Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 119. Runtuhnya Kesombongan Sandra.


__ADS_3

" TALAK...AKU MENTALAKMU SEBAGAI ISTRIKU!" Tegas Alfaska, lalu pergi meninggalkan Tia yang membeku.


Jger!!!


 Talak dari suaminya bagai sambaran petir besar ditengah hujan deras berangin kencang menghantam jiwanya, tubuhnya limbung disertai tatapan kosong.


Sedetik dia tersadar, Tia langsung berlari ke kamar tidurnya mengeluarkan semua barang branded dari pakaian, tas, dompet, sepatu, sandal, aksesoris dari atas sampai bawah, skincare, sm ia benda pemberian Sandra, mertua tercinta dari lemarinya, dimasukan semuanya dalam dua koper besar.


Sesekali ia seka air mata yang masih jatuh dengan derasnya, suara tangis mengisi kamarnya sebagai luapan emosi yang tidak ada niat dia tahan.


Dua koper besar dengan susah payah ia masukkan ke dalam taksi online yang dia pesan.


" Pak, ke alamat ini." Tia memberi kartu nama Sandra pada pengemudi uayng terkejut walau sesaat.


Dalam tak Tia duduk bersandar sambil menutup mata, benar akta orang setelah kehilangan barulah terasa betapa berharga orang yang mencintai kita.


Tia tahu dia mencintai Alfaska, tapi di Baru tahu kalau Alfaska adlah nafasnya, dia pikir Alfaska dengan cintanya akan bersabar tentangnya dan menerima dirinya, tetapi dia lupa ada kalanya rasa itu punya lelah.



15 menit sudah Alfaska duduk di dalam mobil yang terparkir di basement apartemen, hanya diam, merenungi apa yang sudah dia ucapkan tadi.



Sesak, hampa, sakit, kecewa. Semua campur aduk berlomba mengambil tempat dihatinya. Tidak bisa dihitung berapa banyak bulir bening luruh dari kedua matanya, kedua tangannya mengepal setir sangat kuat.



Berkali-kali ia adukan keningnya dengan setir," sial!!! Sial!!!...maaf, maafkan, Afa. Ma!" Tangisnya memohon pada mama Aida.



Derrt!



Tanpa melihat siapa yang menelpon Alfaska langsung menjawabnya.



" *Dimana*?" Alfaska menghembuskan nafas lelah mendengar suara Daniel.



" Kenapa?"



" *Jangan kayak cewek, gue tunggu di cafe' D'lima. Private room no 05, Ditunggu dalam10 menit*."



Alfaska berdecak sebal, daripada diceramahi bunda akibat aduan dari Daniel kalau dia tidak memenuhi permintaannya, Alfaska mau tidak mau melajukan mobilnya ke cafe.



\*\*\*\*\*



Mumtaz bernafas lega ketika Elena memperbolehkan Sisilia menemani Tia yang sedang terpuruk.



Hentakan nafas kelegaan Mumtaz sedikit membuat dia Lena tersinggung.



" Apa menurut kamu Tante sejahat itu?"



" Hah?"



" Ck, nafas kamu, apa mesti segitunya."



" Eh?" Mumtaz benar-benar bingung, dia tidak sadar hembusan nafasnya menyinggung Elena.



Elena beranjak, " Tahu ah, ayo kita makan, Mumtaz belum makan siang kan?"



Mumtaz menggeleng, namun dia masih bingung dengan sikap elena yang sedikit judes.



Paham akan kebingungan Mumtaz," tadi kamu menghela nafas segitu plongnya sampai terdengar, mommy tersinggung, kayak." Ujar Dominiaz.



Mumtaz  menyusul Elena, ia menarik kedua tangan Elena, " Tante, jangan salah paham, memang tidak dipungkiri aku sedikit gelisah tadi, tapi aku tidak berpikir Tante jahat, aku hanya takut Tante salah paham lagi."



