itu tidak bisa dijadikan menjadi alasan untuk menghajar saudara sampai babak belur begini."


ketika menyadari hal tertentu, wajah Zahra langsung muram, Ibnu tidak enak hati.


" Kamu melakukan ini, apa karena kalian bukan keluarga sesungguhnya?"


Ibnu panik, Mumtaz berdiri," Kak,..."


Zahra menatap mereka berdua silih berganti," ternyata memang semua hanya fatamorgana!"


baik Mumtaz maupun Ibnu menggelengkan kepala," Kak..." serempak mereka memanggil Zahra yang mengambil Sling bag yang tergeletak di sofa lalu melangkah menuju pintu yang dihadang oleh Ibnu.


" Maaf,...jangan berkata demikian. Kakak tahu pasti kalian berarti bagiku! jangan jadikan aku asing karena satu kekhilafan ku." mata Ibnu memancarkan kepedihan.


Zahra menatap Ibnu sedih," janji mulai hari ini apapun masalah kalian, selesaikan dengan gantle." Zahra mengajukan jari kelingkingnya pada Ibnu.


Ibnu menautkan jari kelingkingnya," janji."...

__ADS_1


__ADS_2