 Satu tangan Elena mengusap pipi Mumtaz, " pasti berat diusia muda sudah harus menjadi kepala keluarga."



Mumtaz terdiam, " mulai sekarang yang harus kamu ingat ibumu bukan hanya bunda Hanna, tetapi aku, mommy Elena. Ini bukan karena kamu pacarnya Lia, tetapi memang kamu anak baik. Izinkan Tante menjadi mommy kamu." Ucapnya lembut.



Tidak bisa lagi berkata dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Mumtaz langsung memeluk Elena. Ia menjatuhkan kepalanya dipundak Elena, seakan menitip sebagian bebannya pada Elena 



Tak ayal Mumtaz pun menangis," terma kasih, aku ucapkan terima kasih banyak! Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Lirihnya haru, Elena mengangguk.



Gama, Sisilia, dan Dominiaz pun turut menangis.



Dominiaz merangkul Sisilia," Dek, kakak mohon jangan menuntut perhatian lebih dari Mumtaz, dia sudah terlalu banyak beban, kalau kamu merasa ingin disayang, datangi Kakak dan Daddy." 



Gama merangkul Sisilia disisi lain, " dek, di rumah ini kamu dimanja, karena kamu bontot, tapi jika kamu bersanding dengan Mumtaz kamu Kakak yang mengharuskan kamu dewasa, imbangi ketegasan dan pertangungjawaban Mumtaz dengan kelembutan dan ketegasan, karena seorang lelaki tetap ingin diperhatikan."



Sisilia hanya bisa mengangguk, dia tahu seberapa besar beban Mumtaz. Selama ini dia selalu berusaha memahaminya.



" Tumben, kakak naik mobil?" Sisilia merasa sedikit aneh satu mobil bersama Mumtaz yang jarang terjadi.


" Kenapa? Lebih suka naik motor ya, supaya bisa pelukan?" 


Sisilia berdecak sambil mukul pelan lengan Mumtaz," ish, tahu aja lagi. Aku gini kan gak bisa deketin." 


Mumtaz terkekeh, ia mengambil satu tangan Sisilia, menggenggamnya, lalu mengecupnya dalam. Sedangkan tangan satunya sibuk menyetir.


" Maaf ya belum bisa kasih kamu kenyamanan."


" Apasih, kalau aku gak nyaman aku gak bakal masih sama kamu." Ucap Sisilia tidak suka akan ucapan Mumtaz.


" Kakak mau pergi?"


" Heeh, ke Bogor. Bareng kak Jeno."


" Jadi gak ikut gabung sama yang lain?


Sebelum menjawab Mumtaz memarkirkan mobilnya di parkiran lobby.


" Diusahakan pulang sebelum tengah malam."


Mumtaz duduk menyamping menghadap Sisilia, lalu menariknya ke dalam pelukannya. Ia memeluk Sisilia erat.


 Setelahnya mengecup kening Sisilia lama menyalurkan rasa rindu dan sayangnya


" Terima kasih masih disamping aku, kita kurang bersama karena memang Kakak masih sangat sibuk.'


" Apa kakak pernah berpikir kesibukan kakak untuk masa depan kita?" Sisilia butuh energi menjalani hubungan dengannya.


Mumtaz mengangguk," aku beli Alatas kontraktor agar aku punya penghasilan untuk masa depan layak hingga pantas meminangmu."


" RaHasiYa?"


 " Itu hanya akan menyalurkan idealisme kita, kita sudah sepakat untuk tidak menaruh bisnis dalam RaHasiYa."


" Tapi katanya penghasilannya besar di RaHasiYa."


" Kenapa? Udah mulai itung-itungan?"


" Heeh, harus mempersiapkan jiwa Jamet supaya bisa morotin."


" Terserah, tapi jangan berubah seperti Tia."


" Enggaklah, Tia mah norak, aku mah dari orok udah sultan, jadi ngelihat dollar udah biasa kayak ngelihat jengkol."


Mumtaz terbahak-bahak mendengar ucapan Sisilia. Dia mengeluarkan satu kartu ATM dari dompetnya.


" Enggak yang warna hitam kartunya?" Sisilia memberi tatapan puppy eyes-nya.


" Enggak, ngeri ngebayanginnya nominal yang keluar nantinya, secara trio Sultan berkumpul." Ujarnya merujuk pada Dista, Cassandra, dan Sisilia.


Sisilia terkekeh, ia ingat terakhir memakai kartu kredit Mumtaz buat mereka berenam bersama Mayang dan amanda menghabiskan 40 juta dalam sehari hanya untuk makan dan nyemil.


Sisilia menerima kartu tersebut," jangan diborosin, si Ita kala beli yang gak jelas pisahkan barangnya masukin ke rekening Daniel."


" Hahaha, iya.siap Bosque."


" Aku pergi." Sambil mencium tangan Sisilia.


" Iya, hati-hati. Aku nunggu Mayang sama Amanda dulu, buat ke supermarket."


" Nunggunya di dalam aja, bilang kamu pacar aku."


" Emang ada ngaruh?"


" Ini gedung apartemen milik Hartadraja, seluruh kemanan dibawah kendali RaHasiYa. Pasti mereka tahu aku. Mereka bakal jagain kamu dan yang lain selam di gedung ini."


" Okey, dadah." Setelah melihat menutup pintu mobil, Mumtaz mengangguk sebelum meninggalkan area gedung untuk menuju ke cafe'.


*****


Sesampainya di cafe', hanya ada Ibnu dan Daniel di ruangan tersebut." Mana Mumuy?"


Alfaska menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk.

__ADS_1


" Ragad, perlu dia. Mungkin pulang malam."


" Gimana kabar kak Ala?"


Ibnu mengedikan bahu," ponselnya tidak dibawa."


" Carilah."


" Kita fokus ke Lo dulu, kak Ala ada Radit bersamanya."


" Kalau gue mati kalian bakal inget do,ain gue gak?" Ucapan alfaska tersebut hanya mengundang saling pandang antara Ibnu dan Daniel.


" Ya Allah, semoga Afa dipanjangkan umurnya sepanjang umur nabi Adam, ya Allah. Jangan biarkan dia mellow melulu." Daniel menengadahkan kedua tangannya.


" Aammiinnn." Seru Ibnu khidmat.


" Ck, Kalian lagi ngapain?"


" habis menstalk Lo sama Tia."


Alfaska terdiam


" Mumuy, tahu?" Mereka berdua mengangguk.


" Katanya, kalau Lo mau rujuk, tunggu Tia sembuh dulu. Tapi kalau Lo mau nikah lagi sama yang lain kita yang tatar sebelum Lo ijab-kabul."


" Kalian aja yang nikah, gue mah udah duda."


" Bangga?"


Alfaska menggeleng," kayak cowok pengecut, berasa jadi loser aja sih."


Hening!


" Terus sekarang Lo ngapain, Nu?"


" Stalk Tia, dia ke rumah Mami."


Alfaska dan Daniel merapat pada Ibnu.



Sekuat tenaga Tia menarik dua koper besar dimasing-masing kanan dan kirinya, pak satpam yang melihatnya langsung membantunya.



Tanpa permisi Tia memasuki rumah yang sudah dihias untuk mengadakan pesta akhir tahun yang diadakan oleh Sandra berserta rekan sosialitanya.



" Tia, menantuku. Keputusan yang tepat kamu ikut bergabung dengan Mami." Sandra merentangkan kedua tangannya memeluk Tia hangat.



Lalu ia menelisik penampilan Tia yang berhasil membuatnya berdesak kesal.



Sedangkan Tia hanya memandangi mami dengan sayu, tubuhnya lesu, pundaknya menurun, dia sungguh tidak memiliki keinginan apapun s lain rasa benci pada dirinya dan perempuan di depannya.



" Berapa kali Mami bilang jangan pernah keluar rumah dengan penampilan lusuh begini, kamu sudah  menjadi seorang Atma Madina perhatikan penampilanmu. Cepat ganti pakaianmu, itu memalukan. Mami harap kamu bukan orang bodoh..."



Pakaian yang disebut lusuh oleh Sandra adalah tunik berwarna peach dan celana jeans navy, kerudung senada jeans.



Bragkh!



Ucapan Sandra terhenti saat Tia melempar dua koper di hadapan Sandra tanpa kesopanan.



" Tia..."



" Aku  terlalu buta mengharap kasih seorang ibu darimu, ku pikir setelah ibuku mengorbankan nyawa untuk orang sepertimu kau akan menghargai orang lain, ternyata kesombonganmu mengalahkan moralmu." Desisnya lelah.



" Tia..." Sandra terkejut menantunya Berani berkata tidak patut padanya.



" Kau menyalahkan Mami atas kematian Mamamu?"



" Kalau kau tidak menghadirkan Aloya dengan ide perjodohanmu konyolmu itu, aku tidak akan menjadi anak yatim piatu."



" Ti..Tia...itu kecelakaan."



" Huh, dan kau penyebabnya." Desisnya datar.



" Tia kau kenapa? Bersikap lancang pada Mami."




" Okey, cukup. Kau memang tidak pantas menjadi anakku dan untuk anakku."



" Siapa anakmu? Dimana dia? Aku tidak pernah melihatnya di rumah ini. Bukankah kau sudah membuangnya demi kesombongamu, bahkan suami saja tidak ada. Kau... Wanita yang menyedihkan, karena telah gagal menjadi istri dan juga ibu."



Plak!!!



" TIA..." Geram Sandra, tangannya gemetaran menahan emosi, perkataan Tia menyentuh egonya.



" Heh, sekarang kau tunjukan siapa aku bagimu, janji menyayangi yang kau ucapkan hanya bualan untuk mengelabuiku menjadi monster mengerikan sepertimu."



" Apa ini didikan Mamamu yang tersohor itu?" 



"  Jangan bawa beliau, kau telah membunuhnya, tunjuk dirimu sendiri, kau lupa selama beberapa bulan ini siapa yang mendidikku? KAU, nikmati hasil didikanmu. "



" Aku tidak mengajarkan kamu bersikap kurang ajar."



" Selalu angkat kepalamu di depan orang lain termasuk keluarga, aku yang benar, ajak mereka mengikuti kehendak kita. Itu satu dari sekian keegoisan yang berulangkali kau doktrinkan padaku, kalau kau kecewa dengan didikanmu, kau hanya bisa menelannya."



Plak!!



Lagi, sebuah tamparan menghantamnya. Tubuh Sandra gemetar tatapannya menghunus tajam.



" Pantas kau hidup dalam kesepian, kau pikir eyeliner, eyeshadow, dan segala makeup yang menjadi topengmu bisa menutupi frustasimu karena kehilangan suami dan anak?  NO, BIG NO. dan aku mengasihanimu."



" Pergi. PERGI!! Anak tidak tahu diuntung, masih syukur saya berbelas kasih padamu dengan menerimamu menjadi menantuku, kalau tidak kau hanya yatim piatu gembel!" Hardiknya puas.



PLAK!!



Tubuh Sandra terhuyung dan Tia terkejut akan tamparan yang tiba-tiba datang dari pria kesayangan mereka.



" Papi,..."



" Jaga ucapanmu, hiduplah dengan pesakitan jiwa mu. Tidak ada kau, ada aku yang menjadikannya anakku." Tegas Aryan dengan raut muak.



Aryan menoleh pada Tia yang membeku," mari kita tinggalkan kandang ini."



" Sebentar, Pi."



Tolak Tia, saat Aryan merangkul guna mengajaknya pergi. Tia membuka dua koper itu dapat dilihat oleh Sandra dan Aryan semau benda branded dari merk H, G, LV, Z, ST I, dan lainnya.  tanpa bicara menyiraminya dengan minyak yang sudah dia siapkan, lalu membakarnya dengan pematik api.



Bola mata Sandra membulat lebar." Ku lenyapkan kebanggaanmu, bayangkan jika semua yang kau miliki saat ini semuanya berubah menjadi debu, sementara kau sudah membuang cinta, kasih, sayang, suami, anak, keluarga. Apa yang tersisa darimu? NON! Kau hanya seonggok makhluk bernafas tidak berfaedah!" Ucap Tia telak.



Sandra membeku, tatapannya kepada Aryan dibalas pengabaian.



" Aku, keluar dari sini hanya kehilanganmu, tetapi aku masih punya Papi, teman, sahabat, dan keluarga yang masih menjadi rumahku, tidak peduli seberapa banyak aku melukai dan mengecewakan mereka,  mereka masih menungguku kembali, karena kami masih punya cinta, hati, kasih dan sayang. Hal yang tidak kau miliki." Tekannya pada empat kata terakhir 



Aryan membawa Tia meninggalkan Sandra dengan latarbelakang kobaran api yang memenuhi ruangan tamu.


__ADS_1


Tak lama suara sirine kebakaran yang berasal dari detektor asap dalam rumah Sandra berbunyi, para asisten panik memadamkan api yang semakin membesar.



Sherly, Bara, dan Dista yang sudah berpakaian rapih hendak pergi datang tergopoh-gopoh, sepasang mata mereka membeliak, Bara menggendong Sandra di depan dadanya dibawa ke rumahnya diikuti Sherly, dan Dista.



15 menit Sandra masih mematung dengan tatapan kosong, tiba-tiba cengkeraman ditangan Sherly menguat.



" Mbak, Tia,.. Tia meninggalkanku, aku tidak tahu apa salahku, tetapi dia menghujatiku. Mbak, tolong panggilkan dia, aku tidak bisa kehilangannya setelah Afa pergi dariku." Lirih Sandra memohon.



" Mami tidak bisa mengikat dia lagi, Abang Afa sudah menceraikannya, kalau tidak percaya tanyakan saja pada bang Bara." Beritahu Dista.



Sandra dan Sherly terkejut, mengalihkan menatap Bara yang duduk di seberang mereka, dia hanya mengangguk.



" Tia menyumpahi Kak Ala dengan kematian, Zayin mengusir, dan menamparnya, buah dari didikanmu, Afa mentalaknya.' telak Bara dingin.



Bara melempar tabs ke atas meja yang berisi rekaman cctv apartemen Alfaska sewaktu mentalak Tia yang sengaja direkam Ibnu dan disebarkan kepada para sahabat.



Sandra dan Sherly terperangah. " Selamat Mami, kamu berhasil menjadikan anak perempuan orang janda sepertimu diusia mudanya." Sarkas bara bertepuk tangan



" Sekarang Mami gunakan logikamu, bagi Afa kau tidak berarti, dia lebih baik kehilangan jelmaanmu meski dia sangat mencintanya daripada harus menyakiti kak Ala."



Bara menegakkan tubuhnya,



" Bara memperingati Mami, mulai sekarang kalau Mami tidak bisa mencintai Afa dan orang disekitarnya jauhi dia, jangan pernah mengusiknya atau Bara yang membalas setiap kesakitan yang Mami berikan padanya." Tatapan tajam Bara berikan pada Sandra.



" Bara, Mama mohon jaga bicaramu, bagaimanapun dia tantemu."



" Persetan dengan ikatan darah, selama delapan tahun Mama koma, bukan Mami yang merawat kami, tapi Mama Aida dan keluarganya. Tanyakan pada Dista siapa yang memarahinya ketika Dista kedapatan merokok? Mama Yang melakukannya. Sementara Mami sibuk dengan butik sialannya."



Semua terdiam, ini kali pertama Bara berucap dengan intonasi tinggi pada mereka, sebagai anak tertua diantara Dista dan Alfaska, Bara selalu berusaha sebagai pelindung bagi keduanya.



" Ita, ikut Abang, daripada di sini kamu mending berpesta menemani Tia, Lia, Mayang, Amanda, dan Cassy udah otw."



" Siap." Dista berlari menuju kamar mengambil ranselnya.



Setelah melihat adegan perseteruan Tia dan Mami-nya, Alfaska menangisi kepedihan Tia, seorang diri. Daniel dan Ibnu keluar ruangan dengan dalih memesan makanan padahal untuk memesan mereka bisa menekan bel memanggil pelayan.


Matanya tidak henti menatap monitor laptop yang kini menayangkan Tia menangis dalam pelukan Aryan di apartemennya lalu terlihat para sahabatnya berdatangan menggantikan Aryan menemani Tia.


" Ya Tuhanku, ini sangat menyakitkan. Mami, ku mohon bebaskan aku, biar aku bahagia." Raung Alfaska memukul-mukul dadanya keras, Daniel yang melihat itu di cctv ruangan melalui monitor kontrol di ruangan Erwin berlari, sementara Ibnu mengusap wajahnya kasar, lalu ia mengirim rekaman tangisan Alfaska ke tabs Bara yang ditinggal di rumahnya yang masih dipegang oleh Sandra.


Diakhir video Ibnu membuat notes:


" Kesakitan Afa, kesakitan kami, kebahagiaanya ada pada Tia dan nyonya merenggutnya!! Tertanda Ibnu Ubaidillah!!"


~~


Daniel langsung mendekap Alfaska begitu masuk ruangan," ada gue, ada Mumuy, ada Ibnu, ada yang lain. Shuutt..." Bisik Daniel tepat di telinga Alfaska bagia menenangkan anak kecil.


" Sakit, Niel." Aku mencintainya, tapi aku yang merusak jiwanya." Lirih Alfaska ditengah tangisannya.


" Ya Allah, ya Rabb..." lirihnya pilu, Daniel mengeratkan pelukannya.


Brak!


Daniel dan Alfaska menoleh ke pintu, dan terkejut melihat Mumtaz memasuki ruangan dengan pandangan tidak terbaca oleh Alfaska.


" Muy, Lo..."


Mumtaz mengambil alih pelukan Daniel pada Alfaska," ngapain lepasin dia, kalau Lo nangis."


" Hiks,...hiks...sorry..." Bagai anak kecil Alfa merengek dipelukan Mumtaz.


10 menit, Alfaska menangis sambil berucap maaf dalam pelukan Mumtaz. Tangisan pria yang merasa kalah melawan takdir.


Setelahnya empat sahabat itu duduk diam mengitari meja, " bukannya Lo sama Jeno ke Ragad?" Tanya Ibnu.


" Harusnya, tapi gue gak tenang mikirin kalian, jadi gue nyusul Lia buat nemenin Tia."


" Jeno sendirian ke Bogor?' Alfaska melirik Mumtaz.


" Enggak, dia lagi borong sandwich buat anak-anak di persembunyian. Kalau lo sudah tenang, gue langsung cabut."


" Muy, gue udah talak Tia." Kini Alfaska menatap Mumtaz.


" Hmm," jeda sesaat. " Kapan Lo mau balikin dia?"


Alfaska tidak menjawab pertanyaan Mumtaz," apa yang bakal Lo lakuin ke Mami?"


" Gue gak punya urusan sama Mami. Sejak dia menjodohkan Lo dengan Adinda dan mengabaikan kebahagiaan Lo, gue tidak merasa bertanggungjawab sama nyokap Lo. Gue diam, karena beliau seorang ibu."


" Gue..., Tidak ingin mengembalikan Tia sama kalian." Ucap Alfaska akhirnya.


Mumtaz melihat ke jam tangannya, " terserah, jangan abaikan dia. Apapun status kalian. Gue ingatkan, Lo udah ambil satu dari tiga talak."


Mumtaz beranjak," Ayin belum tahu lo  mentalak Tia, jangan sampai ada yang tahu selain kita. Kalian tahu sebenci apapun Ayin pada Tia, Tia tetap kembarannya, dia tetap akan menjadi yang pertama menjaga Tia.


" Kalau Tia memberitahu Ayin?" Koreksi Daniel.


" Tidak akan, Tia sangat cinta sahabat Lo itu."


" Nu, Lo keep semua informasi Tia dan Afa."


" Hmm."


" Lo kasih kabar gue tentang kak Ala, gue cabut. Gue usahain tengah malam ada bersama kalian." Mumtaz beranjak meninggalkan para sahabatnya.


Derrt!!


" Hallo, Pi." Sapa Alfaska mengangkat sambungan telpon dari Aryan.


" Dimana?"


" D'lima."


" Papi kesana."


" Ketemuan di rumah Mama aja, kita udah mau balik, keluarga Hartadraja di rumah kak Edel."


" Okey, take care. Papi selalu mendukung apapun langkah kamu."


" Hmm, aku Afa tutup." Lagi ia menyeka air mata yang mulai keluar lagi.


" Kita balik?" Ibnu sibuk dengan kegiatan menyantap pesanannya."


" Habisin ini dulu. Makan Lo, Fa. Patah hati butuh tenaga." Tukas Daniel.


****


Zahra menekuri makam kedua orangtuanya, dalam hatinya tidak henti dia meminta maaf pada mereka yang telah gagal menjadi seorang Kakak dibawah naungan payung aneh dipegangi oleh Radit.


" kak, anak-anak pasti mengkhawatirkan Kakak."


" Kamu pulang aja duluan."


" Ninggalin bidadari di tengah pemakaman sendirian? pangeran macam apa aku ini."


Sambil berdiri Zahra mendengkus," masih bisa menggombal ditengah kesedihan aku."


" Namanya juga usaha."


" Aku kasih tahu Hito mau?" Radit menggeleng cepat lalu menyusul Zahra yang sudah masuk ke dalam mobil.


" Ck, untung gebetan, kalau bukan, udah aku gelitikin doi." gerutunya


" Memang kamu berani?"


Radit terkaget, " Eh, emang kedengeran?"


" Dih, gimmicknya fake banget."


" Langsung pulang atau mampir dulu ke keluarga besar?" Radit mulai melajukan mobilnya.


" Pulang aja, langsung tidur."


" Malam tahun baru ini."


" Tahun depan masih ada."


" Akhirnya bisa naik ni mobil."


" Kenapa dah?"


" Mobil kakak ini ibarat benda keramat, hanya boleh dilihat, tapi tidak boleh kesentuh."


" Dih, lebay.


" Bilangin nih para adik kakak, tiap seminggu s kali kita giliran nyuciin, tapi mau make bentaran doang dilarang."


" Pake aja sih."


" Lagian punya mobil kemana-mana masih pake motor."


" macet banget, Dit. males."


Obrolan ringan antar keduanya tanpa Zahra sadari mengurangi ketegangan dirinya satu hari ini.


" Kak, keren kali ya kalau kita berjodoh."


" Tunggu, aku cari no Hito dulu."


" Aaa, okey. gak jadi dicancel hayalan aku menikah dengan kakak." cegah Radit segera.


" Hahahaha..." tawa riang Zahra menghibur Radit, tatapan penuh sayang ia pancarkan meski sang empu tidak tidak menyadarinya.

__ADS_1


" Tuhan, mungkinkah aku berjodoh dengannya?" bathin Radit tersirat harapan...


^^^Vote, komen n likenya ya....!!! ^^^


__ADS_2